Anda di halaman 1dari 10

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG 5 (LIMA) LANTAI

DEKRANASDA DINAS PERINDUSTRIAN DAN


PERDAGANGAN PROPINSI
JAWA TENGAH
Jl. Pahlawan No. 04 Semarang

Resume Oleh
Nama : M. Gus Rois Hasan Mubarok
Nim : 140522506747

Disusun oleh :
Nama : Karjono
Nim : 5150303020
Program Studi : D3 Teknik Sipil
Jurusan Teknik Sipil

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2006
LEMBAR PENGESAHAN
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG 5 (LIMA) LANTAI
DEKRANASDA DINAS PERINDUSTRIAN DAN
PERDAGANGAN PROPINSI
JAWA TENGAH
Jl. Pahlawan No. 04 Semarang

ABSTRAK
Pada tahap perencanaan Struktur Gedung Dekranasda Disperindag Propinsi Jateng ini perlu dilakukan study
literatur untuk menghubungkan satuan fungsional gedung dengan sistem struktur yang akan digunakan,
disamping untuk mengetahui dasar-dasar teorinya. Pada jenis gedung tertentu, perencanaan sering kali
diharuskan menggunakan suatu pola akibat syarat- syarat fungsional maupun strukturnya. Hal ini merupakan
salah satu faktor yang menentukan, misal pada situasi yang mengharuskan bentang ruang yang besar serta harus
bebas kolom, sehingga akan menghasilkan beban besar dan berdampak pada balok. Study literatur dimaksudkan
untuk dapat memperoleh hasil perencanaan yang optimal dan aktual. Dalam bab ini akan dibahas konsep
pemilihan sistem struktur dan konsep perencanaan struktur bangunannya, seperti denah, pembebanan struktur
atas dan struktur bawah serta dasardasar perhitungan.

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Proyek 1.2 Maksud dan Tujuan Proyek
Proyek Pembangunan Gedung Dekranasda Tujuan dari Proyek Akhir ini adalah untuk
Disperindag Propinsi Jawa Tengah ini menerapkan materi perkuliahan yang telah
dilatarbelakangi oleh Kepala Dinas diperoleh ke dalam bentuk penerapan
Perindustrian dan Perdagangan kepada secara utuh. Penerapan materi perkuliahan
Pemerintah Daerah Semarang merasa yang telah diperoleh diaplikasikan dengan
karena masih banyaknya kekurangan merencanakan suatu bangunan gedung
sarana dan prasarana bila dibandingkan bertingkat banyak, minimal tiga lantai.
dengan kepentingan Disperindag yang Dengan merencanakan suatu bangunan
membutuhkan tempat atau sarana gedung bertingkat ini diharapkan mahasiswa dapat
dengan kapasitas yang memadai. memperoleh ilmu pengetahuan yang
Pemilihan Proyek Pembangunan Gedung diaplikasikan dan mampu merencanakan
Dekranasda sebagai Tugas Akhir suatu struktur yang cukup kompleks.
dikarenakan struktur gedung yang
memiliki 5 (lima) lantai dan sebagai 1.3 Ruang Lingkup Penulisan
pertimbangan lain belum adanya Tugas Dalam Penyusunan Proyek Akhir ini,
Akhir dari teman satu angkatan dengan Penulis hanya menentukan pada
struktur yang berlantai banyak. permasalahan dari sudut pandang ilmu
Pembangunan gedung ini nantinya akan di teknik sipil yaitu pada bidang
gunakan untuk kegiatan yang perencanaan struktur meliputi:
membutuhkan ruang luas. Pembangunan 1. Perencanaan atap,
Gedung Dekranasda mempunyai maksud 2. Perencanaan plat lantai,
dan tujuan antara lain : 3. Perencanaan tangga,
1. Meningkatkan sarana dan prasarana di 4. Perencanaan balok,
Disperindag. 5. Perencanaan kolom,
2. Meningkatkan kenyamanan dan 6. Perencanaan pondasi,
efektifitas kegiatan di Disperindag.
7. Rencana kerja dan syarat - syarat perpustakaan atau pun instansi instansi
(RKS), dan pemerintah yang terkait.
8. Rencana anggaran biaya
2. Kriteria dan Azazazaz Perencanaan
1.4 Metodologi Perencanaan pembangunan Gedung
Data yang akan digunakan sebagai dasar Dekranasda Disperindag Propinsi Jateng
dalam penyusunan laporan Proyek Akhir ini diharuskan memenuhi beberapa kriteria
ini dapat di kelompokkan dalam dua jenis perencanaan, sehingga konstruksi
yaitu: bangunan tersebut sesuai yang diharapkan,
1. Data Primer dan tidak terjadi kesimpang- siuran dalam
Data Primer adalah data yang didapat bentuk fisiknya. Adapun kriteria-kriteria
melalui peninjauan dan pengamatan perencanaan tersebut adalah :
langsung di lapangan terdari dari:
a. Lokasi Proyek : Jl. Pahlawan No.4 1. Harus memenuhi persyaratan teknis.
Semaramg Dalam setiap pembangunan harus
b. Topografi : Tanah datar memperhatikan persyaratan teknis yaitu
c. Elevasi bangunan : bangunan yang didirikan harus kuat untuk
o Lantai 1 : + 00,00 m menerima beban yang dipikulnya baik itu
o Lantai 2 : + 04,73 m beban sendiri gedung maupun beban yang
o Lantai 3 : + 09,46 m berasal dari luar seperti beban hidup,
o Lantai 4 : + 14,19 m beban angin dan beban gempa. Bila
o Lantai 5 : + 28,77 m persyaratan teknis tersebut tidak
2. Data Sekunder diperhitungkan maka akan membahayakan
Data sekunder merupakan data pendukung orang yang berada di dalam bangunan dan
yang dipakai dalam proses pembuatan dan juga bisa merusak bangunan itu sendiri.
penyusunan laporan Proyek Akhir. Yang Jadi dalam perencanaan harus berpedoman
termasuk dalam klasifikasi data sekunder pada peraturan- peraturan yang berlaku
ini antara lain: dan harus memenuhi persyaratan teknis
a. Literatur panjang yang ada.
b. Grafik grafik penunjang
c. Tabel tabel penunjang 2. Harus memenuhi persyaratan ekonomis.
Adapun metode pengumpulan data yang Dalam setiap pembangunan, persyaratan
dilakukan adalah : ekonomis juga harus diperhitungkan agar
1) Observasi tidak ada aktivitas-aktivitas yang
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan mengakibatkan membengkaknya biaya
data primer melalui peninjauan dan pembangunan sehingga akan menimbulkan
pengamatan langsung di lapangan sejak kerugian bagi pihak kontraktor.
melaksanakan Kerja Praktek, yang telah Persyaratan ekonomis ini bisa dicapai
dilak sanakan pada proyek yang sama pada dengan adanya penyusunan time schedule
tanggal 1 September sampai dengan 1 yang tepat, pemilihan bahan-bahan
November 2005. bangunan yang digunakan dan pengaturan
serta pengerahan tenaga kerja yang
2) Studi pustaka profesional. Dengan pengaturan biaya dan
Studi pustaka dilakukan untuk waktu pekerjaan secara tepat diharapkan
pengumpulan data sekunder dan landasan bisa menghasilkan bangunan yang
teori dengan mengambil data literatur yang berkualitas tanpa menimbulkan
relevan maupun standar yang diperlukan pemborosan.
dalam perencanaan bangunan. 3. Harus memenuhi persyaratan aspek
Pengumpulan dilakukan melalui fungsional.
Hal ini berkaitan dengan penggunaan Pengendalian biaya dalam suatu pekerjaan
ruang. Biasanya hal tersebut akan konstruksi dimaksudkan untuk mencegah
mempengaruhi penggunaan bentang adanya pengeluaran yang berlebihan
elemen struktur yang digunakan. sehingga sesuai dengan perhitungan
Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang
4. Harus memenuhi persyaratan estetika telah ditetapkan. Biaya pelaksanaan harus
Agar bangunan terkesan menarik dan dapat ditekan sekecil mungkin tanpa
indah maka bangunan harus direncanakan mengurangi kualitas dan kuantitas
dengan memperhatikan kaidah-kaidah pekerjaan. Dalam hal ini erat kaitannya
estetika. Namun persyaratan estetika ini dengan pemenuhan persyaratan ekonomis.
harus dikoordinasikan dengan persyaratan
teknis yang ada untuk menghasilkan a. Pengendalian mutu
bangunan yang kuat, indah dan menarik. Pengendalian mutu dimaksudkan agar
Jadi dalam sebuah perencanaan bangunan pekerjaan yang dihasilkan sesuai dengan
harus diperhatikan pula segi artistik persyaratan yang telah ditetapkan dalam
bangunan tersebut. RKS. Kegiatan pengendalian mutu
tersebut dimulai dari pengawasan
5. Harus memenuhi persyaratan aspek pengukuran lahan, pengujian tanah di
lingkungan Setiap proses pembangunan lapangan menggunakan alat sondir dan
harus memperhatikan aspek lingkungan boring serta uji tekan beton. Mutu bahan-
karena hal ini sangat berpengaruh dalam bahan pekerjaan yang digunakan dalam
kelancaran dan kelangsungan bangunan pembangunan sudah dikendalikan oleh
baik dalam jangka pendek (waktu selama pabrik pembuatnya. Selain itu juga
proses pembangunan) maupun jangka diperlukan pengawasan pada saat
panjang (pasca pembangunan). Persyaratan bangunan tersebut sudah mulai digunakan,
aspek lingkungan ini dilakukan dengan apakah telah sesuai dengan yang
mengadakan analisis terhadap dampak diharapkan atau belum.
lingkungan di sekitar bangunan tersebut
berdiri. Diharapkan dengan terpenuhinya b. Pengendalian waktu
aspek lingkungan ini dapat ditekan Pengendalian waktu pelaksanaan
seminimal mungkin dampak negatif dan pekerjaan dalam suatu proyek bertujuan
kerugian bagi lingkungan dengan agar proyek tersebut dapat diselesaikan
berdirinya Gedung Dekranasda sesuai dengan time schedule yang telah
Disperindag Propinsi Jateng ini. ditetapkan. Untuk itu dalam perencanaan
pekerjaan harus dilakukan penjadwalan
6. Harus memenuhi aspek ketersediaan pekerjaan dengan teliti agar tidak terjadi
bahan di pasaran Untuk memudahkan keterlambatan waktu penyelesaian proyek.
dalam mendapatkan bahan-bahan yang
dibutuhkan maka harus diperhatikan pula 2. Pengendalian tenaga kerja
tentang aspek ketersediaan bahan di Pengendalian tenaga kerja sangat
pasaran. Dengan kata lain sedapat diperlukan untuk mendapatkan hasil
mungkin bahan-bahan yang direncanakan pekerjaan yang baik sesuai jadwal.
akan dipakai dalam proyek tersebut ada Pengendalian dilakukan oleh Pengawas
dan lazim di pasaran sehingga mudah (mandor) secara terus menerus maupun
didapat. Selain kriteria-kriteria berkala. Dari pengawasan tersebut dapat
perencanaan juga harus diperhatikan juga diketahui kemajuan dan keterlambatan
adanya azas-azas perencanaan yaitu antara pekerjaan yang diakibatkan kurangnya
lain: tenaga kerja maupun menurunnya efisiensi
kerja yang berlebihan. Jumlah tenaga kerja
1. Pengendalian biaya juga harus dikendalikan untuk
menghindari terjadinya penumpukan
pekerjaan yang menyebabkan tidak 3. Kolom
efisiensinya pekerjaan tersebut serta dapat Menurut SK SNI T-15-1991-03 untuk
menyebabkan terjadinya pemborosan merencanakan kolom yang diberi beban
materil dan biaya. lentur dan beban aksial ditetapkan
koefisien reduksi bahan () = 0,65. Pada
2.1 Dasar dasar Perencanaan proyek pembangunan Gedung Dekranasda
Dalam perhitungan perencanaan bangunan Disperindag Propinsi Jateng ini, kolom
ini digunakan standar yang berlaku di yang digunakan berukuran :
Indonesia, antara lain: Tabel 2. Dimensi kolom
1. Plat Lantai No Kolom Dimensi kolom
Perencanaan plat didasarkan pada (cm)
peraturan SK SNI T-15-1991-03 dan 1 Kolom type K1 80 x 80
Pedoman Beton 1989. Untuk 2 Kolom type K2 80 x 80
merencanakan plat beton bertulang yang 3 Kolom type K3 50 x 50
perlu dipertimbangkan tidak hanya 4 Kolom type K4 70 x 70
pembebanan namun juga ukuran dan 5 Kolom type K5 60 x 60
syarat syarat tumpuan. Pada proyek
pembangunan Gedung Dekranasda 4. Pondasi
Disperindag Propinsi Jateng ini tebal plat Pondasi yang dipergunakan pada
lantai adalah 12 cm. konstruksi ini adalah pondasi plat lajur
dan pondasi tiang pancang.
2. Balok
Perencanaan balok didasarkan pada 2.2 Metode Perhitungan
persyaratan SK SNI T-15-1991-03 yaitu: Dalam perencanaan pembangunan Gedung
a. Syarat - syarat tumpuan yang Dekranasda Disperindag Propinsi Jateng
dipertimbangkan adalah: ini, perhitungan mekanika struktur
1) Tumpuan jepit penuh menggunakan program Struktur Analysis
2) Tumpuan jepit sebagian Program (SAP) 2000. Perhitungan ini
b. Ukuran balok digunakan untuk memudahkan
Dalam pra desain, tinggi balok menurut menghitung tulangan. Hal-hal yang perlu
SK SNI T-15-1991-03 merupakan fungsi diperhatikan dalam perhitungan mekanika
dari bentang dan mutu baja yang ini adalah :
dipergunakan. Adapun balok dan sloof 1. Plat dianggap sebagai membran dan
yang digunakan pada proyek semua beban yang ada pada plat dianggap
pembangunan Gedung Dekranasda sebagai beban merata.
Disperindag Propinsi Jawa Tengah ini 2. Balok hanya menumpu beban dinding
adalah yang ada di atasnya dan beban hidup balok
sebagai berikut : dianggap nol, karena telah ditumpu oleh
Tabel 1. Dimensi balok plat. Sebelum melakukan perhitungan
No Balok Dimensi balok (cm) mekanika, terlebih dahulu harus
menghitung beban-beban yang bekerja
1 Balok lantai 1 30 x 80 pada eleman struktur antara lain:
2 Balok lantai 2 30 x 80 1. Beban Gempa Statik
3 Balok lantai 3 30 x 80 Beban gempa yang hanya
4 Balok lantai 4 30 x 80 memperhitungkan beban dari gedung itu
5 Balok anak 20 x 40 sendiri.
lantai 2. Beban Gempa Dinamik
6 Balok atap (R) 20 x 70 Beban gempa yang memperhitungkan
7 Balok Sloof 25 x 70 beban yang ada di sekitar gedung.
3. Beban Mati 2.4 Dasar Perhitungan
Beban yang diambil dari elemen struktur Dalam perhitungan perencanaan
beserta beban yang ada di atasnya. pembangunan Gedung Dekranasda
4. Beban Hidup Disperindag Propinsi Jawa Tengah ini
Diambil dari Pedoman Perencanaan digunakan standar perhitungan yang
Pembebanan untuk Rumah dan Gedung didasarkan pada ketentuan yang berlaku di
(PPIUG) 1987 untuk bangunan gedung. Indonesia antara lain:
1. Pedoman Beton 1989.
2.3 Klasifikasi Pembebanan Rencana 2. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
Pembebanan rencana diperhitungkan untuk Bangunan Gedung, SK SNI T-15-
berdasarkan Pedoman Perencanaan 1991-03.
Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 3. Pedoman Perencanaan Pembebanan
1987. Pembebanan diperhitungkan sesuai untuk Rumah dan Gedung 1987.
dengan fungsi ruangan yang direncanakan 4. Pedoman Perencanaan Ketahanan
pada gambar rencana. Besarnya muatan Gempa untuk Rumah dan Gedung 1987.
muatan tersebut adalah sebagai berikut : 5. Data perhitungan SAP.
1. Massa jenis beton bertulang : 2400
kg/m3 3. PERHITUNGAN STRUKTUR
2. Berat plafon dan penggantung (gpf) : 18
kg/m2 3.1 Perencanaan Stuktur Atap
3. Tembok batu bata (1/2) batu : 250 Letak geografis Negara Indonesia
kg/m2 mengakibatkan terjadinya dua
4. Beban hidup untuk tangga : 300 kg/m2 musim yaitu musim penghujan dan musim
5. Beban hidup untuk gedung fasilitas kemarau. Antara keduanya
umum : 250 kg/m2 terdapat perbedaan temperatur yang cukup
6. Adukan dari semen, per cm tebal : 21 ekstrim yang menimbulkan
kg/m2 harus adanya kemampuan bagi atap untuk
7. Penutup lantai, per cm tebal : 24 kg/m2 mampu menahan tekanan yang
Kombinasi beban gempa diperhitungkan timbul pada kedua musim.
untuk zone 4 yang berlaku di Kota Penutup atap direncanakan memakai bahan
Semarang. Kombinasi pembebanan genteng dipasang di atas
digunakan dengan beberapa alternatif, gording baja profil C (kanal). Struktur
yaitu: rangka atap direncanakan memakai
1. Comb 1 = 1 DL + 0,5 LL rangka baja profil dobel siku.
2. Comb 2 = 1,2 DL + 1,6 Q
3. Comb 3 = 1,05 (DL + LL + Q) 3.1.1 Perhitungan Struktur Rangka
Combo (comb) = beban total untuk Atap
menahan beban yang telah dikalikan 1). Data teknis
dengan faktor beban atau momen dan gaya 1. Bentang kuda- kuda (L) : 20 m
dalam yang berhubungan dengannya. 2. Jarak antar balok atap arah horizontal ( l
DL (dead load) = beban mati atau momen ) : 3,354 m
dan gaya dalam yang 3. Kemiringan atap ( ) : 45
berhubungan dengan beban mati. 4. Penutup atap : genteng (50 kg/m)
LL (live load) = beban hidup atau momen 1. Sambungan konstruksi : baut (BJ 37)
dan gaya dalam yang 2. Mutu baja profil siku : BJH 37
berhubungan dengan beban hidup. 3. Tegangan dasar baja (d) : 1600 kg/cm
Q (quake) = beban gempa atau momen dan 4. Jenis kayu (reng dan usuk) Bengkirai :
gaya-gaya yang Kelas kuat II
berhubungan dengan beban gempa. 5. Koefisien angin pantai : 40 kg/m 1
6. Tegangan lentur kayu ( lt ) : 100 Ptot = 790,8787 kg
kg/cm Titik buhul (P) = 790,8787 kN
2). Perencanaan Reng diambil = 791 kN
a. Pembebanan Reng P = 395,5 kN
b. Momen yang terjadi b. Beban Angin (bangunan di pantai, P =
c. Dimensi Reng 40 kg dan = 450)
d. Kontrol Lendutan Koefisien angin tekan = (0,02 . ) 0,4
e. Kontrol Tegangan = (0,02 . 45) 0,4
= 0,5
Koefisien angin hisap = - 0,4
3. Perencanaan Usuk Beban angin tekan (Wt) = 0,2 . 40 .
a. Pembebanan Usuk 3,354 . 1,665
b. Momen yang terjadi = 111,6882 kg
c. Karena Berat Pekerja diambil = 112 kg
d. Karena Beban Angin Angin pada tumpuan (1/2 Wt) = 56 kg
e. Dimensi Usuk Beban angin hisap (Wh) = - 0,4 . 40 .
f. Kontrol Lendutan 3,354 . 1,665
g. Kontrol Tegangan = - 89,3501 kg
diambil = 90 kg
4. Perencanaan Gording Angin pada tumpuan (1/2Wh) = 45 kg
a. Pembebanan
Jarak antar balok (l) = 3,354 m 6. Perhitungan kuda kuda
Jarak gording (Jgd) = 1,665 m
Jarak plapon (Jp) = 1,50 m 3.2 Perhitungan Pondasi
Berat sendiri gording ditafsir (ggd) = 5,93
kg/m 3.2.1 Uraian Umum
Berat sendiri plapon (gp) = 18 kg/m Sebelum dimulai pembangunan Gedung
b. Berat pada gording (qg) Dekranasda, maka dilaksanakan
c. Karena Berat Pekerja (LL) penyelidikan tanah pada lokasi tersebut.
d. Karena Beban Angin (Whisap, Wtekan) Penyelidikan tanah yang dilakukan
e. Pendimensian Gording meliputi pekerjaan sondir dan pekerjaan
f. Analisa Pembebanan boring, serta pengambilan contoh tanah
(sampling) untuk diselidiki mengenai sifat-
5. Perhitungan pembebanan struktur sifat fisik dan sifat-sifat mekanikmya di
rangka laboratorium. Dari hasil pengujian tanah
a. Beban Mati tersebut disarankan untuk menggunakan
Berat penutup atap (genting) = ggt . l . pondasi pancang sesuai panjang beban
Jgd yang bekerja dan tidak melebihi daya
= 50 . 3,354 . 1,665 dukung izin (Qa) dari data sondir. Untuk
= 279,2205 kg itu, Gedung Dekranasda ini direncanakan
Berat sendiri gording = ggd . l dengan pondasi tiang pancang.
= 11 . 3,354 m Selanjutnya, besaran sifat-sifat tanah dan
= 249,2202 kg harga-harga mechanichal properties tanah
Berat sendiri plafond = gp . l . Jp hasil pengujian di laboratorium dapat
= 18 . 3,354 . 1,5 dilihat pada laporan hasil penyelidikan
34 tanah.
= 90.558 kg 3.2.2 Analisis Daya Dukung
Beban hidup = 100 kg Data tanah hasil sondir:
P = 718,9807 kg Kedalaman tanah (Df) : 30 m
Berat Branching 10 % = 71,807 kg Konus (qc) : 140 kg/m2
Total friksen (Tf) : 200 kg/m2 2262 / .2/ 05/
Sf1 : 5 42/ /
Sf2 : 10 SD
Berat sendiri beton (gb) : 24 kN/m2 SA
Diameter panjang (d) : 0,45 m
Tanggal 3 Mei, Tentang Petugas Teknis
3.2.3 Perhitungan Pondasi Pelaksanaan Keppres RI No. 18 tahun
2000 Tentang pedoman Pelaksanaan
4. SYARAT SYARAT UMUM Pengadaan Barang/jasa Instansi
Pasal I. 01 Pemerintah.
PERATURAN UMUM
Tatkala dalam penyelenggaraan bangunan 5. Surat Keputusan Dirjen Cipta Karya
ini dilaksanaakan berdasarkan peraturan- Departemen Pekerjaan Umum Nomor :
peraturan sebagai berikut : 0295/KPTS/CK/1997 tanggal 1 April
1997, tentang Pedoman Operasional
1. Sepanjang tidak ada ketentuan lain Pelaksanaan Penyelenggaraan
untuk melaksanakan pekerjaan borongan Pembangunan, Pemeliharaan dan
bangunan di Indonesi, maka sah dan Perawatan (Rehabilitas, Renovasi,
mengikat adalah syarat-syarat umum Restorasi) Bangunan Gedung Negara.
(disimngkat SU) untuk melaksanakan
pekerjaan borongan bangunan Indonesia 6. Peraturan Mendagri No. 2 tahun 1999
(AV) yang disyahkan dengan surat dan No. 3 tahun 1995 tentang Petunjuk
keputusan Pemerintah No.9 tanggal : 28 Pelaksanaan Proyek APBDN Propinsi
Mei 1941 dan tambahan Lembaran Negara Jawa Tengah.
No. 14571.
7. Suara Menteri Pemukiman dan
2. Surat Keputusan Presiden Republik Prasarana Wilayah RI No. IK. 02.05-
Indonesia No. 42 tahun 2002, Pengganti Mn/134 tanggal 19 Februari 2003, No.
kepres R.I No.17 tahun 2000, dan Kepres Ik.02.05-Mn/135 tanggal 19 februari 2003.
R.I No. 80 Tahun 2003, PenggantiKepres
No. 18 tahun 2000, dan Kepres R.I No. 61 8. Peraturan- peraturan lain yang
Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan berhubungan dengan Pembangunan ini.
Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.
9. Peraturan Pemerintah Daerah setempat
3. Surat Edaran Bersama (SEB) Bappenas yang berhubungan dengan pekerjaan
dan Departeman Keuangan
Nomor : 4.1 PENJELASAN UMUM
07 / / 21/ 0199 1. Pemberian pekerjaan meliputi :
181/ . / 011999 Mendatangkan, pengolahan pengangkutan
SE A semua bahan, pengerahan tenaga kerja,
DVI pengadaan semua alat-alat bantu dan
sebagainya. Yang pada umumnya
Tanggal 11 Januari 1999, Tentang harga langsung atau tidak langsung termasuk di
satuan tertinggi Pembangunan Bangunan dalam usaha penyelesaian dengan baik dan
Gedung Negara Tahun Anggaran menyerahkan pekerjaan dengan sempurna
1999/2000. dan lengkap. Juga disini dimaksudkan
pekerjaan-pekerjaan atau bagian-bagian
4. Surat Edaran Bersama (SEB) Bappenas pekerjaan yang walaupun tidak disebutkan
dan Departeman Keuangan di dalam bestek tetapi masih berada di
Nomor :
dalam lingkungan pekerjaan haruskah dalam usaha penyelesaian dengan baik dan
dilaksanakan sesuai petunjuk Pengguna menyerahkan pekerjaan dengan sempurna
Anggaran. dan lengkap. Juga disini dimaksudkan
2. Pembangunan yang dilaksanakan ialah : pekerjaan-pekerjaan atau bagian-bagian
Pembangunan Gedung 5 (lima)Lantai pekerjaan yang walaupun tidak disebutkan
(Dekranasda) Dinas Perindustrian dan di dalam bestek tetapi masih berada di
Perdagangan Propinsi Jawa Tengah dalam lingkungan pekerjaan haruskah
a. Pekerjaan yang dilaksanakan terdiri dari dilaksanakan sesuai petunjuk Pengguna
: Anggaran.
1. Pembangunan Gedung Dekranasda 2. Pembangunan yang dilaksanakan ialah :
Lima Lantai Pembangunan Gedung 5 (lima) Lantai
2. Instalasi non Standart (Dekranasda) Dinas Perindustrian dan
a. Instalasi dan Panel Perdagangan Propinsi Jawa Tengah
b. Tarikan Feder Genset a). Pekerjaan yang dilaksanakan terdiri
c. Instalasi Telepon dari :
d. Instalasi Komputer
e. Sound system Gedung 1. Pembangunan Gedung Dekranasda
f. Alat Pemadam dan pipa splinker (2 Lima Lantai
gedung) 2. Instalasi non Standart
a. Instalasi dan Panel
3. Sarana dan Fasilitas b. Tarikan Feder Genset
a. Penataan sekat ruangan c. Instalasi Telepon
b. Perapian Delatsi d. Instalasi Komputer
c. Pembenahan Space Frame Lt.5 e. Sound system Gedung
d. Pembuatan Pos Jaga (2 buah) f. Alat Pemadam dan pipa splinker (2
e. Pavingisasi gedung)
f. Saluran
g. Landscaping 3. Sarana dan Fasilitas
h. Pembuatan rumah pompa a. Penataan sekat ruangan
3. Pekerjaan prasarana b. Perapian Delatsi
1. Pekerjaan instalasi listrik yang terdiri c. Pembenahan Space Frame Lt.5
dari pekerjaan titik lampu, titik stop kontak d. Pembuatan Pos Jaga (2 buah)
dan lampu-lampunya juga dan sub panel, e. Pavingisasi
serta stop kontak daya pada semua ruang. f. Saluran
2. Instalasi air bersih dan air kotor g. Landscaping
termasuk instalasi air bersih untuk h. Pembuatan rumah pompa
halaman. 3. Pekerjaan prasarana
3. Penyambungan air bersih. 1. Pekerjaan instalasi listrik yang terdiri
4. Pekerjaan penangkal petir sampai dari pekerjaan titik lampu, titik stop kontak
disetujui oleh instansi yang berwenang. dan lampu-lampunya juga dan sub panel,
5. Pekerjaan halaman meliputi : saluran air serta stop kontak daya pada semua ruang.
hujan dll. 2. Instalasi air bersih dan air kotor
termasuk instalasi air bersih untuk
5. PENJELASAN UMUM halaman.
1. Pemberian pekerjaan meliputi : 3. Penyambungan air bersih.
Mendatangkan, pengolahan pengangkutan 4. Pekerjaan penangkal petir sampai
semua bahan, pengerahan tenaga kerja, disetujui oleh instansi yang berwenang.
pengadaan semua alat-alat bantu dan 5. Pekerjaan halaman meliputi : saluran air
sebagainya. Yang pada umumnya hujan dll.
langsung atau tidak langsung termasuk di
DAFTAR PUSTAKA
Apriyatno, Henry. 2003. Materi Kuliah
Strukur Beton. Jurusan Teknik Sipil FT
UNNES Semarang.
DPU. 1961. Pedoman Perencanaan Kayu
Indonesia 1961. Bandung: Yayasan
Normalisasi Indonesia.
DPU. 1984. Peraturan Perencanaan
Bangunan Baja Indonesia. Bandung:
Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah
Bangunan.
DPU. 1987. Pedoman Perencanaan
Bangunan Baja Untuk Gedung. Jakarta:
Yayasan Badan Penerbit PU.
DPU. 1987. Pedoman Perencanaan
Ketahanan Gempa Untuk Rumah Dan
Gedung. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit
PU.
DPU. 1991. SK SNI T-15-1991-03 Tata
Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung. Bandung: Yayasan
LPMB.
DPU. 1989. Pedoman Beton. Bandung:
Yayasan Penerbit PU.
Gunawan, Rudy. 1988. Tabel Profil
Konstruksi Baja. Yogyakarta: Kanisus.
Suryolelono, K.B. 1994. Teknik Fondasi
Bagian II . Yogyakarta: Nafiri.

Anda mungkin juga menyukai