Anda di halaman 1dari 1558

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Nama : Rizky Amalia Sholiha

Kelas : XII IPS 1

Penulis : Tere Liye

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : Juni 2010

Kategori : Novel

Cetakan : cetakan keduapuluh pada Mei 2015

Halaman : 264 halaman

ISBN : 978 979 22 5780 9

Harga : Rp. 48.000


Isi Novel

Dalam novel ini, diceritakan bahwa Tania adalah anak perempuan dari sebuah
keluarga yang hidupnya dapat dibilang jauh dari kemewahan. Bahkan kata sederhana pun
masih kurang cocok untuk menggambarkannya. Ia tinggal dirumah kardus yang ada
dipinggir kota bersama ibunya dan adiknya yang bernama Dede. Hal ini terjadi semenjak
ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur 8 tahun. Hari demi hari bertambah buruk bagi
keidupan Tania. Dari ibunya yang mulai sakit sakitan sehingga tak dapat bekerja sampai
dirinya yang harus putus sekolah pada usianya yang masih belia yaitu 11 tahun karena tak ada
biaya untuk membayarnya. Ia pun memutuskan untuk mengamen bersama Dede yang
berusia 6 tahun itu dari metromini satu ke metromini yang lain untuk mengumpulkan recehan
sebagai pendapatan keluarga mereka sehari hari. Hingga pada suatu malam, ia bertemu
dengan seorang pemuda yang usianya 25 tahun. Saat itu, Tania yang sedang mengamen, tak
sengaja menginjak paku payung sehingga kakinya pun berdarah. Wajar saja kakinya
berdarah, karena ia tidak mengenakan alas kaki apapun. Melihat kejadian ini pemuda itu
membantu Tania dengan memberikan sapu tangannya untuk membalut luka Tania.

Pada malam selanjutnya, dalam metromini yang sama, Tania dan Dede bertemu
kembali dengan pemuda itu . Tak disangka, ia memberikan sepatu kepada Tania dan Dede. Ia
juga mengantar pulang Tania dan Dede sampai ke rumah kardusnya yang mungil itu. Lantas,
ia bertemu dengan orang tua Tania dan mereka saling berbincang bincang. Sejak saat itu,
pemuda yang biasa Tania dan Dede panggil Om Danar, mulai memasuki kehidupan Tania dan
keluarganya. Kehidupan Tania mulai membaik sejak kedatangan Om Danar. Tania mulai
bersekolah lagi dengan dibiayai oleh Om Danar. Mereka semua merasa nyaman berada di
sisinya. Terlebih Tania. Ia merasa sangat dekat dengan Om Danar.

Semakin hari, hubungan mereka terjalin semakin erat. Cahaya terang mulai memasuki
kehidupan Tania dan keluarganya. Higga suatu ketika Kak Danar memperkenalkan Tania
kepada seorang teman wanitanya lebih tepatnya adalah pacar Om Danar yang Tania panggil
dengan sebutan Tante Ratna. Karena Tante Ratna sangat dekat dengan Om Danar, Tania mulai
tidak menyukai kehadiranya. Entah mengapa, ada perasaan tidak enak dihatinya.

Seiring berjalannya waktu, Tania dan Dede sudah tidak mengamen lagi. Mereka juga
sudah tinggal dalam sebuah kontrakan sederhana dan mulai fokus megejar pendidikan .
Banyak masukan dan pengajaran yang diberikan Om Danar pada Tania dan Dede. Mereka
pun tumbuh menjadi orang yang pandai dan membanggakan. Bahkan Tania juga dapat
melanjutkan SMP di Singapura melalui beasiswa. Namun, kehidupan Tania juga tidak
selamanya penuh canda tawa. Dua bulan sebelum ia bersekolah di Singapura, ibu Tania
meninggal dunia. Hal ini benar benar membuat Tania dan Dede terpukul. Om Danar yang
sudah menganggap ibu Tania sebagai ibunya sendiri tentu merasakan kesedihan itu.

Tak larut dalam kesedihan itu, Tania tetap melanjutkan sekolahnya ke Singapura,
meninggalkan Dede dan Om Danar. Tiga tahun berlalu dengan sekejap bagi Tania. Masa libur
pun tiba. Tania pulang kembali ke Indonesia. Kini, penampilan Tania berubah. Tania yang
tadinya kusam dan berbau karena panas matahari kini menjadi gadis remaja yang cantik,
harum, rapi dengan pakaian modis tetapi sopan. Ia juga mengganti panggilan Om Danar
dengan Kak Danar. Meskipun kini banyak yang berubah dari dirinya, namun ada satu hal
yang masih tetap sama, yaitu hatinya. Lebih tepatnya adalah perasaannya pada seseorang
yang ia panggil Kak Danar itu.

Atas permintaan Kak Danar, Tania kembali melanjutkan SMA di Singapura. Ia


kembali meninggalkan adiknya dan sosok yang sangat ia sayangi itu. Meski berpisah, mereka
bertiga tetap menjaga komunikasi dengan baik. Tak jarang Tania menanyakan hal hal tentang
Kak Danar kepada Dede. Dede kini ibarat mata mata bagi Tania.

Masa SMA Tania di Singapura cepat berlalu. Saat hari kelulusan, Tania mendapat
peringkat pertama. Kak Danar datang pada hari kelulusan itu untuk mengejutkan Tania.
Namun, Tania lebih terkejut lagi ketika Kak Ratna ikut datang untuk melihatnya. Hal ini
menjadi pemandangan yang buruk dimta Tania. Sehangat apapun Kak Ratna
memperlakukannya, tetap saja ada rasa benci dalam diri Tania. Rasa benci itu memuncak saat
Kak Danar memberi tahu Tania bahwa ia kan menikah dengan Kak Ratna. Hati Tania hancur
seketika. Tak ada lagi harapan baginya untuk berada di sisi Kak Danar. Beberapa hari
sebelum pesta pernikahan dimulai, Kak Danar dan Kak Ratna selalu menghubungi Tania
lewat e-mail untuk menyurunya pulang. Tetapi Tania selalu menolaknya bahkan sampai hari
pernikahan tiba. Bagaimana tidak, hatinya pasti teriris melihat orang yang dicintainya
menikah dengan orang lain.

Selang dua tahun setelah pernikahan, tidak terjalin komunikasi apapun antara Tania
dan Kak Danar. Tania akhirnya menyempatkan kembali ke Indonesia pada masa liburnya.
Bukannya tanpa tujuan, ia ingin memperingati hari delapan tahun ibunya meninggal. Hal ini
mempertemukan kembali Kak Danar dengan Tania. Namun, hubungan mereka kini sedikit
cangung. Tania tidak bisa bebas berbincang bincang dengan Kak Danar. Kak Danar juga tidak
meyimpan rasa benci di hatinya kepada Tania. Hanya saja mereka belum siap unuk semua ini.

Selama di Indonesia Tania lebih sering berbicara dengan Kak Ratna. Bahkan ketika
Tania telah kembali ke Singapura, Kak Ratna sering mengirim e-mail pada Tania. Kak Ratna
sering bercerita tentang hubungannya dengan Kak Danar. Tentu saja hal tersebut tidak disukai
oleh Tania. Tapi diluar dugaan, ternyata hubungan Kak Ratna dan Kak Danar ternyata tidak
berjalan lancar. Setelah menikah Kak Danar sering pulang terlambat, emosional dan yang
pasti sifatnya berubah total. Kak Ratna curiga bahwa Kak Danar menyukai perempuan lain.
Kak Ratna berkata bahwa ia seperti sedang bersaing dengan bayangan perempuan entah
siapa.

Dalam kebingungan terebut, Tania juga mendapat kabar dari Dede. Dede
memberitahu Tania bahwa ia menemukan sebuah cerita yang diulis oleh Kak Danar. Cerita
itu tentang perasaan Kak Danar pada Tania. Ternyata selama ini Kak Danar juga menyukai
Tania. Tania merasa terkejut dengan hal itu. Setelah semua rahasia terbongkar, Tania
memutuskan untuk bertemu dengan Kak Danar. Ia menyampaikan bahwa ia akan pergi jauh
dari Kak Danar untuk selamanya dan tidak akan bertemu kembali. Mereka memutusan untuk
melanjutkan hidup mereka masing masing sesuai dengan takdir mereka. Mereka sadar bahwa
hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian
yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa
penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang.

Tanggapan tentang novel :

A. Kelebihan :

Novel ini memiliki cerita yang unik dan berbeda dari novel biasanya. Biasanya, cerita
cinta disajikan antara kedua remaja yang masih sekolah ataupun dua orang dewasa yang
seumuran. Namun, dalam novel ini cerita cinta yang disampaikan adalah antara dua orang
yang memiliki perbedaan umur empat belas tahun. Sehingga kisah cinta yang ditampilkan
cukup menarik

Bahasa yang digunakan dalam cerita ini lumayan mudah dipahami. Biasanya penulis
ini dalam beberapa karyanya, menggunakan bahasa yang sulit dipahami baik bagi remja atau
orang dewasa. Namun dalam novel tersebut jarang ditampilkan kata kata yng sulit dimengerti
sehingga membuat pembaca lebih memahami isi cerita.
Cerita yang disampaikan dengan sudut pandang orang pertama ini dibuat dramatis,
dan dijelaskan secara mendetail seingga pembaca dapat dengan mudah membayangkan
kehidpuan yang dialami tokoh utama dan dapat menarik perasaan pembaca untuk terjun
didalamnya.

Alur yang disajikan oleh penulis adalah alur maju-mundur. Meskipun begitu, pembaca
tidak dibuat bingung dengan perubahan alur tersebut. Alur ini malah menjadi salah satu hal
yang menarik dalam novel tersebut.

B. Kelemahan :

Karena sudut pandang yang dipakai hanya sudut pandang orang pertama, pembaca
menjadi kurang mengetahui bagaimana sudut pandang tokoh lain yang berperan penting
dalam kehidupan tokoh utama. Penjelasan yang diberikan tentang lain terlalu minim,
sehingga pembaca hanya fokus pada sudut pandang tokoh utama.

Dalam novel ini, sering menggunakan bahasa asing yang tidak semua pembaca
mengetahui maknanya. Akan lebih baik apabila novel tersebut diberi catatan kaki (footnote)
sehingga pembaca dapat lebih memahami cerita tersebut.

Ada dalam suatu bagian, dijeaskan bahwa Tania merasa bahwa Om Danar sudah
diambil oleh Tante Ratna dan ia merasakan cemburu pada usianya yang masih 11 tahun.
Dalam hal ini, kurang cocok apbila seorang anak merasakan cemburu kepada orang yang
terpaut 14 tahun dari umurnya. Akan lebih baik kalau kata cemburu diganti dengan iri.
Oleh karena itu, pemilihan kata yang dilakukan oleh penulis kurang tepat

Akhir dari cerita ini kurang jelas sehingga kurang memuaskan pembaca. Keputusan
Tania yang tiba tiba ingin berpisah selamanya dengan Kak Danar cukup mengejutkan
pembaca.

Tanggapan saya :

Dalam cerita ini banyak ajaran yang didapat. Pembaca diajarkan untuk bagaimana
menjalani hidup dengan benar, bagaimana cara menghadapi permasalahan yang datang
bertubi tubi, cara membantu seseorang yang memiliki kesulitan perekonomian, melakukan
sesuatu dengan ikhlas, ketulusan memberikan cinta kasih kepada orang lain, pantang
menyerah, bersyukur, dan masih banyak ajaran lain yang bisa kita petik.
``

Anda mungkin juga menyukai