Anda di halaman 1dari 19

A.

PENDAHULUAN
Logika matematika merupakan bagian matematika yang membahas tentang hukum-
hukum, susunan atau pola pikir yang di hadapkan pada nilai kebenaran dari sudut
pandang matematika. Definisi, teorema atau dalil yang terdapat dalam matematika
dibangun berdasarkan logika matematika. Dengan demikian setiap masalah dalam
matematika harus dibuktikan kebenarannya berdasarkan prinsip-prinsip logika
matematika. Oleh karena itu penguasaan terhadap materi yang terdapat dalam
pokok bahasan logika matematika menjadi syarat perlu untuk memahami materi-
materi matematika yang tingkatannya lebih tinggi. Melalui modul ini disampaikan
bagaimana aturan-aturan yang ada dalam logika matematika untuk dapat digunakan
dalam membuktikan suatu pernyataan. Adapun untuk dapat mahir dalam kegiatan
pembuktian pernyataan-pernyataan matematika dibutuhkan banyak latihan
pembuktian.

B. TUJUAN
Tujuan yang diharapkan dalam penulisan modul ini adalah untuk membantu guru
memahami prinsip-prinsip logika matematika dan dapat menggunakannya dalam
membuktikan suatu pola atau hubungan dalam matematika. Adapun model
pembelajaran yang diterapkan dalam kagiatan pelatihan diharapkan dapat
memberikan informasi bagi peserta tentang alternatif model pembelajaran yang
dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran bagi siswa di kelas.
Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat:
1. Menyimpulkan sah atau tidaknya suatu pembuktian
2. Menarik kesimpulan dengan modus ponen, modus tollen dan silogisme.
3. Membuktikan sifat matematika dengan bukti langsung
4. Membuktikan sifat matematika dengan bukti tak langsung

C. PETUNJUK PEMBELAJARAN
Pembelajaran yang dilaksanakan berorientasi pada pemahaman konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang ada dalam logika matematika, dan penerapannya dalam
pembuktian sifat-sifat yang ada pada matematika. Materi disajikan dengan banyak
contoh, diharapkan peserta dapat memahami bagaimana membuktikan pola, sifat
atau formula matematika dengan menggunakan prinsip logika matematika.
Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran koperatif yang
diawali penjelasan tentang materi-materi yang ada dalam pokok bahasan logika
matematika namun tidak disajikan di dalam modul ini. Penjelasan ini tidak secara
mendalam, hanya bertujuan untuk mengingatkan tentang materi prasyarat saja.
Perlu diketahui bahwa isi modul ini lebih difokuskan pada penarikan kesimpulan,
dengan pertimbangan bagian-bagian sebelumnya tidak terlalu sulit untuk dipahami
sehingga dianggap peserta pelatihan sudah memahaminya. Pada tahap berikutnya,
peserta akan dikelompokkan dalam kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang
dan akan mendiskusikan materi yang dan menyelesaikan tugas-tugas yang ada
dalam modul. Di akhir kegiatan akan dilakukan diskusi secara klasikal untuk
membuat kesimpulan dan membahas tugas-tugas yang gagal diselesaikan dalam
kelompok.
D. KEGIATAN PEMBELAJAN
I. Kalimat Terbuka dan Pernyataan pada Matematika
Definisi merupakan suatu kesepakatan mengenai suatu istilah tertentu. Dengan
demikian kebenaran definisi tidak perlu dibuktikan. Definisi menjelaskan dengan
tepat apa yang didefinisikan. Namun demikian ada istilah-istilah dalam matematika
yang tidak didefinisikan, misalnya bilangan, garis, titik dan himpunan. Dalam
logika matematika kata kalimat, benar, dan salah adalah istilah yang tidak
didefinisikan. Pengertian penting yang harus dipahami dalam mempelajari logika
matematika adalah kalimat terbuka dan pernyataan.
Kalimat terbuka adalah kalimat yang menggandung variabel (satu atau lebih) dan
akan menjadi pernyataan jika variabelnya disubtitusi dengan nilai-nilai tertentu.
Contoh:
1. p + 2 = 17
2. x > 3
3. 4 + m < 2 atau n 2 = 9
Kalimat yang sudah dapat dikatakan benar atau salah disebut pernyataan atau
disebut juga proposisi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:
Pernyataan adalah suatu kalimat yang benar, atau salah tetapi tidak sekaligus benar
dan salah.
Perlu diketahui bahawa suatu pernyataan biasanya diberi nama dengan huruf kecil
p, q, r, s, t, atau huruf yang lainnya. Nilai kebenaran dari suatu pernyataan p akan
ditulis sebagai n(p). Sehingga jika nilai kebenaran dari suatu pernyataan p adalah
benar maka akan ditulis bahwa n(p) = B.
Pernyataan yang selalu bernilai benar disebut tautologi, sedangkan pernyataan yang
selalu bernilai salah disebut kontradiksi.
Contoh:
1. p : 10 x 5 = 15 (pernyataan yang salah : n(p) = S)
2. q : 100 5 = 95 (pernyataan yang benar n(q) = B)
3. r : 5 < 9 (pernyataan yang benar : n (r) = B)
4. s : 3 + 4 = 6 dan 6 > 2 (pernyataan yang salah : n(s) = S)

Latihan I
Yang manakah dari kalimat-kalimat di bawah ini yang merupakan kalimat terbuka,
pernyataan, atau bukan pernyataan dan bukan kalimat terbuka?
1. 10 + 10 + 10 = 3 x 10
2. 4y 10 = 18
3. Kota Jakarta ada di Pulau Bali
4. Bacalah buku ini!
5. 10 + 5 > 15
6. Hati-hatilah bila menyeberang jalan.
7. jumlah besar sudut-sudut dalam suatu segitiga adalah 180
8. 2n + 1 adalah bilangan ganjil untuk setiap bilangan asli n
9. 10x + 10 = 10 + 10y
10. Setiap balok mempunyai 8 buah rusuk.

II. Negasi, Konjungsi, Disjungsi, Implikasi dan Biimplikasi.


Hukum Negasi:
Negasi p ditulis p ( dibaca: tidak p , bukan p )
Jika n(p) = B, maka n( p) = S; atau
Jika n(p) = S, maka n( p) =B

Contoh:
Nyatakanlah negasi dari pernyataan-pernyataan dibawah ini:
1. 14 + 16 < 20
2. Jumlah dua buah bilangan ganjil adalah ganjil
Jawab:
1. Negasi dari 14 + 16 < 20 adalah tidak benar 14 + 16 < 20 atau 14 + 16 20
2. Negasi dari Jumlah dua buah bilangan ganjil adalah ganjil adalah
Tidak benar jumlah dua buah bilangan ganjil adalah ganjil

Latihan II a.
Nyatakan ingkaran dari pernyataan-pernyataan berikut ini dan tentukan nilai kebenaran
dari pernyataan dan ingkaran pernyataan tersebut.
1. 15 x 12 = 190 4. jumlah dua bilangan prima adalah genap
2. 45 80 25 5. ada bilangan prima yang genap
3. 41 bukan bilangan prima

Hukum Konjungsi:
Konjungsi dari pernyataan p dan q ditulis p q (dibaca dan; tetapi; meskipu;
sedangkan; padahal; sambil; juga; walaupun) bernilai benar jika p dan q
kedua-duanya bernilai benar.
(p q) (q p)
Hukum Disjungsi:
Disjungsi dari pernyataan p dan q ditulis p q (dibaca atau; maupun) bernilai
benar, kecuali jika p dan q kedua-duanya bernilai salah.
(p q) (q p)

Contoh .
1. Tentukan nilai-nilai x agar kalimat dibawah ini bernilai benar.
a. (4 + 4 8) (4x + 1 = 9)
b. (x - 2x 3 = 0 ) (10 x 10 < 10 )
2. Lengkapi kalimat berikut sehingga diperoleh kalimat yang benar.
a. jika n(p q) = B maka n(p) = . . . dan n(q) = . . .
b. jika n( p q) = B dan n(q) = S maka n(p) = . . .
Jawab:
1.a. karena (4 + 4 8) merupakan pernyataan yang salah, dan agar
(4 + 4 8) (4x + 1 = 9) menjadi disjungsi yang benar maka harus dicari nilai x sehingga
(4x + 1 = 9) menjadi pernyataan yang bernilai benar
jadi nilai x yang memenuhi agar kalimat (4 + 4 8) (4x + 1 = 9) menjadi disjungsi yang
benar adalah 2
b. Karena 10 x 10 < 10 merupakan pernyataan yang salah, maka untuk setiap nilai x
akan menyebabkan kalimat (x - 2x 3 = 0 ) (10 x 10 < 10 ) selalu merupakan
pernyataan yang salah. Dengan demikian tidak ada satupun nilai x yang memenuhi
sedemikian hingga kalimat (x - 2x 3 = 0 ) (10 x 10 < 10 ) menjadi pernyataan yang
benar.
2. Pertanyaan di atas akan lebih mudah dijawab dengan menguraikan nilai kebenaran
dari masing-masing pernyataan; yaitu sebagai berikut:
a. p q
B ( merupakan n(p q) )
B B (sesuai dengan hukum konjungsi); Maka n(p) = B dan n(q) = B
b. p q
B ( merupakan n( p q) )
B S (sesuai dengan hukum disjungsi)
Karena n( p ) = B maka n(p) = S

Latihan IIb.
Tentukan nilai x pada tiap kalimat berikut agar menjadi pernyataan yang benar.
1. (sin 45 = ) (x = 1) 4. (3x + 5 = 14) ( 3 adalah bilangan genap)
2. (2x 1 = 7) (4 x 5 = 20) 5. ( x - 4x = 0 ) ( 5 10 = 5 )
3. (7 x 7 = 0) ( x adalah bilangan asli kurang dari 5)

Jika n( p) = B, n( q ) = S dan n (r) = B. Tentukan nilai kebenaran dari pernyataan-


pernyataan berikut ini.
6. ( q r) p
7. (q r) ( p r)
8. (p q) r

Hukum Implikasi:
Jika p dan q pernyataan-pernyataan, maka pernyataan implikasi: jika p maka q ditulis
p q bernilai benar kecuali jika p benar dan q salah.
Kalimat jika p maka q adalah kalimat implikasi atau kalimat kondisional dengan p
sebagai anteseden (kondisi) dan q sebagai konsekuen (konklusi).
Implikasi logis adalah suatu implikasi yang selalu bernilai benar atau suatu implikasi
yang merupakan tautologi
Hukum Biimplikasi
Jika p dan q pernyataan-pernyataan, maka pernyataan biimplikasi dari p dan q ditulis p
q bernilai benar, bila p dan q bernilai sama
Biimplikasi logis adalah biimplikasi yang bernilai benar atau biimplikasi yang
merupakan tautologi
Contoh.
Tentukan nilai-nilai x agar kalimat di bawah ini bernilai benar.
1. (x - 1 = 0 ) (10 x 5 = 15 )
2. (2x 1 = 9) (5 adalah bilangan prima)
Jawab:
1. untuk x = 1 maka kalimat terbuka (x - 1 = 0 ) akan menjadi pernyataan yang benar,
sehingga bila x = 1 atau x = -1, maka (x - 1 = 0 ) (10 x 5 = 15 ) akan menjadi
pernyataan yang salah.
Dengan demikian agar kalimat (x - 1 = 0 ) (10 x 5 = 15 ) menjadi implikasi yang benar
maka haruslah x 1
2. karena konsekuen dari kalimat (2x 1 = 9) (5 adalah bilangan prima) adalah (5
adalah bilangan prima) merupakan pernyataan yang bernilai benar, maka untuk setiap
nilai x, implikasi (2x 1 = 9) (5 adalah bilangan prima) selalu bernilai benar.

Misalkan p(x) dan q(x) adalah kalimat terbuka, dengan selesaian p(x) adalah himpunan
P dan selesaian q(x) adalah himpunan Q, maka:
1. Untuk menentukan nilai kebenaran implikasi berbentuk p(x) q(x) adalah sebagai
berikut: Jika P Q maka p(x) q(x) bernilai benar
2. Untuk menentukan nilai kebenaran biimplikasi berbentuk p(x) q(x) adalah sebagai
berikut: Jika P = Q maka p(x) q(x) bernilai benar.

Contoh .
Tentukan nilai kebenaran dari kalimat-kalimat berikut:
1. Jika x = 4, maka 2x = 8
2. Jika x < 1 maka x < 1
3. x < 4 x < 2

Jawab :
1. Untuk menentukan nilai kebenaran dari Jika x = 4, maka 2x = 8 , terlebih dulu
diselesaikan antesedennya (p(x)), yaitu sebagai berikut:
p(x) : x = 4
maka x = 2 atau x = - 2
untuk nilai x = 2 atau x = -2 tidak memenuhi 2x = 8 (konsekuen). Ini berarti bahwa
kalimat Jika x = 4, maka 2x = 8 bernilai salah.
Atau dapat juga dengan menentukan selesaian dari bentuk konsekuen, yaitu sebagai
berikut:
q(x) : 2x = 8, maka x = 4
Jadi P = {-2 , 2 } dan Q = { 4 }. Ternyata P Q
Sehingga kalimat Jika x = 4, maka 2x = 8 bernilai salah.

2. Dari kalimat implikasi Jika x < 1 maka x < 1 adalah x < 1 dapat diurai menjadi:
p(x) : x < 1 ; maka P adalah -1 < x < 1, yang berarti bahwa x > -1 dan x < 1
Jadi P = { x | -1 < x < 1, x R }
q(x) : x < 1 ; jadi Q = ( x | x < 1, x R }
Sehingga memenuhi P Q.
Maka kalimat implikasi Jika x < 1 maka x < 1 bernilai benar
3. Dari kaliamt biimplikasi x < 4 x < 2 dapat diurai menjadi:
p(x) : x < 4 ; maka P = { x | -2 < x < 2 ; x R }
q(x) : x < 2 ; maka Q = { x | x < 2; x R }
karena P Q sehingga x < 4 x < 2 bernilai salah.

Latihan IIc.
Tentukan nilai x yang real sehingga kalimat-kalimat di bawah ini menjadi pernyataan-
pernyataan yang benar.
1. (x - 4x = 0) (3 x 3 = 5)
2. (4x + 1 = 9) (3 adalah bilangan genap)
3. (3x = 10) ( 9 adalah bilangan prima)
4. (10 adalah bilangan genap) (x > 4 )
Tentukan nilai kebenaran dari pernyataan-pernyataan di bawah ini.
5. sin x = 1 2x = x
6. x = 1 (x - 3x 4 = 0)
7. a < b 4a < 4b
8. 3x 2 = 7 4x 6 = 6
9. (x - 6x + 8 < 0) (2 < x < 4)
10. (x + 4x > 0) (x > 0)

Berikut ini akan disajikan contoh untuk menyatakan bahasa sehari-hari ke dalam
bahasa formal, yaitu dengan menggunakan notasi-notasi logika matematika.

Nyatakanlah kalimat-kalimat di bawah ini dalam bentuk notasi:


1. Jika ada tikus, maka baik keadaan rumah tidak tenang maupun kucing tidak dapat
tidur nyenyak
2. Jika hujan tidak turun atau tanggul tidak bobol, maka daerah tidak banjir
3. Hujan turun dan daerah akan banjir jika dan hanya jika tanggul bobol
4. Ia tidak mau makan karena ia belum lapar

Jawab:
Untuk menyelesaikan masalah di atas, kalimat-kalimat tersebut diurai menjadi kalimat-
kalimat tunggal penyusunnya.
1. Jika ada tikus, maka baik keadaan rumah tidak tenang maupun kucing tidak dapat
tidur nyenyak
diurai menjadi:
p : ada tikus; q : keadaan rumah tidak tenang; r : kucing tidak dapat tidur nyenyak
maka notasi untuk kalimat tersebut adalah : p (q r)
2. Jika hujan tidak turun atau tanggul tidak bobol, maka daerah tidak banjir
Diurai menjadi:
p : hujan turun; q : tanggul bobol; r : daerah banjir
maka notasi untuk kalimat tersebut adalah : ( p q) r
3. Hujan turun dan daerah akan banjir jika dan hanya jika tanggul bobol
Diurai menjadi:
p : hujan turun; q : tanggul bobol; r : daerah banjir
maka notasi untuk kalimat tersebut adalah : (p r) q
4. Ia tidak mau makan karena ia belum lapar
Diurai menjadi:
p : Ia mau makan; q : ia lapar
dalam kalimat ini yang menjadi sebab adalah ia belum lapar yaitu q,
maka notasi untuk kalimat tersebut adalah : q p
5. Ia tidak lulus, tetapi tidak menyesal bahkan ia tertawa geli
Diurai menjadi:
p : Ia lulus; q : Ia menyesal; r : ia tertawa geli
maka notasi untuk kalimat tersebut adalah: p ( q r)
Latihan IId.
Nyatakanlah kalimat-kalimat di bawah ini dalam bentuk notasi:
1. Daerah akan banjir dan tanggul akan bobol kalau banyak hujan turun
2. Tidak benar bahwa akan banjir jika dan hanya jika tanggul bobol
3. Jika hujan turun, maka tanggul akan bobol, akibatnya daerah akan banjir
4. Jika awal bulan maka ia akan mendapat gaji, sehingga dapat membeli kebutuhannya
5. Perampok masuk rumah sambil melepaskan tembakan, sehingga tuan rumah
ketakutan
6. Kalau ia bukan anak pintar, maka ia tentu anak yang berbakat dan bukan sekedar
anak yang rajin
7. Andi masuk dan duduk, sedangkan Ima tetap berdiri
8. Ia pindah ke Jakarta dan bekerja di sana, sekaligus sambil melanjutkan
pendidikannya.
9. Karena ikut main sepak bola, Ali disebut olahragawan
10. Ia tidak punya uang, sehingga ia tidak naik pesawat tetapi ia hanya naik kapal laut

III. Pernyataan Berkuantor


Kuantor (quantifier) adalah kata yang menunjuk pada kuantitas, yaitu ada dan
semua. Simbol menyatakan untuk semua (untuk setiap atau untuk sembarang) disebut
kuantor universal. Simbol menyatakan ada (ada paling sedikit satu, dapat ditemukan,
atau untuk suatu)disebut kuantor eksistensi.
Misalkan p(x) adalah kalimat terbuka dengan domain x adalah D, maka:
1. Pernyataan x D, p(x) didefinisikan benar jika p(x) benar untuk semua x D, dan salah
jika p(x) salah untuk suatu x D.
2. Pernyataan x D, p(x) didefinisikan benar jika p(x) benar untuk paling sedikit satu x
D, dan salah jika p(x) salah untuk semua x D.

Contoh:
Benar atau salahkah pernyataan-pernyataan di bawah ini?
1. misalkan D = { 3 , 4 , 5 } maka x D, x > 2x
2. misalkan Z adalah himpunan bilangan bulat maka x Z, x > 2x
3. misalkan Z adalah himpunan bilangan bulat maka x Z, 2x = x
4. misalkan D = { 3 , 4 , 5 } maka x D, 2x = x

Jawab:
1. misalkan D = { 3 , 4 , 5 }
diperiksa bahwa kalimat terbuka x > 2x benar untuk masing-masing x D:
3 > 2(3) ; 4 > 2(4) ; 5 > 2(5)
sehingga x D, x > 2x adalah pernyataan benar

2. misalkan Z adalah himpunan bilangan bulat


ambil x = 1, maka 1 Z dan 1 > 2(1)
sehingga x Z, x > 2x adalah pernyataan salah
3. misalkan Z adalah himpunan bilangan bulat maka x Z, 2x = x
karena 0 Z dan 2(0) = 0 maka kalimat terbuka 2 x = x benar untuk paling sedikit satu
bilangan bulat x yaitu 0.
Sehingga x Z, 2x = x adalah pernyataan benar.
4. misalkan D = { 3 , 4 , 5 } maka x D, 2x = x
diperiksa kalimat terbuka 2x = x untuk masing-masing x D:
2(3) 3 ; 2(4) 4 ; 2(5) 5
Sehingga x D, 2x = x adalah pernyataan salah.

Dalam pernyataan matematika, pernyataan kuantor belum tentu dinyatakan secara


eksplisit, sebagai contoh:
bilangan 24 dapat ditulis sebagai jumlah dari dua bilangan bulat
memuat kuantor eksistensi, yaitu : x,y Z, 24 = x + y
demikian pula pernyataan jika x > 3 , maka x > 9 memuat kuantor universal, yaitu:
x R, jika x > 3 maka x > 9
Di samping memahami bentuk-bentuk pernyataan berkuantor, diperlukan kemampuan
mengubah bahasa formal (dengan simbol matematika) kedalam bahasa sehari-hari.

Contoh:
1. Ubahlah pernyataan berikut ini (belum tentu benar) menjadi beberapa kalimat-sehari-
hari tanpa menggunakan simbol maupun .
a. x R, x 0
b. x R, x = x
2. Ubahlah pernyataan dibawah ini sehingga memuat lambang kuantor dan variabel.
a. setiap kuadrat bilangan asli adalah bilangan asli
b. ada bilangan real yang negatif
c. tidak ada bilangan asli yang lebih besar dari kuadratnya

Jawab :
1. a. x R, x 0
Semua bilangan real mempunyai kuadrat yang tidak negatif
Setiap bilangan real mempunyai kuadrat yang tidak negatif
Sembarang bilangan real mempunyai kuadrat yang tidak negatif
Kuadrat bilangan real tidak negatif
Untuk setiap bilangan real x, x adalah bilangan negatif

b. x R, x = x
ada bilangan real yang sama dengan kuadratnya
ada paling sedikit satu bilangan real yang sama dengan kuadratnya
untuk suatu x, x = x

2. a. x N, x N
b. x R, x < 0
c. x N, x x
Negasi Pernyataan Berkuantor
Perhatikan pernyataan :
Semua matematikawan hidup mewah
Banyak orang menyatakan bahwa negasinya adalah :
Tidak ada matematikawan hidup mewah
tetapi negasi yang benar adalah :
beberapa matematikawan tidak hidup mewah ; atau
ada matematikawan tidak hidup mewah
artinya walaupun ada seorang matematikawan tidak hidup mewah, sudah
menggugurkan pernyataan bahwa semua matematikawan hidup mewah. Untuk
menentukan bentuk negasi pernyataan berkuantor ikutilah pola berikut ini:
1. negasi dari pernyataan x D, p(x) adalah pernyataan x D, p(x)
2. negasi dari pernyataan x D, p(x) adalah pernyataan x D, p(x)
Contoh:
Nyatakan negasi dari pernyataan-pernyataan di bawah ini tanpa memperhatikan nilai
kebenarannya:
1. setiap segitiga sama sisi adalah segitiga sama kaki
2. ada segitiga yang jumlah sudutnya sama dengan 200
3. setiap bilangan prima adalah bi;angan ganjil
Jawab:

1. ada segitiga sama sisi yang bukan segitiga sama kaki atau
ada segitiga sama sisi yang tidak sama kaki
2. setiap segitiga jumlah sudutnya tidak sama dengan 200 atau
3. ada bilangan prima yang tidak ganjil atau
ada bilangan prima yang bukan bilangan ganjil

Latihan III
1. Temukan contoh penyangkal untuk menunjukkan pernyataan berikut ini salah.
a. x R, x
b. x R, x > 0
c. x,y R, (x + y) = x + y

2. Nyatakanlah bentuk-bentuk di bawah ini dalam bentuk uraian (tanpa simbol logika
matematika)
a. x R, x > 2
b. x Z, x genap x genap
c. x Z, x < 0 x 0
d. x,y R, (x + y) = x + y
e. x,y Z , x > y x > y

3. Tuliskan negasi dari pernyataan di bawah ini


a. Jumlah dari dua bilangan rasional adalah rasional
b. Untuk semua bilangan rasional x dan y, jika x = y maka x = y
c. Untuk semua bilangan bulat n, jika n genap maka n genap
IV. Pernyataan yang Ekuivalen
Dua pernyataan (majemuk) dikatakan ekuivalen ditulis p q jika dan hanya jika p dan
q mempunyai nilai kebenaran yang sama. Pernyataan-pernyataan yang ekuivalen ini
diperlukan dalam kegiatan pembuktian. Berikut adalah beberapa bentuk pernyataan
yang ekuivalen:
1. p ( p)
2. (p q) (q p)
3. (p q ) (q p )
4. p (q r ) ( p q ) r
5. p (q r ) ( p q ) r
6. (p q) ( p q) ( q p)
7. (p q) ( p q )
8. (p q) ( p q )
9. (p q ) ( p q )
10. (p q) ( p q) ( p q )
11. (p q) ((p q) (q p))
12. (p q) ((p q) (p q )) ((p q) ( p q )

V. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan selalu didasarkan pada premis-premis yang diberikan yaitu
merupakan pernyataan-pernyataan yang telah diterima kebenarannya. Beberapa pola
penarikan kesimpulan yang sah akan disajikan berikut ini:
1. Modus Ponens: 2. Modus Tollens:
pqpq
pq

qp

2. Silogisme:
pq
qr

pr

Contoh:
Selidiki apakan sah atau tidak penarikan kesimpulan dibawah ini.
1. Ica jadi dosen Unsyiah atau melanjutkan S2
Ica tidak melanjutkan S2

Ica jadi dosen Unsyiah

2. Jika Najwa mempunyai IPK bagus, maka ia kuliah S2 di Boston


Najwa mempunyai IPK bagus dan ia kuliah di Tokyo

Najwa tidak kuliah di Boston


3. p q
q
rp
sr
s

Untuk menjawab pertanyaan no 1. dan 2. di atas, kalimat-kalimat dalam bentuk uraian


tersebut terlebih dahulu diterjemahkan dalam bentuk simbul atau notasi.
1. Ica jadi dosen Unsyiah atau melanjutkan S2; diterjemahkan menjadi : p q
Ica tidak melanjutkan S2; diterjemahkan menjadi : q

Ica jadi dosen Unsyiah; diterjemahkan menjadi : p

Tidak terlihat adanya kesesuaian argumen dengan pola penarikan kesimpulan yang sah
yang telah disajikan sebelumnya. Dengan demikian dibutuhkan suatu bentuk ekuivalen
denga bentuk premis p q yaitu berdasarkan bentuk
(p q) ( p q) ( q p)
sehingga
p q ( p q) ( q p)
pola argumen menjadi :
p q atau 1. p q Premis
q 2. q Premis
3. p q ekuivalen 1
( p) 4. ( p) 3. , 2. modus tollens
5. p ekuivalen 4.

Dapat disimpulkan bahwa penarikan kesimpulan sah

2. Jika Najwa mempunyai IPK bagus, maka ia kuliah S2 di Boston p q


Najwa mempunyai IPK bagus dan ia kuliah di Tokyo p q

Najwa tidak kuliah di Boston q

Pola pembuktian akan diuraikan sebagai berikut:


1. p q Premis
2. p r Premis
3. (p r) ekuivalen 2. ( berdasarkan (p q) ( p q) ( p q ))
4. q kesimpulan tidak sah, tidak ada pola kesesuaian dengan pola pembuktian yang
sah yang disajikan diatas)

3. untuk menunjukkan argumen no 3. di atas sah atau tidak, perhatikan langkah-langkah


berikut ini:
1. p q Premis
2. q Premis
3. r p Premis
4. s r Premis
5. q p ekuivalen 1.
6. q p ekuivalen 5
7. p 6. , 2. modus ponens
8. s p 4. , 3. silogisme
9. s 8. , 7. modus tollens
ini menunjukkan bahwa argumen di atas sah.

Latihan V.

Tunjukkan bahwa setiap argumen di bawah adalah sah.


1. Saudara rajin atau saudara pandai. Saudara tidak rajin. Jadi saudara pandai
2. Saudara rajin atau saudara tidak pandai. Jika saudara kaya maka saudara pandai.
Saudara tidak rajin. Maka saudara tidak kaya
3. Produksi pangan cukup atau ada peledakan penduduk. Tidak ada peledakan
penduduk. Maka produksi pangan cukup
4. Kalau harga di toko rendah, tentu banyak pembelinya. Toko itu dekat pemukiman
penduduk atau tidak banyak pembelinya. Toko itu dekat dengan pemukimnan
penduduk. Jadi harga di toko itu tidak rendah
5. Jika adik sehat maka ia tidak akan menangis. Adik menangis atau bolos sekolah.
Adik tidak sehat. Maka adik bolos sekolah.
6. Jika kamu rajin maka kamu tidak akan tinggal kelas. Jika kamu tidak tinggal kelas
kamu dapat hadiah. Jika kamu dapat hadiah maka orang tua mu akan bangga. Kamu
rajin. Maka oreang tua kamu akan bangga.
7. Jika hujan deras maka toko buku itu tidak dibuka. Toko buku itu dibuka tetapi tidak
ada pembelinya. Jadi toko buku itu buka.
8. Ima sekolah sambil bekerja. Ima tidak sekolah dan adiknya sakit. Ima bekerja dan
ayahnya ke kantor. Jadi ima sekolah.
Tentukan argumen manakah yang sah dan yang tidak sah. Beri penjelasan.
9. Jika a + b = 0 maka a = 0 dan b = 0. a 0 atau b 0. maka a + b 0
10. Jika hasil kali dua bilangan adalah 0 maka di antara bilangan tersebut ada yang 0. (x
1) 0 dan (x + 1) 0. Maka (x 1) (x + 1) 0.
11. Jumlah dua bilangan rasional adalah rasional. c dan d adalah bilangan rasional.
maka c + d adalah bilangan rasional
12. Jumlah dua bilangan rasional adalah rasional. c + d adalah bilangan rasional. c dan
d adalah bilangan rasional.
13. Jika suatu bila`gan adalah genap, maka dua kalinya juga genap. Bilangan 2n adalah
genap. Maka n adalah genap.
14. Jika suatu bilangan adalah genap, maka dua kalinya juga genap. Bilangan n adalah
genap. Maka 2n adalah genap.
15. Jika a dan b adalah bilangan ganjil maka a + b adalah genap. a + b tidak genap
maka a dan b tidak ganjil
INDUKSI MATEMATIKA

A. PENDAHULUAN
Induksi matematika merupakan salah satu metode pembuktian dalam matematika.
Penggunaan prinsip induksi matematika adalah untuk membuktikan kebenaran hasil-
hasil dalam matematika, baik hasil elementer maupun hasil-hasil tingkat lanjut yaitu
membuktikan berlakunya suatu hubungan atau suatu dalil. Penguasaan metode
pembuktian dengan induksi matematika dan konsep-konsep yang diturunkan
merupakan hal yang penting dan sebagai materi pendahuluan yang akan digunakan
untuk mempelajari materi-materi dalam pokok-pokok bahasan yang lain yang berada
dalam lingkup matematika.

B. TUJUAN
Tujuan yang diharapkan dalam penulisan modul ini adalah untuk membantu guru
memahami prinsip induksi ,matematika dan dapat menggunakannya dalam
membuktikan suatu pola atau hubungan dalam matematika. Adapun model
pembelajaran yang diterapkan dalam kagiatan pelatihan diharapkan dapat memberikan
informasi bagi peserta tentang alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan
dalam kegiatan pembelajaran bagi siswa di kelas.
Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat:
1. Menjelaskan prinsip induksi matematika
2. Membuktikan bentuk-bentuk matematika dengan induksi matematika

C. PETUNJUK PEMBELAJARAN
Pembelajaran yang dilaksanakan berorientasi pada pemahaman prinsip induksi
matematika dan penerapannya dalam pembuktian bentuk-bentuk matematika. Materi
disajikan dengan banyak contoh, diharapkan peserta dapat memahami bagaimana
membuktikan pola, sifat atau formula matematika dengan menggunakan prinsip induksi
matematika.
Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran koperatif yang
diawali penjelasan prinsip dan contoh oleh fasilitator, kemudian kelompok peserta yang
terdiri dari 4 sampai 5 orang akan mendiskusikan materi yang dan menyelesaikan
tugas-tugas yang ada dalam modul. Di akhir kegiatan akan dilakukan diskusi secara
klasikal untuk membuat kesimpulan dan membahas tugas-tugas yang gagal
diselesaikan dalam kelompok.

D. KEGIATAN PEMBELAJAR
I. Prinsip Induksi Matematika
Prinsip induksi matematis sering digunakan sebagai satu cara (di samping cara yang
lain) untuk membuktikan berlakunya suatu hubungan atau suatu dalil. Prinsip induksi
matematis menyatakan bahwa :
Misalkan P(m), P(m+1), P(m+2), . . . , adalah barisan pernyataan, dan m adalah
bilangan bulat, jika:
1. P(m) benar
2. Untuk semua bilangan bulat k m berlaku : jika P(k) benar berakibat P(k+1) benar,
maka P(n) untuk semua bilangan bulat n m.

II. Penggunaan Prinsip Induksi Matematika dalam Pembuktian Matematika


Berikut ini akan diuraikan beberapa contoh pembuktian dengan menggunakan prinsip
induksi matematika.
Contoh 1.
Buktikan : = 1 + 2 +3 + ..+ n = untuk setiap n N
( Petunjuk: yang akan dibuktikan adalah untuk setiap n bilangan asli, P(n) benar,
dengan P(n) adalah pernyataan = untuk setiap n N)
Bukti : 1. Jelas bahwa P(1) = = 1 = adalah benar
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah suatu bilangan asli sembarang, yaitu : = 1 + 2
+3 + ..+ k =
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
= 1 + 2 +3 + ..+ k + (k+1) =
atau : 1 + 2 +3 + ..+ k + (k+1) =
karena : 1 + 2 +3 + ..+ k =
maka : 1 + 2 +3 + ..+ k + (k+1) =
=
=
=
1 + 2 +3 + ..+ k + (k+1) =
Karena P(1) benar, dan untuk sembarang bilangan asli k m berlaku jika P(k) benar
berakibat P(k+1) benar, maka sesuai dengan prinsip induksi matematika terbukti P(n)
benar untuk sembarang bilangan asli n, yaitu :
= 1 + 2 +3 + ..+ n = untuk setiap n N
Contoh 2
Buktikan : 2 + 5 + 8 +11 + 14 + + (3n 1) = untuk setiap n N
( Petunjuk: yang akan dibuktikan adalah untuk setiap n bilangan asli, P(n) benar,
dengan P(n) adalah pernyataan
2 + 5 + 8 +11 + 14 + + (3n 1) = untuk setiap n N)
Bukti :
1. Jelas bahwa P(1) = 2 = adalah benar
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah suatu bilangan asli sembarang, yaitu : 2 + 5 +
8 +11 + 14 + + (3k 1) =
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
2 + 5 + 8 +11 + 14 + + (3k 1) + =
=
Karena 2 + 5 + 8 +11 + 14 + + (3k 1) =
Maka :
2 + 5 + 8 +11 + 14 + + (3k 1) + =
= + 3k + 2
=
=
=
=
Maka sesuai dengan prinsip induksi matematika terbukti P(n) benar untuk sembarang
bilangan asli n, yaitu :
2 + 5 + 8 +11 + 14 + + (3n 1) = untuk setiap n N

Contoh 3
Buktikan : 2n (1 + n) untuk setiap n N
(Petunjuk: P(n) adalah pernyataan 2n (1 + n) untuk setiap n N)
Bukti :
1. Jelas bahwa P(1) yaitu 21 (1 + 1) benar
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah suatu bilangan asli sembarang, yaitu : 2k (1 +
k)
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
(2k+1) {1 +( k +1)} atau (2k+1) ( k +2)
karena 2k 1 + k, maka 2k+1 = 2k .2 (1 +k).2
Karena (1 +k).2 = 2 k + 2 >(k + 2) dan (2k+1) (1+ k).2),
maka : (2k+1) ( k +2)
Sesuai dengan prinsip induksi matematika terbukti P(n) benar untuk sembarang
bilangan asli n, yaitu : 2n (1 + n)

Contoh 4
Buktikan : n ! nn untuk setiap n N
(Petunjuk : P(n) adalah pernyataan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . )
Bukti :
1. P(1) yaitu . . . . . . . . . . . . . . (bagaimana nilai kebenarannya? . . . . . . . . )
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah suatu bilangan asli sembarang, yaitu : . . . . . . .
......
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
................................................
perhatikan bahwa:
(k+1)! = 1 . 2 . 3. ..k.(k+1)
= (k!) (k+1)
kk (k+1) (sebab k! kk)
< (k+1)k (k+1) (sebab (k+1) > k sehingga (k + 1)k > kk)
dengan demikian (k+1)! < (k+1)k+1 artinya juga memenuhi
(k+1)! (k+1)k+1
Sesuai dengan prinsip induksi matematika terbukti P(n) benar untuk sembarang
bilangan asli n, yaitu : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Dari dua contoh terakhir yang diuraikan di atas terlihat bahwa dibutuhkan kemampuan
untuk memanipulasi bentuk-bentuk aljabar sehingga diperoleh hubungan yang benar
dari pernyataan-pernyataan yang diberikan. Hal ini akan lebih jelas terlihat bada
contoh-contoh selanjutnya.
Prinsip induksi matematika dapat diperluas dengan sebarang himpunan bagian dari
himpunan bilangan bulat yang memenuhi prinsip urutan, artinya dapat dikembangkan
berlaku dalam himpunan B Z asalkan B mempunyai elemen terkecil.yaitu B

Contoh 5
Buktikan : 4n < (n2-7) untuk sebarang n B = { 6,7,8,.}
(Petunjuk : P(n) adalah pernyataan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . )
Bukti :
1. P(6) yaitu 4.6 = 24 < 29 = (6 - 7) adalah benar
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah bilangan bulat dan k 6 ,
yaitu : . . . . . . . . . . . . .
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
................................................
Karena 4(k+1) = 4 k + 4 dan 4k < (k2- 7),
maka 4(k+1) < (k2- 7)+4} atau 4(k+1) < (k2-3)
Karena (k-6) 0 untuk k 6 dan -3<0, maka (k-6) -3 untuk k 6, sehingga 4(k+1) < (k2 + k
-6)
4(k+1) < (k2 +2k -6 karena 2k > k)
4(k+1) < (k2 +2k + 1-7)
4(k+1) < {(k+1)2-7}
Sesuai dengan prinsip induksi matematika terbukti P(n) benar untuk sebarang n B =
{ 6,7,8,.}, yaitu : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Contoh 6
Buktikan : 32n-1 habis dibagi oleh 8 untuk semua n C = { 0, 1, 2,.}
(Petunjuk : P(n) adalah pernyataan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . )
Bukti :
1. P(0) yaitu . . . . . . . . . . . . . . (bagaimana nilai kebenarannya? . . . . . . . . )
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah bilangan bulat dan k . . . , yaitu : . . . . . . . . . . .
..
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
................................................
32 ( k + 1) -1 = 3 - 1
= 9 . 32k 1
= 9 . 32k 9 + 8
= 9 (32k 1) + 8
Karena 32k 1 habis di bagi 8 dan 8 juga habis dibagi 8 maka
9 (32k 1) + 8 = 32 ( k + 1) -1 habis dibagi 8.
Sesuai dengan prinsip induksi matematika terbukti bahwa 32n-1 habis dibagi oleh 8
untuk semua n C = { 0, 1, 2,.}

Contoh 7
Buktikan : 2n3-3n2 + n + 31 0 untuk semua n D = { -2, -1, 0,.}
Bukti :
P(n) adalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1. P(-2) = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 0 (bagaimana nilai
kebenarannya? . . . . . . . . . . . )
2. Andaikan P(k) benar, dengan k adalah bilangan bulat dan k . . . , yaitu : . . . . . . . . . . .
..
akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu:
................................................
(seterusnya, cobalah diskusikan)

Prinsip induksi matematika dapat juga dinyatakan dalam bentuk lain, yaitu:
Prinsip induksi matematis menyatakan bahwa :
Misalkan P(m), P(m+1), P(m+2), . . . , adalah barisan pernyataan, dan m adalah
bilangan bulat, jika:
1. P(m), P(m+1), P(m+2), . . . , P(b) semuanya benar
2. Untuk semua bilangan bulat k b berlaku : jika P(n) benar untuk semua bilangan bulat
n dengan m n k , berakibat P(k+1) benar
maka P(n) untuk semua bilangan bulat n m.

Contoh 8
Setelah berlangsung n bulan banyaknya tanaman dalam suatu persemaian memenuhi
persamaan:
P(0) = 3, P(1) = 7, dan P(n) = 3P(n-1)-2P(n-2), n 2
Buktikan : P(n) = 2n+2-1 untuk semua n Z dan n 0
Bukti : 1. P(0) benar sebab untuk n = 0, 2n+2-1 = 20+2 -1 = 22-1=3
P(1) benar sebab untuk n =1, 2n+2-1 = 21+2 -1= 23-1 =7
2. Anggaplah P(0), P(1), P(2),..,P(k-1), P(k) semua benar, berarti:
P(k) = 2k+2 -1
P(k-1) = 2(k-1)+2 -1
= 2(k+1) -1
P(1) = 21+2 -1 = 7
P(0) = 20+2 -1 = 3
Akan ditunjukkan bahwa P (k+1) benar untuk (k+1) 2, yaitu
P(k+1) = 2(k+1)+2-1=2k+3-1
P(k) = 3 P(k-1) 2 P(k-2)
P(k+1) = 3 P{(k+1) -1} 2P{(k+1) 2 }
= 3P(k) - 2P(k-1)
= 3 (2k+2 - 1) 2 (2(k-1)+2 - 1)
= 3 (2k+2) 3 2(2k+1 - 1)
= 3 (2k+2) 3 2k+2 + 2
= 3 (2k+2) - (2k+2) -1
= 2(2k+2) -1
= 2k+3 1
= 2(k+1)+2 -1
Jadi P(n) = 2n+2 -1 benar untuk semua n Z dan n 0
Contoh 9
Diketahui suatu barisan R(n) yang memenuhi hubungan R(0) = 7, R(1) = -4, R(2)dan
R(n) = 2R(n-1)-5R(n-2) 6R(n-3) untuk n 3
Tunjukkan : R(n) = 5 (1)n (3)n + 3(-2)n untuk semua n Z dan n 0
Jawab: 1. R(0) benar sebab 5(1)0 (3)0 + 3(-2)0 = 5 1 + 3 = 7
R(1) benar sebab 5(1)1 (3)1 + 3(-2)1 = 5 3 - 6 = -4
R(2) benar sebab 5(1)2 (3)2 + 3(-2)2 = 5 9 + 12 = 8
2. Anggaplah R(0), R(1), R(2),..,R(k-2), R(k-1), R(k) semua benar, yaitu :
R(k) = 5(1)k (3)k + 3(-2)k
R(k-1) = 5(1)k-1 (3)k-1 + 3(-2)k-1
R(k-2) = 5(1)k-2 (3)k-2 + 3(-2)k-2
R (2) = 8
R (1) = -4
R (0) = 7

Akan ditunjukkan bahwa R(k+1) = 5(1)k+1 (3)k+1 + 3(-2)k+1

R(k) = 2R(k-1) + 5R(k-2) 6R(k-3)


R(k+1) = 2R{(k+1)-1}+ 5R{(k+1)-2}- 6R {(k+1)-3}
= 2R(k)+ 5R(k-1)- 6R(k-2)
= 2 {5(1)k- (3)k + 3 (-2)k}+ 5{5(1)k-1 - (3)k-1 + 3(-2)k-1}- 6{5(1)k-2-(3)k-2
+ 3(-2)k-2}
= 10 + 25 30 2(3)k- 5(3)k-1 + 6(3)k-2 + 6(-2)k + 15(-2)k-1-18(-2)k-2
= 5 - (3)k {2 + 5(3)-1 + 6(3)-2}+(2)k{6+15(-2)-1 + 18(-2)-2}
= 5 (3)k(2 + + (-2)k (6 -
= 5 (3)k(3) + (2)k(-6)
R(k+1) = 5 (1)k+1- (3)k+1+ 3(-2)k+1

Jadi R(n) = 5(1)n (3)n + 3 (-2)n untuk semua n Z dan n 0

Latihan
Buktikanlah pernyataan-pernyataan di bawah ini dengan menggunakan induksi
matematika.
1. 1 + 3 + 5 + . . . + (2n 1 ) = n ( 2n 1 ) (2n + 1 )
2. 1 + 4 + 7 + 10 + . . . + (3n 2 ) = n (3n 1 )
3. 1 + 2 + 2 + . . . + 2 = 2 - 1

4. = n(n+1)(2n+1) untuk setiap n Z

5. = { n(n+1)} untuk setiap m Z

6. = y(y+1) (y+2) untuk setiap x Z

7. n < 2 untuk setiap n Z

8. 2 (2 + n ) untuk setiap n Z dan n 1

9. n - n habis dibagi oleh 3 untuk n 0

10. n + n habis dibagi oleh 5 untuk n 0

11. n + 2n habis dibagi oleh 3

12. 2 < n untuk n Z dan n > 4

13. n! < n untuk n Z dan n > 1


14. n! < 4 untuk n Z dan n > 8

15. 76 mempunyai angka puluhan 7 dan angka satuan 6

16. Jika P(0) = 2 , P(1) = 7 , dan P(n) = P(n-1) 2P(n-2),


Maka P(n) = 3(2 ) (-1) untuk setiap bilangan bulat n 0

17. Jika F(0) = 2, F(1) = 5 , F(2) = 15 dan F(n) = 6F(n-1) 11F(n-2) + 6F(n-3) maka
F(n) = 1 2 + 2(3 ) untuk setiap bilangan bulat n 0