Anda di halaman 1dari 10

Tugas I

GEOHIDROLOGI

Oleh :

Moh. Sutikno H
08.100528

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI ”AKPRIND”


YOGYAKARTA

2009
PERMEABILITAS PROFIL TANAH
Semua jenis tanah bersifat lolos air (permeable) dimana air bebas mengalir melalui
ruang-ruang kosong (pori-pori) yang ada di antara butiran-butiran tanah. Tekanan pori
diukur relatif terhadap tekanan atmosfer dan permukaan lapisan tanah yang tekanannya
sama dengan tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah atau permukaan freasik, di
bawah muka air tanah. Tanah diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian
karena ada rongga-rongga udara.

Profil tanah itu merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara
menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu
pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitiannya. Dalam hal ini misalnya
untuk keperluan genesa tanah pada oksisol yang solumnya tebal, pembuatan profil tanah
dapat mencapai kedalaman sekitar 3 - 3,5 meter.
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur dan
tekstur serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menaikkan laju permeabilitas
tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian,
menurunkan laju air larian.
Tinggi muka air tanah berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim tetapi dapat juga
berubah karena pengaruh dari adanya kegiatan konstruksi. Di tempat itu dapat juga
terjadi muka air tanah dangkal, di atas muka air tanah biasa, sedangkan kondisi dapat
terjadi bila tanah dengan permeabilitas tinggi di permukaan atasnya dibatasi oleh lapisan
muka air tanah setempat, tetapi berdasarkan tinggi muka air tanah pada suatu tempat lain
yang lapisan atasnya tidak dibatasi oleh lapisan rapat air.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang dipengaruhi
oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara garis besar,
makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin rendah koefisien
permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir kasar yang mengandung butiran-
butiran halus memiliki harga k yang lebih rendah dan pada tanah ini koefisien
permeabilitas merupakan fungsi angka pori. Kalau tanahnya berlapis-lapis permeabilitas
untuk aliran sejajar lebih besar dari pada permeabilitas untuk aliran tegak lurus. Lapisan
permeabilitas lempung yang bercelah lebih besar dari pada lempung yang tidak bercelah
(unfissured).
Permeabilitas ini merupakan suatu ukuran kemudahan aliran melalui suatu media poreus.
Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan dengan koefisien permeabilitas. Banyak
peneliti telah mengkaji problema permeabilitas dan mengembangkan beberapa rumus.
(Rumus Fair dan Hatch 1933) dapat dipandang sebagai sumbangan yang khas.
Permeabilitas intrinsik suatu akifer bergantung pada porositas efektif batuan dan bahan
tak terkonsolidasi, dan ruang bebas yang diciptakan oleh patahan dan larutan. Porositas
efektif ditentukan oleh distribusi ukuran butiran, bentuk dan kekasaran masing-masing
partikel dan susunan gabungannya, tetapi karena sifat-sifat ini jarang seragam,
konduktivitas hidrolik suatu akifer yang berkembang dibatasi oleh permeabilitas lapisan-
lapisan atau masing-maisng zone, dan mungkin bervariasi cukup besar tergantung pada
arah gerakan air.

Permeabilitas
Permeabilitas merupakan efisiensi batuan untuk menyalurkan air. Permeabilitas primer
adalah kemampuan batuan untuk menyalurkan air melalui pori-pori atau ruangan
intergranuler yang sudah ada sejak pembentukannya dan saling berhubungan.
Permeabilitas sekunder bila penyaluran air itu melewati ruangan-ruangan yang timbul
kemudian, seperti joint, bedding, fault, misalnya akibat gerakan tektonik
Suatu kawasan karst, permeabilitas dan porositas ini sangat variabel, karena tidak
terlepas dari keanekaragaman struktur dan diagenesis batu gamping. Pada bagian
batugamping yang telah mengalami karstifikasi, biasanya permeabilitas dan porositas
primernya rendah, tetapi permeabilitas dan porositas sekundernya tinggi. Pada
batugamping tidak mengalami karstifikasi, permeabilitas dan porositas tinggi dan tidak
dijumpai permeabilitas sekunder.
Pada batu gamping terdapat aliran difusi (diffuse flow). Pada batuan karbonat yang
telah mengalami karstifikasi, yang menonjol ialah terbentuknya saluran-saluran terpilih
(prefered channels) yang meluruskan air ke arah local base level atau zona phreatik.
Permeabilitas umumnya dinyatakan dengan jarak yang ditempuh air dalam suatu
permeabilitas tertentu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan.
Porositas
Porositas menunjukkan ruangan yang terisi oleh udara atau air dalam batuan atau
sedimen, diungkapkan dalam persen dari jumlah total material. Untuk kepentingan
hidrologi yang perlu diperhatikan ialah ruangan-ruangan yang saling berhubungan,
karena pori-pori yang terisolasi tidak berperan dalam perpindahan air.
Porositas primer dalam batuan karbonat ialah ruangan-ruangan terbuka dalam batuan
tersebut, yang sudah timbul sejak deposisi, diagenesis dan litifikasi. Porositas sekunder
ialah jumlah ruangan terbuka dalam batuan yang ditimbulkan oleh proses pasca litifikasi
seperti fruktuasi (joint, flauts, parting) atau akibat terjadinya pelarutan (solution cavities).

Sistem Patahan
Pada batuan yang tidak mengalami permeabilitas intergranuler primer, joint adalah
penting untuk memulai perkolasi air ke bawah (Stringfield dkk., 1979). Sedangkan
bedding planes bagi penyaluran air bawah tanah (Palmer, 1977) tetapi pergerakannya
tetap dipengaruhi oleh adanya patahan-patahan. Joint adalah patahan yang paling sering
dijumpai di akifer karbonat. Orientasinya adalah hampir tegak lurus dengan bedding
plannes. Bahkan Grice (1968) menemukan joint yang sejajar letaknya dengan bedding
plannes di Canada (Manatoba, Grand Rapides. Joint secara primer mempengaruhi arah
aliran sebelum terjadi ruangan terlarut (solution cavities) dalam akifer karbonat. Joint
yang tidak vertikal akan mempengaruhi gerakan air literal dan melebar melalui proses
korosi (pelarutan batu gamping secara kimiawi). Distribusi dari joint dan bedding plannes
ini dari satu bagian karst dan bagian karst lainnya dapat berbeda. Menurut Kasting (1977)
hal ini mempunyai pengaruh positif terhadap air tanah (bila melancarkan aliran dalam
akifer, antara lain dengan menghubungkan beberapa aliran akifer yang tadinya terisolasi),
Bias pula negatif bila aliran air terhambat karenanya.

Produktivitas Sumur
Sebelum membicarakan parameter produktivitas formasi seperti laju produksi,
produktivity index dan inflow performance relationship, terlebih dahulu akan
dibicarakan mengenai dasar-dasar aliran fluida dalam media berpori.
Aliran Fluida dalam Media Berpori
Fluida akan mengalir dalam media berpori apabila media tersebut mempunyai
permeabilitas yang searah dengan arah tenaga pendorong dan dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu :
1. Sifat fisik dari formasi.
2. Geometri sumur dan daerah pengurasan.
3. Sifat fisik fluida yang mengalir.
4. Perbedaan tekanan antara formasi dan lubang sumur pada saat terjadinya aliran.
Persamaan yang menggambarkan mengenai aliran fluida dalam media berpori
pertama kali dikembangkan oleh Henry Darcy (1856)7). Persamaan tersebut merupakan
persamaan yang menunjukkan kecepatan aliran fluida dengan permeabilitas batuan,
viskositas fluida serta gradien tekanan antar jarak tempuh aliran

Indeks Produktivitas
Produktivitas formasi merupakan kemampuan suatu formasi untuk
memproduksikan fluida yang dikandungnya pada kondisi tertentu. untuk mengetahui
kemampuan suatu sumur berproduksi pada setiap saat, maka digunakan konsep
"Productivity Index" (Indeks Produktivitas) dimana dengan diketahuinya indeks
produktivitas tersebut diharapkan masa hidup dari suatu reservoir dapat diketahui.
Indeks Produktivitas (PI) didefinisikan sebagai angka atau indeks yang
menyatakan besarnya kemampuan suatu sumur/reservoir untuk memproduksi fluida pada
kondisi tertentu, atau dapat pula didefinisikan sebagai perbandingan antara laju produksi
(q) yang dihasilkan oleh suatu sumur tertentu dengan perbedaan tekanan dasar sumur
dalam keadaan statik (Ps) dan tekanan dasar sumur dalam keadaan terjadi aliran (Pwf).
Dalam bentuk persamaan, definisi tersebut dapat dinyatakan sebagai :
qo
PI =
( Ps − Pwf )

dimana :
PI = Indeks Produktivitas, bbl/hari/psi
qo = laju produksi minyak, bbl/hari
Ps -Pwf = perbedaan tekanan atau "draw down", psi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi PI
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya harga PI, antara lain :
a. sifat-sifat fisik batuan reservoir,
b. sifat-sifat fisik fluida reservoir,
c. ketebalan lapisan formasi,
d. draw down, dan
e. mekanisme pendorong reservoir.

Sifat-Sifat Fisik Fluida Reservoir


Sifat fisik batuan reservoir yang mempengaruhi besar kecilnya PI, antara lain :
• Permeabilitas batuan
Permeabilitas batuan adalah kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida.
Dengan turunnya permeabilitas mka fluida akan sulit mengalir, sehingga
kemampuan berproduksi atau PI menjadi turun.
• Saturasi fluida
Saturasi fluida adalah ukuran kejenuhan fluida di dalam pori-pori batuan. Pada
proses produksi, saturasi minyak berkurang dengan naiknya produksi kumulatif
minyak dan pori-pori yang kosong diganti oleh air atau gas bebas. Disamping itu,
berlangsungnya proses produksi disertai dengan penurunan tekanan dan bila
melewati tekanan titik gelembung akan mengakibatkan munculnya fasa gas yang
mengakibatkan saturasi gas bertambah dan saturasi minyak berkurang. Hal ini
akan mengurangi permeabilitas efektif batuan terhadap minyak, sehingga dapat
menurunkan PI.

Inflow Performance Relationship


Jika PI dari suatu sumur dianggap konstan dan tidak tergantung dari laju produksi
sesaat, maka dapat ditulis sebagai :
qo
Pwf = Ps −
PI
Pada suatu keadaan tertentu, Ps mempunyai harga tertentu, sehingga jika PI dianggap
konstan, maka plot antara Pwf dengan qo akan merupakan suatu garis lurus, seperti yang
terlihat pada gambar 2. Gambar tersebut menunjukkan kelakuan formasi berproduksi,
yaitu reaksi formasi terhadap pressure draw-down (P = Ps - Pwf) pada lubang sumur. Bila
qo = 0, maka Ps = Pwf, dan bila qo = PI x Ps maka Pwf = 0. Sudut antara garis pada gambar
tersebut dengan sumbu tekanan sedemikian rupa sehingga :
OB PI x Ps
Tan θ = = = PI
OA Ps

Gambar 1
Kurva IPR Linier

Harga qo pada titik B, yaitu PI x Ps disebut "potensial sumur". Pada pembuatan


Gambar 1. di atas, dianggap bahwa PI tidak tergantung dari laju produksi yang
merupakan hasil dari kemungkinan produksi sepanjang garis AB. Hasil ini berhubungan
dengan persamaan aliran radial. Garis AB pada gambar tersebut, disebut dengan "Inflow
Performance Relationship".
Dalam keadaan yang sebenarnya, grafik IPR hanya linear di atas tekanan titik
gelembung. Bila Ps lebih kecil dari tekanan titik gelembung (aliran dua fasa), maka
bentuk grafiknya akan melengkung, seperti yang terlihat pada Gambar 2. Dalam hal ini
harga PI tidak konstan tetapi berubah secara kontinu untuk setiap Pwf, sehingga
persamaan untuk PI yang tepat adalah :
− dq
PI = .............…………………………..………………………(1)
dPwf

dimana :
dq = Perubahan laju produksi, bbl/hari
dPwf = Perubahan tekanan aliran dasar sumur, psi
Tanda negatif dalam Persamaan (1) menunjukkan bahwa Indeks Produktivitas (PI) akan
berkurang dengan bertambahnya laju produksi.

Gambar 2
Kurva IPR Dua Fasa5)

Untuk membuat grafik IPR, maka diperlukan data-data yang sesuai dengan definisi PI,
seperti :
• Laju produksi minyak (qo)
• Tekanan aliran dasar sumur (Pwf)
• Tekanan statik (Ps)
Ketiga data tersebut diperoleh dari test produksi dan test tekanan yang dilakukan pada
sumur yang bersangkutan.

LITIFIKASI
Proses litifikasi adalah perubahan dari sedimen yang lentur menjadi batuan, pada kasus
ini adalah batugamping yang normalnya dari kalsium karbonat terendapkan dalam ruang
pori. Dan terbawa ke tempat terjadinya sementasi oleh pelarutan baik oleh air connate,
yaitu air laut yang terjebak di sedimen awal, dan air tanah yang ada diwaktu belakangan.
Sementasi kalsium karbonat dapat diendapkan oleh salah satu dari tiga bentuk ini:
coarsely crystalline spar, elongate fibres, atau sebagai micrite yang terbutirkan yang baik.
DIAGENESIS
Diagenesis memiliki arti yang lebih luas daripada litifikasi, juga termasuk perubahannya
yang mengambil tempat dalam batuan yang menerima perpindahan magnesium dan
silika,dll.

POROSITAS DAN PERMEABILITAS


Porositas didefinisikan sebagai total volume dari ruang udara antar partikel dalam massa;
biasanya dinyatakan dalam prosen. Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk
meluluskan air melalui batuan tersebut, biasanya dinyatakan dalam darcy (1 darcy adalah
1 cc cairan dengan kecepatan 1 centipoise melalui 1 cm2 luas bidang, sejauh 1 cm dalam
1 detik dengan perbedaan tekanan 1 atm antar unjungnya).

Permeabilitas primer adalah melalui pori dai batuan,sedangkan permeabilitas sekunder


melalui kekar, sesar, atau gua hasil pelarutan (solution cavity).
Porositas dan permeabilitas di daerah batugamping sangat besar pengaruhnya terhadap
pada proses bentukan gua. Untuk itu perlu sekali dipahami.

LAPISAN (BED) DAN BIDANG LAPISAN (BEDDING PLANE)


Bentuk dan keteabalan bed adalah faktor-faktor dalam speleogenesis. Lapisan tipis
dengan ketebalan tidak lebih dari 25-50 cm, mengadakan banyak bidang perlapisan,
sedikit konsentrasi aliran, sehingga pejngembangan gua menjadi terhalangi.
Lapisan yang tebal memiliki bidang lapisan lebih sedikit sehingga jumlah alirannya
terbatas, dan bisa menyebabkan perkembangan gua dengan ukuran lebih panjang.
DAFTAR PUSTAKA

• Akbar, N, dkk., 1972; Gejala mataair panas di Dolok Marawa, Ka. Simalungun,
Sumut.
• Bemmelen, van R.W., 1949; The Geology of Indonesia. Vol. I A.732 p.
Government Printing Office. The Hague. Netherlands.
Breiner.S. 1973, Application Manual for Portable Magnetometers.
• Cameron., dkk., 1982; Peta Geologi lembar Medan, Sumatra. Publikasi P3G
Bandung.
• Fournier, R.O., 1981. Application of Water Geochemistry Geothermal
Exploration and Reservoir Engineering,“Geothermal System: Principles and
Case Histories”. John Willey & Sons. New York.
• Giggenbach, W.F., 1980, Geothermal gas equilibria, Geochimica et
cosmochimica Acta, Vol 44, pp 2021-2032
• 1988. Geothermal Solute Equilibria Deviation of Na-K-Mg – Ca Geo- Indicators.
Geochemica Acta 52. pp. 2749 – 2765.
• Giggenbach,W.F, and Goguel, 1988, Methods for tthe collection and analysis of
geothermal and volcanic water and gas samples, Petone New Zealand
• Giggenbach, W., Gonviantini, R., and Panichi,C., 1983, Geothermal
Systems, “Guidebook on Nuclear Techniques in Hydrology”, Technical Reports
Series No. 91. International Atomic Energy Agency, Vienna
• Kooten, V, and Gerald, K., 1987, Geothermal Exploration Using Surface Mercury
Geochemistry, Journal of volcanology and Geothermal Research , 31, 269-280.
• Mahon K., Ellis, A.J., 1977. Chemistry and Geothermal System. Academic Press
Inc. Orlando.
• Telford and Sheriff, 1990, Applied Geophysics,
• Cambridge University.

Wohletz, K., and Heiken, G., 1992, Volcanology and Geothermal Energy, The Regents
of The University of California., Printed in The United States of America