Anda di halaman 1dari 3

Pertumbuhan Industri Petrokimia Timpang

Sumber : Investor Daily

JAKARTA - Industri petrokimia nasional timpang seiring tingginya pertumbuhan industri hilir
yang tidak diimbangi industri hulunya. Akibatnya, impor bahan baku sulit dikendalikan.
"Tahun 2012, industri hilir petrokimia tumbuh 11%, sedangkan hulu sekitar 4%. Hingga akhir
2013, sektor hilir diprediksi tumbuh 9%, sedangkan hulu sekitar 4%," kata Wakil Ketua Umum
Indonesia The Indonesia Olefin Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) Suhat
Miyarso saat ditemui di Indramayu, akhir pekan lalu.
Suhat melanjutkan, ketimpangan pertumbuhan tersebut membuat industri hilir seperti industri
plastik harus mengimpor bahan bakunya agar kegiatan produksi dapat terus berjalan.
Ketergantungan terhadap impor tersebut akan semakin membesar jika industri hulu tidak segera
mengimbangi pertumbuhan industri hilir.
Di sisi lain, Suhat juga menyadari bahwa ekspansi di sektor hulu sulit dilakukan karena
keterbatasan pasokan bahan baku nafta dari kilang yang ada di Indonesia. Karena itu, rencana
pembangunan tiga kilang berkapasitas masing-masing 300 ribu barel per hari, mendesak untuk
direalisasikan.
Dia berharap, pada tahun 2020 Indonesia sudah memiliki tiga kilang baru berkapasitas total 900
ribu barel per hari. Dengan demikian, akan ada tambahan pasokan nafta sebanyak 10-15% dari
kapasitas itu untuk memenuhi kebutuhan industri hulu petrokimia.
"Ditambah kilang yang sekarang sudah beroperasi dengan kapasitas produksi 800 ribu barel per
hari, kita nantinya hanya akan mengimpor minyak mentahnya saja. Kalau itu tercapai, tahun 2020,
kita tidak lagi terpaku impor bahan baku," jelas Suhat
Suhat menegaskan, keberadaan kilang akan membantu industri petrokimia untuk berekspansi
secara agresif. "Dengan demikian, gap pertumbuhan antara hulu dengan hilir bisa diisi oleh
industri petrokimia nasional. Dengan pasokan bahan baku, upaya menaikkan kapasitas bisa
dilakukan, sehingga kebutuhan untuk hilir juga bisa terjamin. Tidak lagi harus impor," kata Suhat.
Seperti diketahui, dua investor Timur Tengah yakni Kuwait Petroleum Company dan Saudi Arabia
Aramco tengah menjajaki peluang investasi kilang di Indonesia. Meski demikian, rencana itu
masih tertunda akibat belum selesainya negosiasi untuk mendapatkan insentif investasi.
Selain investor Timur Tengah, perusahaan petrokimia asal Korea Selatan, Honam Petrochemical,
juga berencana membangun nafta cracker terintegrasi di dalam negeri. Pembangunan pabrik yang
menelan dana investasi US$ 4-5 miliar tersebut, akan memenuhi kebutuhan bahan baku industri
hilir petrokimia hingga 2,87 juta ton per tahun. Pabrik ini akan memproduksi etilen dengan
kapasitas 1 juta ton per tahun, propilen 550 ribu ton per tahun, polietilen 600 ribu ton per tahun,
monoetilenglikol (MEG) 700 ribu ton per tahun, polipropilen 600 ribu ton per tahun, dan butadien
140 ribu ton per tahun.
Sementara itu, lanjut Suhat, perusahaan petrokimia nasional juga sedang menjajaki pemanfaatan
gas untuk digunakan dalam investasi barunya. Salah satu perusahaan nasional yang siap memasuki
bisnis tersebut adalah PT Chandra Asri Petrochemical yang menggandeng perusahaan
multinasional asal Jerman Ferrostaal Industrial Projects GmbH.
"Teknologinya ada, rencana investasi sudah disiapkan. Sekarang, tinggal menunggu alokasi
pasokan gasnya. Kalau itu bisa berjalan lancar, setidaknya, sepertiga dari ketergantungan impor
bahan baku, bisa dipenuhi dari lokal. Tapi, itu nanti, lima tahun lagi," kata Suhat.
Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat sebelumnya mengatakan, pihaknya akan
memperiuangkan investasi oleh Ferrostaal dan Chandra Asri agar bisa segera terealisasi. "Studi
kelayakan proyek Ferrostaal sudah lengkap. Begitu ada kepastian, rencana investasi itu akan
dijalankan. Saya akan memperjuangkan," ujar dia.
General AfanagerPetrochemical Ferrostaal Indonesia Soenke Gloede dan CEO Ferrostaal GmbH
Klaus Lesker pada awal Agustus 2013 kembali menagih kepastian pasokan gas dari pe-merintah
untuk investasinya di klaster industri petrokimia di Teluk Bintuni, Papua Barat tersebut.
Perusahaan ini berencana membangun pabrik petrokimia di wilayah tersebut dengan nilai investasi
US$ 1,8-2 miliar.
Klaster industri petrokimia di Teluk Bintuni setidaknya membutuhkan pasokan gas sebesar 384
juta kaki kubik per hari (Mmscfd), dimana sekitar 180 mmscfd untuk memenuhi kebutuhan
Ferrostaal. "Tujuan saya adalah memperkuat fundamental industri nasional, mulai dari sektor besi
baja, petrokimia, hingga agro. Hulu dan hilirnya harus kuat. Jadi, kalau ada minat investasi oleh
pemain global seperti ini, yang bahkan CEO-nya datang langsung untuk memastikan pasokan gas
untuk rencana investasinya, harus diseriusi," tegas Hidayat.
Dia menambahkan, pembangunan industri untuk mensubtitusi impor mendesak direalisasikan.
Pasalnya, impor-impor bahan baku dan barang modal terus menggerus devisa negara sehingga
rentan menimbulkan pelemahan kurs atas rupiah.