Anda di halaman 1dari 8

Tugas Meteorologi Maritim

Modifikasi Cuaca

Oleh

JABAL ALTARIK

H22112286

PROGRAM STUDI GEOFISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
Sejarah

Sejarah modifikasi cuaca di dunia diawali pada tahun 1946 ketika Vincent Schaefer
dan Irving Langmuir mendapatkan fenomena terbentuknya kristal es dalam lemari pendingin,
saat schaever secara tidak sengaja melihat hujan yang berasal dari nafasnya waktu membuka
lemari es. Kemudian pada tahun 1947, Bernard Vonnegut mendapatkan terjadinya deposit es
pada kristal perak iodida (Agl) yang bertindak sebagai inti es. Vonnegut tanpa disengaja
suatu hari melihat titik air di udara ketika sebuah pesawat tebang dalam rangka reklame Pepsi
Cola, membuat tulisan asap nama minuman itu. Kedua penemuan penting ini adalah
merupakan tonggak dimulainya perkembangan modifikasi cuaca di dunia untuk selanjutnya.
Modifikasi cuaca dapat berupa hujan buatan ataupun pengurangan hujan.

Tujuan

Modifikasi cuaca diartikan sebagai modifikasi awan secara buatan atas

usaha manusia. Tujuan modifikasi cuaca adalah :

1. Meningkatkan curah hujan

2. Melenyapkan awan

3. Menindas batu es hujan

4. Melerai siklon tropis

Proses Terjadinya Hujan Buatan

Proses Terjadinya Hujan Buatan ini terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan tahapan
tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

Hujan buatan dapat terjadi dengan menaburkan bahan bahan kimia untuk
mempengaruhi terjadinya awan yang disebut dengan zat glasiogenik, yaitu Argentium Iodida
atau Perak Iodida.
Penaburan bahan bahan kimia tersebut dilakukan pada ketinggian diantara 4000
hingga 7000 kaki dengan memperhitungkan faktor faktor seperti arah angin dan kecepatan
angin yang akan membawa awan ke wilayah tempat terjadinya hujan buatan.

Penaburan bahan bahan kimia ini juga harus dilakukan mulai pada saat pagi hari
sekitar pukul 07.00 pagi, menimbang proses terjadinya awan yang terbentuk secara alami
adalah pada saat pagi hari.

Selain bahan kimia berupa zat glasiogenik, ditaburkan pula zat kimia berupa zat
higroskopis yang merupakan bahan kimia untuk menggabungkan butir butir air di awan.
Zat higroskopis tersebut berupa garam (NaCl), CaCl2 dan Urea. Zat tersebut yang digunakan
dalam melakukan proses hujan buatan ini adalah yang berbentuk bubuk dengn diameter
butiran antara 10 50 mikron.

Bahan bahan kimia tersebut ditaburkan ke awan yang ada di langit dengan
menggunakan pesawat terbang, kecuali Urea.

Setelah ditaburkan, bahan bahan kimia tersebut akan mempengaruhi awan tersebut
untuk berkondensasi sehingga membentuk awan yang lebih besar dan mempercepat proses
terjadinya hujan.

Beberapa jam setelah menaburkan bahan bahan kimia yang mempengaruhi awan
untuk berkondensasi tersebut, barulah bubuk urea ditaburkan. Bubuk Urea ini fungsinya
sama, yaitu untuk membantu awan membentuk dan menggabungkan kelompok kelompok
awan kecil untuk membentuk jenis jenis awan yang lebih besar dan berwarna abu abu.
Awan besar berwarna abu abu inilah yang dinamakan dengan awan hujan.

Urea ini ditaburkan pada sekitar pukul 12.00 siang, menimbang bahwa pada saat
tersebut sudah banyak kelompok kelompok kecil awan yang terbentuk.

Setelah awan hujan terbentuk, larutan bahan kimia ditaburkan kembali ke awan
tersebut. tetapi kali ini berbentuk larutan. Larutan bahan bahan kimia tersebut memiliki
komposisi air, urea dan amonium nitrat dengan perbandingan 4:3:1. Larutan ini berfungsi
untuk mendorong awan hujan untuk membentuk butir butir air yang lebih besar karena
butir-butir air yang besarlah yang dapat menimbulkan hujan pada awan hujan.

Alternatif lain dalam menaburkan bahan kimia pembuat hujan tersebut selain
menggunakan pesawat adalah dengan Ground Base Generator yang menaburkan bahan kimia
dengan cara mengemas bahan bahan kimia yang akan ditaburkan dalam bentuk flare yang
dibakar diatas menara pada suatu ketinggian tertentu.

Teknologi Modifikasi Cuaca

Aerosol Besar

Data percobaan menunjukkan bahwa partikel aerosol besar yang memasuki


awan bertindak sebagai pusat pertumbuhan pertambahan (accreation). Pertikel
memperbesar tetes awan selama mengalami kenaikan sampai kecepatan ke atas tidak
lagi lagi dapat menopangnya, sesudah itu tetes jatuh ke luar awan. Waktu tinggal
partikel aerosol besar di dalam awan nisbi singkat sehingga menghasilkan tetes hujan
yang lebih kecil Sebaliknya partikel aerosol kecil dapat mencapai ketinggian (paras)
yang tinggi di atas dasar awan. Waktu tinggi partikel kecil di dalam awan lebih lama
sehingga menghasilkan tetes hujan yang lebih besar.

Kelembapan Kritis Garam

Pembentukan awan memerlukan inti kondensasi dengan uap air


mengkondensasi padanya dan membentuk tetes awan. Partikel yang higrokopis hanya
menangkap uap air pada kelembapan nisbi tertentu yang disebut kelembapan nisbi
kritis (RHc). Kelembapan nisbi kritis berbagai garam yang memainkan peranan inti
kondensasi di dalam atmosfer telah banyak diketahui.

Teknologi Hujan Rangsangan

Teknik modifikasi awan dan hujan rangsangan sebagai berikut :

1. Dengan membenih partikel higroskopis besar atau tetes air ke dalam awan panas,
agar dapat merangsang pertumbuhan tetes hujan oleh mekanisme benturan strip
tangkapan.

2. Dengan membenih inti es buatan ke dalam awan dingin yang kekurangan inti es
alam dalam konsentrasi sekitar satu per liter, agar dapat merangsang produksi
endapan oleh mekanisme Kristal es.
3. Dengan menginjeksikan inti es buatan dengan konsentrasi yang tinggi ke dalam
awan dingin agar dapat mengurangi secara drastic konsentrasi tetes kelewat dingin
sehingga menghalangi pertumbuhan partikel es oleh deposisi dari pembekuan. Hal ini
cenderung melenyapkan awan dan menindas pertumbuhan partikel endapan.

4. Evaluasi Modifikasi Awan

Tekhnik evaluasi hasil uji coba modifikasi awan dan endavan berupa evaluasi fisis
dan statistik. Evaluasi fisis, termasuk di sini uji lapangan, efek jenis pembenihan
buatan pada awan, dan penentuan hubungan sebab dan akibat, yang berasal dengan
pengintian di dalam awan dan berakhir dengan endavan di permukaan tanah.

Evaluasi stastistik termasuk di sini melakukan pembenihan buatan di bawah kondisi


khusus tertentu (misalnya, suhu puncak awan dalam jangka waktu tertentu, angin dari
suatu arah tertentu , dan sebagainya), dan membandingkan secara statistik endapan
dalam daerah sasaran tertentu pada saat lainnya bila kondisi yang ada dianggap sama,
tetapi pembenihan tidak dilakukan.

5. Pembenihan Awan Konvektif

Awan cumulus dapat digolongkan sebagai awan panas, jika suhunya diatas 0oC, atau
dapat digolongkan sebagai awan dingin, jika awan ini tumbuh jauh kelapisan beku,
sehingga suhu awan sebagian atau seluruhnya dibawah 0oC. Dalam awan panas, jika
tetes awan mempunyai ukuran serba sama maka kecepatan jatuh terminal juga sama
sehingga kemungkinan benturan dan tangkapan sangat kecil. Jika R = r, maka V = v
sehingga (V v) = 0 da dRdt = 0, jadi tidak terdapat pertumbuhan ukuran tetes.

Secara alamiah awan ini sulit atau tidak dapat menghasilkan hujan. Modifikasi awan
dapat dilakukan dengan menginjeksikan tetes besar kedalam awan sehingga
mekanisme benturan-tangkapan menjadi lebih aktif. Coumulus yang tumbuh
menjulang tinggi jauh ke lapisan atmosfer denga suhu dibawah 0oC, dapat
digolongkan sebagai awan dingin. Pada lapisan awan antara 00C dan -400 tidak terjadi
pengintian air secara spontan, kecuali jika tetes menjumpi inti pembeku atau inti es.
Aerosol buatan yang banyak dipakai untuk merangsang hujan adalah perak iodida
(Agl).
6. Tekhnologi Modivikasi Awan Orografi

Percobaan awan buatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secra aktif dan secara
pasif jenis kedua dilakukan dikawasan Tangkuban Perahu, yaitu dengan
menyemperotkan larutan urea dari menara dispenser. Masuknya larutan ini kedalam
awan bergantung pada kondisi cuaca terutama arah dan kecepatan angin, serta
setabilitas udara

7. Hujan Orografi

Jika udara lembab naik ke gununug atau pegunungan yang tinggi maka uap air akan
mengkondensasi setelah melalui paras kondensasi. Pada lereng diatas angin
(windward side) banyak terjadi hujan sedangkan pada lereng di bawah angin , udara
mengalami pemanasan , daerah ini kurang hijau. Karena kecepatan diatas gunung
biasanya kencang, maka awan orografi tumbuh miring dan tidak tinggi sehingga
ketebalan awan lebih tipis dibandingkan awan konveksi di dataran rendah. Puncak
awan orografi ditentukan oleh ketebalan dan stabilitas masa udara lembab dekat
pegunungan. Awan orografi dapat terjadi oleh kombinasi kenaikan paksa dan efek
pemanasan permukaan. Jadi awan orografi dapat terjadi karena efek orografi dan arus
konfektif. Paras 00C di atas kawasan Tangkuban Perahu terletak pada ketinggian
kurang lebih 5 km. Pada ketinggian yang suhunya beberapa derajat dibawah 00C tetes
awan masih berbentuk cairan yang disebut tetes air kelewat dingin Awan orografi
yang terbentuk diatas gunung Tangkuban Perahu sebagian beasar terletak di bawah
paras 00C, karena itu dapat digolongkan sebagai awan cair yang mengandung tetes
awan di atas 00C dan sebagian tetes awan kelewat dingin. Dengan demikian proses
pembentukan tetes hujannya selain melalui proses kondensasi melibatkan proses
bowen-ludlam atau mekanisme berbenturan atau tangkapan sedangkan proses
bergerond-findesen atau perubahan kristal es diduga sangat kecil atau tidak ada.
Bentuk awan orografi cair pembenihan awan dilakukan dengan menginjeksikan tetes
tetes larutan urea kedalam awan orografi dengan bantuan menara dispenser.
Keefektipan tetes yang diinjeksikan kedalam awan bergantung pada arus udara yang
mendekati ke gunung dan kestabilan atmosfer pada puncak gunung.
8. Pelenyapan Awan Dan Penindasan Batu Es

Konsep penyerapan awan oleh pembenihan hampir sama dengan peningkatan hujan.
Partikel besar atau inti es diinjeksikan untuk mencapai tetes awan sehingga daerah
tersebut menjadi cerah. Percobaan dengan memakai garam dan semperotan air telah
dilakukan sejak awal 1938. Kabut es pada musim dingin pada beberapa tempat
dibagin utara bumi, juga merupakan masalah yang belum terlupakan Dua alasan telah
dikemukakan untuk meredakan batu es hujan oleh pembenihan awan dengan inti es.
Pertama melibatakan pembekuan semua tetes kelewat dingin pada bagian atas
cumulonimbus yang menghasilkan batu es hujan, efeknya ialah membasmi proses
pertumbuhan akresional (pertambahan), menghilangkan kemungkinan pembentukan
batu es beasar. Kedua adalah lebih sederhana dalam pemakaian bahan pembenihan
dan melibatkan penambahan inti es hanya terbatas dalam daerah awan tempat batu es
diperkirakan mempunyai kecepatan pertumbuhan maksimum. Daerah ini mengandung
inti es alam atau partikel endapan, yaitu emberio batu es hujan.

Dampak Hujan Buatan

Hujan buatan dapat memberikan dampak yang positif yang bermanfaat


maupun dampak yang negatif yang merugikan. Dampak dampak tersebut di
paparkan di bawah ini.

Dampak Positif Hujan Buatan


1. Hujan buatan dapat mengatasi kekeringan yang terjadi pada wilayah yang
mengalami kekeringan.
2. Hujan buatan dapat mengatasi masalah kabut asap akibat kebakaran hutan.
3. Hujan buatan membantu pengisian air waduk atau macam macam danau untuk
keperluan irigasi, ketersediaan air bersih ataupun pembangkit listrik tenaga air,
dan lain-lain.
Dampak Negatif Hujan Buatan

1. Hujan buatan yang terbuat dari adanya campuran bahan kimia bisa menimbulkan
efek hujan yang mengandung bahan kimia pula yang bisa jadi menimbulkan hujan
asam yang berbahaya bagi yang terkena guyuran hujan ini.
2. Hujan buatan dapat menyebabkan pencemaran tanah karena proses penaburkan
garam dalam jumlah sangat banyak bahkan dapat hingga bertonton jumlahnya,
menimbulkan hujan yang sifatnya asin dan memberikan efek lapisan tanah yang
terkena guyurannya akan menjadi asin pula sehingga menyebabkan lahan
pertanian menjadi rusak bahkan gagal panen karena lapisan jenis jenis tanah
menjadi kelebihan kandungan garam.
3. Hujan buatan juga dapat menjadi penyebab banjir jika hujan yang terjadi tidak
tepat sasaran.
4. Hujan buatan dapat merubah siklus hidrologi yang akan membahayakan pasokan
air tanah di musim kemarau.
5. Hujan buatan akan menimbulkan kerugian materi yang cukup besar jika hujan
yang turun dari hasil hujan buatan tidak tepat sasaran, baik kerugian dari materi
yang dikeluarkan untuk melakukan proses hujan buatan maupun dari hasil dampak
ketika hujan buatan salah sasaran.