Anda di halaman 1dari 15

Uji Banding Laboratorium Berdasarkan SNI ISO/IEC 17043:

2010 & ISO/IEC 13528: 2005


Ditulis Oleh : cak war | Anwar Hadi

1. Pendahuluan
Kompetensi laboratorium dapat dibuktikan dengan penerapan
pengendalian mutu internal yang baik dan benar serta implementasi
jaminan mutu diantaranya dengan keikutsertaan dalam program uji
profisiensi atau uji banding antar laboratorium yang penyelenggraannya
berdasarkan prinsip-prinsip ISO/IEC 17043: 2010 Conformity
Assessment - General Requirements for Proficiency
Testing dan ISO 13528: 2005 Statistical Methods for Use in
Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons

Dengan mempertimbangkan hal tersebut diatas, laboratorium yang


sedang mengajukan akreditasi berdasarkan SNI ISO/IEC 17025: 2008
mengadakan uji banding antar laboratorium. Hal ini dikarenakan bagian
dari persyaratan SNI ISO/IEC 17025: 2008 dan kebijakan Komite
Akreditasi Nasional (KAN).

2. Tujuan
Uji banding antar laboratorium bertujuan untuk:
1) bagi laboratorium yang mengajukan akreditasi, hal ini sebagai salah satu
pemenuhan persyaratan akreditasi laboratorium sesuai SNI ISO/IEC
17025: 2008;
2) bagi laboratorium peserta, hasil evaluasi unjuk kerja dapat digunakan
sebagai dasar mempertahankan status akreditasi laboratorium sesuai SNI
ISO/IEC 17025: 2008 pada saat survailen atau reakreditasi.

3. Penyelenggara uji banding antar laboratorium


Program uji banding antar laboratorium diselenggarakan oleh
laboratorium yang memahami ISO/IEC 17043 dan ISO 13528.
Penyelengaraan uji banding antar laboratorium meliputi antara lain,
pemilihan peserta uji banding antar laboratorium, distribusi bahan uji,
dan evaluasi statistik.

4. Bahan uji banding antar laboratorium


Bahan uji banding antar laboratorium merupakan air demineralisasi yang
diperkaya analit dengan kadar tertentu. Sebelum didistribusikan kepada
laboratorium peserta, homogenitas dilakukan terhadap bahan uji banding
antar laboratorium untuk menjamin bahwa bahan uji yang diterima setiap
laboratorium peserta telah homogen. Adapun parameter kualitas air
dalam program uji banding antar laboratorium, adalah:
5. Instruksi untuk peserta
Jika laboratorium peserta berpartisipasi dalam program uji banding antar laboratorium untuk 4 parameter
kualitas air sebagaimana dalam Tabel 1, maka penyelenggara uji banding antar laboratorium menyediakan 3
botol polypropylene (PP) yang berisi masing-masing sekitar 100 mLlarutan dengan kandungan analit:
1) logam berat Cu;
2) NO2-N dan Cl-; serta
3) pH.

Bila laboratorium peserta menerima bahan uji maka segera mungkin periksa dan rekam kondisi bahan uji,
kemasan dan botol serta simpan pada suhu ruang (< 250C) sampai waktu pengujian dilakukan. Bahan uji yang
diterima tidak perlu ditambahkan bahan pengawet dan waktu pengujian dilakukan pada tanggal 22 - 29 Januari
2014 dengan menggunakan metode pengujian yang rutin digunakan oleh laboratorium peserta. Pengulangan
pengujian bahan uji profisiensi dapat dilakukan secara duplo atau triplo, namun laboratorium peserta tetap
melaporkan rerata hasil pengujian kepada penyelenggara uji banding antar laboratorium.

Pengujian logam Cu dilakukan sebagai logam terlarut, sehingga tanpa


dilakukan penyaringan. Sedangkan untuk pengujian parameter pH diukur
langsung pada suhu larutan 250C 20C dengan menggunakan pH meter
yang telah dikalibrasi dan/atau dilakukan uji kinerja.

Pengujian parameter NO2N dan Cl- dilakukan pengenceran masing-masing


5x. Jika hasil uji setelah pengenceran 5x lebih tinggi dari kisaran metode
yang digunakan laboratorium, maka lakukan pengenceran lebih lanjut,
namun laporan disampaikan tetap pada kadar setelah pengenceran 5X.

6. Pelaporan hasil uji banding antar laboratorium


Peserta uji banding antar laboratorium harus melaporkan rerata hasil
pengujian setelah pengenceran 5x dengan satuan mg/L untuk
parameter NO2-N dan Cl- sedangkan pH dan Cu tanpa pengenceran.
Sehubungan dengan hal tersebut, laboratorium peserta harus melakukan
verifikasi dan validasi data hasil pengujian sebelum mengirimkan ke pihak
penyelenggara ujibanding antar laboratorium. Hasil uji banding antar
laboratoriumdilaporkan ke penyelenggara paling lambat tanggal 30
Januari 2014 melalui email.

Untuk memudahkan dalam proses evaluasi statistik, maka laboratorium


peserta harus melaporkan hasil dalam dua angka penting (misal x,x;
0,xx; atau 0,x0) dan sangat direkomendasikan bahwa laboratorium
peserta juga menyertakanketidakpastian diperluas dengan faktor
cakupan k = 2 dengan tingkat kepercayaan 95%. Sumber-sumber
ketidakpastian dapat berasal dari alat gelas, timbangan, kondisi
akomodasi dan lingkungan pengujian, linearitas kurva kalibrasi,
repitabilitas, %R dan lain sebagainya sebagaimana dijelaskan
dalam ISO/IEC 98-3 Guide to the Expression of Uncertainty in
Measurement.

7. Evaluasi kinerja peserta


Unjuk kerja laboratorium peserta dievaluasi menggunakan Zscoredengan
rumus:

Evaluasi unjuk kerja laboratorium peserta memiliki kategori:


1) |Zscore| 2 : memuaskan
2) 2 < |Zscore| <3 : peringatan
3) |Zscore| 3 : tidak memuaskan

Sebelum evaluasi Zscore ditetapkan, pihak penyelenggara melakukan


evaluasi teknis terhadap data ekstrem hasil laboratorium peserta yang
disebakan kesalahan mutlak, misalnya, salah satuan, salah desimal, atau
data yang memenuhi kriteria diluar batas (outlier) yaitu suatu data yang
tampak tidak konsisten dengan pengamatan lain dalam kelompok
populasi tersebut.

Dengan mempertimbangkan nilai kadar dan ketidakpastian bahan uji


profisiensi, maka batas keberterimaan outlier ditetapkan oleh
penyelenggara adalah %R = 100% 50% dari nilai outlier, dimana:

8. Laporan
Pihak penyelenggara menerbitkan laporan PROGRAM UJI BANDING
ANTAR LABORATORIUM melalui email kepada seluruh laboratorium
peserta. Sehubungan dengan hal tersebut, laboratorium peserta harus
memberikan alamat email kepada pihak penyelenggara. Evaluasi statistik
uji profisiensi untukmasing-masing parameter Cu, NO2-N, Cl, dan pH,
adalah sebagai berikut:

8.1 Tembaga (Cu)


Uji profisiensi parameter tembaga (Cu) diikuti oleh 9 laboratorium dengan
rincian 1 laboratorium pemerintah dan 8 laboratorium swasta yang telah
diakreditasi, dengan evaluasi sebagai berikut:

8.2 Nitrit (NO2-N)


Uji profisiensi parameter tembaga (NO2-N) diikuti oleh 10 laboratorium
dengan rincian 1 laboratorium pemerintah, 1 laboratorium BUMD dan 8
laboratorium swasta yang telah diakreditasi, dengan evaluasi sebagai
berikut:
8.3 Khlorida (Cl)
Uji profisiensi parameter khlorida (Cl) diikuti oleh 9 laboratorium dengan
rincian 1 laboratorium BUMD dan 8 laboratorium swasta yang telah
diakreditasi, dengan evaluasi sebagai berikut:

8.4 Derajat Keasaman (pH)


Uji profisiensi parameter derajat keasaman (pH) diikuti oleh 9
laboratorium dengan rincian 1 laboratorium pemerintah, 1 laboratorium
BUMD dan 7 laboratorium swasta yang telah diakreditasi, dengan evaluasi
sebagai berikut:

9. Kerahasiaan
Semua informasi yang diberikan oleh peserta kepada penyelenggara
uji banding antar laboratorium diperlakukan sebagai hal yang bersifat
rahasia, karena itu LAPORAN PROGRAM Uji BANDING ANTAR
LABORATORIUM tidak mencantumkan identitas lengkap laboratorium
peserta namun hanya berupa kode. Kode laboratorium peserta hanya
diketahui oleh pihak penyelenggara dengan personil yang berwenang
(authorized person) atau personil penghubung (contact person) dari
laboratorium peserta. Bila dipandang perlu untuk tujuan diskusi dan
kerjasama saling menguntungkan, misalnya, untuk meningkatkan unjuk
kerja laboratorium peserta atau proses akreditasi sesuai ISO/IEC 17025,
maka laboratorium peserta dapat melepaskan kerahasiaannya dengan
menyampaikan hasil uji banding antar laboratorium kepada pihak lain
yang berkepentingan.

10. Jadual program uji banding antar laboratorium


Berikut ini jadual Program Uji banding antar laboratorium:

Jadual Kegiatan
13 17 Januari 2014 Pendaftaran peserta
15 17 Januari 2014 Pembuatan bahan uji
20 21 Januari 2014 Distribusi bahan uji
27 30 Januari 2014 Laporan hasil peserta ke penyelenggara
Laporan program uji banding disampaikan ke laboratorium
10 Februari 2014 peserta

11. Referensi
1) ISO/IEC 17043: 2008 Conformity assessment General requirements
for proficiency testing;
2) ISO 13528: 2005 Statistical methods for use in proficiency testing by
interlaboratory comparisons
3) ISO/IEC Guide 98-3: 2008 Uncertainty of measurement Part 3: Guide
to the expression of uncertainty in measurement
4) The International Harmonized Protocol for the Proficiency Testing of
Analytical Chemistry Laboratories (IUPAC Technical Report) Prepared For
Publication By Michael Thompson, Stephen L. R. Ellison, Pure Appl.
Chem., Vol. 78, No. 1, pp. 145196, 2006. 2006 IUPAC
Analisa uji profisiensi Bagian I (Penentuan
assigned value simplified)
Februari 17, 2010
Penentuan assigned value

Assigned value (AV) pengertian mudahnya adalah nilai yang dihubungkan dengan suatu

kuantitas yang sedang diukur. Pengertian ilmiah-nya tanya Mas Donny ya soale
susah dan membuat mumet. Assigned value ini mempunyai nilai ketidakpastian yang cukup
kecil sesuai dengan tujuan pengunaannya.

Dalam uji profisiensi, idealnya hasil uji oleh laboratorium peserta dibandingkan dengan nilai
benar (true value), sayangnya nilai benar umumnya tidak ada karena meskipun benar mesti
mengandung ketidakpastian juga kan? Meskipun demikian suatu nilai harus ditentukan
sebagai pedoman atau standar untuk membandingkan ini. Nilai ini sedapat mungkin harus
dapat diasumsikan yang paling mendekati dengan true value.

Penghitungan assigned value dapat dilakukan dengan berbagai cara yang akan saya coba
uraikan dibawah menurut ISO/IEC 17043 misal dengan mengitung robust mean hasil
pengujian laboratorium peserta atau assigned value dari laboratorium acuan dengan
kelebihan dan kelemahan masing-masing. Misal jika assigned value ditentukan dengan
menghitung mean dari hasil uji, jika hasil uji peserta mengandung bias yang mengarah pada
suatu kecenderungan tertentu, misal bias yang disebabkan oleh zat yang mudah menguap,
maka assigned value yang ditentukan dari mean ini mengandung bias yang dapat
menyebabkan laboratorium yang sebenarnya mempunyai hasil yang akurat akan justru
menjadi outlier.
Cara lain, jika ada, masih mungkin dilakukan untuk menentukan assined value ini, tetapi
lima cara pada ISO/IEC 17043 adalah cara yang paling umum digunakan dalam uji
profisiensi.

Assigned value ditentukan dengan 5 cara menurut ISO/IEC 17043 yaitu dengan
penggunaan:

a. nilai yang telah diketahui merupakan hasil dari formulasi;


Bahan uji disiapkan dengan mencampurkan constituents dalam jumlah tertentu atau dengan
penambahkan constituent dalam jumlah tertentu pada bahan dasar. Dalam hal ini assigned
valuediturunkan dari perhitungan massa yang ditambahkan/dicampurkan. Pendekatan ini
sangat bermanfaat jika sample disiapkan secara individu dan oleh karenanya tidak
diperlukan uji homogenitas.

Ux (standard uncertainty) dihitung dari formulasi bahan uji (sesuai dengan pendekatan ISO
GUM Guide to the expression of uncerttainty in measurment.

b. nilai acuan bersertifikat ditentukan dengan metode definitive;


Assigned value ditentukan dari nilai acuan sertifikatnya begitu pula dengan Ux. Ux
ditentukan dari informasi ketidakpastian pada sertifikat.
c. nilai acuan ditentukan dengan analisis, pengukuran atau pembandingan sample uji
terhadap bahan atau standar acuan yang tertelusur ke standar nasional atau internasional;
Dalam hal ini reference material digunakan sebagai bahan uji profisiensi. Assigned
valuediturunkan dari kalibrasi terhadap certified reference values.

Ux ditentukan dari hasil uji dan ketidakpatian CRM. Metode ini memungkinkan assigned
valueyang ditentukan tertelusur ke CRM.

d. nilai konsensus dari expert laboratories;


Dengan pendekatan nilai acuan (c), bahan uji diambil secara acak dan dianalisa oleh
sekelompok expert labs. Expert labs mungkin perserta uji profisiensi juga jika assigned
value dan Ux akan ditentukan setelah putaran uji profisiensi selesai. Kadang-
kadang assigned value ditentukan dari hasil uji homogenitas, dengan kata lain sambil
menentukan homogenitas, assigned value dari expert labs juga dapat. Tentu saja hal ini

bertujuan untuk penghematan sambil menyelam minum air, mabok dong .

Assigned value dihitung dengan robust average dari hasil yang dilaporkan oleh expert
labs. Robust average dihitung dengan mengunakan Algorithma A pada Annex C ISO 13528.
(Nanti jika ada kesempatan saya tuliskan procedure Algoritma A)

Ux dihitung dengan persamaan

Jika expert labs tidak melaporkan ketidakpastian standar (Ux) atau ketidakpstian tidak
divalidasi secara independen, Ux assigned value dihitung separti menghitung Ux dengan
nilai konsensus.

e. nilai konsensus dari peserta.


Jika pendekatan ini yang diambil, assigned value ditentukan dari robust average seluruh
hasil yang dilaporkan pesert uji profisiensi yang diitung dengan Algoritma A pada Annex C
ISO 13528.
Perhitungan robust lain dapat digunakan untuk mengantikan Algoritma A asalkan metode
tersebut valid secara statistik dan dilaporkan pada laporan uji profisiensi.

Ux ditentukan dengan persamaan

dengan s* adalah robust standar deviation dan p adalah jumlah peserta.

Umumnya, tiga assigned value pertama ditentukan sebelum PT berlangsung dan dua
assigned value terakhir ditentukan setelah PT berlangsung.

Pedoman untuk membatasi assigned value

Hal yang perlu diperhatikan adalah kriteria keberterimaan dari Ux dari semua pendekatan
assigned value yang digunakan. Dengan kata lain, Ux harus dikontrol pada semua
pendekatan assigned value.

Kriteria batasan ketidakpastian assigned value (ISO 13528)

Ux <= 0,3 SD*

Deviasi standar uji profisiensi (SD* SD robust) digunakan untuk memperkirakan bias
laboratorium yang terdapat pada suatu uji profisiensi. Jika Ux assigned value terlalu besar
dibandingkan dengan deviasi standar uji profisiensi maka ada kemungkinan suatu/beberapa
laboratorium menerima tanda diperingatkan atau tanda "action" (outlier) yang disebabkan
oleh ketidakakurasian dalam menentukan assigned value bukan disebabkan oleh sebab yang
berasal dari laboratorium itu sendiri. Untuk alasan ini maka Ux assigned value seharusnya
dilaporkan pada laporan uji profisiensi.

Ux digunakan sebagai kriteria keberterimaan apakah assigned value tersebut dapat dipakai
sebagai assigned value uji profisiensi atau tidak, misal Ux assigned value dari nilai
konsensus lebih besar dari 0,3 SD* maka penyelenggara uji profisiensi harus
mempertimbangkan untuk:
1. mencari metode lain untuk menentukan assigned value (assigned value dari expert labs
dll)
2. menggunakan Ux assigned value dalam interpretasi hasil uji profisiensi (menggunakan En
atau z' score).
3. menginformasikan kepada peserta bahwa ketidakpastian assigned value tidak dapat
diabaikan.
Posted by sugengcorner

Filed in uji profisiensi Tag: ISO/IEC 17043, ISO/IEC Guide 43-1, IUPAC, IUPAC
protocol, statistik, statistik uji profisiensi, uji profisiensi

Leave a Comment

Analisa uji profisiensi Pendahuluan


Februari 16, 2010
Setelah kita berkenalan dengan uji profisiensi, sekarang kita akan berkenalan dengan
analisa hasil uji profisiensi sehingga kita mempunyai gambaran bagaimana analisa itu
dibuat.

Setelah laboratorium melakukan pengujian/pengukuran sesuai dengan instruksi


kerja/petunjuk peserta (kadang-kadang disebt juga sebagai protokol uji profisiensi) dan data
hasil uji profisiensi telah terkumpul pada penyelenggara, maka penyelenggara uji profisiensi
akan melakukan analisa hasil uji profisiensi. Kita akan coba untuk membahas analisa ini satu
persatu pada beberapa tulisan berikutnya dengan referensi utama ISO Guide 43-1 (ISO/IEC
17043 in the future), ISO 13528 : Statistical Methods for use in Proficiency Testing by
Interlaboratory Comparisons dan IUPAC Harmonized Protocol for PT of Chemical Analytical
Laboratories 2006 yang tersedia secara bebas
di sini (http://www.iupac.org/publications/pac/2006/pdf/78010145.pdf). Tentu saja
informasi lebih detil silakan membaca sumber pustaka tersebut.

Ada tiga langkah utama untuk melakukan evaluasi uji profisiensi, yaitu:
1. penentuan assigned value;
2. perhitungan unjuk kerja statistik;
3. evaluasi unjuk kerja;
dan untuk skema uji profisiensi tertentu ditambah
4. penentuan uji homogenitas dan stabilitas.

Hal penting yang perlu dicatat adalah, untuk menganalisa uji profisiensi tidak terbatas pada
statistik yang tertera pada standar-standar diatas, prosedur statistik apapun dapat
digunakan untuk menganalisa hasil uji profisiensi asalkan prosedur tersebut secara
statistik valid(statistically valid) dan diterangkan secara gamblang kepada peserta uji
profisiensi. ISO/IEC 17043 mengamanatkan untuk mendokumentasikan statistical
design dan metode analisa data untuk menentukan assigned value dan mengevaluasi hasil
peserta serta membuktikan bahwa asumsi statistik tersebut masuk akal.

Design statistik tersebut juga harus benar-benar memperhatikan hal berikut:


the accuracy and measurement uncertainty required or expected;
the minimum number of participants;
number of significant figures and decimal places;
number of proficiency test items and repeat tests;
procedures to establish evaluation criteria;
procedures to be used to handle outliers;
procedures for the evaluation of excluded values;
the objectives to be met for the design and frequency of proficiency testing rounds.
(ISO/IEC 17043: 4.4.4.3)
Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah fit for its purpose.

Posted by sugengcorner

Filed in uji profisiensi Tag: ISO/IEC 17043, IUPAC Harmonized Protocol for PT of Chemical Analytical
Laboratories, uji profisiensi

Leave a Comment

Skema uji profisiensi


Februari 14, 2010
Ada beberapa jenis uji profisiensi yang tergantung dari jenis pengujian, metode pengujian
yang digunakan dan jumlah laboratorium yang ikut dalam suatu uji profisiensi. Jenis uji
profisiensi tersebut biasa disebut dengan skema uji profisiensi. Dalam tulisan ini saya
mencoba untuk share skema uji profisiensi dalam bahasa yang sederhana.

Menurut ISO Guide 43-1, skema yang umum digunakan dalam uji profisiensi adalah:

1. Skema uji banding pengukuran (measurement comparison)


Skema uji banding pengukuran biasanya menggunakan alat uji/ukur yang dikelilingkan dari
satu laboratorium peserta ke laboratorium peserta lainnya. Skema ini dapat diikuti oleh
sedikit laboratorium karena pada skema ini biasanya menggunakan assign value yang
dikeluarkan oleh reference laboratory. Reference laboratory mungkin adalah Lembaga
Metrologi Nasional.

Pengertian assign value kira-kira adalah nilai yang ditetapkan pada kuantitas tertentu dan
diterima (kadang secara konsensus) dengan ketidakpastian yang sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
Dalam uji banding pengukuran, laboratorium secara individu dibandingkan terhadap nilai
acuan yang ditetapkan oleh reference laboratory.

Skema uji profisiensi ini umum digunakan dalam uji profisiensi laboratorium kalibrasi.

2. Skema uji (banding) antar laboratorium (interlaboratory testing)


Skema ini menggunakan sub-sample dari bahan uji yang didistribusikan secara bersamaan
kepada peserta uji profisiensi untuk dilakukan pengujian secara bersama-sama.
Hasil pengujian dikirimkan kepada penyekenggara untuk dibandingkan dengan assign value
sehingga didapat gambaran unjuk kerja laboratorium secara individual dan secara
keseluruhan.

Homogenitas bahan uji sangat diperhatikan dalam skema ini sehingga data hasil uji tidak
banyak dipengaruhi oleh variabilitas yang bersumber dari bahan uji.

Skema ini umum digunakan pada uji profisiensi laboratorium penguji.

3. Skema pengujian split sample


Umumnya skema ini melibatkan kelompok kecil laboratorium yang akan dievaluasi sebagai
pemasok potensial dari jasa pengujian.
Dalam transaksi perdagangan, skema ini dilakukan dengan membagi sample untuk
laboratorium yang mewakili pemasok dan laboratorium yang mewakili pembeli. Disamping
kedua sample yang dibagi tersebut, biasanya ada sample tambahan yang disimpan untuk
diuji pada laboratorium pihak ketiga jika terdapat perbedaan signifikan antara hasil uji
laboratorium pihak pemasok dan laboratorium pihak pembeli.

Skema ini berbeda dengan interlaboratory testing sebab skema ini hanya melibatkan
laboratorium yang sangat terbatas.

4. Skema kualitatif
Evaluasi unjuk kerja laboratorium tidak harus selalu dengan metode kuantitatif
(membandingkan hasil uji), tetapi dapat juga dengan metode kualitatif misal menilai unjuk
kerja dalam mengidentifikasi suatu jenis entitas tertentu misal organisme patogen, jenis
cacat bahan, penyakit, bakteri dan lain sebagainya. Skema ini tidak perlu melibatkan banyak
laboratorium atau uji (banding) antar laboratorium unjuk menilai unjuk kerja laboratorium.

5. Skema dengan nilai yang telah diketahui (known value)


Jenis uji profisiensi khusus lain adalah pengujian sample dengan parameter uji yang diukur
telah diketahui nilainya. Hal ini memungkinkan untuk mengevaluasi unjuk kerja laboratorium
secara individual yang dibandingkan dengan assign value. Skema ini tidak memerlukan
laboratorium peserta dalam jumlah yang banyak.

6. Skema sebagian proses (partial-process)


Skema ini menilai unjuk kerja laboratorium untuk melakukan sebagian proses saja dari
keseluruhan proses pengujilan atau pengukuran. Misal skema ini meminta laboratorium
untuk mentransformasi data pengujian kedalam laporan uji atau meminta laboratorium
untuk melakukan penyiapan contoh sesuai dengan spesifikasi tertentu.

Posted by sugengcorner

Filed in uji profisiensi Tag: 17043, interlaboratory comparison, skema, split sample, uji profisiensi

7 Comments

Uji Profisiensi Kenalan (aja)


Januari 22, 2010
Dalam keseharian mungkin kita sering mendengar mengenai uji profisiensi (proficiency test)
bahasa inggris atau bahasa asing lainnya atau juga uji profisiensi untuk masuk ke sekolah
tertentu atau uji profisiensi untuk pengujian atau pengukuran tertentu. Uji profisiensi yang
saya sebutkan terakhir memang tidak sepopuler uji profisiensi bahasa karena memang cuma
dibicarakan untuk komunitas tertentu yaitu komunitas laboratorium. Nah untuk kesempatan
ini saya akan mengajak untuk berkenalan dengan uji profisiensi laboratorium.

Menurut ISO 43 part 1 1997, uji profisiensi (laboratorium) adalah penentuan unjuk kerja
laboratorium dengan cara uji banding antar laboratorium (interlaboratory comparisons).

Dalam komunitas laboratorium mungkin uji profisiensi ini dikenal dengan nama yang
bermacam-masam, misal komunitas laboratorium medik, uji profisiensi disebut
dengan program pemantapan mutu eksternal tetapi esensinya sama.

Uji profisiensi ada banyak jenisnya (skemanya), seperti yang diuraikan dalam ISO/IEC Guide
43. Penyelenggara uji profisiensi (provider) harus memilih skema yang paling cocok untuk
penyelenggaraan uji profisiensi, karena perilaku dan perlakuan bahan uji profisiensi dapat
berbeda-beda yang membutuhkan skema yang berbeda pula.

Mengapa uji profisiensi diperlukan?

Alasan utama dari uji profisiensi adalah untuk memastikan mutu pengujian. ISO/IEC 17025
point 5.9 bilang:
5.9.1 The laboratory shall have quality control procedures for monitoring the validity of tests
and calibrations undertaken. The resulting data shall be recorded in such a way that trends
are detectable and, where practicable, statistical techniques shall be applied to the
reviewing of the results. This monitoring shall be planned and reviewed and may include,
but not limited to, the following:
a. regular use of certified reference materials and/or internal quality control using secondary
reference materials;
b. participation in interlaboratory comparison or proficiency testing programs;
c. replicate tests or calibrations using the same or different methods;
d. retesting or recalibration of retained items;
e. correlation of results for different characteristics of an item.
Note: The selected methods should be appropriate for the type and volume of the work
undertaken.

Jadi jelas bahwa uji profisiensi adalah salah satu cara untuk melakukan monitoring terhadap
validitas hasil pengujian. Namun demikian penyelenggaraan uji profisiensi tidak hanya dapat
ditujukan untuk monitoring validitas hasil uji saja, penyelenggaraan uji profisiensi dapat pula
digunakan untuk tujuan collaborative study, untuk melihat karakteristik metode dan lain
sebagainya.

Uji profisiensi digunakan sebagai alat untuk membandingkan hasil pengujian yang
dilakukannya terhadap hasil pengujian yang sama yang dilakukan oleh laboratorium lain.
Data-data hasil pengujian dari peserta uji profisiensi ini akan dilakukan analisa data dengan
menggunakan teknik statistik tertentu, biasanya dengan robust statistik, untuk melihat
unjuk kerja laboratorium dibandingkan dengan nilai tertentu (assign value) yang dapat
diperoleh dari nilai konsensus antar laboratorium, nilai dari expert laboratory, nilai dari nilai
acuan (reference value), dari nilai certified reference value dan nilai dari hasil formulasi
(lihat ISO 13528).

Jadi pada intinya uji profisiensi adalah untuk melihat kompetensi laboratorium peserta
dengan evaluasi statistik dari data pengujian yang didapatkan dari bahan uji yang
didistribusikan. Tentu saja bahan uji ini harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu
misal homogenitas dan stabilitas bahan.

Jika memungkinkan, sisa hasil uji yang telah diketahui assign value-nya dapat dipakai
sebagai bahan pelatihan personel laboratorium dalam rangka peningkatan kompetensi analis
laboratorium.

Uji profisiensi juga penting sebagai alat untuk menunjukkan kepada customer laboratorium
mengenai unjuk kerjanya, misal kepada badan akreditasi, pelanggan, regulator, rekanan
kontrak dan lain-lain.

Siapakah penyelenggara uji profisiensi (provider)?

Terminologi provider (agar lebih irit nulisnya ) adalah suatu lembaga (organisasi atau
perusahaan, terbuka (public) atau tertutup (private)) yang melakukan perencanaan dan
menyelenggarakan skema uji profisiensi (lihat ILAC-G13). ISO/IEC FDIS 17043 mengartikan
dengan lebih sederhana, PT provider adalah organisasi yang bertanggung jawab terhadap
seluruh kegiatan pengembangan dan pengoperasian skema uji profisiensi.

Kadang suatu badan akreditasi mengembangkan dan menyelenggarakan sendiri skema uji
profisiensi. Hal ini dapat disebabkan oleh masih sangat sedikitnya provider di negara
tersebut atau uji profisiensi memang bertujuan untuk kepentingan badan akreditasi.

Provider dalam menyelenggarkan suatu uji profisiensi harus melakukan serangkaian


kegiatan mulai dari design, penyiapan bahan sampai pelaporan. Tentu saja masing-masing
langkah tersebut tidak bisa sembarangan di lakukan tanpa pengetahuan yang memadai.
Untuk hal-hal tertentu provider dapat melakukan subkontrak kepada subkontraktor yang
disebut dengan kolaborator. Ada tiga hal yang tidak boleh disubkontrakan, yaitu
perencanaan skema uji profisiensi, evaluasi unjuk kerja dan pengesahan laporan akhir uji
profisiensi.
Untuk menunjukkan kompetensinya, provider menggunakan suatu sistem manajemen dalam
pengoperasiannya dan untuk keperluan saling keberterimaan di tingkat internasional telah
ditetapkan bahwa ILAC-G13 digunakan untuk tujuan tersebut. (Sebagai catatan: Pada saat
tulisan ini dibuat tengah disirkulasikan ISO/IEC FDIS 17043 yang akan menggantikan
ISO/IEC Guide 43 dan ILAC-G13).

Tulisan terkait
skema uji profisiensi
analisa uji profisiensi pendahuluan
analisa uji profisiensi penentuan assign value

Skema uji profisiensi


Februari 14, 2010
Ada beberapa jenis uji profisiensi yang tergantung dari jenis pengujian, metode pengujian yang digunakan dan jumlah
laboratorium yang ikut dalam suatu uji profisiensi. Jenis uji profisiensi tersebut biasa disebut dengan skema uji profisiensi.
Dalam tulisan ini saya mencoba untuk share skema uji profisiensi dalam bahasa yang sederhana.

Menurut ISO Guide 43-1, skema yang umum digunakan dalam uji profisiensi adalah:

1. Skema uji banding pengukuran (measurement comparison)


Skema uji banding pengukuran biasanya menggunakan alat uji/ukur yang dikelilingkan dari satu laboratorium peserta ke
laboratorium peserta lainnya. Skema ini dapat diikuti oleh sedikit laboratorium karena pada skema ini biasanya menggunakan
assign value yang dikeluarkan oleh reference laboratory. Reference laboratory mungkin adalah Lembaga Metrologi
Nasional.

Pengertian assign value kira-kira adalah nilai yang ditetapkan pada kuantitas tertentu dan diterima (kadang secara
konsensus) dengan ketidakpastian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam uji banding pengukuran, laboratorium secara individu dibandingkan terhadap nilai acuan yang ditetapkan oleh reference
laboratory.

Skema uji profisiensi ini umum digunakan dalam uji profisiensi laboratorium kalibrasi.

2. Skema uji (banding) antar laboratorium (interlaboratory testing)


Skema ini menggunakan sub-sample dari bahan uji yang didistribusikan secara bersamaan kepada peserta uji profisiensi untuk
dilakukan pengujian secara bersama-sama.
Hasil pengujian dikirimkan kepada penyekenggara untuk dibandingkan dengan assign value sehingga didapat gambaran unjuk
kerja laboratorium secara individual dan secara keseluruhan.

Homogenitas bahan uji sangat diperhatikan dalam skema ini sehingga data hasil uji tidak banyak dipengaruhi oleh variabilitas
yang bersumber dari bahan uji.

Skema ini umum digunakan pada uji profisiensi laboratorium penguji.

3. Skema pengujian split sample


Umumnya skema ini melibatkan kelompok kecil laboratorium yang akan dievaluasi sebagai pemasok potensial dari jasa
pengujian.

Dalam transaksi perdagangan, skema ini dilakukan dengan membagi sample untuk laboratorium yang mewakili pemasok dan
laboratorium yang mewakili pembeli. Disamping kedua sample yang dibagi tersebut, biasanya ada sample tambahan yang
disimpan untuk diuji pada laboratorium pihak ketiga jika terdapat perbedaan signifikan antara hasil uji laboratorium pihak
pemasok dan laboratorium pihak pembeli.

Skema ini berbeda dengan interlaboratory testing sebab skema ini hanya melibatkan laboratorium yang sangat terbatas.

4. Skema kualitatif
Evaluasi unjuk kerja laboratorium tidak harus selalu dengan metode kuantitatif (membandingkan hasil uji), tetapi dapat juga
dengan metode kualitatif misal menilai unjuk kerja dalam mengidentifikasi suatu jenis entitas tertentu misal organisme
patogen, jenis cacat bahan, penyakit, bakteri dan lain sebagainya. Skema ini tidak perlu melibatkan banyak laboratorium atau
uji (banding) antar laboratorium unjuk menilai unjuk kerja laboratorium.

5. Skema dengan nilai yang telah diketahui (known value)


Jenis uji profisiensi khusus lain adalah pengujian sample dengan parameter uji yang diukur telah diketahui nilainya. Hal ini
memungkinkan untuk mengevaluasi unjuk kerja laboratorium secara individual yang dibandingkan dengan assign value. Skema
ini tidak memerlukan laboratorium peserta dalam jumlah yang banyak.

6. Skema sebagian proses (partial-process)


Skema ini menilai unjuk kerja laboratorium untuk melakukan sebagian proses saja dari keseluruhan proses pengujilan atau
pengukuran. Misal skema ini meminta laboratorium untuk mentransformasi data pengujian kedalam laporan uji atau meminta
laboratorium untuk melakukan penyiapan contoh sesuai dengan spesifikasi tertentu.