Anda di halaman 1dari 23

A.

Mikroba Dalam Air


1. Pengertian Air Bersih
Kehidupan makhluk hidup tak bisa lepas dari air. Air merupakan sumber
kehidupan bagi setiap makhluk yang bernyawa. Namun tidak semua jenis air yang
dapat digunakan untuk kehidupan dari makhluk yang berada di alam ini. Air di alam
ini terutama untuk kehidupan manusia merupakan hal yang sangat penting sekali baik
untuk minum, mandi, dan lain-lain. Namun, untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia dan makhluk hidup yang lain memerlukan air yang bersih dan terbebas dari
bakteri-bakteri yang merugikan bila kita mengkonsumsinya (Atlas, 2004).
Menurut Dwidjoseputro (1989), air tanah yang merupakan salah satu sumber air
bersih mangandung zat-zat anorganik maupun zat-zat organik yang merupakan tempat
yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme (kehidupan
mikroorganisme). Mikroorganisme yang autotrof merupakan penghuni pertama dalam
air yang mangandung zat-zat anorganik
Kualitas air bersih ditentukan oleh faktor-faktor kimia, fisika, maupun
bakteriologis. Faktor-faktor tersebut secara alami maupun karena campur tangan
manusia, misalnya karena pencemaran karena kegiatan pada lingkungan, akan
menentukan kualitas air bersih. Sebagaimana kenyataan bahwa air jernih belum tentu
bersih. Secara alami air bersih yang dihasilkan mata air atau sumur, ternyata sudah
mengandung mikroba, khususnya bakteri atau mikroalgae (Dwijoseputro, 1989).
Kandungan mikroorganisme dalam air alami sangat berbeda tergantung pada
lokasi dan waktu. Apabila air merembes dan meresap mealalui tanah akan membawa
sebagaian mikroorganisme bagian tanah yang lebih dalam. Air tanah pada umumnya
paling sedikit mengandung mikroorganisme dan air tanah yang terdapat pada bagian
yang dalam sekali hampir tidak mengandung mikroorganisme. Sebaliknya air
permukaan sering banyak mengandung mikroorganisme yang berasal dari tanah dan
dari organisme yang terdapat di danau-danau dan sungai-sungai. Kehadiran mikroba
di dalam air akan mendatangkan keuntungan dan kerugian (Dwijoseputro, 1989).
2. Pengertian Mikrobiologi Lingkungan Air
Mikrobiologi lingkungan air adalah ilmu yang mengacu pada studi tentang
mikroorganisme yang hidup di air atau yang dapat diangkat dari satu habitat yang lain
dengan air. Air merupakan materi esensial bagi kehidupan makhluk hidup karena
makhluk hidup memerlukan air untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Secara umum fungsi air dalam tubuh setiap mikroorganisme adalah untuk melarutkan
senyawa organik, menstabilkan suhu tubuh dan melangsungkan berbagai reaksi kimia
tingkat seluler (Dwijoseputro, 1989).
Ada dua jenis utama dari air yaitu:
a. Air Tanah
Air tanah merupakan air yang berasal dari sumur dalam dan mata air bawah
tanah. Air ini adalah air yang hampir bebas dari bakteri karena tindakan
penyaringan dalam tanah, pasir dan batu, namun mungkin menjadi terkontaminasi
ketika mengalir sepanjang saluran (Dwijoseputro, 1989).
Air tanah dalam pada umumnya tergolong bersih dilihat dari segi
mikrobiologis, karena sewaktu proses pengaliran air mengalami penyaringan
alamiah, dengan demikian kebanyakan mikroba sudah tidak lagi terdapat di
dalamnya. Sumber utama air tanah adalah presipitasi yang dapat menembus tanah
secara langsung ke air tanah atau mungkin memasuki sungai di permukaan tanah dan
merembes ke bawah melalui alur-alur ke air tanah. Sumber-sumber air tanah yang lain
adalah air dari lapisan jauh di bawah tanah yang terbawa keluar dalam batuan intrusif
serta air yang terjebak dalam batuan sediment. Keadaan geologis menentukan jalur
perjalanan air dari presipitasi hingga mencapai zona jenuh(Dwijoseputro, 1989).
b. Air Permukaan
Air ini air permukaan adalah air yang ditemukan di sungai, danau, dan sumur
dangkal. Udara melalui yang melewati hujan selalu mencemari air. Sumber lain
adalah berbagai jenis perusahaan dan pertanian, peternakan oleh sisi arus air.
Kemungkinan sumber kontaminasi mikroba dari tubuh air tanah dan limpasan
pertanian, peternakan hewan, air hujan, limbah industri, buangan dari instalasi
pengolahan air limbah dan badai kabur dari wilayah kota (Dwijoseputro, 1989).

3. Persyaratan Kualitas Air Bersih


Air bersih dalam kehidupan manusia merupakan salah satu kebutuhan paling
esensial, sehingga kita perlu memenuhinya dalam jumlah dan kualitas yang memadai.
Salain untuk dikonsumsi air bersih juga dapat dijadikan sebagai salah satu sarana
dalam meningkatkan kesejahteraan hidup melalui upaya peningkatan derajat
kesehatan (Dwijoseputro, 1989). Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk
kebutuhan manusia, maka kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu :
(a) Syarat fisik: air harus bersih dan tidak keruh, tidak berwarna, tidak berbau dan
tidak berasa, suhu antara 10o 25o C (sejuk).
(b) Syarat kimiawi: tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun, tidak
mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan, cukup yodium, pH air antara 6,5
9,2.
(c) Syarat bakteriologi: tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri,
kolera dan bakteri patogen penyebab penyakit (Suriawiria, 2005).
Dari uraian diatas menurut Suriawiria (2005), bahwa memenuhi syarat tidaknya
kualitas air untuk keperluan kehidupan, ditentukan oleh ketentuan dan persyaratan
secara fisik, kimia dan bakteriologi. Faktor-faktor biotis (dalam hal ini mikroba) yang
terdapat di dalam air, menurut Suriawiria (2005) terdiri dari:
a. Bakteri
b. Fungi(jamur)
c. Mikroalga
d. Protozoa
e. Virus
Pengadaan air bersih untuk kepentingan rumah tangga harus memenuhi
persyaratan yang sudah ditentukan sesuai peraturan Internasional (WHO dan APHA).
Kualitas air bersih di Indonesia sendiri harus memenuhi persyaratan yang tertuang di
dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No. 173/Men. Kes/Per/VIII/77. Menurut
Suriawiria (2005), kualitas tesebut menyangkut:
a. Kualitas Fisika, meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau, dan rasa.
b. Kualitas Kimia, yaitu yang berhubungan dengan adanya ion-ion senyawa
ataupun logam yang membahayakan dan pestisida.
c. Kualitas Biologi yaitu berhubungan dengan kehadiran mikroba patogen
(penyebab penyakit), pencemar, dan penghasil toksin.
Persyaratan Fisika Air
Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisika sebagai berikut:

1. Jernih atau tidak keruh.


Air yang keruh disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari tanah liat.
Semakin banyak kandungan koloid maka air semakin keruh. Terjadi peningkatan
kekeruhan dan hambatan aliran, hal tersebut disebabkan kelompok bakteri besi : Fe2+
(oksidasi oleh bakteri Crenothrix sphaerotilus) menjadi Fe3+ (Singleton, 1992).
Bahan-bahan yang mengakibatkan kekeruhan air, berdasarkan sifat
pengendapannya, dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :
a. Bahan yang mudah mengendap (settleable) dapat dihilangkan dengan proses-
proses pengendapan (sedimentasi) dan penyaringan (filtrasi).
b. Bahan yang sukar mengendap (koloidal) hanya dapat dihilangkan dengan
proses flokulasi dan koagulasi yang diikuti dengan proses sedimentasi dan
filtrasi, dimana diperlukan penambahan bahan kimia (koagulan) ke dalam air
(Singleton, 1992).
2. Tidak berwarna.
Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti
mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan. Warna air dapat
ditimbulkan oleh kehadiran mikroorganisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna,
dan ekstrak senyawa-senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan. Pada air tawar
biasanya terjadi Blooming yang menyebabkan perairan berwarna, ada endapan, dan
bau amis, disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan mikroalga (Anabaena flos-
aquae dan Microcystis aerugynosa) (Singleton, 1992).
2. Rasanya tawar.
Secara fisika, air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis, pahit
atau asin menunjukan air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garam-
garam tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam
organik maupun asam anorganik (Sutrisno, 2001).
3. Tidak berbau.
Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari
dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan organik yang sedang mengalami
dekomposisi (penguraian) oleh mikroorganisme air. Bau dan rasa dapat dihasilkan
oleh kehadiran organisme dalam air seperti alge serta oleh adanya gas seperti H2S
yang terbentuk dalam kondisi anaerobik, juga oleh adanya bahan organik tertentu.
Dari segi estetika, air yang berbau dan mempunyai rasa, sangat tidak menyenangkan
untuk diminum. Bau dan rasa dalam air juga dapat menunjukkan kemungkinan
adanya mikroorganisme penghasil bau dan rasa yang tidak enak serta adanya
senyawa-senyawa asing yang mengganggu kesehatan. Selain itu dapat pula
menunjukkan kondisi anaerobik sebagai hasil aktivitas penguraian senyawa organik
oleh kelompok mikroorganisme tertentu. Bakteri belerang : SO42" (reduksi oleh
bakteri Thiobacillus cromatium) menghasilkan H2S (menyebabkan bau busuk)
(Sutrisno, 2001).
4. Temperaturnya normal.
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat
kimia yang ada pada saluran/pipa, yang dapat membahayakan kesehatan dan
menghambat pertumbuhan mikro organisme (Sutrisno, 2001).
5. Tidak mengandung zat padatan.
Air minum mengandung zat padatan yang terapung di dalam air (Sutrisno, 2001).

Persyaratan Kimia
Kualitas kimia berhubungan dengan adanya ion-ion senyawa ataupun logam yang
membahayakan dan pestisida. Kandungan zat atau mineral yang bermanfaat dan tidak
mengandung zat beracun. Persayaratan kimia dari air yang berkualitas adalah sebagai berikut:
1) pH (derajat keasaman).
Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya disebabkan
gas Oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh yang menyangkut
aspek kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air minum dalam hal pH
yang lebih kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi dapat menyebabkan beberapa
senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat mengganggu kesehatan (Sutrisno,
2001).
2) Kesadahan.
Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahan nonkarbonat
(permanen). Kesadahan sementara akibat keberadaan Kalsium dan Magnesium
bikarbonat yang dihilangkan dengan memanaskan air hingga mendidih atau
menambahkan kapur dalam air. Kesadahan nonkarbonat (permanen) disebabkan oleh
sulfat dan karbonat, Chlorida dan Nitrat dari Magnesium dan Kalsium disamping Besi
dan Alumunium. Konsentrasi kalsium dalam air minum yang lebih rendah dari 75
mg/l dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih
tinggi dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah
yang lebih kecil magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan
tetapi dalam jumlah yang lebih besar 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual
(Sutrisno, 2001).
3) Besi.
Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa
logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal.
Besi merupakan salah satu unsur yang merupakan hasil pelapukan batuan induk yang
banyak ditemukan diperairan umum. Batas maksimal yang terkandung didalam air
adalah 1,0 mg/l (Sutrisno, 2001).
4) Aluminium.
Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No
82 / 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa
yang tidak enak apabila dikonsumsi (Sutrisno, 2001).
5) Zat organic.
Larutan zat organik yang bersifat kompleks ini dapat berupa unsur hara makanan maupun
sumber energi lainnya bagi flora dan fauna yang hidup di perairan (Sutrisno, 2001).
6) Sulfat.
Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras
pada alat merebus air (panci / ketel) selain itu juga mengakibatkan bau dan korosi pada
pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas (Sutrisno, 2001).
7) Nitrat dan nitrit.
Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat
terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari
oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar
dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan
hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat menghalang
perjalanan oksigen didalam tubuh (Sutrisno, 2001).
8) Klorida.
Dalam konsentrasi yang layak, tidak berbahaya bagi manusia. Chlorida dalam jumlah
kecil dibutuhkan untuk desinfektan namun apabila berlebihan dan berinteraksi dengan ion
Na+ dapat menyebabkan rasa asin dan korosi pada pipa air (Sutrisno, 2001).
9) Zink atau Zn.
Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l. Penyimpangan terhadap
standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual. Dalam jumlah kecil,
Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme, karena kekurangan Zink dapat
menyebabkan hambatan pada pertumbuhan anak (Sutrisno, 2001).
10. COD (Chemical Oxygen Demand)
COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan
oksidan misalnya kalium dikromat untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang
terdapat dalam air (Sutrisno, 2001). Kandungan COD dalam air bersih berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 mengenai baku mutu air minum golongan
B maksimum yang dianjurkan adalah 12 mg/l. apabila nilai COD melebihi batas
dianjurkan, maka kualitas air tersebut buruk.
11. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
BOD adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah
bahanbahan buangan didalam air (Sutrisno, 2001). Nilai BOD tidak menunjukkan
jumlah bahan organik yang sebenarnya tetepi hanya mengukur secara relatif jumlah
oksigen yang dibutuhkan. Penggunaan oksigen yang rendah menunjukkan kemungkinan
air jernih, mikroorganisme tidak tertarik menggunakan bahan organik makin rendah BOD
maka kualitas air minum tersebut semakin baik. Kandungan BOD dalam air bersih
menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82/2001 mengenai baku mutu air dan air
minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 6 mg/l (Sutrisno, 2001).
Persyaratan mikrobiologis
Kualitas Biologi yaitu berhubungan dengan kehadiran mikroba patogen (penyebab penyakit),
pencemar, dan penghasil toksin. Kandungan bakteri E. Coli dalam air berdasarkan ketentuan
WHO (1968), dalam hal jumlah maksimum yang diperkenankan per 100 ml adalah 1000, air
untuk kolam renang 200, dan air minum 1. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas air secara
biologis ditentukan oleh kehadiran bakteri E. Coli di dalamnya. Persyaratan mikrobiologis
yang harus dipenuhi oleh air adalah sebagai berikut:
a. Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya: bakteri golongan coli; Salmonella
typhi, Vibrio cholera dan lain-lain. Kuman-kuman ini mudah tersebar melalui air.
b. Tidak mengandung bakteri non patogen seperti: Actinomycetes, Phyto-plankton,
coliform, Cladocera dan lain-lain (Notoatmodjo , 2007).
4. Mikroorganisme Dalam Air Bersih
Pengelompokan Mikrobiologi Lingkungan Air
Perairan alami memiliki sifat yang dinamis dan aliran energi yang kontinyu hal ini
terjadi selama sistem di dalamnya tidak mendapatkan gangguan atau hambatan, antara
lain dalam bentuk pencemaran (Notoatmodjo , 2007). Berikut lingkungan perairan
meliputi:
(a) Lingkungan air laut di mana mikroorganisme terdapat di seluruh bagian laut dari
permukaan air laut sampai dasar relung yang terdalam. Di lingkungan laut lepas
memiliki populasi mikroorganisme yang relatif lebih rendah, di lingkungan pantai
populasi mikroorganisme terdapat lebih banyak. Hal ini karena lingkungan pantai
kaya akan nutrien yang berasal dari daratan (Notoatmodjo , 2007).
(b) Lingkungan air tawar di mana pada umumnya lingkungan perairan tawar lebih
banyak mengandung nutrien jika dibandingkan dengan lingkungan perairan laut
(Notoatmodjo, 2007). Lingkungan perairan tawar dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
- Habitat lentik contoh danau, kolam.
- Habitat lotik contoh mata air, sungai.
(C) Lingkungan perairan payau (peralihan air tawar ke air laut) atau merupakan
lingkungan perairan tawar merupakan daerah transisi antara perairan tawar dan laut
(Notoatmodjo, 2007).
Menurut Sutrisno (2001), jumlah dan jenis mikrooganisme yang terdapat di
dalam air bervariasi bergantung dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah:
(a) Sumber air. Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh
sumber air tersebut, misalnya air atmosfer (air hujan/salju), air permukaan
(danau, sungai), air tanah (sumur, mata air), air tergenang (air laut), dsb.
(b) Komponen nutrien dalam air. Air, terutama air buangan sering mengandung
komponen-komponen yang dibutuhkan oleh spesies mikroorganisme tertentu.
Semua air secara alamiah juga mengandung mineral-mineral yang cukup untuk
kehidupan mikroorganisme di dalam air.
(c) Komponen beracun. Komponen beracun yang terdapat di dalam air
mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air tersebut.
(d) Organisme air. Adanya organisme lain di dalam air dapat mempengaruhi jumlah
dan jenis mikroorganisme air sebagai contoh plankton merupakan organisme
yang makan bakteri, ganggang dan plankton lainnya, sehingga adanya plankton
dapat mengurangi jumlah organisme-organisme tersebut.
(e) Jumlah dan jenis mikroorganisme juga dipengaruhi oeh faktor-faktor fisik seperti:
suhu, pH, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik, aerasi, dan penetrasi sinar
matahari. Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air buangan selain
dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas juga dipengaruhi oleh jenis polutan air
tersebut. Misalnya air yang terpolusi oleh kotoran hewan dan manusia
mengandung bakteri-bakteri yang berasal dari kotoran seperti Esherchia coli,
Streptokoki fekal, Clostridium perfringens.
Pada lingkungan perairan terdapat mikroorganisme sama seperti lingkungan yang
lainnya (Singleton, 1992) . Kelompok mikroorganisme yang hidup di dalam air terdiri dari :
1. Bakteri
2. Alga biru-hijau
3. Fungi
4. Microalgae
5. Virus
6. Protozoa
Dalam air baik yang dianggap jernih, sampai terhadap air yang keadaannya sudah kotor
atau tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah kehidupan, yaitu misalnya yang
berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata air dan sebagainya, di dalamnya terdiri
dari:
Bakteri
Bakteri yang hidup di perairan umumnya uniseluler, tidak memiliki klorofil,
berkembang biak dengan pembelahan sel secara transversal atau biner, sebagian besar
( 80%) berbentuk batang, gram negatif, bergerak secara aktif. Secara umum
hidupnya saprofitik pada sisa buangan hewan atau tanaman yang sudah mati, ada juga
yang bersifat parasitik pada hewan, manusia dan tanaman yang dapat menyebabkan
penyakit (Singleton, 1992).
1. Kelompok bakteri besi (misalnya Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu
mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah
warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan
sebagainya.
2. Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu
mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Akibatnya kalau air disimpan lama akan
tercium bau busuk seperti bau telur busuk.
3. Kelompok mikroalge (misalnya yang termasuk mikroalga hijau, biru dan kersik),
sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasad-jasad yang
berwarna hijau, biru atau pun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-
jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya.
Mikroorganisme di perairan berdasarkan sifat tropiknya meliputi :
1. Mikroba autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan
sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi
seperti matahari dan kimia. Contohnya : Thiobacillus, Nitrosomonas, Nitrobacter.
2. Mikroba heterotrof adalah organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik
sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Contohnya
antara lain : Saprolegnia sp., Candida albicans, Trichopnyton rubrum.

Alga Biru Hijau


Alga tidak memiliki akar, batang dan daun yang mempunyai fungsi seperti tumbuhan
darat, wujud alga terdiri dari batang yang disebut thallus. Umumnya alga hidup secara
bebas di air atau bersimbiosis dengan jasad lain. Mempunyai bentuk uniseluler, filamen
yang mengelilingi tubuhnya banyak diselimuti dengan lendir. Merupakan divisi
Cyanophyta dengan beberapa kelas yaitu : Nostocales, Chroococcales, dan
Stigonematales, Hydrodictyon.
Fungi
Hidup tersebar luas, berbentuk uniseluler, umumnya berbentuk filamen atau serat yang
disebut miselia atau hifa. Contoh : Saprolegnia sp., Branchiomyces sanguinis,
Icthyophonus hoferi.
1. Saprolegnia
Saprolegnia adalah genus dari Oomycota. Saprolegnia hidup menempel pada tubuh
ikan atau hewan air lainnya. Saprolegnia berbentuk seperti lapisan selaput.
Saprolegnia bersifat saprotrof dan nekrotrof.
2. Branchiomycosis
Branchiomyces demigrans atau "Gill Rot (busuk insang)" disebabkan oleh jamur
Branchiomyces sanguinis dan Branchiomyces demigrans . Spesies jamur ini biasanya
dijumpai pada ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah (5.8 -6.5),
kandungan oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih dalam akuarium,
Branchiomyces sp.tumbuh pada temperatur 14 - 35C , pertumbuhan optimal biasanya
terjadi pada selang suhu 25 - 31C. Penyebab utama infeksi biasanya adalah spora
jamur yang terbawa air dan kotoran pada dasar akuarium. Tanda-tanda Penyakit
Branchiomyces sanguinis dan B. demigrans pada umumnya menyerang insang ikan.
3. Icthyophonus
Icthyophonus disebabkan oleh jamur Icthyophonus hoferi . Jamur ini tumbuh baik
pada air tawar maupun air asin (laut). Meskipun demikian, biasanya serangan jamur
ini hanya akan terjadi pada air dingin 2 - 20 C. Penyebaran Icthyophonus
berlangsung melalu kista yang terbawa kotoran ikan atau akibat kanibalisme terhadap
ikan yang terjangkit (Singleton, 1992).
Mikroalgae
Contoh : Chlorella sp., Pyrodinium bahamense, Trichadesmium erythraeum, salah
satu spesies dari Cyanobacterium, Noctiluca scintillans (satu spesies dari
Dinoflagellata) (Singleton, 1992).
Virus
Bentuk virus bermacam-macam antara lain : bentuk batang pendek, batang panjang,
bulat, bentuk polihedral. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Hanya memiliki satu
jenis asam nukleat. Contoh virus Coli-fag
Protozoa
Protozoa merupakan protista unisel, mikroskopis, berukuran yang bervariasi antara 10
500 mikron, hidup sebagai satu individu ada pula yang berkoloni. Protozoa terbagi
menjadi 3 yaitu amoeba/pseudoodia, siliata dan flagelata. Contoh : Cryptocaryon
irritans, Stylonycia sp., Entamoeba histolitika.
1. Trichodiniasis
Agen kausatif : Trichodina, Trichodinella, Tripartiella. Parasit ini menyerang
kulit dan insang ikan budidaya seperti bandeng, kakap, kerapu.
Trichodina pada insang ikan kerapu (koleksi Laboratorium BBAP Ujung Batee)
ciri-ciri:
parasit ini mudah berkembang pada kondisi air pemeliharaan yang kurang bersih
berbentuk seperti cawan dengan bulu getar disekililing tepi tubuhnya
diameter berkisar 100 nm
Jenis Metazoa
1. Cacing Kulit
kausatif agen : Benedenia sp, Neobenedenia sp, termasuk cacing trematoda
dan tergolong monogenia. Cacing ini menyerang kulit dan mata ikan budidaya
seperti kerapu, kakap.
ciri-ciri parasit :
berbentuk pipih agak oval
panjang 1-5 mm
bagian anterior terdapat sepasang alat penempel, sedangkan bagian posterior
terdapat achor yang dilengkapi alat pengait
4. Dampak Pencemaran mikroba
Dampak terhadap kualitas air tanah
Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform
telah terjadi dalam skala yang luas, hal ini telah dibuktikan oleh suatu survey sumur
dangkal di Jakarta. Banyak penelitian yang mengindikasikan terjadinya pencemaran
tersebut (Singleton, 1992).
Dampak terhadap kesehatan
Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain :
(a) air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen
(b) air sebagai sarang insekta penyebar penyakit
(c) jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat
membersihkan diri
(d) air sebagai media untuk hidup vector penyakit
Ada beberapa penyakit yang masuk dalam katagori water-borne diseases, atau
penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak terdapat di daerah-daerah.
Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam
sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan
jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain, bakteri, protozoa dan metazoa
(Sutrisno, 2001).
Tabel : Beberapa Penyakit Bawaan Air dan Agennya
Agen Penyakit
Virus
Rotavirus Diare pada anak
Virus Hepatitis A Hepatitis A
Virus Poliomyelitis Polio (myelitis anterior acuta)
Bakteri
Vibrio cholera Cholera
Escherichia Coli Diare/Dysenterie
Enteropatogenik
Salmonella typhi Typhus abdominalis
Salmonella paratyphi Paratyphus
Shigella dysenteriae Dysenterie
Protozoa
Entamuba histolytica Dysentrie amoeba
Balantidia coli Balantidiasis
Giarda lamblia Giardiasis
Metazoa
Ascaris lumbricoides Ascariasis
Clonorchis sinensis Clonorchiasis
Diphyllobothrium latum Diphylobothriasis
Taenia saginata/solium Taeniasis
Schistosoma Schistosomiasis
Sumber : KLH, 2004

6. Keuntungan & Kerugian Mikroorganisme Air


Kualitas air bersih ditentukan oleh faktor-faktor kimia, fisika, maupun
bakteriologis. Faktor-faktor tersebut secara alami maupun karena campur tangan
manusia, misalnya karena pencemaran karena kegiatan pada lingkungan, akan
menentukan kualitas air bersih. Sebagaimana kenyataan bahwa air jernih belum tentu
bersih. Secara alami air bersih yang dihasilkan mata air atau sumur, ternyata sudah
mengandung mikroba, khususnya bakteri atau mikroalgae. Pada air kotor atau tercemar
(air sungai, kolam, danau, dan sumber lainnya), disamping mikroba seperti pada air
jernih, juga kelompok mikroba penyebab penyakit, penghasil toksin, penyebab
blooming, penyebab korosi, penyebab deteriorasi, penyebab pencemaran, juga bakteri
coli (Singleton, 1992).
Secara umum, kehadiran mikroba di dalam air dapat menguntungkan tetapi juga
dapat merugikan. Beberapa keuntungan mikroba dalam air antara lain :
1. Banyak plankton, baik fitoplankton ataupun zooplankton merupakan makanan utama ikan,
sehingga kehadirannya merupakan tanda kesuburan perairan tersebut. Jenis-jenis
mikroalgae misalnya: Chlorella, Hydrodyction, Pinnularia, Scenedesmus,
Tabellaria.
2. Banyak jenis bakteri atau fungi di dalam badan air berlaku sebagai jasad dekomposer,
artinya jasad tersebut mempunyai kemampuan untuk mengurai atau merombak senyawa
yang berada dalam badan air. Sehingga kehadirannya dimanfaatkan dalam pengolahan
buangan di dalam air secara biologis.
3. Pada umumnya mikroalga mempunyai klorofil, sehingga dapat melakukan fotosintesis
dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air, kegiatan fotosintesis akan menambah
jumlah oksigen, sehingga nilai kelarutan oksigen akan naik/ber-tambah, ini yang
diperlukan oleh kehidupan di dalam air.
4. Kehadiran senyawa hasil rombakan bakteri atau fungi dimanfaatkan oleh jasad
pemakai/konsumen. Tanpa adanya jasad pemakai kemungkinan besar akumulasi
hasil uraian tersebut dapat mengakibatkan keracunan terhadap jasad lain, khususnya ikan.
5. Anabaena memiliki kemampuan untuk memfiksasi nitrogen dan dapat kita tersebar
luas di dalam air dan juga tanah yang lembab/basah. Spesies tertentu bersimbiosis
dengan tanaman tingkat tinggi, seperti Anabaena azollae dalam spesies Azolla (paku
air). Beberapa spesies telah berhasil digunakan dalam menyediakan oksigen pada
pertanaman padi sawah (Singleton, 1992).
Sedangkan kerugian adanya mikroba dalam air antara lain :
1. Yang paling dikhawatirkan, bila di dalam badan air terdapat mikroba penyebab penyakit,
seperti: Salmonella penyebab penyakit tifus/paratifus, Shigella penyebab penyakit
disentri basiler, Vibrio penyebab penyakit kolera, Entamoeba penyebab disentri
amuba.
2. Di dalam air juga ditemukan mikroba penghasil toksin seperti : Clostridium yang hidup
anaerobik, yang hidup aerobik misalnya : Pseudomonas, Salmonella, Staphyloccus,
serta beberapa jenis mikroalgae seperti Anabaena dan Microcystis
3. Sering didapatkan warna air bila disimpan cepat berubah, padahal air tersebut berasal dari
air pompa, misal di daerah permukiman baru yang tadinya persawahan. Ini disebabkan
oleh adanya bakteri besi misal Crenothrix yang mempunyai kemampuan untuk
mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri.
4. Di pemukiman baru yang asalnya persawahan, kalau air pompa disimpan menjadi
berbau (bau busuk). Ini disebabkan oleh adanya bakteri belerang misal Thiobacillus
yang mempunyai kemampuan mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S.
5. Badan dan warna air dapat berubah menjadi berwarna hijau, biru-hijau tau warna-warna
lain yang sesuai dengan warna yang dimiliki oleh mikroalgae. Bahkan suatu proses
yang sering terjadi pada danau atau kolam yang besar yang seluruh permukaan airnya
ditumbuhi oleh algae yang sangat banyak dinamakan blooming. Biasanya jenis
mikroalgae yang berperan didalamnya adalah Anabaena flosaquae dan Microcystis
aerugynosa. Dalam keadaan blooming sering terjadi kasus-kasus :
- Ikan mati, terutama yang masih kecil yang disebabkan karena jenis-jenis mikroalgae
tersebut dapat menghasilkan toksin yang dapat meracuni ikan.
- Korosi atau pengkaratan terhadap logam (yang mengandung senyawa Fe atau S), karena
di dalam massa mikroalgae penyebab blooming didapatkan pula bakteri Fe atau S
penghasil asam yang korosif.

Bakteri Merugikan Dalam Mikrobiologi Lingkungan Air


Bakteri yang hidup di perairan umumnya uniseluler, tidak memiliki klorofil,
berkembang biak dengan pembelahan sel secara transversal atau biner, sebagian besar (
80%) berbentuk batang, gram negatif, bergerak secara aktif. Secara umum hidupnya
saprofitik pada sisa buangan hewan atau tanaman yang sudah mati, ada juga yang bersifat
parasitik pada hewan, manusia dan tanaman yang dapat menyebabkan penyakit
(Singleton, 1992). Contoh bakteri yang banyak dijumpai di laut: Pseudomonas, Vibrio,
Flavobacterium, Achromobacter dan Bacterium.
1. Vibrio (Vibrio cholerae). Vibrio adalah salah satu jenis bakteri yang tergolong dalam
kelompok marine bacteria. Bakteri ini umumnya memiliki habitat alami di laut.
Sejumlah spesies Vibrio yang dikenal sebagai patogen seperti V. alginolyticus, V.
anguillarum, V. carchariae, V. cholerae, V. harveyii, V. ordalii dan V. Vulnificus.
Gejala yang ditimbulkan dari bakteri ini adalah diare yang sangat parah, muntah-
muntah, kehilangan cairan sangat banyak sehingga menyebabkan kejang dan lemas
(Singleton, 1992).
2. Shigella sp. Shigella adalah genus dari Gram-negatif, non-motil, bakteri endospor
berbentuk-tongkat yang berhubungan dekat dengan Escherichia coli dan Salmonella.
Shigella merupakan penyebab dari penyakit shigellosis pada manusia, selain itu,
Shigella juga menyebabkan penyakit pada primata lainnya, tetapi tidak pada mamalia
lainnya (Singleton, 1992).
3. Eschericia coli (strain patogen) menyebabkan diare. Gejala yang ditimbulkan dari
bakteri ini adalah buang air besar berkali-kali dalam sehari, kotoran encer
(mengandung banyak air), terkadang diikuti rasa mulas atau sakit perut (Singleton,
1992).
4. Salmonella typhi menyebabkan tifus. Gejala yang ditimbulkan dari bakteri ini adalah
sakit kepala, demam, diare, muntah-muntah, peradangan dan pendarahan usus.
5. Shigella dysentriae menyebabkan disentri. Gejala yang ditimbulkan infeksi usus besar,
diare, kotoran mengandung lendir dan darah, sakit perut (Singleton, 1992).
6. Cyanobacteria adalah mikroorganisme yang sangat umum ditemukan dalam air. Warna
air kebiruan-hijau di kolam atau selokan yang dikaitkan dengan organisme ini. Nostoc
dan Anabaena adalah cyanobacteria umum yang ditemukan dalam air kolam.
Anabaena diketahui berperan dalam menfiksasi nitrogen, dan Anabaena membentuk
hubungan simbiosis dengan tanaman tertentu seperti paku-pakuan. Terdapat satu dari
4 genera dari cyanobacteria yang menghasilkan neurotoxin, yang membahayakan
margasatwa lokal seperti halnya hewan ternak dan hewan peliharaan. Spesies tertentu
dari Anabaena telah digunakan dalam pertanaman padi sawah, sebagai penyedia
pupuk alami yang efektif (Singleton, 1992).

Alga Hijau Merugikan Dalam Mikrobiologi Lingkungan Air


Alga tidak memiliki akar, batang dan daun yang mempunyai fungsi seperti tumbuhan
darat, wujud alga terdiri dari batang yang disebut thallus. Umumnya alga hidup secara
bebas di air atau bersimbiosis dengan jasad lain. Mempunyai bentuk uniseluler, filamen
yang mengelilingi tubuhnya banyak diselimuti dengan lendir. Kehadiran alga hijau dalam
air dapat meyebabkan perubahan warna air, air menjadi licin karena dapat menghasilkan
lendir, dapat menimbulkan bau dan rasa pada air (Singleton, 1992).
1. Spesies Hydrodictyon africanum, Hydrodictyon indicum, Hydrodictyon patenaeforme,
Hydrodictyon reticulatum.
2. Chlorella adalah genus ganggang hijau bersel tunggal yang hidup di air tawar, laut,
dan tempat basah. Spesies Chlorella seperti Chlorella vulgaris, Chlorella
pyrenoidosa, Chlorella pyrenoidosa. Peranan Chlorella bagi kehidupan manusia
antara lain, digunakan dalam penyelidikan metabolisme di laboratorium sebagai SCP
(Single Cell Protein) atau Protein Sel Tunggal. Juga dimanfaatkan sebagai bahan
kosmetik dan bahan makanan, bahan obat-obatan yang dimasukkan dalam kapsul dan
dijual sebagai suplemen makanan dikenal dengan Sun Chlorella.

Jamur Merugikan Dalam Mikrobiologi Lingkungan Air


Jamur hidup tersebar luas, berbentuk uniseluler, umumnya berbentuk filamen
atau serat yang disebut miselia atau hifa (Singleton, 1992). Contohnya Saprolegnia
sp., Branchiomyces sanguinis, Icthyophonus hoferi. Berikut contohnya:
1. Branchiomyces atau "Gill Rot (busuk insang)" disebabkan oleh jamur Branchiomyces
sanguinis dan Branchiomyces demigrans. Spesies jamur ini biasanya dijumpai pada
ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah (5.8 -6.5), kandungan
oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih dalam akuarium,
Branchiomyces sp. tumbuh pada temperatur 14 - 35C, pertumbuhan optimal biasanya
terjadi pada selang suhu 25 - 31C. Penyebab utama infeksi biasanya adalah spora
jamur yang terbawa air dan kotoran pada dasar akuarium. Tanda-tanda Penyakit
Branchiomyces sanguinis dan B. demigrans pada umumnya menyerang insang ikan.
2. Icthyophonus disebabkan oleh jamur Icthyophonus hoferi . Jamur ini tumbuh baik pada
air tawar maupun air asin (laut). Meskipun demikian, biasanya serangan jamur ini
hanya akan terjadi pada air dingin 2 - 20 C. Penyebaran Icthyophonus berlangsung
melalui kista yang terbawa kotoran ikan atau akibat kanibalisme terhadap ikan yang
terjangkit.

Virus Merugikan Dalam Mikriobiologi Lingkungan Air


Bentuk virus bermacam-macam antara lain bentuk batang pendek, batang
panjang, bulat, bentuk polihedral. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Hanya
memiliki satu jenis asam nukleat seperti virus polifag (Singleton, 1992). Berikut
contoh merugikan:
1. Virus hepatitis A menyebabkan penyakit hepatitis. Gejala yaitu demam, sakit kepala,
sakit perut, kehilangan selera makan, pembekakan hati sehingga tubuh menjadi
kuning. Virus ini dikeluarkan oleh orang yang membuang tinja, dan jika kotoran
mencemari pasokan air, maka virus ini dibawa dalam air sampai dikonsumsi oleh
manusia.
2. Virus polio menyebabkan penyakit Poliomyelitis. Gejala yaitu tenggorokan sakit,
demam, diare, sakit pada tungkai dan punggung, kelumpuhan dan kemunduran
fungsi otot.

Protozoa Merugikan Dalam Mikrobiologi Lingkungan Air


Protozoa merupakan protista unisel, mikroskopis, berukuran yang bervariasi antara 10
500 mikron, hidup sebagai satu individu ada pula yang berkoloni. Protozoa terbagi
menjadi 3 yaitu amoeba/pseudoodia, siliata dan flagelata. Contoh : Cryptocaryon
irritans, Stylonycia sp., Entamoeba histolitika.
1. Trichodiniasis, dengan agen kausatif : Trichodina, Trichodinella, Tripartiella. Parasit
ini menyerang kulit dan insang ikan budidaya seperti bandeng, kakap, kerapu pada
perairan tawar.
2. Entamoeba histolytica menebabkan penyakit disentri amoeba. Gejalanya sama seperti
disentri oleh bakteri.
3. Balantidium coli menyebabkan penyakit balantidiasis. Gejala yang ditimbulkan
adalah peradangan usus, diare berdarah.
4. Giardia lamblia menyebabkan penyakit giardiasis. Gejala yang ditimbulkan adalah
diare, sakit perut, terbentuk gas dalam perut, bersendawa kelelahan. Penyakit ini
ditularkan melalui air yang hidup secara parasit di usus manusia dan hewan. Mereka
memiliki dua tahap, salah satunya adalah bentuk kista yang bisa ditelan dari air yang
terkontaminasi. Setelah kista memasuki perut, organisme dilepaskan ke saluran
pencernaan di mana ia akan menempel pada dinding usus. Akhirnya protozoa akan
pindah ke usus besar di mana mereka encyst lagi dan diekskresikan dalam tinja dan
kembali ke lingkungan.
Giardia memasuki pasokan air melalui kontaminasi oleh bahan tinja. Bahan tinja bisa
masuk ke air dari:
Limbah dibuang ke air melalui kontaminasi silang dan garis air limbah.
Limbah langsung dibuang dari limbah pabrik kecil ke danau atau sungai.
Limbah dibuang ke danau atau sungai dari toilet kabin.
Hewan membawa kista, menyimpan feces mereka langsung ke dalam air.
Curah hujan memindahkan kista diendapkan dari hewan pada tanah ke badan air. Jika
air terkontaminasi dengan giardia, adalah mungkin untuk membunuh kista hanya
dengan air mendidih.
5. Schistosoma sp. (cacing pipih) menyebabkan penyakit Schistosomiasis. Gejala yang
ditimbulkan adalah gangguan pada hati dan kantung kemih sehingga terdapat darah
dalam urin, diare, tubuh lemas, sakit perut yang terjadi berulang-ulang.
6. Cryptosporidium parvum adalah parasit protozoa yang menyebabkan
Cryptosporidiosi. Gejala-gejala yang ditimbulkan meliputi diare, sakit kepala, kram
perut, mual, muntah, dan demam rendah.

Jenis Metazoa (Cacing Parasit) Dalam Mikrobiologi Lingkungan Air


Cacing adalah cacing parasit yang tumbuh dan berkembang biak dalam kotoran dan
tanah basah. Mereka memasuki tubuh dengan membenamkan melalui kulit, atau dengan
konsumsi dari worm di salah satu siklus hidup banyak fasenya. Telur dan bentuk larva
dari cacing yang cukup besar untuk terjebak selama perawatan air konvensional, sehingga
mereka cenderung tidak menjadi masalah dalam sistem air (Singleton, 1992). Beberapa
contoh jenis cacing yang merugikan sebagai berikut:
1. Ascaris lumbricoides (cacing gelang) menyebabkan penyakit ascariasis pada manusia.
Gejala yang ditimbulkan adalah demam, sakit perut yang parah, malabsorbsi, muntah-
muntah, kelelahan.
2. Taenia saginata (cacing pita) menyebabkan penyakit taeniasis. Gejala yang
ditimbulkan adalah gangguan pencernaan, rasa mual, kehilangan berat badan, rasa
gatal di anus.

B. Pengujian kemurnian Air


Air adalah sumber potensial yang paling penting untuk penyakit menular dan sumber
potensial untuk keracunan yang diinduksi secara kimia. Ini karena air merupakan salah
satu sumberdaya yang penting yang dimanfaatkan oleh masyarakat banyak khususnya
pada suatu tempat. Semua orang di kota-kota ini harus menggunakan air yang tersedia,
dan air yang terkontaminasi memiliki potensi untuk menyebarkan penyakit ke semua
individu yang terpapar. Kualitas air merupakan faktor tunggal terpenting untuk
memastikan kesehatan masyarakat. Metode yang biasa digunakan untuk menilai kualitas
air bergantung pada teknik mikrobiologi dan kimia standar. Protokol pemurnian limbah
dan pengobatan menggunakan cara fisik, kimia, dan biologi untuk mengidentifikasi,
menghilangkan, dan menurunkan polutan (Brock, 2006).
Infeksi usus karena patogen yang ditularkan melalui air merupakan kejadian yang
paling umum, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat diperkirakan
mengindikasikan penyakit pada orang setiap tahunnya. Praktek pengolahan air,
bagaimanapun telah memperbaiki akses terhadap air bersih secara signifikan, dimulai
dengan proyek pekerjaan umum ditambah dengan penerapan dan pengembangan
mikrobiologi air pada awal abad ke-20 (Brock, 2006).
Metode kultur penghitungan coliform dikembangkan dan disesuaikan sekitar tahun
1906. Pada saat itu, pemurnian air terbatas pada filtrasi untuk mengurangi kekeruhan.
Meskipun filtrasi secara signifikan mengurangi beban mikroba air, banyak
mikroorganisme masih melewati filter. Sekitar tahun 1913, klorin mulai digunakan
sebagai desinfektan untuk persediaan air yang besar. Gas klorin adalah desinfektan umum
yang efektif dan murah untuk air minum, dan penggunaannya dengan cepat mengurangi
kejadian penyakit yang ditularkan melalui air. Gambar 35.4 mengilustrasikan penurunan
drastis kejadian demam tifoid (disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Typhi) di
sebuah kota besar di Amerika Serikat setelah prosedur pemurnian menggunakan filtrasi
dan klorinasi diperkenalkan. Hasil serupa diperoleh di kota lain. Perbaikan besar dalam
kesehatan masyarakat di Amerika Serikat, dimulai menjelang awal abad ke-20, sebagian
besar disebabkan oleh penerapan prosedur penyaringan dan disinfeksi air di pabrik air
limbah dan air minum skala besar yang dioperasikan secara publik. Efektivitas filtrasi dan
klorinasi dipantau dengan uji coliform. Rekayasa pekerjaan umum dan mikrobiologi
adalah kontributor terpenting bagi kemajuan dramatis kesehatan masyarakat di negara
maju di abad ke-20 (Brock, 2006).

Pemurnian air minum


Air limbah yang diolah dengan metode sekunder biasanya bisa dibuang ke sungai dan
sungai. Namun, air seperti itu tidak bisa diminum (aman dikonsumsi manusia). Produksi
air minum memerlukan penanganan lebih lanjut untuk menghilangkan patogen potensial,
menghilangkan rasa dan bau, mengurangi zat kimia gangguan seperti besi dan mangan,
dan mengurangi kekeruhan, yang merupakan ukuran padatan tersuspensi. Suspensi
padatan adalah partikel kecil polutan padat yang menolak pemisahan dengan cara fisik
biasa (Brock, 2006).
Pemurnian Fisik dan Kimia
Instalasi pengolahan air minum khas kota ditunjukkan pada Gambar 35.10a. Gambar
35.10b menunjukkan proses yang memurnikan air baku (juga disebut air yang tidak
diobati) yang mengalir melalui pabrik pengolahan. Air baku pertama kali dipompa dari
sumbernya, dalam hal ini sebuah sungai, ke cekungan sedimentasi dimana polimer
anionik, alum (aluminium sulfat), dan klorin ditambahkan. Sedimen, termasuk tanah,
pasir, partikel mineral, dan partikel besar lainnya, mengendap. Air sedimen bebas
kemudian dipompa ke cekungan atau cekungan koagulasi, yang merupakan tangki
penahan besar dimana koagulasi terjadi. Tawas dan polimer anion membentuk partikel
besar dari padatan tersuspensi yang jauh lebih kecil. Setelah pencampuran, partikel terus
berinteraksi, membentuk massa agregat besar, sebuah proses yang disebut flokulasi.
Partikel agregat besar (flok) diselesaikan dengan gravitasi, menjebak mikroorganisme dan
menyerap bahan organik dan sedimen tersuspensi(Brock, 2006).
Setelah koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi, air yang diklarifikasi mengalami filtrasi
melalui serangkaian filter yang dirancang untuk menghilangkan zat kimia organik dan
anorganik, serta sisa partikel dan mikroorganisme tersuspensi. Filter biasanya terdiri dari
lapisan tebal pasir, arang aktif, dan penukar ion. Bila dikombinasikan dengan langkah
pemurnian sebelumnya, air yang disaring bebas dari bahan partikulat, kebanyakan bahan
kimia organik dan anorganik, dan hampir semua mikroorganisme (Brock, 2006).

Disinfeksi
Klarifikasi, air yang disaring harus didesinfeksi sebelum dilepaskan ke sistem
pasokan sebagai air bersih murni murni. Desinfeksi primer adalah pengenalan desinfektan
yang cukup ke dalam air yang telah disaring dan disaring untuk membunuh
mikroorganisme yang ada dan menghambat pertumbuhan mikroba lebih lanjut. Klorinasi
adalah metode disinfeksi primer yang paling umum. Dalam dosis yang cukup, klorin
membunuh sebagian besar mikroorganisme dalam 30 menit. Beberapa protista patogen
seperti Cryptosporidium, bagaimanapun, tidak mudah dibunuh dengan pengobatan klorin
(Brock, 2006).
Selain membunuh mikroorganisme, klorin mengoksidasi dan efektif menetralkan
banyak senyawa organik. Karena kebanyakan bahan kimia penghasil rasa dan bau adalah
senyawa organik, klorinasi meningkatkan rasa dan bau air. Klorin ditambahkan ke air
baik dari larutan konsentrat sodium hipoklorit atau kalsium hipoklorit, atau sebagai gas
klorin dari tangki bertekanan. Gas khlor biasa digunakan di instalasi pengolahan air besar
karena paling bisa diawasi secara otomatis. Ketika dilarutkan dalam air, gas klorin sangat
mudah menguap dan menghilang beberapa jam dari air yang diolah. Untuk
mempertahankan kadar klorin yang memadai untuk disinfeksi primer, banyak pabrik
pengolahan air di kota mengenalkan gas amonia dengan klorin untuk membentuk
senyawa chloramine yang mengandung senyawa klorida yang tidak mengandung karbon,
HOCl 1 NH3SNH2Cl 1 H2O. Klorin dikonsumsi saat bereaksi dengan bahan organik.
Oleh karena itu, jumlah klorin yang cukup harus ditambahkan ke air jadi yang
mengandung bahan organik sehingga jumlahnya sedikit, yang disebut residu klorin, tetap
ada. Residu klorin bereaksi untuk membunuh mikroorganisme yang tersisa (Brock, 2006).
Operator air minum melakukan analisis klorin pada air yang diolah untuk menentukan
kadar klorin yang akan ditambahkan untuk disinfeksi sekunder, pemeliharaan residu
klorin yang cukup atau residu desinfektan lainnya dalam sistem distribusi air untuk
menghambat pertumbuhan mikroba. Tingkat residu klorin 0,2-0,6 mg / liter sangat sesuai
untuk sebagian besar persediaan air. Setelah perawatan klorin, air yang sekarang diminum
dipompa ke tangki penyimpanan yang mengalir melalui gravitasi atau pompa melalui
sistem distribusi tangki penyimpanan dan jalur suplai ke konsumen. Sisa kadar klorin
menghambat pertumbuhan bakteri dalam air jadi sebelum mencapai konsumen. Ini tidak
melindungi dari kegagalan sistem bencana seperti pipa yang rusak dalam sistem
distribusi. Untuk mempertahankan kadar residu klorin di seluruh sistem distribusi,
sebagian besar pabrik pengolahan air di kota juga mengenalkan gas amonia dengan klorin
untuk membentuk kloramin (Brock, 2006).
Radiasi UV juga digunakan sebagai sarana desinfeksi yang efektif. Seperti yang telah
kita bahas di Bagian 26.2, radiasi UV digunakan untuk mengobati efluen yang diolah dari
pengolahan air. Di Eropa, iradiasi UV biasa digunakan untuk aplikasi air minum, dan ini
semakin banyak digunakan di Amerika Serikat. Untuk desinfeksi, sinar UV dihasilkan
dari lampu uap merkuri. Output energi utama mereka adalah 253,7 nm, panjang
gelombang yang bersifat bakteriosidal dan juga dapat membunuh kista dan ookista
protista seperti Giardia dan Cryptosporidium, patogen eukariotik penting dalam air.
Virus, bagaimanapun, lebih tahan (Brock, 2006).
Radiasi UV memiliki beberapa keunggulan dibandingkan prosedur disinfeksi kimia
seperti klorinasi. Pertama, penyinaran UV adalah proses fisik yang tidak memasukkan
bahan kimia ke dalam air. Kedua, peralatan penghasil radiasi UV dapat digunakan pada
sistem aliran yang ada. Ketiga, tidak ada desinfeksi produk sampingan yang terbentuk
dengan desinfeksi UV. Terutama di sistem yang lebih kecil dimana air jadi tidak dipompa
jarak jauh atau ditahan dalam waktu lama (mengurangi kebutuhan akan klorin residual),
desinfeksi UV mungkin lebih baik untuk mengurangi ketergantungan pada klorinasi
(Brock, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2002. SK Menteri Kesehatan No. 907/Menkes/VIII/, Tentang


Standarisasi Baku Mutu Air dan Badan Dalam Air. Departemen Kesehatan. Jakarta.

Dwidjoseputro. 1976. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.

Suriawiria Unus. 2005. Air Dalam Kehidupan dan Lingkungan Yang Sehat. Bandung:
Alumni.
Singleton, P. 1992. Introduction to Bacteria for Student of Biology Biotecnology and
Medicine. Academyc Press. Inc. New York.
Sutrisno. 2001. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Rineke Cipta.
Notoatmodjo. Doekidjo. 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineke Cipta.
Broock. 2006. Biology of Microorganisms. New York: Pearson Education.