Anda di halaman 1dari 18

Pengaruh Konseling Gizi pada Ibu Hamil dengan Anemia

terhadap Kadar Hemoglobin


Nurmawanty, Mira Trisyani Koeryaman , Dian Adiningsih
Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran
E-mail : nurwa313@gmail.com

Abstrak
Anemia kehamilan mempunyai dampak terhadap kesehatan ibu maupun janin yang
dikandungnya. Upaya pemerintah untuk mengatasi anemia kehamilan melalui pemberian
suplementasi tablet Fe sejak sepuluh tahun terakhir. Namun, prevalensinya masih tinggi yaitu
37,1%. Konseling gizi merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan peningkatan kadar
hemoglobin selama kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konseling
gizi pada ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Cempaka Kabupaten Garut terhadap kadar
hemoglobin . Penelitian ini menggunakan metode quasy eksperiment dengan case control design
dengan jumlah sampel 15 responden pada masing-masing kelompok yang diambil berdasarkan
teknik purposive sampling. Penelitian ini mengukur kadar hemoglobin sebelum dan setelah
intervensi konseling gizi. Selama satu bulan, kelompok kontrol mendapatkan satu kali konseling
gizi sedangkan kelompok intervensi mendapatkan empat kali, selanjutnya data dianalisa
menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh yang bermakna antara kadar
hemoglobin sebelum dan setelah intervensi (P<0.05). Konseling gizi dengan monitoring dan
evaluasi selama empat kali dalam satu bulan menggunakan buku penuntun konseling gizi pada ibu
hamil dengan anemia dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Sehingga metode ini dapat
disisipkan pada setiap kegiatan kunjungan pada ibu hamil yang diselenggarakan oleh Puskesmas
Cempaka.

Kata Kunci : Anemia kehamilan, kadar hemoglobin, konseling gizi


Jumlah kepustakaan : 28, 2006-2015

The Effects of Nutrition Counseling on Hemoglobin Levels Among The


Pregnant Woman With Anemia

Abstract
Anemia of preganancy have an impact on the health both mother and fetus. The
government efforts to resolve pregnancy anemia by Fe supplementation have been conducted in
last 10 years. However, the prevalance pregnancy anemia still high is 37,1%. Nutrition counseling
is one way to optimize the increase of hemoglobin levels during pregnancy. This study aims to
identify the effect of nutrition counseling on hemoglobin levels among pregnant women with
anemia.The research design is quasy experiment with case control group. Sampling of this study
was purposive sampling of 30 people that were divided into two groups each 15 respondents.
During one month, the control group was given one regular nutrition counseling and the
intervention group was given nutrition counseling once a week with monitoring and evaluation.
Before and after nutrition counseling the hemoglobin levels were tested. Data analysis showed
that there was significant influence after nutrition counseling in the intervention group on
hemoglobin levels with P value = 0,000. Based on the study, nutrition counseling with monitoring
and evaluation for four times in one month using nutrition counseling handbook among preganant
women with anemia can increase hemoglobin levels. So, this method can be pasted in each
activity visit on pregnant women organized by Puskesmas.

Key words : Anemia of pregnancy, hemoglobin levels, nutrition counseling


References : 28, 2006-2015

1
Pendahuluan
Hasil Riskesdas tahun 2013, Indonesia mempunyai tiga tantangan dalam
kesehatan ibu. Tantangan pertama yaitu ibu hamil dengan anemia dengan
prevalensi sebesar 37,1%. Upaya pemerintah untuk mengatasi anemia kehamilan
adalah dengan melakukan program suplementasi tablet dengan pemberian 90
tablet Fe pada trimester satu dan 30 tablet Fe pada trimester tiga dalam 10 tahun
terakhir ini. Namun kenyataannya di lapangan prevalensi anemia zat besi masih
tinggi (Kemenkes, 2015). Apabila anemia kehamilan tidak diatasi akan memiliki
dampak pada ibu maupun pada janin yang dikandungnya. Pada ibu beresiko untuk
mengalami perdarahan postpartum (Kavle, et al, 2008 ; Sunarto, 2010).
Sedangakn pada janin beresiko pada pertumbuhan dan perkembangan, keguguran,
mudah terkena infeksi, kelahiran premature atau BBLR (Samuels, 2007 dalam
Lowdermilk 2013, Kalaivani, 2009 ; Kumar 2014 ; Nusrat, 2014 ; Ahankari,
2015 ; Kemenkes, 2015).
Penyebab utama dari anemia adalah defisiensi zat besi khususnya di
negara berkembang karena ketidakcukupan gizi atau konsumsi gizi yang tidak
memadai. Sebagaian besar orang hanya bergantung pada makanan nabati yang
memiliki absorpsi zat besi yang buruk dan dari beberapa makan tersebut
mengandung zat yang mempengaruhi absorpsi zat besi (Gibney, Hartono, Palupi,
& Erita, 2009). Fenomena yang ada dilapangan baik di kota maupun di pedesaan
ibu hamil dengan anemia kurang memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan
karena berbagai alasan. Prinsip dalam pencegahan anemia karena defisiensi zat
besi ini adalah memastikan bahwa konsumsi zat besi secara teratur untuk
memenuhi kebutuhan tubuh dan untuk meningkatkan kandungan serta
bioavabilitas (ketersedian hayati) zat besi dalam bahan pangan. Selain itu, harus
mempertimbangkan pula efek biologis dan efek samping. Biasanya efek samping
yang lazim terjadi pada suplementasi zat besi adalah mual, konstipasi, tinja warna
hitam, dan diare (Gibney, Hartono, Palupi, & Erita, 2009).
Karena efek samping yang ditimbulkan dari tablet Fe, diperlukan suatu
program alternatif untuk mengatasi dan mencegah anemia di masyarakat saah
satunya yaitu konseling gizi. Konseling gizi merupakan komunikasi dua arah
dimana klien mengenali masalah dan dapat menentukan alternatif pemecahan

2
masalahnya, dapat dilakukan secara individual kepada ibu hamil dengan anemia
dengan cara memperhatikan asupan gizi setiap harinya, memanfaatkan bahan
makanan yang biasa dikonsumsi dan yang ada di sekitarnya. Program ini akan
efektif jika dilaksanakan dalam kondisi di awasi (Gibney, Hartono, Palupi, &
Erita, 2009 ; Supariasa, 2013). Pendidikan gizi dan konseling merupakan strategi
yang digunakan untuk meningkatkan status gizi pada wanita selama kehamilan
yang signifikan terhadap kesehatan janin, bayi dan ibu. ( Jerath, Devasenapathy,
Singh, Shankar, & Zodpey, 2015). Konseling gizi dapat meningkatkan kualitas
dan kuantitas makan, minum tablet Fe secara teratur sehingga dapat meningkatkan
status nutrisi selama kehamilan (Garg & Kashyap, 2006). Selain itu, penelitian
Hapzah (2013) menyatakan bahwa konseling gizi dapat menambah pengetahuan,
motivasi untuk menerapkan pola makan yang sehat selama kehamilan.
Berdasarkan pendapat diatas dan atas pertimbangan kunjungan ANC yang
dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Maka pada penelitian ini akan dilakukan
konseling gizi sebanyak satu kali pada kelompok kontrol dan sebanyak empat
kali pada kelompok intervensi. Konseling yang dilakukan mampu merubah
perilaku ibu dengan indikator perubahan secara klinis berupa : asupan gizi,
kepatuhan konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin (Waryana, 2010). Pada
penelitian Girard & Oluwafunke (2012) juga menyatakan bahwa pendidikan dan
konseling gizi dapat meningkatkan berat badan ibu 0,45 kg, menurunkan resiko
anemia kehamilan sebesar 30%, meningkatkan berat lahir 105 gram dan
menurunkan resiko premature 19%. Penelitian ini bertujuan untuk untuk
mengidentifikasi apakah ada pengaruh konseling gizi pada ibu hamil dengan
anemia terhadap kadar hemoglobin.

Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi eksperiment dengan
case control design. Pada penelitian ini intervensi untuk meningkatkan kadar
hemoglobin menggunakan konseling gizi. Teknik pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu menetapkan sampel sesuai
dengan kriteria inklusi. Kriteria inklusi sampel dalam penelitian ini adalah ibu
hamil dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu dengan hemoglobin kurang

3
dari 11g/dl dan bersedia menjadi responden. Sehingga ditetapkan sampel
sebanyak 30 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok masing masing 15
responden.
Instrument yang digunakan pada penelitian ini yaitu hemoglobinometer
untuk mengukur kadar hemoglobin, kuesioner. Kuesioner berisikan tentang
karakteristik responden meliputi : usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, usia
kehamilan, gravida, mendapatkan tablet Fe serta kepatuhan konsumsinya.
Instrument lain yang digunakan yaitu buku penuntun konseling gizi pada ibu
hamil dengan anemia. Buku ini berisi tentang konsep anemia, diet anemia, daftar
bahan penukar makanan, tabel konsumsi tablet Fe dan food record.
Pelaksanaan konseling gizi pada penelitian ini dilaksanakan selama satu
bulan, pada kelompok kontrol dilakukan sebanyak satu kali dengan durasi 10-15
menit sedangkan pada kelompok intervensi dilakukan sebanyak empat kali
dengan durasi 45-60 menit. Pengambilan responden penelitian dilakukan di
Wilayah Kerja Puskesmas Cempaka. Responden yang sesuai dengan kriteria
inklusi selanjuti di datangi rumahnya dan diberikan penjelasan prosedur penelitian
serta informed consent. Tahapan berikutnya peneliti akan mengunjungi rumah
setiap minggunya selama satu bulan. Konseling gizi dilakukan di rumah
responden oleh konselor serta di damping oleh observer yaitu peneliti. Adapun
tahapan pelaksanaan konseling gizi yaitu membangun dasar dasar konseling,
menggali permasalahan, memilih solusi dengan menegakan diagnosis, memilih
rencana, memperoleh komitmen, monitoring dan evaluasi setiap minggu. Setelah
satu bulan intervensi dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin untuk
mengidentifikasi sejauh mana peningkatan kadar hemoglobin pada kedua
kelompok.

Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok kontrol, usia yang
mendominasi berada pada rentang 21-30 tahun (n=9 ; 60 %); latar belakang
pendidikan dasar (SD dan SMP) (n=12 ; 80%); tidak bekerja (n=9 ; 60 %);
berpenghasilan kurang dari UMR (n=8 ; 53,3%); trimester dua (n=7; 46,7%);
status multigravida (n=13; 86.7 %); mendapatkan tablet Fe (n=8 ; 53,3%) dan

4
kepatuhan konsumsi tablet Fe (n=3 ; 20%). Sedangkan pada kelompok intervensi
usia yang mendominasi berada pada rentang 21-30 tahun (n=9 ; 60%); latar
belakang pendidikan non dasar (SMA, akademi , PT) (n=7 ; 46,7%); tidak
bekerja (n=11 ; 73,3%) ; berpenghasilan kurang dari UMR (n=9 ; 60%) ;
trimester 2dua (n=7 ; 46,7%), status multigravida (n=11 ; 73,3%); mendapatkan
tablet Fe (n=7 ; 46,7%); kepatuahn konsumsi tablet Fe (n=5 ; 33,3%).

Gambar 1. Rerata kadar hemoglobin sebelum dan setelah dilakukan konseling gizi
selama satu bulan
10.5
10
9.5
Pretest
9
Posttest
8.5
8
Kontrol Intervensi

Dilihat dari diagram diatas dapat terlihat adanya perbedaan nilai kadar
hemoglobin sebelum dan setelah dilakukan konseling gizi dimana pada garis
posttest cenderung nilai kadar hemoglobin meningkat. Berdasarkan hasil uji
normalitas data yang telah dilakukan sebelumnya, diketahui nilai kadar
hemoglobin sebelum dan setelah dilakukan intervensi berdistribusi normal yaitu
p=0.474 dan p=0.369. selanjutnya untuk melihat pengaruh konseling gizi terhadap
kadar hemoglobin menggunakan analisis bivariat yaitu dependent t test. Berikut
disajikan pengaruh konseling gizi terhadap kadar hemoglobin.

Tabel 1. Pengaruh konseling gizi terhadap kadar hemoglobin

Kelompok N Rerata (gr/dl) SD p value

Kontrol
Pretest 15 8.98 1.22 0.185
Postest 15 9.28 0.94
Intervensi
Pretest 15 9.06 1.20 0.000
Postest 15 10.26 1.39

5
Hasil uji dependent t test pada kelompok kontrol di dapat nilai p > 0.05
hal ini memberikan interpretasi bahwa tidak terdapat pengaruh konseling gizi
pada ibu hamil dengan anemia terhadap kadar hemoglobin. Sedangkan hasil uji
dependent t test pada kelompok intervensi di dapat nilai p < 0,05 hal ini
memberikan interpretasi bahwa terdapat pengaruh konseling gizi pada ibu hamil
dengan anemia terhadap kadar hemoglobin.

Pembahasan
Hasil penelitian terkait usia pada kelompok kontrol maupun kelompok

intervensi sebagian besar berada pada rentang 21-30 tahun yang merupakan

kelompok usia reproduktif. Pada usia ini memungkinkan ibu untuk mengalami

kehamilan kembali karena berada dalam rentang usia puncak kesuburan yang

memiliki kesempatan 95% untuk mengalami kehamilan. Usia reproduktif

mempunyai organ reproduksi yang masih berfungsi dengan baik, sehingga lebih

mudah untuk mendapatkan kehamilan (Depkes RI, 2004). Saat wanita berusia

sekitar 30 tahun presentase untuk menyebabkan kehamilan menurun hingga 90%

dan saat berusia 40 tahun kesempatan untuk terjadinya kehamilan menurun

menjadi 40%. Pada usia ini juga seseorang berada pada golongan dewasa muda.

Golongan dewasa muda memiliki perilaku yang positif untuk mempersiapkan

masa yang akan datang termasuk dalam menyiapkan generasi sebagai keturunan

keluarga yaitu tugas dalam menjaga kesehatan diri dan anak yang dikandungnya.

Seharusnya pada kedua kelompok memiliki perilaku yang positif karena berada

dalam golongan dewasa muda. Tetapi, hanya pada kelompok intervensi saja yang

memperlihatkan perilaku yang positif. Keadaan tersebut dapat dipengaruhi oleh

faktor pendidikan dan sumber informasi. Pada penelitian ini kelompok intervensi

6
lebih banyak menerima informasi dibandingkan dengan kelompok kontrol yang

menerima informasi hanya satu kali.

Pendidikan dasar yakni SD dan SMP mendominasi pada kelompok


kontrol. Pada umumnya latar belakang pendidikan dasar masih memiliki
pengetahuan yang kurang karena kurangnya terpapar informasi dan pola pikir
dasar yang hanya sekedar cukup tahu. Sedangkan pada kelompok intervensi
pendidikan dasar dan pendidikan non dasar tidak jauh berbeda. Pendidikan non
dasar ini termasuk SMA, akademi atau perguruan tinggi yang memiliki
pengetahuan yang lebih tinggi. Ibu hamil yang mempunyai latar belakang
pendidikan dasar mungkin memiliki pengetahuan dan perilaku yang baik apabila
sering terpapar informasi. Salah satunya yaitu dengan dilakukannya konseling gizi
dan adanya penguatan seminggu sekali pada ibu di kelompok intervensi Semakin
tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah baginya untuk menerima
informasi termasuk pada ibu hamil ini. Pengetahuan yang lebih tinggi akan
membentuk tindakan dan perilaku seseorang ke arah yang lebih baik
(Notoatmodjo, 2007).
Pekerjaan dan penghasilan yang mendominasi pada kedua kelompok yaitu
tidak bekerja dan memiliki penghasilan kurang dari UMR Kabupaten Garut yang
termasuk kedalam penghasilan tipe kelas bawah. Dengan demikian akan beresiko
terhadap derajat kesehatan yang optimal karena daya beli, daya dukung dan
pemeriksaan kehamilan tiap bulan yang kurang. Hal ini terlihat dari daya beli
makanan dan tablet Fe yang kurang. Meskipun ibu hamil telah diresepkan untuk
membeli tablet Fe di luar Puskesmas tetapi malah tidak membelinya. Selain itu
juga akan berpengaruh pada kurangnya asupan gizi termasuk zat besi selama
kehamilan. Hasil penelitian Herlina (2014) kejadian anemia zat besi dipengaruhi
oleh pendapatan dan tidak bekerjanya para ibu.
Kejadian anemia paling banyak baik pada kedua kelompok yaitu pada
trimester dua. Hal ini disebabkan karena kebutuhan tubuh akan zat besi pada
trimester dua yang meningkat tetapi pemenuhan gizi pada ibu tidak tercukupi.
Pada trimester dua ini terjadi peningkatan aliran darah volume darah pada ibu
secara progresif. Pembentukan sel darah merah pada ibu meningkat karena
kebutuhan ibu dan janin semakin menigkat pula apabila kebutuhan ini tidak

7
tercukupi dengan baik akan mengakibatkan anemia pada ibu , kelainan pada bayi
atau bahkan melahirkan BBLR atau premature (Tarwoto & Wasnindar,2007 ;
Simkin, Whalley, & Keppler, 2008). Untuk ketercapaian pemenuhan zat besi ini
tidak terlepas dari kepatuhan ibu dalam mengonsumsi tablet Fe. Berkenaan
dengan anemia kehamilan bahwa ekspansi sel darah merah tergantung pada aliran
besi baik dari besi cadangan , diet dan suplementasi besi (Ani,2015). Upaya
untuk memenuhi kebutuhan zat besi ibu hamil maka Widya Karya Nasional
Pangan dan Gizi (2012) menganjurkan penambahan kebutuhan zat besi sekitar 9
mg per hari pada trimester dua dan 13 mg per hari pada trimester tiga dari
sebelum hamil. Sumber zat besi dapat berasal dari makanan maupun tablet Fe
(Depkes RI, 2013).
Kedua kelompok kebanyakan berstatus multigravida. Dalam hal ini
pengalaman kehamilan dapat memperkaya wawasan karena sudah terpapar
informasi sebelumnya. Namun, pada penelitian ini, kebanyakan ibu pada
kehamilan saat ini mendapatkan pemeriksaan kadar hemoglobin. Pada kehamilan
sebelumnya ibu tidak terdeteksi anemia atau tidaknya sehingga tidak diketahui
apakah ibu memiliki riwayat anemia atau tidak. Adapun penelitian Umar (2015)
di Bolochistan Plateau of Pakistan menyatakan bahwa ibu hamil multligravida
memiliki kejadian anemia lebih di banding primigravida.
Hasil penelitian juga menunjukan bahwa kebanyakan ibu tidak patuh
dalam mengonsumsi tablet Fe tetapi pada kelompok intervensi beberapa ibu sudah
patuh mengonsumsi tablet Fe. Hal ini sudah menunjukan perilaku yang baik
namun kenyataannya masih saja mengalami anemia. Adapun kemungkinan
penyebab ibu masih mengalami anemia yaitu absorpsi tablet Fe yang sangat
dipengaruhi oleh zat makanan yang banyak mengandung vit C, vit B12, asam
malat dan tartat pada sayuran dan asam amino cysteine pada daging.

Rerata perubahan kadar hemoglobin sebelum dan setelah konseling gizi


pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi
Rerata peningkatakan kadar hemoglobin sebelum dan setelah dilakukan
konseling gizi kontinu pada kelompok intervensi adalah 1,2 gr/dl. Ibu hamil yang
menerima tablet Fe mengalami peningkatan kadar hemoglobin dari rentang 0,1

8
gr/dl 3,3 gr/dl. Sedangkan pada ibu hamil yang tidak menerima tablet Fe 0,5
gr/dl 2,1 gr/dl. Selain itu, hasil rerata kadar hemoglobin pada kelompok kontrol
sebelum dilakukan konseling gizi yaitu sebesar 8.98 1.22 gr/dl dan setelah
dilakukan konseling gizi regular satu kali dalam satu bulan rerata kadar
hemoglobin yaitu sebesar 9.28 0.94 gr/dl. Nilai rerata ini masih berada dalam
kategori anemia sedang. Sedangkan pada kelompok intervensi hasil rerata kadar
hemoglobin pada sebelum dilakukan konseling gizi yaitu sebesar 9.06 1.2 gr/dl
yang berada dalam kategori anemia sedang dan setelah dilakukan konseling gizi
secara kontinu yaitu setiap minggu selama satu bulan rerata kadar hemoglobin
yaitu sebesar 10.26 1.39 gr/dl yang dikategorikan ke dalam anemia ringan.
Kejadian anemia pada kelompok intervensi yang mengalami peningkatan
dari kategori anemia sedang ke anemia ringan ini, kemungkinan di sebabakan oleh
beberapa faktor yaitu dilakukannya konseling gizi yang kontinu, kesadaran untuk
memenuhi asupan gizi menjadi lebih baik dan kepatuhan ibu dalam
mengkonsumsi tablet Fe. Kegiatan konseling meliputi monitoring dan evaluasi ini
menguntungkan karena terdapat lima ibu yang tidak anemia walaupun ada yang
mengalami penurunan kadar hemoglobin tetapi secara keseluruhan mengalami
peningkatan. Sehingga pada kelompok intervensi kejadian anemia dapat
diantisipasi.
Pada kelompok intervensi sebelum dilakukan konseling gizi terdapat lima
ibu hamil mengalami anemia ringan dan sepuluh ibu hamil mengalami anemia
sedang. Setelah dilakukan konseling gizi kontinu satu kali seminggu selama satu
bulan terdapat lima ibu yang tidak anemia, tiga ibu hamil anemia ringan dan tujuh
ibu hamil masih berada dalam anemia sedang. Kelima ibu yang mengalami
perubahan statusnya menjadi tidak anemia memiliki asupan zat besi yang baik,
lebih banyak mengkonsumsi zat besi yang tinggi bioavailability, sering
mengkonsumsi makanan yang membantu penyerapan zat besi serta patuh dalam
mengonsumsi tablet Fe.Ibu hamil yang berada di dalam kategori anemia ringan
tidak mendapat tablet Fe tetapi asupan zat besi baik serta di bantu dengan
berbagai makanan yang membantu penyerapan zat besi seperti buah yang
mengandung vitamin C, daging yang memiliki asam amino cysteine dapat
em,ningkatkan kadar hemoglobin dan ibu hamil yang sebelumnya berada dalam

9
kategori anemia sedang, patuh dalam mengonsumsi tablet Fe serta memiliki
asupan zat besi yang baik pula sehingga mengalami peningkatan kadar
hemoglobin yang signifikan yaitu 3,3 gr/dl.
Ibu hamil yang menerima tablet Fe, kemudian patuh dalam
mengkonsumsinya tetapi tidak diimbangi dengan bahan makanan yang
mengandung zat besi dan bahan makanan yang meningkatkan penyerapan zat
besi, peningkatan kadar hemoglobin setalah satu bulan pun tidak signifikan yaitu
sebesar 0,1 gr/dl. Sedangkan pada ibu hamil yang tidak mendapatkan tablet Fe
artinya tidak meminum tablet Fe sama sekali selama satu bulan karena dibantu
asupan zat besi dari segi nutrisi dan banyak mengonsumsi bahan makanan yang
tinggi bioavability serta bahan makanan yang membantu meningkatkan
penyerapan zat besi peningkatan kadar hemoglobin selama satu bulan signifikan
yaitu 2,1 gr/dl. Oleh karena itu pemenuhan zat besi baik melalui makanan maupun
tablet Fe terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan akan lebih baik jika
keduanya terpenuhi.
Sumber zat besi dapat dipenuhi dari heme dan non heme. Sumber zat besi
heme terdapat pada hati, limpa, sumsum tulang, daging, ayam, ikan, telur
sedangkan sumber zat besi non hem terdapat dalam kacang kacangan dan
sayuran hijau. Disamping jumlah zat besi, kualitas zat besi juga perlu diperhatikan
di dalam makanan yang dinamakan juga sebagai ketersediaan biologis
(bioavailability). Pada umumnya besi dalam daging, ayam, ikan memiliki
bioavailability yang tinggi, serelia dan kacang kacangan memiliki
bioavailability yang sedang dan sayuran hijau yang mengandung asam oksalat
tinggi memiliki bioavailability yang rendah (Almatsier, 2011). Klien juga harus
memperhatikan jenis makanan yang bisa membantu dalam proses absorpsi zat
besi dengan menyeimbangkan asupan sumber heme dan non heme. Faktor yang
mempengaruhi absorpsi zat besi dalam tubuh untuk membentuk hemoglobin
sangat dipengaruhi oleh kombinasi makanan yang disantap pada waktu makan
yang dibedakan menjadi dua, yaitu pemacu penyerapan zat besi seperti vitamin C
pada buah yang dapat meningkatkan zat besi non heme, asam malat dan tartrat
pada sayuran, asam amino cystein pada daging dan bahan makanan yang disebut
meat factor. Zat penghambat penyerapan Fe seperti kalsium fosfat, fitat, polifenol

10
dan zat yang mengandung tannin (Gibney, Hartono, Palupi, & Erita, 2009 ;
Depkes RI, 2013).
Kemungkinan faktor yang mempengaruhi perubahan kadar hemoglobin
yaitu asupan zat besi baik dari segi nutrisi maupun dari suplementasi. Asupan
nutrisi yang kurang pada ibu hamil dapat menurunkan kadar hemoglobin pada ibu
karena simpanan zat besi yang berada ditubuh ibu dipakai untuk kebutuhan janin.
Ibu hamil membutuhkan zat gizi yang lebih banyak untuk ibu serta janin yang ada
di dalam kandungannya termasuk zat besi. Zat besi dibutuhkan untuk bayi,
plasenta dan peningkatan jumlah sel darah merah. Ekspansi sel darah merah
tergantung pada aliran besi baik dari besi cadangan , diet dan suplementasi besi
(Ani, 2015). Apabila zat besi tidak mencukupi kebutuhan ibu, janin dan plasenta.
Cadangan besi yang ada pada janin tidak akan dikorbankan tetapi cadangan zat
besi pada ibu akan dipakai dan massa sel darah ibu akan menurun(Lowdermilk,
Perry, & Cashion, 2013). Anemia kehamilan memiliki dampak pada ibu maupun
pada janin yang dikandungnya. Pada ibu beresiko untuk mengalami perdarahan
postpartum. Hasil penelitian Kavle, et al (2008) menyatakan bahwa perdarahan
pada ibu setelah melahirkan berhubungan dengan anemia pada saat usia
kehamilan 32 minggu. Pada penelitian Sunarto (2010) juga menunjukan 71,1%
perdarahan post partum pada ibu, sebelumnya terpapar oleh anemia pada saat
kehamilan. Dampak lebih jauhnya yaitu kematian pada ibu baik secara langsung
maupun tidak langsung. Sedangkan janin beresiko pada pertumbuhan dan
perkembangan, keguguran, mudah terkena infeksi, kelahiran premature atau
BBLR (Samuels, 2007 dalam Lowdermilk 2013, Kalaivani, 2009 ; Kumar 2014 ;
Kemenkes, 2015). Berdasarkan penelitian Ahankari (2015) menyatakan bahwa
anemia yang terjadi pada trimester dua dan trimester tiga terjadi peningkatan
resiko BBLR. Didukung pula oleh penelitian Nusrat (2014) ibu hamil dengan
anemia ringan melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rata rata 2338 266
gram, anemia sedang 2184 89 gram dan anemia berat 1990 73 gram.
Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa kepatuhan konsumsi tablet
Fe pada kelompok kontrol sebanyak tiga ibu dari delapan ibu yang mendapatkan
tablet Fe sedangkan kelompok intervensi sebanyak lima ibu dari tujuh ibu yang
mendapatkan tablet Fe di Puskesmas. Kepatuhan tablet Fe cenderung baik pada

11
kelompok intervensi karena di lakukan konseling gizi yang kontinu yaitu satu
minggu sekali selama satu bulan serta adanya monitoring dan evaluasi dari buku
food record yang di dalamnya juga terdapat catatan konsumsi tablet Fe setiap
harinya.Kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil adalah ketaatan
ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan. Ibu hamil dikatakan
patuh minum tablet Fe apabila 90 % dari tablet besi yang seharusnya diminum.
Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe dapat diukur dari ketepatan jumlah tablet Fe
yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi dan frekuensi konsumsinya per
hari (Depkes RI, 2009).
Menurut Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2007) menyebutkan bahwa
faktor faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah pengetahuan, sikap dan
tindakan. Faktor lainnya yang mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam
mengkonsumsi tablet Fe yaitu penghasilan dan tingkat pendidikan. Pada
penelitian Ramawati (2008) menyatakan bahwa tingkat pendidikan sangat
berpengaruh terhadap pendapatan. Menurut Notoatmojo (2007) pengetahuan
dan kemampuan seseorang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan.
Berdasarkan hasil penelitian, para ibu yang mendapatkan konseling gizi
empat kali dalam satu bulan mengalami peningkatan menjadi kategori anemia
ringan. Walaupun hal tersebut masih berada di dalam kategori anemia sebanyak
sepuluh ibu tetapi hal ini mengalami perubahan dibandingkan dengan kelompok
kontrol yang hanya mendapatkan konseling gizi regular yang masih berada dalam
kondisi yang sama yaitu anemia sedang. Sehingga pada kelompok intervensi
dapat menurunkan kejadian anemia sebesar 33.%. Adanya penurunan kejadian
tersebut sesuai dengan penelitian Girard & Oluwafunke (2012) menyatakan
bahwa pendidikan dan konseling gizi dapat menurunkan resiko anemia kehamilan
sebesar 30% .

Pengaruh konseling gizi pada ibu hamil dengan anemia terhadap kadar
hemoglobin
Hasil uji dependent t test pada kelompok intervensi di dapat nilai p value <
0,05 yang menunjukan terdapat pengaruh konseling gizi pada ibu hamil dengan
anemia terhadap kadar hemoglobin.Proses konseling gizi yang digunakan dalam

12
penelitian ini untuk meningkatkan kadar hemoglobin yaitu dilakukan selama 45-
60 menit secara kontinu satu minggu sekali selama satu bulan. Media yang
digunakan dalam konseling gizi ini adalah buku penuntun konseling gizi pada ibu
hamil dengan anemia. Di dalam buku tersebut terdapat konsep anemia kehamilan,
diet anemia, daftar bahan penukar makanan serta food record. Manfaat dari buku
ini, untuk memperjelas pesan-pesan yang akan disampaikan dan juga
menambah efektivitas dalam proses konseling gizi.
Konseling gizi ini memberikan informasi terkait pemenuhan gizi yaitu
memperkenalkan bahan makanan yang tinggi zat besinya, bahan makanan yang
dapat membantu penyerapan zat besi serta bahan makanan yang harus dihindari
karena dapat menghambat penyerapan zat besi dan menekankan ibu untuk
mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat besi. Selain itu, asupan gizi
ibu hamil dituliskan dalam food record yang berupa catatan bahan makanan saja
tidak sampai di ukur secara detail kebutuhan zat besinya. Beberapa ibu pada
kelompok intervensi sudah menjalankan perbaikan gizinya dengan baik dan ada
pula ibu yang tidak menjalankannya. Sehingga peningkatan kadar hemoglobin
pun tidak terlalu banyak yang mengalami perubahan.Keadaan tersebut
kemungkinan disebabkan dari daya beli ibu hamil dimana rerata penghasilan
adalah kurang dari UMR Kabupaten Garut, ketidakseimbangan kualitas dan
kuantitas makanan. Dimana beberapa ibu masih ada yang tinggi asupan kalori
tetapi asupan protein, zat besi dan zat gizi lainnya kurang.
Kelebihan dari konseling gizi ini adalah atas dasar inisiatif dari tenaga
kesehatan, berjangka panjang yaitu dilakukan setiap minggu, durasi konseling
yang lebih lama, dan adanya monitoring serta evaluasi terhadap asupan gizi.
Umumnya konseling gizi yang digunakan untuk ibu hamil dengan anemia yaitu
satu bulan satu kali selama tiga bulan tetapi dalam penelitian ini digunakan satu
minggu sekali selama satu bulan. Menurut Juliane (2011) konseling jangka
panjang yaitu dilakukan dalam jangka waktu tertentu (tidak cukup satu kali
pertemuan) dalam mengatsi masalah. Pada prakteknya klien dapat melakukan
konseling setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan. Konseling ini juga
dilakukan sebagai tindak lanjut dari perawatan yang dilaksanakan di fasilitas

13
kesehatan. Dengan cara ini tenaga kesehatan dapat memantau perkembangan
kliennya.
Peneliti memilih waktu konseling setiap minggu selama satu bulan karena
selama ini ANC yang dilakukan di Puskesmas satu kali dalam satu bulan pada ibu
trimester satu dan trimester dua. Ibu hanya mendapatkan satu kali konseling gizi
dengan durasi yang singkat. Pemantauan satu bulan sekali masih belum
meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan. Sehingga diharapkan dengan
konseling gizi setiap minggu ini dapat mendukung kemampuan ibu untuk
menerima informasi, termonitoring dengan baik, meningkatkan motivasi ibu
terhadap perubahan perilaku untuk mengonsumsi zat besi. Konseling yang
dilakukan secara kontinu mempengaruhi perilaku ibu untuk memperbaiki asupan
gizinya. Hal ini karena ibu sering menerima informasi lebih sering dan pada ibu
yang memiliki latar pendidikan tinggi memudahkan baginya untuk menerima
informasi dengan baik.
Ibu hamil lebih termotivasi dalam memperbaiki asupan gizinya karena
setiap minggu di monitoring dan evalusi kebutuhan gizinya sesuai dengan rumus
Hendric Benedict dari konselor sehingga dapat memperbaiki kekurangan gizi
pada minggu sebelumnya. Ibu dapat menghindari faktor faktor yang
menghambat penyerapan zat besi dan yang dapat meningkatkan penyerapan zat
besi sehingga apabila tidak mengkonsumsi tablet Fe ibu masih bisa memenuhi
kebutuhan zat besinya melalui asupan nutrisi pada ibu hamil dengan anemia
ringan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hapzah (2013) di Kabupaten Maros
Provinsi Sulawesi Selatan, di wilayah kerja Puskesmas Barandasi dan
Puskesmas Mandai menyatakan bahwa konseling gizi dapat menambah
pengetahuan, motivasi untuk menerapkan pola makan yang sehat selama
kehamilan. Menurut Garg & Kashyap (2006) menyatakan bahwa dengan
konseling diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas makan, minum
tablet Fe secara teratur. Pengaruh pendidikan dan konseling gizi besar sekali
apabila nutrisi memadai sebagai contohnya makanan atau suplemntasi
mikronutrien atau gizi yang aman (Girard & Oluwafunke, 2012).
Hasil penelitian menunjukan, konseling gizi yang dilakukan dengan durasi
45-60 menit setiap minggu selama satu bulan dapat meningkatkan kadar

14
hemoglobin dengan rerata 1.2 gr/dl. Pada penelitian Garg & Kashyap (2006)
konseling gizi yang dilakukan selama 30-40 menit setiap minggu selama 10-16
minggu dengan rerata peningkatan kadar hemoglobin 0.81 gr/dl. Sedangkan pada
penelitian Hapzah, dkk (2013) terjadi peningkatan kadar hemoglobin dengan
rerata 0.35 setalah diberikan konsleing gizi satu bulan sekali selama tiga bulan.
Hasil penelitian ini sangat berpotensi untuk diterapkan di Puskesmas Cempaka.
Hal ini dikarenakan Puskesmas Cempaka memiliki program rutin kunjungan
rumah setiap tahunnya kepada ibu hamil. Dimana pada program tersebut dapat
sisipkan program konseling gizi dengan durasi 45-60 menit, menggunakan buku
penuntun konseling gizi pada ibu hamil dengan anemia serta memonitoring dan
evaluasi asupan zat besinya.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh konseling
gizi pada ibu hamil dengan anemia terhadap kadar hemoglobin maka dapat
disimpulkan bahwa karakteristik pada kedua kelompok adalah sama dengan p
value > 0.05, rerata kadar hemoglobin sebelum diberikan konseling gizi baik pada
kelompok kontrol maupun pada kelompok intervensi berada dalam kategori
anemia sedang. Setelah diberikan konseling gizi empat kali secara kontinu selama
satu bulan pada kelompok intervensi rerata kadar hemoglobin berada dalam
kategori anemia ringan. Hasil penelitian juga menunjukan terdapat pengaruh yang
bermakna dari konseling gizi terhadap perubahan kadar hemoglobin ibu hamil
dengan anemia sebelum dan setelah mendapatkan konseling gizi dengan p value
< 0.05.
Peneliti menyarankan bagi petugas puskesmas agar senantiasa melakukan
konseling gizi pada ibu hamil dengan anemia untuk meningkatkan kadar
hemoglobin dan pencegahan anemia pada ibu hamil. Konseling gizi dapat
disisipkan dalam setiap kunjungan rumah kepada ibu hamil. Ibu hamil minimal
mendapatkan satu kali konseling gizi selama kehamilannya. Kontribusi tenaga
kesehatan dalam menurunkan anemia sangat berarti. Tenaga kesehatan harus mau
dan menyadari bahwa melalui konseling gizi dengan monitoring dan evaluasi
sesering mungkin dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Hasil penelitian ini

15
dapat menjadi data dasar untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
anemia yaitu tentang asupan nutrisi pada ibu hamil dengan anemia setelah
diberikan konseling gizi. Adapun keterbatasan penelitian ini adalah kurangnya
memperhatikan asupan zat besi yang berasal dari tablet Fe baik dari segi
pemberian maupun dalam pengonsumsian.

Daftar Pustaka

Almatsier, S., Soetardjo, & Soekatri. (2011). Gizi Seimbang dalam Daur
Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ahankari, A., & Bee, J. L. (2015). Maternal Hemoglobin and Birth Weight :
Systematic Review and Metaanalysis. International Journal Of Medical
Science and Public Health, Vol 4 Issue 4 ; 435-444

Ani, L. S. (2015). Buku Saku Anemia Defisiensi Besi Masa Prahamil & Hamil.
Jakarta: ECG.

Depkes RI. (2009). Mengapa ibu hamil harus mengkonsumsi tablet zat besi.
diakses pada http://www.wartamedika.com/2009/01/mengapa-ibu-
hamilharus-mengkonsumsi.html 13 Mei 2016

. (2013). Buku Saku Asuhan Gizi di Puskesmas Pedoman Pelayanan


Gizi Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.

. (2013). Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan


Dasar dan Rujukan Pedoman Bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta: Depkes
RI.

Garg, A., & Kashyap, S. (2006). Effect Counseling on Nutrisional Status During
Pregnancy. Indian Journal of Pediatrics, Volume 73, 687-692.

Gibney, M. J., Hartono, A., Palupi, W., & Erita, A. H. (2009). Gizi Kesehatan
Masyarakat / editor, Michael J. Gibney ...(et al.) ; alih bahasa, Andry
Hartono ; editor edisi bahasa Indonesia, Palupi Widyastuti, Erita Agustin
Hardiyanti. Jakarta: EGC.

Girard, A. W., & Oluwafunke, O. (2012). Nutrition education and counseling


Provided during Pregnancy : Effect on Maternal, Neonatal and Child
Health Outcomes. Pediatric and Epidemiology, 191-204.

Hapzah, Hadju, V., & Sirajuddin, S. (2013). Pengaruh konseling gizi dan
suplementasi gizi mikro dua kali seminggu terhadap peningkatan kadar
hemoglobin dan asupan makanan ibu hamil. Media Gizi Masyarakat
Indonesia, Vol.2,No.2, 64 - 70.

16
Herlina, S. (2014). Gambaran status gizi pada ibu hamil di Puskesmas Sukajadi
Kota Bandung. Skripsi Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Jerath, S., Devasenapathy, N., Singh, A., Shankar, A., & Zodpey, S. (2015). Ante
Natal Care (ANC) utilization, dietary practices and nutritional outcomes in
pregnant and recently delivered women in urban slums of Delhi, India : an
exploratory cross sectional study. BioMed Central : Reproductive Health,
1-11.

Kalaivani. (2009). Prevalence & Consequences of anemia in pregnancy. Indian J


Med Res 130, 627-633

Kavle, J. A., Stoltzfus, R. J., Witter, F., Tieisch, J. M., Khalfan, S. S., & Caulfield,
L. (2008). Association between Anemia during Pregnancy and Blood Loss
at and after Delivery among Women with Vaginal Births in Pemba Island
Zanzibar Tanzania. J Health Popul Nutr 26 (2), 232-240.

Kemenkes RI. (2015). Infodatin Pusat Data dan Informasi Kemenkes Situasi dan
Analisis Gizi bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat
Berprestasi. Jakarta: Kemenkes RI.

Kumar, R. (2014). Anemia : A common Health Problem, COnsequence and Diet


Management among Young Children and Pregnant Women. Biological
Forum - An Internasional Journal, 6 (1) : 27-32.

Lowdermilk, D. L., Perry, S. E., & Cashion, K. (2013). Maternity Nursing 8th
Edition. Singapore: Elsevier.

Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta:Rineka


Cipta

Nusrat, U., Karim, S. A., & Nasim, A. (2014). Comparison of Fetal Birth Weight
Between Anaemic and Non Anaemic Pregnant Women. 85-90.
Ramawati, Dian, Mursiyam, Waluyo Sejati. (2008.) Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kepatuhan Ibu Hamil Dalam Mengkonsumsi Tablet Besi
di Desa Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas.
Jurnal Keperawatan Soedirman Volume 3 No.3.

Riset Kesehatan Dasar. (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan. Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Jakarta.

Seck, B. C. (2007). Supplementation Strategi and Its Impact On Hematological


Status In The Control of Anemia Of Pregnancy In Senegal. United State:
UMI.

Simkin, P., Whalley, J., & Keppler, A. (2008). Panduan Lengkap Kehamilan,
Melahirkan dan Bayi Edisi Revisi. Jakarta: Arcan.

Sunarto. (2010). Hubungan kejadian anemia dengan kejadian perdarahan post


partum di Poned Ngawi tahun 2010 VOl III No 2

17
Supariasa, I. (2013). Pendidikan dan Konsultasi Gizi. Jakarta: EGC.

Taufik M &Juliane. (2011). Komunikasi terapeutik dan konseling dalam praktik


kebidanan. Jakarta : Salemba Medika

Tarwoto & Wasnindar. (2007). Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil, Konsep dan
Penatalaksanaan. Jakarta : Trans Info Media

Umar, Z., Rasool, M., Asif, M., Karim, S., Malik, A., Mushtaq, G., et al. (2015).
Evaluation of Hemoglobin Concentration in Pregnancy and Correlation
with Different Altutude : A Study from Balochistan Plateau of Pakistan.
The Open Biochemistry Journal, 9, 7-14.

Waryana. (2010). Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama.

18