Anda di halaman 1dari 45

SISTEM PROTEKSI PADA GENERATOR

PT INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Akademik


Mata Kuliah Kerja Praktek dan Seminardi Jurusan Teknik Elektro
Universitas Jenderal Achmad Yani

Disusun Oleh :

Alfian Ashar Hasim


NIM. 2201151007

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM DIPLOMA III
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI 2017
SISTEM PROTEKSI GENERATOR
PT INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN

Oleh :

Alfian Ashar Hasim


NIM. 2201151007

Pelaksanaan di perusahaan/industri :
Tanggal : 19 Juli s/d 19 Agustus 2017
Tempat : PT. INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN

Disahkan,
Cimahi, .Agustus 2017 Cimahi, .Agustus 2017
Pembimbing Perusahaan Dosen Pembimbing

Rochmat Hidayat Sunubroto, ST.,MT.


NIP. 820241003 NID. 412123863

Cimahi, .Agustus 2017


Ketua Program Studi D3 Teknik Elektro

Sunubroto, ST., MT.


NID. 412123863
SURAT PERNYATAAN

Kami yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Rochmat Hidayat

Jabatan : Supervisior Operator Pemeliharaan

Nama Perusahaan : PT. INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN

menyatakan dengan sebenarnya bahwa mahasiswa dari Jurusan Teknik Elektro


Universitas Jenderal Achmad Yani, dibawah ini :

Nama : Alfian Ashar Hasim

NIM : 2201151007

telah melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di perusahaan kami


sejak tanggal 19 Juli s/d 19 Agustus 2017.

Demikian surat ini kami buat untuk dipergunakan sebagai mana mestinya.

Cimahi,04 September 2017

Supervisior Operator Pemeliharaan

Rochmat Hidayat
NIP. 820241003

i
KATA PENGANTAR

Saya panjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
selesainya LAPORAN Kerja Praktik di PT. INDONESIA POWER SUB UNIT
PLTA LAMAJAN dan atas berkat rahmat dan karunia-Nya pula penulis dapat
menyelsaikan Laporan Kerja Praktik dengan judul PENGGUNAAN MAIN
VALVEPT. INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN
Laporan Kerja Praktik ini penulis susun dalam rangka sayarat akademin
mata kuliah Kerja Praktik dan Seminar program di Jurusan Teknik Elektro.Pada
kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang secara terus-menerus telah membantu penulis baik moral maupun
spiritual. Terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Orang tua dan keluarga, yang selalu memberikan doa serta dukungan.
2. Bapak Iwan Sukmana, selaku Supervisior Senior PT. INDONESIA
POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN yang telah mengizinkan penulis
untuk PKL disini
3. Bapak Rochmat Hidayat, selaku pembimbing selama kegiatan Kerja
Praktek di PT. INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN
4. Staff Maintenance PT INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA
LAMAJAN, yang telah memberikan dukungan serta arahan.
5. Bapak Yuda Bakti Zainal, Ir., ST., MT. selaku Ketua Jurusan Teknik
Elektro.
6. Bapak Sunubroto, ST.,MT. selaku Ketua Program Studi D3Teknik
Elektronika dan sekaligus dosen pembimbingyang senantiasa bijaksana
kepada mahasiswa Elektronika.
7. Bapak/Ibu, yang dengan tangan terbuka telah memberikan kesempatan
penulis untuk melaksanakan kerja praktek.
8. Pihak-pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis, yang tidak
bisa penulis sebutkan satu persatu namun dengan tidak mengurangi rasa
hormat penulis mengucapkan terima kasih.

ii
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna.
Karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
guna memperbaiki isi laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
siapapun yang membaca laporan ini.

Cimahi, 04 September 2017

Penulis

iii
ABSTRAK

Kerja Praktek (KP) adalah suatu bentuk pendidikan dengan cara


memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dengan
tugas langsung di Lembaga BUMN, BUMD, Perusahaan Swasta, dan Instansi
Pemerintahan setempat. Kerja Praktek (KP)memberi kesempatan
kepada mahasiswa untuk mengabdikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh di
kampus. Kerja Praktek (KP) merupakan wujud relevansi antara teori yang
didapat selama di perkuliahan dengan praktek yang ditemui baik dalam dunia
usaha swasta maupun pemerintah.
Pelaksanaan mata kuliah Kerja Praktek (KP) bertujuan untuk :memberikan
pengalaman kerja secara nyata sebelum memasuki dunia kerja, memberikan
kesempatan untuk membandingkan dan menerapkan pengetahuan akademis yang
telah didapatkan dengan memberikan kontribusi pengetahuan pada perusahaan,
lebih memahami konsep-konsep non akademis dan non teknis di dunia kerja nyata
seperti hubungan atasan-bawahan, penerapan lapangan yang terkadang tidak
sesuai dengan teori akademis dan lain sebagainya.
Kerja praktek dilaksanakan di PT. INDONESIA POWER SUB UNIT
PLTA LAMAJAN, yaitu sebuah perusahaan yang fokus pada pembangkit listrik
tenaga air. Kerja praktek pada PT. INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA
LAMAJAN dimulai dari tanggal 19 Juli 2017 sampai dengan 19 Agustus 2017
(8 minggu).
Kerja praktek yang dilakukan di perusahaan ini yaitu meneliti dan
mempelajari cara proses pengoperasian PLTASUB UNIT LAMAJAN pada unit
1.2 dan 3, dan difokuskan pada sistem proteksi generator.

Kata Kunci :SistemProteksi Generator

iv
ABSTRACT

Job Training is a form of education by providing learning experiences for


students to participate directly in the Institute with the task of state, enterprises,
Private Companies, and Local Government Agencies. Job Training gives students
the opportunity to devote sciences that have been obtained on campus. Job
Training is a form of relevance between theory gained during in classes with
practice encountered both in private business and government.

Implementation of courses Job Training intends to provide work experience


significantly before entering the world of work, provide an opportunity to
compare and apply the academic knowledge that has been gained by contribution
knowledge to the company, to better understand the concepts of non-academic
and non-technical in the real working world as a superior and a subordinate, the
application of a field that sometimes does not correspond to academic theory and
so forth.

Practical work carried out in PT.INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA


LAMAJAN, a company focused into a power of electric from hydro. Practical
work on PT. INDONESIA POWER SUB UNIT PLTA LAMAJAN starting from the
date of July 19, 2017 untilSept 19, 2017 ( 8 weeks).

Practical work done in this company is research and study how to process the
operation of PLTA SUB UNIT LAMAJAN at unit 1, 2 and 3 is focused on the
System Protection Generator.

Keywords : System Protection Generator

v
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN ....................................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
1.3 Batasan Masalah............................................................................................ 2
1.5 Manfaat ......................................................................................................... 2
1.6 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ............................................................... 3
1.7 Sistematika Penulisan ................................................................................... 3
BAB II .................................................................................................................... 5
PROFIL PERUSAHAAN ..................................................................................... 5
2.1 Tinjauan Umum Perusahaan ......................................................................... 5
2.2Visi dan Misi Perusahaan ............................................................................... 6
2.3 Makna dan Logo Perusahaan ........................................................................ 7
2.4Logo Perusahaan ............................................................................................ 8
2.5 Sejarah Perusahaan ................................................................................... 8
2.6Lokasi dan Tata Letak Perusahaan ................................................................. 9
2.7Tata Guna Lahan Perusahaan ....................................................................... 11
2.8Management ................................................................................................. 11
BAB III ................................................................................................................. 12
LANDASAN TEORI........................................................................................... 12
3.1 Umum.......................................................................................................... 12
3.2 Macam-Macam Generator .......................................................................... 12

vi
3.3 Sistem Pembangkit Generator AC .............................................................. 13
3.4 Macam- macam Relai Proteksi Generator dan Fungsinya .......................... 14
BAB IV ................................................................................................................. 16
PEMBAHASAN .................................................................................................. 16
4.1 Proteksi Generator Sinkron Tiga Fasa ........................................................ 16
4.2Sistem Proteksi PLTA Lamajan ................................................................... 23
4.3 Pemeliharaan Generator Sinkron ................................................................ 29
BAB V................................................................................................................... 33
PENUTUP ............................................................................................................ 33
5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 33
5.2 Saran ............................................................................................................ 33
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 34
LAMPIRAN ......................................................................................................... 35

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Logo PT. Indonesia Power ............................................................ 8

Gambar 2.1. Kolam Dan Pipa Pesat. ................................................................ 10

Gambar 2.2. Kolam, Pipa Pesat, dan PH ......................................................... 10

Gambar 2.4. Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Sub unit lamajan . 11

Gambar 4.1. Panel Protections unit 1 .............................................................. 23

Gambar 4.2. Single Line Diagram Rele Gangguan Rotor Hubung Tanah .. 25

Gambar 4.3. Single line Diagram Rele Arus Lebih ........................................ 27

Gambar 4.4. Single Line Diagram Rele Daya Balik ....................................... 29

Gambar 4.5. Common Plant Interface ............................................................. 29

Gambar 4.6. Interface Gangguan pada Generator Utama ............................ 30

viii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Listrik sangat berguna baik dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga
ataupun kebutuhan dunia industri. Kebutuhan listrik dari tahun ke tahun
semakin meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Maka
dibangunlan pembangkit-pembangkit energi listrik sehingga terpenuhi
kebutuhan listrik dalam negeri. Tentu saja pembangkit listrik mempunyai
peran yang sangat besar pada semua sektor kehidupan masyarakat sehingga
keberadaannya menjadi sangat penting.
PLTA adalah suatu pusat tenaga air yang memiliki peralatan tertentu dan
bertujuan untuk merubah (konversi) energi potensial air menjadi energi
listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bekerja dengan cara merubah
energi potensial (dari dam atau air terjun) menjadi energi mekanik (dengan
bantuan turbin air) dan dari energi mekanik menjadi energi listrik (dengan
bantuan generator).
Keandalan dan keberlangsungan keberlangsungan suatu sistem tenaga
listrik dalam melayani konsumen sangat tergantung pada
perawatan/pemeliharaan serta sistem proteksi yang digunakan.
Adanya gangguan pada suatu sistem pembangkit dapat mengganggu
operasi dari sistem pembangkit tersebut yang dapat membahayakan bagian-
bagian penting didalamnya karena dapat mengakibatkan kerusakan dan
penurunan umur pembangkit. Karena itu diperlukan suatu pemeliharaan dan
sistem proteksi yang dapat melindungi setiap bagian dari sistem pembangkit
listrik.

1.2 Rumusan Masalah


PLTA Lamajan terdiri dari waduk, kolam pengendap, kolam tando harian,
pipa pesat (penstock), turbin air, generator bolak-balik, peralatan control dan

1
peralatan proteksinya. Adapun masalah yang di fokuskan pada laporan
inimembahas tentang sistem proteksi dan pemeliharaan generator 3 fasa sub
unit PLTA Lamajan

1.3 Batasan Masalah


Pembahasan dari laporan ini hanya seputar analisis sistem proteksi secara
umum, adapun pembahasan-pembahasan yang lain sebagai berikut :
1.3.1. Gangguan-gangguan yang terjadi pada generator sinkron 3 fasa.
1.3.2. Macam-macam sistem proteksi yang digunakan di PLTA Lamajan.
1.3.3. Cara-cara pemeliharaan generator sinkron 3 fasa.

1.4 Tujuan
Pelaksanaan Kerja Praktek ini bertujuan untuk menggali ilmu
pengetahuan, serta mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang
sistem proteksi dan pemeliharaan generator 3 fasa di Sub Unit PLTA
Lamajan.
Adapun tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek di PT. INDONESIA
POWER UP SAGULING SUB UNIT PLTA LAMAJAN adalah:
1.4.1. Mempelajari dan mendapatkan ilmu pengetahuan yang mendalam
mengenai pengetahuan dibidang teknologi terutama dalam bidang
pembangkit listrik dan pengontrolan.
1.4.2. Mempelajari dan menganalisis sebuah generator yang ada di PLTA
Lamajan terutama dalam sistem proteksinya serta pemeliharaannya.
1.4.3. Agar mengetahui fungsi dari sebuah generator dan semua yang ada di
pembangkit listrik.
1.4.4. Memahami dan mengetahui proteksi apa saja yang digunakan di
PLTA Lamajan.

1.5 Manfaat
Melalui kerja praktek ini, mahasiswa dapat menimba pengalaman kerja
dari para pegawai tempat kerja praktek. Kerja praktek yang dilakukan
dirasakan sangat banyak manfaatnya.

2
Adapun manfaat dari Kerja Praktek yang dilakukan di PT. INDONESIA
POWER UP SAGULING SUB UNIT PLTA LAMAJAN adalah:
1.5.1. Menambah ilmu pengetahuan terutama dibidang pembangkit listrik.
1.5.2. Mendapatkan pengalaman tentang berinteraksi dalam lingkungan
kerja.
1.5.3. Lebih memahami teori yang telah didapat karena dipraktekan secara
langsung.
1.5.4. Dapat mengukur kemampuan dengan terjun langsung kedunia kerja.

1.6 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


1.6.1. Waktu pelaksanaan Kerja Praktek
Waktu pelaksanaan kerja praktik yaitu tanggal 19 Juni 2017 s/d 19
Agustus 2017.
1.6.2. Tempat pelaksanaan Kerja Praktek
Pelaksanaan Kerja Praktik (KP) yang dilakukan yaitu di PT.
INDONESIA POWER UP SAGULING SUB UNIT PLTA
LAMAJAN.

1.7 Sistematika Penulisan


Pada penulisan laporan ini, penulis membuat sistematika penulisan agar
memudahkan dalam membaca dan memahami isi dari laporan secara garis
besarnya. Secara global sistematika penulisan ini dibagi menjadi 5 bab :

BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan latar belakang penulisan sebagai topik, identifikasi
masalah yang timbul, dan pembahasan masalah sebagai ruang lingkup yang
hanya akan di bahas dalam penulisan.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN


Bab ini menjelaskan mengenai PLTA Lamajan dari mulai sejarah, peralatan
yang digunakan di PLTA, serta data-data seputar perusahaan tersebut dan lain
sebagainya.

3
BAB III LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori mengenai peralatan yang akan di
bahas (Generator sinkron 3 fasa).

BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini pembahasan terkait judul yang di ambil seputar sistem proteksi
dan pemeliharaan generator 3 fasa. Pembahasan meliputi jenis gangguan,
macam-macam proteksi yang digunakan, serta cara pemeliharaannya secara
umum.

BAB V PENUTUP
Bab ini menjelaskan kesimpulan dari keseluruhan dari yang telah di analisis,
serta saran dari kerja praktek.

DAFTAR PUSTAKA
Berisikan referensi-referensi yang di ambil dari buku maupun internet.

4
BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Tinjauan Umum Perusahaan


PT Indonesia Power, atau IP, adalah sebuah anak perusahaan PLN
menjalankan usaha komersial pada bidang pembangkitan tenaga listrik. Saat
ini Indonesia Power merupakan perusahaan pembangkitan listrik dengan daya
mampu terbesar di Indonesia.
Cikal bakal perusahaan ini adalah PT Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-
Bali I (PLN PJB I), yang didirikan pada tanggal 3 Oktober1995 sebagai anak
perusahaan PLN yang waktu itu baru saja berubah statusnya dari Perum
menjadi Persero. Pada tanggal 3 Oktober2000, PJB I berubah nama menjadi
PT Indonesia Power. Indonesia Power mengelola 8 Unit Bisnis
Pembangkitan: Priok, Suralaya, Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang,
Perak-Grati dan Bali.
Bisnis utama IP adalah pengoperasian pembangkit listrik di Jawa dan Bali
yang tersebar di 8 lokasi. Unit usaha pembangkitan IP diberi nama Unit
Bisnis Pembangkitan (UBP). Ke-delapan UBP itu berikut DMN (Daya
Mampu Netto) per 8 November 2007 adalah:
2.1.1. UP Suralaya, mengoperasikan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga
Uap) Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dan Unit 5-7 (3x600 MW)
2.1.2. UP Priok, mengoperasikan PLTU Priok Unit 3&4 (2x45 MW),
PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap) Priok Blok I dan II
masing-masing (3x120 MW dan 1x171 MW), PLTG Priok Unit 1&3
(2x26 MW)
2.1.3. UP Saguling, mengoperasikan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)
Saguling (4x175 MW)
2.1.4. UP Kamojang, mengoperasikan PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga
Panas Bumi) Gunung Salak (3x60 MW) dan PLTP Kamojang, Garut
Unit 1 (30 MW), Unit 2-3 (2x55 MW)

5
2.1.5. UP Mrica, mengoperasikan PLTA PB Soedirman (3x60 MW), PLTA
Jelok (4x5 MW), PLTA Timo (3x4 MW), PLTA Wonogiri (2x6
MW), PLTA Garung (2x13 MW), PLTA Sempor (1 MW) PLTA
Ketenger (1 MW dan 2x3,5 MW), PLTA Wadaslintang (2x9 MW),
PLTA Kedungombo (1x22,5 MW)
2.1.6. UP Semarang, mengoperasikan PLTU Tambak Lorok Unit 1-2 (2x188
MW), Unit 3 (105 MW), PLTGU Tambak Lorok Blok I dan II
masing2 (3x100 MW dan 1x152 MW), PLTG Cilacap (1x26 MW dan
1x29 MW)
2.1.7. UP Perak-Grati, mengoperasikan PLTU Perak, Surabaya Unit 3-4
(2x50 MW), PLTGU Grati, Lekok, Pasuruan Blok I (3x100 MW dan
1x160 MW), PLTG Grati Blok II (3x100 MW)
2.1.8. UP Bali, mengoperasikan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel)
Pesanggaran, Denpasar(total 55 MW), PLTG Pesanggaran (106 MW),
PLTG Gilimanuk (130 MW) dan PLTG Pemaron (2x40 MW)

Selain UP, IP juga mempunyai bisnis jasa pemeliharaan pembangkit listrik


yang diberi nama Unit Bisnis Pemeliharaan (UBHar) yang berkantor di jalan
KS Tubun, Jakarta. IP juga mempunyai anak perusahaan yang bergerak di
bidang trading batubara yaitu PT Artha Daya Coalindo. Sedangkan PT
Cogindo DayaBersama adalah anak perusahaan IP yang bergerak di bidang
co-generation dan energy outsourcing.

2.2Visi dan Misi Perusahaan

Visi Perusahaan :
Menjadi perusahaan energi terpercaya yang tumbuh berkelanjutan.

Misi Perusahaan :
Menyelenggarakan bisnis pembangkitan tenaga listrik dan jasa terkait yang
bersahabat dengan lingkungan.

6
2.3 Makna dan Logo Perusahaan
Logo atau lambang merupakan bagian dari identitas perusahaan.
Sedangkan yang dimaksud dengan identitas perusahaan adalah suatau cara
atau hal yang memungkinkan perusahaan dapat dikenal dan dibedakan dari
perusahaan lain.
PT Indonesia Power mempunyai logo atau lambang yang dijadikan
sebagai identitas perusahaa dengan tujuan agar konsumen atau publik pada
umumnya mudah mengenal dan mengingat perusahaan. Adapun logo yang
yang dimiliki PT.Indonesia Power adalah bertuliskan Indonesia dan Power.
Lambang mempunyai arti penting karena lambang merupakan identitas
bagi setiap perusahaan. Makna bentuk dan warna logo PT. Indonesia Power
merupakan cerminan identitas dan lingkup usaha yang dimilikinya secara
keseluruhan. Nama Indonesia Power merupakan nama yang kuat untuk
melambangkan lingkup usaha perusahaan sebagai Power Utility Company di
Indonesia

2.3.1. Bentuk
2.3.1.1.Karena nama yang kuat, Indonesia dan Power ditampilkan
dengan menggunakan jenis huruf yang tegas dan kuat. FUTURA
BOOK/REGULER dan FUTURA BOLD.
2.3.1.2.Aplikasi bentuk kilatan petir pada huruf O melambangkan
TENAGA LISTRIK yang merupan lingkup usaha utama
perusahaan.
2.3.1.3.Titik/bulatan merah (Red Dot) diujung kilat petir merupakan
symbol perusahaan yang telah digunakan sejak masih bernama
PLN PJB 1. Titik ini merupakan simbol yang digunakan
sebagian besar materi komunikasi perusahaan dengan simbol
yang kecil ini, diharapkan identitas perusahaan dapat langsung
terwakili.
2.3.2. Warna
2.3.2.1.Merah

7
Diaplikasikan pada kata Indonesia, menunjukan identitas yang
kuat dan kokoh sebagai pemilik seluruh sumber daya untuk
memproduksi tenaga listrik guna dimanfaatkan di Indonesia,
dan juga di luar negeri.
2.3.2.2.Biru
Diaplikasikan pada kata Power, pada dasarnya warna biru
menggambarkan sifat pintar dan bijaksana, dengan
diaplikasikan pada kata Power, maka warna ini menunjukan
produk tenaga listrik yang dihasilkan perusahaan memiliki ciri:
Perteknologian tinggi, Efisien, Aman, sertaRamah lingkungan.

2.4Logo Perusahaan

Gambar 2.2. Logo PT. Indonesia Power

2.5 Sejarah Perusahaan


Plengan dan Lamajan adalah pembangkit listrik tenaga air tertua di
Indonesia. Dua PLTA ini berada di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten
Bandung, berjarak sekitar 35 kilometer dari Kota Bandung. Hingga kini
keduanya masih beroperasi menyuplai listrik untuk interkoneksi Jawa-
Bali. Plengan dan Lamajan dibangun pada awal 1900-an, bersamaan
dengan pembangunan sejumlah PLTA di wilayah Jawa Barat, yakni
Bengkok-Dago (Bandung), Ubrug (Sukabumi), dan Kracak (Bogor).
PLTA itu dikembangkan di Jawa Barat untuk memenuhi kebutuhan
perkebunan dan pabrik teh.

8
Pembangunan Plengan dan Lamajan dilaksanakan pada 1918-1924.
Plengan mulai dioperasikan sejak 1923, sedangkan Lamajan setahun
kemudian. Jarak kedua PLTA di lereng Gunung Tilu ini hanya 2
km.PLTA Plengan memiliki lima turbin dengan kapasitas total 6,27 MW.
Adapun turbin di Lamajan sebanyak tiga buah berkapasitas total 19 MW.
Hingga saat ini kedua PLTA ini masih beroperasi di bawah kendali Unit
Bisnis Pembangkit Saguling PT Indonesia Power dan menyuplai listrik
untuk interkoneksi Jawa-Bali.Untuk operasionalisasi, kedua PLTA
memanfaatkan aliran air Sungai Cisangkuy dan anak-anak sungai di
sekitarnya. Demi menjamin pasokan air untuk PLTA tersebut, Pemerintah
Hindia Belanda membangun dua waduk di Kecamatan Pangalengan, yakni
Situ Cileunca pada 1922 dan Situ Cipanunjang pada 1930. Kedua situ
tersebut mampu menampung air hingga 30 juta meter kubik.
Air dari situ dialirkan melalui pipa-pipa besi yang disebut pipa pesat
untuk menggerakkan turbin. Pipa berwarna kuning berdiameter 1,2-1,8
meter dipasang sepanjang 540 meter mengikuti kontur pegunungan, mulai
dari situ hingga PLTA. Jaringan pipa pesat itu terlihat mencolok dari arah
Jalan Raya Pangalengan, kontras dengan hijau pegunungan yang
dilintasinya

2.6Lokasi dan Tata Letak Perusahaan


Area Pangalengan secara administratif terletak di wilayah Pangalengan
Kab. Bandung selatan, sedangkan pusat kegiatan operasi PT Indonesia Power
Sub Unit PLTA Lamajan terletak di desa lamajan yang dihimpit oleh
pegunungan dan menurut warga sekitar dinamakan gunung tilu atau gunung
tiga karena ada tiga buah gunung yang menjulang tinggi, berada di Kilometer
33 Jalan Raya Pangalengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Area ini terletak
berjarak kira-kira 25 KM sebelah selatan Bandung dan Rata-rata ketinggian
terletak antara 1000-1500m dari permukaan laut serta bersuhu 19 hingga 27C.

9
Gambar 2.3. Kolam dan Pipa Pesat

Gambar 2.3. Kolam, Pipa Pesat, dan Power House

10
2.7Tata Guna Lahan Perusahaan
Luas daerah operasi Area Lamajan kurang lebih 10 Ha yang sebagian
besar berada di areal kawasan hutan dan sebagian lainnya merupakan tanah
milik penduduk maupun tanah Negara. Pengadaan lahan dilaksanakan dengan
cara pembayaran ganti rugi untuk tanah milik dan pinjam pakai dengan
memberikan kompensasi kepada Departemen Kehutanan untuk lahan yang
berstatus kawasan hutan.

2.8Management

SUPERVISOR SENIOR
IWAN SUKMANA

SUPERVISOR OPHAR

ROHMAT HIDAYAT

OPERATOR

M. ARIEF HAKIM

A. TAPUR ZAKI

BANGKIT SNTAUSA

W. WIKANDA

Gambar 2.4.Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Sub unit lamajan

11
BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Umum
Pada prinsipnya PLTA adalah pembangkit Listrik yang memanfaatkan air
menjadi listrik dengan malalui proses perubahan energi, yaitu dari energi
potensial air (KTH) diubah menjadi energi kinetis dengan adanya ketinggian
(Penstock), lalu energi kinetis ini dirubah menjadi energi listrik (Generator).
Jumlah energi listrik yang bisa dibangkitkan dengan sumber daya air
tergantung pada dua hal yaitu tinggi jatuh air (Head) dan besar jumlah air
yang mengalir (debit).
Untuk peralatan yang dibutuhkan pembangkit , yang terdiri dari pipa pesat,
generator, turbin air, peralatan proteksi dan peralatan bantu lainnya. Selain itu
penulis akan membahas secara umum tentang peralatan-peralatan pembangkit
tenaga listrik yang dipergunakan di PLTA Lamajan.

3.2 Macam-Macam Generator


Berdasarkan tegangan yang dibangkitkan generator dibagi menjadi 2 yaitu:
3.2.1 Generator Arus Bolak-Balik (AC)
Generator arus bolak-balik yaitu generator dimana tegangan yang
dihasilkan (tegangan output) berupa tegangan bolak-balik. Hampir
semua tenaga listrik yang dipergunakan saat ini bekerja pada sumber
tegangan bolak-balik (AC), karenanya, generator AC adalah alat yang
paling penting untuk menghasilkan tenaga listrik. Generator AC,
umumnya disebut alternator, bervariasi ukurannya sesuai dengan beban
yang akan disuplai. Sebagai contoh, alternator pada PLTA Laajan
mempunyai ukuran yang sangat besar, membangkitkan ribuan KiloWatt
(KW) pada tegangan yang sangat tinggi. Contoh lainnya adalah
alternator di mobil, yang sangat kecil sebagai perbandingannya.
Beratnya hanya beberapa kilogram dan menghasilkan daya sekitar 100
hingga 200 Watt, biasanya pada tegangan 12 Volt[1].

12
3.2.2 Generator Arus Searah (DC)
Generator arus searah yaitu generator dimana tegangan yang
dihasilkan (tegangan out put) berupa tegangan searah, karena
didalamnya terdapat sistem penyearahan yang dilakukan bisa berupa
oleh komutator atau menggunakan dioda.

3.3 Sistem Pembangkit Generator AC


Berdasarkan sistem pembangkitannya generator AC dapat dibagi menjadi
2 yaitu :
3.3.1 Generator 1 Fasa
3.3.2 Generator 3 Fasa

Agar lebih jelas maka akan dibahas secara umum macam-macam


generator AC sebagai berikut.
3.3.1 Generator 1 Fasa
Generator yang dimana dalam sistem melilitnya hanya terdiri dari satu
kumpulan kumparan yang hanya dilukiskan dengan satu garis dan
dalam hal ini tidak diperhatikan banyaknya lilitan. Ujung kumparan
atau fasa yang satu dijelaskan dengan huruf besar X dan ujung yang
satu lagi dengan huruf U. Jika dua belitan stator dengan impedansi yang
tidak sama dipisahkan sejauh 90 derajat listrik dan terhubung secara
paralel ke sumber satu fasa, medan yang dihasilkan akan tampak
berputar. Ini disebut dengan pemisahan fasa (phase splitting). Pada
motor fasa terpisah (split-phase motor), dipergunakanlah lilitan starting
untuk penyalaan. Belitan ini mempunyai resistansi yang lebih tinggi
dan reaktansi yang lebih rendah dari belitan utama. Jika tegangan yang
sama VT dikenakan pada belitan starting dan utama, arus pada belitan
utama (IM) tertinggal dibelakang arus pada belitan starting (IS). Sudut
antara kedua belitan mempunyai beda fasa yang cukup untuk
menimbulkan medan putar untuk menghasilkan torque awal (starting
torque). Ketika motor mencapai 70 hingga 80% dari kecepatan sinkron,
saklar sentrifugal pada sumbu motor membuka dan melepaskan belitan

13
starting. Motor satu fasa biasanya digunakan untuk aplikasi kecil seperti
peralatan rumah tangga (contoh mesin pompa).

3.3.2 Generator 3 Fasa


Generator yang dimana dalam sistem melilitnya terdiri dari tiga
kumpulan kumparan yang mana kumparan tersebut masing-masing
dinamakan lilitan fasa. Jadi pada statornya ada lilitan fasa yang ke satu
ujungnya diberi tanda U X; lilitan fasa yang ke dua ujungnya diberi
tanda dengan huruf V Y dan akhirnya ujung lilitan fasa yang ke tiga
diberi tanda dengan huruf W Z. Untuk lebih memperjelas lagi, akan
di jelaskan mengenai rangkaian 3 fasa itu sendiri.

3.4 Macam- macam Relai Proteksi Generator dan Fungsinya


No Nama Relai Fungsi Relai
1 Relai jarak (distance relay) Untuk mendeteksi gangguan 2 phasa/ 3 phasa
di muka generator sampai batas jangkauannya
2 Relai periksa sinkron Pengaman bantu generator untuk mendeteksi
(synchron check relay) persyaratan sinkronisasi atau paralel
3 Relai tegangan kurang Untuk mendeteksi turunnya tegangan sampai
(undervoltage relay) di bawah harga yang diijinkan
4 Relai daya balik (reverse Untuk mendeteksi daya balik sehingga
power relay) mencegah generator bekerja sebagai motor
5 Relai kehilangan medan Untuk mendeteksi kehilangan arus penguat
penguat (loss of excita-tion pada rotor
relay)
6 Relai phasa urutan negatif Untuk mendeteksi arus urutan negatif yang
(negative phase sequence disebabkan oleh beban tidak seimbang dari
relay) batas-batas yang diijinkan
7 Relai arus lebih seketika Untuk mendeteksi besaran arus yang melebihi
(instantaneous over cur-rent batas yang ditentukan dalam waktu seketika
relay)
8 Relai arus lebih dengan waktu Untuk mendeteksi besaran arus yang melebihi
tunda (time over current relay) batas dalam waktu yang ditentukan

14
9 Relai penguat lebih (over Untuk mendeteksi penguat lebih pada
excitation relay) generator
10 Relai tegangan lebih (over 1. Bila terpasang di titik netral generator atau
voltage relay) trafo tegangan yang dihubungkan segitiga,
untuk mendeteksi gangguan stator hubung
tanah
2. Bila terpasang pada terminal generator :
untuk mendeteksi tegangan lebih
11 Relai keseimbangan te-gangan Untuk mendeteksi hilangnya tegangan dari
(voltage balance relay) trafo tegangan ke pengatur tegangan otomatis
(AVR) dan ke relay
12 Relai waktu Untuk memperlambat/mempercepat waktu
13 Relai stator gangguan Untuk mendeteksi gangguan hubung tanah
tanah(stator ground fault relay) pada stator
14 Relai kehilangan sinkroni-sasi Untuk mendeteksi kondisi asinkron pada
(out of step relay) generator yang sudah paralel dengan sistem
15 Relai pengunci (lock out relay) Untuk menerima signal trip dari relai-relai
proteksi dan kemudian meneruskan signal trip
ke PMT, alarm, dan peralatan lain serta
penguncinya
16 Relai frekuensi (frequen-cy Untuk mendeteksi besaran frekuensi
relay) rendah/lebih di luar harga yang ditentukan
17 Relai differensial (diffe- Untuk mendeteksi gangguan hubung singkat
rential relay) pada daerah yang diamankan

15
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Proteksi Generator Sinkron Tiga Fasa


Dalam oprasinya, mesin sinkron memerlukan pengamanan terhadap
gangguan yang dapat masuk, gangguan tersebut biasanya disebabkan oleh
terjadinya kesalahan oprasi dari mesin atau ada kurang kesempurnaan dalam
instalasi. Tindakan pengamanan yang tepat adalah mencegah jangan sampai
gangguan-gangguan tersebut terjadi. Hal ini dapat diusahakan/dicapai dengan
pengaturan kerja yang teliti dan benar. Tindak lanjut untuk menjaga
terjadinya gangguan, maka dipasang alat pengamanan (protection).
Gangguan yang terjadi pada generator sinkron dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
Gangguan Listrik (electrical Fault)
Gangguan Mekanis/Panas(Mechanical/Thermal Fault)
Gangguan Sistem (System Fault)

Untuk lebih jelas dan menyeluruh tentang gangguan-gangguan pada


generator dilihat sebagai berikut :
4.1.1 Gangguan Listrik (Electrical Fault)
Jenis gangguan ini adalah gangguan yang timbul dan terjadi pada
bagian-bagian listrik dari generator. Gangguan-gangguan tersebut
antara lain :

4.1.1.1. Gangguan Arus Hubungan Singkat.


Pada instalasi diluar generator dapat terjadi kesalahan
hubungan singkat. Pada keadaan ini generator menyalurkan
arus yang sangat besar dalam waktu yang singkat mampu
merusak belitan generator sebelum rele bimetal sempat
bekerja. Alat yang digunakan untuk gangguan arus hubungan
singkat ini adalah :

16
Rele Arus Lebih Elektromagnet
Bila arus kumparan rele melebihi arus kerja rele, maka
rele bekerja seketika mengirimkan sinyal dan membuka
saklar generator tanpa penundaan waktu.Rele ini
merupakan kombinasi dari rele arus lebih dengan waktu
tunda yang seiring digunakan sebagai satu kesatuan rele
arus lebih.Biasanya arus kerja rele ini disiapkan pada 300
sampe 100% arus nominal generator.
Sekring (Fuse)
Sekring digunakan untuk mengamankan gangguan arus
lebih pada generator-generator kecil.Fuse ini bekerja
berdasarkan adanya arus yang besar melewati fuse,
sehingga timbul panas pada fuse dan fuse ini memutuskan
hubungan antara beban dengan generator dalam waktu
yang singkat.
Gangguan Tegangan Lebih
Putaran terlalu tinggi dari penggerak oleh suatu
gangguan dapat menyebabkan terjadinya tegangan lebih
pada generator.Hal ini membahayakan instrumen-
instrumen generator dan generator sendiri serta beban-
beban generator lainnya.Pengaman untuk gangguan ini
berupa rele tegangan lebih.Untuk generator tegangan
tinggi rele dipergunakan dengan bantuan trafo tegangan.
Prinsip kerja rele ini sama dengan rele arus lebih, hanya
arus pada kumparan rele diambil dari tegangan sekunder
dari trafo tegangan.
Gangguan Tegangan Kurang
Generator tidak boleh bekerja pada tegangan terlalu
rendah. Beban berupa motor akan mengalami arus lebih
juga tegangan kurang. Pengamanan gangguan tegangan
kurang berupa rele tegangan. Bila tegangan yang

17
dirasakan kurang dari harga set tegangan minimum, maka
rele tidak bekerja. Sebelum rele bekerja maka saklar
generator akan segera terbuka. Pada generator sinkron tiga
fasa yang digunakan di PLTA Lamajan, pengamanan
terhadap tegangan lebih dan tegangan kurang diatur
melalui AVR (Automatic Voltage Regulator).
4.1.1.2 Hubung Singkat 3 Phasa
Terjadinya arus lebih pada stator yang dimaksud adalah
arus lebih yang timbul akibat terjadinya hubungan singkat 3
phasa/ 3 phase fault. Gangguan ini akan menimbulkan
loncatan bunga api dengan suhu yang tinggi yang akan
melelehkan belitan dengan resiko terjadinya kebakaran, jika
isolasi tidak terbuat dari bahan yang anti api /non flammable.

4.1.1.3 Hubung Singkat 2 Phasa


Gangguan hubung singkat 2 phasa/unbalance fault lebih
berbahaya dibanding gangguan hubung singkat 3
phasa/balance fault, karena disamping akan terjadi kerusakan
pada belitan akan timbul pula vibrasi pada kumparan stator.
Kerusakan lain yang timbul adalah pada poros/shaft dan
kopling turbin akibat adanya momen puntir yang besar.

4.1.1.4 Stator Hubung Singkat 1 Phasa keTtanah/Stator Ground Fault


Kerusakan akibat gangguan 2 phasa atau antara konduktor
kadang-kadang masih dapat diperbaiki dengan menyambung
taping atau mengganti sebagian konduktor, tetapi kerusakan
laminasi besi (iron lamination)akibat gangguan 1 phasa ke
tanah yang menimbulkan bunga api dan merusak isolasi dan
inti besi adalah kerusakan serius yang perbaikannya dilakukan
secara total. Gangguan jenis ini meskipun kecil harus segera
diproteksi.

18
4.1.1.5 Rotor HubungTtanah/Field Ground
Padarotor generator yang belitannya tidak dihubungkan
oleh tanah (ungrounded system). Bila salah satu sisi terhubung
ke tanah belum menjadikan masalah. Tetapi apabila sisi
lainnya terhubung ke tanah, sementara sisi sebelumnya tidak
terselesaikan maka akan terjadi kehilangan arus pada sebagian
belitan yang terhubung singkat melalui tanah. Akibatnya
terjadi ketidakseimbangan fluksi yang menimbulkan vibrasi
yang berlebihan serta kerusakan fatal pada rotor.

4..1.1.6Kehilangan Medan Penguat/Loss Of Excitation


Hilangnya medan penguat akan membuat putaran mesin
naik, dan berfungsi sebagai generator induksi. Kondisi ini akan
berakibat pada rotor dan pasak/slot wedges, akibat arus induksi
yang bersirkulasi pada rotor. Kehilangan medan penguat dapat
dimungkinkan oleh :
Jatuhnya/trip saklar penguat (41AC)
Hubung singkat pada belitan penguat
Kerusakan kontak-kontak sikat arang pada sisi penguat
Kerusakan pada sistem AVR

4.1.1.7 Tegangan Lebih/Over Voltage


Tegangan yang berlebihan melampaui batas maksimum
yang diijinkan dapat berakibat tembusnya (breakdown) design
insulasi yang akhirnya akan menimbulkan hubungan singkat
antara belitan. Tegangan lebih dapat dimungkinkan oleh mesin
putaran lebih/overspeed atau kerusakan pada pengatur
tegangan otomatis/AVR.

4.1.2 Gangguan Mekanis/Panas (Mechanical/Thermal Fault)


Adapun gangguan-gangguan generator yang disebabkan oleh
mekanik atau panas sebagai berikut adalah jenis-jenis gangguan
mekanik/panas antara lain :

19
4.1.2.1 Gangguan Beban Lebih
Beban pada generator sinkron tiga pasang yang terlalu besar
jangkarnya akan tinggi sehingga memberikan pemanasan lebih
pada belitan. Isolasi belitan mempunyai ketahanan temperatur
maksimum tertentu yang bila temperetur belitan melewati
batas maksimmnya, isolasi akan rusak. Rusaknya isolasi
belitan memungkinkan terjadinya arus hubungan singkat dan
arus inilah yang menyebabkan belitan terbakar. Untuk
proteksinya beban lebih ini digunakan peralatan sebagai
berikut :
Pengaman Bimetal
Pengaman bimetal dapat mencegah mesin beroprasi
dalam keadaan beban lebih. Prinsip kerjanya berdasarkan
kepada perbedaan koefisien muai dari dua plat logam. Bila
arus generator melebihi harga arus kerja, maka pemutusan
bimetal akan menyebabkan kotnak bekerja mengirim sinyal
dan membuka saklar generator.
Kecepatan kerja dari kontak bimetal bergantung kepada
besarnya arus yang mengalir.Setting dari arus kerja dapat
diatur dan bias diambil dengan toleransi 10% dari nominal
generator.
Rele Arus Lebih
Rele ini dipergunakan dengan bantuan trafo arus. Arus
kerja minimum rele dapat diatur, bila batas minimum ini
dilewati maka piringan rele akan berputar diberikan oleh
pegas spiral. Pengaturan arus kerja rele dilakukan pada
pegas dan pengaturan waktu kerja rele dengan mengatur
jarak antara kontak diam dan kontak bergerak.

4.1.2.2 Generator Berfungsi Sebagai Motor (Motoring)


Motoring adalah peristiwa berubah fungsi generator
menjadi motor akibat daya balik (reverse power).

20
Daya balik terjadi disebabkan oleh turunnya daya masukkan
dari penggerak utama (prime mover). Dampak kerusakan
akibat peristiwa motoring adalah lebih kepada penggerak
utama itu sendiri. Pada turbin uap, peristiwa motoring akan
mengakibatkan pemanasan lebih pada sudu-sudunya, kavitasi
pada sudu-sudu turbin air, dan ketidakstabilan pada sudu turbin
gas.

4.1.2.3 Pemanasan Lebih Setempat


Pemanasan lebih setempat pada sebagian stator dapat
dimungkinkan oleh :
Kerusakan laminasi
Kendornya bagian-bagian tertentu di dalam generator
seperti : pasak-pasak stator (stator wedges).

4.1.2.4 Kesalahan Paralel


Kesalahan dalam memparalel generator karena syarat-syarat
sinkron tidak terpenuhi dapat mengakibatkan kerusakan pada
bagian poros dan kopling generator, dan penggerak utamanya
karena terjadinya momen puntir. Kemungkinan kerusakan lain
yang timbul, kerusakan PMT dan kerusakan pada kumparan
stator akibat adanya kenaikan tegangan sesaat.

4.1.2.5 Gangguan Pendingin Stator


Gangguan pada media sistem pendingin stator (pendingin
dengan media udara, hidrogen, atau air) akan menyebabkan
kenaikan suhu belitan stator. Apabila suhu belitan melampaui
batas ratingnya akan berakibat kerusakan belitan.

4.1.3 Gangguan Sistem (System Fault)


Generator dapat terganggu akibat adanya gangguan yang
datang/terjadi pada sistem. Gangguan-gangguan sistem yang terjadi
umumnya adalah :

21
4.1.3.1 Frekuensi Operasi Yang Tidak Normal (Abnormal Frequency
Operation)
Perubahan frekuensi keluar dari batas-batas normal di
sistem dapat berakibat ketidakstabilan pada turbin generator.
Perubahan frekuensi sistem dapat dimungkinkan oleh tripnya
unit-unit pembangkit atau penghantar (transmisi).

4.1.3.2 Lepas Sinkron (Loss of Synhcron)


Adanya gangguan di sistem akibat perubahan beban
mendadak, switching, hubung singkat dan peristiwa yang
cukup besar akan menimbulkan ketidakstabilan sistem.
Apabila peristiwa ini cukup lama dan melampaui batas-batas
ketidakstabilan generator, generator akan kehilangan kondisi
paralel. Keadaan ini akan menghasilkan arus puncak yang
tinggi dan penyimpangan frekuensi operasi yang keluar dari
seharusnya sehingga akan menyebabkan terjadinya stress pada
belitan generator, gaya puntir yang berfluktuasi serta resonansi
yang akan merusak turbin generator. Pada kondisi ini generator
harus dilepas dari sistem.

4.1.3.3 Arus Beban Kumparan Yang Tidak Seimbang (Unbalance


Armature Current)
Pembebanan yang tidak seimbang pada sistem/adanya
gangguan 1 phasa dan 2 phasa pada sistem yang menyebabkan
beban generator tidak seimbang yang akan menimbulkan arus
urutan negatif. Arus urutan negatif yang melebihi batas, akan
mengiduksikan arus medan yang berfrekuensi rangkap yang
arahnya berlawanan dengan putaran rotor akan menyebabkan
adanya pemanasan lebih dan kerusakan pada bagian-bagian
konstruksi rotor.

22
4.2Sistem Proteksi PLTA Lamajan
Proteksi yang digunakan di PLTA Lamajan pada ruang control/ruang
oprator terdiri dari 8 macam proteksi yang di pasang dalam satu modul pada
panel protections.

Gambar 4.1 Panel Protections Unit 1

Untuk lebih jelas lagi berikut adalah beberapa proteksi yang ada di
generator 3 fasa secara umum:
Over Voltage Relay
Differential Relay
Stator Earth Fault Relay
Rotor Earth Fault Relay
Lost of Rotor Excitation Relay
Over Current Relay
Out of Synchronism Relay
Reverse Power Relay

4.2.1 Over Voltage Relay


Pada generator yang besar umumnya menggunakan sistem
pentanahan netral melalui transformator dengan tahanan di sisi
sekunder. Sistem pentanahan ini dimaksudkan untuk mendapatkan
nilai impedansi yang tinggi sehingga dapat membatasi arus hubung

23
singkat agar tidak menimbulkan bahaya kerusakan pada belitan dan
saat terjadi gangguan hubung singkat stator ke tanah. Arus hubung
singkat yang terjadi di sekitar titik netral relatif kecil sehinga sulit
untuk dideteksi oleh rele differensial. Dengan dipasang transformator
tegangan, arus yang kecil tersebut akan mengalir dan menginduksikan
tegangan pada sisi sekunder transformator. Untuk mengatasi hal
tersebut digunakan rele pendeteksi tegangan lebih yang dipasang pada
sisi sekunder transformator tegangan. egangan yang muncul pada sisi
sekunder transformator tegangan akan membuat rele tegangan berada
pada kondisi mendeteksi apabila perubahan tegangan melebihi nilai
pengaturannya dan generator akan trip. Rangkaian ini sangat baik
karena dapat membatasi aliran arus nol yang mengalir ke dalam
generator ketika terjadi hubung singkat fasa ke tanah di sisi tegangan
tinggi transformator tegangan. Akan tetapi karena efek kapasitansi
pada kedua belitan transformator dapat menyebabkan adanya arus
bocor urutan nol yang dapat mengaktifkan rele tegangan lebih di sisi
netral generator. Dengan demikian rele tegangan lebih yang dipasang
harus mempunyai waktu tunda yang dapat dikoordinasikan dengan
rele di luar generator. Adapun penyebab overvoltage adalah sebagai
berikut:
Kegagalan AVR.
Kesalahan operasi sistem eksitasi.
Pelepasan beban saaat eksitasi dikontrol secara manual.
Pemisahan generator dari sistem saat islanding.

4.2.2 Differential Relay


Differential Relay untuk melindungi generator dari gangguan
akibat hubung singkat (short circuit) antar fasa-fase atau fase ke
tanah. Cara kerja relay differential adalah dengan cara
membandingkan arus pada sisi primer dan sisi sekunder, Dalam
kondisi normal jumlah arus yang mengalir melalui peralatan listrik

24
yang diproteksi bersirkulasi melalui loop pada kedua sisi di daerah
kerja. Jika terjadi gangguan didalam daerah kerja relay differential,
maka arus dari kedua sisi akan saling menjumlah dan relay akan
memberi perintah kepada PMT/CB untuk memutuskan arus.

4.2.3 Stator Earth Fault Relay


Stator Earth Fault Relay untuk mendeteksi gangguan pentanahan
atau grounding pada generator. Ground fault dideteksi dengan mem-
bias rangkaian medan dengan tegangan DC, yang menyebabkan akan
ada arus mengalir melalui relay jika terjadi gangguan tanah.

4.2.4 Rele Gangguan Rotor Hubung Tanah (Rotor Earth Fault Relay)
Hubung tanah dalam sirkuit rotor, yaitu hubung singkat antara
konduktor rotor dengan badan rotor dimana dapat menimbulkan
distorsi medan magnet yang dihasilkan rotor dan selanjutnya dapat
menimbulakn getaran (vibrasi) berlebihan dalam generator. Oleh
karena itu, hal ini harus dihentikan oleh rele rotor hubung tanah.
Karena sirkuit rotor adalah sirkuit arus searah, maka rele rotor hubung
tanah pada prinsipnya merupakan rele arus lebih untuk arus searah.
Adapunsingle line diagram rele gangguan rotor hubung tanah adalah
sebagai berikut:

Gambar 4.2 Single Line Diagram Rele Gangguan Rotor Hubung Tanah

25
Pada gambar di atas, ketika tidak ada gangguan maka arus simetri, {Ir
= Ia+Ib+Ic =0}, namun ketika terjadi gangguan hubung singkat ke tanah,
maka arus menjadi tak simetri {Ir = Ia+Ib+Ic = 3Iao}, sehingga terdapat
arus yang mengalir pada rele dan membuat rele mendeteksi gangguan.

4.2.5 Rele Kehilangan Medan Penguat Rotor (Lost of Rotor Excitation


Relay)
Hilangnya medan penguat pada rotor akan mengakibatkan
generator kehilangan sinkronisasi dan berputar di luar kecepatan
sinkronnya sehingga generator beroperasi sebagai generator asinkron.
Daya reaktif yang diambil dari sistem ini akan dapat melebihi rating
generator sehingga menimbulkan overload pada belitan stator dan
menimbulkan overheat yang menimbulkan penurunan tegangan
generator. Hilangnya medan penguat rotor dapat dideteksi dengan
kumparan yang dipasang paralel dengan main exciter dan kumparan
rotor generator. Pada kumparan ini akan mengalir arus yang apabila
nilainya kurang dari arus pengaturan yang diinginkan, maka akan
membuat rele mengeluarkan sinyal alarm atau trip.

4.2.6 Rele Arus Lebih (Over Current Relay)


Rele ini berfungsi mendeteksi arus lebih yang mengalir dalam
kumparan stator generator. Arus yang berlebihan dapat terjadi pada
kumparan stator generator atau di dalam kumparan rotor. Arus yang
berlebihan pada kumparan stator dapat terjadi karena pembebanan
berlebihan terhadap generator. Adapun single line diagram rele arus
lebih adalah sebagai berikut:

26
Gambar 4.3 Single Line Diagram Rele Arus Lebih

Keterangan,
CB = Circuit Breaker
TC = Trip Coil CB
I = Arus yang mengalir pada saluran yang diamankan
CT = Transformator Arus
Ir = Arus yang mengalir pada rele
C = Rele arus lebih
Ip = Arus pick-up dari rele

4.2.7 Under Voltage Relay

4.2.8 Rele Daya Balik (Reverse Power Relay)


Rele daya balik berfungsi untuk mendeteksi aliran daya balik aktif
yang masuk pada generator. Berubahnya aliran daya aktif pada arah
generator akan membuat generator menjadi motor, dikenal sebagai
peristiwa motoring. Pengaruh ini disebabkan oleh pengaruh rendahnya
input daya dari prime mover. Bila daya input ini tidak dapat mengatasi
rugi-rugi daya yang ada maka kekurangan daya dapat diperoleh

27
dengan menyerap daya aktif dari jaringan. Selama penguatan masih
ada maka aliran daya aktif generator sama halnya dengan saat
generator bekerja sebagai motor, sehingga daya aktif masuk ke
generator dan daya reaktif dapat masuk atau keluar dari generator.
Peristiwa motoring ini dapat juga menimbulkan kerusakan lebih parah
pada turbin ketika aliran uap berhenti. Temperatur sudu-sudu akan
naik akibat rugi gesekan turbin dengan udara. Untuk itu di dalam
turbin gas dan uap dilengkapi sensor aliran dan temperatur yang dapat
memberikan pesan pada rele untuk trip. Akan tetapi pada generator
juga dipasang rele daya balik yang berfungsi sebagai cadangan bila
pengaman di turbin gagal bekerja. Adapun single line diagram rele
daya balik adalah sebagai berikut :

Gambar 4.4 Single Line Diagram Rele Daya Balik


Pada gambar tersebut, apabila terjadi gangguan pada F1, maka rele akan
men-trip CB2, apabila gangguan terjadi pada F2, maka rele tidak akan men-
trip CB2 karena arah aliran arus yng terbalik dari kanan ke kiri.

Adapun tindak pencegahan adanya gangguan pada generator bisa dilihat


pada common plant gambar sebagai berikut:

28
Gambar 4.5 Common Plant Interface
Dengan sistem apabila terjadi gangguan pada generator maka interface pada
common plant akan menyala, ada pada gambar berikut:

Gambar 4.11 Interface Gangguan Pada Generator Utama

4.3 Pemeliharaan Generator Sinkron


Tujuan dari pemeliharaan generator sinkron adalah sebagai berikut:
Mencegah terganggunya generator pada saat oprasi hingga mungkin
terjadi pemadaman tak terduga dapat dikurangi. Hal ini yang mungkin

29
menjadi penyebab terjadinya gangguan dihilangkan pada saat pekerjaan
pemeliharaan.
Memperpanjang umur kerja generator. Pekerjaan pemeliharaan generator
memperlambat proses penuaan bagian-bagian generator.
Memperoleh kondisi kerja yang lebih baik bagi generator. Seperti
temperature kerja lebih rendah, efisien, serta faktor keamanan untuk
generator dan peralatan generator itu sendiri.

4.3.1 Pemeliharaan Generator Yang Sedang Berhenti


Terlebih dahulu terminal generator dihubungkan singkat ke tanah
untuk membuang muatan listrik yang mungkin di belitan. Terutama
untuk generator besar.

4.3.1.1 Belitan Generator


Dalam belitan generator yang merupakan objek pertama
untuk pemeriksaan adalah tahanan isolasi belitan. Isolasi
belitan generator masih baik bila tahanan isolasinya lebih besar
dari:

()

100 +
100

Penurunan tahanan isolasi generator dapat terjadi oleh


kelembapan udara generator ataupun oleh debu kotoran yang
menempel pada belitan.
Dengan turunanya tahanan isolasi belitan, maka arus bocor
makin besar. Pemanasan setempat pada lokasi kebocoran
membuka kemungkinan pecah isolasi, selanjutnya belitan akan
terbakar oleh arus hubungan singkat. Perhatikan harus
diberikan kepada generator yang akan dijalankan, setelah lama
berhenti, tes tahanan isolasi belitannya sebelum generator di-
start.

30
Kebanyakan generator besar dilengkapi dengan elemen
pemanas belitan generator. Setelah itu generator tersebut diatur
supaya dalam keadaan kering. Kira-kira antara 10 sampai 20C
diatas temperatur ruang. Karena kelembapan pada ruang
belitan akan hilang, maka harus selalu dijaga agar belitan
generator bebas dari debu dan oli yang bercampur.
Pembersihan dilakukan dengan sikat kering tanpa bantuan air
atau minyak. Harus diperhatikan terhadap penggunaan udara
compressor yang bertekanan tinggi serta mungkin
mengandung uap air. Lapisan debu pada belitan dapat
menyerap uap air yang selanjutnya menurunkan tahanan isolasi
belitan, lapisan debu juga dapat bersifat menghambat
pertukaran panas antar belitan generator dan udara luar
berhenti keefektifan proses pendingin generator. Hal ini harus
dijaga pula kemungkinan menjalarnya kotoran tersebut
kebelitan generator.

4.3.2 Pemeliharaan Pada Generator Yang Sedang Berjalan


Dengan pemeriksaan ini langsung dapat diperoleh gambaran atas
kebaikan suhu generator. Objek pemeriksaan terhadap generator yang
sedang berjalan adalah sebagai berikut.

4.3.2.1 Pemeriksaan Temperatur


Kebanyakan generator besar sudah dilengkapi dengan pengukur
temperatur belitan dibeberapa posisi dan dapat dibaca pada panel
pengukur generator.
Dengan mencatat keadaan temperatur generator pada selang waktu
tertentu, maka adanya penyimpangan dari biasanya akan cepat
diketahui. Untuk generator kecil pemeriksaan dilakukan dengan
perabaan pada mesin.

4.3.2.2 Pemeriksaan Getaran Suara

31
Generator besar kadang-kadang telah dilengkapi dengan
pengukuran getaran. Keadaan tidak seimbang akan menimbulkan
getaran tertentu pada mesin, disamping timbul suara yang khas. Bila
sudah terbiasa didengar karena tertutup oleh kebisingan suara normal
dan penggerak. Oleh karena itu pemeriksaan dilakukan pada putaran
rendah.Dalam hal ini diperlukan pengalaman untuk dapat melakukan
pemeriksaan dengan baik.

32
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Sistem proteksi sangatlah penting pada pembangkit-pembangkit listrik,
terutama pada PLTA Lamajan. Tanpa ada sistem proteksi yang baik maka
tidak bisa dihindari adanya gangguan pada mesin-mesin yang sedang di
oprasikan dan bisa saja terjadi kerusakan yang tidak diinginkan, oleh sebab
itu peranan dalam menjaga dan memelihara mesin adalah hal yang utama
karena baik/buruk kerja mesin terutama generator tergantung dari cara
pemeliharaan dan pengamanannya.
Suatu sistem tenaga listrik memerlukan adanya sistem proteksi untuk
dapat mendeteksi adanya gangguan pada sistem untuk dapat mendeteksi
adanya gangguan pada sistem sehingga dapat mencegah atau membatasi
kerusakan pada peralatan tenaga listrik selain itu juga untuk menjaga mutu
dan keadaan pasokan daya listrik.
Perawatan dan pemeliharaan yang baik terhadap generator akan
berpengaruh terhadap kinerja generator dan terhindarnya dari kerusakan
serta memperpanjang umur generator.
Pada saat pemeliharaan tidak luput peralatan-peralatan yang digunakan
harus sesuai standar agar pemeliharaan dan pendataan lebih akurat.

5.2 Saran
Untuk menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-
peralatan akibat gangguan (kondisi abnormal operasi sistem) maka penting
memproteksi peralatan peralatan tersebut dengan memilih jenis rele yang
sesuai dengan jenis gangguan yang mungkin timbul.
Seharusnya ada pembekalan khusus untuk para mahasiswa ataupun siswa
sebelum terjun langusng ke lapangan.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Manual Book. Electrical Protections C.E.E, Di ambi dari perpustakaan


PLTA LAMAJAN
2. Academia. Sistem Proteksi generator, [Online] Tersedia :
http://www.academia.edu/sistem-proteksi-generator.html
2017 [21 Agustus 2017]
3. Jurnal. Sistem Proteksi Pembangkit, [Online] Tersedia :
http://www.academia.edu/sistem-proteksi.html
2017 [21 Agustus 2017]

34
LAMPIRAN

Pengecekan Vibrasi Pada Lower Bearing

35