Anda di halaman 1dari 5

Nama : NI Wayan Windy Ferina

NIM : P07134012 001

Jenis Jenis Bakteri

Bakteri bisa digolongkan berdasarkan morfologi sel, sifat biokimia, serologi, %G+C,
DNA hibridisasi dan phagetypenya. Sistematika Bergey's yang menggunakan bentuk,
pewarnaan Gram dan kebutuhan oksigen membagi bakteri ke dalam 19 golongan. Pembagian
Bergey's maupun pembagian berdasarkan aktivitas bakteri di dalam bahan pangan yang
diusulkan oleh Frazier dan Westhoff tidak mempertimbangkan sifat-sifat genetikanya (%
G+C, hibridisasi DNA). Frazier dan Westhoff menggolongkan bakteri berdasarkan
aktivitasnya pada bahan pangan. Bakteri pembentuk asam terdiri dari bakteri asam laktat,
bakteri asam asetat, bakteri asam butirat, bakteri asam propionat.
Bakteri penghasil enzim ekstraseluler digolongkan menjadi bakteri proteolitik,
sakarolitik, lipolitik, dan pektolitik berdasarkan enzim yang disintesis. Bakteri juga
digolongkan berdasarkan temperatur optimum pertumbuhannya menjadi bakteri termofilik,
termodurik, dan psikrofilik Berdasarkan kemampuannya mentoleransi garam, bakteri
dibedakan menjadi halofilik dan halotoleran. Sedangkan bakteri-bakteri yang bisa tumbuh
pada konsentrasi gula tinggi disebut bakteri osmofilik. Beberapa bakteri dapat menghasilkan
pigmen yang tampak pada makanan yang ditumbuhinya. Kelompok bakteri lainnya adalah
bakteri penghasil lendir, gas, dan kelompok bakteri koliform.

Bakteri Proteolitik
Aktivitas proteolitik menghasilkan sedikit penggumpalan. Bakteri proteolitik adalah
bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang
diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai
enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai enzim protease ekstraseluler.
Dekomposisi protein oleh mikroorganisme lebih kompleks daripada pemecahan karbohidrat
dan produk akhirnya juga lebih bervariasi. Hal ini disebabkan struktur protein yang lebih
kompleks. Mikroorganisme melalui suatu sistem enzim yang kompleks, memecah protein
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana.(Durham, 1987).
Bakteri yang tergolong proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim proteinase
ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi didalam sel kemudian dilepaskan
keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai enzim proteinase ekstraseluler. Bakteri proteolitik
dapat dibedakan atas bebrapa kelompok yaitu :
Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif, tidak membentuk spora,
misalnya Pseudomonas dan Proteus.
Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif, membentuk spora, misalnya Bacillus.
Bakteri anaerobik pembentuk spora, misalnya sebagian spesies Clostridium.
(Dwidjoseputro, 1993)

Bakteri Lipolitik
Bakteri lipolitik merupakan bakteri yang membutuhkan konsentrasi lemak minimal terten
tu untuk pertumbuhannya. Kelompok bakteri lipolitik memproduksi lipase, yaitu enzim yang
mengkatalis hidrolisis lemak menjadi asam-asam lemak dangliserol. Bakteri lipolitik dapat
menyebabkan bahan pangan yang mengandung lemak menjadi bau tengik. Banyak bakteri
yang bersifat aerobik dan proteolitik aktif juga bersifat lipolitik. Beberapa spesies bakteri
menggunakan glycerol dan sedit gula. sementara itu beberapa spesies lainnya dapat
menghidrolisa asam lemak tak jenuh dan sebagian lagi dapat menetralisir asam lemak rantai
panjang menjadi keton. Enzim lipase bakteria dan protozoa sangat efektif dalam
menghidrolisa lemak dalam chloroplast.
Jenis yang mempunyai spesies bersifat lipolitik misalnya:
Pseudomonas
Alcaligenes
Serratia
Micrococcus.
Salah satu contoh yang bersifat lipolitik kuat misalnya P. Fluorescens (Fardiaz, 1992).

Bakteri Pektolitik
Pektin adalah karbohidrat, kompleks yang terdapat pada sayuran dan buah-
buahan. Campuran enzim pektolitik, disebut pektinase, dapat memecah pektin dan
menyebabkan busuk air atau busuk lunak, (soft rot) pada sayuran dan buah- buahan, atau
menyebabkan hilangnya kemampuan membentuk gel pada sari buah. Bakteri yang bersifat
pektolitik misanya beberapa spesies Erwinia, Bacillus dan Clostridium.
Bakteri Termofilik
Termofil adalah kelompok bakteri yang mempunyai suhu optimum pertumbuhan minimal
di atas 45 0C, biasanya 55 oC atau lebih. Bakteri ini sering tumbuh pada makanan yang
disimpan pada suhu tinggi, misalnya di dalam lemari pemanas. Contoh bakteri termofilik
misanya Bacillus stearothermophilus penyebab kebusukan asam tanpa gas (flat sour),
Clostridium thermosaccharolyti- cum penyebab busuk kembung pada makanan kaleng, dan
Lactobacillus thermophilus yang merupakan bakteri asam laktat termofil.
Habitat Bakteri Termofilik
Bakteri termofilik menyukai kondisi panas. Mereka hidup dan berkembang biak dalam
suhu ekstrem, yaitu antara 45C hingga 80C. Bahkan, ada bakteri termofilik yang
bereproduksi pada suhu 121C. Bakteri ini diberi namaStrain 121. Suhu 121C lebih panas
daripada suhu air mendidih. Tidak banyak tempat di muka bumi yang mampu menyediakan
habitat ekstrem bagi bakteri termofilik. Beberapa di antaranya adalah di sumber air panas,
kawah gunung berapi, dan di celah hidrotermal kedalaman laut. Celah tersebut adalah
rekahan permukaan bumi di bawah laut tempat magma merembes dan memanaskan air.
Bakteri termofilik pertama kali ditemukan pada 1960 oleh Thomas Brock. Bakteri ini
ditemukan di sumber air panas di Yellowstone.
Pertahanan Diri di Suhu Ekstrem
Dalam suhu yang sedemikian ekstrem, DNA bakteri lain tentu sudah meleleh. Bagaimana
bakteri termofilik mampu mempertahankan suhu tubuh ketika lingkungan sekitarnya
mendidih? Enzim, protein, dan DNA, bakteri ini stabil dan bekerja optimal pada suhu
ekstrem. Bakteri termofilik memiliki beberapa cara untuk menjaga DNA mereka
utuh. Kimiawi sel mereka mampu mencegah denaturasi protein. Stabilitas mereka juga
diperoleh karena formasi dan jumlah ikatan protein yang lebih banyak. Kandungan garam,
seperti potassium dan magnesium yang tinggi, mencegah penurunan ikatan fosfodiester.
Beberapa DNA bakteri termofilik berupa lilitan. DNA untai ganda memiliki lilitan yang lebih
banyak sehingga lebih tahan panas.

Toleransi
Menurut para ilmuwan, tidak ada mikroorganisme yang mampu bertahan hidup pada suhu
lebih dari 150C. Namun, hal tersebut belum pernah dibuktikan keberadaannya. Bakteri
termofilik ekstrem (hyperthermofil) membutuhkan suhu 80C hingga 105C untuk
berkembang. Banyak bakteri termofilik yang membutuhkan elemen belerang untuk tumbuh
dan berkembang.
Beberapa di antaranya merupakan bakteri anaerob yang menggunakan belerang sebagai
akseptor elektron dalam proses respirasi selular. Ada juga bakteri termofilik litotrof yang
mengoksidasi belerang menjadi asam sulfat sebagai sumber energi. Bakteri termofilik litotrof
mampu beradaptasi dengan pH yang sangat rendah. Oleh karena itu, bakteri ini juga termasuk
golonganacidofil. Bakteri termofilik litotrof menghuni habitat bersuhu tinggi yang kaya
belerang. Biasanya, mereka terdapat di kawah gunung berapi, sumber air panas, geyser, dan
fumarol. Beberapa bakteri termofilik litotrof berwarna karena memiliki pigmen fotosintesis.
Contoh bakteri termofilik adalahThermus aquaticus dan Thermococcus litoralis.

Bakteri Psikotrofik
Kelompok bakteri ini sering tumbuh pada makanan yang didinginkan karena masih dapat
tumbuh pada suhu sedikit di atas suhu penbekuan. Bakteri psikrotropik terutama di temukan
di dalam jenis pseudomonas, Flavobacterium dan Alcdigenes, meskipun jenis lainnya seperti
Micrococcus, Lactobacillus, enterobacter dan Arthrobacter mungkin juga mengandung
spesies yang bersifat psikrotropik.

Bakteri Halofilik
Bakteri halofilik membutuhkan konsentrasi NaCl minimal tertentu untuk per-
tumbuhannya. Kebutuhan garam untuk pertumbuhan optimum bervariasi, yaitu 5-20 % untuk
bakteri halofilik sedang, dan 20-30 % untuk bakteri halofilik ekstrem. Spesies yang tumbuh
baik pada medium yang mengandung 2-5% garam disebut halofilik ringan. Beberapa bakteri
halotoleran (tahan garam), yaitu bakteri yang dapat tumbuh dengan atau tanpa garam. Bakteri
halofilik dan halotoleran sering ditemukan pada makanan berkadar garam tinggi atau didalam
larutan garam. Bakteri-bakteri tersebut diantaranya tergolong dalam jenis Halo- bacterium,
Halococcus, Sarcina, Micrococcus, Pseudomonas, Vibrio, Pedio- coccus dan Alcaligenes.
Daftar Pustaka

Abraham A. G., G. Antoni L., and Aon A. C., 1993. Proteolytic Activity of
Lactobacillus bulgaricus Grown in Milk, Journal of Diary Science. La Plata,
Argentina

Anonim. 2011. Bakteri termofilik Si Penggemar Panas. (online):


http://dicerahkan.blogspot.com/2011/02/bakteri-termofilik-si-penggemar-panas.html.
Diakses pada 03 Oktober 2013

Durham, D.R., D.B. Stewart, and E.J. Stellwag. 1987. Novel alkaline and heat stable
serine proteases from alkalaphilic Bacillus sp. strain GX6638. J. Bacterial.
169(6):2762- 2768

Dwidjoseputro, D. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Khairina, Amila. 2012. Lipotik. (online):


http://www.scribd.com/doc/109368872/lipolitik-akuuuuu. Diakses pada 03 Oktober
2013

Yagami, Dyah. 2011. Mikroorganisme (Jasad Renik). (online):


http://dyahflames.blogdetik.com/. Diakses pada 03 Oktober 2013