Anda di halaman 1dari 11

KASUS 1 (BEDAH MULUT)

NAMA COASS : FARIKHA


ANGKATAN COASS :8

A. RINGKASAN KASUS
Seorang pasien laki-laki pensiunan berusia 62 tahun datang ke RSGMP
UNSOED dengan keluhan ingin mencabut sisa akar gigi depan atas kanannya dan
sisa akar gigi geraham pertama bawah kanannya. Pasien ingin mencabut giginya
karena akan dibuatkan gigi tiruan lepasan. Pasien sebelumnya pernah dilakukan
pecabutan pada gigi 15, 23, dan 44. Pasien dalam keadaan sehat tidak memiliki
kelainan sistemik. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan, tekanan darah 120/90
mmHg dan tidak memiliki riwayat alergi obat. Pemeriksaan intraoral ditemukan sisa
akar pada gigi 22 dan 36. Pada gigi 35 dan 34 terdapat karies superfisial, 33, 32, 31
dan 45 terdapat karies media dan gigi 47 terdapat karies profunda. Palatum pasien
terdapat variasi normal berupa hairy tounge et causa tobacco. Pasien memiliki
kebiasan merokok. Perawatan yang dilakukan operator pada pasien yaitu pencabutan
pada sisa akar gigi 22 dan dilanjutkan dengan pencabutan sisa akar gigi 36.
Pencabutan sisa akar gigi dimulai dengan tindakan asepsis pada area yang akan
dicabut dilanjutkan tindakan anestesi lokal menggunakan pehacain. Setelah obat
anestesi bekerja dilakukan ekstraksi sisa akar gigi 22. Pencabutan sisa akar gigi 36
dilakukan anestesi blok mandibula dan infiltrasi. Pengambilan sisa akar gigi 36
dimulai dari akar distal kemudian dilanjutkan akar mesial. Setelah dilakukan
ekstraksi psien diberikan medikamentosa dan edukasi.

B. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
1. Keluhan Utama (CC) : pasien datang ke RSGM UNSOED dengan keluhan ingin
mencabut sisa akar gigi depan atas kanannya dan sisa akar gigi geraham pertama
bawah kanannya
2. Riwayat Penyakit Saat ini (PI) : Pasien ingin mencabut giginya karena akan
dibuatkan gigi tiruan lepasan
3. Riwayat Sistemik (PMH) : Tidak ada kelainan
4. Riwayat Dental (PDH) :
5. Riwayat Keluarga (FH) :
6. Riwayat Sosial (SH) : seorang pensiunan dan memiliki kebiasaan merokok.

C. PEMERIKSAAN OBJEKTIF
1. Keadaan Umum
Pasien dalam keadaan compos mentis dan tekanan darah 120/90 mmHg
2. Ekstra Oral
Tidak ada keterangan.
3. Intra Oral
a. Gigi 35 dan 34 terdapat karies superfisial,
b. Gigi 33, 32, 31 dan 45 terdapat karies media
c. Gigi 47 terdapat karies profunda.
d. Sisa akar pada gigi 22 dan 36
e. Daerah edentolous pada rahang atas kecuali gigi 22
f. Daerah edentolous pada gigi 48, 46, 44, 37 dan 38

D. ASSESMENT
a. Nekrosis pulpa gigi 22
b. Nekrosis pulpa gigi 36
E. PLANNING
F. HASIL PENGAMATAN
1. Pemeriksaan
a. Operator melakukan pemeriksaan pada rongga mulut pasien menggunakan
kaca mulut dan sonde
b. Operator melakukan pemeriksaan pada luka bekas pencabutan pada gigi 44
dan hasil pemeriksaan menunjukan bahwa luka bekas pencabutan telah
menutup sempurna
c. Terdapat sisa akar gigi 22 dan 36 yang akan dilakukan pencabutan.
2. Operator mengisi rekam medis dan melaporkan kepada supervisor untuk
melakukan tindakan
3. Supervisor melakukan pemeriksaan pada pasien dan mengizinkan untuk
melakukan pencabutan pada dua gigi
4. Operator mengisi pada kertas apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan kemudian
meminta alat dan bahan pada bagian dental material dengan menunjukan nota
pembayaran.
5. Operator mempersiapkan alat dan bahan
a. Alat: Tang radix RA anterior, tang radix RB posterior, bein, bone file,
suction, slaber, spuit, gelas kumur, Pinset, kaca mulut, sonde, kuret,
ekskavator, masker dan handscoon
b. Bahan: Pehacain, povidone iodine, cotton roll, cotton pellet, alkohol
6. Persiapan bahan anestesi
a. Membuka jarum suntik dengan steril, mengencangkan bagian tutup jarum
dan bebaskan udara dari spuit
b. Putar ampul secara sentrifugal supaya semua cairan anestesi berada dibawah
leher dari ampul
c. Membuka ampul dengan tisu yang dililitkan di bagian ampul yg atas lalu
buka dengan cara ditekan
d. Setelah ampul dibuka aspirasikan bahan anestetikum kemudian menutup
jarum menggunakan 1 tangan
e. Ketuk-ketuk spuit untuk menghilangkan udara yang terjebak dan keluarkan
udara dengan menekan suntikan hingga udara keluar.
7. Anestesi gigi 22
a. Asepsis bagian mukubukofold dan bagian palatal gigi 22
b. Insersikan jarum dengan bevel menghadap tulang didaerah mukobukofold
hingga sekitar apex gigi 22 kemudian dilakukan aspirasi, jika aspirasi negtif
maka deponirkan 0,5 cc di nervus alveolaris superior anterior
c. Pasien diinstruksikan untuk berkumur
d. Insersikan jarum dengan bevel menghadap tulang didaerah palatal sekitar
gigi 23 tetapi tidak mencapai daerah apex gigi tersebut karena sisa gigi akar
tersebut sudah lama sehingga menurut operator sisa akar tidak terlalu
panjang, kemudian dilakukan aspirasi, jika aspirasi negtif maka deponirkan
0,5 cc secara perlahan di nervus nasopalatinus
e. Operator menanyakan ke pasien apakah sudah merasa kebas di bagian labial
dan palatal. Pasien merasa kebas pada bagian labial tetapi pada bagian
palatal pasien tidak merasa kebas, kemudian operator mengecek dengan
menggunakan sonde pada bagian palatal dan pasien tidak merasakan sakit.
Pasien mengaku semalam mengkonsumsi kopi dan memiliki kebiasaan
merokok.
f. Operator memutuskan untuk menunggu bahan anestesi bekerja sekitar 15
menitan dan mengecek anestesi dengan mencongkel gigi menggunakan
ekskavator dan pasien tidak merasakan sakit.
8. Ekstraksi sisa akar gigi 22
a. Posisi pasien: pencabutan gigi RA dilakukan pada posisi pasien relatif lebih
tinggi dan duduk pada kursi setengah menyandar
b. Posisi operator: berada diantara jam 6-9
c. Luksasi gigi menggunakan elevator lurus yang diinsersikan pada mesio-
gingivo interproksimal secara paralel dengan permukaan gigi yang dicabut.
d. Elevator ditekan ke apikal dan rotasi ke bukal/labial.
e. Operator mengecek apakah gigi sudah lepas dr tulang atau belum, dengan
memperhatikan gigi lebih terangkat dan terdapat buih darah segar
f. Penggunaan elevator lrusuntuk meluksasi gigi hanya sebentat dan gigi segera
terangkat karena sisa akar gigi sangat pendek
g. Tang radiks digunakan untuk menambil sisa akar tanpa ungkitan yang
berlebh karena sisa akar cukup kecil dan mudah untuk diambil
h. Soket diirigas menggunakan povidon iodine
i. Kompresi gingiva dengan cara menjepit bekas pencabutan dengan ibu jari
dan jari telunjuk untuk menyempitkan tulang alveolus dan membantu
peyembuhan pasca ekstraksi
9. Anestesi blok mandibula
a. Palpasi bagian triangular retromolar
b. Asepsis bagian tersebut menggunakan pinset dan cotton pellet yang
mengandung povidon iodine
c. Insersikan jarum dengan bevel menghadap ke tulang dengan arah
kontralateral yg berada di posisi P1 dan P2 sampai mengenai tulang
d. Jarum diarahkan ipsilateral sejajar oklusal menyelusuri tulang hingga 2/3
jarum suntik
e. Arahkan jarum kontralateral lagi sehingga jarum berada di regio kaninus
f. Lakukkan aspirasi, jika aspirasi negatif deponirkan bahan anestesi 1 cc ke
nervus alfeolaris inferior secara perlahan kemudian tarik jarum hingga
terlihat setengah jarum kemudian spirasi, jika aspirasi negatif deponir bahan
anetesi 0,5 cc ke nervus lingualis
g. Pasien diinstruksikan untuk berkumur
h. Operator manyakan ke pasien apakah sudah merasa kebal di bagian lidah,
pipi dan bibir
i. Operator mengecek dengan menggunakan sonde di arahkan ke sulkus
gingiva dan pasien sudah tidak merasakan sakit.
10. Anestesi infiltrasi gigi 36
a. Asepsis bagian mukubukofold bagian gigi yang akan dianestesi
b. Insersikan jarum dengan bevel menghadap tulang didaerah mukobukofold
hingga sekitar apex gigi 36 kemudian lakukan aspirasi, jika aspirasi negatif
deponirkan 0,5 cc di nervus bukalis longus
c. Operator menyuruh pasien kumur
d. Operator menyakan ke pasien apakah sudah merasa kebal di bagian lidah,
pipi dan bibir atau mengecek dengan menggunakna sonde di arahkan ke
sulkus gingiva dan menusuk di daerah mukosa gigi yang akan dianestesi
11. Ekstrasi sisa akar gigi 36
G. PEMBAHASAN
1. Kinerja Bahan Anestesi
Bahan anestesi yang digunakan pada kasus ini yaitu pehacain berupa
lidokain dan epinefrin (1:100.000). Pada anestesi mandibular digunakan 2 cc,
sedangkan pada nervus buccalis longus digunakan 3/4 cc. Pada anestesi infiltrasi
digunakan 0,5 cc di nervus alveolaris superior anterior dan 0,5 cc di nervus
nasopalatinus. Konsentrasi lidokain 2% dengan epinefrin 1:100.000 akan
menghasilkan durasi kerja selama 60 menit dan apabila digunakan pada anestesi
jaringan lunak akan bertahan 3-5 jam. Lidokain memiliki resiko toksisitas
sistemik yang rendah dan jarang menimbulkan reaksi alergi. Lidokain
dimetabolisme dalam hepar melalui jalur metabolisme yang kompleks dengan
memanfaatkan enzim dalam hepar (Logothetis, 2011).
Pada kasus ini anestesi yang diberikan pada pasien mengalami reaksi yang
lambat dalam menimbulkan efek baal. Rasa baal yang dirasakan pasien tidak
secara langsung muncul akan tetapi membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Pasien mengaku memiliki kebiasaan merokok, meminum kopi semalam, dan
begadang. Waktu onset of action dari pehacain juga bervariasi, sekitar 3-10
menit. Walaupun penggunaan lidokain bersifat toksik, jika digunakan dengan
dosis yang tepat, maka tidak dapat menimbulkan masalah yang serius. Dengan
penambahan vasokonstrikor, dosis maksimal yang dapat diterima pada orang
dewasa adalah sekitar 350 mg atau maksimal sekitar 6 mg/kgBB. Pada
praktiknya, 2% lidokain HCl umumnya dikemas dalam bentuk ampul 2 ml atau
sama dengan 36 mg, sehingga dosis maksimum pengunaan lidokain pada orang
dewasa adalah sekitar 8-10 ampul (Sumawinata, 2013; Melamed, 1997). Onset
of action bahan anestesi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Perfusi jaringan tempat penyuntikan obat
b. Peningkatan obat ke jaringan lokal
c. Kecepatan metabolisme
d. Jumlah peningkatan obat oleh protein
e. Mengkonsumsi kopi
Kopi mengandung kafein, yang dalam dosis rendah dapat mengurangi rasa
lelah dan membuat pikiran jadi segar. Kafein menyebabkan dilatasi
pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal karena
efek langsung pada pembuluh darah. Anestesi lokal adalah obat yang bisa
menyebabkan sensasi mati rasa dengan melumpuhkan ujung saraf pada
tempat pemberian obat (Jaya, 2011).
Menurut Heavner (2007) kinerja bahan anestesi lokal hingga dapat
memblokir konduksi saraf yaitu:
a. Absorbsi bahan anestesi
Pada saat diinjeksikan ke jaringan lunak, anestesi lokal menghasilkan reaksi
farmakologi pada pembuluh darah. Semua jenis anestesi lokal memiliki
tingkatan reaksi yang berbeda, yang sering terjadi yaitu vasodilatasi
pembuluh darah ketika di deposit, dan beberapa juga menimbulkan
vasokontriksi. Reaksi yang timbul berpengaruh pada konsentrasi yang
diberikan. Efek signifikan dari vasodilatasi meningkat ketika anestesi lokal
sudah diserap oleh pembuluh darah, sehingga menurunkan durasi dan
kualitas dari rasa sakit, tetapi meningkatkan konsentrasi anestesi lokal pada
pembuluh darah dan potensi overdosis (reaksi toksik). Tingkatan reaksi
anestesi lokal yang diserap oleh pembuluh darah dan mencapai level
maksimum bervariasi sesuai dengan cara pemberiannya.
b. Distribusi
Setelah diserap ke pembuluh darah, anestesi lokal disalurkan ke seluruh
jaringan dalam tubuh. Organ yang sangat perfusi yaitu otak, hepar, ginjal,
paru-paru, dan limfe.
2. Prosedur Anestesi
Prosedur anestesi yang dilakukan operator sudah benar karena sesuai dengan
prosedur anestesi yang seharusnya. Menurut Purwanto (1993) prosedur anestesi
yang benar yaitu:
a. Mempersiapkan Alat
Sterilkan alat yang akan digunakan terlebih dahulu, kemudian pasang
cartridge pada syringe, dan periksa kondisi jarum dengan mengeluarkan
sejumlah kecil larutan.
b. Mempersiapkan Membran Mukosa
Rongga mulut terus menerus mengandung mikroorganisme. Suntikan
melalui mukosa rongga mulut yang tidak asepsis dapat menyebabkan
tertanamnya sejumlah besar bakteri pada jaringan rongga mulut. Mukosa
pada daerah yang akan disuntikan harus dikeringkan menggunakan kassa
steril terlebih dahulu, kemudian diberi larutan antiseptic berupa chlor
hexidine 0,5% atau providine iodine 1%.
c. Injeksi
Pada pencabutan gigi 36 digunakan anestesi nervus alveolaris inferior dan
anestesi nervus buccalis longus. Injeksi mandibula dipilih dengan tujuan
memblok nervus alveolaris inferior sehingga semua gigi pada sisi tersebut
akan teranestesi kecuali insisiv sentral dan lateral. Anestesi biasanya kurang
menyeluruh kedaerah bukal gigi-gigi molar karena gigi molar juga di
inervasi oleh nervus buccalis longus, oleh karna itu perlu ditambah dengan
injeksi nervus buccalis longus (Fadillah, 2007)
d. Teknik Injeksi Mandibula
1) Pasien diminta duduk pada kursi unit dan sandaran kepala disesuaikan
sehingga bidang oklusal mandibula hampir horizontal bila mulut dibuka.
2) Dokter gigi harus berdiri di depan pasien untuk melakukan anestesi blok
gigi inferior kanan.
3) Palpasi fossa retromolaris dengan telunjuk sehingga kuku jari menempel
pada linea oblique. Dengan barel (bagian yang berisi anestetikum)
syringe terletak diantara kedua molar pada sisi yang berlawanan, arahkan
jarum sejajar dengan dataran oklusal gigi-gigi mandibula ke arah ramus
dan jari.
4) Tusukan jarum pada apeks trigonum pterygomandibular dan teruskan
gerakan jarum diantara ramus dan ligamentum-ligamentum serta otot
yang menutupi permukaan interna ramus sampai ujungnya berkontak
pada dinding posterior sulkus mandibularis. Disini, deponirkan kurang
lebih 1,5 cc anestetikum disekitar nervus alveolaris inferior.
5) Kedalaman insersi jarum rata-rata 15 mm, tetapi bervariasi tergantung
pada ukuran mandibula.
6) Spuit ditarik dan pasien tetap membuka mulut selama 1 2 menit .
e. Teknik Injeksi N. Buccalis Longus
1) Masukan jarum pada lipatan mukosa pada suatu titik tepat didepan gigi
molar pertama,
2) Perlahan tusukan jarum sejajar corpus mandibula, dengan bevel
mengarah ke bawah , ke suatu titik sejauh molar ketiga.
3) Anestetikum dideponirkan perlahan-lahan seperti pada waktu
memasukan jarum melalui jaringan.
f. Memeriksa Anestesi
Setelah anestesi dan sebelum gigi dicabut sebaiknya mengecek efek anestesi
sudah didapatkan atau belum. Sonde gigi dimasukan ke crevice gingiva pada
permukaan labio-bukal dan lingual, serta harus ditanyakan apakah ada rasa
sakit atau tidak (Howe dan Whitehead, 1992).
3. Teknik Ekstraksi
Teknik ekstraksi yang dilakukan operator sudah baik yaitu sebelum
melakukan pencabutan operator melakukan tensi untuk mengetahui tekanan
darah pasien serta melakukan pemeriksaan subyektif maupun obyektif. Namun
operator tidak melakukan pemeriksaan radiologi terlebih dahulu. Pemeriksaan
radiologi merupakan hal yang penting dilakukan pada beberapa kasus sebelum
tindakan pencabutan gigi. Dalam pemeriksaan radiologi dapat diketahui kondisi
akar baik dari letak akar ke sinus maksilaris serta kanalis mandibula dan bentuk
akar yang dilaserasi maupun hipersementosis. Selain itu, dapat menilai
kepadatan dan derajat mineralisasi tulang serta kondisi celah ligamen
periodontal. Pemeriksaan radiografi sebelum pencabutan gigi dapat dilakukan
dengan radiografi panoramik dan periapikal (Pedersen, 1996).
Operator sebelum melakukan tindakan memakai alat pelindung diri.
Dalam praktek dokter gigi sebaiknya menerapkan prinsip pencegahan infeksi
silang antara pasien dengan dokter atau sebaliknya. Oleh karena itu, perlu
dilakukan persiapan sebelum melakukan tindakan pencabutan gigi. Pemakaian
alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan kacamata pelindung.
Sterilisasi alat-alat yang akan digunakan menggunakan autoklaf (Sjamsuhidajat
dan Jong, 1997).
Prosedur ekstraksi yang dilakukan operator merupakan tindakan yang
benar sesuai prosedur pencabutan. Penggunaan alat seperti elevator dilakukan
dengan baik. Elevator diinsersikan pada mesio-gingival interproksimal, paralel
terhadap akar dengan cekungan bilang menghadap ke permukaan gigi yang akan
dicabut. Elevator dirotasikan searah jarum jam untuk rahang atas kiri. Tekanan
yang dihasilkan cenderung menggerakan gigi kearah distal-oklusal. Tekanan
ungkitan dilakukan dengan menekan pegangan kearah gingiva, menjauhi dataran
oklusal (Pedersen, 1996). Tekanan pencabutan yaitu ke arah bukal yaitu arah
pengeluaran gigi. Daerah bekas pencabutan dijepit dengan menggunakan ibu jari
dan telunjuk. Tindakan menyempitkan alveolus ini terasa pada lengkung rahang
atas karena adanya kompresibilitas tulang. Penekanan dilakukan dengan
menggunakan kapas yang diletakan diatas alveolus (Pedersen, 1996).
4. Post operatif
a. Medikasi
Tindakan pencabutan memberikan rasa yang tidak nyaman kepada pasien
berupa rasa sakit dan perdarahan. Rasa sakit apat di atasi dengan pemberian
obat analgesik. Pada kasus ini obat analgesik berupa (Pedersen, 1996).
b. Instruksi
Perdarahan pasca pencabutan dapat dikontrol dengan baik yaitu dengan
menginstruksikan pasien untuk menggigit kapas diatas luka bekas
pencabutan dan di pertahankan selama minimal 30 menit pasca pencabutan.
Akan tetapi, kadang perdarahan masih keluar selama 24 jam maka dapat
menggigit kapas selama satu jam untuk menghentikan perdarahan (Pedersen,
1996).
c. Edukasi
Edukasi kepada pasien dapat dilakukan dalam hal pemberian obat analgesik
yang diminum tiga kali sehari selama tiga hari atau lebih apabila terasa sakit
saja. Komplikasi dapat saja terjadi maka sebaiknya dilakukan edukasi
kepada pasien. Edema dapat saja terjadi pada pasca pencabutan maka dapat
ditangani dengan pasien sendiri yaitu dengan kompres es batu selama 24 jam
pasca pencabutan idealnya dilakukan komores dingin selama 30 menit pasca
pencabutan (Pedersen, 1996).
H. SIMPULAN
Operator melakukan tindakan pencabutan sisa akar gigi 22 dan gigi 36 dengan
prosedur yang baik dan benar. Efek anestesi yang lambat pada pasien dikarenakan
pasien tersebut mengkonsumsi kopi.
I. DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., 1997, Buku ajar ilmu bedah, EGC, Jakarta.
Fadillah, A., 2007, Teknik-teknik anestesi local, EGC, Jakarta.

Howe, G.L., 1994, Anestesi local, Hipokrates, Jakarta.


Melamed, S.H., 1997, Hand book of local anaesthesia, Mosby ST, Missouri.
Purwanto., 1993, Petunjuk Praktis Anestesi Lokal, EGC, Jakarta.
Logothetis, D.D., 2011, Local anesthetic agents: a review of the current options for
dental hygienist, CDHA Journal. 27(2): 1-4.
Sumawinata, N, 2013, Anestesia lokal dalam perawatan konservasi gigi,
EGC, Jakarta.
Heavner, J.E., 2007, Local anesthetic, Current opinion in anesthesiology, 20(3): 336-42.