Anda di halaman 1dari 6

B.

LANGLAH-LANGKAH ANALISIS KEBUTUHAN


Sebagai suatu proses , need assissment terdiri atas rangkaian kegiantan yang diawali
oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah.
Secara lengkap kegiatan need assissment digambarkan oleh Glasgow dalam komponen
komponen need assessment, atara lain :
1. Tahapan pengumpulan informasi
Dalam merancang.pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih
dahulu informasi tentang siapa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan
belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi,dan bagaimana pengaruh keadaan keadaan
tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat
dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam proses pemecahan
masalah.
Witkin (1984) mendefinisikan analisis kebutuhan, sebagai proses membuat
keputusan dengan memanfaatkan informasi yang dikumpulkan.
Tiga hal yang dapat diingat dalam proses perencanaanpengumpulan data :
Apa yang anda ingin ketahui?
Bagaimana yang anda dapat lakukan dalam proses pengumpulan data tersebut?
Siapa yang dapat dijadikan sumber informasi dalam proses pengumpulan data tersebut?[4]
Data-data yang terkumpul akan bermanfaat dalam menentukan dan menyusun langkah-
langkah selanjutnya, Yang jelas seorang desainer pembelaiaran dalam proses merancang sistem
pembelaiaran harus berpijak pada informasi yang terkumpul.
Seorang pengumpul data perlu memiliki kemampuan dalam pelaksanaan teknis, misalnya dalam
melakukan wawancara, observasi, serta dalam memanfaatkan sumber yang ada. Sebaiknya
proses pengumpulan data, tidak dilakukan hanya dengan satu teknik saja melainkan bisa
dilakukan berbagai jenis teknik pengumpulan data secara bersarnaan. Misalnya ketika seorang
pengumpul data melakukan wawancara sekaligus ia iuga melakukan observasi dan mungkin
melakukan studi dokumentasi.
2. Tahapan identifikasi kesenjangan
Dalam mengidentifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan
identifikasi keseniangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM,
Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Dua elemen pertama, yaitu
input dan prosesadalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan surnber yang ada; sedangkan
elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Selanjutnya untuk lebih jelas maka digambarkan sebagai berikut :[5]
INPUT
PROSES
PRODUK
OUTPUT
OUTCOME

Input; kondisi yang tersedia pada saat ini, misalnya tentang


keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, problem, tujuan, materi kurikulum.
Proses; meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf,
pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompentensi, perencanaan,
metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang
metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku.
Produk; meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang
dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi
Output; meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi.
Outcome; hasil akhir yang diperoleh

3. Analisis Performace
Analisis performance meliputi beberapa hal di antaranya :
Mengidentifikasi guru. Bagaimana kinerja guru selama ini dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya dalam pengelolaan pembelajaran? Analisis performance mengenai hal ini
perlu dilakukan, sebab bagaimanapun lengkap dan tersedianya segala kebutuhan pembelajaran
maka tidak akan bermakna manakala kemampuan guru tidak menunjang. Menganalisis
performance guru tidak terbatas pada penguasaan materi pernbelaiaran saja, akan tetapi iuga
terhadap keterampilan dalam mengelola pembelajaran misalnya keterampilan dalam penggunaan
berbagai strategi pembelajaran, pefnanfaatan alat, bahan dan sumber belafar serta kernarn. puan
melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa.
Mengidentifkasi sarana dan kelengkapan penunjang. Bagaimana kelengkapan sarana dan
prasarana yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran? Diakui, adanyakesenjangan bisa
teriadi manakala proses pembelajaran tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana yang
dibutuhkan. Seorang desainer pembelajaran perlu mengevaluasi dan menganalisis kondisi ini,
sebab bagaimanapun idealnya suatu pemecahan masalah yang diusulkan akhirnya akan kembali
pada tersedia atau tidaknya sarana pendukung. Sistem pendidikan cenderung akan efektif
manakala didukung oleh ketersediaan fasilitas sebagai sumber pendukung.
Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah. Bagaimana kebijakan-kebijakan sekolah dalam
menunjang keberhasilan proses pembelajaran? Untuk menunjang keberhasilan, pimpinan sekolah
perlu menerbitkan berbagai kebijakan yang dapat rnemfasilitasi guru dalam melaksanakan
programnya. Dengan demikian, pimpinan sekolah dituntut untuk terbuka terhadap segala
permasalah yang dihadapi semua unsur yang berkepentingan dalam pelaksanaan program
sekolah baik terbuka terhadap guru, komite dan orang tua siswa dan unsur lainnya.
Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim psikologis. Bagaimana suasana disekolah? Apakah
sekolah memiliki iklim yang baik sehingga dapat mendukung keberhasilan setiap program?
Iklim sosial adalah hubungan yang baik antara semua unsur sekolah; sedangkan iklim psikologis
suasana kebersamaan antara semua unsur sekolah.

4. Mengodentifikasi kendala beserta sumber-sumbernya


Tahap keempat dalam need assesstnent adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang
muncul beserta sumber-sumbernya.Dalam pelaksanaan suatu program berbagaikendala bisa
muncul sehingga dapat berpengaruh terhadapkelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat
meliputi,waktu, fasiliias, bahan, pengelompokan dan komposisinya, filosofi, personal, dan
organisasi. Sumber-sumberkendala bisa berasal dari:
pertama, orang yang terlibatdalam suaru program pembelaiaran, misalnya guru-
kepalasekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk iuga dalam unsurorang ini adalah unsur filsafat
atau pandangan orang terhadappekerjaannya, motivasi keria, dan kemampuan yangdimiilkinya.
kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputiketersediaan dan kelengkapan fasilitas
sertakondisi fasilitas. Dan Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan besertapengaturannya.
5. Identifikasi karakter Siswa
Tujuan utama dalam desai pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi
siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagia dari need assissment.
Identifikasi yang berkaitan dengan siswa diantaranya adalah tentang usia, jenis kelamin, level
pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap.

6. Identifikasi tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessrnent sebagai suatu proses
mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yangterjadi dan
apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari
setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat
dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai
merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assesstnent.

7. Penentuan permasalahan
Tahap akhir dalam proses analisis kebutuhan adalah menuliskan pernyataan masalah
sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain instruksional. Penulisan masalah pada
dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan
masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu atau dua
paragraf.

C. SUMBER ANALISIS KEBUTUHAN


Seperti yang telah dijelaskan desain instruksional berorientasi pencapaian kompetensi,
adalah sistem desain yang dikembangkan untuk mendukung keberhasilan kurikulum yang
berorientasi pada kompetensi, seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara
umum ada dua jenis analisis kebutuhan, yakni analisis kebutuhan akademis dan nonakademis.

1. Analisis kebutuhan akademis


Analisis kebutuhan akademis adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai
dengan kurikulum yang berlaku yaitu KTSP. Kompetensi yang harus dicapai oleh KTSP
tercermin dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (SI dan SKL) sebagai standar
kemampuan minimal yang harus dicapai.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Pasal 26
dijelaskan Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan menengah umum bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan menengah kejuruan bertujuan
untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.[6]

2. Analisis kebutuhan nonakademis


Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36
Ayat 1, menjelaskan bahwa daerah dapat mengembangkan kurikulum muatan lokal, yakni
kurikulum yang memiliki kekhasan sesuai dengan kebutuhan daerah, serta aspek pengembangan
diri yang sesuai dengan minat siswa. Selanjumya ayat2, menjelaskan bahwa kurikulum pada
semua jenjang dan ienis pendidikarr dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan
satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Atas dasar itulah, dalam proses
pengembangan desain pembelajaran sekolah memiliki ruang yang cukup luas untuk
mengembangkan isi kurikulum sesuai kebutuhan siswa, potensi, dan karakteristik daerah masing-
masing.
Baik dalam proses pengembangan maupun proses implementasi kurikulum, siswa
harus menjadi tumpuan utama, artinya seluruh proses pengembangan dan implementasi
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pada kenyataannya yang dibutuhkan siswa bukan
saja ke-butuhan akademis, yakni kebutuhan untuk menguasai konsep dan pinsip seperti yang
disaiikan dalam berbagai mata pelajaran atau bidang studi, akan tetapi iuga kebutuhan
nonakademis yakni berbagai kebutuhan yang berkenaan dengan potensi, minat dan bakat setiap
siswa sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Dalam konteks inilah perlu dilaksanakan studi kebutuhan nonakademis setiap siswa.
Ada sejumlah prinsip pengembangan kebutuhan nonakademis, yaitu :
a. Tidak bertentangan dengan filsafat atau pandangan hidup bangsa yaitu nilai-nilai pancasila.
b. Dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal dimana siswa itu berada.
c. Dikembangkan untuk meningkatkan nilai-nilai kebangsaan atau untuk
menumbuhkankembangkan budaya nasional.
d. Dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
e. Dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berkompetensi pada masyarakat global.[7]