Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ekstremitas (anggota gerak) mempunyai fungsi lokomotris. Dibedakan antara
ekstremitas atas dan bawah karena manusia sebagai insan yang berdiri tegak memerlukan
anggota gerak bawah yang kokoh dan; sedangkan anggota gerak atas mempunyai fungsi
yang halus, sehingga bentuk dan susunan anggota gerak yang terdiri dari tulang/otot dan
persendian mempunyai gerakan yang berbeda pula sesuai dengan fungsi tiap bagian
tersebut.
Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia sebagai
salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat menyebabkan fraktur.
Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah raga dan rumah tangga.
Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya disebabkan
oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dapat
diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks jatuh di mana lengan menahan badan
dengan posisi siku agak menekuk seperti gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung.
Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak, fraktur yang
mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal,
dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type
green-stick. Fraktur tulang radius dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah atau 1/3
distal.

1.2 TUJUAN
1.2.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, pemeriksaan fisik, diagnosis dan
penatalaksanaan fraktur radius ulna tertutup.

1.3 MANFAAT
2

1.3.1 Menambah wawasan mengenai penyakit bedah khususnya fraktur


radius ulna tertutup.
1.3.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti
kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah ortopedi.

BAB II
3

STATUS PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : An. M
Umur : 15 tahun
Jenis kelamin : Pria
Agama : Islam
Alamat : Kalisari
Tanggal MRS : Rabu, 9 Agustus 2017
No. Reg : 156242

2.2 ANAMNESA
1. Keluhan utama : nyeri pada tangan kanan
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD RST dr. Soedjono dalam keadaan sadar diantar
oleh keluarga. 30 menit SMRS, pasien terjatuh saat bermain bola dengan
posisi bertumpu pada tangan kanan Setelah itu pasien merasa kesakitan dan
sulit menggerakan lengan bawah kanan.
3. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat trauma sebelumnya tidak ditemukan
Pasien tidak pernah menjalani operasi sebelumnya
4. Riwayat pengobatan
Tidak sedang mengkonsumsi obat.
5. Riwayat Keluarga
Trauma (-)
Operasi (-)
DM (-)
Hipertensi (-)

2.3 Pemeriksaan Fisik


4

1. Keadaan Umum
Sakit sedang, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6).
2. Tanda Vital
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 98x / menit, reguler, isi cukup
Pernafasan : 22x /menit, regular
Suhu : 36oC
3. Kepala :
Luka (-), rambut tidak mudah di cabut, keriput (-), makula (-), papula (-),
nodula (-).
4. Mata :
Mata tidak cowong, konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor
(+/+), reflek kornea (+/+), radang (-/-), warna kelopak mata (coklat
kehitaman).
5. Hidung :
Nafas cuping hidung (-/-), secret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-),
hiperpigmentasi (-/-).
6. Mulut :
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah
hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-).
7. Telinga :
Nyeri tekan mastoid (-/-), sekret (-/-), pendengaran berkurang (-/-), cuping
telinga dalam batas normal.
8. Tenggorokan :
Tonsil membesar (-/-), faring hiperemis (-/-)
9. Leher :
Trakea di tengah, pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).
10. Toraks :
Normochest, simetris, pernafasan thorakoabdominal, retraksi (-), spidernevi
(-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-)
5

Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : Batas kiri atas : ICS II linea para sternalis sinistra
Batas kanan atas : ICS II linea para sternalis dekstra
Batas kiri bawah : ICS V linea medio clavicularis sinistra
Batas kanan bawah : ICS IV linea para sterna dekstra
Pinggang jantung : ICS II linea para sternalis sinistra
(kesan jantung tidak melebar)
Auskultasi : Bunyi jantug I-II intensitas noral, regular, tidak didapatkan
bising jantung

Pulmo
Inspeksi : Pengembangan dada kanan sama dengan kiri, benjolan (-),
luka (-)
Palpasi : Fremitus taktil kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-),
krepitasi (-)
Perkusi : DBN
Auskultasi : suara dasar vesikular
11. Abdomen :
Inspeksi : Dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-),
jaringan parut/bekas luka (-), tumor/benjolan (-).
Auskultasi : Bising usus 18x/menit (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (-), meteorismus (-), hepar dan
lien tidak teraba
Perkusi : timpani
12. Status Lokalis
Regio antebrachii dextra
Look : Tak tampak luka terbuka, terlihat deformitas berupa pembengkakan.
6

Feel : Didapatkan adanya nyeri tekan setempat, teraba hangat, sensibilitas (+), CRT
< 2 detik. Arteri radialis teraba.
Move : Gerakan aktif dan pasif terhambat, sakit bila digerakkan, gangguan
persarafan tidak ada. False of movement (+)

2.4 RESUME
Anak usia 15 tahun datang dengan keluhan nyeri dan tak dapat digerakkan serta
bengkak pada lengan bawah sebelah kanan setelah terjatuh saat bermain bola.
Dari pemeriksaan lokalis pada regio antebrachii dextra didapatkan deformitas
(+) berupa pembengkakan,didapatkan adanya nyeri tekan setempat, teraba hangat,
gerakan aktif dan pasif terhambat. False of movement (+)

2.5 ASSESMENT
Close Fraktur Antebrachii Dextra

2.6 PLANNING DIAGNOSTIK


a. Planning pemeriksaan
Foto Rontgen : Regio antebrachii dextra AP/Lateral
7

Kesan: - Fraktur complete os radius dextra 1/3 media aposisi tidak baik
- Fraktur complete os ulna dextra 1/3 distal
- Tidak tampak tanda-tanda dislokasi

2.7 DIAGNOSA KERJA


Close Fraktur Antebrachii Dextra

2. 8 PLANNING TERAPI
1. Non operatif
Medikamentosa
8

Infus RL 18 tpm
Injeksi ketorolac 20mg
Injeksi acran 3/4 ampul
Non-medikamentosa
- Cek darah lengkap
2. Operatif
Reposisi terbuka dan fiksasi interna: ORIF
Rencana Kamis (10 Agustus 2017)
- Puasa 6 jam pre operasi
- Konsul anestesi

Laboratorium pre Op (9 Agustus 2017)


Px Hasil Satuan Range
WBC 13,3 4,0 10,0
RBC 4,79 3,00 6,0
HGB 13,4 12,0 16,0
HCT 38,2 35,0 45,0
MCV 79,8 81,0 101,0
MCH 28,0 27,0 33,0
MCHC 35,1 31,0 35,0
RDW 11,9 10,0 16,0
PLT 362 150 400
MPV 7,3 7,0 11,0
PCT 0,26 0,20 0,50
PDW 14,7 10,0 18,0
9

RIWAYAT RAWAT INAP


Follow up pre-operasi (9 Agustus 2017)
S O A P
Nyeri Vital Sign: Close fraktur - Infus RL 20
tangan TD: 110/70 mmHg os. Radius dan tpm.
kanan HR: 107x/mnt os. Ulna - Injeksi antrain
RR: 24x/mnt dextra 3x150
S: 37C - Injeksi premed
simextam 1gr
Status Generalis:
KU: baik, CM
Kepala/Leher: dbn
Thorax: dbn
Abdomen: dbn

Status Lokalis:
Look
Tampak terpasang bidai di regio
antebrachii dextra, sianosis (-)
Feel
Akral hangat (+), nyeri tekan (+), a.
Radialis teraba (+), CRT< 2 detik
Move
Tidak dapat diangkat dan
digerakkan (+), nyeri (+).
10

Laporan operasi (10 Agustus 2017)


- Pasien dengan posisi supine dalam general anestesi
- Desinfeksi
- Dilakukan insisi sampai tampak fraktur site pada os radius
- Dilakukan ORIF dan rekonstruksi
- Dilakukan penjahitan
- Dilakukan insisi sampai tampak fraktur site pada os ulna
- Dilakukan ORIF dan rekonstruksi
- Dilakukan penjahitan
- Operasi selesai

Os Radius
11

Os Ulna

Instruksi Post Op
IVFD RL + futrolit 20tpm
12

Simextam 3x1g
Dexketoprofen 3x1amp
Cal 95 2x1 (oral)
Bila sadar baik: boleh makan dan minum bertahap
Foto ulang: AB dextra AP/Lat

Hasil pemeriksaan radiologi post operasi (11 Agustus 2017)


13

Kesan: - Terpasang fiksasi 2 buah plate dan masing-masing 4 buah screw


pada fraktur os radius et ulnae dextra
- Tidak tampak tanda-tanda dislokasi

Follow up post-operasi (11 Agustus 2017)


S O A P
Nyeri post Vital Sign: Post ORIF Close - terapi lanjut
op TD: 100/90 mmHg fraktur os. - ajarkan relaksasi
HR: 80x/mnt Radius dan os. -monitoring KU
RR: 24x/mnt Ulna dextra H+1 & TV
S: 36C - Besok BLPL

Status Generalis:
KU: baik, CM
Skala nyeri: 4

Status Lokalis:
Look
Tampak luka tertutup perban
post operasi, darah (-), pus (-)
Feel
Akral hangat (+), nyeri tekan
(+), a. Radialis teraba (+),
14

CRT< 2 detik
Move
ROM terbatas.

Follow up post-operasi (12 Agustus 2017)


S O A P
15

Nyeri post Vital Sign: Close fraktur os. - terapi lanjut


op TD: 100/90 mmHg Radius dan os. - BLPL
HR: 80x/mnt Ulna dextra H+2
RR: 24x/mnt
S: 36C

Status Generalis:
KU: baik, CM
Skala nyeri: 3

Status Lokalis:
Look
Tampak luka tertutup perban
post operasi, darah (-), pus (-)
Feel
Akral hangat (+), nyeri tekan
(+), a. Radialis teraba (+),
CRT< 2 detik
Move
ROM terbatas.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
16

3.1 ANATOMI RADIUS DAN ULNA

Anatomi Radius

Ujung proximal radius membentuk caput radii (=capitulum radii), berbentuk roda,
letak melintang. Ujung cranial caput radii membentuk fovea articularis (=fossa
articularis) yang serasi dengan capitulum radii. Caput radii dikelilingi oleh facies
articularis, yang disebut circumferentia articularis dan berhubungan dengan incisura
radialis ulnae. caput radii terpisah dari corpus radii oleh collum radii. Di sebelah
caudal collum pada sisi medial terdapt tuberositas radii. Corpus radii di bagian tengah
agak cepat membentuk margo interossea (=crista interossea), margo anterior (=margo
volaris), dan margo posterior. Ujung distal radius melebar ke arah lateral membentuk
processus styloideus radii, di bagian medial membentuk incisura ulnaris, dan pada
facies dorsalis terdapat sulcus-sulcus yang ditempati oleh tendo. Permukaan ujung
distal radius membentuk facies articularis carpi.

Gambar 3. Tulang
Radius
(dikutip dari atlas
anatomi Sobotta )

Anatomi Ulna
Ujung
proximal ulna lebih
besar daripada ujung
distalnya. Hal yang
sebaliknya terdapat pada radius. Pada ujung proximal ulna terdapat incisura
trochlearis (= incisura semiulnaris), menghadap ke arah ventral, membentuk
17

persendian dengan trochlea humeri. Tonjolan di bagian dorsal disebut olecranon. Di


sebelah caudal incisura trochlearis terdapat processus coronoideus, dan di sebelah
caudalnya terdapat tuberositas ulnae, tempat perlekatan m.brachialis. di bagian lateral
dan incisura trochlearis terdapat incisura radialis, yang berhadapan dengan caput
radii. Di sebelah caudal incisura radialis terdapat crista musculi supinatoris. Corpus
ulnae membentuk facies anterior, facies posterior, facies medialis, margo interosseus,
margo anterior dan margo posterior. Ujung distal ulna disebut caput ulnae (=
capitulum ulnae). Caput ulnae berbentuk circumferentia articularis, dan di bagian
dorsal terdapt processus styloideus serta silcus m.extensoris carpi ulnaris. Ujung
distal ulna berhadapan dengan cartilago triangularis dan dengan radius.

Gambar 4. Tulang Ulna


(dikutip dari atlas
anatomi Sobotta )
Kedua tulang
lengan bawah
dihubungkan oleh sendi
radioulnar yang
diperkuat oleh
ligamentum anulare
yang melingkari kapitulum radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat
oleh ligamen radioulnar, yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membranes
interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu
kesatuan yang kuat. Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak
jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang, hampir selalu disertai
dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah tersebut.
Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang, yaitu otot
supinator, m.pronator teres, m.pronator kuadratus yang membuat gerakan pronasi-
18

supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi pada radius dan
ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi,
terutama pada radius.

Gambar 5.
Anatomi radius
dan ulna
(dikutip dari
atlas anatomi
Sobotta )

3.2 DEFINISI
FRAKTUR
Fraktur
atau patah tulang
adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis
baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan,
sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat,
mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah
dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan
tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak
langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur,
misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada
keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktura adalah patah atau ruptur kontinuitas struktur dari tulang atau
cartilago dengan atau tanpa disertai dislokasio fragmen. Kadang kala sering terjadi
fraktur yang terbuka, hal ini sering terjadi karena trauma terjadi pada lapisan jaringan
yang tipis dan lembut. Lokasi fraktur sering terjadi pada bagian tengah dari tulang
19

radius atau pada bagian distal tulang raduis dan ulna atau pada bagian distal atau
keduanya.
Penyebab fraktur secara umum dapat disebabkan menjadi 2, yaitu : penyebab
ekstrinsik dan intrinsik. Penyebab ekstinsik juga dapat dibedakan menjadi 2 bagian
yaitu penyebab fraktur akibat gangguan langsung yaitu berupa trauma yang
merupakan penyebab utama terjadinya fraktur, misalnya kecelakaan, tertabrak, jatuh.
Penyebab yang lainnya adalah fraktur akibat gangguan tidak langsung seperti
perputaran, kompresi. Penyebab fraktur secara intrinsik dapat diakibatkan kontraksi
dari otot yang menyebabkan avulsion fraktur. Fraktur patologis adalah fraktur yang
diakibatkan oleh penyakit sistemik seperti neoplasia, cyste tulang, ricketsia,
osteoporosis, hiperparatyroidisme, osteomalasia. Tekanan yang berulang juga dapat
menyebabkan fraktura.
3.3 ETIOLOGI
Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat:
1. Peristiwa trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau
penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang
terkena, jaringan lunaknya juga pasti rusak. Bila terkena kekuatan tak langsung,
tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena
kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.
2. Fraktur kelelahan atau tekanan
Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal,
terutama pada atlet, penari, dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.
3. Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya
oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit Paget).
Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam
tingkat yang berbeda; daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik
20

pendek, biasanya pada tingkat yang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari
fragmen tulang dapat menembus kulit; cedera langsung akan menembus atau
merobek kulit diatas fraktur. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling
lazim.
Banyak diantara fraktur itu disebabkan oleh trauma tumpul, dan resiko
komplikasinya berkaitan langsung dengan luas dan tipe kerusakan jaringan lunak.
Tscherne (1984) menekankan pentingnya menilai dan menetapkan tingkat cedera
jaringan lunak:
C0 = kerusakan jaringan lunak sedikit dengan fraktur biasa
C1 = abrasi dangkal atau kontusio dari dalam
C2 = abrasi dalam, kontusio jaringan lunak dan pembengkakan, dengan fraktur berat
C3 = kerusakan jaringan lunak yang luas dengan ancaman sindroma kompartemen.

3.4. DIAGNOSIS
Film polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama
pada sistem skeletal. Gambar harus selalu diambil dalam dua proyeksi.
Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan
kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun
beberapa diantaranya sangat rentan.
Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :
Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau
menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur minor.
Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.
Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks.
Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP dan lateral
view. Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan tulang ulna tidak bersilangan,
serta posisi lengan bawah menghadap ke arah datangnya sinar (posisi anatomi). Sinar
datang dari arah depan sehingga disebut AP (Antero-Posterior).
21

Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan tangan untuk
menilai sebuah fraktur distal radius yaitu AP, lateral, dan oblik. Posisi AP bertujuan
untuk menilai kemiringan dan panjang os radius, posisi lateral bertujuan untuk
menilai permukaan artikulasi distal radius pada posisi normal volar (posisi anatomis).
Berikut ini gejala klinis dari beberapa jenis fraktur yang terdapat pada fraktur
radius dan ulna :
Fraktur Kaput Radius
Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak
pernah ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadang-kadang terasa nyeri saat lengan
bawah dirotasi, dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk untuk
mendiagnosisnya.
Fraktur Leher Radius
Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan
mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius dapat retak
atau, patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada
leher radius. Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Pada fraktur ini
kemungkinan terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi.
Fraktur Diafisis Radius
Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X
Fraktur Distal Radius
Fraktur Distal Radius dibagi dalam :
1) Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi yaitu fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi
radio-ulna distal. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi ke arah
dorsal. Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fraktur ini akibat
terjatuh dengan tangan terentang dan lengan bawah dalam keadaan pronasi, atau
terjadi karena pukulan langsung pada pergelangan tangan bagian dorsolateral.
Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung
bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda yang mencolok. Perlu
dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris, yang sering terjadi.
22

Gambar 6.
Fraktur Galeazzi

2) Fraktur
Colles
Fraktur ini
akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi di korpus distal,
biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fragmen distal bergeser ke arah
dorsal dan proksimal, memperlihatkan gambaran deformitas garpu-makan
malam (dinner-fork). Kemungkinan dapat disertai dengan fraktur pada prosesus
styloideus ulna.
Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan angulasi
ke posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi fragmen distal ke radial. Dapat
bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna. Fraktur collees
dapat terjadi setelah terjatuh, sehingga dapat menyebabkan fraktur pada ujung
bawah radius dengan pergeseran posterior dari fragmen distal.
3) Fraktur Smith
Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara
langsung pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera pergelangan tangan,
tetapi tidak terdapat deformitas. Fraktur radius bagian distal dengan angulasi
atau dislokasi fragmen distal ke arah ventral dengan diviasi radius tangan yang
memberikan gambaran deformitas sekop kebun (garden spade).
23

Gambar 7. Fraktur Colles dan fraktur Smith

Gambar 8.
Gambaran
radiologi
fraktur Smith
24

Gambar 9. Gambaran radiologi fraktur Colles

4) Fraktur Lempeng Epifisis


Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang di daerah
ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen.
Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dan
dibagi dalam 5 tipe :

Gambar 10. Klasifikasi Salter Harris

Paling umum adalah tipe II, dengan fragmen metafisis triangular terlihat di
dorsal.
- Tipe I
Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang, sel-
sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. Fraktur ini
terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi baru
25

lahir dan pada anak-anak yang lebih muda. Pengobatan dengan reduksi
tertutup mudah oleh karena masih ada perlekatan periosteum yang utuh dan
intak. Prognosis biasanya baik bila direposisisdengan cepat.
26

Gambar 11. Cedera Salter Harris tipe I


27

- Tipe II
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui
sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk
suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut tanda Thurson-
Holland. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat.
Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi pada anak-anak
yang lebih tua. Periosteum mengalami robekan pada daerah konveks tetapi
tetap utuh pada daerah konkaf. Pengobatan dengan reposisi secepatnya tidak
begitu sulit kecuali bila reposisi terlambat harus dilakukan tindakan operasi.
Prognosis biasanya baik, tergantung kerusakan pembuluh darah.

Gambar 12. Cedera Salter Harris tipe II pada tulang radius ulna

- Tipe III
Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra-artikuler. Garis
fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang
garis lempeng epifisis. Jenis fraktur ini bersifat intra-artikuler dan biasanya
ditemukan pada epifisis tibia distal. Oleh karena fraktur ini bersifat intra-
28

artikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya dilakukan


operasi terbuka dan fiksasi interna dengan mempergunakan pin yang halus.
29
30

Gambar 13. Cedera Salter Harris tipe III atau Tillaux fracture
- Tipe IV
Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang melalui
permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan epifisis dan
berlanjut pada sebagian metafisis. Jenis fraktur ini misalnya fraktur kondilus
lateralis humeri pada anak-anak. Pengobatan dengan operasi terbuka dan
fiksasi interna dilakukan karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot.
Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakuakn.
31
32

Gambar 14. Cedera Salter Harris tipe IV

- Tipe V
Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan
pada lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang badan
yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut. Diagnosa sulit karena secara
radiologik tidak dapat dilihat. Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan
sebagian atau seluruh lempeng pertumbuhan.
33

Gambar 15. Cedera Salter Harris tipe V


34

5) Fraktur Monteggia
Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakan saat
jatuh atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga proksimal
dengan angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anterior kaput radius.

Gambar 16. Fraktur


Monteggia

CT scan di
gunakan untuk
mendeteksi letak struktur fraktur yang kompleks dan menentukan apakah fraktur
tersebut merupakan fraktur kompresi, burst fraktur atau fraktur dislokasi. Biasanya
dengan scan MRI fraktur ini akan lebih jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak,
kerusakan ligament dan adanya pendarahan.
35

Gambar 17. Gambaran CT Scan Fraktur Radius Ulna

3.5 PENATALAKSANAAN
Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi.
Fraktur radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil
sehingga umumnya membutuhkan terapi operatif. Fraktur yang tidak disertai
perubahan posisi ekstraartikular dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulna dapat
diatasi secara efektif dengan primary care provider. Fraktur distal radius umumnya
terjadi pada anak-anak dan remaja, serta mudah sembuh pada kebanyakan kasus.
Terapi fraktur diperlukan konsep 4R yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi,
terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.
36

1. Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang


benar sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan
terapinya dapat dipersiapkan lebih sempurna.
2. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-fragmen fraktur
semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak
normal.

3. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau


menahan fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.

4. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur
tersebut dapat kembali normal.

Gambar 18
. Proses

penyembuhan fraktur

Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap
sebagai berikut :
1. Fase hematoma
Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak,
kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah
radang) dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya
37

pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur. Pada ujung
tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan yang
mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.
2. Fase proliferatif
Proliferasi sel-sel periosteal dan endosteal, yang menonjol adalah proliferasi
sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Hematoma terdesak oleh
proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub
periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum
dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Proses dari periosteum dan kanalis
medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu preses yang sama, proses
terus berlangsung kedalam dan keluar dari tulang tersebut sehingga menjembatani
permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini mungkin tampak di beberapa tempat
pulau-pulau kartilago, yang mungkin banyak sekali,walaupun adanya kartilago ini
tidak mutlak dalam penyembuhan tulang. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan
kalsium.
3. Fase pembentukan callus
Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik
akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks
intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida, yang segera bersatu dengan
garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young callus, karena proses
pembauran tersebut, maka pada akhir stadium ter dapat dua macam callus yaitu
didalam disebut internal callus dan diluar disebut external callus.
4. Fase konsolidasi
Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh
aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan
pembentukan lamela-lamela). Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan
sedah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus.
Pada saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang
radioopaque. Fase ini terjadi sesudah 4 (empat) minggu, namun pada umur-umur
lebih muda lebih cepat. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan
38

diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang
normal.
5. Fase remodeling
Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang
banyak dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan kembali
dari medula tulang. Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang terbentuk pada
umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun didalam kanal,
sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti stress/tekanan dan
tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan sebagainya, maka callus yang
sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan
sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya.

3.6 KOMPLIKASI
A. Komplikasi Dini
Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang menahan slab perlu
dibuka atau dilonggarkan. Cedera saraf jarang terjadi, dan yang mengherankan
tekanan saraf medianus pada saluran karpal pun jarang terjadi. Kalau hal ini terjadi,
ligamen karpal yang melintang harus dibelah sehingga tekanan saluran dalam karpal
berkurang. Distroft refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan, tetapi
untungnya ini jarang berkembang lengkap menjadi keadaan atrofi Sudeck. Mungkin
terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi-sendi jari, waspadalah jangan
sampai melalaikan latihan tiap hari. Pada sekitar 5% kasus, pada saat gips dilepas
tangan akan kaku dan nyeri Serta terdapat tanda-tanda ketidakstabilan vasomotor.
Sinar-X memperlihatkan osteoporosis dan terdapat peningkatan aktivitas pada scan
tulang.
Komplikasi patah tulang dapat dibagi menjadi komplikasi segera, komplikasi
dini, dan komplikasi lambat atau kemudian. Komplikasi segera terjadi pada saat patah
tulang atau segera setelahnya, komplikasi dini terjadi dalam beberapa hari setelah
kejadian, dan komplikasi kemudian terjadi lama setelah tulang patah. Pada ketiganya,
dibagi lagi menjadi komplikasi umum dan lokal.
39

B. Komplikasi lanjut
Malunion
Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak lengkap atau karena
pergeseran dalam gips yang terlewatkan. Penampilannya buruk, kelemahan dan
hilangnya rotasi dapat bersifat menetap. Pada umumnya terapi tidak diperlukan. Bila
ketidakmampuan hebat dan pasiennya relatif muda, 2,5 cm bagian bawah ulna dapat
dieksisi untuk memulihkan rotasi, dan deformitas radius dikoreksi dengan osteotomi.
Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi, tetapi prosesus
stiloideus ulnar sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa saja dan tetap mengalami
nyeri dan nyeri tekan selama beberapa bulan. Kekakuan pada bahu, karena kelalaian,
adalah komplikasi yang sering ditemukan. Kekakuan pergelangan tangan dapat
terjadi akibat pembebatan yang lama.
Osteomyelitis
Adapun komplikasi infeksi jaringan tulang disebut sebagai
osteomyelitis, dan dapat timbul akut atau kronik. Bentuk akut dicirikan
dengan adanya awitan demam sistemik maupun manifestasilocal yang berjalan
dengan cepat. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul sebagaikomplikasi dari
infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga (otitis
media) dan kulit (impetigo). Bakterinya (Staphylococcus aureus,
Streptococcus, Haemophylus influenzae) berpindah melalui aliran darah menuju
metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam
sinusoid.
Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat
peradangan yang terbatas ini akan tersas nyeri dan nyeri tekan. Perlu sekali
mendiagnosis ini sedini mungkin, terutama pada anak-anak, sehingga pengobatan
dengan antibiotika dapat dimulai, dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat
dilakukan dengan pencegahan penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk
mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami kerusaskan yang
dapatmenimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah pada anak-anak yang
40

menderita osteomyelitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam memberikan


pengobatan yang memadai.

(a)
(b)
Gambar 19. (a)
Osteomyelitis Akut pada
Radius Ulna (b)
Osteomyelitis Kronik

Pada orang
dewasa, osteomyelitis
juga dapat awali oleh
bakteri dalam aliran
darah, Namun biasanya
akibat kontaminasi
jaringan saat cedera atau
operasi. Osteomyelitis
kronik adalah akibat
dari osteomyelitis
akut yang tidak di
tangani dengan baik.
Seperti yang sudah
disebutkan sebelumnya,
osteomyelitis sangan
resisten terhadap
pengobatan dengan
antibiotika. Infeksi
tulang sangat sulit untuk
ditangani, bahkan
41

tindakan drainase dan debridement, serta pemberian antibiotika yang tepat masih
tidak cukup untuk menghilangkan penyakit.

3.7 PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada
patahan tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan
tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost
yang disebut dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan
fibrosis, lalu penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung
pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:

Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan


1. Pergelangan tangan 3-4 minggu 7. Kaki 3-4 minggu
2. Fibula 4-6 minggu 8. Metatarsal 5-6 minggu
3. Tibia 4-6 minggu 9. Metakarpal 3-4 minggu
4. Pergelangan kaki 5-8 minggu 10. Hairline 2-4 minggu
5. Tulang rusuk 4-5 minggu 11. Jari tangan 2-3 minggu
6. Jones fracture 3-5 minggu 12. Jari kaki 2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia
(> 8 minggu).
Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun
1997.
Tingkat kematian dari fraktur:
Kematian : 11.696
Insiden : 1.499.999
0,78% rasio dari kematian per insiden
42

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan anamnesa didapatkan, anak usia 15 tahun datang dengan keluhan nyeri
dan tak dapat digerakkan serta bengkak pada lengan bawah sebelah kanan setelah terjatuh
saat bermain bola.
Dari pemeriksaan lokalis pada regio antebrachii dextra didapatkan edema
(+), deformitas (+), didapatkan adanya nyeri tekan setempat, teraba hangat, gerakan aktif
dan pasif terhambat, sakit bila digerakkan. False of Movement (+)
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pada pasien ini dapat didiagnosa
Close Fraktur Radius Ulna Dextra.
43

DAFTAR PUSTAKA

Carter Michel A., Fraktur dan Dislokasi dalam: Price Sylvia A, Wilson Lorraine
McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal 1365-1371

Ekayuda Iwan, Trauma Skelet (Rudapaksa Skelet) dalam: Rasad Sjahriar, Radiologi
Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit Buku Balai Penerbitan FKUI.
Jakarta. 2009. Hal 31-43.
Goh Lesley A., Peh Wilfred C. G., Fraktur-klasifikasi,penyatuan, dan komplikasi
dalam : Corr Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2011. Hal 112-121.
Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes Radiologi.
Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-230.
Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.
Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan keenam. Penerbit PT. Yarsif
Watampone. Jakarta. 2009. Hal 6-11.