Anda di halaman 1dari 33

Nama : Evi Noviyani

NPM : 220110100051

Kasus 3 (skoliosis)

An. S (perempuan) 8 tahun, berat badan 27 kg, klien mengeluh perubahan pada tulang
belakang saat dilakukan pemeriksaan fisik hasil palpasi pada vertebra teraba tulang belakang
yang melengkung, dada kanan posterior menonjol disertai scapula kanan tampak lebih tinggi dan
menonjol. Saat ini klien tidak mengeluh apapun selain ingin cepat dioperasi. Klien mengatakan
jenuh dengan proses menunggu yang lama dan sedih karena dengan kondisinya An. S harus izin
dari sekolahnya

Pengkajian

1. Data Biografi
Nama : An. S
Usia : 8 tahun
Pekerjaan : pelajar
2. Riwayat Keperawatan Saat ini
Menanyakan BB terakhir klien. BB 27 kg.
Minta klien untuk menjelaskan keluhan yang berkaitan dengan tulang dan
pergerakannya
Teraba vertebra tulang belakang yang melengkung pada vertebrata, dada kanan
posterior menonjol disertai scapula kanan tampak lebih tinggi dan menonjol.
3. Riwayat kesehatan masa lalu
Menanyakan apakah ada injury atau keluhan pada system muskuloskeletal
sebelumnya.
Menyanyakan tentang kapan mendapatkan imunisasi tetanus dan polio
Menanyakan apakah sebelumnya pernah mendapatkan terapi pengganti hormon.
4. Riwayat penyakit keluarga
Menanyakan apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita skoliosis
Menanyakan apakah ada kelainan selama kehamilan dan saat persalinan pada ibunya.
5. Pola Hidup
a. Pola aktivitas
Menanyakan bagaimana aktivitas klien seperti posisi kerja atau jenis pekerjaan .
Menanyakan kebiasaan sehari-hari klien seperti posisi duduk
b. Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam lingkungan sekitar ( misalnya tidak mau
masuk sekolah)
Klien mengalami keterbatasan bergerak akibat penonjolan tulang vertebra disertai
skapula kanan yang lebih tinggi.
c. Pola persepsi dan konsep diri
Menanyakan apakah Klien merasa rendah diri karena struktur tubuhnya abnormal
Menanyakan apakah Klien memiliki pandangan yang salah terhadap dirinya,
d. Pola penanggulangan Stress
Tanyakan apakah ada rasa cemas dari dirinya yaitu ketakutan akan kondisi tubuhnya
yang tidak dapat kembali normal. Mekanisme koping yang ditempuh bisa tidak
efektif.

e. Pola Praktik Kesehatan


Menanyakan apakah saat ini sedang meminum obat. Obat apakah yang sedang
dikonsumsi?

f. Pola Gaya Hidup


Menanyakan apakah klien mengkonsumsi rokok, seberapa banyak dan seberapa
sering.
Menanyakan apakah klien mengkonsumsi alkohol atau tidak.

1. Pemeriksaan Fisik
InsPeksi perhatikan dan bandingkan dengan sisi yang normal hal-hal di bawah ini:
- Adanya deformitas seperti angulasi (membentuk sudut)
- Terlihat adanya penonjolan dada kanan posterior disertai skapula kanan tampak
lebih tinggi dan menonjol
Palpasi
- Kaji apakah ada nyeri tekan pada area angulasi.
- Kaji apakah adanya crepitasi pada perabaan yang sedikit kuat.
- Kaji apakah ada gerakan abnormal pada perabaan agak kuat.
Pemeriksaan fisik lain yang dilakukan pada klien scoliosis antara lain :

Kepala miring sebelah (heed tilt). Perhatikan, apakah kedua telinga sama tinggi,
Ditandai Gangguan
apakah posisi wajah cenderung ke satu sisi.
dgn BB Bahu tidak sama tinggi (shoulder
Nutrisi tilt). Perhatikan apakah posisi bahu sama tinggi,
ETIOLOGI
ataukah ada satu sisi bahu yang lebih maju ke depan. Perhatikan juga apakah salah
satu tulang scapula (belikat) lebih menonjol dari lainnya.
Pola Makan yang Posisi Duduk Faktor Genetik Faktor Hormonal
Pinggul tinggi sebelah (pelvic tilt). Periksa, apakah pinggul kiri dan kanan sejajar,
buruk yang salah
apakah celana atau gaun yang dikenakan<<dapat asam melekat
folat pd sempurna di tubuh bagian
Intake nutrisi bawah. Perhatikan
Kerja otot
pulapdpanjang
ruas celana, kerahibubaju,
hamildan panjang lengan sama bagian
<<< kebutuhan tl.belakang Sekresi
kiri dan kanannya. Resiko tinggi sambungan
Kaki tidak seimbang (foot flare). Periksa, apakah telapak kaki rata melatonin
atau ada pada
bagian
Defisit vit. D & Ca Ketegangan Otot spinal pada bayi malam hari
yang mengarah keluar. Telapak kaki yang bentuknya kurang sempurna, bisa memicu
Tl. Belakang tidak << Progresivitas
Mempengaruhi scoliosis. Perhatikan pula,Otot
Perkembangan apakah
tl. ada keluhan lain di lutut atau pergelangan kaki.
LengkunganBelakang
tulang belakang normal ada bagian punggung
(spinal curve). Apakah skoliosis
yang salah
perkembangan tulang terganggu
satu sisinya lebih tinggi? Lihat juga, apakah ada semacam penonjolan di wilayah
Otot lemah
Abnormalitas punggung atau penyimpangan bentuk tulang (tulang tidak lurus). Pemeriksaan tulang
perkembangan spinal
belakang ini
Ruasdapat dilakukan
tl. Belakang menggunakan metode Adam Forward Bend. Caranya,
lemah
hemispinal pasien diminta berdiri dengan lutut sejajar dan rapat. Lalu tubuh dibungkukkan 90
Tl. Belakang melengkung miring
derajat ke depan. jika dia menderita scoliosis, akan tampak adanya penyimpangan
Deformitas tl. ke salah satu sisi
bentuk
Belakang (angulasi) tulang atau bagian pnnggung yang tingginya tidak sejajar. Jika pada saat
SKOLIOSIS
pemeriksaan dicurigai adanya scoliosis, segera lakukan pemeriksaan radiologi untuk
mengetahui ukuran derajatnya, lalu ambil tindakan antisipasi.
Deviasi lateral
Patofisiologi Scoliosis Kelelahan tulang Tl. Belakang melengkung, dada
Gangguan
corpus spinal dan sendi kanan menonjol & skapula
HDR
Ditandai Gangguan tampak >>tinggi
dgn BB deviasi
Derajat Nutrisi Kaku otot ETIOLOGI
semakin besar Menekan area paru Ditandai dgn klien
Menghambat ingin cepat
Resiko
Pola Tinggi
Makan yang untuk bergerak Faktor Genetik dioperasi
Faktor Hormonal
Menghambat pergerakan
Gangguan Nyeri
buruk rusuk dan paru
Resiko Tinggi Defisiensi melatonin
Gangguan Mobilisasi
Ekspansi paru

dispnea

Gangguan Pola Napas


tidak efektif
ANALISIS DATA

NO DATA YANG MENYIMPANG ETIOLOGI MASALAH

1. DO : tulang belakang melengkung, Pola makan yang buruk, Gangguan HDR


dada kanan menonjol, dan scapula posisi duduk yang salah,
tampak lebih tinggi faktor genetic, faktor
hormonal
DS : klien ingin cepat dioperasi

Tulang belakang
melengkung miring ke
salah satu sisi

Skoliosis

Tulang belakang
melengkung, dada kanan
menonjol dan scapula
tampak lebih tinggi

Gangguan HDR

2. DS : tulang belakang melengkung, Pola makan yang buruk, Resiko tinggi


dada kanan posterior menonjol posisi duduk yang salah, gangguan mobilisasi
disertai scapula kanan tampak faktor genetic, faktor
lebih tinggi dan menonjol. hormonal

DO :

Tulang belakang
melengkung miring ke
salah satu sisi

Skoliosis

Kelelahan tulang dan sendi


Kaku otot

Menghambat untuk
bergerak

Resiko tinggi gangguan


mobilisasi

3. DO : tulang belakang melengkung, Pola makan yang buruk, Gangguan pola nafas
dada kanan posterior menonjol posisi duduk yang salah, tidak efektif
disertai scapula kanan tampak faktor genetic, faktor
lebih tinggi dan menonjol. hormonal

DS :

Tulang belakang
melengkung miring ke
salah satu sisi

Skoliosis

Tulang belakang
melengkung, dada kanan
menonjol dan scapula
tampak lebih tinggi


Menekan area paru

Menghambat pergerakan
rusuk dan paru

Ekspansi paru

Dispnea

Gangguan pola nafas tidak


efektif

4. DO : tulang belakang melengkung, Pola makan yang buruk, Resiko tinggi


dada kanan posterior menonjol posisi duduk yang salah, gangguan nyeri
disertai scapula kanan tampak faktor genetic, faktor
lebih tinggi dan menonjol. hormonal

DS :

Tulang belakang
melengkung miring ke
salah satu sisi

Skoliosis

Deviasi lateral corpus


spinal

Derajat deviasi semakin


besar

Resiko tinggi gangguan


nyeri

5. DO : tulang belakang melengkung, Pola makan yang buruk Gangguan nutrisi


dada kanan posterior menonjol

disertai scapula kanan tampak
lebih tinggi dan menonjol. Intake nutrisi kurang dari
kebutuhan
DS :

Ditandai dengan berat


badan

Gangguan nutrisi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Harga diri rendah b.d struktur tubuh dan keadaan
2. Gangguan intake nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kebiasaan pola makan yang jelek dan tidak
teratur
3. Resiko tinggi pola napas tidk efektif b.d penekanan area paru dan penurunan ekspansi paru
4. Resiko tinggi nyeri b.d kelelahan pada tulang sendi dan derajat deviasi pada lengkungan
tulang belakang yang semakin besar
5. Resiko tinggi gangguan imobilisasi b.d kekakuan otot
6. Kurang pengetahuan b. d prognosisi penyakit dan proses pengobatan
ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan
Intervensi Rasional

1 Harga diri rendah b.d Tupan : Mandiri


struktur tubuh dan
Klien dapat Motivasi klien agar Klien akan
keadaan diri ditandai
menerima menjelaskan menungkapakn
dengan:
keadaan fisik nya, persannya berkaiatan perasannya
DO : dan mulai dengan perubahan sehingga dapat
menunjukkan diri dan gambaran dilihat ada
Tulang belakang yang
adaptasi pada diri. tidaknya
melengkung, dada
situasi sekarang. perubahan
kanan posterior
gambaran diri dan
menonjol disertai Tupen :
harga diri.
skapula kanan tampak
Klien merasa
lebih tinggi dan Membantu pasien
percaya diri
menonjol. Berikan lingkungan unuk mersa
dan dapat
terbuka dimana diterima pada
meningkatkan
pasien merasa aman adanya kondisi
harga dirinya.
untuk mendiskusikan tanpa perasaan
Klien dapat
perasaan atau dihakimi dan
DS : berpera serta
menolak untuk meningkatkan
aktif selama
Klien tidak mengeluh bicara kontrol
proses
Memberikan
apapun selain ingin
rehabilitasi.
keyakinan bahwa
cepat dioperasi Klien tidak Pertahankan kontak
sering dengan pasien tidak
merasa sedih
pasien. Bicara sendiri atau
dan daapt
dengan menyentuh ditolak; berikan
kembali
pasien lebih tepat respek penerimaan
menjalani
individu,
aktivitas sperti
mengembangkan
biasanya.
kepercayaan
Dapat
Kenali perilaku menghilangakan
indikatif yang terlalu rasa takut pasien.
bermasalah dengan Pasien
pola hidup masa membutuhkan
depan/fungsi dukungan orang
hubungan. terdekat.
2 Gangguan intake nutrisi Tupan : Mandiri
kurang dari kebutuhan
Berpartisipasi Pantau masukan Mengidentifika
b.d kebiasaan pola
dalam makanan setiap hari si
makan yang jelek dan
intervensi Catat derajat kekuatan/defesiens
tidak teratur. ditandai
spesifik untuk kesulitan makan. i nutrisi
dengan :
merangsang Evaluasi berat badan Untuk
DO: nafsu makan / dan ukuran tubuh. menentukan
peningkatan intervensi yang
DS:
masukan diet. Berikan makan porsi akan dilakukan
Menunjukkan kecil tapi sering.
perilaku /
perubahan Membantu
pola hidup menurunkan
untuk kelelahan selam
meningkatkan makan dan
dan / memberikan
mempertahank kesempatan ntuk
an berat badan meningkatkan
Dorong komunikasi
yang tepat. masukan kalori
terbuka mengenai
Tupen : total.
masalah anoreksia
Sering sebagai
Mendemonstra
sumber distres
sikan berat
emosi, khususnya
badan stabil,
untuk orang
penambahan
berat badan terdekat yang
progresif menginginkan
kearah tujuan memberi makanan
dengan Timbang berat badan pasien dengan
normalisasi sesuai indikasi sering.
nilai Berguna untuk
laboraturium menentukan
dan bebas kebutuhan kalori,
tanda menyusun tujuan
malnutrisi berat badan,
evaluasi
Kolaborasi keadekuatan
rencana nutrisi.
Rujuk pada ahli
diet/tim pendukung
nutrisi Memberikan
rencana diet
khusus untuk
memenuhi
kebutuhan individu
dan menurunkan
masalah berkenaan
dengan malnutrisi

3 Resiko tinggi pola napas Tupan : Mandiri


tidk efektif b.d
Klien tidak pantau frekuansi, Kecepatan
penekanan area paru dan
menunjukkan kedalaman biasanya
penurunan ekspansi
sesak napas. pernapasan dan meningkat, ada
paru. ditandai dengan :
ekspansi dada. Catat disneu dan terjadi
Tupen : upaya pernapasan, peningkatan kerja
termasuk pengunaan napas. Ekspansi
DO: Menunjukkan
otot bantu / dada terbatas yang
pola napas
pelebaran nasal. berhubungan
efektif
dengan penekanan
dengan
pada area paru.
frekuensi dan Auskultasi bunyi Untuk
DS:
kedalaman napas dan catat bila mengindikasikan
dalam rentang ada bunyi napas adanya kelainan
normal. yang abnormal. pada fungsi paru
Tidak
menunjkkan Informasikan klien
adanya tanda- Untuk mengurangi
bahwa ia akan
tanda dipsneu rasa cemas ketika
diobservasi dengan
Suara paru klien merasa sesak.
cermat dabn
bersih/clear kebutuhan-
kebutuhan akan
dipenuhi dengan
cermat.
4 Resiko tinggi nyeri b.d Tupan : Mandiri :
kelelahan pada tulang
Nyeri klien hilang Tentukan riwayat Informasi
sendi dan derajat deviasi
dan klien merasa nyeri; lokasi nyeri, memberikan data
pada lengkungan tulang
lebih nyaman frekuensi, durasi, dan dasar untuk
belakang yang semakin
intensitas dan kebutuhan
besar ditandai dengan: Tupen :
tindakan penghilang intervensi.
Klien yang digunakan.
Menurunkan
mengatakan Berikan tindakan
tegangan otot,
nyerinya kenyamanan dasar
memfokuskan
DO: - berkurang dan aktivitas
kembali perhatian,
hiburan.
Klien mampu
DS: meningkatkan rasa
mendemonstr
control dan dapat
asikan meningkatkan
kembali kemampuan
teknik koping dalam
Selidiki adanya
relaksasi atau manajemen
keluhan nyeri sendi
distraksi ketidaknyaman/ny
berat secara tiba-tiba
Ekspresi eri yang dapat
dengan spasme otot
wajah klien menetap dalam
dan perubahan
tenang periode lama.
mobilitas sendi, Pengenalan dini
nyeri dada tiba-tiba, terjadinya masalah
dyspnea, dan gelisah. seperti dislokasi
prostese,
Pertahankan
memberikan
mobilisasi
kesempatan untuk
ekstremitas, seperti
intervensi cepat
terapi fisik, alat
dan mencegah
gerakan
komplikasi lebih
pasif/continue
serius.
Meningkatkan
Kolaborasi
sirkulasi pada otot
Berikan analgesic
yang sakit,
sesuai indikasi
meminimalkan
(opioid).
kekakuan sendi
dan
menghilangkan
spasme otot

Kolaborasi
Menghilangkan
nyeri dan
menurunkan
tegangan spasme
otot, yang
menambah
ketidaknyamanan.

5 Resiko tinggi gangguan Tupan : Mandiri


imobilisasi b.d
Mempertahankan Kaji derajat Pasien mungkin
kekakuan otot ditandai
kemampuan mobilitas yang dibatasi oleh
dengan:
pergerakan fisik dihasilkan oleh pandangan diri /
kekakuan otot persepsi diri
Tupen :
tentang
DO : -
Terpeliharanya Instruksikan pasien keterbatasan fisik
DS : - posisi untuk / bantu dalam aktual
fungsional Mempertahankan
rentang gerak
gerak sendi,
Mobilitas pasien / aktif
mencegah
terpelihara
kontraktur / afroji
Klien dapat Tempatkan dalam
melakukan posisi terlentang Menurunkan
akivitas seperti secara periodik resiko kontraktur
biasanya heksi panggul

6 Kurang pengetahuan b. Tupan : Mandiri


d prognosisi penyakit
Melakukan Tinjau ulang dengan Memvalidasi
dan proses pengobatan
perubahan gaya pasien/orang terdekat tingkat
ditandai dengan :
hidup kearah pemahaman pemahaman saat
DO : - yang lebih baik diagnosa khusus, dan ini,
dan berpartisipasi sifat harapan. mengidentifikasi
dalam aturan kebutuhan belajar,
DS : - pengobatan. dan memberikan
dasar pengetahuan
Tupen :
Tentukan persepsi diamana pasien
Mengungkapk pasien tentang membuat
an informasi skoliosis dan, keputusan
akurat tentang tanyakan tentang berdasarkan
diagnosa dan pengalaman pasien informasi
Membantu
aturan sendiri/atau
identifikasi ide,
pengobatan pengalaman orang
sikap, rasa takut,
pada tingkatan lain yang juga
kesalahn konsepsi,
kesiapan diri menderita skoliosis
Berikan informasi dan kesenjangan
sendiri
Mengidentifik yang jelas dan akurat pengetahuan
asi / dalam cara yang tentang skoliosis
menggunakan nyata tetap sensitif.
sumbeer yang Jawab pertanyaan
Membantu
tersedia secara khusus, tetapi
penilaian diagnosa
dengan tepat. tidak memaksakan
skoliosis,
dengan detil-detil
memberikan
yang tidak penting.
Berikan materi informasi yang

tertulis tentang diperlukan.

skolisis, pencegahan,
terapi dan
Meningkatkan
ketersediaan sistem
pengetahuan klien
pendukung
akan penyakit
yang diderita dan
sebagai pelajaran
untuk masa depan
agar tidak
memperbaiki
kebiasaan buruk
Tekankan pentingnya
klien.
melakukan evaluasi
medis Memberikan
informasi
mengenai
perubahan
Memberikan
pemantauan terus-
menerus tentang
kemajuan/resolusi
proses penyakit
dan kesempatan
untuk diagnosa
dan pengobatan
tepat waktu
terhadap
komplikasi.

IDENTIFIKASI PRINSIP LEGAL DAN ETIK KEPERAWATAN

Respect
- Respect for humanity :
Respek pada humanity/seseorang menetapkan bahwa semua etik perawatan kesehatan
dan secara tidak langsung manusia harus menghargai kehidupannya sendiri dan
kehidupan orang lain, serta menerima kematian (Thiroux, 1990). Prinsip ini menyatakan
bahwa kehidupan adalah hak yang paling mendasar yang dimiliki manusia. Karena
kehidupan sangat berharga, manusia secara moral memiliki kewajiban untuk memelihara
dan menjaganya. Perawat harus melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk
melindungi dan mempertahankan kehidupan manusia dimana terdapat harapan sembuh
atau ketika klien memperoleh keuntungan dari tindakan mempanjangkan hidup (ANA,
1985).
Mengusahakan segala sesuatu untuk mempertahankan kehidupan An. S.
- Respect for autonomy :
Autonomi berarti setiap individu harus memiliki kebebasan untuk memilih rencana
kehidupan dan cara bermoral mereka sendiri. Prinsip autonomi mengarahkan perhatian
moral perawat pada penentuan secara berhati-hati tentang nilai klien.
Memberikan kesempatan pada An.S untuk memilih rencana kehidupan dan cara
bermoral mereka sendiri, memberikan hak kepada An.S dalam pengambilan keputusan.

Non-maleficience
Prinsip ini mengajarkan tindakan untuk membuang bahaya, mencegah bahaya, dan
melakukan langkah positif untuk melakukan yang baik untuk keuntungan orang lain.
Non-malefisiensi memberikan standar minimum dimana praktisi selalu memegangnya.
Perawat harus melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standar keperawatan yang
berlaku agar tidak mengakibatkan injury pada klien.
Mencegah An.S untuk melakukan aktivitas yang dapat memperburuk kondisi klien,
misalnya dengan berjalan atau berlarian, dll.

Justice
Prinsip keadilan menuntut perlakuan terhadap orang lain yang adil dan memberikan apa
yang menjadi kebutuhan mereka sesuai dengan kebutuhan klien tanpa melihat status
social. Prinsip ini juga mengharuskan perawat untuk meyakinkan adanya alokasi yang
adil sarana yang ada bagi setiap klien.
Dalam hal ini, perawat tidak boleh membedakan status klien dalam memberikan
perawatan sehingga tidak ada lagi pasien yang mendapatkan bagian yang lebih besar atau
lebih sedikit dari yang lain.

Beneficence: menghargai hak-hak klien dan dapat menguntungkan bagi klien.


a. Prinsip beneficence menuntut perawat memberikan maslahat (beneficence) kesehatan
pada klien, keseimbangan maslahat terhadap resiko dalam situasi tersebut dimana
suatu pilihan harus dibuat dan menentukan cara terbaik untuk membantu klien.
Percakapan perawat dapat membantu klien mengidentifikasi diri mereka sendiri
dalam hal maslahat dan resiko yang relevan dengan moral, seperti kualitas masalah
hidup.
b. Kewajiban moral untuk mencegah terjadi injury.
c. Bertindak untuk meningkatkan kesejahteraan klien. Termasuk melindungi hak-hak
klien dalam pelayanan kesehatan :
1) Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
a. Akses yang sama terhadap pelayanan kesehatan.
b. Akses pelayanan kesehatan sesuai dengan nilai dan norma kultural klien.
c. Pelayanan kesehatan yang berkualitas.
2) Hak untuk mendapatkan informasi.
3) Hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
4) Hak untuk mendapat informed consent.
5) Hak untuk menolak consent.
6) Hak untuk mengetahui nama dan status tim kesehatan.
7) Hak untuk mendapat second opinion.
8) Hak untuk diperlakukan dengan respect.
9) Hak untuk confidentiality.

DEFINISI

Kata scoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar.
Scoliosis adalah suatu kelainan pada tulang belakang dimana terjadi kondisi lengkungan ke
samping pada tulang belakang yang dapat merusak ruas-ruas tulang belakang kebanyakan
anak-anak, remaja dan orang dewasa. Umumnya poros tengah tulang belakang agak
menyimpang, sehingga terlihat lebih berat ke satu sisi tubuh. Jika dilihat dari samping tulang
belakang yang normal berbentuk huruf S yang memanjang (elongated S). Bagian depan atas
sedikit melengkung ke arah luar dan bagian belakang bawah sedikit melengkung ke arah
dalam. Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari
leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita scoliosis, akan tampak adanya satu
atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi
pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan. Kelainan skoliosis ini
sepintas terlihat sangat sederhana. Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi
perubahan yang luarbiasa pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang
secara tiga dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan
lunak sekitarnya dan struktur lainnya (Rahayussalim, 2007). Skoliosis ini biasanya
membentuk kurva C atau kurva S. Sementara menurut chris brooker dalam Ensiklopedia
Keperawatan bahwa skoliosis merupakan kelengkungan tulang belakang ke arah lateral.

Sedangkan menurut Medicastore menyatakan bahwa skoliosis adalah kelengkungan


tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal,
toraka maupun lumbal (Apotik Online dan Media Informasi, 2006).
Senada dengan sebelumnya, Rosmawati Mion menyatakan bahwa skolisis merupakan
penyakit tulang belakang yang menjadi bengkok ke samping kiri atau kanan sehingga
wujudnya merupakan bengkok benjolan yang dapat dilihat dengan jelas dari arah belakang.
Penyakit ini juga sulit untuk dikenali kecuali setelah penderita meningkat menjadi dewasa
(Mion, Rosmawati, 2007). Kemudian menurut dr Ketut Martiana menyebutkan dalam Jawa
Pos Online adalah skoliosis merupakan kelainan fisik bawaan atau genetik yang banyak
dialami wanita (Jawa pos Online, 2007).
Scoliosis pada umumnya mulai menyerang di usia 10-14 tahun, baik pada remaja
perempuan atau laki-laki. Karena tidak bisa ditandai oleh rasa nyeri ataupun perubahan
bentuk, maka untuk memastikan pertumbuhan anak remaja terbebas dari gangguan struktur
tulang ini sangat disarankan remaja di usia tersebut memeriksakan diri. Terlebih lagi jika ada
riwayat orang tua menderita scoliosis. Pada tahapan awal, scoliosis tidak menimbulkan rasa
sakit, karena itu para penderita cenderung tidak menyadarinya. Rasa sakit baru dialami
setelah mencapai tingkat kerusakan parah.

EPIDEMIOLOGI
Sekitar 80% skoliosis adalah idiopatik, Skoliosis idiopatik dengan kurva lebih dari 10
derajat dilaporkan dengan prevalensi 0,5-3 per 100 anak dan remaja. Prevalensi dilaporkan
pada kurva lebih dari 30 derajat yaitu 1,5-3 per 1000 penduduk. Insiden yang terjadi pada
skoliosis idiopatik infantil bervariasi, namun dilaporkan paling banyak dijumpai di Eropa
daripada Amerika Utara, dan lebih banyak laki-laki dari pada perempuan.

ETIOLOGI
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan
tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu.
2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan
akibat penyakit berikut:
- Cerebral palsy
- Distrofi otot
- Polio
- Osteoporosis juvenil
3. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.
a. Skoliosis Idiopatik Infantil
Kelengkungan vertebra berkembang saat lahir sampai usia 3 tahun. James,
pertama kali menggunakan istilah skoliosis idiopatik infantil, mencatat bahwa kurva
terjadi sebelum umur 3 tahun, dimana lebih sering terjadi pada laki-laki daripada
perempuan dan sebagian besar torakal melengkung kiri.
Dua tipe kurva dilaporkan pada skoliosis infantil yaitu resolving type (85%) dan
progressive type (15%). Perkembangan metode Mehta dilakukan untuk membedakan
kedua tipe kurva tersebut, dengan cara pengukuran pada posisi AP radiologi.
Pertama, dengan menggambar sebuah garis perpendikular ke end-plate pada apeks
vertebra. Kedua menarik garis yang memotong caput dan collum pada costa, sudut
yang dibentuk pada perpotongan kedua garis tersebut disebut RVA (Rib-Vertebra
Angle). Kurva dengan RVAD > 200 dapat menunjukkan progresivitas.
b. Skoliosis Idiopatik Juvenil
Skoliosis Idiopatik Juvenil terjadi pada umur 4-10 tahun. Berbagai bentuk dapat
terjadi namun kurva torakal biasanya kekanan. Skoliosis Juvenil biasanya lebih
progresif dari adolesent. Lonstein menemukan bahwa 67% pasien dengan umur
dibawah 10 tahun menunjukkan progresivitas kurva dan resiko progresivitas 100%
pada pasien yang berumur < 10 tahun yang mempunyai kurva lebih dari 200. Jenis
bentuk tipe kurva yang terlihat pada skoliosis juvenil adalah kurva thoracic > double
thoracic > thorakolumbal > Lumbal. Pada scoliosis juvenile ini, metode Mehta
RVAD kurang digunakan dalam menentukan prognosis dibandingkan dengan
skoliosis infantil.
c. Skoliosis Idiopatik Adolescent
Skoliosis Idiopatik adolescent terjadi pada umur 10 tahun atau lebih, scoliosis
jenis ini paling sering terjadi pada remaja putri. Untuk mendiagnosa sebagai scoliosis
idiopatik, harus mempunyai derajat kurvatura minimal 100 dengan rotasional dan
deviasi lateraral pada radiologi ( < 10 derajat dapat dikatakan normal).

KLASIFIKASI
Berdasarkan derajat kebengkokannya, skoliosis dibedakan menjadi skoliosis ringan atau
skoliosis fungsional dengan derajat kebengkokan kurang dari 20 derajat. Skoliosis sedang
dengan kebengkokan antara 20 sampai 40 derajat dan skoliosis berat dengan derajat
kebengkokan lebih dari 40 derajat (Luthfi, 2008).
A. Nonstruktural : Skoliosis tipe ini bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk
semula), dan tanpa perputaran (rotasi) dari tulang punggung
a. Skoliosis postural : Disebabkan oleh kebiasaan postur tubuh yang buruk
b. Spasme otot dan rasa nyeri, yang dapat berupa :
(i) Nyeri pada spinal nerve roots : skoliosis skiatik
(ii) Nyeri pada tulang punggung : dapat disebabkan oleh inflamasi atau keganasan
(iii) Nyeri pada abdomen : dapat disebabkan oleh apendisitis
c. Perbedaan panjang antara tungkai bawah
(i) Actual shortening
(ii) Apparent shortening :
1. Kontraktur adduksi pada sisi tungkai yang lebih pendek
2. Kontraktur abduksi pada sisi tungkai yang lebih panjang
B. Sruktural : Skoliosis tipe ini bersifat irreversibel dan dengan rotasi dari tulang punggung

a. Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) : 80% dari seluruh skoliosis


(i) Bayi : dari lahir 3 tahun
(ii) Anak-anak : 4 9 tahun
(iii) Remaja : 10 19 tahun (akhir masa pertumbuhan)
(iV) Dewasa : > 19 tahun
b. Osteopatik
(i) Kongenital (didapat sejak lahir)
1. Terlokalisasi :
a. Kegagalan pembentukan tulang punggung (hemivertebrae)
b. Kegagalan segmentasi tulang punggung (unilateral bony bar)
2. General :
a. Osteogenesis imperfect
b. Arachnodactily
(ii) Didapat
1. Fraktur dislokasi dari tulang punggung, trauma
2. Rickets dan osteomalasia
3. Emfisema, thoracoplasty
c. Neuropatik
(i) Kongenital
1. Spina bifida
2. Neurofibromatosis
(ii) Didapat
1. Poliomielitis
2. Paraplegia
3. Cerebral palsy
4. Friedreichs ataxia
5. Syringomielia

Sejak awal tahun 1983, system King-Moe telah mengklasifikasikan scoliosis idiopatik
adolescent (AIS) untuk terapi pembedahan kemudian semua pasien diterapi dengan
menggunakan instrument batang Harrington untuk mengoreksi deformitas. King tidak
memasukkan thorakolumbal, lumbal, atau ganda atau tiga kurva mayor pada klasifikasinya.
1. King I- Kurva lumbal lebih besar dari kurva torakal
2. King II- Kurva thorakal lebih besar daripada kurva lumbal
3. King III-kurva torakal dngan kurva lumbal tidak melewati garis tengah
4. King IV-Kurva thorakal panjang dimana L4 miring kedalam kurva
5. King V- Kurva thorakal ganda
Klasifikasi Lenke merupakan system yang dikembangkan dalam mengklasifikasikan
scoliosis Idiopatik Adolescent (AIS), kini telah direkomendasikan dalam pengobatan spesifik
dengan perbedaan metode pengobatan.
Sistem Klasifikasi Lenke memadukan tiga komponen
(1). Tipe Kurva (1-6)
(2). Lumbar spine modifier (A,B,or C)
(3). Sagittal thoracal modifier (-,N or +)
Sementara itu, stadium skoliosis menurut Kawiyana dalam Soetjiningsih, 2004.

Skoliosis ringan : sudut kelengkungan kurang dari 20 derajat.


Skoliosis sedang: sudut kelengkungan 21-40 derajat.
Skoliosis berat : sudut kelengkungan lebih dari 40 derajat.
MANIFESTASI KLINIS
a. Abdormalitas penampilan vertebra yang biasa yaitu cekung-cembung-cekung yang
terlihat menurun dari bahu sampai bokong.
b. Penonjolan iga di sisi cembung.
c. Tinggi Krista iliaka yang tidak sama,yang dapat menyebabkan Satu tungkai lebih
pendek dari pada tungkai lainnya.
d. Asimetri selubung toraks dan ketidak sejajaran vertebra spinalis akan tampak apabila
individu membungkuk.
e. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
f. Bahu atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
g. Nyeri punggung
h. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama.
i. Skoliosis yang berat(kelengkungan yang lebih besar dari 60)

PREDISPOSISI
Faktor yang dapat menyebabkan masalah skoliosis bertambah buruk ialah (Jamaluddin,
2007):
Proses pertumbuhan. Dengan bertumbuh dan berkembangnya tubuh penderita maka
derajat kelengkungannya juga ikut berkembang dan menjadi semakin besar
Jenis Kelamin. Masalah skoliosis biasanya lebih buruk di kalangan remaja perempuan
dibanding lelaki.
Umur. Lebih awal seseorang penderita mengalami skoliosis, kemungkinan untuk
penyakit tersebut menjadi buruk akan lebih besar. Walaupun secara umumnya ini lebih
banyak berlaku pada remaja, anak-anak juga dapat mengalami masalah ini pada umur
empat hingga delapan tahun.
Lokasi. Lengkungan pada bagian tengah atau bawah tulang belakang biasanya jarang
bertambah buruk. Masalah skoliosis hanya bertambah buruk jika ini berlaku pada
bagian atas tulang belakang, menyebabkan badan belakang penderita menonjol keluar
dan kelihatan bongkok.
Masalah tulang belakang ketika dilahirkan. Skoliosis pada anak-anak yang dilahirkan
dengan penyakit ini , berisiko tinggi menjadi buruk dengan cepat. Oleh karena
skoliosis tidak menyebabkan kesakitan, masalah ini jarang diberi perhatian dan
rawatan hingga postur badan berubah

KOMPLIKASI
Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, penderita perlu dirawat seawal
mungkin. Tanpa perawatan, tulang belakang menjadi semakin bengkok dan menimbulkan
berbagai komplikasi seperti :
a. Kerusakan paru-paru dan jantung.
Ini boleh berlaku jika tulang belakang membengkok melebihi 70 derajat. Tulang rusuk
akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar bernafas dan cepat
capai. Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran memompa darah. Keadaan ini
terjadi jika tulang belakang membengkok >100 derajat. Dalam keadaan ini, penderita
lebih mudah mengalami penyakit paru-paru dan pneumonia. Keadaan inilah yang banyak
menyebabkan kematian pada kebanyakan penderita skoliosis.
b. Sakit tulang belakang.
Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami masalah
sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan menghidap
masalah sakit sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila
penderita berumur 50 atau 60 tahun.
c. Pada skoliosis yang lengkungan lebih dari 70 derajat, iga akan menekan paru-paru,
sehingga menimbulkan kesulitan bernapas.
d. Pada lengkungan lebih dari 100 derajat, kerusakan bukan hanya pada paru-paru, namun
juga pada jantung. Pada keadaan demikian infeksi paru terutama radang paru akan mudah
terjadi.
e. Pada beberapa penelitian, disebutkan bahwa skoliosis depan menimbulkan resiko
kehilangan densitas tulang (osteopenia). Terutama pada wanita yang menderita skoliosis
sejak remaja dan resiko menderita osteoporosis akan meningkat bersamaan dengan
bertambahnya usia.
f. Skoliosis tingkat ringan dan sedang baru menimbulkan keluhan bila sudah berusia diatas
35 tahun. Keluhan yang mereka derita biasanya sakit kronis di daerah pinggang yang
lebih dini dibandingkan orang yang normal seusianya. Hal ini akibat proses degenerasi
yang lebih dini

PENCEGAHAN
Pencegahan meliputi pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer agar ttidak
terkena skoliosis dan pencegahan sekunder bertujuan agar skoliosis ditemukan sedini mungkin.
Pencegahan primer dan sekunder meliputi :
Duduk dengan posisi yang benar
Hilangkan kebiasaan bertopang dagu
Berolahraga teratur, terutama olah raga yang menggunakan kedua sisi tubuh secara aktif
seperti berenang
Periksa didepan cermin tinggi pundak dan tinggi panggul anda
Apabila tinggi ada kelainan segeralah berkonsultasi dengan dokter Ortophedi atau
Rehabilitasi Medik.

PROGNOSIS
Prognosis tergantung kepada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan.
Semakin besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah
masa pertumbuhan anak berlalu.
Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki prognosis yang bik dan
cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain kemungkinan timbulnya sakit
punggung pada saat usia penderita semakin bertambah.
Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis yang
baik dan bisa hidup secara aktif dan sehat.
Penderita skoliosis neuromuskuler selalu memiliki penyakit lainnya yang serius
(misalnya cerebral palsy atau distrofi otot). Karena itu tujuan dari pembedahan biasanya
adalah memungkinkan anak bisa duduk tegak pada kursi roda.
Bayi yang menderita skoliosis kongenital memiliki sejumlah kelainan bentuk yang
mendasarinya, sehingga penanganannyapun tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali
pembedahan.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Rontgen tulang belakang.
X-Ray Proyeksi Foto polos : Harus diambil dengan posterior dan lateral penuh terhadap
tulang belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk menilai derajat kurva dengan
metode Cobb dan menilai maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural akan
memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi posterior-anterior, vertebra yang mengarah
ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva
diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.

b. Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang)


Skoliometer
Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai. Cara pengukuran
dengan skoliometer dilakukan pada pasien dengan posisi membungkuk, kemudian atur
posisi pasien karena posisi ini akan berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura,
sebagai contoh kurva dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi membungkuk
lebih jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian letakkan skoliometer pada apeks
kurva, biarkan skoliometer tanpa ditekan, kemudian baca angka derajat kurva.
Pada screening, pengukuran ini signifikan apabila hasil yang diperoleh lebih besar dari
5 derajat, hal ini biasanya menunjukkan derajat kurvatura > 200 pada pengukuran cobbs
angle pada radiologi sehingga memerlukan evaluasi yang lanjut.
c. MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).

Terapi
Berikut ini beberapa penanganan scoliosis yang melibatkan olah tubuh:
Chiropractic
Seorang chiropractor percaya bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk
menyembuhkan dirinya sendiri. Penanganan yang dilakukan chiropractor bersifat
memberdayakan tubuh agar kembali memiliki mekanisme dan sistem tubuh yang baik.
Menghadapi pasien scoliosis, chiropractor akan melakukan pemeriksaan dengan
mempelajari postur tubuh pasien (examine posture), mengamati pergerakan tubuh
(motion palpation), dan memeriksa ototnya (static palpation). Pasien diminta membuat
foto X-ray untuk memastikan kondisi kurva tulang belakangnya. Jika ditemukan adanya
masalah, akan dilakukan koreksi (adjustment) dan terapi, atau perawatan (treatment).
Pasien juga diminta melakukan latihan tertentu (exercise) dan olahraga yang disarankan.
Olahraga yang disarankan untuk pasien scoliosis antara lain berenang gaya bebas,
jogging, yoga, pilates, taichi.
Yoga
Gerakan yoga untuk pasien scoliosis ditujukan untuk mengoreksi dengan cara
menarik dan mengarahkan tulang belakang secara tepat, ke depan, samping kiri, dan
samping kanan. Demikian menurut Ann Barros, guru yoga asal Santa Cruz, Amerika
Serikat, yang sejak kecil menderita scoliosis bawaan. Gerakan ditujukan untuk menarik
dan mengembalikan tulang belakang pada posisinya yang alami. "Bukan lurus melainkan
ada lengkungannya, ujarnya.
Jadi, dalam menentukan terapi pasien scoliosis Ann Barros tidak bisa menerapkan
sembarang gerakan yoga, tetapi harus mengobservasi pasien terlebih dulu dengan melihat
hasil X-ray untuk mengetahui derajat keparahannya
Menurut Elise B. Miller, ahli yoga, dalam tulisannya di situs Yoga for teens with
Scoliosis, latihan gerakan yoga (asana) ditujukan untuk memperbaiki postur dan
meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, dengan cara menarik dan memperkuat otot-
otot yang menunjang tulang belakang. Posisi Adho Mukha Svanasana dan Urdhva
Mukha Svanasana baik untuk membentuk dan memperbaiki lengkungan dan rotasi
tulang belakang. Sedangkan Bharadvajasana untuk memperkuat kaki sebagai penyangga
tulang belakang.
Pilates
Ada enam prinsip dalam pilates yang efektif membantu penderita scoliosis, yaitu
concentration, control, centering, precision, flow of movement, dan correct breathing
technique. Demikian tutur Nancy Wuisan dari Pilates Bodymotion, Bimasena Club,
The Dharmawangsa Jakarta.
Concentration artinya setiap gerakan dan hitungan dalam pilates harus dilakukan
dengan penuh konsentrasi. Control artinva setiap gerakan harus terkontrol oleh pikiran,
jadi bukan pikiran yang dikontrol oleh tubuh. Centering artinya perhatian harus terpusat
pada tujuan berlatih pilates, misalnya tujuannya untuk meringankan scoliosis. Precision,
setiap gerakan harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat, misalnya kalau harus
mengangkat kaki setinggi 90 derajat ya harus tepat 90 derajat. Flow of movement berarti
gerakan yang dilakukan harus urut dan berkesinambungan, menggunakan napas yang
benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang
bersama otot-ototnva kembali berfungsi secara seimbang. Gabungan dari enam prinsip
dasar tersebutlah tulang akan membantu mengoreksi scoliosis. Postur tubuh dan
pernapasan yang benar, otot yang elastis, akan membuat organ tubuh termasuk tulang
belakang kembali berfungsi dengan baik. Pilates dengan bantuan alat-alat berusaha
menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian
menjadi lebih sehat. Latihan diberikan setahap demi setahap sesuai kemampuan pasien,
karena tidak semua gerakan cocok untuk semua pasien scoliosis. Dari gerakan-gerakan
awal, bisa diketahui tingkat keparahan pasien. Dengan demikian dirancanglah sebuah
program untuk mengatasi masalah yang dideritanya.
PENATALAKSANAAN
Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting :
1. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan
2. Mempertahankan fungsi respirasi
3. Mengurangi nyeri
4. memperbaiki status neurologis
Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih, dikenal sebagai The three Os adalah :
a. Observasi
Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu < 25o pada tulang
yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata-
rata tulang berhenti tumbuh pada saar usia 19 tahun. Pada pemantauan ini, dilakukan
kontrol foto polos tulang punggung pada waktu-waktu tertentu. Foto kontrol pertama
dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke dokter. Lalu sekitar 6-9 bulan berikutnya
bagi yang derajat < 20o dan 4-6 bulan bagi yang derajatnya >20o.
b. Orthosis
Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama
brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah :
1. Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 25o
2. Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25o
Jenis dari alat orthosis ini antara lain :
a. Milwaukee
b. Boston
c. Charleston bending brace
Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika digunakan secara teratur
23 jam dalam sehari hingga masa pertumbuhan anak berhenti.
3. Operasi
Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada skoliosis
adalah :
1. Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45o pada anak yang
sedang tumbuh
2. Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis
3. Terdapat derajat pembengkokan >50o pada orang dewasa
Risiko Operasi
1. Operasi skoliosis adalah operasi besar dimana risiko tidak berhasil dan komplikasi
bisa diperhitungkan antara 50% sampai 1%. Komplikasi operasi yang dapat timbul
adalah kehilangan darah, paru-paru terluka, tulang-tulang iga patah, lever dan
jantung terganggu, bahkan sampai terjadi kelumpuhan
2. Risiko-risiko ini harus sedapat mungkin diperkecil dengan alat-alat yang canggih
dan pengetahuan struktur ilmiah dari tulang. Dibedakan dengan 10 tahun yang lalu,
risiko operasi skoliosis di Jerman sekarang ini sangatlah minimal (di bawah 1%),
dibandingkan dengan di negara-negara lainnya.
Penatalaksanaan Medis
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi
kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20%,
biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan
secara teratur setiap 6 bulan.
Pada anak-anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30%,
karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu
memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston
efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari
sampai masa pertumbuhan anak berhenti.
Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler. Jika
kelengkungan mencapai 40% atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan. Pada pembedahan
dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang dipertahankan pada
tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20
tahun). Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan
tulang belakang.
Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang
dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang.
Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting :
1. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan
2. Mempertahankan fungsi respirasi
3. Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis

KESIMPULAN JURNAL
Jurnal skoliosis ini difokuskan pada deformitas tulang belakang. Bahkan meskipun ada
beberapa bukti awal yang mendukung menguatkan. Pengetahuan dilapangan belum
memungkinkan kita untuk mengklasifikasikan dan mengkategorikan kawat gigi yang sudah ada
mereka diluar nama-nama yang diusulkan oleh penulis asli. Akibatnya satu-satunya cara yang
mungkin untuk meningkatkan pengetahuan kolektif kita di lapangan adalah untuk
mempublikasikan apa yang dilakukan hari ini oleh dokter dengan keahlian yang paling dalam
dengan cara yang sistematis, sehingga untuk memungkinkan progresif perbandingan dan
pemahaman yang lebih dalam. Selain itu, diskusi harus terbuka antara para ahli. Kami yakin
bahwa dengan upaya baru jurnal akan menjadi sumber informasi yang penting ke dunia
manajemen deformitas tulang belakang dan akan meningkatkan pemahaman kami. Pemahaman
tentang bagaimana menguatkan efek hasil masalah ini. kami melakukan semua ini untuk
kepentingan pasien kita.

DAFTAR PUSAKA

Carpenito, Linda Juall. 2000. Buku Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta:
EGC.

Corwin, Elizabeth. J. 2007. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC.

Doenges,M.E., Geissler,A.C., (2000).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumntasian Perawatan Pasien. (edisi 3) Philadelphia : F.A.Davis
Company

dexa media jurnal kedokteran dan farmasi no.1 vol.21 januari-maret 2008 hal.27

www.klikdoktermenujusehat.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Scoliosis

http://irwanashari.blogspot.com/2008/01/skoliosis-idiopatik.html
http://medicastore.com/penyakit/960/Skoliosis.html

www.duniakedokterankecil.com

http://gladiolstrange.blogspot.com/2009/05/skoliosis.html