Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS

TATALAKSANA PEMELIHARAAN DAN PERFORMANS


AYAM BROILER

Disusun oleh :
Nama Mahasiswa : Syukri Halim Jatmiko
NPM : E1C015016
Kelompok : 12
Waktu Praktikum : 15 Oktober 2016 s/d 11 November 2016
Dosen Pembimbing : 1. Ir. Kususiyah, MS
2. Ir. Hardi Prakoso, MP
Asisten Dosen : 1. Agung Dwi Mulyono
2. Fitri Febrianti
3. Hadhi Kartiko
4. Mella Annisa
5. Nurul Adiyan
6. Rahmad Fazalillah
7. Septian Arianto
8. Tri Haryono

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BENGKULU
2016

1
DAFTAR ISI
LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS TATALAKSANA
PEMELIHARAAN DAN PERFORMANS AYAM BROILER.............................1

DAFTAR ISI............................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3

1.1. Latar Belakang..............................................................................................3

1.2. Tujuan............................................................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5

2.1. Tentang Ayam Pedaging................................................................................5

2.2. Sarana dan Prasarana.................................................................................7

2.3. Pakan.........................................................................................................8

2.4. Manajemen Pemeliharaan.............................................................................9

2.5. Panen dan Pasca Panen................................................................................10

BAB III METODOLOGI.......................................................................................11

3.1. Waktu Dan Tempat......................................................................................11

3.2. Bahan Dan Alat............................................................................................11

3.3. Tahapan Praktikum......................................................................................13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................16

4.1. Hasil Pengamatan........................................................................................16

4.2. Pembahasan.................................................................................................19

BAB V PENUTUP.................................................................................................20

5.1. Kesimpulan..................................................................................................20

5.2. Saran............................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................20

LAMPIRAN...........................................................................................................21

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Usaha peternakan ayam ras kini semakinn dilirik, terbukti dari
banyaknnya pengusaha yang beralih menjadi peternak ayam broiler. Hal ini
karena usaha peternakan peternakan ayam broiler menjanjikan keuntungan yang
sangat menggiurkan. Salah satu faktor penyebabnya adalah meningkatknya
konsumsi masyarakat indonesia akan daging ayam ras (broiler) sehingga
permintaannya juga semakin meningkat. Selain itu, waktu pemeliharaannya yang
relatif singkat menjadikan pengusaha semakin bergairah karena modal usaha yang
digunakan dapat cepat kembali.

Semakin berkembangnya sistem pemerintahan juga ikut meningkatkan


minat masyarakat terhadap konsumsi peternakan baik berupa daging, telur
maupun susu. Masyarakat yang kian meningkat tingkat kesadaran akan
pemenuhan gizi terhadap protein hewani juga ikut meningkatkan jumlah
permintaan terhadap produk peternakan. Minat masyarakat terhadap daging yang
tinggi ikut meningkatkan penjualan terhadap unggas khususnya ayam broiler
sebab memiliki harga yang relatif murah dan mudah didapatkan.

Dari penjelasan diatas diketahui bahwa permintaan masyarakat akan


daging semakin tinggi, oleh sebab itu peternak dianjurkan untuk dapat
meningkatkan kualitas daging yang dijualnya terkhusus ayam broiler.
Kemampuan masyarakat dalam meningkatkan kualitas daging juga akan
mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat akan daging. Maka dilakukanlah
praktikum produksi ternak unggas ini agar pemahaman mahasiswa peternakan
akan pemeliharaan ayam broiler yang baik akan meningkat dan ikut menambah
kualitas daging secara berkala.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari dilaksanakan praktikum ini yaitu :

1. Mengetahui cara dan tujuan melakukan sanitasi kandang

2. Mengetahui cara dan tujuan melakukan sanitasi peralatan kandang

3. Mengetahui kandang brooding dan peralatannya serta cara menyiapkan


kandang brooding sebelum anak ayam tiba (dimasukkan ke dalam
kandang brooding)

4. Mengetahui cara memelihara ayam broiler pada masa brooding

5. Mengetahui pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan ayam broiler


pada masa brooding

3
6. Mengetahui cara memelihara ayam broiler selepas masa brooding sampai
panen

7. Mengetahui pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan ayam broiler


selepas masa brooding

8. Mengetahui tata cara dan ketentuan-ketentuan dalam melakukan vaksinasi

9. Mengetahui macam-macam kandang yang digunakan dalam beternak


unggas

4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tentang Ayam Pedaging


A. Asal ayam Pedaging

Beberapa alasan peternak memelihara ayam adalah karena tiga alasan .


Pertama, ayam dipelihara untuk dimanfaatkan daginnya . Kedua, ayam dipelihara
untuk dimanfaatkan telurnya. Ketiga, ayam dipelihara untuk kesenangan, baik
keindahan bentuk, suara atau kekuatannya. (Naranka, 2012)

Ayam yang dipelihara untuk dimanfaatkan dagingnya disebut ayam


pedagingn. Adapun ayam ras pedaging yang unggul dikenal dengan nama ayam
broiler. Ayam tersebut dihasilkan melalui perkawinana silang, seleksi dan
rekayasa genetik yang dilakukan oleh pembelinya. Broiler merupakan jenis ras
unggulan hasil persilangan bangsa-bangsa ayam yang memiliki produktivitas
tinggi, terutama dalam memproduksi daging. Berikut merupakan kemungkinan
cikal bakalnya broiler. (Naranka, 2012)

1. Ayam berasal dari kelas Amerika, istilah kelas digunakan untuk


membedakan daerah ayam ras tersebut awal mulanya diciptakan dan
dikembangkan secara luas . Ciri-ciri ayam kelas amerika adalah sebagai
berikut :
Kulit berwarna kuning
Cakar kaki tidak berbulu
Cuping daun telinga berwarna merah
Kerabang/kulit telur biasanya berwarna coklat
2. Ayam berasal dari bangsa Plymouth Rock yang memiliki varietas bulu putih,
istilah bangsa digunakan untuk kelompok ternak ayam dalam satu kelas yang
memiliki persamaan bentuk anatomi, morfologi, dan fisiologi secara turun-
temurun. Bangsa ayam tersebut disilang lagi dengan bangsa ayam lain
berkali-kali (hanya diketahui oleh pembibitnya), lalu ditemukan strain baru,
misalnya diberi nama Cobb, Arbor, Acres, atau nama lainnya.
Ayam berasal dari kelas Inggris. Salah satu contoh dari kelas ini
adalah bangsa ayam Cornish dengan ciri-ciri, diantaranya bentuk badan
padat, kompak, dan berdaging penuh, cakar kaki besar, tidak berbulu, dan
berwarna kuning, sertakulit telur berwarna coklat. Adapun ciri-ciri umum
dari ayam yang berasal dari kelas inggris adalah sebagai berikut :
Kulit telur berwarna cokelat
Cuping telinga berwarna merah
Kulit berwarna putih, kecuali bangsa ayam Cornish (Naranka,
2012)
B. Straun Ayam Pedaging
Broiler memiliki banyak strain. Strain merupakan istilah untuk jenis ayam
yang telah mengalami penyilangan dari berbagai bangsa sehingga tercipta jenis

5
ayam baru dengan nilai ekonomi produksi tinggi dan sifat yang turun temurun.
Pemberian nama ayam biasanya dilakukan oleh pembibit penciptanya (breeding
farm) . Adapun jenis strain broiler yang saat ini populer di Indonesia di antaranya
sebagai berikut :
1. Cobb
2. Ross
3. Lohman Meat
4. Hubbard, Hubbard JA 57, Hubbard Flex
5. Hybro PG +

Kemudian strain tersebut di Indonesia diberikan nama sesuai dengan


keinginan perusahaan pembibitnya, misalnya CP 707 tersebut dihasilkan dan
dipasarkan oleh PT Pokphand Indonesia, tetapi isinya kemungkinan Cobbs atau
strain lain. (Naranka, 2012)

Dalam perkembangannya, selain perbaikan genetik yang telah terjadi


seleksi jenis strain ayam broiler yang dipelihara di Indonesia. Hal ini terutama
dipengaruhi oleh kemampuan strain ayam tersebut dalam memberikan keuntungan
terhadap peternak. Misalnya, ada strain ayam broiler yang lebih cepat
pertumbuhannya di minggu-minggu awal pemeliharaan dan melambat
pertumbuhannya di minggu-minggu akhir. Namun dapat juga yang sebaliknya.
Dengan demikian peternak harus dapat menentukan jenis strain yang akan
dipelihara berdasarkan masa panen. Pada tahun 2002, Strain Hubbard sempat
menjadi Primadona yang dipilih peternak, tetapi hingga kini (2015), strain ayam
pedaging masih dikuasai oleh strain Cobbs. (Nuryanto, 2008)

Umumnya peternak menghasilkan ayam broiler karena dari DOC final


stock broiler. Namun, nenek (granparent stock) dan induk (Parentstock) ayam
broiler tersebut harus diimpor. Adapaun negara produsen grandparent stock ayam
broiler disajikan pada Tabel 1.

TABEL I. NEGARA PRODUSEN GRANDPARENT STOCK AYAM


PEDAGING

Strain Ayam Negara Asal

Cobb, Avian Amerika

Isa veddete Prancis

Ross Inggris

Hybro, Hubbard Belanda

6
Perkembangan performa ayam broiler dari rahun ke tahun semakin
membaik. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Umur panen yang lebih pendek
untuk mendapatkan berat badan tertentu akan menyebabkan penyusutan
kandang( biaya kandang lebih rendah). Sementara itu, nilai FCR yang lebih kecil
menunjukkan bahwa ayam lebih efisien dalam menggunakan pakan untuk
mengahasilkan daging sehingga biaya pakan menjadi lebih rendah. Dengan
pertumbuhan yang semakin cepat, tingkat stres pada ayam juga akan semakin
tinggi sehingga ayam menjadi mudah stress. (Nuryanto, 2008)

TABEL 2. PERKEMBANGAN PERFORMA BROILER UMUR 35 HARI

Tahun Bobot Badan (kg) FCR

<1980 1,0 - 1,2 1,9 2,0

1980 1,2 1,4 1,8 1,9

1980 2000 1,4 1,6 1,7 1,8

>2000 >1,6 < 1,7

C. Morfologi Ayam Pedaging (Broiler)


Sebagaimana bentuk morfologi ayam lainnya, ayam broiler memiliki
morfologi sebagai berikut :
Kepala. Terdapat mata, paruh, jengger, cuping telinga, dan lubang
hidung.
Badan. Badan ayam diperkokoh dengan adanya kerangka tubuh untuk
melindungi organ dalam.
Sayap. Terdapat dua sayap yang berfungsi untuk terbang.
Bulu. Bulu menutupi tubuh dan berfungsi melindungi tubuh dari suhu.
Warna bulu pada broiler umumnya putih.
Kaki. Sepasang kaki ayam broiler umumnya gemuk dan kokoh serta
cenderung pendek serta tidak berbulu pada cakarnya. (Nuryanto, 2008)

2.2. Sarana dan Prasarana


Sarana dan Prasarana merupakan salah satu penunjang berjalannya
kegiatan peternakan. Keterkaitan dua hal tersebut sangat erat dan terlihat pada
waktu persiapan, saat berjalan dan pada saat memanen hasil produksi. Sarana
yang harus ada dana sangat dibutuhkan pada peternakan ayam khususnya antara
lain tempat pakan, tempat minum, alas litter, tirai, transportasi seperti mobil untuk
mengankut pakan dan ayam panen. Prasarana yang harus ada tentu saja bangunan
kandang itu sendiri, gudang pakan, gudang peralatan, dan lain-lain. Bangunan
kandang merupakan prasarana utama yang harus ada untuk dimulainya kegiatan
peternakan. Setelah pembangunan kandang sesuai dengan standar selesai

7
dikerjakan, langkah selanjutnya adalah dengan melengkapi kebutuhan saranan
peralatan kandang, yaitu sebagai berikut :
a. Instalasi air minum
Instalasi air minum yang diperlukan meliputi sumur, pompa air, peralon
sebagai saluran air, drum penampungan, dan tempat minum otomatis.
b. Instalasi tempat pakan
Tempat pakan ayam diletakkan dengan cara digantung. Penggantung lajur
tempat pakan dibuat dari bambu yang membujur dari timur ke barat.
c. Instalasi listrik
Kabel listrik utama dari meteran ke kandang ayam dipakai kabel tembaga
(NYM) agar aman dari hubungan arus pendek (konsleting).
d. Tirai atau layar
Tirai berfungsi sebagai penahan dingin dari tiupan angin. Warnanya harus
cerah supaya suasana di dalam kandang terang, misalnya warna putih.
e. Alas litter
Alas litter dapat berupa terpal plastik atau kertas sekali pakai, tetapi umumnya
peternak memakai bahan terpal plastik sebagai alas litter.
f. Instalasi pemanas
Jenis pemanas yang digunakan dalam peternakan, yaitu listrik, gas, batubara,
dan minyak tanah. Pemanas gas menghasilkan sinar inframerah yang sangat
berguna bagi tumbuh kembangnya ayam.
g. Pelindung indukan (brooder guard)
Pelindung indukan berfungi sebagai pelindung dan pembatas indukan agar
anak ayam memperoleh suhu yang ideal. Alat tersebut terbuat dari lembaran
seng dengan tinggi 40 sm dan panjang 8 m.
h. Peralatan lainnya
Peralatan kandang lainnya yang diperukan , yaitu bak celup kaki. Bak tersebut
berisikan cairan desinfektan. Tujuan agar siapapun yang masuk ke kandang
dalam kondisi steril dan tidak membawa penyakit. (Rasyaf, 2006)

2.3. Pakan
Ayam memerlukan pakan untuk pertumbuhan badannya. Hal ini karena
ayam broiler ini dipelihara di dalam kandang terus-menerus sepanjang hidupnya,
tugas peternak untuk menyediakan pakannya. Dengan pakan dan manajemen
pemeliharaan yang baik, diharapkan akan menghasilkan pertumbuhan ayam
secara maksimal serta memberi keuntungan bagi peternak. (Ustomo, 2010)

2.4. Manajemen Pemeliharaan


1.Manajemen brooding
Brooding adalah kunci keberhasilan pemeliharaan broiler, terutama ketika
DOC harus diperlakukan sebagaimana induk ayam memperlakukan anaknya. Hal
itu menyangkut kebutuhan suhu sebelum anak ayamm memiliki bulu sebagai
pengatur suhu tubuhnya sendiri. Oleh karena itu, pada tahap ini diperlukan adanya
brooder (pemanas) yang berfungsi agar suhunya sesuai dengan kebutuhan DOC

8
dalam memberikan kehangatan sehingga brooder disebut juga dengan istilah
induk buatan. Masa brooding kurang lebih berlangsung 14 hari atau disesuaikan
dengan kondisi lingkungan dan ayam itu sendiri. Panas brooder dapat diperoleh
dari semawar, gasolec, maupun pemanas lainnya. (Caturto, 2008)
2.Manajemen Perkandangan
Pengontrolan terhadap kondisi lingkungan dan pengaturan kepadatan
merupakan bagian dari manajemen perkandangan. Hal itu karena lingkungan
seperti cuaca tidak dapat diciptakan, tetapi dapat dkontrol. Pengontrolan kondisi
lingkungan dapat dilakukan dengan pengaturan tirao untuk mengatur sirkulasi
udara dalam kandang dan membantu menciptakan kondisi yang diinginkan ayam.
Tirai ada dua macam, yaitu tirai luar (penutup kandang) dan tirai dalam. Tirai luar
berfungsi melindungi kandang dari udara maupun angin dari luar. Sememntara itu
tirai dalam berfungsi menstabilkan suhu dalam kandang, terutama masa brooding
sehingga pengaturan suhu hanya dilakukan dengan buka-tutup tirai dalam dan
mengatur besar kecilnya pemanas. (Dewa, 2011)
3.Manajemen Litter
Litter berfungsi memberikan kenyamanan pada ayam, terutama pada saat
anak ayam belum memiliki bulu yang membantu menjaga kestabilan suhu
tubuhnya. Bahan litter bisa berupa sekam padi, jerami padi, atau serutan kayu.
Litter yang bagus harus bersifat mampuu menyimpan panas sehingga dapat
memberikan kehangatan pada anak ayam. Selin itu, litter juga harus bisa
menyerap air untuk menjaga kelembapan udara dan kadar amoniak dalam
kandang serta tidak boleh berdebu. Ketidakwaspadaan terhadap kondisi litter
dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan ayam karena penyakit sering kali
muncul dipicu karena kondisi litter yang buruk. (Martono, 2002)
4.Seleksi dan culling
Seleksi dalam usaha peternakan ayam broiler dapat diartikan memilih
ternak broiler dengan tingkat pertumbuhannya, lalu dipisahkan satu dengan yang
lainnya. Tujuan seleksi adalah untuk membedakan broiler yang pertumbuhannya
baik dan kurang baik.. Culling diartikan memusnakan ayam-ayam yang secara
teknis tidak dapat tumbuh dengan baik dan malah menghambur-hamburkan
pakan. Bahkan, jika terus dipelihara, dapat memicu timbulnya penyakit tertentu
yang dapat berakibat fatal. (Akoso, 1993)
5.Biosecurity
Biosecurity adalah serangkaian program yang mencakup kebijakan dan
praktik yang dirancang untuk mencegah masuk atau menyebarnya agen penyebab
penyakit pada ayam/unggas. Agen penyebab penyakit tersebut menyebabkan
penurunan kinerja, mortalitas, dan tentu saja hilanggnya pendapatan peternak.
Agen penyakit meliputi virus, bakteri, protozoa, jamur, parasit(eksternal dan
internal). Biosecurity meliputi isolasi, pengendalian lalu lintas pekerja dan tamu,
serta sanitasi.

9
Isolasi merupakan cara untuk menjauhkan ayam dari sumber penyakit.
Pengendalian lalu-lintas pekerja atau tau dapat dilakukan dengan membatasi
keluar masuk orang atau kendaraan ke dalam lokasi kandang. (Akoso, 1993)
6.Recording(catatan harian)
Recording atau catatan harian tentang segala sesuatu yang terjadi selama
periode pemeliharaan. Biasanya, recording berisi tanggal masuk DOC, nama
peternak, strain, kode boks DOC, kondisi DOC (lemas atau lincah), periode
pemeliharaan, dan umur(hari), jumlah pakan, bobot harian dan mingguan, obat
dan vaksin, serta mortalitas. Peran catatan harian sangat penting dan memiliki
banyak fungsi antara lain mampu memberikan berbagai informasi mengenai
pertumbuhan ayam, efisiensi penggunaan pakan dan obat, serta mampu
mendeteksi sedini mungkin munculnya penyakit di lokasi peternakan. (Caturto,
2008)

2.5. Panen dan Pasca Panen


Setelah melakukan pemeliharaan selama 22 hari, tentu saja peternak ingin
memperoleh hasil yang sesuai dengan harapannya. Hal itu merupakan tujuan akhir
dari peternak. Tahap itu disebut dengan tahap panen.Namun, tahap ini juga harus
diiringi oleh tahap pascapanen yang baik. Jika tidak, hasil panen bukan tidak
mungkin ditolak oleh konsumen.
a.Panen
Panen merupakan saat yang paling dinantikan oleh peternak, karena jerih
payah selama pemeliharaan akan segera terganti. Panen yang diharapkan tentunya
produksi yang sesuai dengan keinginan atau ayam menunjukkan pertumbuhan
yang optimal. Panen bisa mulai dilakukan apabila bobot sudah dikehendaki oleh
pasar.
b.Pasca Panen
pasca panen adalah periode kandang dalam posisi kosong karena baru saja
dipanen. Pada kondisi pascapanen (ayam habis), kandang serta peralatan kandang
harus langsung dibersihkan dan membuang kotoran dari kandang. Semakin cepat
kandang diberishkan, periode ayam masuk kembali juga semakin cepat. Selain itu,
bibit penyakit tidak cepat berkembang karena rantai penyakitnya sudah diputus.
(Abidin, 2004)

BAB III METODOLOGI

3.1. Waktu Dan Tempat


Praktikum Produksi Ternak Unggas ini dilaksanakan di Universitas
Bengkulu (UNIB) tepatnya di Kandang Commercial Zone Animal Laboratory
(CZAL) mulai dari tanggal 15 Oktober 2016 ketika DOC tiba sampai dengan
pasca panen 11 November 2016 . Untuk praktikum ini sendiri dilaksanakan di
dalam Kandang khusus Ayam Broiler dimana telah dibagikan sekat untuk tiap

10
kelompok yaitu 21 kelompok yang bejumlah rata-rata 6 - 7 anggota. Tiap
anggota telah dibagikan tugas masing-masing untuk melakukan pengecekan
perhari.

3.2. Bahan Dan Alat


Bahan dan alat yang digunakan pada praktikum produksi ternak unggas ini
bermacam-macam tetapi bahan utama yang diperlukan agar praktikum ini dapat
berjalan lancar harus ada DOC Ayam Broiler dan kandangnya.

Bahan dan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Sanitasi Kandang

Sapu lidi
Sapu ijuk
Ember
Kuas
Sprayer
Plastik tirai kandang
Desinfektan
Kapur tembok
Air

2. Sanitasi Peralatan Kandang

Tempat pakan
Tempat minum
Brooder (indukan)
Brooder guard(pembatas indukan)
Ember
Desinfektan
Air
Tapas
Kuas
Kapur dinding

3. Menyiapkan Kandang Brooding

Brooder yang telah disanitasi


Brooder guard yang telah disanitasi
Tempat pakan dan tempat minum yang telah disanitasi
Kertas koran
Sekam padi

4. Pemeliharaan Broiler Pada Masa Brooding

Kandang brooding yang telah disanitasi

11
Tempat pakan yang telah disanitasi
Tempat minum yang telah disanitasi
DOC (Day Old Chick)
Gula merah
Pakan
Air minum

5. Pemeliharaan Broiler Selepas Masa Brooding

Kandang bateray atau petak kandang lantai liter


Anak ayam selepas masa brooding (umur 2 minggu)
Tempat pakan
Tempat minum

6. Vaksinasi

Vaksin ND
Larutan dapar
Anak ayam umur 4 har
Anak ayam broiler umur 3 minum
Spuit ukuran 5 cc
Vitachick
Aquadest

7. Perkandangan

Kandang Ayam Broiler, Ayam Petelur dan Burung Puyuh


Meteran
Penggaris
Alat Tulis
Kertas A4
Kamera atau Handphone

8. Sanitasi Kandang Pasca Panen

Sapu lidi
Sapu ijuk
Ember
Desinfektan
Air
Tempat pakan yang kotor
Tempat minum yang kotor
Kandang brooding yang kotor

3.3. Tahapan Praktikum


a. Sanitasi Kandang
1. Menyapu lantai kandang sampai bersih dengan menggunakan sapu ijuk.

12
2. Membersihkan lantai kandang dengan air sumur/air ledeng, memakai sapu
lidi sehingga air tidak ada yang menggenang pada lantai kandang.
3. Menggulung plastik tirai kandang supaya kandang cepat kering.
4. Setelah kandang kering, mengkapur lantai kandang dan dinding kandang
(lebih kurang setengah meter).
5. Setelah kandang dikapur dan kering, menurunkan semua tirai kandang.
6. Melarutkan desinfektan sesuai aturan pemakaian dan memasukkan ke
dalam sprayer. Menyemprotkan desinfektan tersebut ke seluruh lanti dan
dinding kandang.
b. Sanitasi Peralatan Kandang
1. Mencuci tempat pakan dan tempat minum dengan air sumur atau air
ledeng.
2. Membilas tempat pakan dan tempat minum yang telah dibersihkan
tersebut dengan larutan desinfektan kemudian membiarkan kira-kira 10
menit.
3. Selanjutnya membilasnya dengan menggunakan air bersih dan menjemur
sampai kering.
4. Memasukkan tempat pakan dan tempat minum tersebut ke dalam kandang
yang telah disanitasi.
5. Menyemprot brooder dengan larutan desinfektan, lalu jemur sampai
kering.
6. Mengkapur brooder guard dengan menggunakan kapur dinding dan
membiarkan kering.
7. Memasukkan brooder dan brooder guard tersebut ke dalam kandang yang
disanitasi.
c. Menyiapkan Kandang Brooding
1. Menaburkan sekam padi (liter) setebal 5 cm di atas lantai kandang yang
telah disanitasi.
2. Memasang brooder yang telah dipasang lampu.
3. Memasang brooder guard dengan membentuk lingkaran.
4. Memasang kertas koran di atas liter.
5. Menyalakan lampu brooder dan meletakkan thermometer di atas liter
pada ketinggian lebih kurang 10 cm.
6. Memperhatikan temperatur sampai stabil. Temperatur yang dibutuhkan
pada minggu pertama adalah 98F (35).
d. Pemeliharaan Broiler Pada Masa Brooding
1. Saat DOC tiba, memasukkan air minum yang diberi air gula merah (2%)
ke dalam tempat air minum dan meletakkan di atas liter.
2. Mengeluarkan DOC dari box-nya kemudian memasukkan ke dalam
lingkaran kandang brooding yang telah disiapkan.
3. Membiarkan DOC minum air gula tersebut sepuasnya.
4. Setelah DOC cukup minum, menaburkan pakan pada kardus bekas box
DOC dan meletakkan di atas liter.
5. Menyalakan lampu brooder sepanjang siang dan malam selama satu
minggu pertama.

13
6. Memperhatikan sebaran anak ayamnya.
7. Setelah anak ayam berumur tiga hari, mengganti pakan dengan tempat
pakan lingkaran.
8. Menghitung konsumsi pakan mingguan dengan menghitung jumlah pakan
yang disediakan pada awal minggu dengan sisa pakan pada akhir minggu.
9. Menimbang berat awal DOC sebanyak 10 ekor sebagai sampel dan
tandailah dengan menggunakan spidol di kepalanya.
10. Menimbang 10 ekor sampel anak ayam tersbut setiap 2 hari sekali selama
2 minggu.
11. Menghitung konversi pakannya dengan cara membandingkan rataan
jumlah konsumsi pakan per ekor dengan rataan pertambahan berat badan
per ekor.
12. Mencuci tempat minum setiap pagi dan sore.
13. Memberikan ad libitum pada pakan dan air minum.
e. Pemeliharaan Broiler Selepas Masa Brooding
1. Menyediakan tempat pakan dan air minum ke dalam petak kandang.
2. Mengambil 5 ekor anak ayam dan menimbangnnya untuk mengetahui
berat awalnya.
3. Memasukkan anak ayam tersebut ke dalam petak kandang.
4. Menimbang anak ayam tersebut setiap 1 minggu sekali.
5. Mencatat konsumsi pakannya setiap minggu.
6. Menghitung konversi pakannya.
7. Membuat grafik pertumbuhannya.
8. Memberikan ad libitum pada pakan dan air minum.
9. Memelihara ayam sampai umur 6 minggu.
f. Vaksinasi
Vaksinasi melalui tetes mata
1. Mengambil/menyedot larutan dapar dengan menggunakan jarum spuit
dari botolnya kemudian memasukkan ke dalam botol vaksin.
2. Mengocok secara perlahan botol vaksin supaya vaksinnya larut.
3. Dengan menggunakan jarum spuit tadi, mengambil larutan vaksin tersebut
dan memasukkan ke dalam botol vaksin sampai habis.
4. Membuat sekat untuk memisahkan anak ayam yang telah divaksin.
5. Memegang anak ayam yang akan divaksin dengan posisi miring
kemudian memegang kepalanya dengan ibu jari dan jari telunjuk.
6. Meneteskan vaksin pada matanya satu tetes saja.
7. Membiarkan tetesan vaksin tersbut sampai ayam berkedip atau nampak
seperti menelan.
8. Melepaskan anak ayam tersbut dengan hati-hati.
9. Membakar sisa vaksin dan peralatannya.
10. Sehari sebelum vaksinasi, pada saat vaksinasi , dan sehari setalah
vaksinasi, menambah air minumnya dengan antistres dengan kadar sesuai
petunjuk pemberian antistres yang digunakan.
Vaksinasi melalui air minum
1. Tiga jam sebelum vaksinasi, mengambil tempat air minum ayam
supaya ayam kehausan.

14
2. Melarutkan vaksin ND ke dalam air minum dan memberikannya.
3. Membiarkan ayam minum sepuasnya.

g. Perkandangan

1. Mengamati kandang ayam broiler, ayam petelur dan burung puyuh secara
bergantian.
2. Mengukur ukuran tiap kandang yang diamati menggunakan meteran dan
penggaris.
3. Mengukur dan menghitung jumlah sekat pada kandang ayam broiler.
4. Mengukur dan menghitung jumlah kandang baterai pada kandang ayam
petelur.
5. Menggambar kandang yang diamati di kertas A4 dan menuliskan tipe-tipe
kandang mulai dari atap, lantai dan dinding.
6. Mendokumentasikan hasil praktikum dengan cara memfoto menggunakan
kamera atau handphone.
h. Sanitasi Kandang Pasca Panen
1. Menyapu lantai kandang sampai bersih dengan menggunakan sapu ijuk.
2. Membersihkan lantai kandang dengan air sumur/air ledeng, memakai sapu
lidi sehingga air tidak ada yang menggenang pada lantai kandang.
3. Menggulung plastik tirai kandang supaya kandang cepat kering.
4. Setelah kandang kering, mengkapur lantai kandang dan dinding kandang
(lebih kurang setengah meter).
5. Setelah kandang dikapur dan kering, menurunkan semua tirai kandang.
6. Melarutkan desinfektan sesuai aturan pemakaian dan memasukkan ke
dalam sprayer. Menyemprotkan desinfektan tersebut ke seluruh lanti dan
dinding kandang.

15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


1. Konsumsi Pakan

Tabel. 1 Konsumsi Pakan

Umur (Minggu) Konsumsi Pakan (g/ekor)

0-1 143

1-2 410,69

2-3 620

3-4 920

4-5 1052

Jumlah 3145,69

Konsumsi Pakan = Pemberian Pakan + Sisa Pakan Minggu Lalu Sisa


Pakan Minggu Ini

Konsumsi Minggu 1 = 143 gram/ekor

Konsumsi Minggu 2 = 410,69 gram/ekor

Konsumsi Minggu 3 = 4000 gram 900 gram = 3100 gram/5 ekor = 620
gram/ekor

Konsumsi Minggu 4 = 5000 gram + 900 gram 1300 gram = 4600 gram/5
ekor = 920 gram/ekor

Konsumsi Minggu 5 = 5000 gram + 1300 gram 1040 gram = 5260 gram/5
ekor = 1052 gram/ekor

Tabel. 2 Berat Badan

Umur (Minggu) Berat Badan (g/ekor)

16
0 34,6
1 156
2 330
3 860
4 1580
5 2000

Tabel 2.1 Pertambahan Berat Badan

Umur (Minggu) PBB (g/ekor)

0-1 121,4

1-2 174

2-3 530

3-4 720

4-5 420

Jumlah 1965,4

PBB(Pertambahan Berat Badan) = Berat Minggu Ini - Berat Minggu Lalu

PBB Minggu 1 = 156 gram 34,6 gram = 121,4 gram

PBB Minggu 2 = 330 gram 156 gram = 174 gram

PBB Minggu 3 = 860 gram 330 gram = 530 gram

17
PBB Minggu 4 = 1580 gram 860 gram = 720 gram

PBB Minggu 5 = 2000 gram 1580 gram = 420 gram

Tabel 3. Konversi Pakan

Umur (Minggu) Konversi Pakan

0-1 1,18

1-2 2,36

2-3 1,17

3-4 1,27

4-5 2,504

Konversi Total 1,600514

FCR (Feed Convertion Ratio) = Konsumsi Pakan / PBB

FCR Minggu 1 = 143 gram / 121,4 gram = 1,18

FCR Minggu 2 = 410,69 gram / 174 gram = 2,36

FCR Minggu 3 = 620 gram / 530 gram = 1,17

FCR Minggu 4 = 920 gram / 720 gram = 1,27

FCR Minggu 5 = 1052 gram / 420 gram = 2,504

FCR Total = Total Konsumsi / Total PBB = 3145,69 gram / 1965,4 gram =
1,600514

Harga Pakan = Rp. 385.000 / 1 Zak (50 kg) = Rp 7.700 / kg

Harga Ayam Broiler/ kg = Rp 18.000 / kg

Berat Ayam Broiler Akhir (Minggu ke 5 ) = 2,0 kg

Jumlah Konsumsi Pakan : 3145,69 g = 3,14569 kg

IOFC = Harga jual ayam/ ekor biaya pakan

= (Harga jual ayam/kg x berat badan) Jumlah konsumsi


pakan x Harga pakan/kg)

18
= (Rp 18.000 x 2,0 kg) (3,14569 kg x Rp 7.700/kg)

= Rp 36.000 Rp 24.221,813

= Rp 11.778,187 / ekor

IOFCC = IOFC - Harga DOC

= Rp 11.778,187 Rp 5.000/ekor

= Rp 6778,187

4.2. Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan perhitungan terhadap konsumsi
pakan, berat badan, pertambahan berat badan, FCR dan IOFC. Pada perhitungan
konsumsi pakan, pada minggu pertama diketahui bahwa ayam broiler mengkonsumsi
pakan sebanyak 143 gram per ekornya yang didapatkan dengan rumus : pemberian pakan
awal dikurangi sisa pakan dimana pada minggu pertama sendiri jumlah konsumsi pakan
yang didapatkan oleh semua kelompok disamakan sebab ayam broiler masih diletakkan
di kandang yang sama yaitu dalam brooder guard. Jumlah pakan yang dikonsumsi ayam
broiler pada minggu pertama masih tergolong sedikit karena masih belum dapat
membiasakan diri dengan lingkungan dan pakan yang diberikan. Pada minggu kedua
diketahui bahwa ayam broiler mengkonsumi pakan yang diberikan sebanyak 410, 69
gram per ekornya yang didapatkan dengan rumus yaitu pemberian pakan awal berjumlah
4000 gram untuk 116 ekor ayam broiler dikurangi sisa pakan yaitu 3589,31 per 116 ekor
ayam broiler. Pemberian pakan pada minggu kedua sendiri masih sama seperti minggu
pertama dimana pakan diberikan kepada 116 ekor DOC yang masih digabung jadi hasil
konsumsi pakan tiap kelompok masih sama. Pada minggu ketiga diketahui bahwa ayam
broiler mengkonsumsi pakan yang diberikan sebanyak 620 per ekornya yang didapatkan
dengan menggunakan rumus yaitu pemberian pakan awal berjumlah 4000 gram dikurangi
dengan sisa pakan sebanyak 900 gram kemudian didapatkan hasil yaitu 3100 per 5 ekor
dibagi 5. Konsumsi pakan pada minggu ketiga mulai meningkat, hal ini dapat disebabkan
karena kandang brooding untuk tiap kelompok telah dipisah 5 ekor per kandang brooding
sehingga memberikan ketenangan kepada ayam broiler dan membantu meningkatkan
nafsu makannya. Pada minggu keempat

19
BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z.2004. Meningkatkan Prodoktivitas Ayam Ras Pedaging. Jakarta :
Agromedia Pustaka.

Akoso, B.T., 1993. Manual Kesehatan Unggas. Yogyakarta : Kanisius

Caturto, P.N. 2008. Agribisnis Ternak Unggas. Departemen Pendidikan Nasional.


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dsar dan Menengah.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejurusan.

Dewa, W. J., 2011. Manajemen Perkandangan pada Ayam Broiler . Karya


Ilmiah. Bogor : Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan

20
Martono, A.P. 2002. Membuat Kandang Ayam . Jakarta : Penebar Swadaya.

Narantaka, A. 2012. Budidaya ayam broiler komersial. Yogyakarta : Javalitera.

Nuryanto. 2008. Broilerpun Semakin Modern. (Materi Diklat). Jakarta : Satwa


Utama Group.

Rasyaf, M. 2006. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta : Penebar Swadaya.

Ustomo, E. 2010. Jawara Ternak Ayam. Yogyakarta : Kanisius.

21
LAMPIRAN

22
23
24

Anda mungkin juga menyukai