Anda di halaman 1dari 3

Belajar dari Tiga Binatang yang Disebut Al-Qur'an

Khutbah I

.


.





.













.



:

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Setidaknya ada tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran, yaitu Al-
Naml (semut), Al-'Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl (lebah). Bila kita amati secara seksama,
masing-masing binatang ini memiliki karakter khas yang bisa menjadi kiasan dari kehidupan
manusia.

Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil
ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu
tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga ia berusahadan seringkali berhasilmemikul
sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.

Dalam surah Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir'aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki
kekuasaan yang tidak dimiliki oleh manusia mana pun sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah
seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan
yang dimilikinya.

Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh.
Sebagaimana disinggung oleh surah Al-Ankabut ayat 41:

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah


seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah
rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Rumah laba-laba bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya
akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan
seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling
berdesakan sehingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah
gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Lantas bagaimana dengan lebah? Al-Quran memiliki insting yangdalam bahasa Al-Quran
lebah bergerak atas atas ilham dari Tuhan sehingga ia mampu memilih memilih gunung dan
pohon-pohon sebagai tempat tinggal.

Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di


pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia." (QS An-Nahl: 68)

Sarang lebah dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi
pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang yang tidak seperti semut
yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah
lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang dan
madukata Al-Qurandapat menjadi obat yang menyembuhkan. Lebah sangat disiplin,
mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah
tidak mengganggu kecuali yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia
yang "berbudaya semut", yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu (tanpa mengolahnya) dan
materi atau harta benda (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya). Budaya semut adalah "budaya
menumpuk" yang disuburkan oleh "budaya mumpung". Tidak sedikit problem masyarakat
bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mendorong
hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang
masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa
dalam masyarakat kita, banyak sekali semut yang berkeliaran.

Entah berapa banyak jumlah laba-laba yang ada di sekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi
butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah "siapa yang
akan mereka jadikan mangsa. Ia menjadi kiasan dari sifat manusia mencelakakan, dan
rumah/lembaganya yang menjadi pelindungnya menjerumuskan siapa saja yang terpikat olehnya.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah, sesuatu yang
tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan
kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula
memecahkannya.

Lebih rinci lagi, lebah setidaknya memiliki tiga keistimewaan yang dapat menjadi analogi
tentang karakter ideal manusia. Pertama, lebah tak merusak ranting yang ia hinggapi, sekecil apa
pun pohon tersebut. Hal ini memberi pelajaran manusia agar menghindari berlaku yang
menimbulkan mudarat atau kerugian terhadap orang lain. Lebah memang datang untuk makan,
tapi ia tak ingin merusak untuk kepentingannya pribadinya itu. Bahkan kerap kali lebah justri
berjasa dalam proses penyerbukan sebuah bunga yang ia hinggapi.

Kedua, lebah makan sesuatu yang baik-baik, yakni saripati bunga, sehingga yang dikeluarkannya
pun baik-baik, yakni madu. Manusia dituntut dalam kehidupan yang serba halal. Rezeki yang
halal akan membuahkan perilaku yang positif .

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah shalat jumat untuk senantiasa membersihkan
jiwa dari kotoran tamak, keji, dan tak peduli orang lain.

Khutbah II

.






.







.
.


.



. !