Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

KESEHATAN MASYARAKAT DASAR (GIZI)

PENILAIAN STATUS GIZI


SECARA ANTROPOMETRI

OLEH
INDAH NUR INSANI
K111 15 338
KELOMPOK 3
KELAS C

LABORATORIUM KIMIA BIOFISIK


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
KESEHATAN MASYARAKAT DASAR (GIZI)

PENILAIAN STATUS GIZI


SECARA BIOKIMIA

OLEH
INDAH NUR INSANI
K111 15 338
KELOMPOK 3
KELAS C

LABORATORIUM KIMIA BIOFISIK


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak
yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan
antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan
pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan
riwayat diet (Tirtawinata, 2006).
Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat kurang, kemakmuran
ternyata diikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di perkotaan
bergeserdari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat,
sayuran makanan berserat ke pola makan masyarakat barat yang komposisinya terlalu
banyak mengandung lemak, protein, gula, garam tetapi miskin serat. Sejalan
dengan itu setahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka prevalensi
kegemukan/obesitas pada sebagian penduduk perkotaan, yang diikuti pula
padaakhir-akhir ini di pedesaan (Asmayuni, 2007).
Di negara berkembang, khususnya negara yang sedang mengalami
transisi, gizi kurang yang sudah merupakan masalah tetap, bahkan kini timbul
bersamaan dengan masalah gizi lebih (kegemukan). Kegemukan atau
overweight merupakan akibat dari kelebihan lemak tubuh karena tidak adanya
keseimbangan antara kalori yang dikonsumsi dan energi yang dikeluarkan
dan seringkali menyebabkan gangguan kesehatan (Asmayuni, 2007).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu. Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling
sering digunakan adalah antropometri gizi. Antropometri adalah ilmu yang
mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia.Dalam bidang ilmu gizi
digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang seringdigunakan adalah
berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuh lainnya seperti
lingkar lengan atas, lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut,lingkaran perut,
lingkaran pinggul. Ukuran-ukuran antropometri tersebut bias berdiri sendiri
untuk menentukan status gizi dibanding baku atau berupa indek dengan
membandingkan ukuran lainnyaseperti BB/U, BB/TB. TB/U (Sandjaja,
2010).

Risiko akibat perubahan statsus gizi seseorang (obesitas) dapat dilihat


dengan cara pengukuran antropometri. Antropometri berasal dari anthro yang
berarti manusia dan metron yang berarti ukuran. Secara definitif,
antropometri dinyatakan sebagai suatu studi yang menyangkut pengukuran
dimensi tubuh manusia dan aplikasi rancangan yang menyangkut geometri
fisik, massa, kekuatan dan karakteristik tubuh manusia yang berupa bentuk
dan ukuran. Pengukuran antropometri ini membantu untuk mengevaluasi
status kesehatan dan diet seseorang, risiko penyakit, dan perubahan
komposisi tubuh serta dapat menilai status obesitas seseorang (Fatmah,
2008).
Antropometri adalah serangkaian teknik-teknik pengukuran dimensi
kerangka tubuh manusia secara kuantitatif. Antropometri seringkali
digunakan sebagai alat pengukuran antropologi biologi yang bersifat cukup
obyektif dan terpercaya. Perubahan komposisi tubuh yang terjadi pada pria
dan wanita yang bervariasi sesuai tahapan penuaan dapat mempengaruhi
antropometri (Fatmah, 2008).
Pengukuran antropometri dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Indeks
Massa Tubuh (IMT), prediksi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut, arm
span, demi span, dan ulna span, kemudian Waist to Hip Ratio (WHR) yaitu
rasio lingkar pinggang dan panggul, serta lingkar perut, dan yang terakhir
yaitu pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dan pengukuran tebal kulit
bicep, tricep, dan subscapular (Percent Body Fat) (Sirajuddin, dkk., 2017).
Melalui pengukuran-pengukuran di atas, akan membantu kita untuk
menilai status gizi seseorang dilihat dari status obesitasnya, tebal kulitnya,
dan kadar lemak tubuhnya. Oleh karena itu, dilakukan pemeriksaan secara
antropometri.
B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Tujuan umum kegiatan praktikum ini adalah untuk menilai status
gizi individu secara antropometri.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus kegiatan praktikum ini yaitu:
1. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan Indeks Massa
Tubuh (IMT).
2. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan prediksi tinggi
badan berdasarkan tinggi lutut.
3. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks WHR.
4. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks lingkar
perut.
5. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks LILA.
6. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan Percent Body
Fat.

C. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah:
1. Agar praktikan dapat mengetahui status gizi individu berdasarkan Indeks
Massa Tubuh (IMT).
2. Agar praktikan dapat mengetahui status gizi individu berdasarkan
prediksi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut.
3. Agar praktikan dapat mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks
WHR.
4. Agar praktikan dapat mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks
lingkar perut.
5. Agar praktikan dapat mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks
LILA.
6. Agar praktikan dapat mengetahui status gizi individu berdasarkan
Percent Body Fat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Indeks Massa Tubuh (IMT)


Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks
antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau
lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan tingkat gizi. Salah
satu contoh dari indeks antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau
yang disebut dengan Body Mass Index (Supariasa, 2002).
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat
atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa,
khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
Beberapa studi menunjukkan bahwa risiko yang paling rendah untuk penyakit
cardiovascular adalah mereka yang mempunyai nilai IMT 21-25, risiko akan
meningkat jika nilai IMT 25-27, risiko nyata jika IMT 27-30, risiko sangat
menonjol jika IMT > 30 (Asmayuni, 2007).
Penggunaan IMT (Indeks Massa Tubuh) hanya berlaku untuk orang
dewasa berumur di atas 18 tahun. Indeks massa tubuh tidak dapat diterapkan
pada bayi, anak-anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan. Disamping itu
pula, indeks massa tubuh tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus
(penyakit) lainnya seperti adanya edema, asites, dan hepatomegali.
Pengukuran status gizi umur dibawah 18 tahun dapat menggunakan beberapa
indikator, seperti ZScore IMT/U, ZScore BB/U, dan ZScore TB/U.
Indeks massa tubuh merupakan perbandingan antara berat badan dan kuadrat
dari tinggi badan dalam meter (Sirajuddin, dkk., 2017).
Indeks Massa Tubuh atau dalam bahasa Inggrisnya Mass Body Index
(MBI) merupakan salah satu alat ukur yang biasa digunakan dalam
pengukuran antropometri untuk melihat tingkat obesitas seseorang terutama
untuk usia >18 tahun. Pada usia <18 tahun, pengukuran IMT ini tidak dapat
digunakan. Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari
perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT
dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas
dalam tubuh seseorang. IMT merupakan alternatif untuk tindakan pengukuran
lemak tubuh karena murah serta metode skrining kategori berat badan yang
mudah dilakukan. Rumus dari IMT adalah sebagai berikut (Supriasa, dkk.,
2002).
()
IMT =
() ()

Tinggi rendahnya tingat obesitas dapat dilihat pada tabel klasifikasi BMI
menurut WHO. Namun terdapat perbedaan kategori dalam kriteria WHO dan
WHO Asia Pasifik. Kriteria Asia Pasifik diperuntukkan untuk orang-orang
yang berdomisili di daerah Asia, karena Index Massa Tubuh orang Asia lebih
kecil sekitar 2-3 kg/m2 dibanding orang Afrika, orang Eropa, orang Amerika,
ataupun orang Australia. Berikut klasifikasi BMI Menurut WHO (2000).
Tabel 1.1 Kategori IMT (WHO 2000)
Klasifikasi BMI (kg/m2)
Underweight <18,50
- Severe thinness <16,00
- Moderate thinness 16,00-16,99
- Mild thinness 17,00-18,49
Normal 18,50-24,99
Overweight 25,00
- Pre-obesitas 25,00-29,99
Obesitas 30,00
- Obesitas kelas I 30,00-34,99
- Obesitas kelas II 35,00-39,99
- Obesitas kelas III 40,00
(Sumber: Sirajuddin, dkk., 2017)
B. Tinjauan Umum tentang Prediksi Tinggi Badan Berdasarkan Tinggi
Lutut
Perkiraan parameter farmakokinetik dan evaluasi status gizi bergantung pada
pengukuran yang akurat tidak hanya berat badan tetapi juga tinggi badan.
Namun, sejumlah penyakit dapat menyebabkan kesulitan dalam pengukuran
tinggi badan secara akurat. Oleh karena itu, berbagai rumus berdasarkan
tulang yang tidak berubah panjang telah dikembangkan (Sirajuddin, dkk.
2016).
Pengukuran prediksi tinggi badan ini dapat dilakukan dengan berbagai
cara, yaitu pengukuran tinggi badan berdasarkan tinggi lutut, pengukuran
tinggi badan berdasarkan arm span, pengukuran tinggi badan berdasarkan
demi span, dan pengukuran tinggi badan berdasarkan ulna span. Berikut
penjelasannya.
Tinggi badan (TB) merupakan komponen indikator status gizi sehingga
pengukuran TB seseorang secara akurat sangatlah penting untuk menentukan
nilai IMT (Indeks Massa Tubuh). IMT berguna sebagai indikator untuk
menentukan adanya indikasi kasus KEK (Kurang Energi Kronik) dan
kegemukan (obesitas).Namun untuk memperoleh pengukuran TB yang tepat
pada lansia cukup sulit karena masalah postur tubuh, kerusakan spinal, atau
kelumpuhan yang menyebabkan harus duduk di kursi roda atau di tempat
tidur. Beberapa penelitian menunjukkan perubahan TB lansia sejalan dengan
peningkatan usia dan efek beberapa penyakit seperti osteoporosis. Oleh
karena itu, pengukuran tinggi badan lansia tidak dapat diukur dengan tepat
sehingga untuk mengetahui tinggi badan lansia dapat dilakukan suatu
estimasi dengan formula berdasarkan beberapa para meter antara lain tinggi
lutut, panjang lengan, dan panjang depa (demispan) (Fatmah, 2005)
Tinggi lutut diukur dengan posisi lutut dan paha
membentuk satu sudut siku, setelah itu barulah tinggi
lutut dapat diukur. Adapun rumus yang digunakan untuk
menghitung pengukuran tinggi badan berdasarkan tinggi
lutut sebagai berikut.
Tabel 2.2 Rumus Prediksi Tinggi Badan Berdasarkan
Tinggi Lutut
Sex Formula prediktif
Lelaki TB = 64.19 - (0.04 usia) + (2.02 TL cm)
Wanita 75
TB = 84.88 - (0.24 usia) + (1.83 TL cm) 1,2
5
Ktr.: TB (tinggi badan/m), TL (tinggi lutut/cm), usia (tahun)
(Sumber: Sirajuddin,dkk., 2017)
Perkiraan parameter farmakokinetik dan evaluasi status gizi bergantung
pada pengukuran yang akurat tidak hanya berat badan tetapi juga tinggi
badan. Namun, sejumlah penyakit dapat menyebabkan kesulitan dalam
pengukuran tinggi badan secara akurat. Oleh karena itu, berbagai rumus
berdasarkan tulang yang tidak berubah panjang telah dikembangkan. Metode-
metode termasuk tinggi lutut, panjang lengan dan setengah rentang tangan.
Tinggi lutut diukur dari bawah maleolus lateral fibula ke tumit. Langkah ini
digunakan untuk individu yang 60 tahun atau tidak dapat berdiri atau
memiliki kelainan bentuk tulang belakang (Sirajuddin, dkk., 2017).
C. Tinjauan Umum tentang Indeks Waist to Hip Ratio (WHR)
Banyaknya lemak dalam perut menunjukan ada beberapa perubahan
metabolisme, termaksud terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam
lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan
tangan. Perubahan metabolisme memberikan gambaran tentang pemeriksaan
penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh.
Ukuran umur yang digunakan adalah rasio lingkar pinggang-panggul
(Sirajuddin, dkk, 2017).
WHR (Waist to Hip Ratio) merupakan salah satu pengukuran untuk
menentukan status gizi perorangan. WHR ini diperoleh dengan membagi
antara lingkar pinggang dan lingkar panggul. Rumus Waist to Hip Ratio
(WHR) (Sirajuddin, dkk, 2017).
()
=
()
Tabel 2.5 Interprestasi Hasil Pengukuran Lingkar Pinggang
dan Panggul
Kelompok Risiko
Jenis Kelamin
Umur Low Moderate High Very High
20 29 < 0,83 0,83 0,88 0,89 0,94 > 0,94
30 39 < 0,84 0,84 0,91 0,92 0,96 > 0,96
Laki laki 40 49 < 0,88 0,88 0,95 0,96 1,00 > 1.00
50 59 < 0,90 0,90 0,96 0,87 1,02 > 1,02
60 69 < 0,91 0,91 0,96 0,99 1,03 > 1.03
20 29 < 0,71 0,71 0,77 0,78 0,82 > 0,82
30 39 < 0,72 0,72 0,78 0,79 0,84 > 0,84
Perempuan 40 49 < 0,73 0,73 0,79 0,80 0,87 > 0,87
50 59 < 0,74 0,74 0,81 0,83 0,88 > 0,88
60 69 < 0,76 0,76 0,83 0,84 0,90 > 0,90
(Sumber: Sirajuddin, dkk., 2017)
Dari hasil penelitian Lawrence (2007) menyimpulkan hubungan antara
lingkar pinggang, lingkar pinggal-panggul dan rasio lingkar pinggang dan
panggul terhadap risiko cardiovascular. Obesitas yang diukur dengan lingkar
pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul secara signifikan berhubungan
dengan risiko kejadian insiden cardiovascular. Kenaikan 1 cm di lingkar
pinggang dikaitkan dengan peningkatan 2% risiko masa depan
cardiovaskular dan peningkatan 0,01 di rasio lingkar pinggang-panggul
dikaitkan dengan peningkatan 5% dalam risiko. Hasil ini konsisten pada pria
dan wanita (Lawrence, 2007).
Rasio lingkar pinggang dan panggul untuk perempuan adalah 0,77 dan
0,90 untuk laki-laki. Sedangkan, rata-rata rasio lingkar pinggang dan panggul
untuk penderita penyakit cardiovascular dengan orang yang sehat adalah
0,938 dan 0,925 (Karina, 2007).
Lingkar pinggang adalah indikator untuk menentukan obesitas abdominal
yang diperoleh melalui hasil pengukuran panjang lingkar yang diukur di
antara Crista illiaca dan costa XII pada lingkar terkecil, diukur dengan pita
meteran non-elastis (ketelitian 1 mm). World Health Organization (2000)
secara garis besar menentukan kriteria obesitas berdasarkan lingkar pinggang
jika lingkar pinggang pria > 90 cm dan pada wanita > 80 cm (Nur, 2010).
Lingkar panggul adalah indikator untuk menentukan obesitas abdominal
yang diperoleh melalui hasil pengukuran panjang lingkar yang diukur pada
lingkar maksimal dari pantat dan pada bagian atas simpysis ossis pubis.
Lingkar panggul yang besar (tanpa menilai IMT dan lingkar pinggang)
memiliki risiko diabetes melitus dan penyakit cardiovascular yang lebih
rendah (Maryani, 2013).
Pengukuran lingkar pinggang dan pingul harus dilakukan oleh tenaga
terlatih dan posisi pengukuran harus tepat, karena perbedaan posisi
pengukuran memberikan hasil berbeda (Sirajuddin, dkk., 2017).
D. Tinjauan Umum tentang Lingkar Perut
Pengukuran lingkar perut lebih memberi arti dibandingkan IMT dalam
menentukan timbunan lemak di dalam rongga perut (obesitas sentral) karena
peningkatkan timbunan lemak di perut tercermin dari meningkatnya lingkar
perut (Sirajuddin, dkk., 2017).
Pengukuran untuk lingkar perut memberikan gambaran lebih rinci dalam
menentukan timbunan lemak yang menyebabkan obesitas pada bagian perut.
Berikut tabel nilai ambang batas lingkar perut menurut berbagai Negara
(Sirajuddin, dkk., 2017).
Tabel 2.6 Nilai Ambang Batas Lingkar Perut Menurut Berbagai Negara
Negara Laki laki (cm) Perempuan (cm)
USA (ATP III) 102 (90) 88 (85)
Europeans 94 80
Middle Eastern, Eastern European,
94 80
North African
Sub-Saharan Africans 94 80
Asian (including Chinese, South Asia
90 80
and Japanese)
Ethnic south and central Americans 90 80
Indonesia 90 80
(Sumber: Sirajuddin, dkk., 2017)
E. Tinjauan Umum tentang LiLA
Salah satu cara untuk mendeteksi keadaan kurang energi kronik (KEK)
Secara dini pada ibu hamil adalah dengan melalui pengukuran lingkar lengan
atas (LiLA). LiLA merupakan alat ukur sederhana yang mempunyai
kegunaan cukup berarti yaitu untuk melihat keadaan gizi makanannya. LiLA
merupakan parameter untuk menentukan status gizi yang praktis dengan
mengukur lingkar lengan kiri atas pada bagian tengah antara ujung bahu dan
ujung siku. Pengukuran dilakukan dalam posisi lengan kiri tidak ditekuk
tetapi lurus ke bawah. Pada wanita usia subur dan ibu hamil batas LiLA
kurang dari 23.5 cm mengindikasikan KEK (Supriasa, 2002).
Menurut Supariasa (2002), lingkar lengan atas dewasa ini memang
merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah
dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga
yang lebih murah. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
terutama jika digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi.
Tabel 2.7 Klasifikasi Lingkar Lengan Atas (LILA)
Klasifikasi Batas Ukur
Wanita Usia Subur
KEK < 23,5 cm
Normal 23,5 cm
Bayi Usia 0 30 hari
KEP < 9,5 cm
Normal 9,5 cm
Balita
KEK < 12,5 cm
Normal 12,5 cm
(Sumber: Sirajuddin, dkk., 2017)
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pada pengukuran ini adalah
(Supariasa, dkk., 2002):
1. Baku Lingkar Lengan Atas (LILA) yang sekarang digunakan belum
mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Hal
ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang umumnya menunjukkan
perbedaan angka prevalensi Kekurangan Energi Protein (KEP) yang
cukup berarti antar penggunaan LILA di satu pihak dengan berat badan
menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan maupun indeks-
indeks lain di pihak lain, sekalipun dengan LILA.
2. Kesalahan pengukuran pada LILA (pada berbagai tingkat keterampilan
pengukur) relatif lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan,
megingat batas antara baku dengan gizi kurang, lebih sempit pada LILA
dari pada tinggi badan. Ini berarti kesalahan yang sama besar jauh lebih
berarti pada LILA dibandingkan dengan tinggi badan.
3. Lingkar lengan atas sensitif untuk semua golongan tertentu (prasekolah)
tetapi kurang sensitif pada golongan lain terutama orang dewasa. Tidak
demikian halnya dengan berat badan.
F. Tinjauan Umum tentang Persen Lemak Tubuh (Percent Body Fat)
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit
(skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya lengan atas (trisep
dan bisep), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), ditengah
garis ketiak (midaxilarry), sisi dada (pectoral), perut (abdominal),
suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatellar), pertengahan tungkai
bawah (medial calv) (Sirajuddin, dkk., 2017).
Tabel 2.8 Rumus Perhitungan Percent Body Fat
Laki laki (18 27 tahun)
Db = 1,0913 0,00116 (tricep+scapula)
%Body Fat = [(4,97/Db) 4,52] x 100
Wanita (18 23 tahun)
Db = 1,0897 0,00133 (tricep+scapula)
%Body Fat = [(4,76/Db) 4,28] x 100
(Sumber: Sirajuddin, dkk., 2017)

Tabel 2.9Klasifikasi Percent Body Fat berdasarkan Umur dan Jenis


Kelamin
Healthy
Sex Under Fat Overweight Obese
Range
Woman (years)
20 40 < 21 % 21 33 % 33 39 % > 39 %
41 60 < 23 % 23 35 % 35 40 % > 40 %
61 79 < 24 % 24 36 % 36 42 % > 42 %
Men (years)
20 40 <8% 89% 19 25 % >25 %
41 60 < 11 % 11 12 % 22 27 % > 27 %
61 79 < 13 % 13 25 % 25 30 % > 30 %
(Sumber: Sirajuddin, dkk., 2017)
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Biofisik Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin pada tanggal 29 Maret 2017
pukul 13.00 WITA sampai selesai.

B. Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah timbangan untuk
berat badan, microtoice untuk tinggi badan, alat ukur tinggi lutut, penggaris
siku-siku, pita LILA, pita circumference, skinfold caliper.

C. Peserta Praktikum
Adapun peserta praktikum adalah kelompok 3 kelas C. Mahasiswa
Program Studi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Hasanuddin.

D. Prosedur Kerja
1. Pengukuran IMT
a. Pengukuran Berat Badan
Adapun cara pengukuran berat badan adalah:
1) Diminta mengenakan pakaian biasa subjek (usahakan dengan
pakaian yang minimal). Disuruh tidak menggunakan alas kaki
subjek.
2) Dipastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan
angka 0,0.
3) Diminta naik ke alat timbang subjek dengan berat badan tersebar
merata pada kedua kaki dan posisi kaki tepat di tengah alat
timbang tetapi tidak menutupi jendela baca. Diusahakan agar
subjek tetap tenang.
4) Dibaca dan dicatat berat badan pada tampilan dengan skala 0,1 kg
terdekat.
b. Pengukuran Tinggi Badan
Adapun cara pengukuran tinggi badan adalah:
1) Diminta tidak mengenakan alas kaki subjek. Diposisikan subjek
tepat di bawah microtoice.
2) Diminta berdiri tegak responden dengan posisi kaki rapat, lutut
lurus. Tumit, pantat dan bahu menyentuh dinding vertikal.
3) Diminta memandangan lurus ke depan subjek, kepala tidak perlu
menyentuh dinding vertikal dan tangan lepas kesamping badan
dengan telapak tangan menghadap paha.
4) Diminta menarik nafas panjang subjek dan berdiri tegak tanpa
mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang belakang.
Diusahakan bahu tetap santai.
5) Ditarik microtoice hingga menyentuh ujung kepala, pegang secara
horizontal. Pengukuran tinggi badan dilakukan saat menari nafas
maksimum. Dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk
angka untuk menghindari kesalahan penglihatan. Kemudian
dicatat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.
2. Pengukuran Tinggi Lutut
Adapun cara pengukuran tinggi lutut adalah:
a. Diminta duduk subjek dengan salah satu kaki ditekuk hingga
membentuk sudut 90O proximal hingga patella.
b. Diletakkan kaki di atas alat pengukur tinggi lutut dan pastikan kaki
subjek membentuk sudut 90O dengan melihat kelurusannya pada tiang
alat ukur.
c. Dibaca dengan sedikit menjongkok sehingga mata pembaca tepat
berada pada angka yang ditunjukkan oleh alat ukur. Catat tinggi badan
pada skala 0,1 cm terdekat.
3. Pengukuran Waist to Hip Ratio (WHR)
a. Pengukuran Lingkar Pinggang
Adapun cara pengukuran lingkar pinggang adalah:
1) Diminta menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan)
subjek sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna.
Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang
digunakan.
2) Diminta berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks subjek.
3) Diminta pengukur menghadap ke subjek dan meletakkan alat ukur
melingkar pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian
paling kecil dari tubuh atau pada bagian tulang rusuk paling
terakhir. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat
ukur dengan tepat.
4) Dilakukan pengukuran di akhir dari ekspresi yang normal dan alat
ukur tidak menekn kulit.
5) Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm
terdekat.
b. Pengukuran Lingkar Panggul
Adapun cara pengukuran lingkar panggul adalah:
1) Diminta subjek mengenakan pakaian yang tidak terlaku menekan.
2) Diminta berdiri tegak subjek dengan kedua lengan berada pada
kedua sisi tubuh dan kaki rapat.
3) Di samping subjek pengukur jongkok sehingga tingkat maksimal
dari penggul terlihat.
4) Dilingkarkan alat pengukur secara horizontal tanpa menekan
kulit. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur
dengan tepat.
5) Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm
terdekat.
4. Pengukuran Lingkar Perut
Adapun cara pengukuran lingkar perut adalah:
1) Diminta dengan cara yang santun pada subjek untuk membuka
pakaian bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas dan raba
tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik pengukuran.
2) Ditetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah.
3) Ditetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul.
4) Ditetapkan titik tengah di antara di antara titik tulang rusuk terakhir
titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik
tengah tersebut dengan alat tulis.
5) Diminta subjek untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal
(ekspirasi normal).
6) Dilakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah
kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut
kembali menuju titik tengah diawal pengukuran.
7) Dilakukan pengukuran juga pada bagian atas dari pusar lalu
meletekkan dan melingkarkan alat ukur secara horizontal.
8) Diambil bagian paling buncit apabila subjek mempunyai perut yang
gendut ke bawah, lalu berakhir pada titik tengah tersebut lagi.
9) Diukur lingkar pinggang mendekati angka 0,1 cm dan pita pengukur
tidak boleh melipat.
5. Pengukuran LILA
a. Penentuan Titik Mid Point pada Lengan
Adapun cara penentuan titik mid point pada lengan adalah:
1) Diminta berdiri tegak responden.
2) Diminta responden untuk membuka lengan pakaian yang
menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan).
3) Ditekukan tangan responden membentuk 90O dengan telapak
tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri dibelakang dan
menentukan titik tengah antara tulang rusuk atas pada bahu kiri
dan siku.
4) Ditandai titik tengah tersebut dengan pena.
b. Mengukur Lingkar Lengan Atas
Adapun cara mengukur lingkar lengan atas adalah:
1) Di samping badan, telapak tangan menghadap ke bawah dengan
tangan tergantung lepas dan siku lurus.
2) Diukur lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita
LILA menempel pada kulit dan dilingkarkan secara horizontal
pada lengan. Diperhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau
ada rongga antara kulit dan pita.
3) Dicatat pada skala 0,1 cm terdekat lingkar lengan atas.
6. Pengukuran Tebal Lipatan Kulit
a. Menentukan Tebal Lipatan Kulit
Adapun petunjuk umum dari penentuan tebal lipatan kulit adalah:
1) Digunakan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kiri untuk
mengangkat kedua sisi kulit dan lemak subkutan kurang lebih 1
cm proksimal dari daerah yang diukur.
2) Diangkat lipatan kulit pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus
arah garis kulit.
3) Diangkat lipatan kulit tetap sampai pengukuran selesai.
4) Dipegang caliper oleh tangan kanan.
5) Dilakukan pengukuran dalam 4 detik setelah penekanan kulit oleh
caliper dilepas.
b. Mengukur TLK pada Tricep
Adapun cara pengukuran tebal lemak kulit pada tricep adalah:
1) Diminta responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung
bebas pada kedua sisi tubuh.
2) Dilakukan pengukuran pada titik mid point (sama pada LILA).
3) Di belakang responden pengukur berdiri dan meletakkan telapak
tangan kirinya pada bagian lengan kearah tanda yang telah dibuat
dimana ibu jari dan telunjuk menghadap ke bawah. Tricept
skinfold diambil dengan menarik pada 1 cm dari proximal tanda
titik tengah tadi.
4) Diukur tricept skinfold dengan mendekati 0,1 mm.
c. Mengukur TLK pada Subscapular
Adapun cara pengukuran tebal lemak kulit pada trisep adalah:
1) Diminta responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung
bebas pada kedua sisi tubuh.
2) Diletakkan tangan kiri ke belakang.
3) Diraba skapula dan dicari ke arah bawah lateral sepanjang batas
vertebrata sampai menentukan sudut bawah scapula untuk
mendapatkan tempat pengukuran.
4) Ditarik subscapular skinfold dalam arah diagonal (infero-lateral)
kurang lebih 45O ke arah horizontal garis kulit. Titik scapula
terletak pada bagain bawah sudut scapula.
5) Diletakkan caliper 1 cm infero-lateral dari ibu jari dan
jaritelunjuk yang mengangkat kulit dan subkutan dan ketebalan
kulit diukur mendekati 0,1 mm.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tabel Hasil
1. Pengukuran IMT
Adapun hasil praktikum perhitungan IMT yang dilakukan oleh
kelompok 3 kelas C pada tanggal 29 Maret 2017 di laboratorium
ditunjukkan pada tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Tinggi Badan, Berat Badan, Dan IMT
Pada Praktikan Kelompok 3 Kelas C Tahun 2017
Berat Tinggi
Indeks Massa
No Nama Praktikan Badan Badan
Tubuh (IMT)
(kg) (cm)
16,36
1 Andi Muhammad Shalihin 44 164
Underweight
21,85
2 Abd. Karim 59,5 165
Normal
18,26
3 A. Irmasari Sanih 40 148,1
Underweight
26,19
4 Nurul Muflisha 58 148,8
Overweight
21,04
5 St. Rahmawati 52 157,2
Normal
27,80
6 Ayu Auralia Safira 69,5 158,1
Overweight
20,66
7 Nurfhadila Utami Husain 53,5 160,9
Normal
28,49
8 Andi Rezki Nadillah 66 152,2
Overweight
18,64
9 Naurah Nazhipah Amalia 44,5 154,5
Normal
17,94
10 Indah Nur Insani 41 151,2
Underweight
(Sumber: Data Primer, 2017)

2. Pengukuran Tinggi Badan Berdasarkan Tinggi Lutut


Adapun hasil praktikum pengukuran tinggi badan bersdarakan tinggi
lutut yang dilakukan oleh kelompok 3 kelas C pada tanggal 29 Maret
2017 di laboratorium ditunjukkan pada tabel 4.2 di bawah ini:
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Tinggi Badan Berdasarkan Tinggi
Lutut Pada Praktikan Kelompok 3 Kelas C Tahun 2017
Tinggi Badan
Tinggi Tinggi
Menurut
No Nama Praktikan Badan Lutut
Tinggi Lutut
(cm) (cm)
(cm)
164,39
1 Andi Muhammad Shalihin 164 50
164,43
2 Abd. Karim 165 50
149,78
3 A. Irmasari Sanih 148,1 45,3
151,06
4 Nurul Muflisha 148,8 46
157,46
5 St. Rahmawati 157,2 49,5
158,38
6 Ayu Auralia Safira 158,1 50
159,84
7 Nurfhadila Utami Husain 160,9 50,8
153,44
8 Andi Rezki Nadillah 152,2 47,3
154,72
9 Naurah Nazhipah Amalia 154,5 48
153,44
10 Indah Nur Insani 151,2 47,3
(Sumber: Data Primer, 2017)

3. Pengukuran Waist to Hip Ratio (WHR)


Adapun hasil praktikum perhitungan WHR yang dilakukan oleh
kelompok 3 kelas C pada tanggal 29 Maret 2017 di laboratorium
ditunjukkan pada tabel 4.3 di bawah ini:
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran WHR Pada Praktikan Kelompok 3
Kelas C Tahun 2017
Lingkar Lingkar Waist to
No Nama Praktikan Pinggang Panggul Hip Ratio
(cm) (cm) (WHR)
0,92
1 Andi Muhammad Shalihin 63 68
Very High
0,98
2 Abd. Karim 73,7 75
Very High
0,88
3 A. Irmasari Sanih 64,5 73
Very High
0,91
4 Nurul Muflisha 81 89
Very High
0,84
5 St. Rahmawati 69 82
Very High
0,88
6 Ayu Auralia Safira 82 93
Very High
0,83
7 Nurfhadila Utami Husain 67 80
Very High
0,87
8 Andi Rezki Nadillah 81 93,5
Very High
0,84
9 Naurah Nazhipah Amalia 63,5 75,5
Very High
0,86
10 Indah Nur Insani 60 70
Very High
(Sumber: Data Primer, 2017)

4. Pengukuran Lingkar Perut


Adapun hasil praktikum pengukuran lingkar perut yang dilakukan
oleh kelompok 3 kelas C pada tanggal 29 Maret 2017 di laboratorium
ditunjukkan pada tabel 4.4 di bawah ini:
Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Lingkar Perut Pada Praktikan
Kelompok 3 Kelas C Tahun 2017
Lingkar Perut
No Nama Praktikan Keterangan
(cm)
1 Andi Muhammad Shalihin 66 Normal
2 Abd. Karim 74 Normal
3 A. Irmasari Sanih 67 Normal
4 Nurul Muflisha 84 Obesitas
5 St. Rahmawati 78 Normal
6 Ayu Auralia Safira 85 Obesitas
7 Nurfhadila Utami Husain 71 Normal
8 Andi Rezki Nadillah 85,5 Obesitas
9 Naurah Nazhipah Amalia 72,5 Normal
10 Indah Nur Insani 63 Normal
(Sumber: Data Primer, 2017)

5. Pengukuran LILA
Adapun hasil praktikum pengukuran lingkar lengan atas yang
dilakukan oleh kelompok 3 kelas C pada tanggal 29 Maret 2017 di
laboratorium ditunjukkan pada tabel 4.5 di bawah ini:
Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) Pada
Praktikan Kelompok 3 Kelas C Tahun 2017
No Nama Praktikan LILA (cm) Keterangan
1 A. Irmasari Sanih 22,5 KEK
2 Nurul Muflisha 30 Normal
3 St. Rahmawati 26 Normal
4 Ayu Auralia Safira 32,5 Normal
5 Nurfhadila Utami Husain 25 Normal
6 Andi Rezki Nadillah 34 Normal
7 Naurah Nazhipah Amalia 24,5 Normal
8 Indah Nur Insani 20 KEK
(Sumber: Data Primer, 2017)

6. Pengukuran Percent Body Fat


Adapun hasil praktikum perhitungan percent body fat yang
dilakukan oleh kelompok 3 kelas C pada tanggal 29 Maret 2017 di
laboratorium ditunjukkan pada tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 6. Hasil Pengukuran Percent Body Fat Pada Praktikan
Kelompok 3 Kelas C Tahun 2017
Tebal Tebal
No Nama Praktikan Tricep Subscapula % Body Fat
(mm) (mm)
12,48%
1 Andi Muhammad Shalihin 9 12
Healthy Range
21,33%
2 Abd. Karim 17 18
Overweight
21,05%
3 A. Irmasari Sanih 10 10
Healthy Range
29,70%
4 Nurul Muflisha 14 20
Healthy Range
25,33%
5 St. Rahmawati 12 16
Healthy Range
34,13%
6 Ayu Auralia Safira 24 20
Overweight
21,05%
7 Nurfhadila Utami Husain 10 12
Healthy Range
34,13%
8 Andi Rezki Nadillah 22 22
Overweight
26,30%
9 Naurah Nazhipah Amalia 12 12
Healthy Range
22,56%
10 Indah Nur Insani 14 11
Healthy Range
(Sumber: Data Primer, 2017)

B. Pembahasan
1. Pengukuran IMT
Pada tabel 4.1 diperoleh hasil bahwa 10 praktikan pada kelompok 3
yang paling besar IMT-nya adalah Andi Rezki Nadillah 28,49 dalam
kategori overweight, sedangkan yang paling kecil IMT-nya adalah Andi
Muhammad Shaihin 16,36 dalam kategori underweight. Ada 4 praktikan
dalam kategori normal, 3 praktikan dalam kategori underweight,
sedangkan 3 praktikan lainnya dalam kategori overweight.
Hal ini menandakan bahwa sebagian besar pada kelompok 3
memiliki berat badan yang ideal terhadap tinggi badan. Berat badan yang
cukup ideal dapat menurunkan resiko terhadap penyakit infeksi yang
tinggi serta penyakit degeneratif. Dalam pengukuran IMT ini,
pengukuran tinggi badan yang pertama kali dilakukan, pengukuran ini
dilakukan dengan menggunakan alat ukur microtoice.
Dari hasi percobaan yang dilakukan pada saudari Indah Nur Insani,
diperoleh hasil pengukuran IMT-nya yaitu 17,94 dengan berat badan 41
kg dan tinggi badan 151,2 cm dalam kategori underweight (Mild thinness
17,00-18,49) berdasarkan kategori tetapan/standar WHO pada tahun
2000, Penduduk Asia Dewasa batas normal adalah 18,50-22,99.
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan
alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa,
khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi,
sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit
degeneratif (Hartono, 2006).
Untuk menjaga agar IMT tetap normal, disarankan untuk
menerapkan gaya hidup gizi seimbang, dengan memperhatikan asupan
makanan, rajin berolahraga, menerapkan gaya hidup bersih, serta
memantau berat badan (Hartono, 2006).
2. Pengukuran Tinggi Badan Berdasarkan Tinggi Lutut
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa praktikan yang mempunyai
tinggi lutut yang terpanjang adalah Nurfhadila Utami Husain yaitu 50,8
cm. Sedangkan praktikan dengan tinggi lutut terpendek adalah A.
Irmasari Sanih yaitu 45,3 cm. Hasil pengukuran tinggi lutut tersebut tidak
memiliki perbedaan terlalu jauh dengan hasil pengukuran tinggi badan
secara biasa (berdiri tegak).
Dari percobaan tersebut dapat diperoleh pula hasil dari saudari Indah
Nur Insani bahwa tinggi lutut yang dimilikinya yakni 47,3 cm dengan
tinggi badan menurut tinggi lututnya yakni 153,44. Sehingga hasil
tersebut tidak jauh berbeda dari pengukuran tinggi badan secara biasa
yakni 151,2 dengan selisih 2,24 cm.
3. Pengukuran Waist to Hip Ratio (WHR)
Dari percobaan tersebut diperoleh pula hasil dari saudari Indah Nur
Insani bahwa WHR yang dimilikinya yaitu 0,86. Hal ini berarti saudari
berisiko terkena penyakit cardiovascular Very High. Terdapat hubungan
yang signifikan dengan faktor risiko penyakit cardiovascular yang juga
terlihat pada saat pengukuran lingkar perut yang secara tidak langsung
merupakan pengukuran antropometrik seperti lingkar pinggang.
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa praktikan laki-laki yang
mempunyai WHR yang paling besar adalah Abd. Karim yaitu 0,98 dan
praktikan perempuan yang mempunyai WHR yang paling besar adalah
Nurul Muflisha yaitu 0,91. Sedangkan WHR yang paling kecil adalah
Nurfhadila Utami Husain yaitu 0,83. Sehingga dari 10 praktikan
semuanya dalam kategori Very High yang berarti berisiko sangat tinggi
terkena penyakit cardiovascular.
WHR dapat menjadi indikator risiko berbagai penyakit. Oleh sebab
itu, perlu untuk menjaga agar WHR tetap normal dengan mengonsumsi
makanan yang sehat dan di imbangi dengan aktivitas yang menunjang
kesehatan tubuh. Faktor risiko cardiovascular akan muncul apabila rasio
lingkar pinggang dan pinggul dengan nilai lebih atau sama dengan 0,85
pada perempuan dan 0,90 pada laki-laki (Nur, 2010).
4. Pengukuran Lingkar Perut
Dari tabel 4.4 menunjukkan hasil bahwa praktikan yang mempunyai
lingkar perut paling besar adalah Andi Rezki Nadillah yaitu 85,5 cm
dalam kategori obesitas, sedangkan praktikan dengan lingkar perut paling
kecil adalah Indah Nur Insani yaitu 63 cm dalam kategori normal.
Praktikan dengan lingkar perut dalam kategori normal lebih dominan
yaitu 7 praktikan daripada lingkar perut diambang batas atau melebihi
batas normal (obesitas) yaitu 3 praktikan.
Hasil pengukuran lingkar perut saudari Indah Nur Insani yaitu 63 cm
dalam kategori normal. Karena berdasarkan nilai ambang batas lingkar
perut berbagai negara dan khususnya Indonesia untuk perempuan 80 cm
dan laki-laki 90 cm dan jika lebih dari batas normal tersebut maka
seseorang akan mengalami kondisi yang tidak normal atau obesitas.
Meningkatnya angka obesitas di beberapa kota di Indonesia tentume
miliki konsekuensi serius terhadap pembangunan bangsa Indonesia,
khususnya di bidang kesehatan. Menurut WHO (2000), dampak obesitas
erat hubungannya dengan risiko beberapa penyakit kronis, seperti
penyakit cardiovascular (penyakit jantung dan pembuluh darah seperti
hipertensi) dan diabetes, serta akan menjadi faktor risiko penyakit
jantung koroner (PJK) dan stroke iskemik. Terdapat dua jenis obesitas,
yakni obesitas umum dan obesitas abdominal atau sentral. Obesitas
umum dapat diukur dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT),
sedangkan obesitas sentral dapat diukur dengan ukuran lingkar perut
(LP).
5. Pengukuran LiLA
Dari tabel 4.5 menunjukkan hasil bahwa praktikan yang mempunyai
LILA paling besar adalah Andi Rezki Nadillah yaitu 34 cm dalam
kategori normal, sedangkan praktikan yang mempunyai LiLA paling
kecil adalah Indah Nur Insani yaitu 20 cm dalam kategori KEK. Dari 8
praktikan (perempuan), 2 diantaranya termasuk kategori KEK
(Kekurangan Energi Kronik), sedangkan praktikan lainnya termasuk
kategori normal.
Dari hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas ( LiLA), saudari Indah
Nur Insani memiliki LiLA 20 cm termasuk kategori KEK. Dikatakan
KEK karena berdasarkan klasifikasi LILA untuk wanita usia subur
normalnya 23,5 cm dan untuk KEK < 23,5 cm.
Pengukuran LILA sebaiknya dilakukan pada tangan yang tdak aktif
yaitu pada lengan kiri. Jika dia kidal, pengukuran dilakukan pada lengan
kanan. Hal ini dilakukan untuk memperkecil bias yang terjadi, karena
adanya pembesaran otot akibat aktivitas, bukan karena penimbunan
lemak. Demikian juga jika lengan kiri lumpuh, pengukuran dilakukan
pada lengan kanan.
6. Pengukuran Percent Body Fat
Dari tabel 4.6 meunjukkan hasil bahwa praktikan yang mempunyai
percent body fat yang paling besar pada perempuan adalah Ayu Auralia
Safira yaitu 34,13% dalam kategori overweight, sedangkan percent body
fat yang paling kecil pada perempuan adalah A. Irmasari Sanih dan
Nurfhadila Utami Husain yaitu 21,05% dalam kategori Healthy Range.
Sedangkan percent body fat yang paling besar pada laki-laki adalah Abd.
Karim yaitu 21,33% dalam kategori overweight, sedangkan percent body
fat yang paling kecil pada laki-laki adalah Andi Muhammad Shalihin
yaitu 12,48% dalam kategori Healthy Range. Dari 10 praktikan, 3
diantaranya termasuk overweight sedangkan 8 praktikan lainnya
termasuk Healthy Range (normal).
Hasil pengukuran percent body fat saudari Indah Nur Insani yaitu
22,56% dalam kategori Healthy Range (normal). Karena berdasarkan
klasifikasi percent body fat untuk umur 20-40 tahun ukuran underfat
sebesar < 21% dan tergolong normal/Healthy Range bila diantara 21-
33% untuk kelompok umur 20-40 tahun pada perempuan.
Teknik pengukuran skin-fold (SKF) bisa dibilang metode yang
paling umum dari estimasi body fat (BF). Metode ini menarik karena
biaya relatif murah bila dibandingkan dengan metode referensi seperti
hydrodensitometry, perpindahan udara plethysmography, dan dual energi
X ray absorptiometry. Pengukuran SKF adalah cepat dan kurang invasif
dibandingkan dengan metode referensi tersebut yang membutuhkan
pakaian minim, pernafasan yang lengkap, dan atau paparan foton sinar-
X. Selain itu, sebagai pengukuran lapangan, SKF adalah teknik layak,
handal, dan berlaku.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Hasil pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) pada praktikan Indah Nur
Insani adalah 17,94 kg/m2 atau underweight.
2. Hasil pengukuran tinggi badan berdasarkan tinggi lutut pada praktikan
Indah Nur Insani adalah 153,44 cm dengan selisih 2,24 cm dari hasil
pengukuran tinggi badan secara biasa (menggunakan microtoise).
3. Hasil pengukuran Waist to Hip Ratio (WHR) pada praktikan Indah Nur
Insani adalah 0,86 atau berada pada kategori risiko very high.
4. Hasil pengukuran lingkar perut pada praktikan Indah Nur Insani adalah
63 cm atau berada pada kategori normal.
5. Hasil pengukuran LILA pada praktikan Indah Nur Insani adalah 20 cm
atau tidak normal, mengalami KEK.
6. Hasil pengukuran Percent Body Fat pada praktikan Indah Nur Insani
adalah 22,56% atau berada pada kategori healthy range.

B. Saran
1. Untuk Dosen
Sebaiknya dosen memberi beberapa teori atau penjelasan mengenai
kegiatan praktikum yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum
dan tetap mengawasi praktikan serta asisten.
2. Untuk Asisten
Sebaiknya asisten lebih memperhatikan praktikan dan memberikan
arahan yang lebih baik dan mudah dipahami dalam praktek untuk
menghindari kesalahan pengukuran.
3. Untuk Laboratorium
Sebaiknya alat praktikum yang digunakan saat praktikum dilengkapi
untuk melancarkan kegiatan praktikum.
4. Untuk Kegiatan Praktikum
Sebaiknya waktu praktikum dimulai tepat waktu agar praktikum
dapat berjalan efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita, Soetardjo, Susirah, Soekatri, Moesijanti. 2011. Gizi Seimbang


Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Asmayuni, 2007. Kegemukan (Overweight) pada Perempuan Umur 25-50 Tahun


di Kota Padang Panjang Tahun 2007. II:14-38. Padang: Kesehatan
Masyarakat.

Fatmah. 2005. Persamaan (Equation) Tinggi Badan Manusia Usia Lanjut


(Manula) berdasarkan Usia dan Etnis pada 6 Panti Terpilih di DKI Jakarta
dan Tangerang Tahun 2005. Jurnal UI. X :ISSN 1693-6728.

Fatmah. 2008. Model Prediksi Tinggi Badan Lansia Etnis Jawa Berdasarkan
Tinggi Lutu, Panjang Depa, Dan Tinggi Duduk. Tesis. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.

Hartono, Andry. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC.

Karina, Esa.2007. Besar Resiko Lingkar pinggang Pinggul dan Asupan Natrium
Terhadap Kejadian Hipertensi. Cermin Dunia Kedokteran. XXI : 239-298

Lawrence. 2007. Waist Circumference and Waist-To-Hip Ratio as Predictors


Ofcardiovascular Events: Meta-Regression Analysis of Prospective Studies.
European Heart Journal vol 28 (7): 850-6 hlm.

Maryani, Elvia dan Sunarti. 2013. Rasio Lingkar Pinggang dan Pinggul dengan
Penyakit Jantung Koroner di RSUD Kabupaten Sukoharjo. Buletin
Penelitian Sistem Kesehatan. Volume 16 Nomor 1.

Nur, Oviyanti Pradana. 2010. Hubungan Antara Lingkar Pinggang dan Rasio
Lingkar Pinggang Panggul Dengan Tekanan Darah Pada Subjek Usia
Dewasa. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Sandjaja. 2010. Kamus Gizi. Jakarta: Kompas.

Sirajuddin, Syaifuddin, Ishak, Hasanuddin, Ruslan, Rahim, Muhammad Rum,


Naeim, Furqan, Khuzaemah, Anna, Darmawansyah, Ikhsan, Muhammad,
Rahmat, Muhammad. 2017. Penuntun Praktikum Dasar Kesehatan
Masyarakat. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Supariasa, I.N., Bakri, B., Fajar, I.. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Tirtawinata, Tien Ch. 2006. Makanan Dalam Perspektif Al-Quran dan Ilmu Gizi.
Jakarta: FK UI.