Anda di halaman 1dari 6

PERAN AGEN REMINERALISASI PADA LESI KARIES DINI

Yani Corvianindya Rahayu


Departement of Oral Biology Faculty of Dentistry University of Jember

ABSTRACT

Remineralization is a natural repair process for caries lesions. It is now well-accepted that the primary
modes of action of fluoride are enhancement of remineralization, inhibition of demineralization, and inhibition of
plaque bacteria, with remineralization being the most important. This study to aimed to understanding the role of
remineralization methods to alter mineral balance on management of non-invasive dental caries. Calcium and
phosphate delivery can be enhanced to improve remineralization, especially in persons with reduced salivary
function. There is a great need for improved and novel remineralization methods to alter the caries balance for the
better, especially in individuals with a high cariogenic bacterial challenge. There was also influence of fluoride and
carbonate on the remineralization process. Dentinal tubules were occluded by apatite crystallites is a feature also
shared by transparent dentin beneath caries lesions and age-induced transparent dentin. It is based on unstabilized
amorphous calcium phosphate (ACP), where a calcium salt and a phosphate salt are delivered intra-orally or
delivered in a product with a low water activity. As the salts mix with saliva, they dissolve, releasing calcium and
phosphate ions. The mixing of calcium ions with phosphate ions to produce an ion activity product for amorphous
calcium phosphate that exceeds its solubility product results in the immediate precipitation of ACP or, in the
presence of fluoride ions, amorphous calcium fluoride phosphate (ACFP). In the intra-oral en vironment, these phases
(ACP and ACFP) are potentially very unstable and may rapidly transform into a more thermodynamically stable,
crystalline phase (e.g., hydroxyapatite and fluorhydroxyapatite). However, before phase transformation, calcium
and phosphate ions should be transiently bioavailable to promote enamel subsurface lesion remineralization.

Keywords : remineralization, mechanism of action, caries lesions

Korespondensi (Correspondence) : ryanicorvianindya@yahoo.com

Karies gigi merupakan suatu proses terdepositnya kembali ion-ion kalsium


penyakit yang kompleks, karena multifaktor, dan fosfat dari lingkungan ke dalam kristal
infeksius dan bersifat kronis, yang diawali enamel yang mengalami demineralisasi.
dengan adanya asam yang akan Sistem remineralisasi berbasis kalsium-fosfat
menghancurkan mineral-mineral gigi. telah berkembang pesat dalam aplikasi klinik.
Keparahan karies juga dipengaruhi oleh System ini meliputi crystalline dan amorphous
interaksi beberapa faktor, diantaranya tingkat calcium phosphate. Tehnologi dalam sistem
pengetahuan, pola diet, pengobatan atau ini telah banyak dikembangkan dalam
konsumsi obat-obatan, perawatan gigi, penggunaan secara klinis, yaitu remineralizing
genetik, morfologi gigi, oral higiene, fluoridasi system utilizing casein phosphopeptides untuk
dan pencegahan terhadap karies. 1 menstabilkan dan membawa ion-ion kalsium,
Lesi karies akan terjadi bila ada fosfat dan fluoride. Penatalaksaan dengn
ketidakseimbangan antara faktor protektif tehnik ini potensial dan efektif pada lesi karies
dan faktor patologik, yang akan dini karena meningkatkan remineralisasi dan
menimbulkan gangguan pada proses mencegah demineralisasi enamel. 4,5,6
demineralisasi-remineralisasi. Pembentukan Telaah pustaka ini merupakan
biofilm plak menjadi pemicu proliferasi bakteri overview tentang peran remineralisai pada
kariogenik dengan memproduksi asam hasil jaringan gigi melalui variasi bahan-bahan
fermentasi karbohidrat. Keadaan ini yang digunakan dalam metode terbaru dan
menyebabkan turunnya pH saliva, sehingga implikasi klinisnya.
akan merusak struktur mineral gigi. pH yang
rendah meningkatkan populasi flora patogen. Mekanisme Remineralisasi Alami
Lesi awal tampak sebagai hasil dari hilangnya
kalsium, fosfat, dan karbonat, membentuk lesi Proses remineralisasi dapat terjadi
eminerlisasi di subsurface yang sering disebut jika pH di netralkan dan terdapat ion Ca2+
sebagai white spots, terutama di daerah dan PO43- dalam jumlah yang cukup.
akumulasi plak. Tahap awal dari lesi dini Pelarutan apatit dapat menjadi netral
dapat dicegah dengan menurunkan faktor dengan buffering, dengan kata lain Ca2+ dan
patologik seperti plak biofilm, dan PO43- pada saliva dapat mencegah proses
meningkatkan faktor protektif. 2,3 pelarutan tersebut. Ini dapat membangun
Perkembangan ilmu kedokteran gigi kembali bagian-bagian kristal apatit yang
telah banyak membahas tentang larut. Selama erupsi gigi terdapat proses
manajemen lesi karies non kavitas atau non mineralisasi berlanjut yang disebabkan
invasif melalui remineralisasi sebagai usaha adanya ion kalsium dan fosfat dalam saliva.
untuk mencegah progresivitas karies dan Pada mulanya apatit enamel terdiri atas ion
meningkatkan estetik, fungsi dan kekuatan karbonat dan magnesium namun mereka
gigi. Remineralisasi didefinisikan sebagai sangat mudah larut bahkan pada keadaan

25
Stomatogantic (J. K. G Unej) Vol. 10 No. 1 2013: 25-30

asam yang lemah. Sehingga terjadi Berbagai macam konsep tentang mekanisme
pergantian, yakni hidroksil dan floride kerja fluor yang berkaitan dengan
menggantikan karbonat dan magnesium pengaruhnya pada gigi sebelum dan
yang telah larut, menjadikan email lebih sesudah gigi erupsi. Pemberian fluor yang
matang dengan resistensi terhadap asam teratur baik secara sistemik maupun lokal
yang lebih besar. Tingkat kematangan atau merupakan hal yang penting diperhatikan
resistensi asam dapat ditingkatkan dengan dalam mengurangi terjadinya karies oleh
kehadiran flouride. Pada saat pH menurun, karena dapat meningkatkan remineralisasi.
ion asam bereaksi dengan fosfat pada saliva Namun demikian, jumlah kandungan fluor
dan plak (atau kalkulus), sampai pH kritis dalam air minum dan makanan harus
disosiasi HA tercapai pada 5,5. Penurunan pH diperhitungkan pada waktu memperkirakan
lebih anjut menghasilkan interaksi progresif kebutuhan tambahan fluor, karena
antara ion asam dengan fosfat pada HA pemasukan fluor yang berlebihan dapat
menghasilkan kelarutan permukaan kristal menyebabkan fluorosis.
parsial atau penuh. Flouride yang tersimpan Selain mempunyai efek bufer, saliva
dilepaskan pada proses ini dan bereaksi juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa
dengan Ca2+ dan HPO42- membentuk FA makanan di dalam mulut. Aliran saliva pada
(Flouro Apatit). Jika pH turun sampai dibawah anak-anak meningkat sampai anak tersebut
4,5 yang merupakan pH kritis untuk kelarutan berusia 10 tahun, namun setelah dewasa
FA, maka FA akan larut. Jika ion asam hanya terjadi peningkatan sedikit. Pada
dinetralkan dan Ca2+ dan HPO42 dapat individu yang berkurang fungsi salivanya,
ditahan, maka remineralisasi dapat terjadi. 7 maka aktivitas karies akan meningkat secara
signifikan. Pengaruh pola makan dalam
Konsep Caries Balance proses karies biasanya lebih bersifat lokal
daripada sistemik, terutama dalam hal
Adanya hubungan sebab akibat frekuensi mengonsumsi makanan. Setiap kali
terjadinya karies sering diidentifikasi sebagai seseorang mengonsumsi makanan dan
faktor risiko karies. Beberapa faktor yang minuman yang mengandung karbohidrat,
dianggap sebagai faktor risiko adalah maka beberapa bakteri penyebab karies di
pengalaman karies, penggunaan fluor, oral rongga mulut akan mulai memproduksi asam
higiene, jumlah bakteri, saliva dan pola sehingga terjadi demineralisasi yang
makan. Insiden karies dapat dikurangi berlangsung selama 20-30 menit setelah
dengan melakukan penyingkiran plak secara makan. Di antara periode makan, saliva akan
mekanis dari permukaan gigi, namun banyak bekerja menetraliser asam dan membantu
pasien tidak melakukannya secara efektif. proses remineralisasi. Namun, apabila
Peningkatan oral higiene dapat dilakukan makanan dan minuman berkarbonat terlalu
dengan menggunakan alat pembersih sering dikonsumsi, maka enamel gigi tidak
interdental yang dikombinasi dengan akan mempunyai kesempatan untuk
pemeriksaan gigi secara teratur. melakukan remineralisasi dengan sempurna
sehingga terjadi karies. 8,9

Gambar 1. Remineralisasi terjadi tanpa adanya sukrosa, akan memperbaiki struktur enamel dengan
hydroxy apatite and fluorapatite 7

26
Peran Agen Remineralisasi pada Lesi Karies Dini. (Yani C R)

Gambar 2. Berdasarkan teori caries balance theory, karies tidak terjadi karena faktor tunggal, namun
akibat interaksi kompleks antara faktor patologi dan faktor protektif. 10

Agen-agen Remineralisasi phosphate) atau CPP-ACFP (casein


Fluoride phophopeptides with amorphous calcium
Mekanisme kerja fluoride pada fluoride phosphate). CPP-ACP menunjukkan
remineralisasi efektif setelah gigi erupsi. Hal ini penuruna demineralisasi dan peningkatan
dibuktikan bahwa konsentrasi F dalam plak remineralisasi pada permukaan lesi karies dini.
dan saliva secara simultan menghambat Peran utama dari casein phosphopeptides
demineralisasi dan mempercepat adalah memodulasi bioavailability level
remineralisasi, dengan meningkatkan calcium phosphate dengan memelihara
pembentukan fluoroapatite, yang lebih supersaturasi ion P dan Ca untuk
resisten terhadap asam dibanding meningkatkan remineralisasi. ACP juga
hidroksiapatit. Selain itu meningkatkan mengontrol presipitasi CPP dengan ion Ca
remineralisasi melalui ikatan ionik selama dan P. Keuntungan CPP-ACFP adalah
pembentukan pelikel plak, menghambat available terhadap ion Ca, P dan F pada
pertumbuhan mikroorganisme dan proses remineralisasi karies enamel. 13
metabolismenya. Fluoride dapat bersifat CPP juga terdeteksi memiliki efek
bakteriostatik maupun bakterisida, tergantung antibakterial dan sebagai buffer terhadap
pada konsentrasinya.11 plak dan menghambt pertumbuhan serta
Remineralisasi yang alami terjadi perlekatan Streptococcus mutans dan
dengan adanya re-uptake ion kalsium dan Streptococcus sorbinus. Bila dikombinasikan
fosfat of calcium and phosphate ions from dengan fluoride, CPP-ACP mempunyai efek
saliva didukung dengan adanya fluoride. lebih terhadap aktivitas karies. Penggunaan
Bentuk yang paling banyak digunakan CPP-ACP bersamaan dengan fluoride pada
adalah stannous fluoride, sodium fluoride, and pasta gigi terbuksi dapat mengurangi
sodium monofluorophosphate. Pemakaian demineralisasi disekitar orthodontic brackets
dalam bentuk pasata gigi, gel, foam (<5,000 dan meremineralisasi white spots. 14
ppm), obat kumur (233 ppm - 920 ppm), dan
varnish (22,600 ppm). Aplikasi fluoride dapat Sugar Substitutes
digunakan dalam bentuk kombinasi dengan Xylitol merupakangula pengganti
sodium, tin, titanium. Titanium fluoride (TiF) yang banyak ditambahkan dalam permen
sebagai bahan kombinasi terbaru karet. Sebuah gula alkohol yang
menunjukkan peningkatan uptake kalsium nonfermentable beraksi sebagai carrier atau
yang hilag selama demineralisasi. 12 reservoir utuk calcium phosphates.
Penambahan fluoride bersama xylitol
Casein Phosphopeptides (CPP) disebutkan mempunyai efek yang
Casein phosphopeptides adalah menguntungkan, dengan asumsi kadar F > 0.8
agen remineralisasi yang terbaru digunakan ppm. Xylitol restrains remineralisasi bila
dalam preventive dentistry. Agen ini dapat konsentrasi fluoride rendah. Sorbitol
digunakan sebagai CPP-ACP (casein merupakan gula pengganti yang lain yang
phophopeptides with amorphous calcium juga digunakan sebagai pemanis buatan.

27

Stomatogantic (J. K. G Unej) Vol. 10 No. 1 2013: 25-30

Kemampuan xylitol dan sorbitol dalam namun merupakan interaksi faktor patologik-
remineralisasi karies dini dikatakan hampir faktor protektif. Karies dapat terjadi karena
sebanding. 15 ketidakseimbangan salah satu faktor. Sebagai
contoh individu yang sehat dapat mengidap
Ozone xerostomia karena mengkonsumsi obat-
Ozone merupakan senyawa kimia obatan tertentu. Selain itu peran genetik juga
yang terdiri dari 3 atom oksigen (O3, triatomic penting dalam ketahanan tubuh seseorang
oxygen). Ozone therapy terbukti efektif pada atau susceptibility terhadap dental caries.20
aplikasi dental, termasuk pada Karies gigi dapat menimbulkan masalah
prosthodontics, endodontics, periodontics, kesehatan yang lebih serius pada anak-anak
surgical procedures, dan preventive dentistry. maupun dewasa. Fluoride sangat diperlukan
Banyak digunakan pada sterilisasi kavitas, root untuk seseorang yang mempunyai tingkat
canals, periodontal pockets, and herpetic keparahan karies tinggi, tentunya dengan
lesions. Ozone therapy juga menstimulasi dosis yang tepat dan efektif penggunaannya.
remineralisasi karies dini dengan periode Kalsium dan fosfat dapat meningkatkan
perawatan 6 sampai 8 minggu. 16 remineralisasi khususnya bagi individu dengan
penurunan fungsi saliva maupun individu
Hydroxyapatite dengan tingakat karies tinggi (high cariogenic
Carbonate hydroxyapatite bacterial challenge). Penggunaan permen
nanocrystals, memiliki ukuran, morfologi, karet dapat merangsang sekresi saliva yang
komposisi kimia dan crystallinity yang rendah dan potensial sebagai agen anti
sebanding dengan dentin, sehingga karies. Penambahan bahan remineralisasi
disebutkan dapat meremineralisasi enamel. dapat dilakukan pada permen karet misalnya
Konsentrasi 10% nanohydroxyapatite optimal fluoride dan CPP-ACP, yang dapat
untuk remineralizsasi karies enamel dini.. dimodifikasi dengan penambahan xylitol atau
Hydroxyapatite digunakan dalam pastagigi sorbitol. CPP-ACP efektif diaplikasikan pda
dan pit-and-fissure sealants. Hydroxyapapite lingkunfan rongga mulut yang asam.21
crystals secara efektif berpenetrasi ke dalam Mekanisme kerja CPP-ACP erada
tubulus dentin dan mengobturasi, sehingga didalam enamel subsurface lesion. CPP-ACP
dapat menutup tubulus yang terbuka. 17 and CPP-ACFP mempunyai radius
hidrodinamik 1.53 0.04 nm and 2.12 0.26
Glass Ionomers nm. Melalui ukuran dan electroneutrality
Glass ionomer melepaskan fluor dari nanocomplexes, bahan tersebut dapat
bahan restorasi disekitar 1 mm daerah margin. menembus porositas enamel dan berdifusi ke
Glass ionomer juga berinteraksi dengan dalam lesi subsurface. Hal ini dapat dideteksi
bakteri untuk kemudian menghambat dengan confocal laser microscopy and
pembentukan asam.. Resin-modified glass fluorescently labeled anti-CPP antibodies.
ionomers dilaporkan lebih resisten terhadap Sekali masuk dalam lesi, CPP-ACP akan
degradasi permukaan dibandingkan melepas ikatan ion kalsium-fosfat, yang
conventional glass ionomer. 18 kemudian akan didepositkan kedalam crystal
voids. Pelepasan ion Ca-P secara
Pit-and-Fissure Sealants termodinamik. CPP berikatan dengan kristal
Pit-and-fissure sealants merupakan apatite dalam enamel subsurface lesion,
material yang sering digunakan dalam sehingga berperan penting dalam regulasi
preventive dentistry, karena mempunyai pertumbuhan kristal anisotropic dan juga
mechanical barrier melawan bakteri yang menghambat demineralisasi kristal apatite.22
berkembang didaerah pits dan fissures. Bahan Dewasa ini nanotechniques, nanoscopic
sealants bisa berbahan dasar resin maupun tools, dan x-ray scanning tomography (XTM)
glass ionomer. Namun bahan resin tidak telah digunakan untuk membuat profil 3
melepas fluoride, sehingga bahan GI lebih dimensi struktur dentin normal maupun karies
efektif terhadap pencegahan karies. (l m x l m x l m cube). Demikian juga,
Penambahan agen remineralisasi seperti synthetic carbonate-hydroxyapatite
fluorides dan CCP-ACP dapat meningkatkan biomimetic (CHA) nanocrystals mulai banyak
remineralisasi. Fluoride yang lepas melalui diteliti dalam proses in vitro untuk mendeteksi
hydrolysis difusi external dand internal. ACP- perubahan pada permukaan enamel.
yangterkandung dalam sealant mempunyai Penatalaksanaan demineralisasi enamel
kapasitas remineralisasi yang lebih besar dengan CHA nanocrystals selama 10 menit
dalam meremineralisasi permukaan lesi karies. menunjukkan adanya remineralisasi enamel
19 yang konsisten, yaitu dengan terbentuknya
carbonate-hydroxyapatite coating. Lapisan
DISKUSI ini terjadi karena ikatan kimia dari synthetic
CHA nanocrystals pada permukaan prisma
Berdasarkan teori caries balance, hidroksiapatit enamel.23
karies tidak dihasilkan oleh faktor tunggal,

28
Peran Agen Remineralisasi pada Lesi Karies Dini. (Yani C R)

Gambar 3. Macam-macam agen remineralisasi

KESIMPULAN 4. Tung MS, Eichmiller FC. Amorphous


calcium phosphates for tooth
Remineralisasi yang alami terjadi mineralization. Compend Contin Educ
dengan adanya re-uptake ion kalsium dan Dent 2004; 25(9 Suppl 1):S9-S13.
fosfat of calcium and phosphate ions from
saliva didukung dengan adanya fluoride. 5. Reynolds EC, Cai F,Cochrane NJ, Shen
Casein phosphopeptides adalah agen P, Walker G, Morgan MV. Fluoride and
remineralisasi yang terbaru digunakan dalam casein phosphopeptide - amorphous
preventive dentistry. Agen ini dapat calcium phosphate. J Dent Res 2004;
digunakan sebagai CPP-ACP (casein 87:344-48.
phophopeptides with amorphous calcium
phosphate) atau CPP-ACFP (casein 6. Hara AT, Karlinsey RL, Zero DT. Dentine
phophopeptides with amorphous calcium remineralisation by simulated saliva
fluoride phosphate). CPP-ACP menunjukkan formulations with different Ca and P in
penurunan demineralisasi dan peningkatan contents. Caries Res 2008; 42: 51-6.
remineralisasi pada permukaan lesi karies dini.
7. Cury JA, Tenuta LMA. Enamel
DAFTAR PUSTAKA remineralization: controlling the caries
1. Featherstone JD. Remineralization, the disease or treating early caries lesions?.
natural caries repair processthe Braz. oral res. June 2009; 23 (1).
need for new approaches. Adv Dent
Res 2010.21:1-2. 8. Zero DT, Fontana M, Martnez-Mier EA,
et al. The biology, prevention,
2. Athena S. Papas, Mabi L. Singh. diagnosis and treatment of dental
Remineralization Strategies : Dental caries. J Am Dent Assoc 2010. 140
caries slow progression offers dental (Suppl 1): 25S-34S.
professionals an opportunity for early
intervention. Inside Dentistry, Feb 2010 ; 9. Ten Cate JM, Featherstone JD.
6 (2). Mechanistic aspects of the interactions
between fluoride and dental enamel.
3. Winn DM, Brunelle JA, Selwitz RH, et al. Crit Rev Oral Biol Med 1991; 2 (3): 283-
Coronal and root caries in the 96
dentition of adults in the United States,
1988-1991. J Dent Res 1996; 75: 642-51. 10. Featherstone JD. Caries prevention
and reversal based on the caries

29

Stomatogantic (J. K. G Unej) Vol. 10 No. 1 2013: 25-30

balance. Pediatr Dent2006; 28 (2):128-


32; discussion 192-198. 17. Huang SB, Gao SS, Yu HY. Effect of
nano-hydroxyapatite concentration on
11. American Dental Association Council remineralization of initial enamel lesion
on Scientific Affairs. Professionally in vitro. Biomed Mater 2009; 4 (3):
applied topical fluoride: evidence- 34104.
based clinical recommendations. J Am
Dent Assoc 2006; 137 (8): 1151-59. 18. Benelli EM, Serra MC, Rodrigues AL Jr,
Cury JA. In situ anticariogenic potential
12. Exterkate RA, ten Cate JM. Effects of a of glass ionomer cement. Caries Res
new titanium fluoride derivative on 1993. 27 (4): 280-84.
enamel de- and remineralization. Eur J
Oral Sci 2007; 115 (2): 143-47. 19. Silva KG, Pedrini D, Delbem AC, et al. In
situ evaluation of the remineralizing
13. Cross KJ, Laila Huq N, Palamara JE, et capacity of pit and fissure sealants
al. Physicochemical characterization containing amorphous calcium
of casein phosphopeptide-amorphous phosphate and/or fluoride. Acta
calcium phosphate nanocomplexes. J Odontol Scand 2010. 68 (1): 11-18.
Biol Chem 2005; 280 (15): 15362-69.
20. Featherstone JD. The science and
14. Reynolds EC. Remineralization of practice of caries prevention. J Am
enamel subsurface lesions by casein Dent Assoc 2000. 131 (7): 887-99.
phosphopeptide-stabilized calcium
phosphate solutions. J Dent Res 1997. 21. Featherstone JDB. Remineralization,
76 (9): 1587-95. the Natural Caries Repair Process: The
Need for New Approaches. Dental Res
15. Toshinari M. Remineralization -ADR 2009; 21 (1): 4-7
promoting effect of chewing gum
containing fluoride and xylitol. 22. Cochrane NJ, Cai F, Huq NL, Burrow
Japanese J Pediatric Dent 2005; 43 (1): MF, Reynolds EC. New Approaches to
1-11. Enhanced Remineralization of Tooth
Enamel. J Dent Res 2010. 89 (11): 1187-
16. Huth KC, Paschos E, Brand K, Hickel R.. 97
Effect of ozone on non-cavitated
fissure carious lesions in permanent 23. Nakashima M, Reddi AH. The
molars. A controlled prospective application of bone morphogenetic
clinical study. Am J Dent 2005; 18 (4): proteins to dental tissue engineering.
223-28. Nat Biotechnol 2003; 21(9): 1025-32.

30