Anda di halaman 1dari 17

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

Analisis Pengaruh Lingkungan Bisnis


Terhadap PT Saranacentral Bajatama (Persero) Tbk

Dosen Pengampu: Supriyadi, M.Sc.,Phd.,CA.,

Disusun oleh:

Beni Sulistyo

14/372743/PEK/19522

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2015
I. Pendahuluan

Pertumbuhan industri baja nasional semakin pesat dan terus


berkembang. Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan dari dalam
negeri, persaingan pasar pun semakin ketat dengan masuknya produk-produk
baja impor di pasar domestik. Oleh sebab itu, pada tahun 2008 pemerintah
telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 28 tahun 2008 tentang Kebijakan
Industri Nasional. Perpres tersebut menyebutkan bahwa Industri Baja
merupakan basis industri manufaktur. Industri baja juga diharapkan menjadi
basis bagi pengembangan industri andalan terutama untuk pengembangan
industri mesin, industri alat angkut, industri elektronika dan telematika, serta
sektor bangunan atau infrastruktur.
Pertumbuhan industri baja sendiri sangat penting dan tidak dapat
dipisahkan sejak berkembangnya sebuah peradaban manusia dimana konsumsi
baja menjadi salah satu indikatornya. Penggunaan produk-produk dan industri
baja dapat dilihat dalam pembuatan kereta api, produk otomotif, kapal laut,
dan beragam produk lainnya. Produk baja juga dipakai dalam pengeboran
minyak bumi, pembangunan jembatan, jalan, pabrik, perkantoran, serta
fasilitas umum lainnya demi kemajuan dan kesejahteraan sebuah bangsa.
Lingkungan bisnis terdiri dari beragam aspek yang memberikan
pengaruh bagi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh
karena itu, penulis mengangkat industri baja sebagai bahan analisis aspek
lingkungan bisnis eksternal yang berpengaruh bagi perusahaan yang diwakili
oleh PT. Saranacentral Bajatama Tbk. Sistematika penulisan makalah ini
dimulai dengan profil perusahaan dan diikuti analisis aspek-aspek lingkungan
ekstenal perusahaan meliputi demografi, perkembangan ekonomi, ekonomi
regional, pemerintah, kebijakan industri dan sektoral, teknologi, politik
domestik, lingkungan hidup, dan sosial budaya.
II. Profil Perusahaan

Sejarah Perusahaan berawal di tahun 1996 dengan pendirian PT


Saranacentral Bajatama sebagai bagian dari Sarana Steel Group, grup
perusahaan yang bergerak dalam industri baja. Ruang lingkup kegiatan
perusahaan adalah berusaha di bidang industri dan perdagangan terutama
barang-barang dari baja. Di dalam struktur industri baja secara global,
perusahaan merupakan salah satu pemain di industri midstream, khusunya
industri pelapisan baja. Di masa mendatang, perusahaan mempunyai harapan
untuk menjadi produsen baja yang lebih terintergrasi.
Perusahaan telah mengoperasikan dua lini produksi (pabrik) di
Karawang Timur, Jawa Barat, yang masing-masing menghasilkan Baja Lapis
Seng (BjLS) dan Baja Lapis Alumunium Seng (BjLAS), kantor pusat sendiri
berdomisili di Jakarta Pusat. BjLS mulai diproduksi secara komersial sejak
tahun 2001 dan BjLAS sejak tahun 2010. Pada 2011, perusahaan melakukan
Penawaran Umum Perdana (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek
Indonesia pada tanggal 21 Desember 2011 dengan kode saham BAJA. Dana
hasil IPO tersebut dialokasikan untuk pembangunan lini produksi baru di
pabriknya di Karawang Timur.
Lini baru ini merupakan lini produksi ketiga yang akan menghasilkan
varian produk baru berupa baja lapis berwarna, yang akan menjadi nilai
tambah guna memaksimalkan volume produksi dan menambah jenis produk
perusahaan untuk memenuhi permintaan pasar serta meningkatkan pangsa
pasarnya. Jumlah karyawan perusahaan adalah sebanyak 265 orang dan 278
orang masing-masing pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013.

III. Analisis

A. Demografi
Indonesia tercatat sebagai Negara dengan jumlah populasi terbesar
nomor 4 di dunia, dengan jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa (BPS
tahun 2010), dan diproyeksikan hingga tahun 2015 ini dapat mencapai
255 juta jiwa, jumlah penduduk di Indonesia yang semakin banyak
mengakibatkan tingkat konsumsi barang-barang industri ikut meningkat,
jumlah penduduk yang bertambah juga berdampak pada angkatan kerja
yang terus tumbuh dan diharapkan mampu terserap ke berbagai aspek
pembangunan nasional. Data tahun 2013, jumlah angkatan kerja di
Indonesia berkisar 103,9 hingga 121,1 juta jiwa, jumlah angkatan kerja
yang besar ini akan sangat bermanfaat bila dapat terserap semua ke
berbagai sektor pekerjaan, yang baik secara langsung dan tidak langsung
akan ikut memberikan kemajuan bagi pembangunan nasional pada
umumnya.
Aspek lingkungan demografi menjadi salah satu lingkungan
eksternal perusahaan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
memberikan pengaruh terhadap kebijakan, strategi bisnis, maupun proses
operasional dalam bisnis perusahaan. Peningkatan jumlah penduduk
Indonesia memberikan pengaruh yang besar bagi pertumbuhan berbagai
sektor industri di dalam negeri. Industri-industri tersebut membutuhkan
baja sebagai salah satu bahan atau material pendukung bangunan dan
peralatan, sehingga secara tidak langsung kebutuhan baja untuk berbagai
industri akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah
penduduk di Indonesia.
Tingginya jumlah penduduk Indonesia juga berpengaruh pada
meningkatnya jumlah penduduk dengan pendapatan kelas menengah
(middle income) yang berdampak pula pada tingkat konsumsi yang
semakin meningkat di masyarakat. Industri konstruksi terkena dampak
positif dimana banyak masyarakat membelanjakan uangnya untuk
kehidupan dan kenyamanan yang lebih baik. Bijih besi yang telah diolah
menjadi baja menjadi bahan baku pendukung sektor konstruksi sehingga
permintaan akan bahan baku ini terus meningkat, Kondisi ini tentu
menjadi sebuah peluang bagi PT. Saranacentral Bajatama Tbk yang
termasuk dalam industri pengolahan yang mengolah bijih besi menjadi
baja berkualitas tinggi untuk melakukan ekspansi bisnisnya.
B. Pembangunan ekonomi
Indikator pembangunan ekonomi yang digunakan diantaranya
indikator moneter (real income per capita), indikator non-moneter
(pendidikan, kesehatan, perumahan, konsumsi, dan sebagainya), serta
indikator campuran yang dapat berupa indeks pembangunan manusia
(tingkat harapan hidup, indikator pendidikan, dan konsumsi per kapita)
dapat lihat, hampir semuanya mengalami perkembangan ke arah yang
positif. Tingkat pengangguran terbuka dapat di kurangi, namun jumlah
angkatan kerja yang semakin tinggi dari tahun ke tahun juga perlu untuk
diperhatikan, dimana jumlah yang besar ini perlu untuk diserap ke
berbagai sektor industri atau pekerjaan.
Indikator moneter diketahui, selaras dengan kenaikan Produk
Domestik Bruto (PDB) per kapita, persentase penduduk miskin
mengalami penurunan. Hal ini juga berhubungan dengan menurunnya
tingkat pengangguran dan jumlah penduduk miskin di Indonesia.
Menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia dapat meindikasikan
terjadi juga peningkatan daya beli masyarakat. Meningkatnya daya beli
masyarakat berarti semakin meningkatkan konsumsi suatu negara sebagai
salah satu indikator perkembangan ekonomi nasional. Perkembangan
ekonomi nasional juga ditandai meningkatnya pertumbuhan kinerja
industri yang sekaligus dapat menarik minat investor asing untuk
menanamkan modalnya di Indonesia.
Berbagai peluang yang timbul juga disertai adanya potensi ancaman
yang dapat mempengaruhi bisnis perusahaan kedepan. Indikator koefisien
gini yang ikut meningkat dan mencapai rekor tertinggi selama Negara
Indonesia ini tebentuk menjadi keprihatihan tersendiri. Jumlah tindak
pidana yang semakin meningkat juga dapat diindikasikan sebagai akibat
dari meningkatnya kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial yang semakin
tinggi dapat memicu kecemburuan sosial di masyarakat, apalagi disertai
kondisi perekonomian yang tidak menentu dan adanya kebijakan yang
kurang memiliki rasa keadilan, akhirnya dapat mendorong manusia
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan dan norma-norma di
masyarakat.
Adanya peluang dan ancaman yang hadir sebagai akibat dari
perkembangan ekonomi Indonesia harus mampu dijawab oleh perusahaan
melalui program strategi pengembangan perusahaan. Terkait dengan
peluang yang muncul, PT Saranacentral Bajatama Tbk, dapat melakukan
peningkatan utilitas produksi perusahaan, kapasitas produksi perusahaan
dapat dimaksimalkan sehingga tercipta skala ekonomis yang mampu
memenuhi permintaan baja nasional sampai tahap optimal dan secara
langsung dapat menaikkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Terkait
dengan ancaman yang mungkin timbul, perusahaan dapat melakukan
berbagai strategi kebijakan untuk menanggulanginya. Kebijakan tersebut
dapat melalui program Corporate Social Responsibilty (CSR) yang
memberikan kesempatan bagi penduduk sekitar lokasi pabrik untuk dapat
turut serta menjadi bagian dari perusahaan, sehingga secara tidak langsung
mampu menekan tingkat pengangguran secara nasional
C. Ekonomi Regional
PT. Saranacentral Bajatama Tbk., sebagai salah satu perusahaan
yang bergerak di bidang pengolahan dan perdagangan baja ikut
terpengaruh akan perkembangan ekonomi regional. Perusahaan tersebut
bertempat di Jakarta Pusat, dan diketahui Provinsi DKI Jakarta sebagai
penyumbang PDRB terbesar secara nasional, sedangkan pabrik
perusahaan tersebut berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dimana PDRB
Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun cukup berkembang yang dapat
menandakan kegiatan perekonomian cukup berhasil di daerah ini.
Data Upah Minimun Kota (UMK) Karawang mengalami
peningkatan dari Rp2.000.000,- di tahun 2013 menjadi Rp2.447.450,- di
tahun 2014, yang tertinggi dibandingkan kota atau kabupaten lain di Jawa
Barat. Dalam rangka menekan biaya produksi dan meningkatkan daya
saing, pada tahun 2014 perusahaan melakukan langkah-langkah
operasional antara lain, meningkatkan produktivitas dan kehandalan
pabrik, meningkatkan produktivitas karyawan, melakukan penghematan
biaya secara agresif terutama di area produksi, dan optimalisasi tenaga
kerja.
Produk-produk perusahaan berupa Baja Lapis Seng (BjLS) dan Baja
Lapis Alumunium (BjLAS) selama ini telah ikut membangun berbagai
proyek pembangunan di kawasan Jabodetabek, diantaranya Grand
Indonesia, Kuningan City, Multivision Tower, dan proyek-proyek lainnya.
Berbagai proyek ini membutuhkan baja sebagai salah satu bahan
pembantu dan juga sumber daya manusia dalam proses pengerjaannya.
Pertumbuhan ekonomi regional di Indonesia masih terpusat di
pulau Jawa dan Sumatera yang salah satunya dapat kita lihat dari
banyaknya pembangunan infrastruktur dan konstruksi di kawasan
tersebut. PT Saranacentral Bajatama Tbk., sebagai perusahaan manufaktur
yang mendukung sektor konstruksi dapat mengambil peluang yang masih
sangat terbuka lebar dalam melakukan ekspansi bisnisnya di kawasan ini.
D. Lingkungan Pemerintah
Lingkungan pemerintah mempengaruhi segala aspek kehidupan di
Indonesia dan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar adalah
birokrasi. Birokrasi di Indonesia masih terbebani oleh hal-hal yang tidak
efisien. Pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tinggi dan stabil, namun
peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara lain dalam
birokrasi khususnya terkait kemudahan berusaha. Laporan Bank Dunia
bertajuk Doing Business: Going Beyond Efficiency yang baru-baru ini
dipublikasikan, posisi Indonesia berada di peringkat 114 dari total 189
negara. Peringkat ini cukup jauh jika dibandingkan dengan sesama negara
ASEAN yaitu Singapura yang berada di peringkat pertama, atau Malaysia
dan Thailand yang masing-masing berada di peringkat 18 dan 26.
Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya peringkat
Indonesia, sebagaimana kita ketahui, sistem birokrasi di Indonesia
seringkali menyulitkan para pengusaha domestik dan asing, seperti
keharusan bagi investor asing untuk mengunjungi dan meminta izin dari
beberapa kementerian, untuk membahas rencana bisnis dan izin investasi
asing atau menjalankan usaha. Birokrasi yang rumit seperti contoh
perizinan diatas adalah salah satu dari sekian kebijakan pemerintah yang
akhirnya menghalangi para investor asing untuk masuk dan berkembang,
dan jika hal ini tidak segera diperbaiki, maka para investor asing akan
berpaling melakukan usahanya di negara-negara lain yang memberikan
kemudahan.
Sebagai perusahaan yang berdomisili di Indonesia, PT Saranacentral
Bajatama tunduk pada prosedur dan regulasi yang berlaku di negara ini.
Berbagai macam kondisi terkait rumitnya birokrasi pemerintah, secara
tidak langsung ikut mempengaruhi kondisi perusahaan. Biaya-biaya yang
timbul dari kerumitan birokrasi seperti masalah perijinan ikut menjadi
faktor ketidakefisienan yang terjadi di perusahaan sehingga menimbulkan
biaya-biaya transaksi menjadi tinggi.
Peran pemerintah sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya
industri nasional khususnya industri baja. Pemerintah sebagai regulator
mempunyai wewenang salah satunya melindungi industri baja
berkompetisi secara sehat, kompetisi yang sehat akan melahirkan sebuah
industri yang sehat pula. Adanya regulasi, sarana dan prasarana yang
memadai dapat memberikan industri ini kemampuan kompetitif yang baik
sehingga industri baja dapat bersaing di pentas dunia.
E. Kebijakan Industri dan Sektoral
Konsumsi baja suatu negara merupakan salah satu indikator
kemajuan negara. Tambunan (2006) menuliskan bahwa proses
industrialisasi utamanya didorong oleh industri baja. Negara-negara
industri maju seperti yang kita kenal saat ini semuanya memiliki industri
baja yang memadai atau besar. Berdasarkan Peraturan Presiden Indonesia
Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Kebijakan Industri Nasional, maka sektor
industri baja dimasukkan ke dalan kelompok industri prioritas bagi basis
industri manufaktur. Adanya Perpres tersebut diharapkan memberikan
peluang berupa kepastian berinvestasi di Indonesia.
Data World Steel Association tahun 2014 menunjukkan bahwa
konsumsi baja (crude steel) Indonesia saat ini mencapai 61,6 kg/kapita
(2013). Angka ini relatif rendah apabila dibandingkan dengan konsumsi
baja penduduk Malaysia 160,5 kg/kapita (2013), Jepang 561,2 kg/kapita
(2013), Singapura 1.018,7 kg/kapita (2013), dan Korea Selatan 1.105,5
kg/kapita (2013). Perkembangan industri baja nasional juga mampu
menghemat devisa, melalui pengurangan impor produk baja serta kegiatan
peningkatan ekspor baja, karena industri baja diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri dan jika berlebih akan diekspor.
Pelemahan ekonomi Tiongkok memiliki dampak yang sangat besar,
khususnya pada industri baja, dimana Tiongkok merupakan salah satu
produsen baja terbesar di dunia. Akibat pelemahan ekonominya, industri
baja Tiongkok mengalami kelebihan pasokan sekitar 80 juta ton, karena
permintaan pasar domestik baja di Tiongkok mengalami penurunan.
Kondisi ini mengakibatkan produsen mengakibatkan produsen baja
Tiongkok memperluas pasar penjualan mereka hingga ke Indonesia. Baja
nasional kemudian harus bersaing langsung dengan baja China yang
menawarkan harga jauh lebih murah dengan volume yang besar.
Terkait kondisi diatas, Pemerintah Indonesia menerbitkan kebijakan
dengan membebankan bea masuk anti dumping (BAMD) melalui
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/ PMK.011/2012 tanggal 1
Oktober 2012 Tentang Pengenaan Bea Masuk Anti Dumping Terhadap
Importir Pabrik Canai asal Tiongkok, Korea dan Taiwan. BMAD tersebut
merupakan tambahan bea masuk yang dipungut berdasarkan skema tarif
bea masuk preferensi untuk eksportir dan/atau produsen asal negara yang
memiliki kerja sama perdagangan dengan Indonesia. Perjanjian
perdagangan bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade
Agreement/ACFTA) membuat persaingan dagang semakin ketat. Untuk
itu, diperlukan peningkatan kemampuan daya saing industri dalam negeri
guna menghadapi pasar global.
Adanya perlindungan melalui kebijakan sektoral tersebut
memberikan angin segar bagi perusahaan supaya tetap kompetitif di
tengah serbuan bahan baku produk baja luar negeri. Perusahaan yakin
permintaan pasar domestik akan produk baja perusahaan akan semakin
meningkat di tahun-tahun mendatang, seiring dengan penguatan dalam
pertumbuhan ekonomi Indonesia serta kebijakan pemerintahan baru
Indonesia untuk fokus pada penguatan sektor infrastruktur dan sektor
maritim, yang merupakan sektor-sektor yang banyak menggunakan baja.
F. Teknologi Informasi
Kebutuhan untuk melakukan pertukaran informasi secara
cepat, tepat dan akurat telahmembuat banyak perusahaan mencoba
membuat sebuah sistem yang dapat menyediakaninformasi tersebut
sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Efisiensi
dan efektifitas merupakan alasan dasar untuk melakukan perbaikan dari
sistem yang lama ke bentuk sistem yang lebih baik lagi. Enterprise
Resource Planning (ERP) adalah sebuah sistem yang digunakan untuk
mengoptimalkan dan mengefisienkan setiap pertukaran informasi di
sebuah perusahaan. Perusahaan telah menerapkan sistem ini dengan
menggunakan software SAP (System, Application, and Product) All-in-
One sejak tahun 2003 sebagai implementasi dari penerapan ERP dalam
rangka mendukung siklus bisnisnya.
Sistem ini mencakup modul produksi, modul manajemen material,
dan modul keuangan serta kontrol yang memungkinkan koneksi secara
online antara proses produksi dan logistik di Pabrik Karawang dan kantor
pusat yang terletak di Jakarta. Aplikasi sistem ini membuat proses
pemesanan bahan baku dan penjualan menjadi lebih efisien karena
ketersediaan barang dapat diketahui oleh pihak-pihak terkait antara lain
bagian pembelian dan tenaga pemasaran secara instan.
Sistem SAP All-In-One membuat proses perputaran bahan baku di
pabrik dan masa kerja mesin menjadi lebih mudah di kalkulasi dan
dihitung standarnya. Dengan demikian, manajemen perusahaan
mengetahui berapa kapasitas produksi mesin paling maksimal dalam
jangka waktu tertentu setelah masa downtime mesin. Hal ini penting
untuk menentukan kemampuan memenuhi pesanan dan mengetahui
kemampuan memenuhi pesanan dan mengetahui kebutuhan pasokan
bahan baku dalam jangka waktu tertentu.
Perusahaan juga menggunakan sistem SAP dalam departemen
penjualannya. Sistem ini para membuat para wiraniaga menjadi tahu
posisi persediaan baja di pabrik beserta pola pemesanannya. Pada
departemen akuntansi, sistem ini juga memberikan banyak kemajuan,
kontrol keuangan perusahaan menjadi lebih mudah dilakukan karena
bagian keuangan langsung terkoneksi ke bagian purchase order sehingga
lebih mudah dipantau.
G. Teknologi Pengolahan
Aspek teknologi pada industri baja dan industri lain pada umumnya
tidak terlepas dari pemrosesan atau pengolahan yang mengubah input
menjadi output, suatu pengubahan yang juga menambah nilai (value
added) dengan melibatkan manusia dan sumber-sumber daya lainnya.
Processing technology atau teknologi pengolahan sendiri adalah sebuah
implementasi dalam konteks teknologi untuk menghasilkan suatu produk.
Output yang dapat berupa produk baik dalam bentuk pengolahan atau
pembuatan (manufacturing) adalah hal yang esensial dan pokok dalam
bisnis.
Perusahaan merupakan produsen baja lapis seng yang menggunakan
Cold Rolled Coil (CRC) sebagai bahan baku utamanya selain Ingot
sebagai pelapis untuk menghasilkan baja lapis seng dan lapis Aluminium
Seng, Perusahaan telah menggunakan teknologi Non-Oxidation Furnace
(NOF). Baja dilapisi dengan seng (zinc) agar tahan terhadap proses korosi.
Teknologi NOF merupakan teknologi yang dapat menghasilkan produk
dengan kualitas jauh lebih baik dengan tingkat polusi yang jauh lebih
rendah, dibandingkan produk yang dihasilkan dengan menggunakan
teknologi konvensional.
Keunggulan teknologi NOF dibandingkan dengan teknologi
konvensional adalah sebagai berikut:
a. Lapisan seng dapat bertahan dari korosi lebih lama, yaitu sekitar 10
tahun dibanding ketahanan produk satu lapisan dengan teknologi
konvensional yang hanya dapat bertahan sekitar 2 (dua) tahun.
b. Warna yang dilapiskan ke produk BjLS dan BjLAS hasil teknologi
NOF tidak mudah berubah dibanding teknologi konvensional yang
menghasilkan produk yang mudah berubah warnanya karena proses
oksidasi
c. Teknologi NOF menghasilkan polusi yang lebih rendah dibanding
teknologi konvensional yang mengharuskan penggunaan timbal (Pb)
untuk proses pembersihan baja sebelum dilapisi seng yang sangat
berbahaya bagi kesehatan dan juga menghasilkan asap.
Pertumbuhan industri baja saat ini sedang tumbuh dengan cepat
(fast growing), seiring meningkatnya konsumsi baja nasional dan
pertumbuhan ekonomi nasional. PT Saranacentral Bajatama Tbk sebagai
salah satu pemain di industri baja juga turut mengembangkan bisnisnya
dengan menambah portfolio produknya di tahun 2013 lalu. Perusahaan
membangun lini produksi ketiga yang menghasilkan varian baru, yaitu
baja lapis alumunium seng berwarna SARANACOLOR. Produk baja
lapis warna ini diperlukan untuk atap dan permintaan dari sektor
konstruksi akan produk ini sangat menjanjikan, karena di Indonesia baru
ada satu produsen yang memproduksi baja lapis warna
H. Lingkungan Politik Domestik
Politik dan bisnis adalah dua hal berbeda yang sebenarnya saling
terkait satu sama lain, banyak pebisnis yang mengemukakan
ketidaksukaannya akan politik, namun mereka tidak sadar telah
mempergunakan politik dalam keseharian mereka. Aktivitas bisnis banyak
berkiprah pada strategi dan kebijakan suatu entitas (perusahaan) dalam
aktivitas ekonomi berupa produksi dan distribusi barang dan/jasa. Tujuan
utamanya meraih dan mengoptimalkan laba, sementara politik berbicara
bagaimana menjaga kepentingan dan mengembangkan kekuasaan. Jika
ditarik benang merahnya, baik bisnis dan politik memiliki satu hal yang
sama yaitu bagaimana kepentingannya dapat terjaga atau tercapai.
PT Saranacentral Bajatama Tbk, sebagai salah satu perusahaan yang
bergerak pada sektor pengolahan baja ikut terkena imbas situasi
perpolitikan di Indonesia. Pembangunan industri baja tidak lepas dari latar
belakang politik dan strategi keamanan nasional, terutama dalam rangka
untuk memenuhi kebutuhan barang vital yang menggunakan bahan baku
baja, mulai dari industri ringan sampai ke industri berat serta industri
peralatan militer. Kepemilikan industri hulu baja dinilai akan menjamin
adanya pasokan bahan baku yang aman dalam rangka pengembangan
industri nasional. Melihat arti penting dan tujuan kebijakan pemerintah
tersebut, maka sebagai negara yang demokratis, peran serta masyarakat
akan menjadi sangat penting.
Tahun 2015 ini kebutuhan baja dalam negeri diperkirakan mencapai
13 juta ton. Sementara pemenuhan permintaan dari industri domestik
belum 100% (maksimal). Direktur Industri Material Logam Dasar Ditjen
Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi
Irmawan mengatakan tren permintaan logam besi baja terus meningkat.
Pada tahun ini kebutuhannya sangat dipengaruhi kebijakan kabinet baru
terhadap akselerasi proyek infrastruktur. Kebijakan yang dihasilkan oleh
pemerintah tentu saja dipengaruhi proses politik antara eksekutif dan
legislatif dimana seharusnya proses yang terjadi diharapkan dapat
membawa hasil yang menguntungkan bagi industri baja nasional dan
masyarakat pada umumnya.
Suasana politik yang sempat memanas jelang dan paska pemilihan
presiden di tahun 2014 lalu, membuat para pebisnis menahan diri, namun
adanya kegaduhan politik tersebut dilihat para pebisnis masih cenderung
stabil dan tidak terlalu menganggu perekonomian nasional. Ekonomi
Indonesia sendiri lebih banyak dipengaruhi kondisi ekonomi dunia,
dimana nilai kurs Rupiah terhadap US dollar sebagai salah satu indikator
ekonomi nasional saat ini cenderung melemah, tidak hanya Indonesia
namun juga negara-negara di berbagai kawasan dunia ikut melemah
akibat nilai US Dollar yang semakin kuat.
PT Saranacentral Bajatama Tbk, selaku salah satu pemain di industri
baja mempunyai peluang dari terbitnya beberapa kebijakan pemerintah
dalam melindungi industri baja nasionalnya. Perusahaan dengan profit
oriented nya, setidaknya mampu berharap pada regulasi pemerintah
sehingga dapat melindungi kepentingan usahanya. Pada akhirnya kondisi
perekonomian akan bisa tumbuh apabila pemerintah tetap berperan
sebagai mitra yang menguntungkan bagi berkembangnya perilaku bisnis
yang dipengaruhi oleh kondisi politik dalam negeri.
I. Lingkungan Alam
PT. Saranacentral Bajatama, Tbk adalah perusahaan yang bergerak
di dalam bisnis pengolahan dan perdagangan baja. Pengolahan baja
merupakan aktivitas bisnis yang secara langsung terkait erat dengan
lingkungan alam sekitar. Aktivitas dalam pengolahan baja ini tentu
menimbulkan beberapa dampak negatif bagi lingkungan. Dampak negatif
ini memunculkan adanya ancaman yang berpotensi menimbulkan masalah
bagi perusahaan baik dalam dalam jangka pendek maupun jangka
panjang, sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan.
Industri baja seringkali menghasilkan limbah yang merupakan sisa
hasil pengolahan produk industri tersebut. Meningkatnya industri berarti
meningkat pula limbah buangan dari pabrik tersebut. Limbah kerap
menimbulkan masalah lingkungan, apalagi kalau itu tergolong dalam
kategori B3 (bahan berbahaya dan beracun). Limbah B3 adalah sisa suatu
usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau
beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya,
baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan atau
merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan
hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup
lainnya (PP No.18 Tahun 1999 jo PP No.85 Tahun 1999 Pasal 1 ayat 2).
Limbah yang dihasilkan oleh pabrik PT Saranacentral Bajatama
Tbk, terdiri dari limbah cair dan padat. Limbah cair berupa minyak yang
berasal dari bahan baku utama, yaitu Cold Rolled Coils (CRC) untuk
diolah menjadi baja lapis, di mana sebelum masuk dalam proses pelapisan
atau pencelupan telah dibersihkan lebih dulu dari minyak. Perusahaan
tidak melakukan penerapan khusus dalam pembuangan limbah ini,
minyak yang tersisa cukup dibakar dalam tungku yang telah disediakan
dengan tidak berdampak sisnifikan terhadap lingkungan. Sementara itu,
limbah padat dapat dipastikan tidak ada, karena sisa hasil limbah padat
ini masih memiliki nilai jual.
Bahan buangan yang dihasilkan dari industri besi baja seperti mesin
bubut, cor logam dapat menimbulkan pemcemaran lingkungan. Sebagian
besar bahan pencemarannya berupa debu, asap dan gas yang mengotori
udara sekitarnya. Selain pencemaran udara oleh bahan buangan,
kebisingan yang ditimbulkan mesin dalam industri baja (logam)
mengganggu ketenangan sekitarnya. kadar bahan pencemar yang tinggi
dan tingkat kebisingan yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan
manusia baik yang bekerja dalam pabrik maupun masyarakat sekitar.
Walaupun industri baja/logam tidak menggunakan larutan kimia, tetapi
industri ini memcemari air karena buanganya dapat mengandung minyak
pelumas dan asam-asam yang berasal dari proses pickling
untukmembersihkan bahan plat.
Bahaya limbah seperti yang diuraikan diatas sebanding dengan
perkembangan industrinya, termasuk pada industri pengolahan baja.
Namun jika dikelola dengan baik, limbah tersebut tidak akan
membahayakan. Limbah dapat bersifat ekonomis maupun non-ekonomis,
bukan hanya diolah agar tidak membahayakan lingkungan, tetapi juga
dapat memberikan nilai tambah bagi limbah tersebut. Seperti sudah
diuraikan diatas limbah padat yang dikeluarkan dari aktivitas pengolahan
baja PT Saranacentral Bajatama Tbk, masih memiliki nilai ekonomis
sehingga masih dapat dijual dengan harga murah.
J. Lingkungan Sosial dan Budaya
Sejarah membuktikan bahwa sumber daya alam yang beragam dan
besar tidak menjamin keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
Sumber daya alam kerap dianggap kutukan bangsa karena membuat
negara yang bersangkutan berkurang daya juangnya. Banyak negara-
negara yang letek geopolitiknya kurang strategis (Jepang, korea Selatan,
Taiwan dan Singapura) ternyata mampu memajukan dirinya di bidang
ekonomi. Hal ini dibuktikan karena budaya bangsa mereka secara
keseluruhan, termasuk disiplin kerja, dan keteguhan hati pemiliknya.
Mereka menganggap seluruh pelosok dunia sebagai lahan untuk mencari
nafkah sehingga mereka menggunakan budaya disiplin demi
meningkatkan mutu dan perkembangan pembangunan ekonomi mereka.
Sebagai perusahaan yang beroperasi di Indonesia PT. Saranacentral
Bajatama Tbk, melakukan penyesuaian terhadap nilai-nilai dan budaya
dari Indonesia yang dapat menjadi kekuatan bagi perusahaan, selain itu
perusahaan juga wajib memperhatikan nilai dan budaya yang berpengaruh
negatif yang nantinya dapat menjadi kelemahan bagi perusahaan. Nilai
dan budaya yang dapat menjadi keunggulan dan kelemahan tersebut harus
dikelola dengan baik oleh perusahaan.
Budaya menjadi dasar bagi perilaku yang berpengaruh terhadap
kinerja suatu perusahaan. Oleh karena itu, PT. Saranacentral Bajatama,
Tbk. menetapkan beberapa pedoman perilaku yang tercantum dalam
pedoman Good Corporate Governance (GCG) yang diwujudkan dalam
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi,
kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-komite dan satuan kerja yang
menjalankan fungsi pengendalian intern Perseroan, penerapan fungsi
kepatuhan, auditor internal dan auditor eksternal serta penerapan
manajemen risiko.
PT Saranacentral Bajatama Tbk, juga telah mempunyai program
Corporate Social Responsibilty (CSR) sebagai amanat dari UU Nomor 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan juga untuk menunjukkan
kepedulian perusahaan bagi lingkungan sekitarnya, program tersebut
antara lain berupa pemberian beasiswa bagi keluarga inti karyawan dan
menjadi sponsor dalam Charity Golf Tournament yang diselenggarakan
oleh AEI-BEI-KPEI dan KSEI, dimana hasil pengumpulan dananya
diserahkan ke beberapa panti sosial.
Program CSR tersebut dapat menjadi setitik pelepas dahaga bagi
masyarakat sekitar mengingat adanya kesenjangan sosial yang semakin
lebar, hal ini dapat diketahui dari adanya indikator koefisien Gini (Gini
Ratio) yang semakin tinggi dimana data BPS pada tahun 2013 berada
pada angka 0,413 tentu saja dapat mempengaruhi kegiatan bisnis
perusahaan. Kesenjangan sosial yang semakin tinggi dapat memicu
kecemburuan sosial di masyarakat, apalagi disertai kondisi perekonomian
yang tidak menentu dan adanya kebijakan yang kurang memiliki rasa
keadilan, akhirnya dapat mendorong manusia melakukan tindakan yang
tidak sesuai dengan aturan dan norma-norma di masyarakat. Adanya
program CSR ini diharapkan dapat mengurangi permasalahan sosial yang
terjadi di sekitar kawasan tempat perusahaan dan pabrik didirikan
IV. Kesimpulan

Adanya berbagai faktor lingkungan eksternal bisnis yang


mempengaruhi diatas, maka dapat disimpulkan PT Saranacentral
Bajatama Tbk, sebagai salah satu pemain di industri baja menghadapi
banyak peluang dan tantangan baik di masa sekarang, maupun di masa
mendatang. Dengan mengetahui peluang dan ancaman tersebut,
perusahaan dapat merumuskan srategi yang efektif dalam rangka
mengantisipasi kondisi eksternal bisnis yang terus berubah dan dapat
berpengaruh bagi perusahaan serta kelangsungan usaha di masa yang akan
datang.
Daftar Pustaka
Annual Report 2014., PT Saranacentral Bajatama Tbk.

http://prasetyo-utomo.blogspot.com/2010/12/pengaruh-faktor-politik-terhadap-
bisnis.html Diakses pada tanggal 5 April 2015

https://ronawajah.wordpress.com/2009/03/21/bisnis-politik-dan-politik-bisnis/
Diakses pada tanggal 20 April 2015

The Boston Consulting Group,


https://www.bcgperspectives.com/content/articles/center_consumer_customer
_insight_consumer_products_indonesias_rising_middle_class_affluent_consu
mers/?chapter=2 Diakses pada tanggal 16 Maret 2015

Setiawan, F. 2013. http://fachri-setiawan.blogspot.com/2013/02/definisi-demografi-


menurut-para-ahli.html. Diakses pada tanggal 16 Maret 2015

http://www.kemenperin.go.id/artikel/4914/Impor-Baja-Tiga-Negara-Kena-Bea-
Masuk-Anti-Dumping Diakses pada tanggal 18 Maret 2015

Peraturan Menteri Keuangan No 150/ PMK0.11/2012 Tanggal 1 Oktober 2012


Tentang Pengenaan Bea Masuk Anti Dumping Terhadap Impor Produk Canai
http://www.tarif.depkeu.go.id/Data/Regulation/PMK1500112012.pdf

PP No.18 Tahun 1999 Tentang Pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

http://zanxadhysblog.blogspot.com/2011/11/limbah-industri.html Diakses pada


tanggal 4 April 2015

Yahya, 2013, Pemanfaatan Limbah Industri Baja (Blast Furnace Iron Slag) sebagai
Bahan Bangunan

Kuswanto Technology., K.R., dan Zuprizal. 2014. Materi Pembelajaran Processing


Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai