Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik, mental, maupun social, tidak
hanya bebas dari penyakit dan cacat (WHO). Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan
guna memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat
maupun pemerintah. Untuk mewujudkan kesehatan tersebut dapat dilihat dari 2
aspek yaitu pemeliharaan kesehatan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan
kesehatan mencakup 2 aspek yaitu kuratif (pengobatan penyakit) dan rehabilitatif
(pemulihan kesehatan setelah sembuh dari sakit atau cacat) sedangkan peningkatan
kesehatan mencakup 2 aspek yaitu promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif
(pencegahan penyakit) dan saat ini Indonesia sedang giat dalam mencapai
pembangunan kesehatan (WHO, 2011).
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan
diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan
kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian
khusus pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia), dan
keluarga miskin.
Pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan, antara lain: upaya
kesehatan; pembiayaan kesehatan; sumber daya manusia kesehatan; sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan makanan; manajemen dan informasi kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan dinamika
kependudukan, epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta globalisasi dan demokratisasi
dengan semangat kemitraan dan kerjasama lintas sektoral. Penekanan diberikan pada
peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif.
Pengembangan kualitas kompetensi kesehatan masyarakat harus didukung
oleh sistem-sistem yang berada diluar sistem1 kesehatan masyarakat seperti: sistem
pendidikan, sistem informasi dan teknologi. Sistem kesehatan dan kualitas
kompetensi kesehatan masyarakat adalah sesuatu yang sangat ideal bahwa sistem
kesehatan masyarakat saat ini seharusnya selalu diawasi dan evaluasi agar mampu
diperbaiki dan diarahkan menjadi suatu sistem kesehatan masyarakat nasional yang
mampu menjamin kesehatan masyarakat dan selalu mengikuti perkembangan jaman.
Pemahaman terhadap sistem kesehatan masyarakat harus dipandang sebagai
suatu sistem yang memiliki kejelasan terhadap faktor lingkungan, faktor masukan
(input), pelaku dan prosedur, faktor keluaran sistem baik output dan outcome serta
alat ukur umpan balik sistem yang handal. Sistem kesehatan masyarakat bukan
sekedar sistem pelayanan kesehatan dari upaya penyembuhan tetapi merupakan suatu
sistem yang meliputi fungsi promosi, pencegahan, penyembuhan dan rehabilitasi
kesehatan sehingga peranan yang kuat didalam tranformasi budaya sehat menjadi
bagian yang penting menuju masyarakat sehat sebagai sasaran utama sistem
kesehatan masyarakat. Dengan upaya promosi dan pencegahan terhadap bahaya
penyakit, maka sistem kesehatan masyarakat berupaya mengurangi jumlah kesakitan
dan biaya kesehatan sekaligus diharapkan meningkatkan produktivitas nasional.
Program Studi S 2 Ilmu Kesehatan Masyarakat telah berdiri pada tahun 2015
dengan visi yaitu menjadi lembaga tinggi Kesehatan Masyarakat yang berkualitas dan
profesional serta berwawasan lingkungan dan sasarannya yaitu menghasilkan lulusan
diarahkan untuk menghasilkan lulusan S2 Kesehatan Masyarakat dengan kualifikasi
mampu berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik, memiliki kreativitas tinggi,
mampu dan mandiri dalam kegiatan pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara
terpadu dan multidisipliner, mempunyai etika profesi yang positif dan berdaya saing
tinggi sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar kerja.
Salah satu perwujudan demi pencapaian visi tersebut dan dengan berpedoman
pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, peran serta mahasiswa dalam pembangunan
kesehatan khususnya mahasiswa kesehatan masyarakat adalah dengan menerapkan
dan mengembangkan ilmu kesehatan masyarakat serta mengembangkan dan
menemukan konsep kesehatan masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Indonesia. Salah satu bentuk penerapan dan pengembangan ilmu kesehatan
masyarakat adalah dengan mengikuti kegiatan Kunjungan dalam rangka Residensi
yang diselenggarakan oleh kurikulum bidang studi.
Kegiatan Residensi merupakan proses 2belajar mahasiswa di luar perkuliahan
yang dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengenal dan
memahami segala permasalahan di bidang kesehatan yang terjadi di masyarakat dan
mengetahui instansi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kegiatan
Residensi meliputi kegiatan kunjungan ke instansi-instansi yang berkaitan langsung
dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Melalui kunjungan tersebut,
diharapkan mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di instansi-
instansi terkait.
Mahasiswa juga dapat mengetahui tentang profil instansi , struktur organisasi,
pembagian kerjadi instansi dan unit unit pelayanan kerja instansi dan program kerja
instansi. Hal hal tersebut perlu diketahui dan dipahami secara langsung oleh
mahasiswa program pasca sarjana ilmu kesehatan masyarakat di universitas jember.
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan mengenal Dinas Kesehatan Kota
Bandung Provinsi Jawa Barat.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran umum Dinas Kesehatan Kota Bandung Provinsi
Jawa Barat.
b. Mengetahui profil Dinas Kesehatan K o t a B a n d u n g Provinsi Jawa Barat
meliputi visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan, dan kinerja
pelayanan masa kini.
c. Mengetahui struktur organisasi dan pembagian kerja di Dinas Kesehatan
Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.
d. Mengetahui evaluasi kerja Dinas Kesehatan Kota Bandung Provinsi Jawa
Barat

1.3. Manfaat
1.3.1. Manfaat Bagi Mahasiswa
a. Menambah pengetahuan dan pengalaman tentang Dinas Kesehatan Kota
Bandung Provinsi Jawa Barat dengan segala aktivitas di dalamnya.
b. Merupakan sarana pelatihan dan penerapan teori yang telah didapatkan
selama perkuliahan dengan praktek di lapangan.
1.3.2. Manfaat Bagi Program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Jember.
Menjalin kerjasama antara P r o gr a m P a s c a S a r j a n a J u r u s an
Il m u Kesehatan Masyarakat U n i v e r s i t a s J e m b e r dengan instansi-
instansi yang terkait, baik bersifat akademis maupun organisasi.
1.3.3. Manfaat Bagi Instansi-Instansi Terkait.
Sebagai sarana untuk menjembatani antara instansi dengan
lembaga pendidikan Universitas Jember, khususnya Program Pasca Sarjana
Ilmu Kesehatan Masyarakat sebagai bentuk kerjasama lebih lanjut.
BAB II
KUNJUNGAN DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG

2.1. Profil Dinas Kesehatan Kota Bandung


Kota Bandung merupakan kota Propinsi Jawa Barat dengan karakteristik
sebagai berikut:
UTARA : Kab Bandung dan KBB
SELATAN : Kab. Bandung
BARAT : Cimahi dan Bandung Barat
TIMUR : Kab Bandung
LUAS WILAYAH : 16.729,65 Ha
KECAMATAN : 30
KELURAHAN : 151
RW : 1.581
RT : 9.874
PUSKESMAS : 75
RUMAH SAKIT : 34
PENDUDUK ( Estimasi 2016 )
PENDUDUK : 2.497.938
2.2. Visi Misi Dinas Kesehatan Kota Bandung
Visi
Bandung Kota Sehat yang Mandiri
Misi
1. Meningkatkan serta mendorong kesadaran individu, keluarga serta masyarakat untuk
hidup sehat secara mandiri.
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau .
3. Mengutamakan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
4. Menggali potensi masyarakat dalam pembangunan kesehatan
Sedangkan misi SKPD di liongkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung adalah:
1. Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang peripurna, bermutu,merata
dan terjangkau.
2. Mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan dan menggerakkan masyarakat
berperilaku hidup sehat.
3. Meningkatkan tata kelola managemen pembangunan kesehatan.
2.3. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Bandung
2.4. Tugas dan Fungsi Dinas Kesehatan Kota Bandung
2.4.1. Tugas Dinas Kesehatan Kota Bandung
Melaksanakan sebagian urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan
berdasarkan asas otonomi dan pembantuan.
2.4.2. Fungsi Dinas Kesehatan kota Bnadung
1. Melaksanakan tugas teknis operasional di bidang kesehatan yang meliputi
pengembangan dan pembinaan pelayanan kesehatan, pencegahan pemberantasan
penyakit menular dan penyehatan lingkungan, kesehatan keluarga, pelayanan
kefarmasian dan pengawasan makanan dan minuman serta pembinaan program
berdasarkan kebijakan walikota Bandung.
2. Pelaksanan tugas teknis fungsional di bidang kesehatan berdasarkan kebijakan
Gubernur Propinsi Jawa Barat.
3. Pelaksanaan pelayanan teknis administrasi ketatausahaan yang meliputi
kepegawaian, keuangan, umum dan perlengkapan.
BAB III
HASIL KUNJUNGAN DAN TEMUAN

3.1. Hasil Kunjungan Dinas Kesehatan Kota Bandung


Berdasarkan hasil kunjungan di Dinas Kesehatan Kota Bandung yang
beralamat di Jalan Supratman Nomor 73 Kota Bandung pada hari Selasa tanggal 4
April 2017 terdapat beberapa point hasil pemaparan dari beberapa bagian / bidang
sebagai berikut:
1) Gambaran Umum
Indeks perkembangan manusia tahun 2011 2015 jauh diatas rata-rata nilai
indeks pembanguan manusia baik ditingkat provinsi Jawa Barat maupun
secara nasional.
Usia Harapan Hidup di Kota Bandung sekitar 73,82 tahun,sedangkan secara
nasional maupun di Jawa Barat sekitar 69 Tahun.
Jumlah kematian Ibu di Kota Bandung mencapai 26 kasus di tahun 2015,
dengan tren mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 30.
Jumlah kematian bayi menurun dari 235 kasus di tahun 2011 menjadi 144 di
tahun 2015.
Jumlah bayi lahir mati sangat rendah di tahun2015 sebesar 22 kasus
dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berkisar diatas 90 kasus.
Jenis penyakit yang diderita masyarakat berdasarkan kunjungan di Puskesmas
terbanyak karena infeksi saluran napas atas ( ISPA ) diikuti penyakit
degeneratif seperti hipertensidan terakhir karena gangguan pencernaan karena
virus atau kuman.
Posyandu dengan tipe purnama, madya dan mandiri di tahun 2015 serta sudah
tidak terdapat posyandu tipe pratama.
Program inovasi pelayanankesehatan masyarakat dengan OMABA ( Ojeg
Makanan Balita ) dengan pemberian PMT balita oleh Dinas Kesehatan Kota
Bandung.
Prolanis ( pengelolaan penyakit kronis ) oleh Puskesmas Telaga Bodas Kota
Bandung mendapat penghargaan dari MenPanRB sebagai Puskesmas dengan
inovasi kreatif.
Jenis sumber daya
No Jenis sumber daya Kepemilikan Jumlah
Pemerintah Swasta
1 Rumah sakit 9 25 34
2 Dokter umum 3.496 3.496
3 Dokter spesialis 3.021 3.021
4 Dokter gigi 1.368 1.368
5 Dokter gigi spesialis 468 468
6 Puskesmas 73 73
7 Klinik pratama 118 118
8 Klinik utama - - -
9 Unit tranfusi darah - - -
10 Bidan praktek - - -
11 Apotek 361 361
12 Optik - - -
13 UPT layanan kesehatan 1 1
mobilitas
14 Laboratorium 2 42 44
15 Toko obat 125 125
16 Batra 423 423
Sumber : Dinkes Kota Bandung 2015.
Sarana kesehatan bersumber masyarakat 2011 2015.
No Jenis sarana Jumlah
1 Posyandu 1.973
2 Posbindu 900
3 Keluarga siaga 151
4 RW siaga 1229
5 Poskesdes -
6 Poskestren 15
7 Saka Bakti Husada 52
8 Dana Sehat ( RW ) 1206
9 UKK ( Usaha Kesehatan Kerja ) 8
10 TOGA 7260
11 Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa 557
12 Rehabilitasi Bersumber Daya Manusia 30
13 Warga Peduli AIDS 30
Sumber : Dinkes Kota Bandung 2015

Jumlah tenaga kesehatan Puskesmas , Rumah Sakit, Labkesda, Dinkes Kota


Bandung.
No Jenis tenaga Jumlah
1 Tenaga medis 4.432
2 Paramedis 6.747
3 Farmasi 843
4 Gizi 401
5 Kesmas 94
6 Sanitasi 91
7 Teknisi 740
Sumber : Dinkes Kota Bandung 2015
Nama dan alamat fasilitas kesehatan Puskesmas Kota Bandung

No Nama Puskesmas Alamat


1 RUSUNAWA JL CINGISED KOMP. RUMAH SUSUN
2 CEMPAKA ARUM JL. UTSMAN BIN AFFAN
3 Lanal Bandung Jl. Aria Jipang No. 8
4 CEMPAKA ARUM Jl. Usman bin Affan Belakang P
5 LEDENG JL. SERSAN BAJURI NO. 2
6 SUKARASA JL. GEGERKALONG HILIR NO. 157
7 SARIJADI JL. SARI ASIH NO. 76
8 SUKAJADI Jl. Sukagalih No.26
9 SUKAWARNA JL. CIBOGO NO. 76
10 KARANGSETRA JL. SINDANG SIRNA NO. 41
11 PASIRKALIKI JL. PASIRKALIKI NO. 188
12 BABATAN Jl. Babatan No. 4
13 CIPAKU JL. CIPAKU NO. 11
14 CIUMBULEUIT JL. BUKIT RESIK I NO. 1
15 DAGO JL. IR. H. JUANDA NO.360
16 SEKELOA JL. TB. ISMAIL BAWAH NO. 4
17 SALAM JL. SALAM NO. 27
18 TAMBLONG JL. TAMBLONG NO. 66
19 BALAI KOTA JL. WASTUKENCANA NO. 2
20 CIKUTRA LAMA JL. CIKUTRA NO. 5
21 NEGLASARI JL. CIKUTRA TIMUR
22 JATIHANDAP JL. JATIHANDAP NO. 6
23 PASIRLAYUNG JL. PADASUKA NO. 146
24 BABAKAN SARI JL. KEBAKTIAN I NO. 183
25 BABAKAN SURABAYA JL. ATLAS VII NO. 25
26 AHMAD YANI JL. CIANJUR NO. 23
27 GUMURUH JL. RANCAGOONG NO. 11
28 TALAGA BODAS JL. TALAGABODAS NO. 35
29 SURYALAYA JL. SURYALAYA VII NO. 27
30 CIJAGRA LAMA JL. BUAHBATU NO. 375
31 CIJAGRA BARU JL. CIJAGRA NO. 28
32 PASUNDAN JL. PASUNDAN NO. 99
33 MOH. RAMDAN JL. MOCH. RAMDAN NO. 88
34 PASIRLUYU JL. SUKAATI NO. 1
35 LIO GENTENG JL. BOJONGLOA DALAM
36 PELINDUNG HEWAN JL. PELINDUNG HEWAN
37 CETARIP Kopo Gg. Citarip Barat No. 11
38 SUKAPAKIR Pagarsih Gg. Pa Oyon
39 CARINGIN JL. CARINGIN 103
40 SUKAHAJI Jl. H. Zakaria Balik No. 24
41 CIBOLERANG Jl. Cibolerang No. 187
42 KOPO JL. KOPO NO. 369
43 CIBUNTU JL. SYAH BANDAR 1
44 CIJERAH JL. MEKARHEGAR I NO. 1
45 CIGONDEWAH Jl. Cigondewah Kaler No. 17
46 MANDALA MEKAR Jl. Jatihandap no. 6 Bandung
47 PAMULANG JL. RAYA CIKADUT NO. 1
48 ANTAPANI JL. TERS. KEBAKTIAN
49 GRIYA ANTAPANI JL. PLERED NO. 5 ANTAPANI
50 JAJAWAY Jl.Pratista Timur VIII no.43 b
51 GIRIMANDE Jl. CIKADUT KOMP. GIRIMANDE KO
52 ARCAMANIK JL. GOLF TIMUR III NO. 7
53 SINDANG JAYA Jl. Arcamanik No. 30
54 CINAMBO Jl. Gedebage No. 19A
55 UJUNGBERUNG INDAH Jl. Komp Ujungberung Indah B.1
56 CILENGKRANG Jl. Cilengkrang I No. 130
57 CIBIRU Jl. A.H. Nasution No. 47a
58 CIPADUNG Jl. Cigagak
59 PANYILEUKAN Jl. Raya Panyileukan Blok C No
60 DERWATI Jl. Raya Derwati No. 38
61 PANGHEGAR JL.KOMP. BUMI PANGHEGAR PERMAI
62 CIPAMOKOLAN JL. CIPAMOKOLAN
63 MARGAHAYU RAYA JL. PLUTO RAYA NO. 54
64 SEKEJATI Jl. Yupiter Tengah B2
65 RIUNG BANDUNG Jl. Komp. Riung Bandung Permai
66 PASAWAHAN Jl. Naradireja Moh. Toha
67 KUJANGSARI Jl. Terusan Buahbatu No 314
68 MENGGER Jl. Mengger
69 TAMANSARI Jl. Kebon Bibit Utara II No. 1
70 GARUDA JL. DADALI NO. 81
71 PUTER JL. PUTER NO. 3
72 PADASUKA JL. PADASUKA NO. 3
73 IBRAHIM ADJI JL. IBRAHIM AJI NO. 88
74 PAGARSIH JL. PAGARSIH NO. 95
75 ASTANAANYAR JL. PAJAGALAN NO. 72

Nama dan alamat Rumah Sakit Pemerintah Kota Bandung


No NAMA FASKES ALAMAT FASKES RUMAH SAKIT
1 RS. HASAN SADIKIN JL. PASTEUR NO 38
2 RS Halmahera (IGD) Jl LLRE Martadinata
3 RS Humana Prima (IGD) Jl Rancabolang no 21
4 RSUD KOTA BANDUNG JL. RUMAH SAKIT NO. 22
5 RS. TNI SALAMUN JL. CIUMBULEUIT NO.203
6 RS BHAYANGKARA SARTIKA ASIH JL. MOH TOHA NO 369 BANDUNG
7 RS SARININGSIH Jl. Laks RE Martadinata No 9
8 KLINIK UTAMA JIWA GRHA ATMA JL. RE.MARTADINATA 1

2) Bagian Kesehatan Kerja ( K 3 )


Kesehatan kerja merupakan tanggung jawab semua pihak dimana pemerintah
telah mengatur melalui peraturan, diantaranya :
a. Amandemen UUD45 Pasal 28 Huruf h serta Pasal 34
b. UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM
c. UU Nomor 39 Tahun 2008 Tentang Kementerian Negara
d. UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 164-166
Data dari BPS ( Agustus 2010 ) penduduk Jawa Barat sebesar 43.053.732
penduduk dengan distribusi sebagai berikut :
a. Jumlah penduduk yang bekerja 89,42 %:
o Sektor formal 15,68 %
o Sektor informal 16,08 %
o Laki laki 62,08 %
o Perempuan 37,92 %
b. Jumlah penduduk menganggur 10,96 %
o Laki laki 58 %
o Perempuan 42 %
Tujuan kesehatan kerja Meningkatkan kualitas hidup pekerja supaya tetap
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang
diakibatkan oleh pekerjaan dan lingkungan tempat kerja degan fokus sebagai
berikut:
a. Meningkatkan pelayanan kesehatan kerja pada sarana pelayanan dasar
dan rujukan
b. Memberdayakan masyarakat pekerja di dalam melaksanakan upaya
kesehatan kerja
c. Meningkatkan pelaksanaan upaya kesehatan kerja di sarana kesehatan
d. Meningkatkan tempat kerja yang menerapkan kesehatan kerja
Permasalahan kesehatan kerja :
a. Menurut ILO (2001), data kematian, kesakitan & kecelakaan kerja di
Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang dipantau
b. Pekerja UMKM menderita sakit dlm 1 bln sebesar 43,55% (Depkes,
2005)
c. Dr 2,2 juta kematian/thn, 800 ribu diantaranya disebabkan faktor risiko di
tempat kerja, seperti bahan kimia karsinogenik, partikulat yg ada di
udara, risiko ergonomik, penyakit infeksi HIV/AIDS, TBC dll (Depkes,
2005)
d. Kerugian akibat KAKdan PAK kecelakaan kerja + 96.314 kasus,
dan kematian 3.015 orang dari 8.44 juta peserta jamsostek (1.14 %)
kompensasi yg dibayarkan 328 milyar (Jamsostek, 2009)
e. Kerugian ekonomi di Indonesia akibat penyakit dan kecelakaan akibat
kerja minimal 50 trilyun (DK3N 2009).
Pelayanan kesehatan kerja:
Prosentase Kabupaten / kota minimal memiliki 4 Puskesmas yang
melaksanakan kesehatan kerja
Prosentase Kabupaten / Kota dengan fasilitas kesehatan ( Rumah
Sakit, Dinkes, Baloratorium, farmasi ) pemrintah yang melaksnakan
upaya kesehatan kerja.
Renstra kesehatan kerja :
Penguatan fasilitas pelayanan Kesehatan dasar ( puskesmas dan
jaringannya termasuk Pos UKK, Klinik Perusahaan)
Penguatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan ( Dinas
Kesehatan, RS, Labkes, Instalasi Farmasi, BKKM)
Peningkatan Pemberdayaan masyarakat
Peningkatan Kemitraan LP/LS/Perusahaan
Kegiatan prioritas kesehatan kerja:
Penyusunan kebijakan
Peraturan-Peraturaan
Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria
Kesehatan reproduksi dan gizi di tempat kerja.
Pelayanan kes reproduksi di tempat kerja
Pemberian ASI di tempat kerja
Gizi pekerja
Pelatihan dokter di layanan primer
Pembinaan dan pembentukan UKK yang terintegrasi di setiap
Puskesmas.
3) Bidang Sumber Daya Sub-Bidang Pengadaan Farmasi dan Perbekalan
a. Pengelolaan
Pengelolaan obat dan alat kesehatan mengikuti siklus sebagai berikut :

perencanaan ,
pengadaan

penerimaan
pencatatan obat dan alat dan
dan pelaporan kesehatan pemeriksaan

penyimpanan
dan distribusi
b. Perencanaan

Rata-rata
Pemakaian

Faktor
Bufer stok
Lain

Perencanaan
Kebutuhan

Budget Lead Time

Kunjungan Pola
Pasien Penyakit

c. Langkah perencanaan obat


1. Penyusunan Rencana Kerja Operasional (Plan Of Action)
2. Penyusunan Rencana Kerja Operasional (Plan Of Action)
3. Proses Perencanaan obat
d. Proses perencanaa obat
1. Tahap pemilihan obat
Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik.
Jenis obat dipilih semilimal mungkin (tdk tjd duplikasi)
u/ obat baru harus ada bukti spesifik
Hindari pemakain obat kombinasi
2. Kompilasi pemakaian obat
Rekapilutasi dari pemakaian dari unit pelayanan kesehatan
(LPLPO)
Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit/tahun
Persentase pemakaian tiap jenis obat thd total pemakaian setahun
seluruh unit/tahun
Pemakaian rata-rata u tiap jenis obat u tingkat kota
3. Perhitungan kebutuhan obat
Metode Konsumsi
Metode Morbiditas
4. Proyeksi kebutuhan obat
e. Kriteria pemilihan obat
Obat merupakan kebutuhan untuk sebagian besar populasi penyakit
Obat memiliki keamanan dan khasiat yang didukung dg bukti ilmiah
Obat memiliki manfaat yang maksimal dg resiko yg minimal
Obat mempunyai mutu yg terjamin baik ditinjau dari segi stabilitas
maupun bioavailabilitasnya
Biaya pengobatan mempunyai rasio antara manfaat dan biaya yang baik
Bila terdapat lebih dari lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi
yang serupa maka pilihan diberikan kepada yg:
Sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah
Sifat farmakokinetiknnya diketahui paling banyak menguntungkan
Stabilitas yang paling baik
Paling mudah diperoleh.
Harga terjangkau
0bat sedapat mungkin sediaan tunggal
f. Perhitungan kebutuhan obat
1. Metode Konsumsi
a. Berdasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya.
b. A = ( B+C+D ) - E
A = Rencana Pengadaan
B = Pemakaian rata-rata X 12 bulan
C = Stok Pengaman 10 % - 20 %
D = Waktu tunggu 3 6 bulan
E = Sisa stok
2. Metode morbiditas
Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kel umur
penyakit.
Menyiapkan data pupulasi penduduk
Menyediakan data masing2 penyakit pertahun untuk seluruh populasi
pada kelompok umur yg ada
Menghitung frekuensi kejadian masing2 penyakit pertahun u/ seluruh
populasi pd kel umur yg ada
Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat
dg menggunakan pedoman pengobatan yg ada.
Menghitung jumlah yg harus diadakan u/ tahun anggaran yg akan
datang.
3. Metode Konsumsi
Mengumpulkan dan pengolahan data
Analisa data untuk informasi dan evaluasi
Perhitungan perkiraan kebutuhan obat
Penyesuaian kebutuhan obat dengan alokasi dana
4) Bidang Sumber Daya Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan
a. Struktur organisasi
Secara oragnisasi Seksi Farmalkes berada dibawah Bidang Sumber Daya dan
sejajar dengan Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan ( SDMK ) dan Seksi
Jaminan Pembiayaan dan Regulasi Kesehatan ( JPRK ).
b. Payung hukum
Kegiatan Pengawasan Sarana Pelayanan Kesehatan di Bidang Obat di
lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung Menurut Perwal Kota Bandung
No. 1307 Tahun 2014 dilaksanakan oleh Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan
c. Fungsi Farmalkes
o Pengumpulan dan penganalisaan data lingkup farmasi dan perbekalan
kesehatan
o Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup farmasi dan perbekalan
kesehatan.
o Pelaksanaan lingkup farmasi dan perbekalan kesehatan yang meliputi
penyediaan dan pengelolaan kefarmasian, kosmetik, obat, obat
tradisional, makanan minuman, suplemen dan alat kesehatan yang
diselenggarakan oleh swasta, pemerintah dan masyarakat serta
pengawasan dan pengendalian peredaran obat yang mengandung
bahan narkotika atau bahan berbahaya.
o Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian kefarmasian dan
perbekalan kesehatan
o Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan dan kegiatan lingkup farmasi dan
perbekalan kesehatan.
d. Ruang lingkup
1. Program obat dan perbekalan kesehatan
2. Program pengawasan obat dan makanan.
e. Kegiatan Farmalkes
1. Pengadaan Obat dan Perbekalan Kesehatan
Perencanaan
Pengadaan
Penyimpanan
Pengendalian
Pendistribusian
2. Peningkatan Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya
Melaksanakan penyuluhan keamanan pangan terhadap industri
rumah tangga pangan (IRTP)
Melaksanakan Monev terhadap Pangan Industri Rumah
Tangga(PIRT)
Melaksanakan Audit terhadap Pangan Industri Rumah
Tangga(PIRT)
Melaksanakan Pengawasan Pangan ke Pasar Tradisional dan
Modern
3. Peningkatan Pengawasan Obat dan Bahan Berbahaya
Melaksanakan Bimbingan Teknis Management Pengelolaan Obat
ke Puskesmas
Melaksanakan Monev serta supervisi ke Saryankes
(apotek,PEO,Klinik, PBF)
Melaksanakan Sosialisasi SIPNAP
Melaksanakan Monev ke distributor kosmetik dan salon kecantikan
f. Pengawasan berdasarkan pada :
Kegiatan Monev Rutin
Temuan BPOM
Laporan dari masyarakat
Call Center 119
5) Bidang Surveilans dan Penanggulangan KLB
a) Latar belakang
Faktor Risiko penyakit makin kompleks (teknologi, gaya hidup,
pola hidup, faktor alam, multi sektor)
Perkembangan dari agent (resistensi, mutasi, agent baru)
Tuntutan masyarakat (cepat, akurat dan transparan)
Semakin mahalnya biaya kesehatan
b) Fungsi surveilans
Mampu mengestimasi besaran masalah
Dapat mendistribusikan masalah
Mampu memotret riwayat alamiah dari suatu penyakit
Mampu mendeteksi ancaman epidemi (KLB) Fungsi SKD
Membangun hipotesis, menstimulasi riset
Mengevaluasi ukuran-ukuran pemberantasan
Memantau perubahan dalam agen infeksius
Mendeteksi perubahan dalam aktivitas kesehatan
Mendukung fungsi perencanaan
c) Pilar surveilans dan SKD Kota Bandung
EWARS (Early Warning Alert Respon System)
Jejaring Komunikasi Puskesmas (WAgroups, Handy Talkie)
Jejaring Komunikasi Rumah Sakit (WAgroups)
Surveilans Community Based
Disertai dengan pemantauan , verifikasi dan analisis informasi.
d) SKD ( Sistem Kewaspadaan Dini )
Adalah suatu sistem kewaspadaan dalam rangka meningkatkan sikap
tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya pencegahan dan tindakan
penanggulangan kejadian luar biasa yang cepat dan tepat. Adapun tujuan
dibuatnya aplikasi SKD adalah sebagai berikut:
Mencegah terjadinya KLB
Mendeteksi terjadinya KLB secara dini
Respon cepat terhadap KLB yg terjadi
e) Peran surveilans di Puskesmas Kota Bandung
Pelacakan Kasus
PE
Respon Cepat 1 x 24 jam
Tata Laksana Kasus
Pencatatan dan pelaporan
f) Jenis penyakit menurut Kepmenkes Nomor 1501 / 2010 yang
menimbulkan wabah dala pasal 4 adalah sebagai berikut :
1. Kholera 10. Avian Infulenza (H5N1)
2. PES 11. Antraks
3. DBD 12. Leptospirosis
4. Campak 13. Hepatitis A
5. Polio 14. Influenza A baru (H1N1)
6. Difteri 15. Meningitis
7. Pertusis 16. Yellow Fever
8. Rabies 17. Cikungunya
9. Malaria 18. Keracunan Makan
g) Permasalahan
Belum semua Petugas surveilans melaporkan lap W2 EWARS-
SKDR mingguan sesuai minggu dengan benar dan tepat waktu,
dengan berbagai alasan
Kelengkapan dan Ketepatan belum optimal, 60-70% laporan masuk
sesuai dengan kesepakatan (W2) di hari Senin-Selasa, Rabu
(Provinsi) feedback ke kota/kabupaten. Dengan masih adanya
keterlambatan secara langsung dapat mempengaruhi Deteksi Dini
dan Surveilans kondisi Epidemiologi.
Ditemukan masih terdapat kesalahan dalam melaporkan kode
penyakit.
h) Alur EWARS

Puskesmas WEB Puskesmas /


Laporan
melaporkan (Pusat) Rumah Sakit

Dinkes &
Dinkes Feedback Tata Laksana Puskesmas
memantau WA Groups KLB (Investigasi
Kasus)
3.2. Temuan Dinas Kesehatan Kota Bandung
Selain dari yang dipaparkan oleh beberapa seksi atau beberapa bidang yang
disebutkan diatas, ada beberapa hasil berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap
Kepala Bagian Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung Ibu Puti
sebagai berikut:
1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja ( K3 )
Hingga saat ini untuk pengawasan kesehatan dan keselamatan kerja
lebih condong kepada kesehatan kerja, yaitu pemeriksaan terhadap pekerja
yang melakukan pekerjaan konstruksi di kota Bandung. Untuk meningkatkan
pengawasan terhadap kesehatan pekerja tersebut Dinas Kesehatan kota
Bandung melakukan pemeriksaan secara acak atau berdasarkan laporan dari
pekerja atau masyarakat. Sedangkan untuk aspek keselamatan kerja lebih
dominan dilakukan pengawasan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung
karena bagian pengawasan yang berkaitan dengan keselamatan kerja tidak ada
di Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Meskipun secara struktural masih belum ada bagian yang bertanggung
jawab terhadap keselamatan kerja, Dinas Kesehatan Kota Bnadung telah
mengikutkan 30 orang dokter Puskesmas untuk pelatihan Hiperkes dalam
rangka mengantisipasi Penyakit Akibat Kerja ( PAK ) yang terjadi di Kota
Bandung.
2. Pengawasan Obat dan Makanan.
Seksi farmasi dan alat kesehatan merencakan pengadaan alat kesehatan
berdasarkan pengajuan dari Laboratorium Kesehatan Daerah ( LabKesDa ),
sedangkan untuk pengadaan alat kesehatan di Puskesmas sudah direncanakan
karena pada tahun 2017 akan menjadi Badan Layanan Usaha Daerah ( BLUD ).
Untuk memenuhi syarat menjadi BLUD, maka setiap Puskesmas harus
memiliki Apoteker Penanggung-jawab dan Apoteker Pendamping yang harus
stanby di Puskesmas dengan dibantu oleh Asisten Apoteker dengan standar
lulusan Sekolah Menengah Farmasi ( SMF ). Dinas Kesehatan Kota Bandung
juga telah mengembangkan sistem distribusi obat untuk kebutuhan Puskesmas
secara mobile dan on-line sejak tahun 2014. Maksud dari program tersebut
adalah untuk pengadaan obat di tingkat Puskesmas dapat dilakukan secara on-
line oleh Puskesmas dan pengirimannya dilakukan dengan menggunakan mobil
khusus yang disiapkan untuk distribusi obat. Hal ini untuk memudahkan serta
memangkas waktu antrian saat pengambilan obat di Dinas Kesehatan Kota
Bandung mengingat kepadatan kota yang rawan terjadi kemacetan.
Untuk menghindari pengadaan obat yang tidak diperlukan sehingga bisa
lebih efektif, Dinas Kesehatan Kota Bandung menggunakan sistem Bottom-Up.
Dengan sistem ini maka pengadaan obat berdasarkan pengajuan dari
Puskesmas dan bukan berdasarkan kebijakan dari Dinas Kesehatan Kota
Bandung. Dengan demikian diharapkan pengadaan obat akan sesuai dengan
yang dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu untuk menghindari korupsi karena
mark-up harga harus menggunakan E-Katalog yang sudah diberlakukan sejak
Tahun 2014. Sedangkan untuk kebutuhan bencana alam, Dinas Kesehatan Kota
Bandung telah merencakan dan mengalokasikan setiap tahun karena bencana
alam yang terjadi telah diprediksi sebalumnya dan sudah menjadi rutinitas
yaitu adanya bencana banjir.
Kota Bandung yang merupakan kota wisata juga telah membentuk Tim
Pengawas Makanan ( TPM ) untuk mengawasi makanan di Restoran, Rumah
Makan, Sekolah, konsumsi Tamu VIP seperti Gubernur, Menteri atau bahkan
Presiden. Tim Pengawas Makanan bertugas melakukan dan memastikan bahwa
makanan yang disajikan layak dimakan dan aman. Adapun tugas TPM adalah
sebagai berikut:
a. Melakukan uji sampel makanan, minuman dan bahan makanan serta
minuman di restoran, rumah makan, sekolah serta menguji makanan
dan minuman untuk tamu VIP.
b. Melakukan pelatihan dan sertifikasi bekerja sama dengan Asosiasi
pengusaha makanan
c. Melaksanakan pelatihan dan sertifikasi setiap tahun
d. Parameter standar kelayakan mengikuti standar dari Permenkes.
3. Pengawasan Pasar.
Kota Bandung dengan jumlah Penduduk lebih dari 2 juta memiliki
pasar sebanyak 37 unit pasar. Dari semua pasaryang ada di Kota Bandung
semuanya adalah pasar tradisonal, adapun kendala yang menjadi penyebab
sulitnya merubah status pasar tradisional menjadi pasar modern adalah :
a. PD Pasar tidak mampu menata pedagang tadisional
b. Perilaku pembeli dan pedagang pasar yang sulit untuk pindah lokasi
c. Pokja pasar belum ada di Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Untuk meningkatkan pengawasan pasar, Dinas Kesehatan Kota
Bandung mengadakan pertemuan rutin lintas sektor sejak 2016 yang diadakan
setiap bulan. Dengan pertemuan tersebut diharapkan akan menjadi sarana yang
baik dalam rangka pengawasan pasar.
Kota Bandung yang merupakan kota Propinsi Jawa Barat sekaligus kota
wisata tidak luput dari seringnya event wisata baik skala nasional maupun
internasional. Berkaitan dengan hal tersebut tentunya akan diikuti oleh
membanjirnya pasar tradisional setiap ada event tersebut. Oleh karena hal
tersebut, Pemerintah Kota Bandung telah membuat zonasi untuk berdagang dan
mengumpulkan pedagang disuatu tempat, agar pedagang dapat tertata dengan
rapi, adapun zonasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Zona hijau : Untuk pedagang kaki lima
b. Zona Kuning : Boleh berdagang pada saat tertentu
c. Zona merah : Dilarang berdagang
4. Pengawasan Kesehatan Lingkungan.
Dalam hal pengawasan kesehatan lingkungan, Pemerintah Kota
Bandung telah membuat kebijakan sebagai berikut:
a. Jumlah Rumah Sakit sebanyak 33 Rumah Sakit dan diharuskan
selalu mengadakan pertemuan sanitarian rumah sakit secara rutin
yang membahas sanitasi rumah sakit dan lingkungan sekitarnya
serta melaporkan hasil pertemuan kepada Dinas Kesehatan Kota
Bandung.
b. Membuat pengelolaan air kotor / tinja secara terintegrasi dengan
PDAM. Hal ini dikarenakan 59,33 % warga Bandung belum
memiliki jamban sehat, dengan program ini diharapkan semua
warga Bandung yang belum memiliki jamban sehat akan dapat
dilayani.
c. Memberikan target kepada Puskesmas agar memiliki dokumen UKL
/ UPL pada tahun 2017 sebagai syarat untuk menjadi BLUD. Hal
tersebut karena hingga saat ini hanya ada 5 Puskesmas yang telah
memiliki dokumen UKL / UPL dari total 75 Puskesmas di Kota
Bandung.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.Kesimpulan

a. Dinas Kesehatan Kota Bandung Propinsi Jawa Barat merupakan salah


satu instansi pemerintah yang dinaungi oleh Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia yang merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang
dipimpin oleh seorang kepala dinas dan bertanggungJawab kepada
gubernur.
b. Visi dari Dinas Kesehatan Kota Bandung Provinsi Jawa Barat adalah
Bandung Kota Sehat dan Mandiri.
c. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Bandung telah nmengikuti
Struktur Organisasi berdasarkan SOTK yang baru.
d. Dinas Kesehatan Kota Bandung memiliki banyak terobosan untuk
mencapai target program kerja yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah
Kota Bandung.
e. Dinas Kesehatan Kota Bandung memiliki 75 Unit Puskesmas, 9 Rumah
Sakit Pemerintah, serta membina sarana kesehatan yang lain.
4.2. Saran
Dengan belum ditunjuknya Kepala Dinas Kesehatan yang definitif
menyebabkan program kerja serta kebijakan yang telah ditetapkan belum dapat
dilaksanakan secara maksimal. Oleh karena itu diharapkan agar Wali Kota
Bandung segera menunjuk serta menetapkan pejabat Kepala Dinas Kesehatan
yang definitif.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2017. Selayang Pandang Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dinas


Kesehatan Kota Bandung. Bandung.
Anonim, 2017. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan. Dinas Kesehatan Kota
Bandung. Bandung
Ahmad Gunadi S, 2017. Tupoksi Far-bel-kes . Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan. Dinas
Kesehatan Kota Bandung. Bandung
Girindra Wardhana, 2017. Distribusi Penyakit, Surveilans dan Penanggulangan KLB di
Kota Bandung. Dinas Kesehatan Kota Bandung. Bandung
Puti , 2017 . Kesehatan Kerja, Dinas Kesehatan Kota Bandung. Bandung
FKM Unej. 2015. Pedoman Pengalaman Bela}at Lapangan I dan II Fakultas Kesehatan
Masyatakat Universitas Jembet. Jember : Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Jember
https//:ppid.bandung.go.id > informasi berkala. Diakses tanggal 26 April 2017
https//: pemkot-bandung.go.id. visi-misi-kota-bandung. Diakses tanggal 26 April 2017
LAMPIRAN