Anda di halaman 1dari 9

Bab III

Dasar Teori

Pada dasarnya kinerja sumur minyak bertujuan untuk mendeskribsikan faktor


apa saja yang mempengaruhi aliran fluida dari formasi ke wellbore dan bagaimana
faktor tersebut dapat mempengaruhi performa sumur baik sumur vertikal maupun
sumur horizontal. Performa sumur minyak ini biasanya dipengaruhi oleh karakteristik
fluida dan sumur yaitu Fluid PVT Properties, Relative Permeability Data dan Inflow
Performance Relationship.

3.1 Analisa Sistem Kinerja Sumur


Analisa yang biasa digunakan untuk menganalisa sistem kinerja sumur adalah
analisa sistem nodal (Nodal Analysis), yang sudah digunakan selama bertahun-tahun
untuk menganalisa sistem komponen sumur yang saling berhubungan.
Pengaplikasiannya untuk sistem sumur pertama kali dilakukan oleh Gilbert pada
1954 dan didiskusikan oleh Nind pada tahun 1964 serta Brown pada tahun 1978.
Analisa nodal ini sendiri di definisikan sebagai sistem pendekatan untuk
mengoptimasikan sumur minyak atau gas, yang digunakan untuk mengevaluasi
sistem produksi sumur secara keseluruhan. Gambar 3.2 menunjukan letak titik node
yang ada pada sumur. Tujuan dari analisa nodal ini sendiri adalah untuk
mengombinasikan berbagai macam komponen dari sistem sumur produksi pada suatu
sumur untuk mengestimasi suatu laju produksi dan mengoptimalkan laju produksi
tersebut.
Titik node merupakan titik pertemuan antara dua komponen, dimana dititik
pertemuan tersebut secara fisik akan terjadi kesetimbangan dalam bentuk
keseimbangan masa maupun tekanan. Hal ini berarti bahwa masa fluida yang keluar
dari suatu komponen akan sama dengan masa fluida yang masuk kedalam komponen
berikutnya yang saling berhubungan.

10
Gambar 3.1 Letak Titik Node pada Sumur (3)

Semua komponen upstream pada node merupakan inflow section sedangkan


komponen downstream nmerupakan outflow section. Hubungan antara flow rate
dengan pressure drop harus ada pada setiap komponen. Flow rate yang mengalir pada
sistem sumur dapat ditentukan apabila persyaratan berikut terpenuhi:

a. Aliran yang masuk ke node sama dengan aliran yang keluar dari node.
b. Hanya ada satu tekanan pada setiap titik node.

Pada waktu tertentu, saat sumur aktif ada dua tekanan yang tetap (fixed
pressure) dan tidak dipengaruhi oleh flow rate yaitu tekan reservoir dan tekanan
separator. Namun jika sumur dikontrol oleh surface choke fixed pressure dapat berada
di kepala sumur. Prosedur yang biasa digunakan untuk mengitung tekanan node
dengan menggunakan tekanan tetap adalah sebagai berikut:

11
Inflow:
Pr P (Komponen Upstream) = Pnode
(3.1)

Outflow:
Psep P (Komponen Downstream) = Pnode
(3.2)

pada sistem produksi terdapat penurunan tekanan dari reservoir ke permukaan


yang disebut Pressure drop ( P ). Pressure drop pada setiap komponen akan
bervariasi dengan flow rate (q), oleh karena itu plot antara flow rate dengan tekanan
node akan menghasilkan kondisi yang cukup memuaskan (Gambar 3.4.). Efek dari
perubahan komponen dapat di evaluasi dengan menghitung ulang node pressure vs
flow rate menggunakan karakteristik komponen yang dirubah. Perubahan pada
komponen upstream tidak akan mempengaruhi bentu kurva outflow, hanya saja akan
ada pembaruan kapasitas aliran (flow capacity) dan tekanan.

12
Gambar 3.3 Ilustrasi Pressure Loss pada Sumur (3)

Gambar 3.4 Plot Inflow vs Outflow (1)


Total system optimization adalah dengan memilih kombinasi karakteristik
komponen yang akan memaksimalkan laju alir produksi dengan biaya yang rendah.
Pendekatan analisa nodal ini biasanya digunakan untuk mengoptimasikan performa
aliran sumur, dan dapat juga diaplikasikan pada kondisi artificial lift apabila efek
sistem artificial lift pada pressure mempengaruhi flowrate.

3.2 Inflow Performance Relationship


Kinerja pada sumur minyak dapat di ilustrasikan dengan Productivity Index
(PI) dan IPR. Dimana PI disini menggambarkan kemampuan sumur untuk
berproduksi, untuk free water production Productivity Index dapat dirumuskan
sebagai berikut.

13
Q Q
J= =
PrPwf P (3.3)

Dimana:
Q = oil flow rate stb/day
J = Productivity Index (stb/day/psi)
Pr = tekanan reservoir (psig)
Pwf = tekanan aliran dasar sumur (psig)
P = Tekanan draw down (psig)

Productivity Index biasanya diukur pada saat test sumur produksi, yaitu pada
saat sumur ditutup hingga tekanan static reservoir tercapai kemudian sumur diizinkan
untuk berproduksi. Perbandingan PI pada sumur yang berbeda namun tetap pada
reservoir yang sama akan memnunjukan bahwa beberapa sumur mungkin mengalami
masalah yang tidak biasa atau terjadi kerusakan saat completion.

IPR pada sumur merupakan hubungan anatara flow rate wellbore dengan
wellbore flowing pressure. IPR digambarkan dengan plot Pwf vs q dan untuk
menentukan maximum flow rate. Dengan menggunakan metode composite pada
kondisi aliran dua fasa (Pr>Pb dan Pwf>Pb) dapat digunakan persamaan berikut:

J Pb
Qmax = Qob +
1.8
(3.4)

dan,

Qob = J (Pr - Pb) (3.5)

Dimana,
Qmax = Laju alir maksimum (stb/day)
Qob = Laju alir saat tekanan bubble (stb/day)

14
Pb = Tekanan Bubble (psia)

3.3 Outflow Performance


Outflow performance dapat di gambarkan dengan TPR, karena komponen
yang paling penting dalam sistem sumur secara keseluruhan adalah tubing. Kurang
lebih sekitar 80% dari total pressure loss yaitu Ps Psep digunakan untuk
mengangkat fluida dari lubang sumur ke permukaan.
Apabila ukuran tubing ini tidak sesuai dengan indeks produktivitasnya, maka
sumur tersebut akan mengalami penurunan laju produksi yang lebih cepat. Hal ini
disebabkan oleh terbentuknya scale pada tubing dan flow-line serta terjadi formation
demage didasar sumur. Scale dapat terbentuk karena ukutan tubing yang terlalu besar,
sedangkan formation demage terjadi akibat ukuran tubing yang terlalu kecil sehingga
pasir yang ikut terproduksi akan jatuh kembali kedasar sumur dan menutupi pori-pori.
Adapun metode yang dapat digunakan untuk menganalisa tubing head
performance adalah sebagai berikut.

3.3.1 Poettmann and Carpenter


Poettmann and Carpenter mengembangkan persamaan yang dapat digunakan
untuk memperkirakan multiphase vertical flow. Biasanya persamaan ini digunakan
pada 2-3/8 hingga 3-1/2 OD tubing dan flow rate lebih besar dari 400 bpd.

3.3.2 Hagedorn and Brown


Metode ini menggunakan kurva pressure traverse untuk mendapatkan flowing
pressure drop dimana surface pressure diketahui, kurva pressure traverse dipilih
berdasarkan kondisi yang ada seperti flow rate, ukuran pipa, WOR, GLR dan lain-
lain. Kurva yang sejenis dengan gambar.. sering digunakan untuk memperkirakan
perhitungan pressure drop yang dibutuhkan.

15
16
Gambar 3.4 Kurva Pressure Traverse (3)

3.3.4 Beggs and Brill Method


Persamaan ini dikembangkan berdasarkan data eksperimen yang bersekala
kecil. Parameter yang di pelajari mencakup:
a. Gas flow rate (0 - 300 Mscf/day)
b. Liquid flow rate (0 - 30 gal/min)
c. Tekanan rata-rata sistem (35 - 95 psia)
d. Diameter pipa (1 1.5)
e. Liquid holdup (0-0.870)
f. Gradient tekanan (0 0.8 psi/ft)

3.3.4 Petroleum Expert 2


Dalam prosper persamaan ini biasa digunakan untuk aliran slug. Biasa
digunakan untuk memprediksi well stability dan TPR dengan rate yang rendah.

3.4 Produksi Optimum


Dalam merencanakan laju produksi sumur yang diharapkan adalah
mendapatkan laju produksi yang optimal dan disesuaikan dengan kemampuan
produksi sumur tersebut. Sebelum menentukan laju produksi optimum sebelumnya
harus diketahui laju alir kritisnya berdasarkan Rules of Thumb, laju alir kritis dapat
dihitung menggunakan persamaan berikut :

Qcritical = 0.6 x Qmax (3.6)

Dengan asumsi laju produksi optimal kurang dari 60% laju produksi maksimal, yang
tentunya untuk menghindari masalah saat produksi.

3.5 Prosper Ver.11 by Petroleum Expert Limited

17
Prosper merupakan program untuk mendisain dan mengoptimasikan Well
performance yang termasuk kedalam integrated production modeling toolkit (IPM)
dan telah digunakan secara worldwide.
Prosper didisain agar dapat membuat model sumur yang konstan dan dapat
diandalkan, dengan kemampuan untuk mengidentifikasi setiap aspek pada sumur
seperti PVT (karakteristik fluid), VLP Corelation (untuk perhitungan flow line dan
tubing pressure loss) dan IPR (reservoir inflow).
Prosper dilengkapi dengan matching fiture, dimana PVT, multiphase flow
correlation dan IPR dapat dicocokan dengan data lapangan. Prosper dapat
diaplikasikan untuk:
a. Mendisain dan mengoptimasikan sumur komplesi termasuk mult-lateral,
multilayer dan sumur horizontal.
b. Mendisain dan mengoptimasikan ukuran tubing dan pipa alir.
c. Menghitung pressure loss pada sumur, flow line hingga choke.
d. Memprediksi flowing temperature pada sumur dan pipeline.
e. Memonitor performa sumur agar dapat mengidentifikasi dengan cepat apabila
sumur membutuhkan perbaikan.
f. Menghitung total skin dan penentuan breakdown (kerusakan, penyimpangan dan
penetrasi parsial)
g. Dan lain-lain.

18