Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH KEPERAWATAN PENCERNAAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KANKER RONGGA MULUT

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1 AJ2 B17

Belinda Haseptiana Putri 131411123002


Hendra Wahyu Setiono 131411123004
Abdul Fauzi 131411123006
Endang Trihastuti 131411123008
Maslakah 131411123010
Fatimah Zahra 131411123012
Zaky Mubarak 131411123013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN S1 NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2015
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker merupakan penyakit atau kelainan pada tubuh sebagai akibat dari sel-sel
tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, di luar batas dan sangat liar. Kanker
didefinisikan sebagai pertumbuhan tidak terkontrol sel-sel yang menyerang dan
menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitarnya. Kanker rongga mulut ialah keganasan
yang terjadi di dalam rongga mulut yang dibatasi oleh vermilion bibir dibagian depan dan
arkus faringeus anterior bagian belakang. Kanker rongga mulut meliputi kanker bibir,
gingiva, lidah, bukal, dasar mulut, palatum, dan arkus faringeus anterior
(Mutaqqin,2011).
Kanker rongga mulut paling banyak disebabkan oleh penggunaan alkohol,
penggunaan tembakau (Smeltzer,2002), radiasi, paparan sinar matahari dan agen infeksi
(Mmutaqqin,2011).
Karsinoma pada rongga mulut merupakan salah satu jenis kanker yang menjadi salah
satu dari 10 penyebab kematian diseluruh dunia. Di Amerika Serikat, dari sekitar satu juta
kanker baru yang didiagnosis setiap tahunnya, ditemukan kurang lebih 3% karsinoma
rongga mulut dan orofaring. Kanker kepala dan leher (rongga mulut, lidah, nasofaring,
faring, laring, sinus, kelenjar ludah) menunjukkan lebih dari 5% kejadian kanker pada
tubuh manusia. Pada perempuan, ditemukan sebanyak 2% kasus karsinoma rongga mulut
dari semua jenis kanker. Pada laki-laki sebanyak 2% karsinoma rongga mulut merupakan
penyebab kematian akibat kanker, sedangkan pada perempuan 1%. Statistik ini adalah
sama di seluruh Amerika Utara tetapi berbeda-beda di seluruh dunia. Pada laki-laki di
Prancis, insiden kanker rongga mulut pada laki-laki meningkat hingga 17.9 kasus per
100.000 penduduk, dan angka yang lebih tinggi dilaporkan di India dan negara-negara
Asia lain. Sebagian besar kanker rongga mulut adalah karsinoma sel skuamosa. Penyakit-
penyakit malignant lain yang bisa terjadi di kepala dan leher meliputi tumor kelenjar air
liur, kelenjar tiroid, kelenjar limfa, tulang, dan jaringan lunak (Sapp. dkk. 2004).
Sampai saat ini pencegahan untuk kanker rongga mulut adalah menghindari faktor
penyebabnya secara umum meliputi menghindari kontak dengan matahari, kurangi
merokok dan oral hygiene yang baik (Ester, 2002). Pada umumnya, untuk mendeteksi
dini proses keganasan dilakukan dengan melakukan anamnesa, pemeriksaan kinis, dan
diperkuat oleh pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya. Sehingga perawat perlu
mempelajari dan memahami tentang konsep dan asuhan keperawatan pada pasien dengan
kanker rongga mulut.

1.2 Tujuan
1.2.1 Konseptual
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep teori tentang anatomi fisiologi rongga
mulut
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep definisi kanker rongga mulut
3. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep klasifikasi kanker rongga mulut
4. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep etiologi kanker rongga mulut
5. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep manifestasi klinis kanker rongga mulut
6. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep patofisiologi dan patogenesis kanker
rongga mulut
7. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep pemeriksaan penunjang kanker rongga
mulut
8. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep penatalaksanaan kanker rongga mulut
1.2.2 Asuhan Keperawatan
1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian klien dengan Kanker Rongga Mulut.
2. Mahasiswa mampu melakukan diagnosa keperawatan klien dengan Kanker
Rongga Mulut.
3. Mahasiswa mampu melakukan intervensi keperawatan klien dengan Kanker
Rongga Mulut.
4. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan klien dengan Kanker
Rongga Mulut.
5. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan klien dengan Kanker
Rongga Mulut.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi

Rongga mulut adalah bagian dari saluran cerna dimulai dari saluran cerna
dimulai dari vermillon sampai perbatasan soft dengan hard palate dengan papilla
circumvillate lidah. Jadi yang masuk dalam region ini adalah bibir, mukosa bukal,
ginggiva, dasar mulut, lidah dua pertiga depan, hard palate dan trigonum retromolar
(Suyatno, 2010).

2.1.1 Mulut (oris)


Mulut merupakan jalan masuk menuju system pencernaan dan berisis organ
aksesori yang bersifat dalam proses awal pencernaan. Secara umum terdiri dari 2
bagian yaitu :
1. Bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi
2. Bagian rongga mulut ( bagian ) dalam yaitu rongga yang dibatasi sisinya oleh
tulang maksilaaris, palatum dan mandibularis di sebelah belakang bersambung
dengan faring.
2.1.2 Gigi
Bagian gigi terdapat gigi (anterior) tugasnya memotong yang sangat kuat dan
gigi osterior tugasnya menggiling. Pada umumnya otot-otot pengunyah di persarafi
oleh cabang motorik dari saraf cranial ke 5. Dan proses mengunyah di control oleh
nucleus dalam batang otak. Perangsangan formasio retikularis dekat pusat batang otak
untuk pengecapan dapat menimbulakan pergerakan mengunyah secara ritmis dan
kontinu. Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan semua makanan,
terutama untuk sebagian besar buah dan syur-sayuran mentah karena zat ini
mempunyai membrane selulosa yang tidak dapat dicerna diantara bagian-bagian zat
nutrisi yang harus di uraikan.

2.1.3 Lidah
Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel bebrapa diantaranya
disebut sel sustentakular dan yang lainnya di sebut sel pengecap. Lidah berfungsi
untuk menggerakan makan saat dikunyah atau ditelan. Lidah terdiri dari otot serat
lintang dan dilapisi selaput lendir. Dibagian pangkal lidah terdapat epiglottis
berfungsi untuk menutup jalan nafas pada waktu menelan supaya makanan tidak
masuk kejalan nafas. Kerja otot dapat di gerakkan 3 bagian, yaitu radiks lingua =
pangkal lidah, dorsum lingua = punggung lidah, apek lingua = ujung lidah.
2.1.4 Kelenjar ludah
Kelenjar ludah yaitu kelenjar yang memiliki duktus yaitu duktus duktus
wartoni dan duktus stensoni. Kelenjar ini mensekresikan saliva jedalan rongga oral di
hasilkan di dalam rongga mulut dipersarafi oleh saraf tak sadar. Kelenjar parotis,
letaknya dibawah depan dari telinga diantara proses mastoid kiri dan kanan
mandibularis pada duktus stensoni. Kelenjar submaksilaris terletak dibawah fongga
mulut bagian belakang, dukts wartoni. Kelenjar subliingualis, dibawah selaput lendir,
bermuara di dasar raongga mulut. Fungsi saliva :
1. Memudahkan makan utnuk dikunyah oleh gigi dan dibentuk menjado bolus
2. Mempertahankan bagian mulut dan lidah agar tetap lembab, sehingga
memudahkan lidah bergerak utnuk bericara
3. Mengandung ptyalin dan amylase, suatu enzyme yang dapat mengubah zat
tepung menjadi maltose polisakarida
4. Seperti zat buangan seperti asam urat dan urea serta obat, virus, dan logam,
disekresi kedalam saliva
5. Sebagai zat anti bakteri dan anti body yang berfungsi untuk memberikan
rongga oral dan membantu memelihara kesehatan oral serta mencegah
kerusakan gigi.
2.2 Definisi

Kanker rongga mulut ialah keganasan yang terjadi di dalam rongga mulut yang
dibatasi oleh vermilion bibir dibagian depan dan arkus faringeus anterior bagian
belakang. Kanker rongga mulut meliputi kanker bibir, gingiva, lidah, bukal, dasar mulut,
palatum, dan arkus faringeus anterior. Kebanyakan kanker rongga mulut (hampir 97%)
adalah karsinoma epidermoid, 2-3% adenokarsinoma, dan 1% adalah keganasan yang
jarang seperti limfoma, melanoma maligna, dan fibrosarkoma (Mutaqqin,2011).

Karsinoma sel skuamosa rongga mulut adalah karsinoma yang paling sering dijumpai
pada rongga mulu. Karsinoma jenis ini mempunyai sifat seperti kanker pada umumnya
yang mampu menyerang jaringan ikat di bawahnya dan melakukan metastasis ke lokasi
yang lebih jauh. Secara histologis tumor terdiri dari atas sel-sel karsinoma berkreatin
yang menginvasi sekeliling jaringan.

Pada prinsipnya kemampuan sel kanker melakukan invasi dan metastasis adalah
karena dihasilkan Matriks Metalloprotein (MMP) oleh sel kanker yang dapat
menyebabkan kerusakan pada komponen dan struktur matriks ekstraseluler, serta
membran basalis. Selain itu, juga karena adanya pengaruh sel-sel stromal di sekitarnya.
Peran MMP tidak hanya dalam meningkatkan perkembangan kanker melalui pembuangan
barier matriks eksraseluler tetapi juga modulasi sinyal yang mempengaruhi transformasi
seluler dan perumbuhan tumor (Nabeshima, 2002).

1. Kanker pada Bibir. Bibir pada bagian bawah merupakan tempat terjadinya kerusakan
karena cahaya matahari atau actinic keratosis.
2. Kanker pada Lidah. Kanker pada lidah adalah suatu keganasan yang timbul dari
jaringan epitel mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamosa cell carcinoma yang
terjadi akaibat rangsangan menahun, juga beberapa penyakit-penyakit tertentu
(premalignan) seperti sifilis dan plumer vision syndrom, leukoplakia, serta
eritoplakia,. Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, disamping itu
dapat melakukan metastasis secara limfogen dan hematogen.
3. Kanker dasar Mulut. Kanker pada dasar mulut biasanya dihubungkan dengan
penggunaan alkohol dan tembakau.
4. Kanker pada Gusi. Daerah yang terlibat biasanya adalah gusi bawah/ mandibula dari
pada gusia atas atau maksila (Daftary,1992).
5. Kanker pada Palatum. Kebanyakan kanker palatum merupakan pertumbuhan eksofitik
dengan dasar yang luas dan permukan bernodul.
2.3 Klasifikasi

Menurut American Joint Committe on Cancer (AJCC) klasifikasi rongga mulut


menggunakan sistem TNM. Sistem TNM ini terdiri atas T (tumor) atau gambaran dari
level pembesaran tumor, N (nodus) atau sejauh mana keterlibatan nodus limfe sebagai
sistem imun tubuh, dan M (metastase) yaitu suatu kondisi metastasis menggambarkan
keterlibatan organ lain pada bagian distal (Morrow,2009)

Stadium T Stadium N Stadium M


T0 Tidak ada tampilan N0 Tidak ada keterlibatan M0 Tidak ada
tumor nodus limfe penyebaran
Tis Carcinoma in situ. N1 Terdapat keterlibatan
terdapat massa pada limfatik regional, tetapi
jaringan ukuran nodus 3 cm
T1 Ukuran tumor 2 cm N2 Keterlibatan pembesaran
T2 Ukuran tumor 4 cm nodus limfe satu atau M1 Kanker menyebar
T3 Ukuran tumor 4 cm lebih dengan ukuran 6 ke organ bagian
cm distal
T4 Ukuran tumor lebih dari N3 Keterlibatan homolateral
4 cm dan tertanam kuat atau bilateral nodus limfe
pada otot atau tulang atau dengan ukuran 6 cm
struktur lainnya

Stadium TNM Keterangan


Stage I T1, N0, M0 Pada stadium ini pembesaran pada jaringan masih belum
dianggap kanker dan tumor tidak lebih 2 cm
Stage II T2, N0, M0 Pada stadium ini tuor todaklebih 4 cm
Stage IIIA T3, N0, M0 Pada stadium ini pembesaran melebihi 4 cm, tetapi tidak
didapatkan pembesaran limfe dan tidak ada metastasis ke
organ lain.
Stage IIIB T1, T2, T3, N1, M0 Pada stadium ini tumor dapat berukuran kurang 2 cm,
dibawah 4 cm atau lebih, tetapi kanker belum
memengaruhi nodus homolateral limfatik.
Stage IVA T4, N0, M0 Pada stadium ini tumor melebihi 4 cm, dan tertanam
dalam pada otot, tulang, atau struktur jaringan
dibawahnya.
Stage IVB Any T, N2 or N3, Pada stadium ini tumor bias berbagai ukuran, tetapi
M0 tertanam dalam pada otot, tulang atau struktur jaringan
dibawahnya, serta terdapat keterlibatan dari nodus
homolateral atau bilateral limfatik.
Stage IVC Any T, any N, any Pada stadium ini, terjadi berbagai situasi berat baik ukuran
M tumor, keterlibatan nodus limfatik dan metastasis ke organ
lain.
2.4 Etiologi

Etiologi kanker rongga mulut masih belum diketahui. Sebuah penelitian


mengindikasikan virus seperti Herpes Simplex Virus dan Papilloma Virus berperan dalam
proses terjadinya kanker rongga mulut namun penyebab past masih belum diketahui.
Terdapat 3 faktor predisposisi yang saling berhubungan meliputi faktor host, faktor lokal
dan faktor luar.

2.4.1 Faktor predisposisi yang berhubungan dengan peningkatan terjadinya karsinoma


rongga mulut (Mutaqqin.2011).

1. Radiasi ion pada terapi radiasi


Beberapa pasien yang mendapatkan terapi radiasi dan bukan untuk diagnostik
meningkatkan resiko terjadinya kanker rongga mulut
2. Paparan radiasi matahari secara kronis
Paparan sinar matahari merupakan faktor yang sangat signifikan yang dapat
meningkatkan resiko pada kanker rongga mulut akibat paparan langsung radiasi
matahari dalam kurun waktu 15-30 tahun.
3. Merokok
Perokok mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kanker rongga mulut.
Lesi premaligna dan maligna pada lidah juga mukosa bukal sangat berhubungan
dengan konsentrasi asap rokok yang dihirup secara langsung mempengaruhi
jaringan mukosa rongga mulut.
4. Pengguna alkohol kronis
Pengguna alkohol secara kronis meningkatkan resiko terjadinya kanker rongga
muut terutama pada bagian bawah lidah dan dasar mulut. Kandungan dari alkohol
yang akan beredar dalam darah kandungan alkohol diatas 40 gr untuk laki-laki dan
pada perempuan konsumsi alkohol diatas 30 gr setiap hari dapat berakibat
kerusakan organ tubuh khususnya jaringan lunak sel squamosa yang terdapat di
dalam rongga mulut.
5. Agen infeksi
Iritasi kronik pada rongga mulut dapat menjadi predisposisi penting terjadinya
kanker pada bibir. Kanker ganas lidah timbul pada tempat yang sesuai dengan
sumber iritasi kronik seperi karies gigi atau gigi bususk dengan kalkuus yang
banyak dan juga bisa karena pemasangan gigi palsu atau prothesa yang posisinya
tidak cocok.
6. Malnutrisi, avitaminosis dan perawatan mulut yang kurang
Di asia kondisi malnutrisi kurang asupan vitain dan kurangnya perawatan mulut
merupakan salah satu faktor predisposisi peningkatan kanker rongga mulut.

2.4.2 Faktor lokal

Kebersihan rongga mulut yang tidak adekuat, iritasi kronis dari restorasi, gigi-
gigi karies atau akar gigi, gigi palsukaries atau gigi palsu

2.4.3 Faktor Host (Sudiono, 2008)

1. Diet, efek perlindungan yang signifikan dari diet terhadap terjadinya kanker
mulut terlihat pada populasi yang mengkonsumsi sayuran yang kaya akan
betakarotin dan buah-buahan yag mengandung asam sitrat. Populasi ini
mempunyai insiden kanker mulutyang rendah.
2. Umur, paling banyak terjadi pada usia lanjut, karena pada usia lanjut sering
timbul ketidakseimangan hormon dan waktu yang lama memberi kesempatan
bagi karsinogen untuk menimbukan kanker.
3. Keturunan
Tumor yang menunjukkan pengaruh faktor genetik/ keturunan antara lain adalah
neuroblastoma, polip multiple pada usus esar dan xeroderma pigmentosum.
4. Rangsangan menahun
Penderita kanker mulut yang berulang akan menimbulkan radang yang
menyebabkan kerusakan jaringan yang kemudian akan dipulihkan. Kerusakan
dan pemulihan jaringan yang berulang akan mengganggu keseimbangan sel
sehingga sel berkembang menjadi kanker.
2.5 Manifestasi Klinis
Banyak kanker oral yang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Keluhan pasien
yang paling sering adalah luka yang tidak nyeri atau massa yang tidak sembuh. Lesi khas
pada kanker oral adalah ulkus keras (mengeras) dengan tepi menonjol. Adanya ulkus
rongga mulut yang tidak sembuh dalam 2 minggu harus diperiksakan dengan biopsi. Bila
kanker berlanjut, pasien dapat mengeluh nyeri tekan, sulit mengunyah, menelan atau
berbicara batuk disertai sputum megandung darah, atau pembesaran nodus limfe servikal
(Brunner,Suddarth.2001).
Gejala-gejala kanker rongga mulut antara lain adalah munculnya (Windya,2010):
1. Bintik putih atau merah (leukoplakia, eritroplakia, atau eritroleukoplakia) di
dalam mulut ataupun pada bibir.
2. Luka pada bibir ataupun rongga mulut yang sulit sembuh.
3. Perdarahan pada rongga mulut.
4. Kehilangan gigi.
5. Sulit atau timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah.
6. Kesulitan untuk menggunakan geligi tiruan.
7. Pengerasan pada leher, serta rasa sakit pada telinga
Berbagai gambaran klinis menurut lokasinya, meliputi pemeriksaan klinis pada bibir,
lidah, dasar mulut, mukosa pipi, gusi, dan palatum

Kanker pada Bibir. Bibir tampak pecah-pecah dan kemerahan, keputihan dan
percampuran dari merah dan putih. Pada perokok bisa tumbuh benjolan putih di
bagian dalam bibir. Benjolan ini bisa tumbuh menjadi squamosa cell carcinoma.

Kanker pada Lidah. Neoplasma maligna dari lidah biasanya timbul dari jaringan
epitel mukosa mulut dan sebagian besar merupakan karsinoma epidermoid, yang
merupakan salah satu tumor ganas pada rongga mulut yang paling sering dijumpai
dan mempunyai tingkat kematian yang tinggi dimana secara klinik menyerang 2/3
anterior lidah dan 1/3 bagian posterior lidah, juga dapat bermetastase pada daerah
lidah misalnya submaksilaris dan digastrikus juga ke daerah leher dan servikal
(Scully,1992).

Karsinoma lidah mempunyai prognosis yang jelek sehingga diagnosa dini sangat
diperlukan terlebih lagi apabila terjadi metastasis ke daerah lain (leher dan servikal).
Kanker ganas dari lidah berkisar antara 25-50% dari semua kanker ganas di dalam
mulut (Osterkamp,2009).

Pada pemeriksaan klinis kanker lidah adalah terdapat suatu massa dan ulkus yang
tidak nyeri, meskipun sebagian besar penderita lesi tersebut akhirnya merasa nyeri
yang timbul akibat lesi sekunder.Lesi yang khas timbul pada pinggir lateral atau
permukaan ventral lidah (Sciubba,2012).
Kanker dasar Mulut. Kanker pada dasar mulut biasanya dihubungkan dengan
penggunaan alkohol dan tembakau. Pada tingkat awal mungkin tidak menimbulkan
gejala. Bila lesi berkembang pasien akan mengeluh adanya gumpalan dalam mulut
atau perasaan tidak nyaman(Daftary.1992). Pada pemerksaan klinis yang paling sering
dijumpai adalah lesi berupa nodul dengan tepi yang timbul dan mengeras yang
terletak dekat frenulum lingual. Bentuk lain adalah penebalan mukosa yang
kemerahan, nodul tidak sakit atau dapat berasal dari leukoplakia (Mutaqqin.2011).

Kanker pada Mukosa Pipi. Pada beberapa pasien yang mempunyai kebiasaan
mengunnyah campuran pinang, daun sirih kapur dan tembakau akan memberikan
resiko pengkatan kanker pada mukosa pipi. Dengan kondisi material yang melakukan
kontak langsung dengan mukosa pipi kiri dan kanan selama beberapa jam dan trauma
pada waktu mengunyah memberikan dampak terhadap perubahan sel-sel mukosa
(Daftary,1992). Pada awalnya lesi tidak menimbulkan gejala, terlihat sebagai suatu
daerah eritematus, ulserasi yang kecil, daerah merahdengan indurasi dan kadang-
kadang dihubungkan dengan leukoplakia. Pada pemeriksaan rongga mulut akan
didapatkan lesi ulserasi, nodular dan infiltratif (Mutaqqin.2011).

Kanker pada Gusi. Kanker pada gusi biasanya dihubungkan dengan riwayat pasien
menghisap pipa tembakau. Daerah yang terlibat biasanya adalah gusi bawah/
mandibula dari pada gusia atas atau maksila (Daftary,1992). Pada pemeriksaan fisik
didapatkan lesi awal sebagai ulkus, granuloma yang kecil atau sebagai nodul.Sekilas
lesi terlihat sama dengan lesi yang dihasilkan oleh rauma kronis atau hiperplasia
inflamatory (Daftary,1992). Lesi yang lebih lanjut berupa pertumbuhan eksofitik atau
pertumbuhan infiltratif yang lebih dalam. Pertumbuhan eksoftik terlihat seperti bunga
kol dan mudah berdarah. Pertumbuhan infiltratif biasanya tumbuh invasif pada tulang
mandibula dan menimbulkan destruktif (Mutaqqin,2011).

Kanker pada Palatum. Predisposisi merokok meningkatkan resiko pada kanker


palatum. Kebanyakan kanker palatum merupakan pertumbuhan eksofitik dengan dasar
yang luas dan permukan bernodul. Jika lesi terus berkembang mungkin akan mengisi
seluruh palatum. Kanker pada palatum dapat menyebabkan perforasi palatum meluas
sampai ke rongga hidung.
2.6 Patofisiologi dan Patogenesis

Sel kanker muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal yang disebabkan
oleh zat-zat karsinogen tadi. zat karsinogen dari asap rokok tersebut memicu terjadinya
Karsinogenesis (transformasi sel normal menjadi sel kanker). Karsinogenesisnya terbagi
menjadi 3 tahap:
1. Tahap pertama merupakan Inisiaasi yatu kontak pertama sel normal dengan zat
Karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas.
2. Tahap kedua yaitu Promosi, sel yang terpancing tersebut membentuk klon melalui
pembelahan(poliferasi).
3. Tahap terakhir yaitu Progresi, sel yang telah mengalami poliferasi mendapatkan satu
atau lebih karakteristik neoplasma ganas.
Menurut Arif Mutaqqin.2011, kanker rongga mulut dalam pertumbuhannya di mulai
dengan lesi yang sangat kecil. Dan berkembang sampai ukurannya membesar.Khusus
pada kanker rongga mulut karena sebagian besar berasal dari epitel permukaan, maka
kanker rongga mulut biasanya diawali dengan kelainan pre-maligna yang dapat dilihat
dengan mudah.

Kelainan pre maligna adalah suatu kelainan mukosa rongga mulut yang paling awal
sebelum berubah menjadi tumor ganas. Ada 2 bentuk kelainan pre-maligna yaitu
leukoplakia dan eritroplakia (Hillary,2007). Leukoplakia adalah bercak warna keputihan
yang berbatas tegas dengan mukosa mulut. Keadaan ini sering terjadi pada perokok berat
usia di atas50 tahun. Leukoplakia di bagi menjadi 4 grade menurut (Ohrn,2000 dalam
Arif Mutaqqin,2011).

1. Grade I : bercak kemerahan yang granuler yang secara bertahap berubah


menjadi keabuan
2. Grade II : bercak putih kebiruan berbatas tegas, tanpa indurasi
3. Grade III : bercak keputihan berbatas tegas dengan indurasi, mungkin ada
kerutan
4. Grade IV : bercak mengalami indurasi, ada fisura, erosi, kadang-kadang
permukaannya mengalami proliferasi seperti eruka. Pada pemeriksaan mikroskop
nampak perubahan keganasan dini.
Leukoplakia biasa di dapat pada bibir, lidah dan gusi. Kurang lebih 10-12%
leukoplakia setelah 10tahun berubah menjadi karsinoma rongga mulut. Leukoplakia yang
dapat berubah menjadi karsinoma menunjukkan suatu displasia yang ireversible
walaupun penderita menghentikan rokoknya. Leukoplakia atau bercak ptih yang baru
timbl pada lidah bisa merupakan gejala permulaan dari suatu karsinoma lidah. WHO
mendeskripsikan bahwa leukoplakia dengan ukuran diameter tidak kurang dari 5 mm
yang tidak bisa diangkat dihilangkan dengan kerokan dan tidak bisa digolongkan kepada
suatu penyakit lain, harus dianggap suatu lesi premalignan (WHO,2005).

Eritroplakia adalah suatu tanda yang pasti tentang perkebangan kanker dibandingkan
dengan leukoplakia (Murray,2000). Kelainan ini berupa mukosa yang sedikit lebih tinggi
dan menebal berwarna merah mirip jaringan granulasi dengan tumpukkan keratin di atas
permukaan (Osterkamp,2009). Lokasi yang paling sering adalah bawah lidah, dasar
mulut, palatum molle, dan trigunum retromolar (Arif,Mutaqqin.2011).

Karsinoa invasif. Karsinoma ini tidak berbatas di dalam epitel, akan tetapi
menembus asal dan mengadakan invasi ke jaringan di bawahnya. Pada stadium ini, dapat
timbul keluhan yang sering diabaikan oleh pasien, keluhan tersebut dapat berupa
parestesi, hilangnya sensasi, atau gatal. Karsinoma invasif yang masih dini mungkin
dapat ditemukan dalam berbagai ukuran sebagai berikut (Osterkamp,2009).

1. Ulkus kecil
2. Penonjolan dengan batas tegas
3. Indurasi atau erosi kemerahan yang ireguler
4. Kawah kecil, kemerahan
5. Bintik-bintik kemerahan difus sedikit elevasi
6. Krusta pada bibir.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


1. Rontgen
X-foto mandibula AP, lateral, Eisler, panoramic, oklusal, pada tumor
ginggiva mandibula, atau tumor yang melekat pada mandibula
X-foto kepala lateral, waters, oklusal, dikerjakan pada tumor ginggiva,
maksila, atau tumor yang melekat pada maksila
X-foto Hap dikerjakan pada tumor palatum durum
X-foto thorax, untuk mengetahui adanya metastase paru
2. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin seperti: darah, urine, SGOT/SGPT, alkali
fosfatase, BUN/kreatinin, albumin, globulin, serum elektrolit, faal
hemostasis, untuk menilai keadaan umum dan persiapan operasi.
3. Sitologi Mulut
Sitologi mulut merupakan suatu teknik yang sederhana dan efektif untuk
mendeteksi dini lesi-lesi mulut yang mencurigakan. Secara defenisi,
pemeriksaan sitologi mulut merupakan suatu pemeriksaan mikroskopik sel-
sel yang dikerok/dikikis dari permukaan suatu lesi didalam mulut. Untuk
aplikasi klinisnya, seorang dokter gigi harus memiliki pengetahuan yang
cukup mengenai kapan pemeriksaan ini dilakukan dan kapan tidak dilakukan,
peralatan yang digunakan, prosedur kerja, data klinis yang disertakan sampai
pengirimannya ke bagian Patologi anatomi.
4. Biopsi
Jika hasil pemeriksaan sitologi meragukan, segera lakukan biopsi. Biopsi
merupakan pengambilan spesimen baik total maupun sebagian untuk
pemeriksaan mikroskopis dan diagnosis. Cara ini merupakan cara yang
penting dan dapat dipercaya untuk menegakkan diagnosa defenitif dari lesi-
lesi mulut yang dicurigai.
Teknik biopsi memerlukan bagian dari lesi yang mewakili dan tepi jaringan
yang normal. Biopsi dapat dilakukan dengan cara insisional atau eksisional.
Biopsi insisional dipilih apabila lesi permukaan besar (lebih dari 1 cm) dan
biopsi eksisional yaitu insisi secara intoto dilakukan apabila lesi kecil.
2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan berariasi sesuai dengan sifat lesi, pilihan dokter dan pilihan
pasien. Bedah reseksi terapi radiasi, kemoterapi atau kombinasi terapi-terapi ini
mungkin efektif.
1. Kanker Bibir
Pada kanker bibir, lesi kecil biasanya dieksisi secara bebas; lesi yang lebih
besar dan melibatkan lebih dari sepertiga bibir mungkin lebih tepat diobati
dengan radiasi karena lebih mengutamakan hasil kosmetik. Pilihanya
tergantung pada luas lesi keterampilan ahli bedah atau radiologi dan
pengobatan terpilih sambil tetp mempertahankan penampilan terbaik pasien.
Untuk tumr yang lebih dari 4 cm terdapat laju kekambuhan tinggi
(Brunner,2011).
2. Kanker Lindah
Kanker lidah biasanya diatasi dengan agresif karena laju kekambuhan tinggi.
Untuk kanker margin lateral lidah, dua pengobatan mayor pilihan adalah
terapi radiasi dan bedah. Seringkali hemiglosektomi perlu dilakukan. Bila
kanker ada pada dasar lidah radiasi menjadi pengobatan primer. Kombinasi
implan insterstisial radioaktif dan radiasi sinar eksternal sendiri digunakan.
Eringkali kanker rongga mulut metastase ke saluran limfatik luas di bagian
leher, karenanya memerlukan diseksi leher dan kemungkinan bedah
rekonstruksi rongga oral. Teknik rekonstruksi intraoral yang umum
digunakan mencakup penggunaan flap bebas lengan radial (penggunaan
lapisan tipis kulitdari lengan bawah disertai dengan arteri radial)
(Brunner,2011).
Kemoterapi digunakan jika stadium luas dan sudah sampai metastase.
3. Diet
Nutrisi oral: nutrisi suplemen oral, makanan tinggi protein (keju, ikan,
unggas, daging, mentega, kacang, milk shake), rasa alternatif (vanilla),
makanan dingin, makanan sering dengan porsi kecil.
Nutrisi enteral: pemberian enteral bolus formula diberikan 250-450 mL,
selama beberapa menit, 5-8x setiap hari
TPN: pemberian glukosa, asam amino dan lemak. Kandungan glukosa dalam
bentuk dektrosa 50% , memberikan energi segera maupun energi jangka
panjang. Asam amino/protein diberikan dengan atau tanpa elektrolit dan
biasanya diprogramkan dalam konsentrasi 5,5% atau 8,5%. Lemak diberikan
dalam 10-20%
2.9 Pencegahan
1. Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
2. Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
3. Hindari minum minuman beralkohol
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
4. Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika berada
di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah. Pilihlah
produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya untuk
penggunaan sehari-hari.
5. Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
6. Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
7. Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
8. Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
9. Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan
kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah

2.10 Prognosa
Kanker yang berlokasi di daerah bibir bawah mempunyai prognosis yang baik, sebab
mudah terlihat dan dapat dikenali pada tahap awal. Kebalikannya kanker yang sulit
dilihat secara klinis dan sulit dalam pemeriksaan langsung atau mempunyai gejala yang
lambat mempunyai prognosis yang kurang baik. Contohnya kanker yang berada pada
dasar lidah atau dinding tonsil. Terjadi maupun tidak terjadinya metastase, derajat
diferensiasi, dan tingkatan diferensiasi menentukan prognosis dari kanker mulut. Kanker
yang berlokasi pada dasar mulut atau palatum lunak sering bermetastase secara bilateral
di daerah leher dan lebih sulit dalam perawatannya dibandingkan dengan kanker yang
berlokasi di depan dasar mulut, yang cenderung hanya bermetastase secara unilateral di
daerah leher. Karsinoma sel skuamosa pada bibir bawah mempunyai prognosis yang
paling baik dari seluruh kanker yang ada di dalam rongga mulut. Karsinoma yang berada
dipermukaan samping dari lidah mempunyai prognosis yang lebih baik dari pada yang
berlokasi pada permukaan belakang lidah. Pada intinya prognosis penderita karsinoma
rongga mulut tergantung dari beberapa faktor, yaitu ukuran kanker, daerah/lokasi dari
kanker primer, ada/tidaknya keterlibatan jaringan limfa, ada/tidaknya metastase jauh dari
kanker primer.
BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian

Pengkajian meliputi indentitas dan faktor predisposisi penyebab dan patogenesis


kanker mulut. Hal penting yang harus dikaji oleh perawat adalah sejak kapan pasien
mengetahui adanya elainan pada rongga mulut? Bagaimana bentuk keluhan tersebut?
Apakah berupa nyeri pada saat menelan atau disfagia? Apakah terdapat perubahan warna
mukosa rongga mulut (putih leukoplakia, kemerahan/ eritoplakia)? Adakah pembesaran
atau benjolan pada rongga mulut?

Perawat mengkaji gaya hidup dan kebiasaan (merokok dan alkohol), riwayat keluarga,
status sosioekonomi dan pekerjaan. Sambil melakukan anamnesis, perawat melihat
keadaan oral pasien, seperti bibir dan asimetri wajah. Perawat juga mengkaji faktor
psikologis yang merupakan dampaksekunder dengan kondisi kanker rongga mulut.
Apakah ada respon kecemasan, ketakutan, berduka atau keperluan pemenuhan informasi.

3.2 Pemeriksaan fisik


1. Periksa kondisi perubahan warna, apakah ukosa mulut berwarna abnormal,
misalnya putih, merah, atau hitam. Kebanyakan pasien kanker rongga mulut
memiliki riwayat lesi/ keadaan prakanker mulut sebelumnyaseperti leukoplakia,
eitroplakia, submukus fibrosis, dan lain-lain.
2. Inspeksi kondisi kontur, apakah permukaan mukosa kasar, ulserasi,asimetri, atau
pembengkakan. Seringkali awal dari keganasan ditandai oleh adanya ulkus.
Apabila terdapat ulkus yang tidak sembuh-sembuh dalam waktu 2 minggu, maka
keadaan ini sudah dapat dicurigai sebagai suatu keganasan. Tanda-tanda lain dari
ulkus proses keganasan meliputi ulkus yang tidak sakit, tepi bergulung, lebih
tinggi dari sekitarnya dan indurasi (lebih keras), dasarnya dapat berbintl-bintil dan
mengelupas. Pertumbuhan karsinomabentuk ulkus tersebut disebut sebagai
pertumbuhan endofitik.
3. Palpasi tentang konsistensi apakah jaringan keras, lunak, kenyal, fluktuan atau
nodular. Umumnya kanker tahap dini tidak menimbulkan gejala, diameter kurang
dari 2 cm, kebanyakan berwarna merah dengan atau tanpa disertai komponen
putih, licin, halus, dan memperlihatkan elevasi yang minimal.
4. Palpasi kondisi suhu lokal
5. Kaji kemampuan pasien apakah dapat membuka mulut dengan semputna
6. Periksa adanya keterlibatan dari pembesaran kelenjar limfe.
3.3 Diagnosa Keperawatan

Pre Operasi
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan jumlah sekret yang
berlebihan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan
kesulitan menelan.
3. Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cidera biologis: kanker rongga mulut.
4. Defisit pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi tentang kanker rongga
mulut.
5. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan
prognosis.
6. Gangguan konsep diri (gambaran diri) b/d perubahan estetika rongga mulut
Post operasi
1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
2. Nyeri akut berhubungan dengan tindakan pembedahan.
3.4 Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan jumlah sekret yang
berlebihan
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Setelah dilakukan intervensi 2 x 2 jam diharapkan bersihan jalan nafas klien bisa
efektif.
Dengan kriteria hasil:
1. Mempunyai jalan nafas yang paten
2.Mampu mengeluarkan sekresi secara efektif
3. Mempunyai irama dan frekuensi pernafasan dalam rentang yang normal
Intervensi (NIC)
Manajemen jalan napas

Mandiri:

1. Buka jalan nafas dengan teknik mengangkat dagu


2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3. Posisikan pasien untuk mengurangi dyspnea
4. Auskultasi buyi nafas
5. Monitor pernafasan dan status O2
6. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan

Kolaborasi:

Beri oksigen sesuai dengan indikasi dan melakukan suction (jika diperlukan)

2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan


kesulitan menelan
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24 jam diharapkan terjadinya
peningkatan status gizi.

Dengan kriteria hasil:

1. BB meningkat
2. Nafsu makan baik
3. Klien menghabiskan porsi makan yang diberikan oleh rumah sakit

Intervensi (NIC): Manajemen nutrisi

Mandiri:

1. Identifikasi penyebab ganguan nafsu makan


2. Kaji riwayat alergi makanan klien
3. Kaji makanan kesukaan klien
4. Timbang berat badan klien tiap hari
5. Be Berikan makanan sesuai dengan diet yang telah ditetapkan
6. Anjurkan klien makan makanan selagi hangat
7. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana
memenuhi nya

Kolaborasi:

1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat untuk mengatasi mual


muntah. (Ranitidine ( 150 mg ) 2x1 tab
2. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian makanan yang TKTP diet
rendah garam
3. Nyeri akut b.d agen cidera biologis :kanker rongga mulut

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)


Setelah dilakukan intervensi 2 x 4 jam diharapkan nyeri klien berkurang.

Dengan kriteria hasil :

1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik


nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

Intervensi (NIC) : Managemen nyeri

Mandiri :
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3. Kurangi faktor presipitasi nyeri
4. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
5. Ajarkan teknik distraksi nyeri.
Kolaborasi:
Kolaborasikan dengan dokter pemberian analgesik.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif

Setelah dilakukan intervensi 1 x 24 jam faktor risiko infeksi akan hilang

Dengan Kriteria Hasil:

1. Keadekuatan status imun pasien


2. Pengetahuan yang penting
3. Suhu badan klien normal
4. Tidak terjadi infeksi

Intervensi (NIC) : Pengendalian Infeksi

Mandiri :
1. Pantau tanda/gejala infeksi
2. Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi
3. Pantau hasil laboratorium
4. Amati praktik oral hygiene untuk pencegahan infeksi lanjut
5. Ajarkan klien teknik mencuci tangan yang efektif
6. Ajarkan klien / keluarga tentang tanda dan gejala infeksi

Kolaborasi:

Memberikan terapi antibiotik sesuai anjuran dokter.


BAB 4
TINJAUAN KASUS

KASUS :

Tn. R berusia 55 tahun mengeluh nyeri pada bagian lidah dan merambat keleher dan
rahang serta nyeri yang menyebabkan sulit menelan. Setelah dilakukan pemeriksaan, pada
lidah klien terdapat warna merah, dan ada pembengkakan pada area leher. Pada saat
berbicara, suara Tn. R terdengar agak kurang jelas, pada lidah Tn. R juga mengaku terdapat
luka seperti sariawan dan sudah 5 bulan tidak sembuh. . Klien tampak gelisah, meringis
kesakitan. Klien juga tampak malu pada saat berkomunikasi pada perawat. Tanda-tanda vital
klien N : 85 x/menit, S : 37,5 C, TD : 130/90 mmhg, RR : 20 x/menit. Klien juga
mengatakan, tidak nafsu makan. . Berat badan klien sebelum sakit 65 kg, Berat badan kien
saak sakit 57 kg.
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

A. Identitas klien

Nama : Tn. R
Umur : 55 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Bangsa / Suku : Melayu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Status Perkawinan : Sudah menikah
Alamat : Jalan jember, gang malang, kec. Menur

Riwayat kesehatan klien

1. Keluhan Utama
Sakit pada tenggorokan, sulit untuk menelan
2. Kesehatan masa lalu
Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami penyakit ca lidah, hanya
mengalami sariawan yang cukup lama.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Klien datang ke Rumah Sakit dengan keluhan ada luka yang seperti sariawan dan sudah 5
bulan tidak sembuh,. nyeri pada bagian lidah dan merambat kelehar, rahang dan telinga
serta nyeri menelan yang menyebabkan sulit menelan. Klien tampak gelisah dan meringis
kesakitan.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan kakeknya pernah mengalami penyakit yang sama 6 tahun yang lalu,
dan sudah meninggal.

B. Pemeriksaan fisik
1. Antopometri
BB sebelum sakit : 65 kg
BB setelah sakit : 57 kg
TB : 180 cm
2. ROS (Review of System)
B1 (Breathing)
RR : 20x/menit. Palpasi thoraks didapatkan taktil fremitus seimbang kanan dan
kiri.Auskultasi didapatkan bunyi napas tambahan yaitu stridor.
B2 (Blood)
TD : 130/90 mmHg, N: 85x/menit, Suhu: 37,5 C
B3 (Brain)
Kesadaran klien compos mentis.
B4 (Bladder)
Pengkajian pada klien didapatkan tidak ada kelainan
B5 (Bowel)
Nyeri pada lidah dan menjalar ke leher dan rahang, nyeri juga terasa saat menelan, nafsu
makan menurun, pada lidah terdapat warna merah. Pada saat berbicara, pada lidah
terdapat luka seperti sariawan 5 bulan belum sembuh.
B6 (Bone)
Klien lemah, malaise
3. Pemeriksaan fokus rongga mulut : pada inspeksi mulut terlihat sebuah limfa nodus pada
kelenjar submandibular sangat terasa di sisi kiri, berukuran 4 cm, yang lunak dan
konsistensi terasa keras. Pada pemeriksaan intraoral, lesi ulcero-proliferasi tampak jelas
pada mandibula kiri, berukuran sekitar 4 5 cm. Berbentuk tidak teratur dan meluas ke
dasar mulut. Pusat lesi terdiri dari rawa keputihan-kuning. Lesi lembut pada palpasi
dengan basis indurasi, di samping itu, ada tanda seperti kawah akibat adanya ulkus pada
perbatasan vermilion kiri bibir
4. Pemeriksaan penunjang : klien dilakukan pemeriksaan insisi biopsi untuk menegakkan
diagnosis secara histopatologi, tampak sel skuamosa karsin
C. Struktur genogram/keluarga

Ket :

: Laki - laki

: Perempuan

: Pernah mengalami penyakit yg sama

: Orang yang sakit

: Garis keluarga

Penjelasan : pasien adalah anak kedua dari 3 bersaudara, pasien memiliki seorang istri dan 3
orang anak, ibu sebelumnya pernah mengalami penyakit yg sama

2. Diagnosa Keperawatan

1) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan


kesulitan menelan.
2) Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cidera biologis: kanker rongga mulut.
3) Defisit pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi tentang kanker rongga
mulut.
4) Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan
prognosis.
3. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Aktivitas


Keperawatan Hasil (NOC) (NIC)
1 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Manajemen Mandiri:
nutrisi: kurang dari intervensi nutrisi 1.Identifikasi penyebab ganguan
kebutuhan yang keperawatan selama nafsu makan
berhubungan 2x24 jam diharapkan 2.Kaji riwayat alergi makanan
dengan kesulitan terjadinya klien
menelan peningkatan status 3.Kaji makanan kesukaan klien
gizi. 4.Timbang berat badan klien tiap
Dengan kriteria hasil: hari
1. BB meningkat 5.Berikan makanan sesuai
2. Nafsu makan baik dengan diet yang telah
3.Klien menghabiskan ditetapkan
porsi makan yang 6.Anjurkan klien makan
diberikan oleh rumah makanan selagi hangat
sakit 7.Berikan informasi yang tepat
tentang kebutuhan nutrisi dan
bagaimana memenuhi nya

Kolaborasi:
1.Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat untuk
mengatasi mual muntah.
(Ranitidine ( 150 mg ) 2x1 tab
2.Kolaborasi dengan ahli gizi
dalam pemberian makanan
yang TKTP diet rendah garam
2 Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan Manajemen Mandiri :
cidera biologis intervensi 2 x 4 jam nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri
:kanker rongga diharapkan nyeri klien secara komprehensif termasuk
mulut berkurang. lokasi, karakteristik, durasi,
Dengan kriteria hasil : frekuensi, kualitas dan faktor
1. Mampu presipitasi
mengontrol nyeri 2. Observasi reaksi nonverbal
(tahu penyebab nyeri, dari ketidaknyamanan
mampu menggunakan 3. Kurangi faktor presipitasi
tehnik nyeri
nonfarmakologi untuk 4. Pilih dan lakukan
mengurangi nyeri, penanganan nyeri (farmakologi,
mencari bantuan) non farmakologi dan inter
2. Melaporkan personal)
bahwa nyeri 5. Ajarkan teknik distraksi
berkurang dengan nyeri.
menggunakan
manajemen nyeri Kolaborasi:
Kolaborasikan dengan dokter
pemberian analgesik.
3 Ansietas yang Setelah dilakukan Peningkata Mandiri :
berhubungan intervensi 2 x 24 jam n koping 1. kaji dan dokumentasi tingkat
dengan kurang menunjukan kecemasan pasien
pengetahuan pengendalian diri 2. kaji bersama pasien tentang
tentang penyakit terhadap ansietas teknik yang berhasil dan tidak
dan prognosis Dengan Kriteria Hasil: berhasil untuk menangani
1.Meneruskan aktivitas ansietas di masa lalu
yang dibutuhakn 3. beri dorongan kepada pasien
meskipun mengalami untuk mengungkapkan secara
kecemasan verbal pikiran dan perasaan
2.Menunjukkan untuk mengkesternalisasi
kemampuan untuk asnsietas
berfokus pada 4. coba teknik, seperti imajinasi
pengetahuan dan terbimbing dan relaksasi
keterampilan yang bar progresif
3.Mengidentifikasi 5. dorong pasien untuk
gejala yang mengekspresikan kemarahan
merupakan indicator iritasi, serta izinkan pasien untuk
ansietas pasien sendiri menangis
4.Mengkomunikasikan
kebutuhan dan Kolaborasi :
perasaan negative 1. Penurunan ansietas (NIC) :
secara tepat Berikan obat untuk
5.Memiliki tanda-tanda menurunkan ansietas, bila
vital dalam batas perlu
normal
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. EGC. Jakarta
Daftari D.K.et.al.1992. Oral Squamus Cell Carsinoma, S.R. Oral Disease in the
Tropics. Oxford Medical Publication. New York.
Ester, Monica. 2002. Keperawatan Medikal Bedah ; Pendekatan Sistem
Gastrointestinal. EGC.Jakarta.
Hasibuan, Sayuti. 2004. Prosedur Deteksi Dini dan Diagnosis Kanker Rongga Mulut.
Bagian ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera
Utara.
Hilary, Southern. 2007. Oral Care in Cancer Nursing : Nurses Knowlegde and
Education. Journal of Advanced Nursing.
Mutaqqin. Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Salemba Medika. Jakarta
Osterkamp R.W dan Whitten J.B. 2009. The Etiology and Pathogenesis of Oral
Cancer. Amerika
Pinborg, J.J. 1991. Kanker dan Prakanker Rongga Mulut, alih bahasa drg.Lilian
Yuwono.Ed.ke-1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Sarjadi. 1999. Patologi umum & Sistematik. Vol 2. Edisi 2.EGC. Jakarta
Sciubba, J.J. 2012. Improving Detection of Precancerous and Cancerous Oral lesions.
JADA
Scully, C. 1992. Oncogen, Onco-Supressor, Carcinogenesis and Oral Cancer. British
Dental Journal.
Tambunan, G. W. 1993. Diagnosis dan Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak
di Indonesia. EGC. Jakarta.
WOC

Faktor host meliputi usia,


jenis kelamin, nutrisi,
imunologi dan genetic
Peningkatan proliferasi sel, neovaskularisasi,
pertumbuhan jaringan, pembengkakan pada mukosa
Multifaktor predisposis keganasan pada rongga mulut, rongga mulut
meliputi : radiasi ion pada terapi radiasi, paparan
radiasimatahari secara kronis, merokok, pengguna alkohol
kronis, agen infeksi malnutrisi, avitaminosis dan perawatan
mulut kurang, radiasi elektromagnetik

Kanker rongga mulut

Ekspansi tumor Tindakan kemoterapi, Peningkatan Ketidakefektifan Perubahan


yang cepat dan radiografi dan metabolisme, dalam estetika
penekanan pada pembedahan gangguan melakukan rongga mulut
saraf perifer gastrointestinal, hygiene oral
destruksi eritrosit

Respon psikologis

Peningkatan kebutuhan MK :Gangguan


Trakeostomi energi, anoreksia, mual, membran
MK : Nyeri pascabedah MK : Ggangguan
muntah dan anemia mukosa oral
konsep diri() Citra
tubuh

MK : MK : Kurang
MK : Gangguan Ketidakseimbangan pengetahuan dan
Akumulasi sekret,
komunikasi verbal nutrisi kurang dari informasi
batuk tidak efektif
kebutuhan

MK :Resiko jalan nafas


tidak efektif