Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara maritim dengan kawasan laut yang sangat luas

dengan panjang garis pantai lebih kurang 81.000 km. Hal ini menjadikan perairan

Indonesia memilki potensi kekayaan alam yang besar dengan tingkat keragaman

hayati yang tinggi, di dalamnya terdapat berbagai jenis organisme laut.

Pemanfaatan organisme laut tidak hanya terbatas sebagai bahan makanan, tetapi

juga sebagai sumber bahan kimia alam yang berpotensi sebagai obat.

Lingkungan laut merupakan sumber senyawa bioaktif yang sangat

melimpah. Senyawa bioaktif dari lingkungan laut yang secara umum berupa

senyawa metabolit sekunder sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan

obat. Senyawa bioaktif dari lingkungan laut juga dapat dijadikan sebagai senyawa

pemandu (lead compound) dalam sintesis obat-obatan baru

Spons adalah organisme laut yang diduga memiliki banyak molekul kimia

aktif yang funsional, hal ini dapat tercermin dari warna-warni dan karakteristik

hidupnya. Binatang laut ini sanggup hidup di kedalaman dan kondisi lingkungan

yang ekstrim, cahaya dan oksigen yang sangat terbatas. Spons diperkirakan telah

ada sejak jaman Precambrian (600-7000 juta tahun yang lalu), dan mendominasi

kehidupan bawah laut sekitar 400 tahun yang lalu. Kesanggupan adaptasi terhadap

perubahan ekosistem yang amat panjang dan ketahanan hidup spons, diduga

karena kemampuannya memproduksi dan menggunakan molekul-molekul kimia

aktif untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Berdasarkan temuan dan hasil

penelitian menunjukkan bahwa spons menduduki tempat teratas sebagai sumber

1
senyawa kimia bioaktif. Telah banyak dibuktikan bahwa senyawa-senyawa

metabolit sekunder pada spons memiliki berbagai sifat keaktifan, antara lain

sebagai antimikroba, antivirus, dan antikanker dan sangat prospektif sebagai

bahan baku obat (Soediro, 1999).

Belakangan ini telah ditemukan spesies baru yaitu Petrosia alfiani di

temukan oleh Voogd dan Van Soest (2002) yang tersebar di kawasan perairan

Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Beberapa hasil penelitian senyawa

bioaktif dari genus Petrosia telah dilaporkan mengandung asam kortikatat

sebagai antijamur dari spons Petrosia cortikata (Soediro, 1999), sedangkan data

dari Van Soest dan Braekman (1999) menemukan beberapa senyawa bioaktif dari

famili petrosidae diantaranya polihidroksilat asetilin, siklik 3-alkilpiperidin, dan

siklopropenasterol. Selain itu beberapa senyawa aktif yang telah ditemukan dan

dilaporkan dari genus Petrosia adalah alkaloid manzamine-A bersifat

sitotoksik (El sayed dkk., 2001). Pada Petrosia sp. ditemukan senyawa

poliasetilen, dideoxypetrosynol A yang menunjukkan aktivitas antitumor pada sel

melanoma kulit manusia (Cho dkk., 2004). Aktivitas antibakteri juga ditemukan

pada hasil isolasi dari spons laut Petrosia contignata, yaitu, Taraxeron dan D-

homoandrostan (Sutedja dkk., 2005). Senyawa antibakteri epidoksi sterol dari

spons laut Petrosia nigrans juga telah diisolasi dan dikarakterisasi dengan nama

5,8-epidioksi-24- etilkolest-6-en-3-ol. Berdasarkan uraian diatas maka dibuatlah

makalah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang senyawa metabolik sekunder

dan bioaktivitas yang terkandung dalam spons P. alfian.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:

1. Bagaimana bentuk klasifikasi dan morfologi dari spons laut Petrosia alfiani ?

2. Bagaimana proses ekstraksi dan isolasi spons laut Petrosia alfiani ?

2
3. Bagaimana bioaktivitas senyawa metabolik sekunder yang terkandung dalam

spons P. alfian?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui bentuk klasifikasi dan morfologi dari spons laut Petrosia alfiani ?

2. Mengetahui proses ekstraksi dan isolasi spons laut Petrosia alfiani ?

3. Mengetahui bioaktivitas senyawa metabolik sekunder yang terkandung dalam

spons P. alfian?

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spons

Spons merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang

yang mempunyai potensi bioaktif yang belum banyak dimanfaatkan. Hewan laut

mengandung senyawa aktif yang persentase keaktifannya lebih besar

dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan darat.

Jumlah struktur senyawa yang telah didapatkan dari spons laut sampai Mei 1998

menurut Soest dan Braekman (1999) adalah 3500 jenis senyawa, yang diambil

dari 475 jenis dari dua kelas, yaitu Calcarea dan Demospongiae. Senyawa tersebut

kebanyakan diambil dari Kelas Demospongiae terutama dari ordo Dictyoceratida

dan Dendroceratida(1250 senyawa dari 145 jenis), Haplosclerida (665 senyawa

dari 85 jenis), Halichondrida (650 senyawa dari 100 jenis), sedangkan ordo

Astroporida, Lithistida, Hadromerida dan Poecilosclerida, senyawa yang

didapatkan adalah sedang dan kelas Calcarea ditemukan sangat sedikit.

Spons adalah hewan yang termasuk Filum Porifera. Filum Porifera terdiri

atas empat kelas, yaitu: Calcarea, Demospongiae, Hexactinellida, dan

Sclerospongia. Kelas Calcarea adalah kelas spons yang semuanya hidup di laut.

Spons ini mempunyai struktur sederhana dibandingkan yang lainnya. Spikulanya

terdiri atas kalsium karbonat dalam bentuk calcite. Kelas Demospongiae adalah

kelompok spons yang terdominan diantara porifera. Mereka tersebar luas di alam,

serta jumlah jenis maupun organismenya sangat banyak. Mereka sering berbentuk

masif dan berwarna cerah dengan sistem saluran yang rumit, dihubungkan dengan

kamar-kamar bercambuk kecil yang bundar. Spikulanya ada yang terdiri atas

4
silikat dan ada beberapa (Dictyoceratida, Dendroceratida, dan Verongida)

spikulanya hanya terdiri atas serat spongin, serat kollagen atau spikulanya tidak

ada. Kelas Hexactinellida merupakan spons gelas. Mereka kebanyakan hidup

dilaut dalam dan tersebar luas. Spikulasinya terdiri atas silikat dan tidak

mengandung spongin. Kelas Sclerospongia merupakan spons yang kebanyakan

hidup pada perairan dalam di terumbu karang atau pada gua-gua, celah-celah

batuan bawah laut atau terowongan diterumbu karang. Semua jenis ini adalah

bertipe leuconoid yang kompleks yang mempunyai spikula silikat dan serat

spongin. Elemen- elemen ini dikelilingi oleh jaringan hidup yang terdapat pada

rangka basal kalsium karbonat yang kokoh atau pada rongga yang ditutupi oleh

kalsium karbonat.

2.2 Klasifikasi dari spons laut Petrosia alfiani

Adapun Klasifikasi spesies spons P. alfiani berikut:

Domain : Eukaryota

Kingdom : Animalia

Subkingdom : Radiata

Infrakingdom : Spongiaria

Phylum : Porifera

Subphylum : Cellularia

Class : Demospongiae

Subclass : Ceractinomorpha

Order : Haplosclerida

Family : Petrosidae

Genus : Petrosia

Specific name : alfiani

Scientific name : P. alfiani


5
2.3 Morfologi

Petrosia adalah spesies spons yang tergolong dalam kelas Demospongiae.

Spesies ini juga merupakan bagian dari kelas Demospongiae, filum Porifera,

subregnum Parazoa, dan kingdom Animalia. Spons dapat berbentuk sederhana

seperti tabung dengan dinding tipis, atau masif dan agak tidak teratur. Banyak

spons juga terdiri dari segumpal jaringan yang tak tentu bentuknya, menempel dan

membuat kerak pada batu, cangkang, tonggak, atau tumbuh-tumbuhan.Ukuran

spons juga beragam, mulai dari jenis berukuran sebesar kepala jarum pentul,

sampai ke jenis yang ukuran garis tengahnya 0.9 m dan tebalnya 30,5 cm. Jenis-

jenis spons tertentu nampak berbulu getar karena spikulanya menyembul keluar

dari badannya.

Spons Petrosia alfiani telah teridentifikasi sebagai jenis spons yang

endemik di wilayah laut kepulauan Spermonde Sulawesi-Selatan, hingga saat

ini tidak ditemukan di Kawasan laut manapun di dunia ini. Spons tersebut

berwarna kuning terang dan berubah jadi coklat pada udara terbuka. Gejala ini

sesungguhnya merupakan ekspresi dan karakteristik molekul kimia yang

dikandungnya. Diduga kuat jenis spons ini mengandung banyak biomolekul unik

yang belum pernah ditemukan.

Spons Petrosia alfiani adalah spesies yang baru ditemukan dan endemic di

kawasan perairan spermonde, diduga spons ini mengandung banyak metabolit

sekunder yang berguna dan memungkinkan ditemukannya metabolit sekunder

yang baru Morfologi spons P. alfiani dapat dilihat pada gambar 1

6
Gambar 1.Spons Petrosia alfiani, (a) dalam laut, (b) di udara terbuka

2.4 Metabolit Sekunder

Proses sintesis subtansi kimia dan degradasi organisme dengan sistem

enzimatik disebut metabolisme. Jalur-jalur biosintetik biosintetic pathways

digunakan oleh semua makhluk hidup dalam memproduksi metabolit yang

essensial untuk kelangsungan hidup dan pertahaanan dirinya. Metabolit primer

adalah biomolekul utama yang dihasilkan oleh organisme yang umumnya

berfungsi sebagai pembentuk struktur sel mahluk hidup, seperti protein,

karbohidrat, lemak, asam nukleat. Metabolit sekunder adalah molekul yang

dihasilkan melalui metabolism sekunder yang spesifik untuk masing-masing

kelompok organisme. Metabolit sekunder diproduksi secara spesifik oleh

organisme tertentu mengikuti jalur-jalur biogenetik yang bertalian dan sekaligus

menjadi pertanda hubungan kekerabatan antara berbagai organisme. Hal tersebut

sangat bermanfaat dalam pengembangan pengetahuan kemotaksonomi.

Identifikasi kandungan metabolit sekunder merupakan langkah awal yang

penting dalam penelitian pencarian senyawa bioaktif baru dari bahan alam yang

dapat menjadi prekursor bagi sintesis obat baru atau prototipe obat beraktivitas

tertentu.

7
Kelompok senyawa metabolit sekunder sangat melimpah dan umum

ditemukan dalam organisme. Metabolit sekunder yang bersifat antioksidatif

diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, senyawa fenol, steroid, dan terpenoid.

2.5 Senyawa Bioaktif Spons Petrosia alfiani dan bioaktivitasnya

Senyawa bioaktif diartikan sebagai senyawa kimia bahan alam yang

mempunyai aktivitas biologi yang dapat dimanfaatkan. Senyawa bioaktif

diperkirakan terdapat di alam dalam jumlah yang sangat besar dan tidak terbatas

yang sampai saat ini penelusuran dan pencarian masih terus dilakukan. Senyawa

bioaktif yang berhasil diisolasi terutama senyawa yang mempunyai aktivitas yang

berguna dan sangat potensial untuk dikembangkan.

2.5.1 Antioksidan

Antioksidan adalah zat yang dapat melindungi tubuh dari serangan radikal

bebas. Radikal bebas adalah suatu spesies yang sangat tidak sempurna (reaktif)

karena mengandung satu elektron yang tidak berpasangan. Radikal berasal

daripembelahan homolitik dan berbagai reaksi berantai yang menyebabkan

senyawa lain menjadi radikal (Wade, 2006).

Radikal bebas sangat berbahaya bagi manusia, karena dapat bereaksi

dengan protein dan DNA, sehingga menyebabkan berbagai penyakit degeneratif

seperti kanker, tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes mellitus, Alzheimer

dan mempercepat penuaan (Khalaf dkk., 2008).

Pada umumnya metode yang digunakan untuk melakukan uji antioksidan

adalah dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picryl-hydazyl)

karena waktu pengerjaan yang lebih singkat dibandingkan metode lain. Metode

8
pengujian antioksidan dengan metode ini dapat dilakukan secara kualitatif dan

kuantitatif (Tamat dkk., 2007).

Larutan DPPH berperan sebagai radikal bebas yang akan bereaksi dengan

antioksidan, sehingga DPPH berubah menjadi 1,1-diphenyl-2-picryl-hydazine

yang bersifat tidak radikal. Pembentukan 1,1-diphenyl-2-picryl-hydazine ditandai

dengan terjadi perubahan warna larutan dari ungu menjadi kuning pucat.

Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan pada kemampuan sampel dalam
menangkap radikal bebas DPPH melalui donor atom hidrogen atau electron
(Prangdimurti dkk., 2006). Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode
ini berdasarkan dari hilangnya warna ungu akibat tereduksinya DPPH oleh
senyawa antioksidan. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui
spektrofotometri UV-Vis 20D+
Berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh dari senyawa ekstrak diklorometana

mempunyai aktivitas antioksidan yang bersifat tidak aktif dengan nilai IC50

sebesar 372,23 g/mL dan asam askorbat sebagai pembanding mempunyai

aktivitas antioksidan yang bersifat aktif dengan nilai IC50 sebesar 2,723 g/mL.

Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat apabila nilai IC 50 kurang

dari 50 g/mL, kuat apabila nilai IC50 antara 50-100 g/mL, sedang apabila nilai

IC50 berkisar antara 100-150 g/mL, dan lemah apabila nilai IC50 berkisar antara

150-200 g/mL. Sehingga senyawa ekstrak diklorometana dari spons Petrosia

alfiani kurang berpotensi sebagai zat antioksidan.

2.5.2 Anti Kanker

Uji pendahuluan untuk menetukan aktivitas anti kanker adalah melalui uji

toksisitas dengan metode BSLT menggunakan larva udang Artemia salina leach.

Berdasarkan pada pernyataan Meyer (1982) bahwa senyawa dikatakan toksik

9
apabila mortalitas terhadap Artemia salina leach yang ditimbulkan memiliki harga

LC50 <1000 g/mLdan sangat toksik apabila 30g/mL. Hasil penelitian yang

dilkukan oleh Rahman, dkk., diketahui bahwa senyawa metabolit sekunder fraksi

kloroform spons Petrosia alfian dapat dikategorikan sangat toksik dengan nilai

LC50 sebesar 1,4719 g/mL (ppm) sehingga berpotensi digunakan sebagai anti

kanker.

2.6 Ekstraksi dan Isolasi Petrosia alfiani.

Sampel yang telah dikeringkan kemudian digerus dan ditimbang bobot

keringnya sebanyak 4 kg. Sampel kering kemudian dimaserasi dengan

menggunakan metanol selama 1 24 jam. Maserasi diulangi dengan volume

metanol yang sama beberapa kali. Hasil maserasi kemudian ditampung untuk

diuapkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak metanol hasil penguapan

dipartisi dengan kloroform dan selanjutnya diuapkan lagi dengan menggunakan

evaporator. Hasil penguapan ekstrak dari fraksi kloroform lalu dianalisis dengan

kromatografi lapis tipis (KLT) dan diuji bioaktivitasnya sebagai antibakteri dan

antikanker.

Ekstrak kloroform yang telah dikurangi pelarutnya kemudian dipisahkan

fraksi-fraksinya dengan memakai kromatografi kolom. Fraksinasi dilakukan

dengan kromatografi kolom vakum (KKV), dengan menggunakan eluen yang

bervariasi. Hasil fraksinasi dianalisis dengan KLT menggunakan eluen yang

sesuai agar dapat menggabungkan fraksi-fraksi yang sama. Analisis dengan KLT

dilakukan dengan menggunakan berbagai variasi pelarut. Maserat ditotolkan pada

plat KLT yang memiliki silika gel sebagai adsorben lalu dimasukkan di dalam

tabung yang telah dijenuhkan dengan eluen. Noda dari hasil totolan pada base line

10
bergerak berdasarkan perbedaan kepolaran dan dihasilkan nodanoda. Sistem ini

dilakukan dengan prinsip trial and error guna mencari eluen yang sesuai untuk

fraksinasi. Eluen yang digunakan dapat berupa campuran dua atau tiga pelarut.

Kromatogram yang baik ditandai dengan terpisahnya masingmasinng noda. Dari

noda tersebut akan dihitung nilai Rf-nya. Senyawa murni harus menunjukkan

noda tunggal pada tiga macam system eluen.

2.7 Hasil dan Pembahasan

Sampel yang telah diambil dari laut kemudian dikeringkan selama kurang

lebih 1 minggu untuk mengeluakan kandungan air dalam sampel, karena sampel

yang masih basah memiliki struktur yang keras sehingga sulit untuk di gerus.

Sampel yang telah kering kemudian dipotong-potong menjadi potongan kecil agar

nantinya mudah untuk dihaluskan menggunakan blender. Setelah halus, sampel

kembali dikeringkan 2-3 hari untuk memastikan kandungan airnya telah habis dan

beratnya ditimbang. Berat sampel yang diperoleh sebanyak 4,5 Kg.

Proses maserasi ini dilakukan dengan merendam sampel menggunakan

methanol dalam wadah yang telah disiapkan, proses ini dilakukan selama 4x24

jam untuk memastikan kandungan senyawa dalam sampel sudah ditarik semuanya

oleh metanol. Tiap kali selesai melakukan maserasi, hasilnya ditampung dalam

sebuah botol dan maserasi selanjutnya diganti dengan metanol yang baru dan

begitu seterusnya sampai 4 kali. Setelah maserasi, sampel kemudian dievaporasi

menggunakana alat rotary evaporator untuk mengurangi pelarutnya dan membuat

sampel menjadi lebih pekat.

Sampel yang telah dipekatkan kemudian diekstraksi dengan pelarut

kloroform menggunakan corong pisah. Proses ini dilakukan dengan perbandingan

11
1:2 antara volume sampel dan pelarut, pelarut kloroform dan metanol sulit

terpisah karena perbedaan kepolaran yang kecil maka ditambahkan sedikit

akuades agar pemisahan dapat terjadi dengan baik. Proses ini dibiarkan selama

kurang lebih 24 jam untuk membuat kloroform dapat menarik senyawa dari

sampel secara maksimal. Jumlah ekstrak kloroform yang diperoleh dalam proses

ekstraksi ini sebanyak 20,1574 g.

Ekstrak kloroform yang telah diperoleh kemudian di kromatografi lapis

tipis (KLT) untuk mencari perbandingan eluen yang sesuai dan pemisahan

senyawa yang baik. Eluen yang digunakan berupa nheksana, etil asetat, kloroform,

dan aseton. Keempat eluen inilah yang divariasikan perbandingannya untuk

mendapatkan pemisahan senyawa yang baik. Dalam penelitian ini didapatkan

perbandingan eluen dari n-heksana dan aseton yaitu 6:4. Eluen inilah yang akan

digunakan dalam proses pemisahan selanjutnya.

Tahapan isolasi ini dimulai dengan melakukan kromatografi kolom vakum

(KKV). Ekstrak yang sudah kering sebanyak 10 g kemudian diimprek dengan

menggunakan silika gel tipe 7730. Proses KKV dilakukan dengan menggunakan

alat KKV dan silika gel tipe 7734, tahapan ini berlangsung dengan menggunakan

eluen nheksana dan aseton dengan berbagai perbandingan mulai dari 9:1 sampai

1:9. Pada tahapan ini akan di peroleh beberapa fraksi yang kemudian dianalisis

dengan menggunakan KLT untuk mengetahui fraksi mana yang memiliki noda

yang sama untuk kemudian digabung menjadi satu.

Tahap berikutnya dilakukan kromatografi kolom gravitasi dari fraksi fraksi

yang didapatkan pada kromatografi kolom vakum. Fraksi yang dikeri ditimbang

adalah isolat dengan perbandingan 7:3. Jumlah fraksi ini sebanyak 0.7 gram yang

12
kemudian diimprek dengan silika dan dilanjutkan dengan kolom gravitasi dengan

eluen n-heksana dan etil asetat 4:6. Pada tahap ini didapatkan beberapa fraksi yang

kemudian di KLT untuk menentukan fraksi yang pergeseran nodanya sama dan

kemudian digabung.

Penggabungan fraksi mendapatkan 5 buah fraksi baru yang kemudian satu

diantara fraksi tersebut memiliki pemisahan noda yang baik (ada dua noda). Untuk

memurnikan fraksi tersebut dilakukan KLT preparatif dengan pelarut yang sama

(n heksana:etil asetat 4:6). Hasil dari KLT preparatif disaring dengan

menggunakan pelarut etil asetat dan di KLT lagi untuk memastikan

kemurniannya, dan didapatkan hanya ada satu noda.

Fraksi tersebut diukur titik lelehnya dan didapatkan titik lelehnya 135C,

hal ini dapat dikatakan telah murni karena range titik lelehnya hanya 1 derajat.

Setelah itu kemudian di sitotoksik dan antibakteri, diidentifikasi dengan

menggunakan alat UV dan NMR

2.7.1 Spektrofotometer UV-Vis

Sampel yang telah murni diencerkan dengan pelarut etil asetat (sebagai

pelarut) sebanyak 5 mL untuk kemudian di ukur menggunakan spektrofotometer

UV. Berikut adalah hasil pengukuran sampel dengan spektrofotometer UV

Sampel yang telah murni diencerkan dengan pelarut etil asetat (sebagai pelarut)

sebanyak 5 mL untuk kemudian di ukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis.

Berikut adalah hasil pengukuran sampel dengan spektrofotometer UV-Vis.

13
Gambar 2. Hasil Identifikasi dengan Spektrofotometer UV-Vis

Panjang gelombang maksimun pada spektrofotometer UV-Vis yang

terukur sebesar 215 nm dengan absorbansi 0,006. Dengan demikian, senyawa

tersebut tidak memiliki ikatan rangkap atau hanya memiliki satu ikatan rangkap

Karena menyerap sinar dibawah 250 nm

2.7.2 Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR)

Spektrum IR lebih sering digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan

gugus fungsi yang memiliki pita spesifik yang menonjol, yaitu: C=O, O C=C,

C=N, dan NO Spektrum IR lebih sering digunakan untuk mengidentifikasi

keberadaan gugus liki pita spesifik yang menonjol, yaitu: C=O, O-H, N-H, C-O, .

Berikut adalah hasil pengukuran FTIR dari sampel yang telah dimurnikan.

14
Gambar 3. Hasil Identifikasi spektrofotometer FTIR pada sampel

Penyerapan pada spektrum FTIR menunjukkan adanya puncak pada

daerah 3421,72 (OH), 2958,80 dan 2866,22 (CH alifatik), 1666,50 (C=C),

1463,97 (CH 1375,25 (C-O), dan 1055,06 (sikloalkana). Sedangkan menurut

Kamboj dan Saluja Penyerapan pada spektrum FTIR menunjukkan adanya puncak

pada daerah 3421,72 (OH), 2958,80 dan 2866,22 (CH alifatik), 1666,50 (C=C),

1463,97 (CH ), O), dan 1055,06 (sikloalkana). Sedangkan menurut Kamboj dan

Saluja (2011) bahwa spektrum FTIR pada sitosterol menunjukkan puncak

serapan pada 3373,6 cm-1 (O-H); 2940,7 cm-1 dan 2876,9 cm-1 (C-H alifatik);

1641,6 cm-1 (C=C ), puncak penyerapan lainnya termasuk 1457.3cm-1 (CH2);

1381,6 cm-1 (C-O) dan 1038,7 cm-1 (sikloalkana) . Olehnya itu dari data spektrum

FTIR diatas dapat disimpulkan bahwa senyawa tersebut sitosterol.

2.7.3 Nuclear Magnetic Resonance (1H NMR)

Digunakan 1H NMR mengukur banyaknya jumlah atom H dalam suatu

senyawa. Nilai pergeseran kimia, spin spin splitting dan konstanta coupling
15
merupakan nilai-nilai yang harus dibandingkan. Nilai-nilai tersebut memberi juga

petunjuk mengenai perbedaan lingkungan suatu atom hidrogen di dalam molekul.

Penentuan struktur halus yang berupa puncak-puncak berganda, memberikan

petunjuk mengenai berbagai tipe H yang saling berdekatan satu sama lainnya.

Perbedaan dalam frekuensi resonansi adalah sangat kecil, sehingga sangat sukar

untuk mengukur secara tepat frekuensi resonansi setiap proton Oleh karena itu

digunakan senyawa standar frekuensi yang ditambahkan dalam larutan senyawa

yang akan diukur, dan frekuensi resonansi setiap proton dalam cuplikan diukur

relative terhadap frekuensi resonansi dari proton-proton senyawa standar. Salah

satu senyawa standar yang digunakan adalah tertametilsilan (CH3)4Si yang disebut

TMS. Senyawa ini dipilih karena proton-proton gugus metil jauh lebih terlindungi

bila dibandingkan dengan kebanyakan senyawa

Gambar 4. Hasil Identifikasi Sampel dengan menggunakan 1H NMR

16
Pengukuran 1H NMR pada sampel memiliki puncak dengan pergeseran

kimia yaitu 3,52 (C3, tdd); 5,15 (C6, t); 0,94 (C19, d); 0,91 (C24, t); 0,86

(C26, d); 0,84 (C27, d); 0,67 (C28, s); dan 1,002 (C29, s). Senyawa ini

berbentuk hamblur putih dengan titik leleh sebesar 135-136 oC. Hal ini

serupa dengan spektrum -sitosterol yang telah ditemukan sebelumnya oleh

Prakash dan Chaturvedula (2012) sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa

ini adalah -sitosterol.

2.7.4 Nuclear Magnetic Resonance Carbon (13C NMR)

Spektroskopi 13C NMR pada hakikatnya merupakan pelengkap

NMR proton, dan kombinasi kedua cara itu merupakan alat yang kuat pada

penentuan struktur. Nilai pergeseran kimia, spin-spin splitting dan konstanta

coupling merupakan nilai-nilai yang harus dibandingkan. Nilai- nilai tersebut

memberi juga petunjuk mengenai perbedaan lingkungan suatu atom karbon di

dalam molekul. Untuk membedakan jenis karbon, metil, metilen, metin, dan

karbon kuarterner digunakan analisis 17pectrum DEPT 13C NMR. DEPT

135o yang digunakan pada penelitian ini akan memunculkan sinyal CH dan

CH3 masing-masing berharga positif, sedangkan sinyal CH2 akan muncul

sebagai sinyal berharga 17pectrum. Berikut adalah hasil 17pectrum DEPT 13C

NMR dari sampel senyawa.

17
Gambar 5. Hasil Identifikasi sampel dengan menggunakan DEPT 13C
NMR

Pengukuran 13C NMR yang telah dilakukanmenunjukkan adanya 29

puncak atom karbon yang menandakan ada 2 puncak yang sama atau mengalami

kopling yaitu pada puncak dengan pergeseran kimia 42,4 (C4,13) dan 32,0 (C7,8).

Puncak lainnya yang temukan berada pada daerah 140,87 (C5) dan 121,86 (C6),

karbon ini memiliki pergeseran kimia yang cukup besar Karena membentuk ikatan

rangkap. Pada daerah 71,95 (C3) yang terikat langsung pada atom O sehingga

pergeseran kimianya cukup besar. Kemudian terdapat juga pada daerah 56,9

(C14); 56,28 (C17); 50,26 (C9); 12,00 (C29); 19,5 (C28); 28,1 (C19). Hal ini

sesuai dengan pergeseran kimia pada -sitosterol yang telah ditemukan oleh

Prakash dkk (2012) sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa ini adalah -

sitosterol. Olehnya itu, dengan menyatukansemua data yang didapat dari hasil

identifikasi dengan UV-Vis, FTIR, HNMR, dan 13C NMR maka

dapatdisimpulkan bahwa struktur senyawa yangtelah berhasil diisolasi dan

diidentifikasi dari spons Petrosia alfiani ekstrak kloroform dapat digambarkan

seperti dibawah ini.

18
Gambar 6. Struktur senyawa -sitosterol yang telah berhasil diidentifikasi dari

spons Petrosia alfiani

19
BAB III

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah:

1. Spons Petrosia alfiani adalah spesies yang baru ditemukan dan endemik di

kawasan perairan spermonde. Spons tersebut berwarna kuning terang dan

berubah jadi coklat pada udara terbuka

2. Senyawa metabolit sekunder Spons Petrosia diantaranya adalah alkaloid,

flavonoid, senyawa fenol, steroid, dan terpenoid adapun bioaktivitas Spons

Petrosia alfiani dimanfaatkan sebagai antioksidan dan antikanker

3. Pada identifikasi dari spons P. alfia ni senyawa yang ditemukan adalah

senyawa -sitosterol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, FTIR,

dan NMR

20
DAFTAR PUSTAKA

Aminah, I., Hanapi, U., Ahmad, A., 2014, Karakterisasi Metabolit Sekunder Ekstrak
Diklorometana dari Spons Petrosia alfiani Sebagai Antioksidan, Jurnal Ilmiah
Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.

Astuti, P., dkk., 2005, Uji sitotoksik senyawa alkaloid dari spons Petrosia sp:
potensial pengembangan sebagai antikanker, Majalah Farmasi Indonesia, 16
(1) 58-62.

Krisyanella, Handayani, D., Yunance, L., 2011, Uji Aktivitas Sitotoksik Ekstrak dan
Fraksi dari Spon Laut Petrosia sp dengan Metode Brine Shrimp Lethality
Teast, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 12(2): 156-166.

Rahman, A., Ibtisamatul, A., dan Ali, M., 2013, Karakterisasi dan Uji Bioaktivitas
Senyawa Kimia Anti Tuberculosis (Tbc) pada Spons Petrosia Alfiani dari
Perairan Selat Makassar, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.

Rahman, Usman, A., Ahmad, A., 2014, Isolasi, Identifikasi dan Uji Bioaktivitas
Metabolit Sekunder Ekstrak kloroform spons Petrosia alfiani dari Kepulauan
Barang Lompo, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.

Suparno, 2005, kajian bioaktif spons laut (forifera:Demospongiae) suatu peluang


alternatif Pemanfaatan ekosistem karang Indonesia Dalam bidang farmasi,
Sekolah Pasca Sarjana, IPB-Bogor.

Usman, H., Bahar, R., Yohanes, E., Rahmawaty, Achmad, A., Isolation, Chemical
Charaterization, and Bioactivity of Secondary Metabolites With Polar
Constituents Of Petrossian alfiani Sponges, jurusan kimia Fakultas
Mtematika dan Ilmu Pengethaun Alam Universitas Hasanuddin, Makassar

21

Anda mungkin juga menyukai