Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

Community Development
Ekologi Sosial Masyarakat Kota

Disusun oleh:

Kelompok 12

1. Apriyani 07160200180
2. Elisa Julianti 07160200185
3. Jesi Nurpitri 07160100067
4. Maini Julita 07160200178
5. Rina Novita 07160200181
6. Santi 071602
7. Sintya Mariana 07160100082
8. Tia Irmaya 07160100092
9. Wulan Ayuningrum P 07160100085

PROGRAM STUDI D4 KEBIDANAN


STIKES INDONESIA MAJU
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
nikmat berupa kesehatan dan keselamatan sehingga makalah kami yang berjudul Ekologi
Sosial Masyarakat Kota ini dapat terselesaikan dengan baik..

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan,
baik itu segi isi maupun tata bahasanya. Untuk itulah penulis mengharapkan saran dan kritik
yang sifatnya membangun dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini di masa yang akan
datang.

Akhir kata semoga makalah kami yang membahas tentang Ekologi Sosial Masyarakat
Kota ini dapat menambah pengetahuan kita, sehingga kedepan kita dapat menjadi sumber
daya manusia yang berjiwa pemimpin.

Jakarta, Mei 2017

PENULIS

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekologi Kota................................................................................................................2
2.1.1 Pengertian Ekologi...............................................................................................2
2.1.2 Teori ekologi........................................................................................................2
2.1.3 Konsep Ekologi kota............................................................................................5
2.1.4 Elemen-elemen ekologi kota................................................................................9
2.2 Masalah Sosial Perkotaan..........................................................................................10
2.2.1 Gambaran Masalah Sosial Perkotaan.................................................................10
2.2.2 Solusi Penanggulangan......................................................................................11
2.3 Pembangunan Kota Ekologis....................................................................................15
2.3.1 Konsep Kota Ekologis........................................................................................15
2.3.2 Langkah-langkah menuju Kota Ekologis...........................................................16
2.3.3 Syarat-syarat Pembangunan Kota Ekologis.......................................................16
2.3.4 Strategi Pembangunan Kota Ekologis................................................................17
2.3.5 Perencanaan Perkotaan dan Kesehatan..............................................................20
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................................23
3.2 Saran..........................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Selama ini kita selalu mendengar banyak orang mengatakan segala hal yang
berkaitan dengan perkotaan. Mulai kegiatan ekonomi, sosial, kemanusiaan, hingga hal-
hal yang berunsur vandalism (perusakan) dan kekerasan dalam bentuk konflik,
pertentangan, baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun
kelompok dengan kelompok.
Manusia selalu ingin merasa sehat sejahtera jasmani dan rohaninya, tidak ada
manusia di dunia ini yang merasa nyaman dengan penyakit atau ketidaksehatan jasmani
dan rohaninya, manusia selalu berusaha agar tetap sehat. Akan tetapi, kesehatan sangat
dipengaruhi oleh sosial dan budaya, dan ekologi atau lingkungan, kehidupan
masyarakat yang jauh dari kebersihan pasti akan banyak terserang penyakit, lingkungan
sangat mempengaruhi sehat atau tidaknya seseorang, walaupun seseorang hidup bersih
sendiri tetapi bersosial dan berbudaya dengan orang-orang atau kelompok masyarakat
yang jauh dari kebersihan pastilah juga akan terserang penyakit, karena lingkungan
sosial juga berpengaruh besar dalam ekologi atau lingkungan hidup, mengingat di
tempat bumi kita berpijak sekarang ini, yaitu negara kita indonesia masih banyak
masyarakat yang tidak mengerti mengenai konsep dasar hidup sehat, dan kita seringkali
melihat teman-teman atau orang sekitar kita hidup dengan cara yang kurang bersih,
mengembangkan budaya-budaya yang kurang sehat seperti merokok dan jajanan yang
tidak menjamin kebersihan dan banyak lagi contoh lain membuat kami sadar bahwa
pentingnya memahami tentang konsep dasar kesehatan, aspek sosial budaya dan
hubungannya dengan ekologi atau lingkungan agar kita semua bisa hidup sehat.
Maka dari itu kelompok kami akan memaparkan dan mempresentasikan konsep
dasar kesehatan yang sedikit sekali diketahui oleh teman-teman dan orang-orang di
sekitar kita, aspek sosial budaya yang berhubungan kuat dengan kesehatan, serta
hubungan keduanya dengan ekologi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian ekologi sosial kota?
2. Apa masalah sosial perkotaan, tantangan, solusi penanggulangannya?
3. Bagaimana konsep pembangunan kota ekologis?

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekologi Kota


2.1.1 Pengertian Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan
lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos "habitat" dan
logos "ilmu". Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi
antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834- 1914).
Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan
lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan
berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik
antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik
adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.
Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan
merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru
muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar
terhadap cabang biologinya. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk
hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar
makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau
lingkungannya. Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi
dengan zoologi dan botaniyang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba
memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai
makanan manusia dan tingkat tropik.

2.1.2 Teori ekologi


Teori Ekologis ini dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner (1917).
Bronfenbrenner mengajukan suatu pandangan lingkungan yang kuat tentang
perkembangan yang sedang menerima perhatian yang meningkat. Teori Ekologi

2
(ecological theory) ialah pandangan sosiokultural Brofenbrenner tentang
perkembangan, yang terdiri dari lima sistem lingkungan mulai dari masukan
interaksi langsung dengan agen-agen sosial (social agents) yang berkembang
baik hingga masukan kebuadayaan yang berbasis luas. Kelima sistem dalam teori
ekologi Bronfenbrenner ialah mikrosistem, mesosistem, eksosistem,
makrosistem, dan kronosistem. Model ekologis Bronfenbrenner diperlihatkan
saat ia (dengan cucu laki-lakinya) mengembangkan teori ekologis, suatu
perspektif yang sedang menerima perhatian yang meningkat. Teorinya
menekankan pentingnya dimensi mikro dan makro lingkungan di mana anak
hidup.

1) Mikrosistem (microsystem) dalam teori ekologi Bronfenbrenner ialah setting


dimana individu hidup. Konteks ini meliputi keluarga individu, teman-teman
sebaya, sekolah dan lingkungan. Dalam mikrosistem inilah interaksi yang
paling langsung dengan agen-agen sosial berlangsung, misalnya dengan
orang tua, teman-teman sebaya, dan guru.Individu tidak dipandang sebagai
penerima pengalaman yang pasif dalam setting ini, tetapi sebagai seseorang
yang menolong membangun setting. Bronfenbrenner menunjukkan bahwa
kebanyakan penelitian tentang dampak-dampak sosiokultural berfokus pada
mikrosistem.
2) Mesosistem (mesosystem) dalam teori ekologi Bronfenbrenner meliputi
hubungan antara beberapa mikrosistem atau hubungan antara beberapa
konteks. Contohnya : ialah hubungan antara pengalaman keluarga dan
pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dan pengalaman keagamaan, dan
pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya. Misalnya, anak-anak
yang orang tuanya menolak mereka dapat mengalami kesulitan
mengembangkan hubungan positif dengan guru. Para ahli perkembangan
mengamati perilaku dalam setting majemuk-seperti keluarga, teman sebaya,
dan konteks sekolah-untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang
perkembangan individu.
3) Eksosistem (exosystem) dalam teori ekologi Bronfenbrenner dilibatkan
pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain- di mana individu tidak
memiliki peran yang aktif-mempengaruhi apa yang individu alami dalam
konteks yang dekat. Misalnya, pengalaman kerja dapat mempengaruhi
hubungan seorang perempuan dengan suami dan anaknya. Seorang ibu dapat

3
menerima promosi yang menuntutnya melakukan lebih banyak perjalanan,
yang dapat meningkatkan konflik perkawinan dan perubahan pola interaksi
orang tua-anak. Contoh lain ekosistem ialah pemerintah kota, yang
bertanggung jawab bagi kualitas taman, pusat-pusat rekreasi, dan fasilitas
perpustakaan bagi anak-anak dan para remaja. Contoh lain ialah pemerintah
pusat melalui perannya dalam kualitas perawatan kesehatan dan sistem
bantuan bagi manusia usia lanjut.
4) Makrosistem (macrosystem) dalam teori ekologi Bronfenbrenner meliputi
kebudayaan dimana individu hidup. Kebudayaan mengacu pada pola
perilaku, keyakinan, dan semua produk lain dari sekelompok manusia yang
diteruskan dari generasi ke generasi. Studi lintas budaya - perbandingan
antara satu kebudayaan dengan satu atau lebih kebudayaan lain memberi
informasi tentang generalitas perkembangan.
5) Kronosistem (chronosystem) dalam teori ekologi Bronfenbrenner meliputi
pemolaan peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian
kehidupan dan keadaan-keadaan sosiohistoris. Misalnya, dalam mempelajari
dampak perceraian terhadap anak-anak, para peneliti menemukan bahwa
dampak negatif serin memuncak pada tahun pertama setelah perceraian dan
bahwa dampaknya lebih negatif bagi anak laki-laki daripada anak perempuan.
Dua tahun setelah perceraian, interaksi keluarga tidak begitu kacau lagi dan
lebih stabil. Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan sosiohistoris,
dewasa ini, kaum perempuan tampaknya sangat didorong untuk meniti karir
dibandingkan pada 20 arau 30 tahun lalu. Dengan cara seperti ini,
kronosistem memiliki dampak yang kuat bagi perkembangan kita.

Teori ekologi telah memberikan sumbagan dalam studi mengenai


perkembangan masa hidup yang meliputi kajian yang sistematis yang bersifat
makro dan mikro terhadap dimensi-dimensi sistem lingkungan serta memberikan
perhatian terhadap kaitan antarsistem lingkungan. Kontribusi lebih lanjut dari
teori Bronfenbrenner mencakup mengedepankan pengaruh dari sejumlah konteks
sosial di luar keluarga, seperti tempat tinggal, agama, sekolah, dan tempat kerja
terhadap perkembangan anak (Gauvian & Parke, 2010). Beberapa kritik juga
dilontarkan terhadap teori ekologi karena kurang menggali faktor-faktor biologis
dan juga kurang memberikan perhatian terhadap faktor-faktor kognitif.

4
2.1.3 Konsep Ekologi kota
Ekologi kota adalah interaksi organisme dengan lingkungan fisiknya di
wilayah perkotaan. Kajian ekologi kota meliputi organisme yang hidup di kota
serta daur rantai makanannya, pengeluaran feses dari organisme, daur hidup
organisme yang terjadi di dalam sistem perencanaan dan jaringan tubuhnya.
Kajian ini penting mengingat beberapa organisme menjadi sumber utama
penyakit yang menyerang manusia seperti demam berdarah, kaki gajah, malaria,
rabies, flu tulang. Lingkungan perkotaan mengalami perkembangan
pembangunan yang sangat cepat dan mudah berubah-ubah. Urbanisasi,
permukiman dan gedung-gedung yang vertikal, ketersediaan makanan, migrasi
organisme, sampah, energi dan air bersih menjadi masalah yang pelik di kota-
kota besar.
Pengertian ekologi sosial dikembangkan dalam kehidupan kota. Kota
memiliki komunitas yang terdiri dari penduduk, tempat tinggal dan sarana.
Karena kompetisi, unsur-unsur tersebut mengalami proses perubahan dengan
terjadinya segregasi, invasi, dan suksesi, sehingga daerah alamiah dalam kota
terdapat zona-zona atau lingkatan-lingkaran tertentu.
Sehubungan dengan terbentuknya lingkaran-lingkaran tersebut ada teori
penting yang disusun oleh Burgess dari hasil penelitian di Chicago, yakni yang
disebut Teori Lingkaran Konsentris. Teori Lingkaran Konsentris menyatakan
bahwa kota terbentuk berlapis-lapis melingkar dengan susunan tertentu. Dimulai
dari pusat lingkaran maka lapisan-lapiran tersebut adalah :
1) Lingkaran pusat yakni daerah pusat perdagangan yang terletak dipusat kota
dimana aktivitas komersial lebih utama daripada fungsi tempat tinggal.
Hanya aktivitas komersial yang mampu membeli tanah yang mahal dan
membayar pajak yang besar. Disini terdapat hotel, supermall, kantor pusat
atau cabang utama perusahaan, pusat hiburan modern, dan sebagainya.
2) Lingkaran transisi yang melingkar di daerah pusat perdagangan. Di zona ini
terdapat slum, tempat tinggal golongan migran yang kemampuan ekonominya
rendah, lingkungannya tidak sehat, dan terjadi banyak tindak kejahatan.
Lingkungan transisi disebabkan karena invasi dari daerah ke pusat
perdagangan.
3) Lingkaran perumahan kaum buruh merupakan pemukiman penduduk yang
kurang mampu yang berasal dari lingkaran transisi.

5
4) Lingkaran perumahan yang lebih baik untuk golongan menengah seperti
pegawai dan pengusaha. Tingkat kesejahteraan mereka lebih tinggi
dibandingkan dengan kaum buruh. Zona ini terdapat pertokoan, perumahan
flat, tempat hiburan, dan sebagainya.
5) Lingkaran pemukiman penduduk yang melakukan commuter (berangkat
pulang) bekerja di zona pusat. Zona ini terletak paling luar dan mempunyai
dua bagian. Bagian dalam lingkaran berbatasan dengan daerah orang-orang
yang perumahannya lebih baik, sedangkan bagian luar tidak tertentu
bentuknya, seperti kota-kota kecil yang hanya untuk tidur, kota-kota satelit,
dan desa-desa kecil.

Teori lingkaran konsentris akan mempermudah perencana kota untuk


membuat perencanaan kota karena sasaran perencanaan jadi jelas. Teori lingkaran
konsentris memiliki anggapan dasar yakni (1) Lingkaran-lingkaran yang tumbuh
hanya terdapat di kota-kota yang sedang berkembang (2) Kota tersebut
merupakan kota industri dan perdagangan, dan (3) Tanah dan bangunan
merupakan hak milik pribadi. Dibidang ekonomi terdapat differensiasi, sarana
transportasi dan komunikasi yang cukup memadai.
Teori lingkaran konsentris mendapat kritikan dari Hoyt dan Harris &
Ullman. Hoyt memberikan Teori Sektor yang menyatakan bahwa struktur kota
bukanlah lingkaran-lingkaran konsentris, melainkan sektor-sektor terpisah dari
dalam kota keluar kota. Gejala bertolak dari anggapan bahwa industri mengambil
peranan yang lebih penting. Kegiatan industri meluas di sepanjang jalan dan
pusat ke luar kota. Teori sektor membagi kota kedalam beberapa daerah yakni :
Pusat kegiatan Bisnis (Central Bussines District/CBD)
Daerah Industri
Daerah Pemukiman Kelas bawah
Daerah Pemukiman kelas menengah
Daerah Pemukiman Kelas Atas

Harris dan Ullman mengemukakan Teori Inti Ganda. Teori ini


menegaskan bahwa kota sesungguhnya mempunyai inti dan sering pula terletak
dekat pusat-pusat yang lain. Teori ini kota membagi kota kedalam beberapa
daerah yakni :

1) Pusat kegiatan Bisnis (Central Bussines District/CBD)


2) Daerah Industri
3) Daerah Pemukiman Kelas bawah
4) Daerah Pemukiman kelas menengah

6
5) Daerah Pemukiman Kelas Atas
6) Daerah indutri berat
7) Daerah pusat bisnis luar
8) Pemukiman Pinggiran Kota
9) Industri Pinggiran Kota.

Redfield dan Singer (1954) menyebutkan ada dua jenis kota yakni kota
ortogenetik adalah kota yang kebudayaan masyarakatnya diteruskan dan
diwariskan secara tradisional. Fungsi kebudayaan kota dirangkap dengan
kekuasaan politik dan fungsi administratif. Sedangkan kota heterogenetik kota
yang kebudayaan masyarakatnya mengalami disintegrasi, kemudian mengalami
integrasi baru dan masyarakatnya mengalami perkembangan kebudayaan. Kota
heterogenetik merupakan kota yang tergolong teknis dan lebih memberikan
kebebasan berpikir warganya untuk berkembang. McGee melalui penelitiannya
di Kuala Lumpur (1947 dan 1957) terjadi perubahan dari ortogenetik menjadi
heterogenetik disebabkan oleh beberapa faktor yakni :
a) Pertambahan dan pertumbuhan penduduk secara etnis dimana etnis tertentu
jumlahnya lebih banyak dan mempelopori perubahan logat bahasa.
b) Pola pemukiman terjadi segregasi dimana orang kaya dan golongan
menengah bertempat tinggal terpisah dari golongan lain.
c) Struktur penduduk dalam hal ini lebih 50% penduduk kaum muda dan
kebanyakan laki-laki, golongan tua yang berkuasa semakin sedikit, dan
struktur lapangan pekerjaan bersifat etnis misalnya Cina di perdagangan dan
industri, pribumi dibidang pemerintahan, politik dan tentara, kaum migram di
sektor informal.
Hoekveld Geograf dari Belanda memberi definisi kota berdasarkan
komponen dasarnya yang meliputi aspek morfologi, jumlah penduduk, sosial,
ekonomi, dan hukum.
1. Morfologi adalah perbandingan bentuk fisik kota dengan fisik pedesaan. Di
kota terdapat gedung-gedung besar dan tinggi, serta lokasinya berdekatan.
Sedangkan di desa terdapat rumah-rumah yang tersebar dalam lingkungan
alam.
2. Jumlah penduduk. Kota kecil (20.000 50.000 jiwa), kota sedang (50.000
100.000 jiwa), kota besar (100 ribu 1 juta jiwa), kota metropolitan (1 juta
10 juta), dan kota megapolitan (10 juta lebih).
3. Hukum dikaitkan dengan adanya hak-hak masyarakat yang memiliki dan
dilindungi oleh hukum bagi seluruh penghuni kota. Berlakunya hukum positif
yang tertulis merupakan karakteristik wilayah kota.

7
4. Ekonomi Kehidupan warga kota nonagraris. Fungsi kota yang dominan dan
menjadi ciri khas adalah perdagangan, industri, jasa, dan hiburan.
5. Sosial dengan karakteristik hubungan antar warga yang impersonal, memiliki
kebebasan dalam bergaul dengan berbagai kalangan, hubungan sosial yang
lugas, dan kepentingan yang terkotak-kotak.

Amos Rapoport mengnutip Jorge E Hardoy menggunakan 11 kriteria


secara spesifik untuk merumuskan kota, sebagai berikut :

1. Ukuran dan jumlah penduduk yang besar terhadap massa dan tempat.
2. Bersifat permanen.
3. Kepadatan minimun terhadap massa dan tempat.
4. Struktur dan tata ruang perkotaan seperti yang ditujukkan oleh jalur jalan dan
ruang perkotaan yang nyata.
5. Tempat masyarakat tinggal dan bekerja.
6. Fungsi perkotaan minimum yang dirinci, yang meliputi sebuah pasar, sebuah
pusat administrattif atau pemerintahan, sebuah pusat militer, pusat
keagamaan, atau pusat intelektual.
7. Bersama dengan kelembagaan yang sama.
8. Heterogenitas dan pembedaan yang bersifat hierarkhi pada masyarakat.
9. Pusat ekonomi perkotaan yang menghubungkan sebuah daerah pertanian di
tepi kota dan memproses bahan mentah untuk pemasaran yang lebih luas.
10. Pusat pelayanan bagi daerah-daaerah lingkungan setempat
11. Pusat penyebaran, memiliki suatu falsafah hidup perkotaan pada massa dan
tempat.

2.1.4 Elemen-elemen ekologi kota


Secara harfiah, ekologi adalah pengkajian hubungan organisme-organisme
atau kelompok organisme terhadap lingkungannya (Zoerani Djamal
Irwan,2005:19). Kaitannya dengan perkotaan, ekologi kota berarti mempelajari
lingkungan perkotaan. Elemen-elemen kota diantaranya:
a) Tata guna lahan, mempertimbangkan dua hal yaitu pertimbangan umum dan
pertimbangan pejalan kaki (stree level).
b) Bentuk dan masa bangunan, prinsip dan teknik urban design yang berkaitan
dengan bentuk dan masa bangunan meliputi:
Scale, berkaitan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, dan dimensi
bangunan sekitar
Urban space, sirkulasi ruang yang disebabkan bentuk kota, batas, dan
tipe-tipe ruang

8
Urban mass, meliputi banguan, permukaan tanah, dan objek dalam ruang
yang dapat tersusun untuk membentuk urban space serba pola aktivitas
dalam skala besr dan kecil.
c) Sirkulasi dan parkir, elemen sirkulasi adalah satu aspek yang kuat dalam
membentuk struktur lingkungan perkotaan.
d) Ruang terbuka dan ruang tertutup. Ruang terbuka adalah yaitu ruang yang
dibatasi oleh batas-batas semu. Ruang tertutup adalah ruang yang dibataso
oleh batas-batas nyata dengan batas arsitektural. Ruang mati yaitu ruang
yang tidak terpakai (useless space).
e) Jalur pejalan kaki, sistem pejalan kaki yang baik yaitu:
Mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota
Meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala
manusia
Lebih mengekspresikan aktivitas PKL, mampu menyajikan kualitas
udara.

f) Activity Support, muncul oleh adanya keterkaitan antara fasilitas ruang


umum kota dengan seluruh kegiatan yang menyangkut penggunaan ruang
kota yang menunjang akan keberadaan ruang-ruang umum kota.
g) Simbol dan tanda
h) Ruang terbuka hijau, salah satu fasilitas umum perkotaan yang dapat
digunakan sebagai indikator dalam emngetahui kualitas lingkungan hidup
suatu kota.
i) Taman kota, suatu lahan yang berisikan taman-taman yang bermanfaat bagi
ekologi dan estetika perkotaan yang berguna bagi upaya ekosistem
perkotaan.

2.2 Masalah Sosial Perkotaan


2.2.1 Gambaran Masalah Sosial Perkotaan
Sistem perusahaan bebas yang dianut sebagai prinsip ekonomi memiliki
arti penting dalam pembangunan di perkotaan. Bukan hanya dalam peningkatan
perdagangan dan industri yang mengakibatkan kenaikan cepat pada tingkat
kepadatan penduduk di perkotaan. Tetapi terdapat sebuah inisiatif individu yang
tidak terkendalikan di daerah perkotaan.
Kota-kota yang berkembang di sepanjang jalan raya, perkembangannya
menunjukan corak yang tinggi dalam gaya bangunan rumahnya. Sehingga

9
perkembangan wilayah di kota pun semakin diperluas guna memenuhi
kebutuhan bagi berbagai kalangan, hal ini mengakibatkan meluasnya jumlah
penduduk yakni bangunan pedesaan yang berpindah haluan untuk pergi ke kota-
kota secara luar biasa (urbanisasi).
Perkembangan wilayah di perkotaan ini menghasilkan gambaran yang
tidak teratur dan menciptakan berbagai permasalahan. Banyak sekali konflik
kota yang terjadi oleh kontak para warganya merupakan salah satu akibat dari
pembangunan perkotaan, dan menyebabkan setiap pelayanan sosial yang ada
bernilai mahal secara tidak proporsional. Gambaran kacau semakin memburuk
akibat kurangnya ketegasan dari pemerintah terkait aturan kepemilikian sebuah
wilayah. Banyak sekali wilayah usaha di kota yang kurang memadai,
pembangunan rumah di perbatasan jalan raya, di perlintasan kereta api dan
berdirinya pabrik secara sembarangan tanpa mempertimbangkan bahaya yang
akan terjadi akibat perilaku buruk para penduduk kota.
Lokasi bangunan umum, perkantoran, dan rumah sakit serta gedung
perfileman yang sering kali tidak masuk akal dan tidak efisien. Hukum yang
mengatur tanah di perkotaan sangat rumit dan membingungkan tanpa ada hasil
akhir yang jelas. Banyak sekali tanah milik feodal yang dianggap sebagai
kepemilikan pribadi, tidak adanya peraturan yang mengatur mengakibatkan
pembangunan rumah dilakukan oleh masyarakat kota secara liar. Sehingga
ketika terdapat penggusuran lahan, orang yang secara ekonomi lemah menjadi
korban dari eksploitasi tanah milik pribadi.
Hal ini merupakan permasalahan yang dihadapi oleh penduduk perkotaan
khususnya kaum urban. Cara hidup yang semi pedesaan yang diikuti oleh
penduduk di kota tidak sesuai dengan kehidupan di perkotaan yang
sesungguhnya. Penduduk kampung di kota tidak berpartisipasi dan tidak disiplin
di kota megakibatkan mereka perlahan-lahan tergusur. Sehingga sering kali kita
menemukan kapling-kapling kampung di kota yang berada di daerah pinggiran
rel kereta api, bantaran sungai dan di bawah kolong jembatan. Hal ini sering kali
rawan akan keadaan yang buruk baik itu kesehatan maupun lingkungan, sampah
yang menggunung, kekurangan air bersih, bahaya kebakaran, dan bahaya banjir
yang menimpa wilayah kota setiap tahunnya. Strategi pembangunan di
indonesia tergolong sangat buruk ketika pemerintah tidak melihat bagaimana
kondisi perkotaan secara sosiokultural, sehingga harus mengorbankan ekologi
alam sebagai konsekuensi dari kesalahan strategi yang di terapkan.

10
2.2.2 Solusi Penanggulangan
Solusi yang perlu diterapkan yakni dengan modifikasi lingkungan berbasis
kota pertanian agropolitan. Adanya pembangunan wilayah kota yang lebih luas
berwawasan lingkungan hidup. Tujuan pembagunan kota berwawasan
lingkungan ini pada dasarnya terletak pada umat manusianya, bagaimana
mereka berdampingan dengan siklus alam dan kepedulian terhadap lingkungan
dalam pembangunan kota. Bila perlu kita harus memodifikasi proyek berbasis
industri kota dengan sistem pertanian kota. Sehingga akan menghasilkan kota
pertanian agropolitan.
Program ini akan mengembangkan sistem industri kota yang tetap
mempertahankan budaya dasar dari masyarakat indonesia sendiri yakni
pertanian agraris. Agro politan ini bukan sebagai negara yang menghasilkan
panen pertanian dalam waktu yang lama, tetapi orientasinya lebih kepada
pembangunan kota pertanian yang berbasis produksi, distribusi, pemasarannya
yang menjangkau aspek-aspek ekonomi, sosial dengan menggunakan teknologi
canggih. Sehingga lingkungan pun akan tetap terjaga dan jauh dari kerusakan
lingkungan yang mengancam.
Pendekatan yang digunakan yakni merubah perilaku manusia dalam
konteks perubahan lingkungan. Pendekatan ini menuju masyarakat yang
berwawasan lingkungan, karena pembangunan kota dan kebudayaan suatu
masyarakat terdapat hubungan yang saling mempengaruhi. Perkembangan kota-
kota besar di indonesia umumnya mengabaikan kepentingan sosial budaya
masyarakat dan cenderung merusak keseimbangan lingkungan.
Selain itu masih terdapat berbagai tantangan dari adanya perkembangan
perkotaan menuju masyarakat berwawasan lingkungan antara lain yakni :
1. Mengelola sampah
Sampah merupakan masalah besar di perkotaan, selain sempitnya
lahan untuk pembuangan juga meningkatkan polusi yang berasal dari
sampah baik dari proses pengelolaah maupun pembuangannya. Solusinya
adalah, menetapkan sebuah masyarakat yang berorientasi pada sistem daur
ulang yang berbasis pada masyarakat terhadap konsumsi dan pembuangan
sampah melalui informasi dan pendidikan.
2. Polusi udara, air maupun debu dan bising

11
Perhatian khusus adanya polutan menimbulkan kerugian bagi
penduduk perkotaan dan siklus ekologi yang dihasilkan melalui emisi
industri, gas buangan kendaraan bermotor dan lain-lain. Kesehatan
penduduk dapat terganggu karena udara, air maupun debu yang mencemari
lingkungan perkotaan. Solusi yang dapat dilakukan yakni dengan undang-
undang yang harus dilaksanakan dengan konsekuensi, penelitian ilmiah baik
dari perguruan tinggi maupun kalangan non pemerintah.
3. Transportasi
Transportasi yang lancar akan meningkatkan perkembangan ekonomi
dan mobilitas umat manusia semakin lancar, akan tetapi berbagai akibat
negatif adanya ketidakadilan sosial, polusi dan penjualan mobil murah
bermunculan, maka diperlukan undang-undang untuk memperkecil dampak
lalu lintas pada lingkungan. Selain itu perlu adanya kolaborasi antara
pemerintah dan industri untuk membuat mobil yang tidak mudah rusak dan
mudah didaur ulang. Peraturan bagi pengendara mobil minimal 3 orang,
sudah dilakukan di jakarta untuk mengatasi kepadatan lalu lintas dan
mengurangi kemacetan.
4. Urbanisasi
Urbanisasi penduduk melaju cepat menyebabkan juga penyedotan air
tanah yang berlebihan, yang mengabaikan sirkulasi air regional dan
menyebabkan tanah longsor. Adanya banjir karena tidak terserapnya air
hujan ke dalam tanah, akhirnya lingkungan perkotaan sukar untuk
mendapatkan air bersih yang sebenarnya merupakan tuntutan masyarakat
kota. Kondisi tersebut dapat diatasi antara lain dengan membangun waduk
bagi kota-kota yang memiliki curah hujan banyak.
5. Kota hemat enegi
Dengan konservasi atau daur ulang, memang kota merupakan pusat
aktivitas sehingga memerlukan sumber energi yang cukup banyak / oleh
karena itu peningkatan energi yang berkelanjutan perlu adanya pendekatan
hemat energi pada kebutuhan indusrti rumah tangga maupun kebutuhan
untuk transportasi. Pemanfaatan energi yang berlebihan akan mengakibatkan
kerusakan lingkungan baik lokal, nasional maupun global. Solusinya selain
adanya konsep hemat energi juga mengarahkan masyarakat untuk menjadi
masyarakat berbasis hemat dan berperilaku hemat.
6. Hunian kumuh

12
Hunian kumuh bermunculan di perkotaan akibat dari migrasi dan
padatnya penduduk yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan di
kota, dan mereka adalah dari keluarga yang tidak mampu, mereka bekerja
pada sektor informal dengan memperolah pendapatan hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan fisik semata mata sekitar tingkat subsistensi,
umumnya mereka kaum pendatang musiman, tidak memiliki tempat tinggal
yang tetap mungkin juga baru mencari pekerjaan.
Komunitas kumuh dapat di pandang sebagai sub kebudayaan sendiri,
terutama dengan proses sosialisasi dalam menghadapi kompleksitas
kehidupan suatu kota yang berkembang pesat, tidak jarang para penghunian
kumuh selalu berusaha agar pendapatannya tidak menyebabkan
keguncangan dalam keluarga. Utuk mempertahankan hidupnya seringkali
mereka melakukan pilihan usaha yang kurang masuk akal. Salah satu
strategi yang dipilih adalah mendahulukan keselamatan. Masyarakat kumuh
harus diberdayakan dengan di berikan keterampilan untuk bekal mencari
pekerjaan dan menciptakan pekerjaan sendiri. Pemberdayaan dapat
dilakukan oleh pemerintah, lembaga sosial dan sebagainya.
7. Gelandangan
Salah satu gejala sosial yang terwujud di lingkungan perkotaan adalah
gelandangan. Kehadiran mereka ke kota akan mempersulit pengendalian
keamanan dan ketertiban di kota. Karena tekanan ekonomi mereka mengadu
nasib ke kota dan mereka mengharapkan kota dapat memberikan
kesempatan hidup yang lebih baik. Di lingkungan perkotaan dengan
ekonomi, administrasi dan sifat struktur sosial yang kompleks dapat
menampung kehadiran pendatang termasuk gelandangan. Tingkah laku dan
kebudayaan penduduk miskin turut berpegaruh pada kemiskinan mereka.
Sekali kemiskinan menimpanya maka norma, tingkah laku dan kebudayaan
kemiskinan yang berkembang dalam kehidupannya cenderung mengekalkan
keadaan kemiskinan.
Kurang partisipasi, tertutup dan selalu curiga terhadap orang luar,
apatis, merasa segan, untuk berhubungan dengan institusi modern
dianggapnya memiliki masyarakat diluar kelompok mereka, sifat ini diserap
dan diadaptasi sehingga memberikan kultur kemiskinan pada diri mereka.
Mereka tidak memiliki kemampuan secara psikologi untuk meningkatkan
dan mencari kesempatan untuk maju, sehingga sulit untuk keluar dari

13
lingkaran kemiskinan yang dideritanya. Salah satu cara untuk membantu
gelandangan keluar dari kemiskinannya, adalah pemerintah melalui
departemen sosial di tingkat pusat dan melalui dinas kesejahteraan sosial di
tingkat provinsi dan kota kabupaten merasa berkewajiban untuk
meningkatkan kesejahteraan mereka.
8. Anak terlantar
Anak terlantar dan anak jalanan merupakan masalah sosial yang perlu
ditangani. Di daerah perkotaan dengan alasan ekonomi kurang lebih 80%
anak jalanan dan anak terlantar banyak kita lihat di perempatan jalan, untuk
meminta-minta uang. Mereka sebagian masih pulang kerumah, dan sebagian
lagi tidur di tepi jalan atau di depan toko. Karena sudah biasa hidup bebas,
anak terlantar sukar diatur. Lebih-lebih setelah krisis ekonomi jumlah anak
terlantar yang masih sekolah, mereka ke jalan setelah pulang dari sekolah.
Sedangkan yang sudah tidak sekolah mereka dapat ke jalan setiap saat. Salah
satu upaya mengentaskan antar adalah adanya kepedulian dari lembaga
sosial baik pemerintah maupun swasta membantu beasiswa bagi antar yang
masih sekolah dan memberikan pemberdayaan dengan latihan keterampilan
bagi antar yang sudah tidak sekolah, sehingga mereka memiliki bekal untuk
bekerja baik untuk bekerja baik mencari pekerjaan maupun menciptakan
pekerjaan sendiri.

2.3 Pembangunan Kota Ekologis


2.3.1 Konsep Kota Ekologis
Konsep kota masa depan dengan optimis menyatakan bahwa kota
berupaya untuk menjaga kondisi lingkungan dengan tidak menyebabkan
kerusakan terhadap lingkungan, kota harus menjadi bagian dari solusi terhadap
kondisi tersebut. Persyaratan pertama yang harus dipenuhi bahwa fungsi suatu
kota harus memperhatikan terhadap keseimbangan lingkungan. Persyaratan
kedua, bahwa kota tidak hanya dipandang sebagai bentuk fisik saja, namun
secara psikologis dan sebagai sesuatu yang menarik (estetis), sebagai sesuatu
yang menyediakan kepuasan arti bagi suatu komunitas/masyarakat, dan kota
merupakan sesuatu yang berlanjut. Konsensus bagaimana membangun suatu
kota mencakup beberapa aspek :
Kehidupan dengan kepadatan yang tinggi

14
Komunitas yang spontan & kondisi kehidupan yang manusiawi
Mengurangi persyaratan perjalanan
Daya Manusia & transit publik
Bangunan hemat energi
Penggunaan lahan dengan fungsi mix-used
Sistem daur ulang yang baik
Ruang-ruang untuk publik

2.3.2 Langkah-langkah menuju Kota Ekologis


Langkah-langkah menuju Kota Ekologis menurut Christopher A. Haines:
1) Mengidentifikasikan prinsip-prinsip lingkungan dimana transformasi kota
harus terjadi. Prinsip-prinsip ini merupakan benchmark yang dapat
digunakan untuk mengukur perubahan. Prinsip-prinsip ini cukup sederhana
namun sangat penting untuk diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
Konservasi Sumber daya
Sumber daya material
Sumber daya energi
Sumber daya budaya
Sumber daya finansial
Studi tentang sampah
Studi tentang Sejarah
2) Merehabilitasi pusat-pusat kota
Proses ini terdiri dari:
Melakukan preservasi pada bangunan yang bersejarah
Merehabilitasi bangunan untuk konservasi energi dan modifikasi lain
yang disyaratkan
Mengganti aset-aset yang tidak memberikan kontribusi pada kota
3) Meningkatkan transportasi untuk publik
4) Menambah kepadatan di kawasan sprawl

2.3.3 Syarat-syarat Pembangunan Kota Ekologis


1) Jaminan yang ekologis meliputi udara yang bersih dan aman, penyediaan air
yang diandalkan, makanan, perumahan dan tempat kerja yang sehat,
pelayanan pemerintah kota, perlindungan bencana untuk semua orang.
2) Sanitasi yang ekologis harus memenuhi aspek efisien, biaya yang efektif,
cara yang ramah lingkungan dalam mengolah dan mendaur ulang hasil
metabolisme manusia, limbah dan air kotor. Metabolisme industri yang
ekologis dimana pelestarian sumber daya dan pelindungan lingkungan
termasuk pada transisi industri, menekankan pada penggunaan kembali pada

15
bahan yang digunakan, produksi yang berkelanjutan, energi yang
diperbaharui, transportasi yang efisien, dan kebutuhan hubungan antar
manusia.
3) Lanskap yang ekologis dimana meliputi kesatuan yang mengatur struktur-
struktur terbangun, ruang terbuka seperti taman dan plaza, penghubung
seperti jalan dan jembatan, komponen-komponen alami seperti sungai, bukit,
memaksimalkan aksesibilitas kota untuk seluruh warga kota disaat
pelestarian energi dan sumber daya serta usaha-usaha untuk mengurangi
masalah kecelakaan kendaraan, polusi udara, menurunnya kualitas air, efek
panas dan pemanasan global sedang terjadi.
4) Kesadaran ekologis meliputi diantaranya membantu orang untuk mengerti
bahwa tempat mereka bagian dari alam, identitas budaya, sikap tanggung
jawab terhadap lingkungan dan membantu mereka untuk merubah kebiasaan
mengkonsumsi dan meningkatkan kemampuan mereka agar dapat
memberikan kontribusi untuk merawat ekosistem kota dengan kualitas yang
tinggi.

2.3.4 Strategi Pembangunan Kota Ekologis


Fungsi kota ekologi menurut prinsip-prinsip tertentu, dimana jika
dipahami oleh kita, dapat mempengaruhi kota dalam petunjuk yang postif.
Prinsip-prinsip tersebut meliputi:
a) Skala kecil dan sangat memenuhi syarat
b) Akses menurut kedekatan
c) Pemusatan kembali dengan skala kecil
d) Perbedaan adalah sesuatu yang baik

Dalam implementasinya kota ekologis harus mampu mencerminkan


sebagai kota yang berkelanjutan. Kota ekologis direncanakan seharusnya
memiliki tujuan dalam penggunaan sumber daya yang seminimal mungkin serta
memberikan dampak yang sekecil mungkin. Kota harus mampu mendaur-ulang
sumber-sumber daya tersebut. Dalam konteks ini, kota ekologis memiliki prinsip
yang berbeda dengan kota modern. Perbedaan tersebut terletak pada penggunaan
sumber-sumber daya dan dampak yang ditimbulkannya. Pergeseran paradigma
ini merupakan konsekuensi logis untuk mencapai tujuan sebagai kota ekologis.
Namun hal yang tersulit untuk membentuknya adalah proses dalam menangani
sumber daya tersebut, karena diperlukan upaya mendaur-ulang sumber daya

16
tersebut. Berikut bagan yang menggambarkan pemanfaatan sumber daya dan
dampak yang ditimbulkannya.Suatu prinsip dan strategi pembangunan kota
ekologis, meliputi beberapa hal berikut:

1. Mengembalikan lingkungan yang mengalami degradasi:


Membangun kota dengan konsep taman
Menetapkan koridor hijau di kawasan pedesaan dan perkotaan
Meningkatkan kegiatan pedesaan untuk mendukung pertanian yang
berkelanjutan
2. Membangun kembali bioregion :
Membangunan bangunan yang tanggap terhadap iklim
Menggunakan sumber material bangunan lokal
3. Menyeimbangkan Pembangunan
Membangun bangunan yang low energy dengan material yang
mendukung
Melindungi keanekaragaman ekologis
Menghargai tempat hidup manusia dalam lingkungan
4. Mencegah Urban Sprawl
Membatasi perluasan pembangunan baru
Mengkonsolidasi kawasan kota yang ada dengan mengupayakan
penggunaan terbaik pada sumber daya
Mempertahankan kota agar tetap hidup, dan sebagai tempat yang enak
ditinggali
Menciptakan jaringan transportasi yang efisien
5. Mengoptimalkan dayaguna energi
Penggunaan energi yang dapat diperbaharui seperti angin, matahari
Penerapan ventilasi dan insulasi pada bangunan untuk mengoptimalkan
cahaya matahari
Mengurangi konsumsi energi melalui desain yang tanggap pada iklim,
penggunaan low energy alternatif
Menggunakan material produksi lokal
6. Berperan terhadap ekonomi
Industri yang berkelanjutan
Mengembangkan teknologi yang berbasis lingkungan
Penggunaan teknologi informasi yang tepat
7. Menyediakan kesehatan dan keamanan
Mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas lingkungan
Pengumpulan, daur ulang dan penggunaan kembali limbah padat
Penyediaan dan sanitasi air
Lingkungan yang tidak beracun dan non-alergi
8. Mendorong masyarakat
Melibatkan masyarakat dalam pembangunan kota
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam administrasi publik dan
manajemen

17
Mewujudkan pembangunan melalui proses yang melibatkan seluruh
masyarakat agar dapat menyumbang hasil yang diharapkan
9. Mempertimbangkan keadilan sosial
Keadilan dalam mengakses terhadap layanan, fasilitas dan informasi
Pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja
Melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam proses pembangunan
Menyediakan perumahan yang terjangkau
10. Menghormati sejarah
Mengembalikan monumen dan landmark lokal
Menghargai perbedaan budaya
Menghormati sejarah habitat pribumi
11. Memberdayakan cultural landscape
Perbedaan kelompok budaya, pesta rakyat
Adanya festival seni dan budaya
Bentuk seni multikultural
Jaringan komunitas seni dan kerajinan
12. Memperbaiki biosfer
Proyek kerjasama restorasi lahan untuk pengembangan baru
Memperbaiki, mengisi dan meningkatkan udara, air, lahan, energi,
biomass, makanan, keanekaragaman, habitat, ecolinks, mendaur ulang
limbah.

2.3.5 Perencanaan Perkotaan dan Kesehatan


Perencanaan perkotaan merupakan sebuah bidang ilmu terapan
multidisipliner yang menyangkut interaksi antara populasi dengan lingkungan
dimana mereka tinggal. Para perencana kota bekerja pada berbagai sektor yang
beragam dan luas cakupannya. Karena keluasan cakupannya inilah kajian
perencanaan kota harus melibatkan pendekatan konseptual dan metode analisis
dari multidisplin ilmu, yang umum didominasi oleh ilmu ekonomi, arsitektur,
geografi dan hukum.
Dari sekian banyak keterlibatan seorang perencana kota dalam berbagai
sektor, ada satu hal yang menjadi persamaan umum yakni para perencana
menggunakan keahlian mereka untuk menemukan solusi terhadap permasalahan
di masyarakat dengan berbagai cara yang akan membawa masyarakat mencapai
tujuan jangka panjang yang dikehendaki (AICP, 2014).
Perencana perkotaan telah memperlihatkan keprihatinannya akan proses
yang tidak telihat namun nyata dari aspek sosial, politik, ekonomi serta sejarah
yang menghasilkan pola konfigurasi fisik dari penggunaan atau tata guna lahan,
infrastruktur transportasi, ruang terbuka dan kepadatan penduduk yang

18
semuanya secara logis dapat dianggap sebagai penetu penting dari kesehatan
masyarakat (Northridge & Sclar, 2003).
Masyarakat disini dapat diartikan secara luas dengan merujuk pada
tingkatan negara, regional, kota ataupun lingkungan sekitar. Pada faktanya para
perencana kota bekerja lebih pada satu skala tingkatan dengan tujuan menyasar
secara komprehensif berbagai tantangan kompleks dari penataan perkotaan yang
timbul dari proses urbanisasi, naik turunnya perkembangan ekonomi dan
populasi serta meningkatnya keberagaman dalam berbagai dimensi kehidupan
sosial (Galea & Vlahov, 2005).
Berbagai setting kondisi perkotaan memiliki dampak yang beragam
terhadap kesejahteraan masyarakat penghuninya. Sebuah gambaran yang
kompleks dari hubungan antara perencanaan perkotaan dan kesehatan dapat
diungkap dengan pemahaman komprehensif terhadap bentuk perkotaan,
bagaimanapun tinggi atau rendah tingkat kepadatannya (Thompson, 2007). Pada
tabel berikut merangkum hubungan antara sasaran kesehatan dan cara di mana
perencanaan kota yang baik dapat memberikan kontribusi positif terhadap
kesejahteraan masyarakat.
Tabel 1. Menghubungkan perencanaan perkotaan dan kesehatan

Sasaran Kesehatan Fokus perhatian saat ini Bagaimana seorang perencana


dapat berperan
Gaya hidup sehat Gaya hidup yang cenderung Menyediakan lingkungan fisik ayng
kurang gerak, penuh tekanan dan menarik dan ruang tebuka yang
terisolasi merupakan faktor layak, memudahkan dan memberikan
penguat bagi gangguan kesehatan kenyamanan bagi aktivitas berjalan
seperti penyakit jantung, stroke kaki menuju fasilitas lokal,
dan depresi transportasi publik dan berinteraksi
satu sama sama lain
Kohesi sosial (rasa Isolasi terhadap interaksi antar Lingkungan yang aman, menarik dan
memiliki) sesama dan lingkaran pertemanan area publik yang dapat digunakan
berkontribus terhadap kondisi secara baik dan mempertimbangkan
depresi dan penarikan diri dari kondisi kultural setempat,
komunitas mendorong orang untuk berinteraksi
serta menimbulkan perasaan
memiliki dan kebersamaan
Kualitas hunian Kondisi hunian yang Perancangan hunian bagi individu
memprihatinkan, bahkan tidak yang baik, jenis perumahan dan
memiliki tempat tinggal, kepemilikan lahan yang bervariasi,
berkontribusi terhadap kondisi hunian yang terjangkau, rumah
kesehatan fisik dan mental yang sebagai aktualisasi diri dan bagian
buruk dari upaya menimbulkan rasa
kebersamaan dalam suatu wilayah
hunian

19
Akses terhadap Pengangguran akan mengarah Menghubungkan antara perencanaan
lapangan pekerjaan kepada stress akibat kondisi dan kebijakan ekonomi; penyediaan
finansial, yang telah nyata akses lapangan pekerjaan bagi warga
memiliki impilkasi serius bagi lokal
kesehatan
Aksesibiltas Buruknya aksesibilitas Lingkungan fisik yang mudah, aman
menimbulkan ketergantungan dan nyaman bagi pejalan kaki
terhadap kendaraan bermotor dan menuju fasilitas lokal dan mengakses
berujung kepada kesehatan akibatsarana transportasi publik yang
dampak kurangnya aktifitas; cukup tersedia dan terjangkau;
pencemaran udara penyediaan jalur pengendara sepeda
yang layak sebagai alternatif
transportasi, penataan akses lalu
lintas yang tertata baik
Kesetaraan Hidup dalam kemiskinan akan Perumahan dengan biaya murah,
menimbulkan kerugian secara fisik perencanaan fasilitas lokal yang
dan psikologis; kurangnya akses terjangkau, menciptakan peluang
terhadap fasilitas kesehatan; kerja, penyediaan rancangan
tinggginya angka kematian akibat lingkungan yang mendorong
penyakit dan kematian prematur interaksi dan hubungan
pada balita kemasyarakatan yang kuat
(Sumber: Bartoun & Tsourou, 2000).

Terdapat berbagai topik yang dapat digunakan oleh para perencana perkotaan untuk
menjelaskan tujuan perencanaan dan strateginya. Lima topik utama cukup dapat membantu
pekerjaan perencana kota, terutama yang terkait dengan isu penting dalam kesehatan
perkotaan (tabel 2), yakni perkembangan ekonomi; perancangan kota; kesetaraan dan
keadlian sosial; manajemen pemerintahan dan institusi; serta isu keberlanjutan
(sustainability).

Tabel 2 Fokus Pendekatan Perencana Perkotaan

Pendekatan Fokus
Pembangunan Ketidakmerataan distribusi kesejahteraan dan kemiskinan dampak
ekonomi globalisasi
Menciptakan kesejahteraan individu dan rumah tangga untuk
memperbaiki kesehatan perkotaan
Perencanaan Perancangan bangunan, taman dan fasilitas jalan untuk
Perkotaan mempromosikan kesehatan dan mengurangi risiko penyakit
Peran dari penempatan elemen lingkungan binaan dalam
mengarahkan perilaku individu maupun masyarakat
Kesetaraan dan Komunitas yang tidak dirugikan secara sosial, politik dan
Keadilan Sosial ekonomi
Pemberdayaan untuk perluasan partisipasi publik dalam
penentuan keputusan terkait pendanaan kesehatan, program
kesehatan dan hasilnya

20
Tata kelola dan Dampak dari swastanisasi, peningkatan penekanan terhadap peran
Manajemen institusi NGO dalam pemberian pelayanan
Kerjasama, kolaborasi dan konflik antar lembaga pemerintah dan
non-pemerintah
Keberlanjutan Melindungi dan memperluas ruang hijau, taman dan habitat bagi
spesies yang terancam punah
Perencanaan jangka pendek dan panjang terhadap penggunaan
lahan untuk efektifitas pengelolaan sumber daya alam (air dan
hutan)
(Sumber:Boarnet & Takahashi, 2005).

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ekologi kota adalah interaksi organisme dengan lingkungan fisiknya di wilayah
perkotaan. Pengertian ekologi sosial dikembangkan dalam kehidupan kota. Kota
memiliki komunitas yang terdiri dari penduduk, tempat tinggal dan sarana. Kota-kota
yang berkembang di sepanjang jalan raya, perkembangannya menunjukan corak yang
tinggi dalam gaya bangunan rumahnya. Perkembangan wilayah di perkotaan ini
menghasilkan gambaran yang tidak teratur dan menciptakan berbagai permasalahan.
Banyak sekali konflik kota yang terjadi oleh kontak para warganya merupakan salah
satu akibat dari pembangunan perkotaan, dan menyebabkan setiap pelayanan sosial
yang ada bernilai mahal secara tidak proporsional. Gambaran kacau semakin memburuk
akibat kurangnya ketegasan dari pemerintah terkait aturan kepemilikian sebuah
wilayah. Banyak sekali wilayah usaha di kota yang kurang memadai, pembangunan
rumah di perbatasan jalan raya, di perlintasan kereta api dan berdirinya pabrik secara
sembarangan tanpa mempertimbangkan bahaya yang akan terjadi akibat perilaku buruk
para penduduk kota.
Solusi yang perlu diterapkan yakni dengan modifikasi lingkungan berbasis kota
pertanian agropolitan. Adanya pembangunan wilayah kota yang lebih luas berwawasan
lingkungan hidup. Tujuan pembagunan kota berwawasan lingkungan ini pada dasarnya
terletak pada umat manusianya, bagaimana mereka berdampingan dengan siklus alam
dan kepedulian terhadap lingkungan dalam pembangunan kota.

3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya penulisan makalah ini, pembaca bisa memberikan
sumbangsih ide yang lebih banyak lagi mengenai apa saja hal-hal nyata yang bisa
diterapkan di lingkungan kota tanpa merusak tatanan lingkungan dan sosialnya serta apa
saja hal-hal yang tidak boleh dilakukan untuk pembangunan kota dengan
memperhatikan aspek sosial, kesehatan, dan lingkungan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Arman, Muhammad. 2015. Ekologi Kota di Perkotaan.


http://turateamo.blogspot.co.id/2015/04/ekologi-kota-di-perkotaan.html (diakses pada
22 Mei 2017).

Bartoun, H., & Tsourou, C. (2000). Healthy Urban Planning: a WHO Guide to Planning for
People. Spon Press.

Boarnet, M. G., & Takahashi, L. M. (2005). Bridging the Gap Between Urban Health and
Urban Planning. In Handbook of Urban Health: Populations, Methods and Practice.
New York: Springer. Chintia, Maya. 2013. Masalah Sosial Perkotaan, Tan

tangan, dan Cara Menanggulanginya. http://mayachintia.blogspot.co.id/2013/11/masalah-


sosial-perkotaan-tantangan-dan.html (diakses pada 22 Mei 2017).

Dwijosusilo, Kristyan. 2010. Manajemen Pembangunan Prasarana Kota.


https://krisnotosuman.wordpress.com/2010/12/05/ekologi-kota/ (diakses pada 22 Mei
2017).

Jamaludin, Adon Nasrullah. 2015. Sosiologi Perkotaan. Bandung: Pustaka Setia

Navastara, Ardy Maulidy. 2007. Prinsip-Prinsip Kota Ekologis.


https://jepits.wordpress.com/2007/12/19/prinsip-prinsip-kota-ekologis/93/ (diakses
pada 22 Mei 2017)

Ratodi, Muhammad. 2016. Pendekatan Perencanaan Perkotaan Dalam Konteks Kesehatan


Perkotaan. EMARA Indonesian Journal of Architecture Volume 2 Nomor 1.