Anda di halaman 1dari 21

Dosen Pengampu : Ibu Herlina Helmy, SE, Akt., M.S.

ak

Disusun Oleh Kelompok :

1. Laura Widya ( 16043147 )


2. Deby Winelfia ( 16043138 )
3. Sri Rahayu Ramadhani ( 16043162 )
4. Rafky Aulia ( 16043154 )
5. Azhari Pratama ( 16043130 )
BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Dalam pembelajaran akuntansi perpajakan baiknya kita mengetahui tentang apa yang

ada didalam ilmu ini. Salah satu yang terdapat didalamnya adalah tentang Aset Tetap

yang akan kami uraikan di dalam makalah kami ini yang mencakup bahasan Aset Tetap.

Aset tetap sangat berarti terhadap kelayakan laporan keuangan, kesalahan dalam

menilai aset tetap berwujud dapat mengakibatkan kesalahan yang cukup material karena

nilai investasi yang ditanamkan pada aktiva tetap relative besar. Mengingat pentingnya

akuntansi aset tetap dalam laporan keuangan tersebut, maka perlakuannya harus

berdasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No.16).

Aset tetap tersebut dalam penyajiannya pada laporan keuangan seharusnya

membebankan biaya depresiasi yang dimiliki secara konsisten pada setiap periode

dengan menggunakan metode yang dianggap sesuai dengan standart akuntansi di

Indonesia, agar diketahui nilai sisanya pada akhir periode.

Dalam perpajakan perlakuan akuntansi atas aset tetap tidak seluruhnya sama dengan

Pernyatan setandar akuntansi keuangan (PSAK) dikarenakan dalam perpajakan terdapat

undang undang yang lebih mengikat atau memaksa sehingga alam akuntasi perpajakan

tidak dapat mengikuti PSAK secara keseluruhan. Oleh karena itu kami akan menguraikan

mengenai Akuntansi perpajakan yang ada di Indonesia dengan materi Akuntansi Pajak

Atas Aset Tetap & Aset Tidak Berwujud.


BAB II

Pembahasan

Definisi :

Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan
administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Gambar 1 : Definisi Aset Tetap

Menurut PSAK No. 16 (Revisi 2007) :


Isu utama dalam akuntansi aset tetap adalah :
Pengakuan aset
Penentuan jumlah tercatat
Pembebaban penyusutan
Rugi penurunan nilai
Pengakuan :
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika :
a) Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut
akan mengalir ke entitas; dan
b) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Penentuan jumlah tercatat :

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya harus
diukur sebesar biaya perolehan.

Biaya perolehan adalah :


Jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan lain yang
diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi atau jika dapat
diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke aset pada saat pertama kali diakui sesuai dengan
persyaratan tertentu dalam PSAK lain.
Biaya perolehan aset tetap meliputi :
1. Harga perolehannya (termasuk impor pajak pembelian yg tidak boleh dikreditkan
setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan- potongan lain.
2. Biaya biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi
dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan
maksud manajemen.
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset.
Contoh biaya yang diatribusikan secara langsung :
1. Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari pembangunan atau akuisisi aset
tetap.
2. Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
3. Biaya handling dan penyerahan awal
4. Biaya perakitan dan instalasi
5. Biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi hasil bersih
penjualan produk yang dihasilkan sehubungan dengan pengujian tersebut.
6. Komisi profesional
Contoh biaya - biaya yang bukan merupakan biaya perolehan aset tetap:
1. Biaya pembukaan fasilitas baru
2. Biaya pengenalan produk baru (termasuk iklan & aktivitas promosi)
3. Biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan baru (termasuk
biaya pelatihan staff); dan
4. Administrasi dan biaya overhead umum lainnya.
Contoh :

Harga bangunan termasuk tanah Rp. 300.000.000,-

(termasuk biaya notaris, bea balik nama, BPHTB, dll).

Harga wajar tanah Rp. 150.000.000,- dan harga wajar bangunan Rp. 100.000.000,-

Alokasi harga perolehannya dapat dihitung sbb:

No. Jenis Aset Harga Wajar Alokasi Harga Perolehan

15/25 x
1 Tanah 150.000.000 300.000.000 180.000.000

10/25 x
2 Bangunan 100.000.000 300.000.000 120.000.000

250.000.000 300.000.000

Jurnal yang diperlukan :

Debit Kredit

Tanah 180.000.000 -

Bangunan 120.000.000 -
Kas dan Bank 300.000.000

Pembebaban penyusutan :

Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur
manfaatnya.

Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan cukup signifikan terhadap total
biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan secara terpisah.

Beban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laporan laba rugi kecuali jika beban
tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lainnya.

Menurut Undang Undang Pajak Penghasilan Pasal 11 :

Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan,


atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan,
hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah
ditentukan bagi harta tersebut.

Perbandingan:

Penyusutan dimulai pada bulan


dilakukannya pengeluaran, kecuali
untuk harta yang masih dalam
Menurut Undang - Undang
Pajak Penghasilan Pasal 11
proses pengerjaan, penyusutannya
dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tersebut.

Penyusutan aset dimulai pada saat aset


tersebut siap untuk digunakan, yaitu
pada saat aset tersebut berada pada
Menurut PSAK No. 16 lokasi dan kondisi yang diinginkan agar
( Revisi 2007 ) aset siap digunakan sesuai dengan
keinginan dan maksud manajemen.
Jumah yg dapat disusutkan dan periode penyusutan:
1. Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset dialokasikan secara sistematis sepanjang
umur manfaatnya.
2. Nilai residu dan umur manfaat setiap aset tetap harus direview minimum setiap akhir
tahun buku dan apabila ternyata hasil review berbeda dengan estimasi sebelumnya
maka perbedaan tersebut harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi
sesuai dengan PSAK 25.
Metode Penyusutan : ( PSAK 16)

Metode penyusutan yg digunakan untuk aset harus direview minimum setiap akhir tahun buku,
dan apabila terjadi perubahan yg signifikan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomi
mada depan dari aset tersebut, maka metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan
perubahan pola tersebut.

Metode penyusutan :
1. Metode Garis Lurus ( Straight Line Method )
2. Metode Saldo Menurun Ganda ( Double Declining Balance Method )
3. Metode Jumlah Unit ( Sum Of The Unit Method )
Perbandingan Metode Penyusutan :

PSAK No. 16 Undang - Undang Pajak


Penghasilan
Metode Garis Lurus
( Straight Line Method )

Metode Saldo Menurun Ganda


( Double Declining Balance Method)

Metode Jumlah Unit


( Sum Of The Unit Method )
Pernyataan standar Akuntansi Keuangan No. 16 (Revisi 2007) bertujuan untuk

mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, agar pengguna laporan keuangan dapat

memahami informasi mengenai investasi entitas di asset tetap, dan perubahan

dalam investasi tersebut pernyataan tersebut tidaklah berlaku untuk hak penambangan

dan reservasi tambang seperti minyak, gas alam, dan sumber daya alam sejenis yang

tidak dapat di perbaharui.

Namun demikian pernyataan tersebut tetap berlaku untuk aset yang di gunakan untuk

mengembangkan aset yang terkait dengan hak penambangan aset yang terkait dengan

hak penambangan dan reservasi tambang tersebut.(waluyo,2011)

Aset tetap adalah harta yang dapat digunakan lebih dari satu tahun. Aset tetap terbagi

atas:

1. Aset yang dapat disusutkan

(depreciable aset )

Contoh: Bangunan, mesin dan peralatan yang lain.

2. Aset yang tidak dapat disusutkan

(non depreciable assets)

Contoh: Tanah

Aset tidak berwujud adalah hak mutlak perusahaan terhadap sesuatu yang

diperolehnya karena keistimewaan tertentu. Syarat- syarat harta tidak berwujud :

1. Ada hak mutlak

2. Ada keistimewaan tertentu

3. Ada pengeluaran biaya

Contoh : Hak paten, hak cipta, franchise, hak guna usaha, hak guna bangunan,
goodwill, hak penambangan, hak pengusahaan hutan, trademark

Berdasarkan masa manfaatnya, Aset Tidak Berwujud terbagi atas :

1. Aset tidak berwujud yang masa manfaatnya dibatasi oleh undang-undang.

Misalnya : hak paten, hak cipta, franchise.

2. Aset tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak dibatasi oleh undang-undang.

Misalnya : goodwill dan merk dagang.

Perusahaan harus segera mengakui setiap aset yang dimiliki dan


mengelompokkannya sebagai aset tetap, apabila aset yang dimaksud memenuhi
pengertian dan memiliki sifat - sifat sebagai aset tetap. Mengenai pengakuan aset
tetap ini, Ikatan Akuntan Indonesia memberikan pernyataan dalam PSAK Nomor 16
paragraf 06, yaitu : (Ikatan Akuntan Indonesia, op. cit. No 16 paragraf 6)

Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset
tetap apabila:

Besar kemungkinan bahwa manfaat keekonomisan di masa yang akan datang yang
berkaitan dengan aset tersebut akan mengalir dalam perusahaan; untuk dapat menilai
apakah manfaat keekonomisan di masa yang akan datang tersebut akan mengalir
ke dalam perusahaan maka harus di nilai tingkat kepastian terjadinya aliran manfaat
keekonomisan tersebut, yang juga memerlukan suatu kepastian bahwa perusahaan akan
menerima imbalan dan menerima resiko terkait.
Biaya perolehan aset dapat di ukur secara handal; sedangkan kriteria kedua
mengarah kepada bukti-bukti yang diperlukan untuk mendukungnya. Dalam kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangan ditekankan pula masalah pengendalian
manfaat yang diharapkan dari suatu aset. Agar aset yang digunakan dapat memberikan
manfaat yang optimal terhadap kegiatan operasi perusahaan.
Dengan demikian satu hal yang penting yang berkaitan pula dengan pengakuan suatu
aset adalah perusahaan memiliki kendali atas manfaat yang diharapkan dari aset tersebut.
1. Penggolongan Aset Tetap
Aset tetap dikelompokkan karena memiliki sifat yang berbeda dengan aset lainnya.
Kriteria aset tetap terdiri dari berbagai jenis barang maka dilakukan penggelompokkan lebih
lanjut atas aset - aset tersebut. Pengelompokkan itu tergantung pada kebijaksanaan
akuntansi perusahaan masing-masing karena umumnya semakin banyak aset tetap yang
dimiliki oleh perusahaan maka semakin banyak pula kelompoknya.
Aset tetap yang dimiliki perusahaan terdiri dari berbagai jenis dan bentuk, tergantung
pada sifat dan bidang usaha yang diterjuni perusahaan tersebut. Aset tetap sering
merupakan suatu bagian utama dari aset perusahaan, karenanya signifikan dalam
penyajian posisi keuangan. Nilai yang relatif besar serta jenis dan bentuk yang beragam
dari aset tetap menyebabkan perusahaan harus hati-hati dalam menggolongkannya.
Dari macam-macam aset tetap, untuk tujuan akuntansi dilakukan penggolongan sebagai
berikut:
a. Aset tetap yang umumnya tidak terbatas seperti tanah untuk letak perusahaan,
pertanian dan peternakan.
b. Aset tetap yang umumnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya
dapat diganti dengan aset yang sejenis,
misalnya bangunan, mesin, alat-alat, mebel dan lain-lain.
c. Aset tetap yang umumnya terbatas dan apabila sudah habis
masa penggunaannya tidak dapat diganti dengan aset yang sejenis,
misalnya sumber-sumber alam seperti hasil tambang dan lain-lain.
Selain itu aset tetap juga apat di golongkan dari beberapa sudut pandang diantaranya:
a. Sudut substansi :
1) Tangible Assets atau aset berwujud seperti lahan, mesin, gedung, dan
peralatan.
2) Intangible Assets atau aset yang tidak berwujud seperti Goodwill, Patent,
Copyright, Hak Cipta, Franchise dan lain-lain.
b. Sudut disusutkan atau tidak:
1) Depreciated Plant Assets yaitu aktiva aset yang disusutkan seperti Building
(Bangunan), Equipment (Peralatan), Machinary (Mesin), Inventaris, Jalan dan
lain-lain.
2) Undepreciated Plant Assets yaitu aset yang tidak dapat disusutkan, seperti
land (Tanah).
Aset tetap juga dapat di golongkan berdasarkan Jenisnya diantaranya dapat dibagi

sebagai berikut:

a. Lahan Lahan adalah bidang tanah terhampar baik yang merupakan tempat

bangunan maupun yang masih kosong. Dalam akuntansi apabila ada lahan yang

didirikan bangunan diatasnya harus dipisahkan pencatatan dari lahan itu

sendiri.

b. Bangunan gedung Gedung adalah bangunan yang berdiri di atas bumi ini baik

di atas lahan/air. Pencatatannya harus terpisah dari lahan yang menjadi

lokasi gedung.

c. Mesin Mesin termasuk peralatan-peralatan yang menjadi bagian dari mesin

yang bersangkutan.

d. Kendaraan - Semua jenis kendaraan seperti alat pengangkut, truk, grader, traktor,

forklift, mobil, kendaraan bermotor dan lain-lain.

e. Perabot - Dalam jenis ini termasuk perabotan kantor, perabot laboratorium,

perabot pabrik yang merupakan isi dari suatu bangunan

f. Inventaris Peralatan yang dianggap merupakan alat-alat besar yang

digunakan dalam perusahaan seperti inventaris kantor, inventaris pabrik ,

inventaris laboratorium, inventaris gudang dan lain-lain.

i. Prasarana Prasarana merupakan kebiasaan bahwa perusahaan membuat

klasifikasi khusus prasarana seperti: jalan, jembatan, roil, pagar dan lain-lain.
Nilai Perolehan Aset Tetap

Penentuan harga perolehan aset tetap sangat penting karena harga perolehan menjadi

dasar untuk menghitung besarnya biaya penyusutan tiap-tiap tahun. Adapun ketentuan

sesuai dengan pasal 10 UU PPh, penentuan harga perolehan aset tetap sebagai berikut:

3. Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak

dipengaruhi hubungan istimewa adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau

diterima sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang

seharusnya dikeluarkan atau diterima.

4. Nilai perolehan atau niai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah

jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.

5. Nilai perolehan atau nilai pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi,

penggabungan, peleburan pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha adalah

jumlah yang seharunya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar, kecuali

ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.

6. Dasar penilaian harta yang dialihkan dalam rangka bantuan sumbangan atau hibah:

a. Yang memenuhi syarat sebagai bukan Objek Pajak bagi yang meneima

pengalihan, sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan

atau nilai yang ditetapkan Direktur Jenderal Pajak.

b. Yang tidak memenuhi syarat sebagai bukan Objek Pajak bagi yang menerima

pengalihan, sama dengan nilai pasar dan harta tersebut.

7. Dasar penilaian harta yang dialihkan dalam rangka penyetoran modal bagi badan yang

menerima pengalihan, sama dengan nilai pasar dari harta tesebut.


Perolehan Aset tetap diakui sebesar harga perolehannya (the acquisition cost). Sementara

itu yang dimaksud dengan harga perolehan adalah pengeluaran-pengeluaran yang timbul

mulai dari peruses pembelian hingga aset tersebut siap beroperasi. Maka harga perolehan

dapat dirumuskan dengan :

Nilai Beli + Pengeluaran yang timbul dari proses pembelian hingga aset tersebut siap
operasi
Untuk mendapatkan aset yang di inginkan perusahaan dapat menggunakan berbagai

macam cara, berikut ini merupakan macam-macam cara untuk memperoleh aset tetap,

diantaranya ( yang paling sering terjadi) :

1. Dibeli tunai ( kontan )

2. Dibeli dengan mencicil ( kontrak jangka panjang )

3. Dibeli dengan saham

4. Dibagun Sendiri

5. Pertukaran

1. Perolehan aset tetap secara angsuran

Terhadap aset tetap yang diperoleh secara angsuran perlu di perhatikan mengenai

kontrak pembeliannya.

Sebagai contoh aset teap di beli secara angsuran dalam 24 kali angsuran dengan harga

perolehan tunai Rp 120.000.000, dengan bunga 25% per tahun.


Jurnal pada saat pembelian aset tetap :

Jurnal pada saat pembayaran :

B. Pengelompokkan aset tetap untuk penyusutan dalam Pajak

Metode penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan sebagaimana telah

diatur dalam pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah :

1. Metode saldo menurun (decline balance method) untuk aset tetap berwujud bukan bangunan

dan untuk berupa bangunan menggunakan Metode garis lurus (straight line method).

2. Metode garis lurus untuk aset tetap berwujud.

Kelompok harta dan tarif penyusutan, penentuan kelompok dan tarif penyusutan harta berwujud

didasarkan pada pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan sebagai berikut:

Tarif Penyusutan Tarif Penyusutan

Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat berdasarkan Metode berdasarkan

Garis Lurus Metode Saldo


I. Kelompok bangunan
Menurun
Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %

Kelompok 2 8 tahun 12, 5 % 25 %

Kelompok 3 16 tahun 6,25 % 12, 5 %

Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %

II. BangunanPermanen 20 tahun 5% -

Tidak Permanen 10 tahun 10 % -


Untuk lebih memudahkan Wajib Pajak dan memberikan keseragaman dalam

pengelompokan harta tetap berwujud, dikeluarkannya Keputusan Menteri keuangan

Nomor 96/PMK.03/2009 yang berlaku sejak 1 januari 2009 mengatur tentang

pengelompokan jenis- jenis Harta Berwujud

1. Jenis-jenis Harta Berwujud Yang Termasuk dalam Kelompok II

Nomor Jenis Usaha Jenis Harta


Urut

1. Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja,
bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan
merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur
udara seperti AC, kipas angin, dan sejenisnya
b. Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya

c. Container dan sejenisnya

2. Pertanian, perkebunan, a. Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan


kehutanan, perikanan mesin bajak,
b. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau
memperoduksi bahan atau barang pertanian,

Industri makanan dan

3.
A. Penarikan dan atau Pelepasan Aset

Aset tetap yang tidak bermanfaat lagi, dapat di lepas dengan cara:

1. Pembuangan Aset Tetap (Discarding of Plant Assets)

Aset tetap yang sudah habis masa guna atau umur ekonomisnya atau mungkin

mengalami kerusakan karena proses produksi, dan tidak dapat diperbaiki lagi,

perusahaan dapat mengambil keputusan untuk membuang aset tetap tersebut.

2. Penjualan Aset Tetap (Selling of Plant Assets)

Aset yang tidak terpakai lagi jika masih laku, maka perusahaan dapat menjual aset

tersebut.

3. Pertukaran Aset Tetap (Exchange of Plant Assets )

Aset yang sudah tidak terpakai, selain dibuang dan dijual, dapat ditukar dengan

aset tetap yang lain, baik dengan perusahaan lain, maupun ditukar yang baru dengan

menambah uang /pembayaran. Aset tersebut dapat ditukar dengan aset sejenis

maupun aset lain.

Contoh :

1. Penarikan dan atau Pelepasan Harta Karena Dijual Menurut Fiskal

Sebuah mesin dengan nilai perolehan Rp 40.000.000 dengan akumulasi penyusutan

Rp31.000.000 dijual dengan harga Rp 16.000.000. Biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan

penjualan sebesar Rp 1.500.000


Diketahui :

Keuntungan sebesar Rp 5.500.000 merupakan penghasilan yang menjadi objek pajak PPh.

Apabila transaksi ini dicatat maka ayat jurnal adalah sbb:

Penerimaan kas Rp 16.000.000

Akumulasi penyusutan Rp 31.000.000

Mesin Rp 40.000.000
Hutang Biaya Rp 1.500.000

Laba Rp 5.500.000

C. Revaluasi Aset tetap.

Revaluasi aset tetap merupakan penilaian kembali aset tetap perusahaan, yang

diakibatkan adanya kenaikan nilai aset tetap tersebut dipasaran atau karena rendahnya

nilai aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi atau

sebab lain, sehingga nilai aset tetap dalam laporan keuangan tidak lagi mencerminkan

nilai yang wajar. (Waluyo, 2011).


Pada dasarnya penilaian kembali aset tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai

wajar aset tetap tersebut pada saat penilaian dengan menggunakan metode peneliian yang

lazim berlaku di Indonesia dan dilakukan oleh perusahaan penilai atau penilai yang diakui

oleh Pemerintah. Jika nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan penilai atau penilai yang

diakui oleh Pemerintah tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya maka Direktur Jenderal

Pajak akan menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar asset yang bersangkutan

(Keputusan Menteri keuangan Nomor 79/PMK.03/2009)

Alasan Wajib Pajak Melakukan Revaluasi:

1. Meningkatkan nilai perusahaan (mark-up) sehingga memudahkan perusahaan dalam

proses pencarian dana, baik melalui pinjaman bank maupun pinjaman saham (go

public);

2. Meningkatkan biaya penyusutan aset tetap dimasa datang sehingga deductibie

expense dimasa datang semakin besar dan beban pajak semakin kecil;

3. Meningkatkan keakuratan perhitungan penghasilan maupun biaya sehingga

mencerminkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam menghasilkan laba;

4. Agar neraca perusahaan menunjukan posisi kekayaan perusahaan yang sebenarnya.


Contoh :

PT. Pola Petra memiliki daftar aktiva per tanggal 31 Desember 2012 sbb :
Pada tahun 2013, perusahaan berniat melakukan revaluasi atas aset tetap yang

dimilikinya. Untuk itu perusahaan menggunakan jasa penilai yang diakui untuk menilai

aset tetapnya. Dari hasil penilaian diketahui nilai pasar wajar dan sisa manfaat aset per

tanggal 15 Januari 2013 sbb :

Hitunglah PPh final Revaluasi dan tentukan nilai yang harus disajikan dalam neraca :

Jawab :
Jurnal:
BAB III

Penutup

A. Kesimpulan

Dari pembahasan pada bab sebelumnya mengenai akuntansi pajak atas aset tetap
dapat kita tarik berapa kesimpulan diantaranya ialah:
1. Pengakuan akuntansi atas aset tetap telah di atur dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No 16 tetapi tidak berlaku atas pertambangan dan reservasi
pertambangan.
2. Dalam perolehan aset tetap biaya perolehan merupakan setara dengan nilai
tunainya dan diakui pada saat terjadinya, dan dalam perolehan terdapat banyak
cara diantaranya secara gabungan, secara angsuran, dengan pertukaran,
membangun sendiri dan sumbangan.
3. Untuk penarikan atau pelepasan perlakuan akuntansinya sama dengan komersial
baik pembuangan penjualan dan pertukaran aset yang di miliki oleh perusahaan
atau dapa dilihat alam PSAK 16.
4. Untuk metode penyusutan aset tetap bagi akuntansi pajak hanya mengakui 2 metoe
saja yaitu garus lurus dan saldo menurun, walaupun secara komersial lebih dari 2
metode yang ada di standart akuntansi keuangan di Indonesia khususnya.
5. Untuk pengelompokan aset perusahaan apakah iu masuk kedalam kelompok 1, 2,
3, dan atau 4 dapat di lihat dalam Keputusan Menteri Keuangan No.
96/PMK.03/2009 yang berlaku sejak anggal 1 januari 2009.
6. Untuk akuntansi pajak mengenai revaluasi aset tetap dapat di lihat dalam
Keputusan Menteri Keuangan No 79/PMK.03/2008 tahun 2008, yang minimal
melakukan revaluasi adalah 5 tahun perusahaan baru dapat melakukan revaluasi
kembali.