Anda di halaman 1dari 46

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Konsep Asam Urat

2. 1. 1 Definisi

Asam urat (gout arthritis) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan

serangan mendadak dan berulang serta adanya arthritis yang terasa sangat nyeri

karena adanya endapan kristal monosodium atau asam urat yang terkumpul di

dalam sendi sebagai akibat dari tingginya kadar asam urat dalam darah (Junaidi,

2008).

Gout adalah penyakit dimana terjadi penumpukan asam urat dalam tubuh

secara berlebihan (Ardelia, 2008).

Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin dan merupakan

senyawa yang sukar larut dalam air (Wiyono, 2010).

Dapat disimpulkan gout atritis adalah suatu proses inflamasi yang terjadi

karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi.gout juga suatu

istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik yang ditandai

dengan meningkatnya konsentrasi asm urat ( hiperurisemia). Gout dapat bersifat

primer maupun sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan

asam urat tubuh yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat

proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu. Ada sejumlah faktor yang

agaknya mempengaruhi timbulnya penyakit gout, termasuk diet, berat badan,

dan gaya hidup. ( Misnadiarly, 2009 ).

6
7

2. 1. 2 Etiologi

a. Faktor keturunan dengan adanya riwayat gout dalam silsilah keluarga.


b. Meningkatnya kadar asam urat karena diet tinggi protein dan makanan kaya

senyawa purin lainya. Purin merupakan senyawa yang akan dirombak

menjadi asam urat dalam tubuh.


c. Penggunaan obat tertentu yang meningkatkan kadar asam urat
d. Penggunaan antibiotika berlebihan yang menyebabkan berkembangnya

jamur, bakteri dan virus yang lebih ganas.


e. Penyakit tertentu pada darah yang menyebabkan terjadi gangguan

metabolisme tubuh.
f. Faktor lain seperti stress, diet ketat, cedera tinggi, darah tinggi dan olahraga

berlebihan (Ardelia, 2008).

Menurut Khosam A. S. Harlinawati (2008) terjadinya gangguan asam urat dipicu

oleh beberapa hal. Berikut ini faktor risiko yang membuat seseorang terserang

asam urat.

1. Genetik

Adanya riwayat asam urat dalam keluarga membuat risiko terjadinya asam

urat menjadi semakin tinggi.

2. Konsumsi alkohol berlebih

Alkohol merupakan penghambat pengeluaran asam urat dari dalam tubuh.

3. Berat badan berlebih


8

Kondisi berat badan yang berlebih (gemuk) dapat menyebabkan asam urat.

Hal ini disebabkan lemak yang banyak terdapat pada tubuh orang gemuk

menghambat pengeluaran asam urat melalui urin.

4. Obat tertentu

Jenis obat tertentu yang dikonsumsi dalam jangka panjang ternyata dapat

meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh, seperti diuretik (peluruh air kencing)

dan aspirin (pencegah serangan jantung).

5. Gangguan fungsi ginjal

Asam urat dikeluarkan bersama urin melalui ginjal. Jika terjadi gangguan

pada ginjal, pengeluaran asam urat juga terganggu.

6. Usia

Penyakit asam urat lebih sering menyerang pria di atas 30 tahun. Hal ini

disebabkan pria mempunyai kandungan asam urat dalam darah lebih tinggi

dibanding wanita. Kandungan asam urat pada wanita baru meningkat selelah

menopause.

7. Penyakit degeneratif (hipertensi, jantung, diabetes mellitus)

Beberapa ahli menyatakan bahwa pada dasarnya asam urat bukan penyakit

pokok. Ia menjadi penyerta dari penyakit degeneratif. Jika kadar asam urat tinggi,

perlu dicurigai adanya penyakit degeneratif.

8. Kurang minum

Kurang minum memicu pengendapan asam urat dan menghambat

pengeluaran asam urat.

2.1.3 Patofisiologi asam urat


9

Gambar 2.1 Patofisiologi asam urat


Sumber (Muttaqin. 2011)

2.1.4 Anatomi fisiologi sendi

a. Pengertian Sendi

Sendi adalah tempat pertemuan antara dua tulang atau lebih. Tulang-tulang ini

dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa,

ligamen, tendon, fasia, atau otot.

b. Fungsi Sendi

Fungsi utama sendi adalah untuk memberikan gerakan fleksibel dalam tubuh.

c. Tipe-Tipe Sendi

1) Sendi Fibrosa (Sinartrodial)

Merupakan sendi yang tidak dapat bergerak.Sendi ini tidak memiliki

lapisan tulang rawan, dan tulang yang satu dengan tulang lainnya

dihubungkan oleh jaringan ikat fibrosa.Terdapat 2 tipe sendi fibrosa :

a) Sutura, diantara tulang-tulang tengkorak.


10

b) Sindesmosis, yang terdiri dari suatu membran interoseous atau suatu

ligamen diantara tulang.

Serat-serat ini memungkinkan sedikit gerakan tetapi bukan merupakan

gerakan sejati.Perlekatan tulang tibia dan fibula bagian distal adalah contoh

sendi fibrosa.

2) Sendi Kartilaginosa (Amfiartrodial)

Merupakan sendi yang dapat sedikit bergerak.Sendi ini ujung-ujung

tulangnya dibungkus oleh tulang rawan hialin, disokong oleh ligamen dan

hanya dapat sedikit bergerak.Ada 2 tipe sendi kartilaginosa :

a) Sinkondrosis adalah sendi-sendi yang seluruh persendiannya diliputi

oleh tulang rawan hialin. Contoh : sendi-sendi kostokondral.

b) Simfisis adalah sendi yang tulang-tulangnya memiliki satu hubungan

fibrokartilago antara tulang selapis tipis rawan hialin yang

menyelimuti permukaan sendi. Contoh : simfisis pubis dan sendi-

sendi pada tulang punggung.

3) Sendi Sinovial (Diartrodial)

Merupakan sendi yang dapat digerakkan dengan bebas.Sendi ini

memiliki rongga sendi dan permukaan sendi dilapisi rawan hialin.Rongga

sendi mengandung cairan sinovial, yang memberi nutrisi pada tulang rawan

sendi yang tidak mengandung pembuluh darah dan keseluruhan sendi

tersebut dikelilingi kapsul fibrosa yang di lapisi membran sinovial.Membran


11

sinovial ini melapisi seluruh interior sendi, kecuali ujung-ujung tulang,

meniscus, dan diskus.Tulang-tulang sendi sinovial juga dihubungkan oleh

sejumlah ligamen dan sejumlah gerakan selalu bisa di hasilkan pada sendi

sinovial meskipun terbatas, misalnya gerakan luncur antara sendi-sendi

metacarpal.Ada beberapa jenis sendi sinovial, yaitu :

a) Sendi peluru, yaitu memungkinkan gerakan bebas penuh. Misalnya:

persendian panggul dan bahu.

b) Sendi engsel, yaitu memungkinkan gerakan melipat hanya pada satu arah.

Contoh : siku dan lutut.

c) Sendi pelana (sendi pelana dua sumbu), yaitu memungkinkan gerakan

pada dua bidang yang saling tegak lurus. Contoh : sendi pada dasar ibu

jari.

d) Sendi pivot, yaitu memungkinkan rotasi untuk melakukan aktivitas

seperti memutar pegangan pintu. Contoh : sendi antara radius dan ulna.

e) Sendi peluncur, yaitu memungkinkan gerakan terbatas kesemua arah.

Contoh : sendi-sendi tulang karpalia di pergelangan tangan.

d. Bagian-Bagian pada Sendi

1) Kapsul Sendi

Terdiri dari suatu selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam yang

terbentuk dari jaringan ikat dengan pembuluh darah yang banyak, dan

sinovium, yang membentuk suatu kantung yang melapisi seluruh sendi, dan

membungkus tendon-tendon yang melintasi sendi.Sinovium tidak meluas


12

melampaui permukaan sendi, tetapi terlipat sehingga memungkinkan

gerakan sendi secara penuh.Lapisan-lapisan bursa di seluruh persendian

membentuk sinovium.Periosteum tidak melewati kapsul sendi

2) Sinovium

Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental yang membasahi

permukaan sendi.Cairan synovial normalnya bening, tidak membeku, dan

tidak berwarna atau berwarna kekuningan.Jumlah yang ditemukan pada

tiap-tiap sendi normal relative kecil (1-3 ml).Hitung sel darah putih pada

cairan ini normalnya kurang dari 200 sel/ml dan terutama adalah sel-sel

mononuklear.Asam hialuronidase adalah senyawa yang bertanggung jawab

atas viskositas cairan synovial dan di sintesis oleh sel-sel pembungkus

synovial.Bagian cair dari cairan synovial diperkirakan berasal dari transudat

plasma.Cairan synovial juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi tulang

rawan sendi.

3) Kartilago Hialin

Kartilago hialin menutupi bagian tulang yang menanggung beban tubuh

pada sendi sinovial.Rawan ini memegang peranan penting dalam membagi

beban tubuh.Rawan sendi tersusun dari sedikit sel dan sejumlah besar zat-

zat dasar yang terdiri dari kolagen tipe II dan proteoglikan yang dihasilkan

oleh sel-sel rawan.Proteoglikan yang ditemukan pada rawan sendi sangat

hidrofilik, sehingga memungkinkan rawan tersebut mampu menahan

kerusakan sewaktu sendi menerima beban yang berat.

4) Kartilago Sendi
13

Kartilago sendi pada orang dewasa tidak mendapat aliran darah, limfe dan

persarafan.Oksigen dan bahan-bahan lain untuk metabolisme dibawa oleh

cairan sendi yang membasahi rawan tersebut. Perubahan susunan kolagen

dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi setelah cedera atau ketika usia

bertambah. Beberapa kolagen baru pada tahap ini mulai membentuk

kolagen tipe satu yang lebih fibrosa.Proteoglikan dapat kehilangan sebagian

kemampuan hidrofiliknya. Perubahan-perubahan ini berarti rawan akan

kehilangan kemampuannya untuk menahan kerusakan bila diberi beban

berat.

Sendi dilumasi oleh cairan synovial dan oleh perubahan-perubahan

hidrostatik yang terjadi pada cairan interstisial rawan. Tekanan yang terjadi

pada rawan akan mengakibatkan pergeseran cairan kebagian yang kurang

mendapat tekanan. Sejalan dengan pergeseran sendi ke depan, cairan yang

bergerak ini juga bergeser ke depan mendahului beban. Cairan kemudian

akan bergerak ke belakang kembali ke bagian rawan ketika tekanan

berkurang. Kartilago sendi dan tulang-tulang yang membentuk sendi

normalnya terpisah selama gerakan selaput cairan ini.Selama terdapat cukup

selaput atau cairan, rawan tidak dapat aus meskipun dipakai terlalu banyak.

5) Aliran Darah ke Sendi

Aliran darah ke sendi banyak yang menuju ke sinovium.Pembuluh darah

mulai masuk melalui tulang subkondral pada tingkat tepi kapsul.Jaringan

kapiler sangat tebal di bagian sinoviumyang menempel langsung pada ruang

sendi.Hal ini memungkinkan bahan-bahan di dalam plasma berdifusi dengan


14

mudah ke dalam ruang sendi. Proses peradangan dapat sangat menonjol di

sinovium, karena di daerah tersebut banyak mendapat aliran darah,

disamping itu juga terdapat banyak sel mast dan sel lain dan zat kimia yang

secara dinamis berinteraksi untuk merangsang dan memperkuat respons.

6) Saraf-Saraf pada Sendi

Saraf-saraf otonom dan sensorik tersebar luas pada ligament, kapsul sendi,

dan sinovium.Saraf-saraf ini berfungsi untuk memberikan sensitivitas pada

struktur-struktur ini terhadap posisi dan pergerakan.Ujung-ujung saraf pada

kapsul, ligamen, dan pembuluh darah adventisia sangat sensitif terhadap

peregangan dan perputaran.Nyeri yang timbul dari kapsul sendi atau

sinovium cenderung difus atau tidak terlokalisasi.Sendi dipersarafi oleh

saraf-saraf perifer yang menyeberangi sendi. Ini berarti nyeri dari satu sendi

mungkin dapat dirasakan pada sendi lainnya, misalnya : nyeri pada sendi

panggul dapat dirasakan sebagai nyeri lutut.

e. Gerakan pada Sendi

1) Fleksi adalah gerakan yang memperkecil sudut antara 2 tulang atau 2 bagian

tubuh, seperti saat menekuk siku (menggerakkan lengan kea rah depan).

Menekuk lutut (menggerakkan tungkai kea rah belakang) atau menekuk

torso kearah samping.

a) Dorsofleksi yaitu gerakan menekuk telapak kaki di pergelangan kearah

depan (meninggikan bagian dorsal kaki).


15

b) Plantar fleksi yaitu gerakan meluruskan telapak kaki pada pergelangan

kaki.

2) Ekstensi adalah gerakan yang memperbesar sudut antara dua tulang atau dua

bagian tubuh.

a) Ekstensi bagian tubuh kembali ke posisi anatomis, seperti gerak

meluruskan persendian pada siku dan lutut setelah fleksi.

b) Hiperekstensi mengacu pada gerakan yang memperbesar sudut pada

bagian-bagian tubuh melebihi 180, seperti gerakan menekuk torso atau

kepala kea rah belakang.

3) Abduksi adalah gerakan bagian tubuh menjauhi garis tengah tubuh, seperti

saat lengan berabduksi.

4) Aduksi adalah gerakan bagian tubuh saat kembali ke aksis utama tubuh atau

aksis longitudinal tungkai.

5) Rotasi adalah gerakan tulang yang berputar di sekitar aksis pusat tulang itu

sendiri tanpa mengalami dislokasi lateral, seperti saat menggelengkan

kepala untuk menyatakan tidak.

a) Pronasi adalah rotasi medial lengan bawah dalam posisi anatomis, yang

mengakibatkan telapak tangan menghadap ke belakang.

b) Supinasi adalah rotasi lateral lengan bawah, yang mengakibatkan telapak

tangan menghadap ke depan.

6) Sirkumduksi adalah kombinasi dari semua gerakan angular dan berputar

untuk membuat ruang membentuk kerucut, seperti saat mengayunkan

lengan membentuk putaran. Gerakan seperti ini dapat berlangsung pada


16

persendian panggul, bahu, trunkus, pergelangan tangan, dan persendian

lutut.

7) Inversi adalah gerakan sendi pergelangan kaki yang memungkinkan

telapak kaki menghadap ke dalam atau ke arah medial.

8) Eversi adalah gerakan sendi pergelangan kaki yang memungkinkan telapak

kaki menghadap ke arah luar. Gerak inversi dan eversi pada kaki sangat

berguna untuk berjalan di atas daerah yang rusak dan berbatu.

9) Protraksi adalah memajukan bagian tubuh, seperti saat menonjolkan

rahang bawah ke depan.

10) Retraksi adalah gerakan menarik bagian tubuh ke arah belakang, seperti

meretraksi mandibula, atau meretraksi girdel pektoral untuk

membusungkan dada.

11) Elevasi adalah pergerakan struktur ke arah superior, seperti saat

mengatupkan mulut atau mengangkat bahu.

12) Depresi adalah menggerakkkan suatu struktur kea rah inferior, seperti saat

membuka mulut.

f. klasifikasi Sendi Berdasarkan Tempat/Letak

1) Sendi-Sendi Kepala

a) Sendi temporomandibular, antara tulang temporal dan kepala mandibula,

adlah satu-satunya sendi kepala yang bisa bergerak dan uniknya gerakan

bisa terjadi pada tiga bidang: ke atas dank e bawah, ke depan dan ke

belakang, dan dari sisi ke sisi.


17

b) Fontanela anterior, merupakan fontanela terbesar dan terletak pada

pertemuan dua tulang parietal dengan tulang frontal.

c) Fontanela posterior, terdapat pada pertemuan tulang parietal dengan

tulang oksipital.

2) Sendi Batang Tubuh

Terdapat sejumlah sendi diantara semua vertebra dari servikal kedua sampai

sekrum.Sendi kartilaginosa terdapat diantara badan vertebra, dan sensi

synovial diantara lengkung vertebra.Ligamen longitudinal anterior dan

posterior membentang dari ujung atas kolumna spinalis sampai sekrum dan

berfungsi memperkuat kolumna. Ligamen yang lain terletak diantara

lengkung vertebra. Di antara tulang iga dan vertebra terdapat sendi

kostovertebral yang memungkinkan gerakan meluncur.

3) Sendi Ekstermitas Atas

a) Sendi sternoklavikular dibentuk oleh ujung sternal klavikula, manubrium

sterni, dan tulang rawan iga pertama.Sendi ini memungkinkan gerakan

meluncur pada klavikula.

b) Sendi akromioklavikular bterletak diantara ujung akromial klavikula dan

akromion scapula dan biasanya berhubungan dengan gerakan bahu.

c) Sendi bahu adalah sendi bola dan mangkuk dan merupakan sendi yang

paling bebas gerakannya pada tubuh manusia.Sendi ini dibentuk oleh

kepala humerus yang masuk ke dalam mangkuk glenoid yang kecil dan

dangkal.Permukaan sendi ini dilapisi tulang rawan dan mangkuk glenoid

diperbesar dan diperdalam oleh suatu batas firokartilago (labrum glenoid)


18

yang melingkari mangkuk tersebut. Tulang-tulang dihubungkan oleh

kapsul ligamentosa yang longgar untuk memberi lingkup gerak yang

luas, tetapi otot-otot yang kuat akan mempertahankan tulang pada

posisinya. Tendon panjang otot bisep berfungsi sebagai ligament

intrakapsuler.tendon ini berjalan melalui alur bisipital ke dalam rongga

sendi dan cenderung mempertahankan permukaan sendi pada posisi

normalnya.

d) Sendi siku adalah kombinasi sendi pelana (antara humerus dengan radius

dan ulna) dan sendi pivot (antara radius dan ulna). Terdapat ligamen yang

kuat di antara ketiga tulang tersebut dan sebuah ligament sirkular yang

mempertahankan kepala radius pada ceruk radial ulna. Ujung bawah

radius juga membentuk sendi pivot dengan ulna.

e) Sendi pergelangan tangan dibentuk oleh ujung bawah radius dengan

tulang-tulang skafoid, lunatum, dan triquetrum.Bersama dengan sendi-

sendi diantara tulang karpalia, dapat dilakukan gerakan fleksi, ekstensi,

aduksi, abduksi, dan sirkumduksi.

f) Sendi-sendi metakarpofalangeus juga dapat melakukan semua gerakan

seperti sendi pergelangan tangan, tetapi sendi-sendi interfalangeus

merupakan sendi pelana dan hanya memberi gerakan fleksi dan ekstensi.

4) Sendi Ekstermitas Bawah

a) Sendi sakroiliaka merupakan sendi sinovial yang memungkinkan sedikit

gerakan rotasi ketika batang tubuh melakukan fleksi dan ekstensi.


19

b) Simfisis pubis merupakan sendi tulang rawan yang sangat sedikit

gerakannya.

c) Sendi pinggul (pangkal paha) merupakan sendi bola dan mangkuk yang

dibentuk oleh kepala femur yang masuk ke dalam asetabulum yang

berbentuk mangkuk.

d) Sendi lutut merupakan sendi terbesar pada tubuh manusia yang

merupakan gabungan dari sebuah sendi kondilar yang terjadi antar

kondilus femur dan tibia dan sebuah sendi plana antara patela dan femur.

Gerakan sendi lutut yang terutama adalah fleksi dan ekstensi.

e) Sendi tibiofibular atas merupakan sendi plana sinovial yang

memungkinkan sedikit gerakan meluncur sedangkan pada ujung bawah

kedua tulang tersebut sedikit rotasi fibula ketika sendi pergelangan kaki

bergerak.

f) Sendi pergelangan kaki merupakan sendi plana yang dibentuk oleh tibia,

fibula, dan talus. Gerakan sendi ini adalah fleksi dan ekstensi yang

disebut dorsifleksi(mengangkat kaki) dan fleksi plantar (mengangkat

tumit).

2.1.5 Gejala asam urat


a. Demam dengan suhu tubuh 38,3 derajat celcius atau lebih. Tidak menurun

selama tiga hari, walaupun telah dilakukan perawatan.


b. Ruam kulit, sakit tenggorokan, lidah berwarna merah atau gusi berdarah.
c. Bengkak pada kaki atau peningkatan berat badan yang tiba-tiba.
d. Diare atau muntah
e. Benjolan keras dari kristal urat (tofi) diendapkan dibawah kulit disekitar sendi.
20

f. Tofi juga terbentuk didalam ginjal dan organ lainnya, di bawah kulit telinga

atau di sekitar siku. Jika tidak di obati tofi pada tangan dan kaki akan pecah

dan mengeluarkan massa kristal yang menyerupai kapur (Junaidi, 2008)

Beberapa stadium pada gout :

a. Hiperurisemia
Tanda dan gejala adanya rasa tidak segar
b. Artritis akut
Serangan akut dapat timbul tanpa presipitasi apapun, tapi dapat pula karena

trauma lokal, pembedahan, stress dan obat-obatan.


c. Fase interkritik (artritis rekuran)
Terjadi artritis rekuren dengan jarak satu serangan yang lainya makin pendek.
d. Artritis kronis
Disebabkan oleh kelainan sendi yang menetap karena destruksi atau

osteoartrosis sekunder.

Kadar Asam Urat

Kadar asam urat normal pada pria dan perempuan berbeda. Kadar asam

urat normal pada pria berkisar 2,5 7 mg/dl dan pada perempuan 2,6 6 mg/dl.

Kadar asam urat diatas normal disebut hiperurisemia.

Perjalanan penyakit yang klasik biasanya dimulai dengan suatu serangan atau

seseorang memiliki riwayat pernah cek asam uratnya tinggi di atas 7 mg/dl, dan

makin lama makin tinggi.

Jika demikian, kemungkinannya untuk menjadi penyakit gout itu makin

besar. Biasanya 25% orang yang asam uratnya tinggi akan menjadi penyakit gout.

Bila kadar asam urat tinggi tapi tidak ada gejala serangan sendi ini disebut

stadium awal. Pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang bertahun-tahun sama
21

sekali tidak muncul gejalanya, tetapi ada yang muncul gejalanya di usia 20 tahun,

30 tahun, atau 40 tahun, (Junaidi, 2008)

2.1.6 Kaji tentang purin

Purinadalah protein dari golongan nukleoprotein, juga salah satu turunan

dari asam amino esensial yaitu asam amino yang sedikit atau tidak dapat disintesis

dan metabolisme pada organ hati, yang terdapat pada setiap orang dalam jumlah

tertentu namunn bila purin tidak dimetabolisme secara sempurna dapat

menyebabkan penumpukan asam urat . Purin secara alamiah terdapat dalam tubuh

kita dan dijumpai pada semua makanan hewani terutama pada berbagai jeroan

(hati, jantung, ginjal, otak dan usus), udang, sarden dan lain-lain. Demikian

dengan alkohol dan makanan yang diawetkan (Misnadiarly, 2009).

2.1.7 Kriteria asam urat yang boleh dilakukan akupresure

1. Persendian terasa ngilu, nyeri, kesemutan, linu bahkan hingga sampai bengkah

dan kemerahan dikarenakan asam urat sudah mulai meradang.

2. Nyeri pada persendian yang terjadi pada pagi hari ketika bangun tidur.

3. Nyeri pada persendian yang terjadi secara berulang-ulang.

4. Nyeri terasa di persendian kaki, tangan, tumit, serta siku.

5. Jika nyeri yang dirasakan sudah begitu sakit biasanya si penderita menjadi

kesulitan untuk bergerak (Misnadiarly, 2009).

2.1.8 Komplikasi

Beberapa komplikasi atau efek samping asam urat dapat menyebabkan :

a. Persendian menjadi rusak sehingga pincang.


b. Peradangan tulang.
22

c. Kerusakan ligamen atau tendan (otot).


d. Batu ginjal (kencing batu).
e. Gagal ginjal.

Hubungi dokter jika anda mengalami gejala serangan asam urat yang

disertai demam, ruam kulit dan bengkak pada sendi (Saputra, 2007).

2.1.9 Penatalaksanaan

Ada dua penatalaksaan pada asam urat yaitu :

.1 Secara farmakologi

Tujuan pengobatan ditujukan untuk mengatasi serangan akut (mendadak)

asam urat, mencegah kambuhnya kembali radang sendi dan pembentukan batu

urat. Sedangkan untuk serangan kronis (kambuhan) dokter akan melakukan

serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisi pasiennya.

a. Allopurinol
Seringkali menjadi pilihan pertama dokter untuk penimbunan asam urat

pada sendi, kulit dan ginjal karena :


a) Allopurinol menghentikan produksi asam urat dengan menghambat kerja

enzim santin oksidasi yang mensintesa senyawa purin sebagai bahan dasar

pembentukan asam urat.


b) Allopurinol mempercecat pembuangan asam urat melalui ginjal.
b. Probenecid
Diberikan sebagai pilihan bila ginjal tidak mampu membuang asamurat

dengan baik.
c. Indometasin
Indometasin adalah obat AINS yang sering juga digunakan dengan nama :

Aknil, Arthrifen, Axalan, Bufect, Bunofa, Dulofen, F.Farsilen, Fenida Fenris,

Ibufen, Mofen. Neo Linucid, Neo Rheum dan Nefena.


d. Ketoprofen
Ketoprofen atau asam benzoit hidropik juga termasuk AINS yang digunakan

untuk mengatasi nyeri dan radang pada gangguan asam urat, diantaranya :
23

Anrema, Fetik, Kaltrofen, Ketros Nasaflam, Ovdrila E, Profecom, Profenid dan

Profenid CR, Pronalges, Rematof dan Rhetoflam (Saputra, 2007)

.2 Secara non farmakologi

a. Olahraga
Olahraga yang teratur memperbaiki kondisi kekuatan dan kelenturan sendi

dan sangat berguna untuk merperkecil resiko terjadinya kerusakan sendi akibat

radang sendi.
b. Diet
Tujuan utamanya menurunkan kadar asam urat darah, juga agar berat

badan tidak melebihi ukuran ideal yang disarankan.


c. Latihan pereganngan
Seperti aerobik tai chi, yoga dan pilates merupakan jenis pelatihan yang

bermanfaat untuk menjaga kelenturan otot dan sendi


d. Melindungi sendi
Biasakanlah menggunakan bahan pembalut otot dan sendi untuk

menghindari cedera, terutama pada waktu anda melakukan olahraga.


e. Kontrol stress
Mengendalikan stres dengan cara relaksasi (Junaidi, 2008).
f. Akupresur
Akupresur adalah menekan titik tertentu dengan menggunakan tekunjuk

maupun ibu jari untuk menstimulasi aliran energi di meridian (Ardelia, P, 2008)

2.1.9 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium untuk memonitor kadar asam urat didalam

darah dan purin. Pemeriksaan darah diperlukan untuk diagnosa asam urat,

sedangkan pemeriksaan urin untuk dignosa batu ginjal. Kadar normal asam urat

pria 2,1-8,5 mg/dl dan wanita 2,0-6,6 mg/dl. Bagi mereka yang berusia lanjut,

kadar sedikit lebih tinggi. Rata-rata kadar normal asam urat adalah 3,0 -7,0 mg/dl.

Bila lebih dari 7,0 mg/dl dapat menyebabkan serangan asam urat yang dianggap
24

berlebihan. Dan bila lebih dari 12 mg/dl dapat menyebabkan terjadinya batu ginjal

(Safitri, 2007).

2. 2 Konsep Akupresur

2.2.1 Definisi

Akupresur merupakan salah satu metode yang sangat mudah dan murah

karena hanya membutuhkan kedua tangan dalam mengatasi nyeri. Akupresur ini

berasal dari pengobatan kedokteran timur, dimana dikenal karena adanya energi

vital di tubuh. Aliran energi ini sangat mempengaruhi kesehatan. Ketiaka aliran

itu terhambat atau berkurang maka anda sangat sakit dan ketika aliran ini bebas

atau baik maka apapun akan sehat. Salah satu teknik untuk melancarkan energi

vital adalah dengan akupresur (Ardelia, 2008).

Akupresur adalah salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan

pemijatan dan stimulasi pada titik tertentu pada tubuh. Di lihat dari namanya

press adalah penekanan. Jadi akupresur adalah penekanan pada titik-titik syaraf

yang berada di kaki manusiasebanyak 57 titik yang berfungsi untuk mengaktifkan

syaraf-syaraf dalam metabolism tubuh kita. Penekanan atau penotokan yang

dilakukanakan merangsang syaraf untuk bekerja efektif. Sebagai salah satu terapi

alternatif akupresur merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam

penyembuhan. Karena selain merangsang syaraf yang kurang aktif juga

merangsang organ yang rusak (Rozikin, 2008).

Akupresur berbeda dari akupuntur karena pada akupresur dilakukan

penekanan secara konstan pada akunpuntur point dan tidak menusuk kulit.

Akupresur point disebut juga potent point yang terdapat pada kulit (Hickman,
25

Bell, Preston., 2008). Sedangkan menurut World Health Organization (WHO)

definisi akupuntur secara luas adalah stimulasi point tertentu pada tubuh

(akupuntur poit) menggunakan jarum, moksibusi, elektris, laser ataupun akupresur

untuk tujuan terapeutik (Rozikin, 2008). Berdasarkan pernyataan tersebut dapat

dikatakan akupresur merupakan bagian dari akupuntur sehingga prinsip kerja

akupresur dan akupuntur adalah sama. Jika di Tiongkok kita mengenal akupuntur,

untuk pijat ala Jepang dikenal dengan istilah shiatsu. Keduanya bisa

dikombinasikan karena hasilnya bisa saling mendukung. Kata Shiatsu terdiri dari

dua kata, shi yang berarti jari tangan dan atsu yang berarti tekanan. Jadi shiatsu

adalah ilmu penyembuhan melalui tekanan jari, atau akupresur.

Akupresur adalah menekan titik tertentu dengan menggunakan tekunjuk

maupun ibu jari untuk menstimulasi aliran energi di meridian (Ardelia, 2008).

Akupresur adalah pemijatan yang hanya membutuhkan kedua tangan atau

benda keras tumpul sebagai pengganti jarum dalam mengatasi nyeri yang anda

rasakan (Ardelia, 2008).

2.2.2 Manfaat Akupresur

a. Melancarkan energi vittal di tubuh yaitu dimaksudkan untuk menyelaraskan

energi vital tubuh atau sumber daya kekuatan tubuh (chi), sumber daya

kekuatan tubuh (prana) maupun tenaga dalam yang terdiri dari unsur yin dan

yang.
b. Memblok reseptor nyeri ke otak yaitu menghambat atau menghalangi

reseptor nyeri yang merangsang susunan saraf pusat yang menyebabkan

timbulnya nyeri.
26

c. Menyebabkan pelepasan endorphine yaitu tekanan pada ttitik akupresur dapat

merangsang susunan saraf pusat yang dapat melepaskan endorphine yang bisa

mengurangi nyeri, (Rozikin, 2008).

2.2.3 Lokasi titik yang bisa di akupresur

a. untuk rematik pada pergelangan tangan: LI 5 Yangxi, TE 4 Yang chi, SI 4

Wangu, PC 7 Daling

LI 5 Yangxi (sedate)

Terletak pada sisi radial pergelangan tangan, anara tendon mm. extensor

policis longus dan brevis.

Gambar 2.2 Lokasi titik akupesur Yangxi (sedate).

TE 4 Yangchi (sedate)

Terletak pada pergelangan tangan.


27

Gambar 2.3 Lokasi titik akupesur TE 4 Yangchi (sedate).

SI 4 Wangu (sedate)

Terletak pada sebuah lekukan yang dibentuk oleh discus meacarpl lima

dengan hamatum.

Gambar 2.4 Lokasi titik akupesur SI 4 Wangu (sedate).

PC 7 Daling (sedate)

Terletak pada pergelangan tangan.


28

Gambar 2.5 Lokasi titik akupesur PC 7 Daling (sedate).

b. untuk rematik pada pergelangan kaki: SP 5 Shangqiu, ST 41 Jiexi, GB 40

Qiuxu

SP 5 Shangqiu (sedate)

Terletak pada sebuah lekukan anterior dan interior malleolus internus.

Gambar 2.6 Lokasi titik akupesur SP 5 Shangqiu (sedate).

ST 41 Jiexi (sedate)

Terletak pada garis lipat kaki, antara tendon-tendon mm. extensor hallu

cislongus dan brevis


29

Gambar 2.7 Lokasi titik akupesur ST 41 Jiexi (sedate).

GB 40 Qiuxu (sedate)

Terletak dalam sebuah lekukan anterior superior talus, anterior malleolus

externus.

Gambar 2.8 Lokasi titik akupesur GB 40 Qiuxu (sedate).

c. untuk rematik pada persendian paha: GB 30 Huantiao, GB 31 Fengshi, GB

29 Juliao, BL 49 Yishe.

GB 30 Huantiao (sedate)
30

Terletak 1/3 lateral garis penghubung titik tertinggi trochanter mayor femuri

dengan hiatus sacrum.

Gambar 2.9 Lokasi titik akupesur GB 30 Huantiao (sedate).

GB 31 Fengshi (sedate)

Terletak ditengah-tengah garis penghubung spina illiaca anterior dengan

fibula lutut.

Gambar 2.10 Lokasi titik akupesur GB 31 Fengshi (sedate).

GB 29 Juliao (sedate)
31

Terletak ditengah-tengah garis penghubung spina illiaca anterior superior

dengan trocanter mayor femuri.

Gambar 2.11 Lokasi titik akupesur GB 29 Juliao (sedate).

BL 49 Yishe (sedate)

Terletak dua jari lateral titik BL 20.

Gambar 2.12 Lokasi titik akupesur BL 49 Yishe (sedate).

d. untuk rematik pada persendian lutut: ST 35 Dubi, ST 36 Zusanli, SP 9

Yinlingquan, GB 34 Yanlingquan.

ST 35 Dubi (sedate)
32

Terletak dibawah patella, lateral ligmen patella.

Gambar 2.13 Lokasi titik akupesur ST 35 Dubi (sedate).

ST 36 Zusanli (sedate)

Terletak tiga cun dibawah patela.

Gambar 2.14 Lokasi titik akupesur ST 36 Zusanli (sedate).

SP 9 Yanlingquan (sedate)

Terletak dibawah condylus medialis tibiae dalam sebuah lekukan yang

terletak medial dari origo m. sartorius.

Gambar 2.15 Lokasi titik akupesur SP 9 Yanlingquan (sedate).

GB 34 Yanlingquan (sedate)
33

Terletak dalam sebuah lekukan anterior dan dibawah kepala fibula, 2 cun

dibawah lutut.

Gambar 2.16 Lokasi titik akupesur GB 34 Yanlingquan (sedate).

e. untuk rematik pada persendian siku: LI 11 Quchi, PC 3 Quze, LI 10

Shousanli, HT3 Shaohai.

LI 11 Quchi (sedate)

Terletak pada sisi lateral siku sewaktu lengan ditekuk.

Gambar 2.17 Lokasi titik akupesur LI 11 Quchi (sedate).

PC 3 Quze (sedate)

Terletak pada lipat siku sisi unlair.

Gambar 2.18 Lokasi titik akupesur PC 3 Quze (sedate).

LI 10 Shousanli (sedate)
34

Terletak dua cun dari lipat siku.

Gambar 2.19 Lokasi titik akupesur LI 10 Shousanli (sedate).

HT3 Shaohai (sedate)

Terletak pada siku bagian medial.

Gambar 2.20 Lokasi titik akupesur HT3 Shaohai (sedate).

f. untuk rematik pada persendian pundak: SI 9 Jianzhen, TE 14 Jianliao, LI 15

Jianyu.

Li 15 Jianyu (sedate)

Terletak diantara acromion dan tuberculum humeri mayor.

Gambar 2.21 Lokasi titik akupesur Li 15 Jianyu (sedate).

TE 14 Jianliao (sedate)
35

Terletak dua cun lateral dari titik LI 15.

Gambar 2.22 Lokasi titik akupesur TE 14 Jianliao (sedate).

SI 9 Jianzhen (sedate)

Terletak dibelakang dan dibawah sendi bahu lateral scapula pada tepi M.

deltoideus.

Gambar 2.23 Lokasi titik akupesur SI 9 Jianzhen (sedate).

g. Untuk hilang rasa pada keempat alat gerak digunakan : LR 3 Tichong, Li 4

Hegu.

Li 4 Hegu (sedate)

Terletak pada pertngahan sisi radial os metecarlpal kedua pada donsum

manus.

Gambar 2.24 Lokasi titik akupesur Li 4 Hegu (sedate).

LR 3 Taichong (sedate)
36

Terletak proksimal pertemuan tulang metacarpal satu dan dua.

Gambar 2.25 Lokasi titik akupesur LR 3 Taichong (sedate).

h. Pada nyeri atau baal (hilang rasa) pada jari jemari digunakan : Baxie titik

istimewa untuk jari tangan, Bafeng titik istimewa untuk jari kaki dengan

ditambah titik : TE 5 waiguan pada kelainan jari tangan, dan LI2 rangu pada

kelainan jari kaki.

Gambar Baxie (sedate)

Terletak di sela-sela jari tangan.

Gambar 2.26 Lokasi titik akupesur Baxie (sedate).

Gambar Bafeng (sedate)

Terletak di sela-sela jari kaki.

Gambar 2.27 Lokasi titik akupesur Bafeng (sedate).

TE 5 Waiguan (sedate)
37

Terletak dua cun diatas pergelangan tangan.

Gambar 2.28 Lokasi titik akupesur TE 5 Waiguan (sedate).

LI 2 Erjiann (sedate)

Terletak pada dorsal tangan, bagian radial ujung proksimal jari telunjuk.

Gambar 2.29 Lokasi titik akupesur LI 2 Erjiann (sedate).

h. Pengobatan sindrom rematik yang berpindah-pindah terutama pada kasus

yang kronis digunakan titik utama BL 17 Geshu.

Gambar 2.30 Lokasi titik akupesur BL 17 Geshu.


38

i. Pengobatan pi-menetap digunakan sebagai titik utama : BL 20 pishu,

terletak dua jari kiri dan kanan meridian GV, tepat dibatas bawah thorakal

duabelas.

Gambar 2.31 Lokasi titik akupesur BL 20 pishu.

j. Pengobatan sindrom rematik nyeri menetap dan kuat digunakan sebagai titik

utama : BL 23 Shenshu. Terletak dua jari kiri dan kanan meridian GV, tepat

dibatas bawah lumbal kedua.

Gambar 2.32 Lokasi titik akupesur BL 23 Shenshu.

k. Untuk lama terapi

Terapi dilakukan setiap hari sampai sakit mereda atau hilang. Untuk

menghindari kambuhnya nyeri asam urat, lakukan terapi secara rutin

minimal 1 minggu sekali terutama ketika musim dingin dengan tekanan

pada setiap titik akupresur sebanyak 60 putaran berlawanan dengan jarum


39

jam, dalam pemijatan sebaiknya jangan terlalu keras dan membuat pasien

kesakitan, (Radyanto, I. 2013).

2.2.4 Mekanisme Kerja

Menurut Radyanto (2012): Dengan dilakukan penekanan pada titik

akupresur sepanjang garis meridian atau garis aliran energi tubuh akan

merangsang produksi endorphine lokasi sehingga mengaktifkan mekanisme

penghambatan nyeri dalam sistem syaraf pusat, seperti produksi opioid endogen

dalam hipofisis atau batang otak yang ditingkatkan oleh akupresur.

Akupresur juga dapat dianggap Penutup gerbang terhadap impuls nyeri

terjadi akibat penghambatan presinaptik seray sensorik pada tingkat komudarsalis

oleh perangsang serat sensorik berdiameter besar.

2.3 Konsep Nyeri

2.3.1 Definisi

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial (bruner

dan suddart, 2007)

Nyeri adalah suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan seperti tersebut

diatas (asosiasi nyeri internasional dalam tamsuri, 2006)

Nyeri adalah apapun yang diungkapkan oleh pasien mengenai sesuatu

yang dirasakannya sebagai sesuatu hal yang tidak menyenangkan atau sangat

mengganggu (Darmady dan triyanto, 2008)


40

2.3.2 Fisiologi nyeri

1. Reseptor nyeri ( nociseptor )

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima

rangsangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung

syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulasi kuat yang secara

potensial merusak.

2. Transmisi nyeri

a. Teori spesivitas (spesivicity theory)


Dalam teori ini dijelaskan bahwa terdapat organ tubuh secara khusus

mentransmisi rasa nyeri melalui ujung dorsal dan substansia gelatinosa

kotalamus, yang akhirnya akan dihantarkan pada daerah yang lenih tinggi

sehingga timbul respon nyeri.


b. Teori pola (pattern theory)
Teori ini menerangkan bahwa ada dua serabut nyeri yaitu serabut yang

menghantarkan rangsangan dengan cepat dan yang menghantarkan

rangsangan dengan lambat. Kedua serabut ini bersinapsis pada medula

spinalis dan meneruskan informasi ke otok mengenai jumlah, intensitas dan

tipe input sensori nyeri yang menafsirkan karakter dan kuantitas input sensori

nyeri.
c. Teori gerbang kenadali nyeri (gate control theory)
Teori ini menjelaskan sebelum impuls nyeri dibawa ke otak, serabut

besar dan serabut kecil akan berinteraksi di area substansi gelatinosa, yang

apabila tidak terdapat stimulasia atau impuls yang adekuat dari serabut besar,

maka impuls nyeri dari serabut kecil akan dihantarkan menuju ke sel tringger

( sel T ) untuk kemudian dibawa ke otak yang akhirnya menimbulkan sensasi


41

nyeri yang dirasakn oleh tubuh. Kondisi ini disebut dengan pintu gerbang

terbuka .
Sebaliknya, apabila terdapat impuls yang ditransmisikan oleh serabut

berdiameter besar karena adanya stimulasi kulit, sentuhan getaran, hangat dan

dingin serta sentuhan halus, impuls ini akan menghambat impuls dari serabut

berdiamater kecil di area substansi gelatinosa sehingga sensasi yang dibawa

oleh serabut kecil akan berkurang atau bahkan tidak dihantarkan ke otak oleh

substansi gelatinosa, karena tubuh yidak dapat merasakan sensori nyeri.

Kondisi ini disebut dengan pintu gerbang tertutup .

3. Neoruregulator nyeri

Beberapa neururegulator yang berperan dalam penghantaran impuls nyeri

adalah :

a. Neurotransmitor
a) Substansi P (peptida) : mentransmisi impuls nyeri dari perifer ke otak
b) Serotonin : menghambat transmisi nyeri
c) Prostag landin : menghambat sensitivitas terhadap sel.
b. Neuromodulator
a) Endorfin (morfin endogen) ; emberi efek analgesik
b) Bradikinin : bekerja pada reseptor saraf perifer , menyebabkan

peningkatan stimulasi nyeri.

2.3.3 Klasifikasi nyeri

Menurut (Triyanto, 2008) mengklasifikasikan nyeri berdasarkan jenisnya,

meliputi:

a. Nyeri akut, nyeri yang berlangsung tidak melebihi enam bulan, serangan

mendadak dari sebab yang sudah diketahui dan daerah nyeri biasanya sudah
42

diketahui, nyeri akut ditandai dengan ketegangan otot, cemas yang keduanya

akan meningkatkan persepsi nyeri.


b. Nyeri kronis, nyeri yang berlangsung melebihi enam bulan atau lebih.

Sumber nyeri tidak diketahui dan tidak bisa ditentukan lokasinya. Sifat nyeri

hilang dan timbul pada periode tertentu nyeri menetap.


Sedangkan ( Corwin J.E. 2007 ) mengklasifikan nyeri berdasarkan

sumbernya meliputi :
a. Nyeri kulit, adalah nyeri yang dirasak dikulit atau jaringan subkutis, misalnya

nyeri ketika tertusuk jarum atau lutut lecet. Lokalisasi nyeri jelas di suatu

dermatum.
b. Nyeri somatik, adalah nyeri dalam yang berasal dari tulang dan sendi tendon,

otot rangka, po dan tekanan saraf dalam. Sifat nyeri lambat.


c. Nyeri viseral, adalah nyeri d rongga abdomen atau torak terlokalisasi, jelas di

suatu titik tapi bisa dirujuk ke bagian-bagian tubuh lain dan biasanya parah.
d. Nyeri psikogenik, adalah nyeri yang timbul dari pikiran pasien tanpa

diketahui adanya temuan pada fisik.


e. Nyeri phantom limb pain, adalah nyeri yang dirasakan oleh individu pada

salah satu ekstremitas yang telah di amputasi.

2.3.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

Berbagai faktor yang mempengaruhi nyeri antara lain :

a. Usia
Usia adalah variabel penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak

dan orang dewasa. Perbedaan perkembangan yang ditemukan antara kedua

kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan orang dewasa

bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan untuk memahami nyeri dan

beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-

anak yang belum mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan


43

mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau

perawat. Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus

mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri

jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi, (Potter & Perry (2009).
b. Jenis Kelamin
Faktor jenis kelamin ini dalam hubungannya dengan faktor yang

mempengaruhi nyeri adalah bahwasannya laki-laki dan wanita tidak mempunyai

perbedaan secara signifikan mengenai respon mereka terhadap nyeri. Masih

diragukan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang berdiri sendiri dalam

ekspresi nyeri. Misalnya anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis

dimana seorang wanita dapat menangis dalam waktu yang sama. (Potter & Perry

(2009).

c. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi

nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh

kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri

Mengenali nilai-nilai budaya yang memiliki seseorang dan memahami mengapa

nilai-nilai ini berbeda dari nilai-nilai kebudayaan lainnya membantu untuk

menghindari mengevaluasi perilaku pasien berdasarkan harapan dan nilai budaya

seseorang. Perawat yang mengetahui perbedaan budaya akan mempunyai

pemahaman yang lebih besar tentang nyeri pasien dan akan lebih akurat dalam

mengkaji nyeri dan respon-respon perilaku terhadap nyeri juga efektif dalam

menghilangkan nyeri pasien (Potter & Perry (2009).


d. Makna nyeri
44

Individu akan mengeksperikan nyeri dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri

tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan tantangan.

(Potter & Perry (2009).


e. Ansietas (cemas)
Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan nyeri,

mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tidak

memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri juga

tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praoperatif menurunkan

nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang relevan atau berhubungan dengan

nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri. Ansietas yang tidak

berhubungan dengan nyeri dapat mendistraksi pasien dan secara aktual dapat

menurunkan persepsi nyeri. Secara umum, cara yang efektif untuk menghilangkan

nyeri adalah dengan mengarahkan pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Potter &

Perry (2009).
f. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat

mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan

nyeri yang meningkat, sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan

dengan respon nyeri yang menurun. (Potter & Perry (2009).


g. Keletihan
Keletihan meningkatkan persepsi nyeri. Rasa kelelahan menyebabkan sensasi

nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping. Hal ini dapat

menjadi masalah umum pada setiap individu yang menderita penyakit jangja

lama. (Potter & Perry (2009).


h. Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri. Pengalaman nyeri sebelumnya

tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menrima nyeri dengan lebih
45

mudah pada masa yang akan dating. Apabila individu sejak lama sering

mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri

yang berat, maka ansietas atau bahkan rasa takut akan muncul. Sebaliknya apabila

individu mengalami nyeri denga jenis yang sama berulang-ulang, tetapi kemudian

nyeri tersebut dengan berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi individu

tersebut untuk menginterpreasikan sensasi nyeri. (Potter & Perry (2009).

i. Support keluarga dan sosial

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota

keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan. (Potter

& Perry (2009).

j. Efek plasebo

Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau

tindakan lain karena sesuatu harapan bahwa pengobatan tersebut benar benar

bekerja. Menerima pengobatan atau tindakan saja sudah merupakan efek positif.

Harapan positif pasien tentang pengobatan dapat meningkatkan keefektifan

medikasi atau intervensi lainnya. Seringkali makin banyak petunjuk yang diterima

pasien tentang keefektifan intervensi, makin efektif intervensi tersebut nantinya.

Individu yang diberitahu bahwa suatu medikasi diperkirakan dapat meredakan

nyeri hampir pasti akan mengalami peredaan nyeri dibanding dengan pasien yang

diberitahu bahwa medikasi yang didapatnya tidak mempunyai efek apapun.

Hubungan pasien perawat yang positif dapat juga menjadi peran yang amat

penting dalam meningkatkan efek plasebo (Smeltzer & Bare, 2002).

2.3.5 Intensitas nyeri


46

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan

oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan

kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh

dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan

pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik

tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak

dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Menurut Smeltzer dan Bare (2008) adalah sebagai berikut :

1) Skala nyeri deskriptif

Gambar 2.32 Skala nyeri deskriptif.

Keterangan :

0 :Tidak nyeri

1- 3 :Nyeri ringan

Secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.

4.7 : Nyeri sedang

Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri,

dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.

8.9 : Nyeri berat terkontrol

Secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih

respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat


47

mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan

distraksi

10 : Nyeri berat tidak terkontrol

Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,.

Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau

intensitas nyeri tersebut. Klien sering kali diminta untuk mendeskripsikan nyeri

sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini

berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga

sulit untuk dipastikan.

Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang

lebih obyektif. Skala verbal (Verbal Descriptor Scale/VDS) merupakan sebuah

garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan

jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa

nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Perawat menunjukkan klien skala

tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia

rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling

menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS

ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri.

Skala penilaian numerik (Numerical rating scales/ NRS) lebih digunakan

sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri

dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji

intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabiladigunakan


48

skala untuk menilai nyeri, makadirekomendasikan patokan 10 cm (Potter dan

Perry, 2009).
50
51

2.4 Kerangka Teori

1. Asam urat dikeluarkan


bersama urin melalui
ginjal. Jika terjadi
gangguan pada ginjal, Endapan kristal
Faktor yang pengeluaran asam urat monosodium
mempengaruhi juga terganggu Endapan
berlebih
asam urat 2. Jenis obat tertentu yang Kristal
1. Gangguan dikonsumsi dalam jangka monosodium
fungsi ginjal panjang ternyata dapat berlebih
2. Obat tertentu meningkatkan kadar asam
urat dalam tubuh, seperti
diuretik (peluruh air
kencing) dan aspirin (pen
cegah serangan jantung)

Faktor yang 1. Individu akan


mempengaruhi mengeksperikan nyeri Merangsang ujung
Nyeri dengan cara berbeda-beda, saraf nyeri
1. Makna nyeri apabila nyeri tersebut
2. Keletihan memberi kesan ancaman,
3. Kebudayaan suatu kehilangan,
hukuman dan tantangan.
2. Menyebabkan sensasi
nyeri semakin intensif
3. Mengatasi nyeri dengan
cara tradisional.

- Tidak Nyeri ( 0 )
- Nyeri ringan (1-3)
Manfaat Akupresure - Nyeri sedang (4-6)
1. Melancarkan energi vital di - Nyeri berat
tubuh Teknik akupresur tekontrol (7-9)
2. Memblok reseptor nyeri ke untuk merangsang - Nyeri berat tidak
otak produksi endorphin tekontrol (10)
3. Menyebabkan pelepasan sehingga menghambat
endorphine

Gambar 2.33 Kerangka teori pengaruh akupresur terhadap penurunan nyeri


pada pasien tinggi asam urat
50
1
51

2.5 Kerangka Konseptual

Pasien asam urat

Endapan Kristal monosodium berlebih

Merangsang ujung saraf nyeri

Mediator nyeri

Bradikinin
Prostaglandin - Tidak Nyeri ( 0 )
Serotonin
Teknik akupresur Histamin - Nyeri ringan (1-3)
Asefikolin
- Nyeri sedang (4-6)

Faktor Nyeri - Nyeri berat


Nyeri
1. Makna nyeri
Terkontrol (7-9)
2. Keletihan
3. Kebudayaan Rangsangan taktil - Nyeri Berat Tidak
Tekontrol (10)

Merangsang produksi endorphin

Menghambat nyeri dalam SSP

Penurunan sensasi nyeri

Keterangan :

: Diteliti : Tidakditeliti

Gambar 2.34 Kerangka Konsep Pengaruh Akupresur Terhadap Penurunan Nyeri


pada Pasien tinggi Asam Urat
52
2

2.6 Hipotesis penelitian

Hipotesa adalah suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang

hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesa dalam penelitian ini adalah :

H0: Adanya pengaruh akupresur terhadap penurunan nyeri pada pasien tinggi asam

urat.