Anda di halaman 1dari 28

PENGARUH KARAKTERISTIK PEMERINTAH DAERAH

TERHADAP PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS*

Syurmita
Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi
Universitas Al Azhar Indonesia

Abstract
This study using a statistical model to predicted financial distress condition of local
governments in Indonesia. Whereas financial distress in the private sector has been
equated with failure to meet financial commitments, but in this research financial
distress is interpreted as an inability to provide public service at pre-existing levels.
Several indicators are used to predict financial distress i.e composition of revenues,
financial commitments, population, and splitting phenomenon after the autonomy era.
100 sampel local governments (Kabupaten/Kota) were randomly and proportionally
selected from The Audit Board of The Republic of Indonesia (BPK-RI) and The Ministry
of Domestic Affairs data. The research findings showed that financial distress ware
statistically significant associated with the degree of financial independency (sig. 0,027),
the degree of decentralization (sig. 0,024), size of population (sig. 0,004), and local
governments age (sig. 0,005).

Keywords: financial distress, local government, decentralization, autonomy era

PENDAHULUAN
Setelah lebih dari satu dasawarsa pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, keberhasilan
program ini mulai banyak dipertanyakan. Otonomi daerah yang tadinya diharapkan mampu
memperbaiki masalah ketimpangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, justru
menimbulkan masalah baru akibat penyalahgunaan wewenang yang telah diberikan pemerintah
pusat kepada daerah. Adanya temuan lembaga independen yang ikut mengawasi pelaksanaan

Terima kasih kepada LP2M Universitas Al Azhar Indonesia yang telah mendukung pendanaan riset ini, dan presentasi di
Konferensi Regional Akuntansi 2014 di FEB Universitas Airlangga (20-21 Mei)

1 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


otonomi daerah juga telah menyebutkan bahwa kini kondisi keuangan daerah cenderung kritis
dan mengkhawatirkan.
FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi) menyebutkan pada tahun 2012 terdapat
291 pemerintah daerah yang memproyeksikan belanja pegawai lebih dari 50 persen, yang artinya
sisa anggaran yang masih tersedia untuk belanja program dalam rangka memenuhi pelayanan
publik hanya sebesar 9 persen sampai 14 persen (seknasfitra.org, 2013). Perilaku boros
pemerintah daerah yang menguras separuh lebih anggarannya hanya untuk belanja pegawai
dikhawatirkan akan mengantarkan pemerintah daerah pada kondisi kebangkrutan. Pembiaran
terjadinya rekruitmen pegawai secara terus menerus tanpa mempertimbangkan kemampuan
keuangan daerah akan berdampak pada berkurangnya dana untuk membangun fasilitas publik,
percepatan pembangunan daerah, penciptaan pelayanan yang berkualitas, dan pemerataan
kesejahteran masyarakat, sebagaimana yang telah diamanahkan dalam kebijakan otonomi
daerah.
Pada sektor swasta financial distress didefinisikan sebagai kegagalan untuk memenuhi
komitmen keuangan, berupa ketidaksanggupan melunasi pinjaman, kegagalan membayar dividen
(atau bahkan pengurangan jumlah pembayaran dividen), kekurangan modal kerja, dan
ketidakcukupan dana untuk membayar sejumlah biaya perusahaan (Foster, 1986; Lau, 1987;
Ward, 1994; Jones and Hensher, 2004, Luo and Yu, 2011). Pada sektor publik, Jones dan Walker
(2007) mendefinisikan financial distress sebagai ketidakmampuan pemerintah untuk
menyediakan pelayanan publik sesuai standar mutu pelayanan yang telah ditetapkan.
Ketidakmampuan ini dikarenakan pemerintah tidak memiliki kecukupan dana untuk membangun
infrastruktur pelayanan publik, seperti jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya.
Beberapa penelitian terdahulu telah mengembangkan indikator untuk memprediksi
financial distress. Pada sektor swasta, rasio-rasio keuangan digunakan untuk memprediksi
ketidakpastian atau kepailitan sebuah perusahaan (Platt and Platt, 2002; Jones and Hensher,
2004, Luo and Yu, 2011). Pada sektor pemerintahan, Jones dan Walker (2007) menggunakan
dua indikator untuk memprediksi financial distress negara bagian di Australia, yaitu indikator

2 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


keuangan dan non-keuangan. Indikator keuangan terdiri dari: (1) besaran dana yang dialokasikan
untuk membangun infrastruktur pelayan publik dan (2) rasio-rasio kinerja keuangan, sedangkan
indikator non keuangan terdiri dari: (1) karakteristik dewan dan (2) kualitas pelayan publik.
Penelitian ini bertujuan untuk prediksi financial distress dengan menggunakan indikator
keuangan dan non-keuangan. Indikator keuangan yang digunakan meliputi komposisi
pendapatan dan komitmen utang, sedangkan indikator non-keuangan meliputi kondisi sosial-
ekonomi dan fenomena pemekaran yang terjadi di Indonesia. Derajat desentralisasi dan
kemandirian keuangan digunakan untuk melihat kondisi pendapatan pemerintah daerah. Populasi
penduduk digunakan untuk melihat kondisi sosial-ekonomi pemerintah daerah (sebagai ukuran
pembayaran transfer). Penentuan indikator-indikator tersebut dilakukan dengan
mempertimbangkan teori dan kondisi yang terjadi di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA
Kajian Teori
Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia sudah diselenggarakan lebih dari
satu dasawarsa. Otonomi daerah untuk pertama kalinya mulai diberlakukan di Indonesia melalui
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang hingga saat ini telah
mengalami beberapa kali perubahan. Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia tersebut telah
mengakibatkan perubahan dalam sistem pemerintahan di Indonesia yang kemudian juga
membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat di berbagai bidang.
Secara konseptual, pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dilandasi oleh tiga tujuan
utama yang meliputi tujuan politik, tujuan administratif dan tujuan ekonomi. Hal yang ingin
diwujudkan melalui tujuan politik dalam pelaksanaan otonomi daerah diantaranya adalah upaya
untuk mewujudkan demokratisasi politik melalui partai politik dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah. Perwujudan tujuan administratif yang ingin dicapai melalui pelaksanaan otonomi daerah
adalah adanya pembagian urusan pemerintahan antara pusat dan daerah, termasuk sumber

3 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


kuangan, serta pembaharuan manajemen birokrasi pemerintahan di daerah. Sedangkan tujuan
ekonomi yang ingin dicapai dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia adalah terwujudnya
peningkatan Indeks pembangunan manusia sebagai indikator peningkatan kesejahteraan
masyarakat Indonesia.
Dalam konsep otonomi daerah, pemerintah dan masyarakat di suatu daerah memiliki
peranan yang penting dalam peningkatan kualitas pembangunan di daerahnya masing-masing.
Hal ini terutama disebabkan karena dalam otonomi daerah terjadi peralihan kewenangan yang
pada awalnya diselenggarakan oleh pemerintah pusat kini menjadi urusan pemerintahan daerah
masing-masing.

Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah


Bab V UU No. 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara mengatur tentang hubungan
keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral, pemerintah daerah, serta pemerintah/
lembaga asing. Sementara itu, Bab VI UU No.17 Tahun 2003 mengatur tentang hubungan
keuangan antara pemerintah pusat dan perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan
swasta, serta badan pengelola dana masyarakat. Hubungan keuangan antara pusat dan daerah
terjadi dalam bentuk:
a. Pengalokasian transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam bentuk dana
perimbangan yang terdiri atas dana bagi hasil pajak dan dana bagi hasil sumber daya
alam, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Otonomi Khusus, dan Dana
Penyesuaian
b. Pemberian pinjaman dan/atau hibah oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
atau sebaliknya dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat
c. Pemberian Pinjaman/hibah/penyertaan modal oleh pemerintah pusat kepada perusahaan
daerah atau sebaliknya pemberian pinjaman/hibah oleh perusahaan daerah kepada
pemerintah pusat
d. Pemberian pinjaman/hibah oleh perusahaan negara kepada pemerintah daerah.

4 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Financial distress
Financial distress atau kesulitan keuangan pada sektor swasta didefinisikan sebagai
kegagalan untuk memenuhi komitmen keuangan, berupa ketidaksanggupan melunasi pinjaman,
kegagalan membayar dividen (atau bahkan pengurangan jumlah pembayaran dividen),
kekurangan modal kerja, dan ketidakcukupan dana untuk membayar sejumlah biaya perusahaan
(Foster, 1986; Lau, 1987; Ward, 1994; Jones and Hensher, 2004, Luo and Yu, 2011). Pada sektor
publik, Jones dan Walker (2007) mendefinisikan financial distress sebagai ketidakmampuan
pemerintah untuk menyediakan pelayanan publik sesuai standar mutu pelayanan yang telah
ditetapkan. Ketidakmampuan ini dikarenakan pemerintah tidak memiliki kecukupan dana untuk
membangun infrastruktur pelayanan publik, seperti jalan, jembatan dan fasilitas publik lainnya.
Pada pemerintah daerah, Financial Distress ditandai dengan tidak terkendalinya pengeluaran
yang dilakukan untuk belanja rutin, sehingga pemerintah daerah menekan pengeluaran untuk
belanja modal atau belanja investasi.

Pengembangan Hipotesis
Pengaruh Kemandirian Keuangan terhadap Prediksi Financial Distress
Teori ketergantungan sumber daya menjelaskan mengenai hubungan antar organisasi.
Sebuah organisasi dipandang memiliki sifat seperti makhluk hidup (organisme) yang
survavilitasnya akan tergantung pada lingkungan. Organisasi mengambil sumber daya dari
lingkungannya, seperti bahan baku dan tenaga kerja. Organisasi yang mampu menguasai sumber
daya vital atau bisa mengurangi ketidakpastian dalam hubungannya dengan organisasi lain akan
memiliki kekuatan (power) yang paling besar (Peffer dan Salancik, 1978 dalam Gudono, 2009).
Pada pemerintah daerah, kekuatan (power) sumber daya keuangan dapat tercermin dari
besarnya pendapatan yang dihasilkan oleh pemerintah daerah tersebut. Menurut Undang-
Undang, Pemerintah daerah memiliki tiga komponen sumber pendapatan, yaitu Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Pendapatan Transfer, dan Pendapatan Lain-Lain. Pemerintah daerah yang

5 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


memiliki Pendapatan Asli Daerah rendah akan membutuhkan dana dari sumber lain untuk
memenuhi kebutuhannya. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, sumber dana tersebut
diantaranya dapat berasal dari dana transfer pemerintah pusat/provinsi (dana perimbangan).
Sesuai pandangan teori ketergantungan sumber daya, pemerintah daerah yang memiliki
kemandirian sumber daya keuangan akan memiliki kekuatan untuk survive dan terhindar dari
financial distress. Kemandirian keuangan juga telah digunakan oleh peneliti terdahulu sebagai
indikator dalam menilai kinerja keuangan pemerintah (Cheng, 1992; Christiaens, 1999;
Christiaens dan Pateghem, 2007). Kloha, Weissert, dan Kleine (2005)
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Kemandirian keuangan pemerintah daerah berpengaruh negatif terhadap prediksi
Financial distress.

Pengaruh Derajat Desentralisasi terhadap Prediksi Financial Distress


Teori ketergantungan sumber daya menjelaskan bahwa organisasi adalah konsekwensi
dari kemampuan mereka mempengaruhi, sehingga organisasi yang hidupnya tergantung pada
subsidi pemerintah biasanya akan cenderung lebih taat pada perintah (aturan) pemerintah
(Pfeffer dan Salancik, 1978 dalam Gudono, 2009). Pemerintah Kabupaten/Kota yang memiliki
Pendapatan Asli Daerah (PAD) rendah akan bergantung pada transfer dana pemerintah
pusat/provinsi, agar dapat mendanai program-programnya. Sedangkan Kabupaten/Kota yang
memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi dapat menyelenggarakan desentralisasi dengan
mengandalkan pendapatan asli daerah lebih banyak, disamping dana transfer (perimbangan).
Jones dan Walker (2007) meneliti financial distress pada pemerintah lokal di negara
bagian Australia (New South Wales). Hasil temuannya menunjukkan bahwa pemerintah daerah
yang memiliki ketergantungan terhadap dana pemerintah federal diprediksi mengalami financial
distress. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Kontribusi pendapatan asli daerah dalam penyelenggaraan desentralisasi berpengaruh
positif terhadap prediksi financial distress.

6 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Pengaruh Rasio Solvabilitas terhadap Prediksi Financial Distress
Ketersediaan sumber daya untuk melunasi hutang merupakan sinyal kemampuan
organisasi dalam memenuhi komitmen keuangan. Beberapa penelitian terdahulu, baik di sektor
bisnis maupun sektor publik, menggunakan hutang sebagai indikator financial distress. Monti
dan Garcia (2010) menggunakan debt turnover ratio, non current debt ratio, debt coverage dan
liabilities (average) untuk memprediksi financial distress jangka pendek perusahaan-perusahaan
di Argentina. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut berpengaruh
signifikan dalam memprediksi financial distress.
Wibowo dan Samekto (2013) menggunakan Current Liability ratio, dan Debt to Revenue
ratio sebagai informasi akuntansi relevan dalam mengukur Financial distress pemerintah daerah
di Jawa Timur. Penelitiannya menghasilkan adanya hubungan yang cukup kuat dan searah antara
ketiga variabel tersebut dengan financial distress. Sutaryo, dkk (2010) menggunakan Current
Liability Government Wealth, Current Liabilities, Long Term Debt to Total Asset, dan Debt to
Revenue sebagai nilai relevan informasi laporan keuangan terkait financial distress Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa terdapat
pengaruh signifikan antara variabel-variabel tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti
merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Kemampuan pemerintah daerah dalam melunasi kewajibannya berpengaruh positif
terhadap financial distress.

Pengaruh Kompleksitas terhadap Prediksi Financial Distress


Organisasi yang kompleks akan dilengkapi dengan sistem informasi yang lebih canggih
(sophisticated) dibanding organisasi sederhana (kecil). Pada organisasi yang kompleks terdapat
sistem informasi yang efektif untuk menjamin ketersediaan informasi dan mengurangi kos
informasi per unit. Sistem informasi yang efektif akan diperlukan pada organisasi yang kompleks
untuk mengawasi ketercapaian tujuan organisasi (Hossain, 2008).

7 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Kompleksitas pada riset akutansi pemerintahan diukur dengan menggunakan proksi
populasi penduduk suatu wilayah pada periode tertentu (Ingram, 1984; Robbins dan Austin,
1986; Evans dan Patton, 1987; Cheng, 1992; Christiaens, 1999; Christiaens dan Pateghem,
2007). Populasi dianggap sebagai ukuran pembayaran transfer pemerintah berkaitan dengan
jumlah sumber daya yang mungkin dapat disalahgunakan oleh pejabat pemerintah (agen). Jadi
kota dengan populasi yang lebih besar diperkirakan akan menghasilkan kinerja yang lebih baik
karena lebih banyak sumber daya yang dipertaruhkan (Evans dan Patton, 1987).
Christiaens (1999) dan Christiaens dan Pateghem (2007) menemukan bahwa kota besar
dengan jumlah penduduk yang lebih banyak memiliki tingkat kepatuhan yang lebih baik
terhadap prinsip akuntansi. Penelitian ini juga menduga bahwa semakin banyak populasi
penduduk yang dimiliki sebuah Kabupaten/Kota, maka probabilitas mengalami financial distress
akan semakin kecil dikarena populasi penduduk menggambarkan besaran transfer (sumber daya)
yang dimiliki pemerintah (Evans dan Patton, 1987). Berdasarkan hal tersebut maka peneliti
merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Kompleksitas pemerintahan berpengaruh negatif terhadap financial distress.

Pengaruh Pemekaran Wilayah terhadap Financial Distress


Pelaksanaan otonomi daerah yang berlangsung sejak tahun 1999 memberikan aspek
penting terkait dengan pemekaran dan penggabungan wilayah. Salah satu tujuan pemekaran atau
penggabungan wilayah adalah untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan
masyarakat lokal dalam rangka pertumbuhan kehidupan berdemokrasi. Dengan interaksi yang
lebih intensif antara masyarakat dan pemerintah daerah baru, maka masyarakat sipil akan
memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban secara lebih baik sebagai warga negara.
Namun, pemekaran dan penggabungan wilayah diduga akan berpengaruh terhadap
probabilitas pemerintah daerah mengalami financial distress. Pemerintah dearah yang sudah
lama terbentuk (tidak mengalami pemekaran), sudah memiliki pengalaman dalam menjalankan
kegiatan pemerintahan, sehingga diduga akan terhindar dari financial distress. Sebaliknya,

8 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


pemerintah daerah yang baru terbentuk (hasil pemekaran), belum memiliki cukup pengalaman
dalam pemerintahan sehingga memiliki kinerja yang lebih buruk dan berisiko mengalami
financial distress.
Amitabh (2006) menggunakan umur (pengalaman) sebagai indikator dalam menilai
kinerja pelaporan keuangan institusi pemerintah. Hasil temuannya menunjukkan bahwa
pertumbuhan umur institusi pemerintah akan meningkatkan kinerja dan pengalaman mereka
dalam praktik pelaporan keuangan. Hussein (2008) juga menggunakan umur organisasi dalam
menjelaskan variasi dalam praktik akuntansi dan pelaporan keuangan. Umur organisasi diketahui
berpengaruh terhadapi kinerja pelaporan keuangan. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti
merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5: Umur pemerintahan berpengaruh positif terhadap financial distress.

9 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Rerangka Berfikir

Komposisi Pendapatan
Kemampuan Pemerintah Daerah
memobilisasi pendapatan
(R.Kemandirian dan Derajat Desentralisasi)
Indikator
keuangan

Komitmen Keuangan
Kemampuan melunasi utang
mengandalkan potensi yang
dimiliki (R.Solvabilias)

FINANCIAL DISTRESS
Kompleksitas
Populasi penduduk yang
mencerminkan jumlah
pembayaran trasfer
Indikator
non-keuangan Ketidakmampuan pemerintah daerah
menyediakan fasilitas pelayanan publik,
Umur indikasi habisnya anggaran untuk
Fenomena Pemekaran belanja pengawai (pengeluaran rutin)
(Pembentukan) Daerah
Otonomi Baru
METODE PENELITIAN
Objek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia.
Pemerintah Provinsi dikecualikan dari populasi dengan pertimbangan adanya ketidaksetaraan
wewenang dan sifat hubungan antara pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pemilihan
sampel dilakukan secara acak dan proporsional terhadap pemerintah daerah kabupaten/kota dari
33 provinsi di Indonesia.

10 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Operasionalisasi Variabel Penelitian
Pada penelitian ini terdapat 6 (tujuh) variabel yang akan diujikan, yaitu satu variabel
dependent (terikat) Financial distress (Y), serta 5 (lima) variabel independent (bebas) yaitu:
Kemandirian Keuangan (X1), derajat desentralisasi (X2), Solvabilitas (X3), populasi penduduk
(X4), dan Pemekaran wilayan (X5).
Kemandirian Keuangan
Kemandirian keuangan mencerminkan sejauh mana pendapatan asli daerah (PAD)
mampu memenuhi kebutuhan daerah. Variabel kemandirian keuangan daerah diukur
dengan menggunakan rasio kemandirian:

Derajat Desentralisasi
Derajat desentralisasi menunjukkan kontribusi pendapatan asli daerah dalam
menyelenggarakan kebijakan desentralisasi.

Solvabilitas
Kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi seluruh kewajiban finansialnya, baik
kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang tercermin dari rasio solvabilitas
pemerintah daerah.

Sebuah organisasi dinilai memiliki solvabilitas baik jika rasio solvabilitas 1 (lebih besar
atau sama dengan satu), dan dinilai kurang baik jika rasio solvabilitas <1 (lebih kecil dari
satu).
Populasi Penduduk
Populsi penduduk suatu wilayah mencerminkan banyaknya sumber daya yang dimiliki
oleh wilayah (pemerintah daerah) tersebut.

11 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Umur
Umur pemerintah daerah merupakan varibel dami (dummy variable) yang dinyatakan
melalui konstruk pemekaran atau penggabungan wilayah. Apabila pemerintah daerah
bukan Daerah Autonomi Baru (bukan hasil pemekaran/penggabungan wilayah) maka
pemerintah daerah tersebut diberi bobot 1, sedangkan apabila pemerintah daerah
merupakan Daerah Autonomi Baru (terbentuk setelah tahun 1999) maka pemerintah
daerah tersebut diberi bobot 0.
Financial Distress
Financial distress atau kesulitan keuangan pada pemerintah daerah mencerminkan
ketidaktersediaan dana yang dimiliki pemerintah daerah untuk menyediakan pelayaan
publik sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Financial distress diukur dengan
membandingkan pengeluaran untuk belanja pegawai dengan total belanja.

Financial distress merupakan variabel dummy, dimana pemerintah daerah yang memiliki
proporsi Belanja Pegawai tehadap total belanja >50% dianggap mengalami financial
distress dan diberi skor 0, sedangkan pemerintah daerah yang memiliki proporsi Belanja
Pegawai terhadap total belanja kurang dari <50% dianggap tidak mengalami financial
distress dan diberi skor 1.
Metode Pengujian Hipotesis
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik biner (binary logistic
regression) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 18. Regresi logistik biner digunakan
apabila variabel dependennya berupa variabel dikotomi atau variabel biner. Dalam penelitian ini,
financial distress merupakan variabel dikotomi yang memiliki dua tingkatan berbeda, yaitu
pemerintah derah yang mengalami financial distress dan pemerintah daerah yang tidak
mengalami financial distress. Selain untuk melihat pengaruh sejumlah variabel independen

12 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


terhadap variabel dependen yang berupa variable response biner, regresi logistik biner juga biasa
digunakan untuk memprediksi nilai suatu variabel dependen y (yang berupa varibel biner)
berdasarkan nilai variabel-variabel independen x1, x2,, xk.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Deskripsi Objek Penelitian
Populasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh Pemerintah Daerah
Kabupaten dan Kota di Indonesia. Terdapat 508 Pemerintah daerah Kabupaten/Kota di Indonesia
pada tahun 2010, yang terdiri dari 410 Pemerintah Kabupaten dan 98 Pemerintah Kota. Teknik
penyampelan yang digunakan adalah penyampelan acak sederhana (simple random sampling)
dengan jumlah sampel 100 pemerintah daerah yang terpilih. Pengambilan anggota sampel dari
populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi.
Penyampelan acak dilakukan dengan tujuan agar dapat mengeneralisir kondisi seluruh
pemerintah daerah kabupaten dan kota di Indonesia (anggota populasi).

Analisis Statistik Deskriptif


Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi data yang diteliti dengan
melihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean), dan deviasi standar agar data lebih
jelas dan mudah dipahami. Tabel di bawah ini menyajikan hasil pengujian statistik deskriptif
Tabel 4.1
Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
Kemandirian 100 ,007 ,278 ,06168 ,040397
Desentralisasi 100 ,006 ,288 ,06088 ,041370
Solvabilitass 100 6 3,E12 8,83E10 4,644E11

13 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


PopulasiPenduduk 100 18915 2838592 512627,85 480532,523
Valid N (listwise) 100
Sumber: Pengolahan Data SPSS

Kemandirian Keuangan
Kemandirian keuangan mencerminkan sejauh mana pendapatan asli daerah mampu memenuhi
kebutuhan daerah. Kemandirian keuangan daerah diukur dengan membandingan pendapatan asli
daerah (PAD) terhadap total belanja. Hasil statistik deskriptif menunjukkan terdapat 100 data
pemerintah daerah (N), dengan rasio kemandirian keuangan terendah (minimum) adalah 0,007
(0,7%) untuk Kabupaten Mesuji, dan rasio kemandirian keuangan tertinggi (maximum) adalah
0,278 (27,8%) untuk Kota Denpasar. Rata-rata (mean) rasio kemandirian daerah dari 100
pemerintah daerah adalah 0,0616 (6,1%) dengan deviasi standar 0,040.

Derajat Desentralisasi
Derajat desentralisasi menunjukkan kontribusi pendapatan asli daerah dalam menyelenggarakan
kebijakan desentralisasi. Derajat desentralisasi diukur dengan membandingkan pendapatan asli
daerah (PAD) terhadap total pendapatan. Hasil statistik deskriptif menunjukkan terdapat 100
pemerintah daerah (N), dengan rasio derajat desentralisasi terendah (minimum) adalah 0,006
(0,06%) untuk Kabupaten Mesuji, dan resio derajat desentralisasi tertinggi (maksimum) 0,288
(28,8%) untuk Kota Denpasar. Rata-rata (mean) rasio derajat desentralisasi dari 100 pemerintah
daerah adalah 0,060 (6%) dengan deviasi standar 0,041.

Solvabilitas
Solvabilitas menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi seluruh kewajiban
finansialnya, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio solvabilitas diukur
dengan membandingkan total aset terhadap total utang. Sebuah organisasi dinilai memiliki
solvabilitas baik jika rasio solvabilitas 1 (lebih besar atau sama dengan satu), dan dinilai

14 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


kurang baik jika < 1 (lebih kecil dari satu). Hasil statistik deskriptif menunjukkan terdapat 100
data pemerintah daerah (N). Pemerintah daerah yang memiliki rasio solvabilitas terendah
(minimum) adalah Kabupaten Pringsewu sebesar 6 dan rasio solvabilitas tertinggi (maximum)
adalah Kota Banda Aceh sebesar 3,1 T (pemerintah daerah tidak memiliki kewajiban, baik
jangka pendek maupun jangka panjang). Rata-rata (mean) rasio solvabilitas dari 100 pemerintah
daerah adalah 8,8 M dengan deviasi standar sebesar 4,4 M.

Populasi Penduduk
Populasi penduduk suatu wilayah mencerminkan banyaknya sumber daya yang dimiliki oleh
wilayah (pemerintah daerah) tersebut. Berdasarkan hasil statistik deskriptif 100 pemerintah
daerah (N), diketahui bahwa pemerintah daerah yang memiliki jumlah penduduk terendah
(minimum) adalah Kabupaten Tana Tidung yaitu sebanyak 18.915 jiwa dan pemerintah daerah
yang memiliki penduduk tertinggi (maximum) adalah Kabupaten Tanggerang yaitu sebanyak
2.838.592 jiwa. Rata-rata (mean) jumlah penduduk dari 100 pemerintah daerah adalah 512.627
jiwa dengan deviasi standar sebesar 480.532.

Pemekaran
Pemekaran atau penggabungan wilayah merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari sejak
mulai diberlakukannya kebijakan desentralisasi. Data dirjen otonomi daerah menunjukkan sejak
tahun 1999-2013 telah terdapat terdapat 7 Provinsi, 175 Kabupaten dan 34 Kota yang dipecah
atau bergabung menjadi satu wilayah (Daerah Otonomi Baru).

15 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Tabel 4.2
Pemekaran
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Non DOB 73 73,0 73,0 73,0
DOB 27 27,0 27,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Sumber: Pengolahan Data SPSS
Hasil statistik deskriptif menunjukkan dari 100 pemerintah daerah (N), terdapat 73 pemerintah
daerah yang bukan merupakan daerah otonomi baru (Non-DOB) dan 27 pemerintah daerah yang
merupakan daerah otonomi baru (DOB) yaitu daerah yang mengalami pemekaran atau
penggabungan wilayah.

Financial Distress
Financial distress atau kesulitan keuangan pada pemerintah daerah mencerminkan
ketidaktersediaan dana yang dimiliki pemerintah daerah untuk menyediakan pelayaan publik
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Financial distress diukur dengan membandingkan
pengeluaran untuk belanja pegawai dengan total belanja. Pemerintah daerah yang menghabiskan
dana terlalu besar untuk belanja pegawai dapat dipastikan tidak lagi memiliki kecukupan dana
untuk membangun infrastruktur pelayanan publik, karna uangnya sudah habis untuk membayar
gaji pegawai (belanja rutin).

16 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Tabel 4.3
Financial_Distress
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Financial Distress 71 71,0 71,0 71,0
Non Financial Distress 29 29,0 29,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Sumber: Pengolahan Data SPSS
Hasil statistik deskriptif menunjukkan dari 100 pemerintah daerah (N), terdapat 71 pemerintah
daerah yang mengalami financial distress (kesulitan keuangan), dan hanya 29 pemerintah daerah
yang tidak mengalami financial distress.

Hasil Uji Hipotesis


-2 log likehood
Nilai -2 log likehood dapat digunakan untuk melihat kelayakan model yang digunakan,
dengan cara membandingkan nilai -2 log likelihood sebelum ditambah variabel independen
dengan nilai -2 log likelihood setelah ditambah variabel independen. Hasil uji -2 log likelihood
dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 4.4
Overall Model Fit
Keterangan -2 log likelihood
Block Number = 0 120.430
Block Number = 1 86.521
Sumber: Pengolahan Data SPSS

17 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Tabel 4.5
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square df Sig.
Step 1 Step 33,909 5 ,000
Block 33,909 5 ,000
Model 33,909 5 ,000
Sumber: Pengolahan Data SPSS

Dari table 4.4 dapat dilihat nilai -2 log likelihood yang terjadi. Pada Block Number 0
nilai -2 log likelihood adalah sebesar 120.430, sedangkan pada Block Number 1 nilai -2 log
likelihood adalah sebesar 86.521. Pada Tabel 4.5 diperoleh nilai Chi-square sebesar 33.909 yaitu
selisih antara 120.430 dengan 33.909 yang menunjukkan model penelitian ini fit dengan data.

Negelkerke R2
Nilai Nagelkerke R square sebesar 0,411 menunjukkan bahwa 41,1 persen variasi dari
variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen, sedangkan sisanya sebanyak 58,9
persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Variasi yang
terjadi pada variabel financial distress dijelaskan oleh variabel kemandirian keuangan, derajat
desentralisasi, solvabilitas, populasi penduduk, dan pemekaran wilayah.
Tabel 4.6
Model Summary
-2 Log Cox & Snell Nagelkerke
Step likelihood R Square R Square
1 86,521a ,288 ,411
Sumber: Pengolahan Data SPSS

18 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Hosmer and Lemeshows Goodness of Fit Test
Uji Hosmer and Lemeshows Goodness of Fit Test dilakukan untuk melihat apakah data
empiris cocok atau sesuai dengan model penelitian. Hasil uji Hosmer and Lemeshows Goodness
of Fit Test dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7
Hosmer and Lemeshow Test
Step Chi-square df Sig.
1 9,736 8 ,284
Sumber: Pengolahan Data SPSS
Tabel menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,284 atau lebih besar dari 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model
dapat diterima karena cocok dengan data yang diobservasi dalam penelitian.

Classification Table
Tingkat ketepatan prediksi model dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.8
Classification Tablea

Predicted
Financial_Distress Percentage
Observed Distress Non-Distress Correct
Step 1 Financial_Distress Distress 63 8 88,7
Non-Distress 14 15 51,7
Overall Percentage 78,0

19 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Tabel 4.8
Classification Tablea

Predicted
Financial_Distress Percentage
Observed Distress Non-Distress Correct
Step 1 Financial_Distress Distress 63 8 88,7
Non-Distress 14 15 51,7
Overall Percentage 78,0
Sumber: Pengolahan Data SPSS

Tabel 2 x 2 Classification Table menunjukkan nilai estimasi financial distress dan non
financial distress. Terdapat 71 pemerintah daerah yang diprediksi mengalami financial distress,
namun observasi menunjukkan hanya 63 pemerintah daerah yang mengalami financial distress,
sedangkan sisanya 8 pemerintah daerah diprediksi secara tidak tepat sebagai non financial
distress. Jadi ketepatan prediksi financial distress adalah 63/71 (88,7%).
Pemerintah daerah yang diprediksi tidak mengalami kesulitan keuangan (non financial
distress) sebanyak 29 pemerintah daerah, namun observasi mununjukkan hanya 15 pemerintah
daerah yang tidak mengalami financial distress, sedangkan sisanya 14 pemerintah daerah
diprediksi secara tidak tepat sebagai financial distress. Jadi ketepatan prediksi non financial
distress adalah 15/29 (51,7%). Secara keseluruhan tingkat ketepatan prediksi adalah 78
pemerintah daerah atau sebesar 78%.

20 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Tabel 4.9
Hasil Klasifikasi Kesalahan Tipe I dan Tipe II
Klasifikasi Jumlah Persentase (%)
Estimasi yang benar 78 78%
Kesalahan Tipe I 14 14%
Kesalahan Tipe II 8 8%
Total 100 100
(Sumber: Pengolahan Data SPSS)

Cut off value yang digunakan adalah sebesar 0,5. Pemerintah daerah dianggap
mengalami financial distress apabila hasil estimasi dari model lebih atau sama dengan 0,5.
Estimasi data yang benar secara keseluruhan adalah 78 data atau sebesar 78%. Besarnya
kesalahan tipe I adalah sebannyak 14 atau 14% dan besarnya kesalahan tipe II adalah sebanya 8
data atau sebesar 8%.
Estimasi Parameter dan Interpretasinya
Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.10
Variables in the Equation
Koefisien Signifikansi Kesimpulan
Kemandirian -197,978 0,027 Ha1 Terdukung
Desentralisasi 193,655 0,024 Ha2 Terdukung
Solvabilitas 0,014 0,805 Ha3 Tidak Terdukung
Kompleksitas -1,005 0,004 Ha4 Terdukung
Pemekaran 1,721 0,005 Ha5 Terdukung

21 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Sumber: Pengolahan Data SPSS

Pengaruh Kemandirian Keuangan Terhadap Financial Distress


Hasil pengujian hipotesis pertama memiliki nilai signifikansi 0,027 dan koefisien -
197,978. Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa kemandirian keuangan
berpengaruh signifikan terhadap financial distress. Nilai koefisien negatif menunjukkan bahwa
pemerintah daerah yang memiliki kemandirian keuangan tinggi (tidak bergantung pada dana
transfer pemerintah pusat atau provinsi), cenderung tidak akan mengalami financial distress atau
memiliki ketersediaan dana untuk membiayai pengeluaran diluar kebutuhan rutin.

Pengaruh Derajat Desentralisasi Keuangan Terhadap Financial Distress


Hasil pengujian hipotesis ke dua memunjukkan nilai signifikansi 0,024 dengan nilai
koefisien 193,655. Nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa hasil uji statistik
mendukung hipotesis ke dua, yaitu derajat desentralisasi berpengaruh terhadap financial distress.
Nilai koefisien positif menunjukkan bahwa ketika derajat desentralisasi naik (rasio pendapatan
asli daerah terhadap total pendapatan naik) maka probabilitas pemerintah daerah mengalami
financial distress akan naik juga (berbanding lurus). Pemerintah daerah yang memiliki derajat
desentralisasi tinggi (mengandalkan dana transfer lebih sedikit) cenderung akan mengalami
financial distress, sedangkan pemerintah daerah yang memiliki derajat desentralisasi rendah
(mengandalkan dana transfer lebih banyak) cenderung tidak mengalami financial distress.
Hasi penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menyelenggarakan desentralisasi yang
dimiliki pemerintah daerah ternyata sudah kebablasan atau terjadi penyalahgunaan wewenang.
Pemerintah daerah yang kaya yang memiliki pendapatan asli daerah (PAD) tinggi, justru
dengan wewenang yang dimilikinya telah melakukan pemborosan anggaran untuk pengeluaran
belanja pegawai. Dalam hal ini pemerintah daerah memiliki komponen belanja pengawai diatas
50% dari total belanja, sehingga tidak lagi memiliki kecukupan dana untuk melakukan

22 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


pembangunan daerah, menyediakan fasilitas pelayanan publik, dan pengeluaran belanja modal
lainnya.

Pengaruh Solvabilitas Terhadap Financial Distress


Hasil pengujian hipotesis ke tiga memiliki nilai signifikansi 0,805 dan koefisien 0.14
Nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa rasio solvabilitas (kemampuan
melunasi hutang) tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress. Nilai koefisien positif
menunjukkan bahwa pemerintah daerah yang memiliki komitmen keuangan tinggi atau
kemampuan melunasi utang yang baik, cenderung tidak akan akan mengalami financial distress.

Pengaruh Populasi Penduduk Terhadap Financial Distress


Hasil pengujian hipotesis ke empat memiliki nilai signifikansi 0,004 dan koefisien -1,005.
Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa populasi berpengaruh
signifikan terhadap financial distress. Populasi penduduk menggambarkan besaran sumber daya
(transfer pemerintah) yang dipertaruhkan (Evans dan Patton, 1987). Nilai koefisien negatif
menunjukkan bahwa pemerintah daerah yang memiliki jumlah penduduk yang besar, cenderung
tidak akan akan mengalami financial distress. Kabupaten/kota dengan jumlah penduduk yang
tinggi menunjukkan kepemilikan sumber daya yang lebih baik, sehingga terhindar dari financial
distress.

Pengaruh Fenomena Pemekaran Wilayah Terhadap Financial Distress


Hasil pengujian hipotesis ke lima memiliki nilai signifikansi 0,005 dan koefisien 1,721.
Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa pemekaran berpengaruh
signifikan terhadap financial distress. Nilai koefisien positif menunjukkan bahwa daerah otonomi
baru yang mengalami pemekaran atau penggabungan wilayah cenderung mengalami financial
distress. Hal ini diduga terkait penyalahgunaan wewenang yang terjadi di pemerintah daerah,

23 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


dimana pemerintah daerah melakukan rekruitmen pegawai yang tidak terkendali sehingga terjadi
pemborosan belanja pegawai (komposisi belanja pegawai lebih dari 50%).
Amitabh (2006) mengemukakan bahwa pertumbuhan umur sebuah organisasi akan
meningkatkan pengalaman dan keahlian dalam mengelola organisasi tersebut. Temuan ini
sejalan dengan kondisi pemerintah daerah di Indonesia, dimana daerah otonomi baru (berdiri
mulai tahun 1999) memiliki kemampuan mengelola yang lebih buruk dibandingkan dengan
daerah yang sudah lama berdiri.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian statistik yang dilakukan terhadap 100 sampel pemerintah
daerah kabupaten dan kota di Indonesia pada periode 2010, maka dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Hasil analisis statistik deskriptif diketahui bahwa bahwa dari 100 sampel pemerintah daerah,
hanya 29 pemerintah daerah yang tidak mengalami financial distress, sedangkan sisanya
sebanyak 71 pemerintah daerah diprediksi mengalami financial distress. Hal ini
menunjukkan bahwa 71% pemerintah daerah mengalami financial distress yang artinya
pemerintah daerah tidak memiliki kecukupan dana untuk belanja modal atau belanja yang
terkait dengan infrastruktur, pembangunan daerah dan belanja fasilitas publik lainnya,
dikarenakan uang yang dimilikinya telah habis untuk kebutuhan operasional daerah.
2. Kemandirian keuangan dan populasi penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah yang memiliki
kemandirian keuangan tinggi (tidak bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat atau
provinsi), diprediksi tidak mengalami financial distress atau memiliki ketersediaan dana
untuk membiayai pengeluaran diluar kebutuhan rutin. Disamping itu, pemerintah daerah
yang memiliki jumlah penduduk yang besar, diketahui tidak akan mengalami financial

24 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


distress karna jumlah penduduk yang besar menunjukkan kepemilikan sumber daya yang
lebih baik.
3. Pemekaran wilayah berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress, yang
artinya daerah pemekaran memiliki kemampuan mengelola keuangan yang lebih buruk
dibandingkan daerah yang sudah lama berdiri, sedangka pengaruh rasio solvabilitas terhadap
financial distress tidak ditemukan dalam penelitian ini.
Keterbatasan Penelitian dan Saran untuk Penelitian Selanjutnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang
mungkin dapat mempengaruhi hasil penelitian. Adapun keterbatasan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Penelitian ini hanya mengamati satu tahun kondisi pemerintah daerah, pada penelitian
selanjutnya diharapkan dapat memperpanjang periode pengamatan agar dapat melihat
kecenderungan financial distress pemerintah daerah dalam jangka panjang
2. Pemilihan variabel pada penelitian ini dilakukan dengan berdasar pada penelitian
sebelumnya di negara lain. Pada penelitian berikutnya diharapkan dapat terlebih dahulu
melakukan analisis faktor dalam memilih variabel-variabel yang akan diteliti, agar dapat
meningkatkan ketepatan prediksi model.

DAFTAR PUSTAKA

Amitabh, Joshi (2006). Disclosure in Corporate Reporting of Public Sector Financial Institutions
(PSFs). www.ssrn.com. Diakses 12 Januari 2010.
Cheng, R.,H. (1992). An Empirical Analysis of Theories on Factors Influencing State
Government Accounting Disclosure. Journal of Accounting and Public Policy, 11, 1-14.
Christiaens, Johan (1999). Financial Accounting Reform in Flemish Municipalities: An
Empirical Investigation. Financial Accountability & Management, 15(1), 0267-4424.
Christiaens, Johan and Vincent V. Pateghem (2007). Governmental Accounting Reform:
Evolution of The Implementation in Flemish Municipalities. Financial Accountability &
Management, 23(4), 0267-4424.

25 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Evans, J & Patton, J (1987). Signalling and Monitoring in Public Sector Accounting. Journal
Accounting Research, 25 (supplement), 130-158
Foster, G. (1986). Financial Statement Analysis (2nded), Prentice-Hall.
Gudono (2009). Teori Organisasi. Penerbit: Pensil
Hossain, Mohammed (2008). The Extent of Disclosure in Annual Reports of Banking
Companies: The Case of India. European Journal of Scientific Research, Vol.23, No.4,
660-681
Ingram, Robert W. (1984). Economic Insentives and the Choice of State Government
Accounting Practices. Journal of Accounting Research 22, No.1, 126-144
Jones, Steward and David A. Henser (2004). Predicting Firm Financial Distress: A Mixed Logit
Model. Accounting Review Vol.79 No.4 pp 1011-1038.
Jones, Steward and R., G Walker (2007). Explanators of Local Government Distress. ABACUS
43 (3): 396-418
Kloha, et al (2005). Developing and Testing a Composite Model to Predict Local Fiscal Distress.
Lau, A.H. (1987). A Five-State Financial distress Prediction Model. Journal of Accounting
Research. Vol.18 No.1
Luo, C and Xiang Yu (2011). Financial distress Prediction Based on SVM and MDA Methods:
the case of Chinese Listed Companies.
Monti, E.N and R.M Garcia (2010). A Statistical Analysis to Predict Financial Distres. J Service
Science & Managemen. Published Online September 2010. Scientific Research.
Republik Indonesia (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No.17/2003 tentang Keuangan
Negara.
__________ (2004). Undang-Undang Republik Indonesia No.15/2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
__________ (2004). Undang-Undang Republik Indonesia No.32/2004 tentang Pemerintah
Daerah.
_________ (2004). Undang-Undang Republik Indonesia No.33/2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Robbin, Walter A., dan Austin, Kenneth R (1986). Disclosure Quality in Governmental Financial
Report: An Assessment of the Aprroriatenss of a Compound Measure. Journal of
accounting research, Vol 24, No 2, 412-421.
Plat, H, dan M.B Platt (2002). Predicting Financial distress. Journal of Financial Service
Profesional, 56: 12-15.

26 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Sutaryo, dkk (2010). Nilai Relevan Informasi Laporan Keuangan Terkait Financial Distress
Pemerintah Daerah. Simposium Nasional Akuntansi XIII. Purwokerto
Ward, T., (1994). An Empirical Study on the Incremental Predictive Ability of Beaver;s Naive
Operative Flow Measure Using Four-State Ordinal Models of Financial distress. Journal of
Business Finance and Accounting Vo.21 No.4.1994.
Wibowo dan Samekto (2013). The Relevance Of Accounting Information And Financial Distress
Of Local Government In East Java. The Indonesian Accounting Review Volume 3, No. 1,
January 2013, pages 43 52

Website:
www.bpk.go.id , diakses 1 Juni 2013
www.bps.go.id, diakses 10 Juni 2013
www.kemendagri.go.id , diakses 1 Juni 2013
setnasfitra.org , diakses 10 Juni 2013

27 Konferensi Regional Akuntansi (KRA) dan Doktoral Kolokium 2014


Sponsorship by:

Supported by:

Universitas Brawijaya, Universitas Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Sekolah Tinggi


Ilmu Ekonomi Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malangkucecwara, Universitas
Jember, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Gajayana Malang, UPN
Veteran Jawa Timur, Universitas Trunojoyo, Universitas Katholik Widyamandala Surabaya,
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Universitas Kanjuruhan Malang, Universitas Ciputra,
Universitas Kristen Petra, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya,
Universitas Negeri Malang

Sekretariat KRA 2014:


Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
Jl. Airlangga No. 4 Surabaya, Jawa Timur, 031-5033642, ext. 120, Fax. 5026288
E-mail: depakfeua@gmail.com

IAI KAPd Wilayah Jawa Timur


Jl. Ngagel No. 143 D - Surabaya 60246. Telp.: (031) 502 1125 ; Fax.: (031) 503 4633
E-mail: iaikapdjatim@gmail.com