Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Polusi udara kota di beberapa kota besar di Indonesia telah sangat memprihatinkan. Beberapa
hasil penelitian tentang polusi udara dengan segala resikonya telah dipublikasikan, termasuk
resiko kanker darah. Namun, jarang disadari entah berapa ribu warga kota yang meninggal
setiap tahunnya karena infeksi saluran pernapasan, asma, maupun kanker paru-paru akibat
polusi udara kota. Meskipun sesekali telah turun hujan langit di kota-kota besar di Indonesia
tidak biru lagi. Udara kota telah dipenuhi oleh jelaga dan gas-gas yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Diperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah
penderita penyakit paru-paru dan saluran pernapasan. Bukan hanya infeksi saluran
pernapasan akut yang kini menempati urutan pertama dalam pola penyakit diberbagai
wilayah di Indonesia, tetapi juga meningkatnya jumlah penderita penyakit asma dan kanker
paru-paru.

Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara
mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya
berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain,misalnya dari rumah tangga,
pembakaran sampah, kebakaran hutan, dll. Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu
diwaspadai, tetapi organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan
yang dianggap serius.Polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan,serta
mudah merusak harta benda adalah partikulat yang mengandung partikel aspa dan jelaga,
hidrokarbon, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. Semuanya diemisikan oleh kendaraan
bermotor. WHO memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia pernah menghirup
udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sedagkan 10% sisanya menghirup udara yang
bersifat marginal. Akibatnya fatal bagi bayi dan anak-anak. Orang dewasa yang beresiko
tinggi, misalnya wanita hamil, usia lanjut, serta orang yang telah memiliki riwayat penyakit
paru dan saluran pernapasan menahun. Celakanya, para penderita maupun keluarganya tidak
menyadari bahwa berbagai akibat negatif tersebut berasal dari polusi udara akibat emisi
kendaraan bermotor yang semakin memprihatinkan.

1. Tujuan
1. Mengetahui dampak polusi udara bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di
bumi.
2. Menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi pencemaran udara.

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan Uraian diatas maka dalam karya ilmiah ini akan diangkat permasalahan:

1. Apa sajakah dampak polusi uadara bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi?
2. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi pencemaran udara?

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di
atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan
tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara
dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi
gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi
udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung
dan lokal, regional, maupun global.

Secara umum definisi udara tercemar adalah perbedaan komposisi udara aktual dengan
kondisi udara normal dimana komposisi udara aktual tidak mendukung kehidupan
manusia. Bahan atau zat pencemaran udara sendiri dapat berbentuk gas dan partikel. Banyak
faktor yang dapat menyebabkan pencemaran udara, diantaranya pencemaran yang
ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya.
Pencemaran udara dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara bersifat langsung dan
lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu lama.

Gas oksigen merupakan komponen esensial bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk
manusia. Komposisi seperti itu merupakan udara normal dan dapat mendukung kehidupan
manusia. Namun, akibat aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, udara sering kali
menurun kualitasnya.Oleh karena itu dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat
ditemukan solusi alternatif untuk mengatasi bahayanya pencemaran udara. dan dengan
dilaksanakanya solusi alternatif tersebut diharapkan ada beberapa manfaat yang dapat
dirasakan misalnya berkurangnya polusi udara,dampak kesehatan yang ditimbulkan akibat
pencemaran udara, dampak terhadap tanaman, Tanaman yang tumbuh di daerah dengan
tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit,
mengurangi efek rumah kaca, hujan asam, kerusakan lapisan ozon.

Bahan atau zat pencemaran udara sendiri dapat berbentuk gas dan partikel. Dalam bentuk gas
dapat dibedakan menjadi:

Golongan belerang (sulfur dioksida, hidrogen sulfida, sulfat aerosol)


Golongan nitrogen (nitrogen oksida, nitrogen monoksida, amoniak, dan nitrogen
dioksida)
Golongan karbon (karbon dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon)
Golongan gas yang berbahaya (benzene, vinyl klorida, air raksa uap)

Sedagkan jenis pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Mineral (anorganik) dapat berupa racun seperti air raksa dan timah
Bahan organik yang terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan, benzene
Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.

Sementara itu, jenis pencemaran udara menurut tempat dan sumbernya dibedakan menjadi
dua, yaitu:

Pencemaran udara bebas meliputi secara alamiah (letusan gunung berapi,


pembusukan, dan lain-lain) dan bersumber kegiatan manusia, misalnya berasal dari
kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan bermotor.
Pencemaran udara ruangan meliputi dari asap rokok, bau tidak sedap di ruangan.
Jenis parameter pencemar udara didasarkan pada baku mutu udara ambien menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, meliputi:

Sulfur dioksida (SO2)


Karbon monoksida (CO)
Nitrogen dioksida (NO2)
Ozon (O3)
Hidro karbon (HC)
PM 10, Partikel debu ( PM 2,5 )
TSP (debu)
Pb (Timah Hitam)

Beberapa definisi gangguan fisik pada polusi udara diantaranya :

polusi udara.
panas.
radiasi.

Beberapa definisi gangguan kimia pada polusi udara diantaranya :

asap industri.
asap kendaraan bermotor.
asap pembangkit listrik.
asap kebakaran hutan.
asap rokok.

Beberapa definisi gangguan biologi pada polusi udara diantaranya :

timbunan gas metana pada lokasi urungan tanah.


timbunan gas metana pada tempat pembuangan sampah.
uap pelarut organik.

Efek Negatif Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Tubuh

Tabel 1 menjelaskan tentang pengaruh pencemaran udara terhadap makhluk hidup. Rentang
nilai menunjukkan batasan kategori daerah sesuai tingkat kesehatan untuk dihuni oleh
manusia. Karbon monoksida, nitrogen, ozon, sulfur dioksida dan partikulat matter adalah
beberapa parameter polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber pencemar. Dari
pantauan lain diketahui bahwa dari beberapa kota yang diketahui masuk dalam kategori tidak
sehat berdasarkan ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) adalah Jakarta (26 titik), Semarang
(1 titik), Surabaya (3 titik), Bandung (1 titik), Medan (6 titik), Pontianak (16 titik),
Palangkaraya (4 titik), dan Pekan Baru (14 titik). Satu lokasi di Jakarta yang diketahui
merupakan daerah kategori sangat tidak sehat berdasarkan pantauan lapangan [1].

Tabel 1. Pengaruh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)

Karbon Sulfur
Rentan Nitrogen
Kategori monoksida Ozon (O3) dioksida Partikulat
g (NO2)
(CO) (SO2)
Baik 0-50 Tidak ada Sedikit Luka pada Luka pada Tidak ada
efek berbau Beberapa Beberapa efek
spesies spesies
tumbuhan tumbuhan
akibat akibat
kombinasi kombinasi
dengan SO2 dengan O3
(Selama 4 (Selama 4
Jam) Jam)
Perubahan Luka pada Luka pada Terjadi
51 kimia darah Beberapa Beberapa penurunan
Sedang Berbau
100 tapi tidak spesies spesies pada jarak
terdeteksi tumbuhan tumbuhan pandang
Bau dan
kehilangan
Peningkatan warna. Jarak pandang
pada Peningkatan Penurunan Bau, turun dan
Tidak 101 kardiovaskula reaktivitas kemampuan Meningkatny terjadi
Sehat 199 r pada pembuluh pada atlit yang a kerusakan pengotoran
perokok yang tenggorokan berlatih keras tanaman debu di mana-
sakit jantung pada mana
penderita
asma
Meningkatnya
kardiovaskula Olah raga
r pada orang ringan
bukan Meningkatny mengakibatka Meningkatny Meningkatny
perokok yang a sensitivitas n pengaruh a sensitivitas a sensitivitas
Sangat
200- berpenyakit pasien yang parnafasan pada pasien pada pasien
Tidak
299 Jantung, dan berpenyakit pada pasien berpenyakit berpenyakit
Sehat
akan tampak asma dan yang asma dan asma dan
beberapa bronchitis berpenyaklt bronchitis bronchitis
kelemahan paru-paru
yang terlihat kronis
secara nyata
Berbahay 300
Tingkat yang berbahaya bagi semua populasi yang terpapar
a lebih

Sumber: Bapedal [1]

Tabel 2. Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang

Pencemar Sumber Keterangan


Buangan kendaraan
Karbon Standar kesehatan: 10 mg/m3
bermotor; beberapa proses
monoksida (CO) (9 ppm)
industri
Sulfur dioksida Panas dan fasilitas Standar kesehatan: 80 ug/m3
(S02) pembangkit listrik (0.03 ppm)
Partikulat Buangan kendaraan Standar kesehatan: 50 ug/m3
Matter bermotor; beberapa proses selama 1 tahun; 150 ug/m3
industri
Nitrogen Buangan kendaraan Standar kesehatan: 100 pg/m3
dioksida (N02) bermotor; panas dan fasilitas (0.05 ppm) selama 1 jam
Standar kesehatan: 235 ug/m3
Ozon (03) Terbentuk di atmosfir
(0.12 ppm) selama 1 jam

Sumber: Bapedal [2]

Tabel 2 memperlihatkan sumber emisi dan standar kesehatan yang ditetapkan oleh
pemerintah melalui keputusan Bapedal. BPLHD Propinsi DKI Jakarta pun mencatat bahwa
adanya penurunan yang signifikan jumlah hari dalam kategori baik untuk dihirup dari tahun
ke tahun sangat mengkhawatirkan. Dimana pada tahun 2000 kategori udara yang baik sekitar
32% (117 hari dalam satu tahun) dan di tahun 2003 turun menjadi hanya 6.85% (25 hari
dalam satu tahun) [3]. Hal ini menandakan Indonesia sudah seharusnya memperketat
peraturan tentang pengurangan emisi baik sektor industri maupun sektor transportasi
darat/laut. Selain itu tentunya penemuan-penemuan teknologi baru pengurangan emisi
dilanjutkan dengan pengaplikasiannya di masyarakat menjadi suatu prioritas utama bagi
pengendalian polusi udara di Indonesia.

BAB III

PEMBAHASAN

Tulisan ini mengetengahkan sekilas pandang mengenai pencemaran udara. pengertian,


pengaruhnya terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan manusia serta teknologi terbaru
untuk menguranginya. Semakin pesatnya kemajuan ekonomi mendorong semakin
bertambahnya kebutuhan akan transportasi, dilain sisi lingkungan alam yang mendukung
hajat hidup manusia semakin terancam kualitasnya, efek negatif pencemaran udara kepada
kehidupan manusia kian hari kian bertambah. Untuk itulah tulisan singkat ini
dipersembahkan sebagai bahan awal untuk melangkah menciptakan lingkungan yang sehat
dan nyaman. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya
ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan
pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.

Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam rumah, sekolah, dan kantor.
Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sementara itu
pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor,
industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat
diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari
pembangkit listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas
lalu lintas kendaraan bermotor dan tranportasi laut. Dari data BPS tahun 1999, di beberapa
propinsi terutama di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya dan Jakarta, emisi kendaraan
bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang
jumlahnya lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun
terakhir menunjukkan kita bahwa betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan
emisi ini. Baik melalui penyuluhan kepada masyarakat ataupun dengan mengadakan
penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi.

Secara umum, terdapat 2 sumber pencemaran udara, yaitu pencemaran akibat sumber alamiah
(natural sources), seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan manusia
(anthropogenic sources), seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di
dunia, dikenal 6 jenis zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia
(anthropogenic sources), yaitu Karbon monoksida (CO), oksida sulfur (SOx), oksida nitrogen
(NOx), partikulat, hidrokarbon (HC), dan oksida fotokimia, termask ozon.

Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan
bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan
dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti
timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx),
hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor
menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM), 71-89%
hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta.
Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah tangga, di mana mencakup 41%
dari sumber debu di Jakarta. Sektor industri merupakan sumber utama dari sulfur dioksida. Di
tempat-tempat padat di Jakarta konsentrasi timbal bisa 100 kali dari ambang batas.

# Sumber pencemaran udara #

Banyak faktor yang dapat menyebabkan pencemaran udara, diantaranya pencemaran yang
ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya.
Pencemaran udara dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara bersifat langsung dan
lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu lama.

Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar
primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara.
Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan
hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari
reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia
adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini
pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan
hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer
semakin meningkat.

Kegiatan manusia

Transportasi
Industri
Pembangkit listrik
Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan
bakar)
Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)

Sumber alami

Gunung berapi
Rawa-rawa
Kebakaran hutan
Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi

Sumber-sumber lain

Transportasi amonia
Kebocoran tangki klor
Timbulan gas metana dari lahan uruk/tempat pembuangan akhir sampah
Uap pelarut organik

Jenis-jenis pencemar
Karbon monoksida
Oksida nitrogen
Oksida sulfur
CFC
Hidrokarbon
Ozon
Volatile Organic Compounds
Partikulat

Karbon Monoksida (CO)


Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan.
Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta disebabkan karena benda
bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama berasal dari Metromini.
Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses
pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik antara udara dan
bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan Turbocharge
merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Karbon monoksida yang
meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan
meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan
kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti pengggunaan
bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon dioksida dan
penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi kendaraan bermotor.

Nitrogen Dioksida (NO2)

NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat
mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan
oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan
mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau
kurang. Percobaan dengan pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap
manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.

Sulfur Oksida (SOx)

Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas
yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), yang keduanya
disebut sulfur oksida (SOx). Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi
sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada
kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi
terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama
terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan
kadiovaskular.

Ozon (O3)

Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen dan
oksigen fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi lapisan ozon
sangat berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk di
udara pada ketinggian 30km dimana radiasi UV matahari dengan panjang gelombang 242 nm
secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom oksigen, tergantung dari
jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk ozon. Ozon menyerap
radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah panjang gelombang 240-320 nm.

Hidrokarbon (HC)

Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan
baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah
industri dan padat lalu lintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka
dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.

Khlorin (Cl2)

Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas
khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. Gas khlorin
sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang dunia ke-1.Selain bau yang
menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas
khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat
membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan
peradangan. Gas khlorin juga dapat mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen
seperti pada proses yang terjadi di bawah ini.

Partikulat Debu (TSP)

Pada umumnya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang
dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan
berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena
partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan
menyebabkan iritasi.

Timah Hitam (Pb)

Gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein
yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala
keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut
muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan,
konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang dan gangguan
penglihatan.
Dampak Pencemaran Udara
Dampak kesehatan

Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem
pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis
pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas,
sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat
pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan
akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa
zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.

Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan
kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada
tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah
di tahun 2015.

Dampak terhadap tanaman

Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu
pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam.
Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis

Hujan asam

pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2
dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak
dari hujan asam ini antara lain:

Mempengaruhi kualitas air permukaan


Merusak tanaman
Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi
kualitas air tanah dan air permukaan
Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan

Efek rumah kaca

Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan
troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi.
Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena
pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global adalah:

Pencairan es di kutub
Perubahan iklim regional dan global
Perubahan siklus hidup flora dan fauna
Kerusakan lapisan ozon

Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami
bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan
penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang
mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul
ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.

Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat
mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Apa yang Harus Dilakukan?

Penanggulangan pencemaran udara tidak dapat dilakukan tanpa menanggulangi


penyebabnya. Mempertimbangan sektor transportasi sebagai kontributor utama pencemaran
udara, maka sektor ini harus mendapat perhatian utama.

menyerukan kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi yang ada saat
ini, dengan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau oleh
publik. Prioritas utama harus diberikan pada sistem transportasi massal dan tidak
berbasis kendaraan pribadi.
juga menyerukan kepada pemerintah untuk segera memenuhi komitmennya untuk
memberlakukan pemakaian bensin tanpa timbal.
Di sektor industri, penegakan hukum harus dilaksanakan bagi industri pencemar.

Solusi

Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor
transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota
besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan
serta kematian yang diakibatkan karenanya.

* Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan
angkutan massal, seperti bus dan kereta api, diperbanyak.

* Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai
salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin
besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.

* Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan.
Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran
berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.

* Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering


diistilahkan dengan polisi tidur justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan
memperlambat laju

* Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun
secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan
tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat
dan kelengkapan kendaraan yang lain.

* Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang lalu
lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.

Pemberi insentif bagi kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar gas:

1. Keringanan pajak kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar gas berupa
PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor). Ref. PERPU. No.21 tahun 1997
2. Pemberian keringanan pajak untuk bea-impor conversion kit, sehingga harga jualnya
dapat ditekan dan terjangkau oleh masyarakat
3. Peraturan pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal Pemegang Merk
(ATPM) untuk memasang Catalytic Converter pada setiap kendaraan baru yang sudah
diproduksi

Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Kebijakan pemerintah untuk percepatan


pembuatan BBN antara lain:

1. Peraturan Pemerintah (PP) No.5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional.
2. Instruksi Presiden (Inpres) No.1 tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan
BBN.
3. Keputusan Presiden (Keppres) No.10 tahun 2006 tentang Tim Nasional
pengembangan BBN untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran.

BAB IV

KESIMPULAN

Dampak Polusi Udara bagi kelangsungan makhluk hidup di bumi:

Mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan

Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan
akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa
zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.

Dampak terhadap tanaman

Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu
pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam.
Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

merusak estetika
mengganggu kenyamanan
merusak gedung, kantor, dan perumahan

Hujan asam
pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2
dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak
dari hujan asam ini antara lain:

Mempengaruhi kualitas air permukaan


Merusak tanaman
Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi
kualitas air tanah dan air permukaan
Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan

Efek rumah kaca

Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan
troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi.
Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena
pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global adalah:

Pencairan es di kutub
Perubahan iklim regional dan global
Perubahan siklus hidup flora dan fauna

Kerusakan lapisan ozon

Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami
bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan
penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang
mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul
ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.

Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat
mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Melihat kenyataan seperti dituliskan diatas, polusi udara merupakan salah satu permasalahan
lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah
kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Uji kelayakan emisi yang sejak
beberapa tahun terakhir didengung-dengungkan oleh pemerintah dan LSM ternyata juga tidak
berjalan dengan yang diharapkan. Jumlah kendaraan bermotor di jalan raya kian hari semakin
meningkat. Di wilayah DKI Jakarta, menambah semakin terpuruknya kondisi lingkungan
udara kita. Penulis berharap semoga dengan kenaikan harga pokok bahan bakar minyak bagi
kendaraan yang ditetapkan pemerintah dapat menjadi salah satu momentum bagi kita semua
untuk melangkah berpikir tentang lingkungan udara yang sehat. Kesadaran masyarakat akan
pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan didukung dengan penyediaan angkutan
massal yang baik dan nyaman oleh pemerintah akan menciptakan lingkungan udara yang
sehat bagi manusia Indonesia

Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor
transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota
besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan
serta kematian yang diakibatkan karenanya.

* Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai
salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin
besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.

* Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan.
Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran
berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.

* Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering


diistilahkan dengan polisi tidur justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan
memperlambat laju

* Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun
secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan
tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat
dan kelengkapan kendaraan yang lain.

* Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang lalu
lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.

* Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN)

https://rachmariska.wordpress.com/2009/06/12/makalah-polusi-udara/

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakanga
Udara dimana di dalamnya terkandung sejumlah oksigen, merupakan komponen esensial
bagi kehidupan, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya. Udara merupakan campuran
dari gas, yang terdiri dari sekitar 78 % Nitrogen, 20 % Oksigen; 0,93 % Argon; 0,03 %
Karbon Dioksida (CO2) dan sisanya terdiri dari Neon (Ne), Helium (He), Metan (CH4) dan
Hidrogen (H2). Udara dikatakan "Normal" dan dapat mendukung kehidupan manusia apabila
komposisinya seperti tersebut diatas. Sedangkan apabila terjadi penambahan gas-gas lain
yang menimbulkan gangguan serta perubahan komposisi tersebut, maka dikatakan udara
sudah tercemar/terpolusi.
Akibat aktifitas perubahan manusia udara seringkali menurun kualitasnya. Perubahan
kualitas ini dapat berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimiawi. Perubahan
kimiawi, dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang
terkandung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai pencemaran udara. Kualitas udara yang
dipergunakan untuk kehidupan tergantung dari lingkungannya. Kemungkinan disuatu tempat
dijumpai debu yang bertebaran dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan. Demikian juga
suatu kota yang terpolusi oleh asap kendaraan bermotor atau angkutan yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah yang harus dibahas dalam makalah ini
adalah:
1. Apa itu pencemaran udara?
2. Apa saja jenis pencemaran udara?
3. Apa yang menjadi sumber pencemaran udara?
4. Apa dampak pencemaran udara?
5. Bagaimana cara mencegah pencemaran udara?

C. Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas Ipa tentang polusi
(pencemaran) khususnya polusi udara dan untuk memperluas pengetahuan tentang
pencemaran udara beserta dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan dan kesehatan
manusia.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah menambah pengetahuan kita mengenai
pencemaran udara, jenis-jenisnya, sumber, dampak, dan bagaimana cara kita untuk
menanggulangi pencemaran udara.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pencemaran Udara
Pencemaran lingkungan atau polusi adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat energy dan atau komponen lain kedalam lingkungan, atau berubahnya tatanan
lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas lingkungan turun
sampai ktingkat tertentu yang menyebapkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat
brfungsi lagi sesuai peruntukya ( Undang-Undang Pengelolaan lingkungan Hidup No. 4
Tahun 1982).
Polutan adalah zat atau bahan yang menyebapkan terjadinya polusi. Suatu zat disebut
polutan, bila keberadaanya disuatu lingkungan dapat menyebabkan kerugian terhadap
makhluk hidup. Contoh : karbondioksida dengan kadar 0,032 % dapat memberikan dampak
merusak. Dengan kata lain suatu zat dapat disebut polutan apabila :
1. Jumlah melebihi jumlah normal
2. Berada pada waktu yang tidak tepat
3. Berada pada tempat yang tidak tepat
Pencemaran udarah adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya
kedalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan
pada kesehatam manusia secara umum menurunkan kualitas lingkungan. Pencemaran udara
dapat terjadi dimana-mana, misalnya didalam rumah, sekolah, kantor atau yang sering disebut
pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Selain itu gejala ini secara akumulatif juga
terjadi di luar ruangan (outdoor pollution). Mulai dari tingkat lingkungan rumah, perkotaan
hingga ketingkat regional, bahkan saat ini sudah menjadi gejala global. Beberapa unsure
pencemaran (pollutant) kembali kebumi melalui deposisi asam atau salju yang
mengakibatkan sifat korosif pada bagunan, tanaman, hutan disamping itu juga membuat
sungai dan danau menjadi suatu lingkungan yang berbahaya bagi ikan-ikan karena nilai pH
yang rendah

B. Jenis-Jenis Pencemaran Udara


1. Menurut bentuk
a. Gas
Pencemaran udara berbentuk gas dapat dibedakan menjadi :
1) Golongan belerang terdiri dari Sulfur Dioksida (SO2), Hidrogen Sulfida (H2S) dan Sulfat
Aerosol.
2) Golongan Nitrogen terdiri dari Nitrogen Oksida (N2O), Nitrogen Monoksida (NO), Amoniak
(NH3) dan Nitrogen Dioksida (NO2).
3) Golongan Karbon terdiri dari Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO),
Hidrokarbon .
4) Golongan gas yang berbahaya terdiri dari Benzen, Vinyl Klorida, air raksa uap.
b. Pertikel
Pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan menjadi :
1) Mineral (anorganik) dapat berupa racun seperti air raksa dan timah.
2) Bahan organik terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan, Benzen.
3) Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.
2. Menurut tempat dan sumbernya
a. Ruangan (indoor)
Pencemaran udara ruangan (In door air pollution), berupa pencemaran udara didalam ru-
a-ngan yang berasal dari pemukiman, perkantoran ataupun gedung tinggi.
b. Udara bebas (outdoor)
Pencemaran udara bebas (Out door air pollution), Sumber Pen-cemaran udara bebas :
1) Alamiah, berasal dari letusan gunung berapi, pembusukan, dll.
2) Kegiatan manusia, misalnya berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan,
dll.
3. Berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan
Pencemaran udara berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan dibedakan
menjadi 4 jenis yaitu:
a. Irintasia.
Biasanya polutan ini bersifat korosif. Merangsang proses peradangan hanya pada saluran
pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokkan.
Misalnya Sulfur Dioksida, Sulfur Trioksida, Amoniak, debu. Iritasi terjadi pada saluran
pernapasan bagian atas dan juga dapat mengenai paru-paru sendiri.
b. Asfiksia
Disebabkan oleh ber-kurangnya kemampuan tubuh dalam menangkap oksigen atau
mengakibatkan kadar O2 menjadi berkurang. Keracunan gas Karbon Monoksida
mengakibatkan CO akan mengikat hemoglobin sehingga kemampuan hemoglobin mengikat
O2 berkurang terjadilah Asfiksia. Yang termasuk golongan ini adalah gas Nitrogen, Oksida,
Metan, Gas Hidrogen dan Helium.
c. Anestesia
Bersifat menekan susunan syaraf pusat sehingga kehilangan kesadaran, misalnya aeter,
aetilene, propane dan alkohol alifatis.
d. Toksis
Titik tangkap terjadinya toksis berbagai jenis, yaitu :
1) Menimbulkan gangguan pada sistem pembuatan darah, mi-salnya benzene, fenol, toluen dan
xylene.
2) Keracunan terhadap susunan syaraf, misalnya karbon disulfid, metil alkohol.
4. Menurut asal
a. Pencemar primer
Polutan yang bentuk dan komposisinya sama dengan ketika dipancarkan, lazim disebut
sebagai pencemar primer, antara lain CO, CO2, hidrokarbon, SO, Nitrogen Oksida, Ozon
serta berbagai partikel.
b. Pencemar Sekunder
Berbagai bahan pencemar kadangkala bereaksi satu sama lain menghasilkan jenis
pencemar baru, yang justru lebih membahayakan kehidupan. Reaksi ini dapat terjadi secara
otomatis ataupun dengan cara bantuan katalisator, seperti sinar matahari. Pencemar hasil
reaksi disebut sebagai pencemar sekunder. Contoh pencemar sekunder adalah Ozon, formal
dehida, dan Peroxy Acyl Nitrate (PAN).

C. Sumber Pencemaran Udara


1. Kegiatan manusia
a. Transportasi
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi mengakibatkan pengembangan wilayah perkotaan
ke daerah pinggiran kota. Akibatnya aktivitas penduduk dengan alat transportasi pun
meningkat. Kegiatan transportasi menjadi penyebab pencemaran udara karena senyawa kimia
yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Senyawa kimia tersebut antara lain karbon
dioksida, nitrogen dioksida, dan beberapa partikel mikro.
b. Industri
Jenis industri yang menjadi sumber pencemaran melalui udara diantaranya industri besi
dan baja, industri semen, industri kendaraan bermotor, industri pupuk, industri alumunium,
industri pembangkit tenaga air, industri kertas, industri kilang minyak, industri
pertambangan. Industrialisasi di Indonesia sedang berkembang, tetapi perkembangan tersebut
seringkali mengabaikan pengendalian pencemaran. Oleh karena itu pemilik usaha industri
harus melengkapi industrinya dengan fasilitas untuk pengendalian limbah.
c. Pembangkit listrik
d. Pembakaran (perapian, kompor, furnace,[insinerator]dengan berbagai jenis bahan bakar
e. Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
2. Sumber alami
a. Gunung berapi
b. Rawa-rawa
c. Kebakaran hutan
d. Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi
3. Sumber-sumber lain
a. Transportasi amonia
b. Kebocoran tangki klor
c. Timbulan gas metana dari lahan uruk /tempat pembuangan akhir sampah
d. Uap pelarut organik

D. Dampak Pencemaran Udara


1. Dampak kesehatan
Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh
melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung
kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran
pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai
paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan
menyebar ke seluruh tubuh.
Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISNA (infeksi saluran
napas atas), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya.
Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.
2. Dampak terhadap tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat
terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis,
dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat
proses fotosintesis.
3. Hujan asam
pH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara
seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH
air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
a. Mempengaruhi kualitas air permukaan
b. Merusak tanaman
c. Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga
memengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
d. Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
4. Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O
di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh
permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan
menimbulkan fenomena pemanasan global. Dampak dari pemanasan global adalah:
a. Pencairan es di kutub
b. Perubahan iklim regional dan global
c. Perubahan siklus hidup flora dan fauna
5. Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan
pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari.
Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di
stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan
laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga
terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Berikut dampak pencemaran udara berupa gas
N BAHAN SUMBER DAMPAK/AKIBAT PADA
O PENCEMAR INDIVIDU/MASYARAKAT
1. Sulfur Dioksida Batu bara atau bahan bakar Menimbulkan efek iritasi pada saluran nafas
(SO2) minyak yang mengandung sehingga menimbulkan gejala batuk dan
Sulfur. Pembakaran limbah sesak nafas.
pertanah. Proses dalam
industri.
2. Hidrogen Sulfa Dari kawah gunung yang Menimbulkan bau yang tidak sedap, dapat
(H2S) masih aktif. merusak indera penciuman (nervus
olfactory)
3. Nitrogen Oksida Berbagai jenis pembakaran. Menggangu sistem pernapasan.
(N2O) Gas buang kendaran Melemahkan sistem pernapasan paru dan
Nitrogen bermotor. saluran nafas sehingga paru mudah terserang
Monoksida (NO) Peledak, pabrik pupuk. infeksi.
Nitrogen Dioksida
(NO2)
4. Amoniak (NH3) Proses Industri Menimbulkan bau yang tidak
sedap/menyengat.
Menyebabkan sistem pernapasan,
Bronchitis, merusak indera penciuman.
5. Karbon Dioksida Semua hasil pembakaran. Menimbulkan efek sistematik, karena
(CO2) Proses Industri meracuni tubuh dengan cara pengikatan
Karbon Monoksida . hemoglobin yang amat vital bagi oksigenasi
(CO) jaringan tubuh akaibatnya apabila otak
Hidrokarbon kekurangan oksigen dapat menimbulkan
kematian.
Dalam jumlah kecil dapat menimbulkan
gangguan berfikir, gerakan otot, gangguan
jantung.

E. Cara Mencegah Pencemaran Udara


Terjadinya pencemaran udara, tentu harus segera ditanggulangi dengan melakukan
pencegahan sedini mungkin agar tidak terjadi kesakitan pada manusia. Dalam melakukan
pencegahan secara tepat tergantung pada sifat dan sumber polutan udara. Pada dasarnya
caranya dibedakan menjadi mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan,
melarutkan polutan, dan mendispersikan polutan.
Menurut dr.drh. Mangku Sitepoe (1997), ada lima dasar dalam mencegah atau
memperbaiki pencemaran udara berbentuk gas.
1. Absorbsi. Melakukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan konsentrasi
yang cukup tinggi. Biasanya absorbennya air, tetapi kadang-kadang dapat juga tidak
menggunakan air (dry absorben).
2. Adsorbsi. Mempergunakan kekuatan tarik-menarik antara molekul polutan dan zat adsorben.
Dalam proses adsorbsi dipergunakan bahan padat yang dapat menyerap polutan. Berbagai
tipe adsorben antara lain Karbon Aktif dan Silikat.
3. Kondensasi. Dengan kondensasi dimaksudkan agar polutan gas diarahkan mencapai titik
kondensasi, terutama dikerjakan pada polutan gas yang bertitik kondensasi tinggi dan
penguapan yang rendah (Hidrokarbon dan gas organik lain).
4. Pembakaran. Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas Hidrokarbon
yang terdapat di dalam polutan. Hasil pembakaran berupa Karbon Dioksida dan air. Adapun
proses pemisahannya secara fisik dikerjakan bersama-sama dengan proses pembakaran secara
kimia.
5. Reaksi kimia. Banyak dipergunakan pada emisi golongan Nitrogen dan Belerang.
Membersihkan gas golongan Nitrogen, caranya dengan diinjeksikan Amoniak yang akan
bereaksi kimia dengan NOx dan membentuk bahan padat yang mengendap. Untuk
menjernihkan golongan Belerang dipergunakan copper oksid atau kapur dicampur arang.
Sementara itu, pencegahan pencemaran udara berbentuk partikel dapat dilakukan melalui
enam konsep.
1. Membersihkan (Scrubbing). Mempergunakan cairan untuk memisahkan polutan. Alat
scrubbing ada berbagai jenis, yaitu berbentuk plat, masif, fibrous, dan spray.
2. Menggunakan filter. Dimaksudkan untuk menangkap polutan partikel pada permukaan filter.
Filter yang dipergunakan berukuran sekecil mungkin. Filter bersifat semipermeable yang
dapat dibersihkan, kadang-kadang dikombinasikan dengan pembersihan gas dan filter polutan
partikel.
3. Mempergunakan presipitasi elektrostatik. Cara ini berbeda dengan cara mekanis lainnya,
sebab langsung ke butir-butir partikel. Polutan dialirkan di antara pelat yang diberi aliran
listrik sehingga presipitator yang akan mempresipitasikan polutan partikel dan ditampung di
dalam kolektor. Pada bagian lain akan keluar udara yang telah dibersihkan.
4. Mempergunakan kolektor mekanis. Dengan menggunakan tenaga gravitasi dan tenaga kinetis
atau kombinasi keduanya untuk mengendapkan partikel. Sebagai kolektor dipergunakan gaya
sentripetal yang memakai siklon.
5. Program langit biru. Yaitu program untuk mengurangi pencemaran udara, baik pencemaran
udara yang bergerak maupun stasioner. Dalam hal ini, ada tiga tindakan yang dilakukan
terhadap pencemaran udara akibat transportasi yaitu: Pertama, mengganti bahan bakar
kendaraan. Bahan bakar disel dan premium pembakarannya kurang sempurna sehingga
terjadi polutan yang berbahaya. Dalam program lagit biru, hal ini dikaitkan dengan
penggantian bahan bakar ke arah bahan bakar gas yang memberikan hasil pembakaran lebih
baik. Kedua, mengubah mesin kendaraan. Mesin dengan bahan bakar disel diganti dengan
mesin bahan bakar gas. Ketiga, memasang alat-alat pembersihan polutan pada kendaraan
bermotor.
6. Menggalakan penanaman pohon. Mempertahankan paru-paru kota dengan memperluas
pertamanan dan penanaman berbagai jenis pohon sebagai penangkal pencemaran. Sebab
tumbuhan akan menyerap hasil pencemaran udara (CO2) dan melepaskan oksigen sehingga
mengisap polutan dan mengurangi polutan dengan kehadiran oksigen.
7. Bentuk pencegahan yang lain adalah membiasakan diri untuk mengkonsumsi makanan
mengandung serat tinggi. Serat makanan dapat menetralkan zat pencemar udara dan
mengurangi penyerapan logam berat melalui sistem pencernaan kita. Dan yang paling penting
pemerintah hendaknya komitmen terhadap mengganti bensin bertimbal dengan bensin tanpa
Timbal.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
Pencemaran udarah adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya kedalam
atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada
kesehatam manusia secara umum menurunkan kualitas lingkungan
Jenis-jenis pencemaran udara menurut bentuk : gas, pertikel. Menurut tempat : ruangan
(indoor), udara bebas (outdoor). Gangguan kesehatan : Iritansia, asfiksia, anetesia, toksis.
Menurut asal : primer, sekunder
Sumber pencemaran udara yaitu: kegiatan manusia, sumber alami, kebocoran tangki klor,
dan lain-lain
Pencemran udara dapat membahayakan kesehatan manusia, kesehatan tanaman, dapat
menyebabkan hujan asam, efek ruma kaca, kerusakan lapisan ozon, dan sebagainya.
Ada lima dasar dalam mencegah atau memperbaiki pencemaran udara berbentuk gas yaitu:
absorbsi, adsorbsi, kondensasi, pembakaran, dan reaksi kimia.

B. Saran
Untuk mencegah terjadinya pencemaran udara yang lebih lanjut hendaknya kita semua
ikut menjaga kebersihan udara dan meminimalkan pencemaran udara, misalnya tidak
memakai kendaraan bermotor yang mengeluarkan banyak asap, tidak membuang gas yang
berbahaya secara sembarangan terutama bagi kegiatan industri, dan lain sebagainya agar
kebersihan udara tetap terjaga.
http://htotechno.blogspot.co.id/2014/06/makalah-pencemaran-udara-lengkap.html

Gangguan Kesehatan Dan Gejala Penyakit Akibat Pencemaran Udara

http://ghodayakl.blogspot.co.id/2011/01/gangguan-kesehatan-dan-gejala-
penyakit_29.html

Polutan udara menimbulkan masalah kesehatan pada tubuh manusia, dan paling
sering dihubungkan dengan pabrik, industri, bencana alam, buangan kendaraan
bermotor, asap rokok, bahan bakar bersumber dari dapur, dll.

Efek polusi udara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: efek jangka pendek
atau akut dan efek jangka panjang atau kronik.

Gangguan kesehatan dan gejala yang dapat timbul karena pencemaran udara
meliputi:
1. Bersifat Karsinogenik, yaitu
a. Acrylonitrite, dapat menimbulkan kanker paru. Secara kronik dapat menimbulkan
dermatitis,
b. Arsenic, dapat menimbulkan kanker paru, disamping itu dampak secara kronik
bervariasi, seperti dermatitis, mucosa memberance, dll.
c. Chromium dapat menimbulkan kanker paru, disamping itu dapat menyebabkan
irritasi akut dapat menimbulkan dermatitis.
d. Nickel, dapat menimbulkan kanker paru, disamping itu dapat menimbulkan
gangguan pernapasan, astma, dan dermatitis.
e. Polynuclear aromatic Hydrocarbons, dapat menimbulkan kanker paru.
f. Asbestos, dapat menimbulkan kanker paru. Disamping itu dapat menimbulkan
mesothelioma
g. Radon, dapat menimbulkan kanker paru. Disamping itu dapat pula menimbulkan
gangguan syarat,
h. Benzene dapat menyebabkan leukemia. saluran pernafasan, anemia, dll
i. Vynyl Chloride dapat menimbulkan kanker liver atau organ lain.
2. Bersifat toksik dan menimbulkan gangguan kesehatan, antara lain:
a. Keracunan Sulfur dioksida (SO2), seperti Pharingitis, bronchitis, ashma, dan
gangguan nafas. Gejala yang ditimbulkannya dapat bersifat akut, yaitu: Sesak nafas,
iritasi mata.
b. Keracunan Karbon monoksida (CO), dapat berupa gangguan pada proses
oksigenisasi dalam tubuh. Gejala yang ditimbulkan dapat bersifat akut: Sakit kepala,
mual, sesak nafas/nafas tidak teratur, suhu badan turun, shock, dan oedema paru.
Pengaruh CO terhadap tubuh terutama disebabkan karena reaksi antara CO dengan
haemoglobin ( Hb) di dalam darah. Haemoglobin di dalam darah secara normal
berfungsi dalam sistem transport untuk membawa oksigen dalam bentuk
oksihaemoglobin ( O2Hb ) dan paru-paru ke sel sel tubuh, dan membawa CO2
dalam bentuk CO2Hb dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Dengan adanya CO2
haemoglobin dapat membentuk COHb. Jika reaksi demikian yang terjadi maka
kemampuan darah untuk mentransport oksigen menjadi berkurang.
Konsentrasi COHb dalam darah < 1,0% tidak ada pengaruh, 1-2% penampilan agak
tidak normal, 2-5% berpengaruh terhadap sistem saraf sentral, reaksi pancaindra
tidak normal, pandangan kabur; >5% perubahan fungsi jantung 10 80%: Kepala
pusing, mual, nberkunang-kunang, pingsan;
c. Keracunan Nitrogen oksida (NO2), dapat berupa gangguan iritasi selaput lendir
pernafasan, sampai kematian. Gejala yang ditimbulkan dapat bersifat akut Oedema
paru, sakit kepala, tenggorokan kering, batuk, nafas pendek, suhu badan naik, dan
nyeri dada kanan.
Gejala yang bersifat kronik antara lain dengan iritasi ringan, rasa terbakar dan nyeri
pada tenggorokkan dan dada, batuk, nafas pendek.
d. Keracunan Ozon (O3), dapat menimbulkan, gangguan keseimbangan otot mata, alat
pengecap, konsentrasi/berfikir. Gejala yang timbul dapat berupa akut dan kronis .
Gejala akut antara lain :mulut kering, nyeri dada, lemah kaki dan tangan, susah tidur,
dan batuk, sedangkan gejala kronik merupakan penyakit paru-paru.
e. Keracunan Partikel Debu, dapat menimbulkan gangguan kesehatan, berupa
Peradangan pada saluran pernafasan, gangguan penglihatan dan iritasi kulit. Gejala
akut antara lain sesak nafas, gatal-gatal kulit.
f. Keracunan Timbel (Pb), dapat merupakan gangguan pada sistim syaraf pusat pada
anak, termasuk penurunan tingkat kecerdasan dan hiperaktifitas, kerusakan ginjal.
Gejala yang bersifat akut: Hilang nafsu makan, konstipasi, lelah, sakit kepala,
anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang, gangguan penglihatan.
g. Keracunan Hidrogen sulfida (H2S), dapat menimbulkan Asphixia, merusak sistim
syaraf penciuman, ginjal dan hati.
h. Keracunan Amoniak (NH3), dapat, menimbulkan gangguan Kesehatan, berupa iritasi
mata, tenggorokan, dan oedema paru.
i. Keracunan Hidro karbon (HC), dapat menimbulkan Kelelahan, leukopenia, anemia,
dan efek karsinogenik.
Pengaruh terhadap lingkungan
karena pencemaran udara meliputi

A. Aspek Rumah Kaca

Pemanasan global terjadi karenakan adanya gas rumah kaca ( uap air, CO 2, N2O,
CH4, dan O3; Chloroflurokarbon ( CFC ) di atmosfir.

Pancaran radiasi sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi setelah melalui
penerapan dari berbagai gas di atmosfir, sebagaian di antaranya dipantulkan dan
diserap oleh permukaan bumi. Radiasi yang diserap dipancarkan lagi oleh
permukaan bumi sebagai sinar infra merah yang bergelombang panjang. Sinar
tersebut di atmosfir kembali diserap oleh gas-gas rumah kaca, seperti uap air dan
CO2 sehingga tidak terlepas k e angkasa luar, dan mengakibatkan panas
terperangkap di troposfir, akhirnya meningkatkan suhu di permukaaan bumi dan
lapisan troposfir.

Semakin tinggi adanya pencemaran udara, terutama gas dengan panjang


gelombang 7.103 nm dan 13.103 makin sedekit infra merah dapat melalui jendela
maka udara makin panas, dan semakin lama masa tinggal gas di atmosfir juga akan
mempengaruhi kenaikan suhu bumi. (Setiap gas mempunyai waktu tinggal yang
berbeda-beda).

B. Penipisan Lapisan Ozon

Pada lapisan stratosfir, terdapat O3 yang melindungi kehidupan dimuka bumi, dari
sinar ultraviolet. Peningkatan lubang Ozon akan meningkatkan jumlah penyakit
kanker kulit, penyakit katarak, kanker kulit, menurunkan immunitas tubuh serta
produksi pertanian dan perikanan.

Penyebab utama adanya lubang Ozon adalah akibat klorofluorokarbon yang biasa
digunakan untuk aerosol (gas pendorong), alat pengkondisi udara, kulkas, pada
industri plastik, karet busa, Styrofoam, dsbnya.

CFC 12 (digunakan di industri) dan CFC- 11(digunakan untuk busa kursi) CFC-13
(untuk membersihkan mikrochip), merupakan gas gas tidak beracun, tidak mudah
terbakar, dan sangat stabil atau tidak mengalami kerusakan akhirnya akan dapat
mencapai stratosfir, dan akan terkena sinar ultravilet yang berenergi tinggi, sehingga
mengalami dekomposisi dengan melepaskan atom khlor.

Atom Khlor sanngat reaktif dapat merusak ozon. Setiap atom khlor dapat merusak
100.000 molekul ozon. Effisiensi penggunaan energi di industri, transportasi,
pendaur ulangan CO2 menggunakan energi biomassa dan pengembangan energi
yang tidak menghasilkan CO2 (energi angin, surya, PLTA) adalah merupakan
alternatif pemecahan masalah.
Gas lain adalah Halon, yang diginakan pada alat pemadam kebakaran, ruang
komputer, musium, tempat penyimpanan bahan berharga di bank.
Gambar Reaksi Penipisan Lapisan Ozon (oleh CFC12)
Cl2F2C + sinar UV ClF2C + Cl*
CL* + O3 ClO + O2
CLO + O Cl* + O2
CL* + O3 dst 10.0000 100.000 kali

C. Hujan Asam.
Hujan asam ( deposisi Asam ) terjadi karena pembakaran bahan bakar terutama
bahan bakar fosil, mengakibatkan terbentuk asam sulfat dan asam nitrat. Asam
tersebut dapat diposisikan pada hutan, tanaman pertanian, danau, gedung sehingga
merusak dan kematian pada organisme hidup. Kerusakan akan lebih parah dengan
terbentuknya ozon yang beracun dari polutan NOx, melalui reaksi fotokimia,
berdampak negatif terhadap kesehatan .

Pengendalian deposisi asam adalah melalui penggunaan bahan bakar rendah


belerang, penggunaan gas alam, mengurangi kandungan belerang sebelum
pembakaran, penghematan energi.

Bentuk klinis pneumonia merupakan bentuk tersering ditemukan. Gejala klinis timbul
mendadak berupa demam tinggi, mialgia dan batuk kering. Gejala non pulmoner
seperti gangguan kesadaran ringan dan diare sering pula ditemukan. Penumonia
karena legionella biasanya tidak responsif terhadap pengobatan dengan
sefalosporin berspektrum lebar ataupun aminoglikosida. Abses paru umum
ditemukan pada kasus yang fatal dan abses ini jarang dikenali pada rontgenogram.
Penyembuhan penyakit berlangsung lama dan pada beberapa kasus diikuti oleh
gejala residual akibat scarring paru-paru.

Penyebaran kuman melalui aliran darah sering terjadi pada kasus berat. Data satu
penelitian menunjukkan bahwa pada 38 % kasus, kuman legionella dapat diisolasi
dari darah. Berbagai gambaran klinis yang timbul akibat penyebaran hematogen
diatas telah dilaporkan, antara lain dalam bentuk : empiema, perikarditis, miokarditis,
endokarditis, pankreatitis, pielonefritis, peritonitis, abses hepar, selulitis, ensefalitis,
artritis, dsb.

Penyakit Akibat Pencemaran Udara

Pada jaman yang serba canggih ini, telah menjadi jaman yang memiliki tingkat
pencemaran udara lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pencemaran udara disebabkan karena terjadinya partikel-partikel udara yang
tercemar akibat ulah manusia yaitu lewat kegiatan industri dan teknologi. Partikel-
partikel tersebut pada umumnya akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan
dan kesehatan manusia. Terdapat banyak sekali penyakit akibat dari kejadian ini,
salah satunya adalah penyakit saluran pernapasan tau yang disebut dengan
pneumoconiosis.
Image Source: pixabay.com

Hal itu disebabkan pada saat manusia bernafas, partikel yang tercemar (debu) akan
ikut terhirup bersamaan dengan udara sehingga akan masuk ke dalam paru-paru.
Ukuran debu-debu yang terhirup tersebut yang akan menentukan letak
penempelannya di dalam paru-paru. Debu yang memiliki ukuran 3 hingga 5 mikro
akan tertahan pada saluran pernafasan di bagian tengah, debu atau partikel yang
tercemar dengan ukuran 3 hingga 1 mikro akan tertahan pada saluran pernafasan di
bagian dalam kantung paru-paru (alveoli). Kemudian debu atau partikel tercemar
yang memiliki ukuran kurang dari 1 mikro akan ikut keluar pada saat nafas
dihembuskan.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan menjelaskan mengenai penyakit apa saja
yang disebabkan oleh pencemaran udara.

Gangguan Kesehatan dan Gejala yang Disebabkan


oleh Pencemaran Polusi Udara

1. Penyakit Beriliosis

Udara yang tercemar memiliki kandungan logam birilium berupa logam murni,
seperti sulfat, oksida maupun dalam bentuk holagenida. Debu logam tersebut dapat
menyebabkan penyakit beriliosis yang ditandai dengan gejala batuk kering, sesak
nafas dan demam. Penyakit ini banyak ditemukan pada para pekerja industri.

2. Penyakit Bisinosis

Penyakit bisinosis adalah penyakit gangguan pernafasan yang disebabkan oleh


adanya pencermaran serat kapas dan debu kapas di udara yang akan terhisap ke
paru-paru. Gajala awal penyakit ini ditandai dengan sesak nafas, terasa berat di
dada. Untuk kasus penyakit bisinosis yang sudah parah biasanya juga akan diikuti
dengan penyakit amphyseman dan bronchitis.

3. Penyakit Antrakosis

Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh batu
bara. Umumnya penyakit ini terjadi pada para penambang batu bara. Gejala awal
penyakit ini diakiabatkan karena adanya sesak nafas akibat menghirup debu batu
bara. Hal itu disebabkan karena di dalam debu batu bara terdapat kandungan silikat.

4. Penyakit Asbestosis

Sesuai dengan namanya, penyakit ini disebabkan oleh debu atau serat asbes yang
mencemari udara. Asbes terbuat dari kandungan magnesium dan asam silikat. Debu
asbes jika terhirup sampai ke paru-paru akan menyebabkan batuk-batuk disertai
dahak dan sesak nafas.

5. Penyakit Silikosis

Selanjutnya adalah penyakit silikosis, penyakit silikosis disebabkan oleh


pencemaran debu silika, berupa senyawa SiO2 yang dapat terhisap masuk ke dalam
paru-paru dan mengendap di dalam paru-paru. Penyakit gangguan pernafasan
seperti ini ditandai dengan gejala sesak nafas yang disertai dengan batuk-batuk.

Itu adalah beberapa informasi mengenai penyakit akibat pencemaran udara.


Penyakit-penyakit akan diketahui gejalanya dalam kurun waktu yang cukup lama
sekitar 4 hingga 5 tahun. Oleh kerena perlu untuk melakukan pemeriksaan
kesehatan secara berkala. Jangan lupa baca juga: Macam-macam penyakit saat
musim hujan yang perlu diwaspadai

http://www.kesehatanpedia.com/2015/01/penyakit-akibat-pencemaran-udara.html

2). DAMPAK/PENGARUH PENCEMARAN UDARA


Dampak/pengaruh pencemaran udara bisa mempengaruhi terhadap makhluk hidup baik
secara langsung maupun tidak langsung dapat di lihat Tabel 1 dan Tabel 2

Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan secara tidak langsung.


Pencemaran udara disamping berdampak langsung bagi kesehatan manusia/individu,
juga berdampak tidak langsung bagi kesehatan. Efek SO2 terhadap vegetasi dikenal dapat
menimbulkan pemucatan pada bagian antara tulang atau tepi daun. Emisi oleh Fluor (F),
Sulfur Dioksida (SO2) dan Ozon (O3) mengakibatkan gangguan proses asimilasi pada
tumbuhan. Pada tanaman sayuran yang terkena/mengandung pencemar Pb yang pada
akhirnya memiliki potensi bahaya kesehatan masyarakat apabila tanaman sayuran tersebut di
konsumsi oleh manusia.

Pencemaran Udara Menyebabkan Penyakit Degeneratif


Pencemaran Udara menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit degeneratif yang
belakangan makin meningkat prevalensinya. Oleh sebab itu, pengendalian Pencemaran Udara
harus dilakukan secara terpadu.
Tim ahli Teknik Lingkungan bekerja sama dengan penelitian JICA, badan peneliti dari
Jepang, menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita hipertensi akibat pencemaran
timbal (Pb).
Meningkatnya penderita hipertensi ini disebabkan keracunan Pb yang ditemukan di
dalam darah si penderita. Penyakit hipertensi ini bisa berkomplikasi dengan jantung, ginjal
maupun gula darah sehingga menyebabkan penderita mengalami diabetes hipertensi.
Pengguna lalu lintas yang aktif seperti polisi, penjaga pintu tol, pedagang asongan
maupun sopir merupakan orang yang berpotensi terkena hipertensi karena timbal ini, sebab
mereka sering berada di jalan.
Selain itu, angka harapan hidup pun rata-rata mencapai 50 tahun dari usia harapan
hidup untuk orang sehat selama ini, yakni 70 tahun. Selain hipertensi, impotensi juga
meningkat. Sebetulnya tidak hanya timbal saja. Pencemaran udara di sekitar lokasi pabrik
ataupun tambang emas telah terbukti menyebabkan penyakit kanker dalam jangka waktu
tertentu.

Penyakit lain yang dianggap sebagai akibat dari udara yang tercemar adalah:
1. Cough / batuk
2. Throat inflammation / radang tenggorokan
3. Asthma / asma
4. Emphysema / emfisema
5. Lung cancer / kanker paru-paru
6. Bronchitis / paru-paru basah
7. IQ decreasement / penurunan tingkat kecerdasan
8. Heart diseases / jantung
9. Hypertension / tekanan darah tinggi
10. Headache / sakit kepala
11. Brain & nerve cells damage / kerusakan sel-sel otak dan saraf
12. Infertillity / penurunan tingkat kesuburan

Penyakit yang ditimbulkan oleh udara yang tercemar, menurut ahli kesehatan Juga dapat
dibagi menjadi 5 bagian, diantaranya:
1. Penyakit Silikosis
Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang
terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini banyak
terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi
(mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu, debu silika juka banyak terdapat di tempat di
tempat penampang bijih besi, timah putih dan tambang batubara. Pemakaian batubara sebagai
bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika
akan keluar dan terdispersi ke udara bersama sama dengan partikel lainnya, seperti debu
alumina, oksida besi dan karbon dalam bentuk abu.
Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2
sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit silicosis akan
segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru
dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-
batuk. Batuk ii seringkali tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis tingkah sedang, gejala
sesak nafas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru-parunya
mudah sekali diamati. Bila penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin
parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan
mengakibatkan kegagalan kerja jantung.
Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan
pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat sebab penyakit
silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventif lebih penting dan berarti
dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis akan lebih buruk kalau
penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma
broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya.
Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat
membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data kesehatan
pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk
pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu waktu diperlukan.
2. Penyakit Asbestosis
Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau serat
asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai macam silikat, namun
yang paling utama adalah Magnesium silikat. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik dan
industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik beratap asbes dan
lain sebagainya.
Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan mengakibatkan gejala sesak
napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Ujung-ujung jari penderitanya akan
tampak membesar / melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan tampak
adanya debu asbes dalam dahak tersebut. Pemakaian asbes untuk berbagai macam keperluan
kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan agar
jangan sampai mengakibatkan asbestosis ini.

3. Penyakit Bisinosis
Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran
debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Debu kapas
atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan
dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan kapas atau tekstil;
seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi dan lain sebagainya.

Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal
penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin
(yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang
menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi
alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala
awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga
diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema.

4. Penyakit Antrakosis
Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu
batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada
pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara
pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut bertenaga batubara, serta pekerja
boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara.
Masa inkubasi penyakit ini antara 2 4 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis dan
juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga ditandai dengan
adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu silikat
maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit silicosis. Bila hal ini terjadi
maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu
penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis dan penyakit tuberkolosilikoantrakosis.
Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan waktu
yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatif tidak begitu berbahaya. Penyakit antrakosis
menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema yang memungkinkan
terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka antrakosis murni lebih berat daripada
silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti oleh emphysema. Sebenarnya antara antrakosis
murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan, kecuali dari sumber penyebabnya. Sedangkan
paenyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis
lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat dari fototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-
paru akibat adanya debu batubara dan debu silikat, serta juga adanya baksil tuberculosis yang
menyerang paru-paru.

5. Penyakit Beriliosis
Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam murni, oksida,
sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan
yang disebut beriliosis. Debu logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis, bronchitis
dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam, batuk kering dan sesak napas.
Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri yang menggunakan logam
campuran berilium, tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik pembuatan tabung radio
dan juga pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir.
Selain dari itu, pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam bentuk silikat)
dan juga mangan, dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang tertunda atau delayed
berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. Efek tertunda ini bisa berselang 5
tahun setelah berhenti menghirup udara yang tercemar oleh debu logam tersebut. Jadi lima
tahun setelah pekerja tersebut tidak lagi berada di lingkungan yang mengandung debu logam
tersebut, penyakit beriliosis mungkin saja timbul. Penyakit ini ditandai dengan gejala mudah
lelah, berat badan yang menurun dan sesak napas. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan
secara berkala bagi pekerja-pekerja yang terlibat dengan pekerja yang menggunakan logam
tersebut perlu dilaksanakan terus menerus.

3). PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA


Penanggulangan pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan
alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan,
Penanggulangan pencemaran udara berbentuk gas di lihat pada tabel 3.

Penanggulangan Polusi udara dari ruangan


Sumber dari pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap dapur,
bahan baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh ruangan.
Pencegahan pencemaran udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan :
Ventilasi yang sesuai, yaitu :
Usahakan polutan yang masuk ruangan seminimum mungkin.
Tempatkan alat pengeluaran udara dekat dengan sumber pencemaran. Usahakan
menggantikan udara yang keluar dari ruangan sehingga udara yang masuk ke ruangan sesuai
dengan kebutuhan.
Filtrasi, Memasang filter dipergunakan dalam ruangan dimaksudkan untuk menangkap
polutan dari sumbernya dan polutan dari udara luar ruangan.
Pembersihan udara secara elektronik. Udara yang mengandung polutan dilewatkan melalui
alat ini sehingga udara dalam ruangan sudah berkurang polutannya atau disebut bebas
polutan.

PENUTUP
Upaya penanggulangan terhadap pencemaran udara diberitahukan tentang berbagai cara
untuk penanggulangan dan pencegahan Pencemaraan udara yang tergantung pada sifat dan
sumber polutan udara, seperti mengurangi polutan, mengubah polutan, melarutkan polutan
dan mendisfersikan polutan. Diharapkan agar keadaan lingkungan tetap sehat dan bersih dari
pencemaran udara.
4). Desain Rekayasa Teknik Untuk Kualitas Udara
Pengendalian pencemaran udara dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian pada
sumber pencemar dan pengenceran limbah gas. Pengendalian pada sumber pencemar
merupakan metode yang lebih efektif karena hal tersebut dapat mengurangi keseluruhan
limbah gas yang akan diproses dan yang pada akhirnya dibuang ke lingkungan. Di dalam
sebuah pabrik kimia, pengendalian pencemaran udara terdiri dari dua bagian yaitu
penanggulangan emisi debu dan penanggulangan emisi senyawa pencemar.
Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk memisahkan debu dari alirah gas buang. Debu
dapat ditemui dalam berbagai ukuran, bentuk, komposisi kimia, densitas, daya kohesi, dan
sifat higroskopik yang berbeda. Maka dari itu, pemilihan alat pemisah debu yang tepat
berkaitan dengan tujuan akhir pengolahan dan juga aspek ekonomis. Secara umum alat
pemisah debu dapat diklasifikasikan menurut prinsip kerjanya:

Pemisah Brown
Alat pemisah debu yang bekerja dengan prinsip ini menerapkan prinsip gerak partikel
menurut Brown. Alat ini dapat memisahkan debu dengan rentang ukuran 0,01 0,05 mikron.
Alat yang dipatenkan dibentuk oleh susunan filamen gelas denga jarak antar filamen yang
lebih kecil dari lintasan bebas rata-rata partikel.
Penapisan
Deretan penapis atau filter bag akan dapat menghilangkan debu hingga 0,1 mikron.
Susunan penapis ini dapat digunakan untuk gas buang yang mengandung minyak atau debu
higroskopik.

Electrostatic Precipitator
Gambar 1. Sketsa alat Elektrostatik precipitator

Pengendap elektrostatik
Alat ini mengalirkan tegangan yang tinggi dan dikenakan pada aliran gas yang
berkecepatan rendah. Debu yang telah menempel dapat dihilangkan secara beraturan dengan
cara getaran. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan pengendap elektrostatik ini ialah
didapatkannya debu yang kering dengan ukuran rentang 0,2 0,5 mikron. Secara teoritik
seharusnya partikel yang terkumpulkan tidak memiliki batas minimum.

Pengumpul sentrifugal
Pemisahan debu dari aliran gas didasarkan pada gaya sentrifugal yang dibangkitkan
oleh bentuk saluran masuk alat. Gaya ini melemparkan partikel ke dinding dan gas berputar
(vortex) sehingga debu akan menempel di dinding serta terkumpul pada dasar alat. Alat yang
menggunakan prinsip ini digunakan untuk pemisahan partikel dengan rentang ukuran
diameter hingga 10 mikron lebih.

Pemisah inersia
Pemisah ini bekerja atas gaya inersia yang dimiliki oleh partikel dalam aliran gas.
Pemisah ini menggunakan susunan penyekat sehingga partikel akan bertumbukan dengan
penyekat dan akan dipisahkan dari aliran fasa gas. Alat yang bekerja berdasarkan prinsip
inersia ini bekerja dengan baik untuk partikel yang berukuran hingga 5 mikron.
Pengendapan dengan gravitasi
Alat yang bekerja dengan prinsip ini memanfaatkan perbedaan gaya gravitasi dan
kecepatan yang dialami oleh partikel. Alat ini akan bekerja dengan baik untuk partikel
dengan ukuran yang lebih besar dari 40 mikron dan tidak digunakan sebagi pemisah debu
tingkat akhir.
Di industri, terdapat juga beberapa alat yang dapat memisahkan debu dan gas secara
bersamaan (simultan). Alat-alat tersebut memanfaatkan sifat-sifat fisik debu sekaligus sifat
gas yang dapat terlarut dalam cairan. Beberapa metoda umum yang dapat digunakan untuk
pemisahan secara simultan ialah:

Irrigated Cyclone Scrubber


Gambar 2. Sketsa Irrigated Cyclone Scrubber

Menara percik
Prinsip kerja menara percik ialah mengkontakkan aliran gas yang berkecepatan rendah
dengan aliran air yang bertekanan tinggi dalam bentuk butiran. Alat ini merupakan alat yang
relatif sederhana dengan kemampuan penghilangan sedang (moderate). Menara percik
mampu mengurangi kandungan debu dengan rentang ukuran diameter 10-20 mikron dan gas
yang larut dalam air.

Siklon basah
Modifikasi dari siklon ini dapat menangani gas yang berputar lewat percikan air.
Butiran air yang mendandung partikel dan gas yang terlarut akan dipisahkan dengan aliran
gas utama atas dasar gaya sentrifugal. Slurry dikumpulkan di bagian bawah siklon. Siklon
jenis ini lebih baik daripada menara percik. Rentang ukuran debu yang dapat dipisahkan ialah
antara 3 5 mikron.

Pemisah venturi
Metode pemisahan venturi didasarkan atas kecepatan gas yang tinggi pada bagian yang
disempitkan dan kemudan gas akan bersentuhan dengan butir air yang dimasukkan di daerah
sempit tersebut. Alat ini dapat memisahakan partikel hingga ukuran 0,1 mikron dan gas yang
larut di dalam air.

Tumbukan orifice plate


Alat ini disusun oleh piringan yang berlubang dan gas yang lewat orifis ini membentur
lapisan air hingga membentuk percikan air. Percikan ini akan bertumbukkan dengan penyekat
dan air akan menyerap gas serta mengikat debu. Ukuran partikel paling kecil yang dapat
diserap ialah 1 mikron.

Menara dengan packing


Prinsip penyerapan gas dilakukan dengan cara mengkontakkan cairan dan gas di antara
packing. Aliran gas dan cairan dapat mengalir secara co-current, counter-current, ataupun
cross-current. Ukuran debu yang dapat diserap ialah debu yang berdiameter lebih dari 10
mikron.

Pencuci dengan pengintian


Prinsip yang diterapkan adalah pertumbuhan inti dengan kondensasi dan partikel yang
dapat ditangani ialah partikel yang berdiameter hingga 0,01 mikron serta dikumpulkan pada
permnukaan filamen.

Pembentur turbulen
Pembentur turben pada dasarnya ialah penyerapan partikel dengan cara mengalirkan
aliran gas lewat cairan yang berisi bola-bola pejal. Partikel dapat dipisahan dari aliran gas
karena bertumbukkan dengan bola-bola tersebut. Efisiensi penyerapan gas bergantung pada
jumlah tahap yang digunakan.

Pemilihan Teknologi
Teknologi pengendalian harus dikaji secara seksama agar penggunaan alat tidak berlebihan
dan kinerja yang diajukan oleh pembuat alat dapat dicapai dan memenuhi persyaratan
perlindungan lingkungan dan disertai juga dengan perhitungan desain teknis rekayasa
engineer serta analisa laboratorium dengan pengolahan data dari hasil verifikasi. Secara
umum faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan teknologi pengendalian dan rancangan
sistemnya ialah:
1. watak gas buang atau effluent
2. tingkat pengurangan limbah yang dibutuhkan
3. teknologi komponen alat pengendalian pencemaran
4. kemungkinan perolehan senyawa pencemar yang bernilai ekonomi

Industri-industri di Indonesia terutama industri milik negara telah menerapakan sistem


pengendalian pencemaran udara dan sistem ini terutama dikaitkan dengan proses produksi
serta penanggulangan pencemaran debu.

Tabel 1 Dampak pencemaran udara berupa gas


NO BAHAN SUMBER DAMPAK/AKIBAT PADA
PENCEMAR INDIVIDU/MASYARAKAT
1. Sulfur Dioksida Batu bara atau bahan bakar minyak Menimbulkan efek iritasi pada saluran nafas
(SO2) yang mengandung Sulfur. sehingga menimbulkan gejala batuk dan sesak
Pembakaran limbah pertanah. nafas.
Proses dalam industri.

2. Hidrogen Sulfa Dari kawah gunung yang masih Menimbulkan bau yang tidak sedap, dapat merusak
(H2S) aktif. indera penciuman (nervus olfactory)
3. Nitrogen Oksida Berbagai jenis pembakaran. Menggangu sistem pernapasan.
(N2O) Gas buang kendaran bermotor. Melemahkan sistem pernapasan paru dan saluran
Nitrogen Peledak, pabrik pupuk. nafas sehingga paru mudah terserang infeksi.
Monoksida (NO)
Nitrogen Dioksida
(NO2)
4. Amoniak (NH3) Proses Industri Menimbulkan bau yang tidak sedap/menyengat.
Menyebabkan sistem pernapasan, Bronchitis,
merusak indera penciuman.
5. Karbon Dioksida Semua hasil pembakaran.Proses Menimbulkan efek sistematik, karena meracuni
(CO2)Karbon Industri tubuh dengan cara pengikatan hemoglobin yang
Monoksida . amat vital bagi oksigenasi jaringan tubuh
(CO)Hidrokarbon akaibatnya apabila otak kekurangan oksigen dapat
menimbulkan kematian.
Dalam jumlah kecil dapat menimbulkan gangguan
berfikir, gerakan otot, gangguan jantung.

Tabel 2 Penanggulangan pencemaran udara benbentuk gas


NO BAHAN PENCEMAR PENANGGULANGAN KETERANGAN
1. Sulfur Dioksida (SO2) Absorbsi Dalam proses adsorbsi dipergunakan
Hidrogen Suldfida (H2S) bahan padat yang dapat menyerap
polutan. Berbagai tipe adsorben yang
Nitrogen Oksida (N2O) dipergunakan antara lain karbon aktif
Nitrogen Monoksida (NO) dan silikat. Adsorben mempunyai daya
kejenuhan sehingga selalu diperlukan
Nitrogen Dioksida (NO2) pergantian, bersifat disposal (sekali
Amoniak (NH3) pakai buang) atau dibersihkan
Karbondioksidak kemudian dipakai kembali.
(CO2)Karbon Monoksida
(CO)Hidrokarbon
Pembakaran Mempergunakan proses oksidasi panas
untuk menghancurkan gas hidrokarbon
yang terdapat didalam polutan. Hasil
pembakaran berupa (CO2) dan (H2O).
Alat pembakarannya adalah Burner
dengan berbagai tipe dan temperaturnya
adalah 1200o1400o F
Reaksi Kimia Banyak dipergunakan pada emisi
golongan Nitrogen dan golongan Be-
lerang. Biasanya cara kerja ini
merupakan kombinasi dengan cara -
cara lain, hanya dalam pembersihan
polutan udara dengan reaksi kimia yang
dominan. Membersihkan gas golongan
nitrogen , caranya dengan