Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pipa merupakan teknologi dalam mengalirkan fluida seperti minyak, gas atau air dalam
jumlah yang sangat besar dan jarak yang jauh melalui laut dan daerah tertentu. Pipeline
merupakan sarana transportasi diam yang berfungsi untuk mendistribusikan fluida baik dalam
bentuk liquid maupun gas. Sementara itu, risiko didefinisikan sebagai kombinasi antara
kemungkinan terjadinya kegagalan (probability of failure) dan konsekuensi terjadinya
kegagalan (Muhammad, 2007).

Karena medan yang di lalui saluran pipa sangat beragam, mulai dari laut dataran rendah,
lembah, dan didalam tanah maka dalam pengoperasiannya akan banyak di temukan berbagai
macam masalah seperti korosi (corrosion) maupun retak atau terputus. Keretakan merupakan
persoalan yang harus diperhatikan karena akibat yang ditimbulkan yaitu ledakan dan
kebocoran yang bisa mempengaruhi kehidupan sosial dan kerugian yang sangat besar.

Kemungkinan kegagalan atau risiko kegagalan bisa terjadi kapan saja walaupun pipa telah di
desain sebaik mungkin. Untuk mengurangi risiko kerusakan ataupun kebocoran perlu di
lakukan evaluasi secara berkala. Karena kita tahu kebocoran pipa gas sangat rentan berubah
menjadi kebakaran atau ledakan. Pemeliharaan yang baik pun sangat berpengaruh untuk
menekan tingkat risiko. Banyak metode yang digunakan untuk menghitung risiko, salah satu
yang saya gunakan adalah scoring system yang dikembangkan oleh W kent Muhlbeur. Tujuan
akhir dari penelitian ini ialah mendapatkan daerah-daerah yang berada pada zona high risk
serta memprediksi risiko pada pipeline.

Untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan pada jaringan pipa yang akan berakibat fatal pada
proses distribusi gas maka harus diketahui laju korosinya. Pengukuran laju korosi dapat
dilakukan dengan berbagai metode, yaitu corroding spesimen, eleltrochemical tehnique, dan
long range ultrasonic testing (LRUT). Metode LRUT ini merupakan metode yang terbaru di
indonesia dalam bidang pemeriksaan laju korosi. Dengan menggunakan gelombang ultra
sonik metode ini akan mendeteksi pengurangan ketebalan pipa, yang kemudian dijadikan
sebagai data primer untuk menghitung laju korosi yang terjadi.

1.2 Permasalahan

Adapun permasalahan yang sering terjadi pada pipa gas yaitu korosi erosi, korosi ini dapat
juga disebabkan karena impingment corrosion. impingment corrosion merupakan akibat fluida
sangat deras dan dapat mengikis film pelindung pada logam yang mengakibatkan logam
korosi. Laju korosinya dapat dihitung menggunakan metode long range ultrasonic testing

1
1.3 Tujuan

Tujuan dari analisa pada pipa gas adalah ;

Menganalisa performa peralatan pada gas bumi khususnya dibidang korosi.

Menentukan nilai laju korosi dengan menggunakan long range ultrasonic testing (LRUT).

1.5 Metode

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pengukuran laju korosi mempunyai beberapa
metode yaitu: corroding spesimen, eleltrochemical tehnique, dan long range ultrasonic
testing (LRUT). Pada analisa ini penulis menggunakan metode long range ultrasonic testing.
Metode LRUT ini merupakan metode yang terbaru di indonesia dalam bidang pemeriksaan
laju korosi. Dengan menggunakan gelombang ultra sonik metode ini akan mendeteksi
pengurangan ketebalan pipa, yang kemudian dijadikan sebagai data primer untuk menghitung
laju korosi yang terjadi.

BAB II

PEMBAHASAN

2
2.1 Korosi

Korosi adalah perusakan atau penurunan mutu dari material akibat bereaksi dengan
lingkungan (Mars dan fontana, 1987). Beberapa pakar bersikeras definisi hanya berlaku pada
logam saja, tetapi para insinyur korosi juga ada yang mendefinisikan istilah korosi berlaku
juga untuk material non logam, seperti keramik, plastik, karet. Sebagai contoh rusaknya cat
karet karena sinar matahari atau terkena bahan kimia, mencairnya lapisan tungku pembuatan
baja, serangan logam yang solid oleh logam yang cair (liquid metal corrosion).

Adapun proses korosi yang terjadi di samping oleh reaksi kimia biasa, maka yang lebih umum
adalah proses elektro kimia. Bereaksi dengan lingkungannya dapat berupa udara dengan sinar
matahari, embun, air tawar, air laut, air danau, air sungai dan tanah yang berupa tanah
pertanian, tanah rawa, tanah kapur dan tanah berpasir/berbatu-batu.

Korosi disebut juga suatu penyakit dalam dunia teknik, walaupun secara langsung tidak
termasuk produk teknik. Studi dari korosi adalah sejenis usaha pengendalian kerusakan
supaya serangannya serendah mungkin dan dapat melampaui nilai ekonomisnya, atau jangan
ada logam jadi rongsokan sebelum waktunya. Perlindungan korosi dengan cara pengendalian
secara preventif supaya menghambat serangan korosi. Cara ini lebih baik daripada
memperbaiki secara represif yang biayanya akan jauh lebih besar.

Secara garis besar korosi pipa gas ada dua jenis yaitu :

a. Korosi Internal

Korosi internal yaitu korosi yang terjadi akibat adanya kandungan CO2 dan H2S pada minyak
bumi maupun gas bumi sehingga apabila terjadi kontak dengan air akan membentuk asam
yang merupakan penyebab korosi.

b. Korosi Eksternal

Korosi eksternal merupakan korosi yang terjadi pada bagian permukaan dari sistem perpipaan
dan peralatan, baik yang kontak dengan udara bebas dan permukaan tanah, akibat adanya
kandungan zat asam pada udara dari tanah.

2.2 Korosi Pada Pipa Gas

Pipa gas merupakan pipa baja API 5 L Grade B Schedule 40. Pipa jenis ini merupakan pipa
baja dengan kadar karbon maksimal 0,28%. Pipa gas merupakan pipa bertekanan. Pipa gas
mempunyai batasan tekanan maksimum 45 bar (652.6 psig). Oleh sebab itu perlu ditentukan
dengan kelayakan pipa dengan tekanan operasi tersebut dan tidak boleh melebihi dari desain
tekanan yang telah ditentukan. Korosi merupakan faktor yang berpotensi besar terhadap
kerusakan pipa gas.

3
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya korosi terhadap pipa gas:

Korosi internal, korosi yang dipengaruhi oleh material yang disalurkan pipa tersebut yaitu
berupa gas alam. Ada beberapa variable yang mempengaruhi kekorosifan gas alam tersebut,
diantaranya kandungan CO2 dan juga kandungan H2S pada gas alam.

Korosi eksternal, korosi yang dipengaruhi oleh semua material yang berada diluar pipa gas
tersebut.

Tipe-tipe korosi pada pipa gas umumnya diklasifikasikan sebagai berikut:

Uniform Corrosion

yaitu korosi yang terjadi pada permukaan logam yang berbentuk pengikisan permukaan logam
secara merata sehingga ketebalan logam berkurang sebagai akibat permukaan terkonversi oleh
produk karat yang biasanya terjadi pada peralatan-peralatan terbuka, Misalnya permukaan
luar pipa.

Pitting Corrosion

yaitu korosi yang berbentuk lubang-lubang pada permukaan logam karena hancurnya film
dari proteksi logam yang disebabkan oleh rate korosi yang berbeda antara satu tempat dengan
tempat yang lainnya pada permukaan logam tersebut.

Stress Corrosion Cracking

yaitu korosi berbentuk retak-retak yang tidak mudah dilihat, terbentuk dipermukaan logam
dan berusaha merembet ke dalam. Ini banyak terjadi pada logam-logam yang banyak
mendapat tekanan. Hal ini disebabkan kombinasi dari tegangan tarik dan lingkungan yang
korosif sehingga struktur logam melemah.

Errosion Corrosion

yaitu korosi yang terjadi karena tercegahnya pembentukan film pelindung yang disebabkan
oleh kecepatan alir fluida yang tinggi, misalnya abrasi pasir.

Galvanic Corrosion

yaitu korosi yang terjadi karena terdapat hubungan antara dua metal yang disambung danter
dapat perbedaan potensial antara keduanya.

Crevice Corrosion

yaitu korosi yang terjadi di sela-sela gasket, sambungan bertindih, sekrup-sekrup atau
kelingan yang terbentuk oleh kotoran-kotoran endapan atau timbul dari produk-produk karat.

Selective Leaching

4
korosi ini berhubungan dengan melepasnya satu elemen dari Campuran logam. Contoh yang
paling mudah adalah desinfication yang melepaskan zinc dari paduan tembaga.

2.3 Studi Pustaka

Korosi adalah serangan yang terjadi pada bahan logam sebagai akibat dari lingkungan yang
bereaksi dengan benda tersebut. Korosi itu menyebabkan kebocoran tangki penyimpan angin,
kerugian material, pencemaran lingkungan, kegagalan peralatan, dan mempengaruhi usia
peralatan sehingga pada akhirnya menyebabkan kerugian materi (Nugroho dkk, 2016).

Seberapa besar tingkat laju korosi dari pipa yang baru terhadap kondisi kimia pendingin air
sekunder sangat penting dipahami untuk menerapkan sistem pengelolaan kualitas air
pendingin yang paling tepat didalam menjaga integritas pipa pendingin tersebut. Air
pendingin sekunder berasal dari air Puspiptek yang ditambahkan inhibitor dengan
rekomendasi konsentrasi dari fabrikan. Akan tetapi, data laboratorium yang nyata mengenai
laju korosi baja karbon tersebut dengan inhibitor korosi yang diaplikasikan belum diketahui.
Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan nilai optimum dari inhibitor
yang efektif dan efisien di dalam menekan laju korosi baja karbon pipa pendingin sekunder
reaktor RSG -GAS. Metoda yang dipakai adalah metoda elektrokimia dengan menggunakan
Potensiostat. Material yang digunakan adalah baja karbon yang berasal dari pipa pendingin
sekunder reaktor RSGGAS. Media air yang digunakan sama dengan media air yang dipakai
sebagai air pendingin sekunder, begitu pula dengan inhibitor (Febriyanto dan Butar-butar,
2010).

untuk menggambarkan tingkat laju korosi baja karbon khas yaitu API 5L X-52 terjadi pada
jaringan pipa gas alam karena efek dari CO2 terlarut. Dari percobaan diperoleh bahwa laju
korosi baja dalam lingkungan yang mengandung CO2 berkisar antara 15-28 mpy. Tingkat
korosi yang tinggi diamati parah bisa merusak arus transmisi gas alam dan pipa. Hasil
penelitian ini adalah langkah pertama, sebagai masukan untuk upaya pencegahan, untuk
mencegah kebocoran flowline dan pipa karena korosi CO2 yang sesuai dengan seumur hidup
yang telah dirancang (Fahrurrozi dkk, 2009).

Pipa baja API 5L X65 adalah satu dari beberapa pipa standard untuk transportasi gas, pipa ini
selalu mengandung tegangan permaneny karena proses pengerolan membuat pipa saat pipa
diproduksi. Laju korosi akan meningkat oleh tegangan ini terutama dalam air laut. Satu dari
beberapa metoda untuk menurunkan tegangan ini adalah normalizing. Proses normalizing
dilaksanakan pada temperatur 900C dan waktu tahan 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120
menit dan 150 menit. Perlakuan korosi dilaksanakan dengan air laut sebagai media korosi.
Hasil penelitian ini adalah metalografi, laju korosi dan angka kekerasan, masing-masing
dilaksanakan sebelum dan sesudah proses normalisasi (Suryono, 2010).

Deformasi plastik adalah proses pembentukan logam yang mengakibatkan bahan tidak bisa
kembali seperti kondisi awal baik dalam ukuran dan bentuk. Proses deformasi plastik dapat
dicapai dengan kerja dingin yaitu logam proses bawah suhu cristalization material pembentuk.

5
Setelah bekerja dingin, sifat mekanik akan berubah dalam statis, sifat mekanik yang dinamis,
dan ketahanan korosi. Percobaan pada korosi dapat dilakukan dengan menyelidiki sifat korosi
material (Suriadi, 2007).

Karboksimetil kitosan (KMK) ditest sebagai inhibitor korosi pada baja lunak dalam air
gambut menggunakan metode berat . Hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi inhibisi korosi
dipengaruhi oleh pH air gambut, waktu kontak dan konsentrasi KMK. Efisiensi inhibisi
optimum terjadi pada pH 7 dan waktu kontak 3 hari yaitu 93,33%. Efisiensi inhibisi inhibitor
ini meningkat dengan naiknya konsentrasi KMK (Erna dkk, 2011).

Industri nuklir yang mendasarkan nilai tambahnya pada pemanfaatan iptek nuklir tidak luput
dari ancaman korosi. Korosi di industri nuklir dapat menimbulkan kerugian ekonomi akibat
berkurangnya masa produktif dan bahkan terjadinya kecelakaan. Sifat bahan yang digunakan
di industri nuklir dan proses korosi serta pencegahan dan penanganannya, disajikan untuk
pemanfaatan aktivasi lapisan tipis sebagai salah satu metoda analisis berdasarkan iptek nuklir
untuk deteksi dan pengukuran laju korosi di industri nuklir (Soentono, 1998).

Zona las memiliki kelemahan yang muncul dari strain yang menyebabkan besar perbedaan
microstructur. Logam pada zona las mengalami penurunan sifat logam, menyebabkan
tegangan sisa, dan menyebabkan retak pada lasan. Tujuan dari eksperimen ini yaitu ingin
mengetahui pengaruh lingkungan korosif yang memberikan pada tingkat korosi pada
spesimen percobaan, serta untuk mengetahui bentuk korosi paparan yang terjadi dari korosi
tingkat yang dihasilkannya, dan kemudian untuk mengetahui korosi mikro yang terjadi dalam
spesimen yang di las. bisa menjadi rekomendasi dalam proses pelapisan atau korosi tanaman
tahan karena penelitian ini adalah mendiagnosa serangan korosi yang rentan di spesimen
(Rahman, 2007).

Kerusakan yang ditimbulkan oleh korosi tergantung dari jenis korosi dan laju korosinya.
Perbedaan kondisi lingukungan pada setiap sumur mempersulit pengambilan keputusan pada
proses pergantian. Sehingga pada kesempatan ini akan diangkat tema penelitian berupa studi
kasus laju korosi pada pipa API 5L pada sumur minyak di Energy Mega Persada. Batasan
masalah pada studi kasus laju korosi pada pipa API 5L di Energy Mega Persada, yaitu Studi
kasus pada pipe line oil di PT. Energy Mega Persada. Pengujian laju korosi skala laboratorium
untuk mengtahui laju korosi pipa API 5L. Media korosi berupa air laut dan minyak di
lingkungan instalasi pipa.Penelitian studi kasus laju korosi pada pipa API 5L di Energy Mega
Persada, yang hasilnya merupakan lingkungan kerja pipa API 5L berpengaruh terhadap
terjadinya korosi pada instalasi pipa API 5L. Korosi pada yang terjadi pada baja dengan media
korosi air laut lebih tinggi dibandingkan laju korosi pada baja dengan media korosi minyak
mentah (Arifin, 2014).

Dalam industri minyak dan gas, pipa merupakan komponen utama yang digunakan sebagai
media distribusi dan transmisi minyak, gas dan air yang baik di benua dan juga di lepas
pantai. minyak mentah yang baru diambil dari perut bumi yang terdiri dari 3 komposisi utama
yang minyak, gas dan air. Minyak dari berbagai jenis bahan kimia unsur, umumnya campuran
organik (hidrokarbon), oksigen, sulfur dan nitrogen, air, garam, H2 S dan dicampur lain

6
organik. Masalah yang sering dihadapi oleh pipa di lepas pantai dan tanah dalam minyak
industri dan gas korosi terjadi (Hadi dan Jumarlis, 2013).

Hasil awal dari studi pertumbuhan retak berkelanjutan yang dilakukan pada API X - 65 pipa
baja di rendah - pH retak lingkungan yang dilaporkan. Tujuannya adalah untuk mereproduksi
rendah pH perambatan retakan di laboratorium, untuk mengidentifikasi celah mengemudi
parameter kekuatan, dan untuk mengevaluasi pengaruh parameter lingkungan dan mekanik
pada pertumbuhan retak Sebuah teknik uji J-integral yang digunakan dalam penelitian ini.
Pertumbuhan retak signifikan diamati. Parameter J tampaknya menjadi baik parameter
kekuatan pendorong untuk menggambarkan pertumbuhan retak (Harle dkk, 1993).

Mekanisme korosi stres pH retak (SCC) jaringan pipa gas alam belum mapan sejak
kecelakaan pertama ditemukan pada 1980. Secara khusus, peran hidrogen di SCC pH dekat
netral tetap tidak diketahui. Dalam karya ini, voltametri siklik digunakan untuk komprehensif
menyelidiki dasar-dasar reaksi elektrokimia korosi yang terjadi pada antarmuka baja/solusi
diencerkan, 5% CO2 / N2-dibersihkan, dekat-netral solusi pH bikarbonat. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada film oksida stabil terbentuk pada permukaan baja dalam
larutan pH dekat netral. Mekanisme retak berbasis pembubaran tidak berlaku untuk dekat-
netral SCC pH pipa. Pembentukan metastabil Fe (OH) 2 deposito lapisan menunjukkan
aktivitas katalitik pada reaksi evolusi hidrogen, menunjukkan bahwa sejumlah besar hidrogen
dapat dihasilkan di bawah kondisi pH dekat netral. Kehadiran anion korosif dalam elektrolit
tanah meningkatkan baik polarisasi anodik baja dan reaksi evolusi hidrogen katodik,
mengakibatkan peningkatan tingkat evolusi hidrogen. Pengenalan oksigen dapat membentuk
sebuah film oksida stabil pada permukaan baja, yang mengakibatkan hilangnya permukaan
efek katalitik pada reaksi evolusi hidrogen. Dengan demikian, mekanisme berbasis hidrogen
tidak berlaku untuk SCC di hadapan oksigen (Niu dkk, 2007).

Sebuah korosi metodologi penilaian internal yang diterapkan untuk sistem transmisi gas
dikembangkan dan disebut Intern Corrosion Direct Assessment (ICDA). Metode ICDA dapat
digunakan untuk meningkatkan penilaian korosi internal di jaringan pipa dan membantu
memastikan integritas pipa. Metode ini berlaku untuk jalur transmisi gas yang biasanya
membawa gas kering tapi mungkin menderita gangguan jangka pendek dari gas basah atau
cair. Dasar di balik ICDA adalah bahwa pemeriksaan rinci lokasi sepanjang jalur pipa di mana
elektrolit seperti air pertama akan menumpuk memberikan informasi tentang panjang sisa
pipa. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menentukan apakah korosi internal yang
mungkin atau tidak mungkin ada dalam panjang yang dipilih pipa. Jika lokasi sepanjang
panjang pipa yang paling mungkin untuk mengumpulkan elektrolit tidak berkarat, maka lokasi
lain cenderung menumpuk elektrolit dapat dianggap bebas dari korosi dan tidak memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut (Moghissi dkk, 2002).

Korosi menyumbang lebih dari sepertiga dari masalah integritas pada jaringan pipa yang
beroperasi di Alberta. pipa gas khususnya mengalami ancaman korosi eksternal di mana
lapisan pelindung telah gagal dan menciptakan perisai disbondments. Makalah ini akan
meninjau sampling dan analisis produk korosi dengan maksud untuk menggambarkan

7
scenario korosi yang terjadi di lapangan. Memahami lingkungan ini adalah kepentingan tepat
waktu baik sebagai masukan untuk model penilaian risiko dan sebagai bagian dari upaya
penelitian saat ini menjadi korosi retak tegang pada pipa (Jack dkk, 1995).

The state-of-the-art dalam pemodelan korosi internal saluran pipa minyak dan gas yang
terbuat dari baja karbon ditinjau. Ulasan meliputi efek elektrokimia, kimia air, pembentukan
sisik pelindung dan timbangan, suhu, arus, baja, penghambatan, kondensasi air,
glycol/metanol dan menyerang lokal. Berbagai strategi pemodelan matematika yang dibahas
(Nesic, 2007).

Mulai dari prediksi laju korosi dengan persamaan deWaard-Milliams , faktor koreksi dapat
diterapkan untuk mengukur pengaruh parameter lingkungan dan skala produk korosi yang
terbentuk dalam berbagai kondisi. Persamaan diusulkan untuk masing-masing faktor. Sebuah
skala suhu rendah yang terbentuk dalam air kondensasi dapat menyebabkan penurunan laju
korosi di pipa. Pada suhu yang lebih tinggi, suatu bentuk skala yang lebih protektif bahkan di
bawah tingkat aliran cairan yang tinggi . Penurunan laju korosi yang disebabkan oleh Fe
terlarut dicatat dengan faktor koreksi pH. Pengaruh kehadiran fase hidrokarbon cair
disertakan. Persamaan disajikan yang memungkinkan efek injeksi glikol pada korosi dihitung
sepanjang pipa (De Waard dkk, 1991).

Hidrat gas adalah es seperti kristal, tetapi berbeda dalam struktur. hidrat gas pembentukan gas
mengangkut pipa saluran menyebabkan menyumbat jalur pipa, dan mencegah pembentukan
gas hidrat mengangkut gas. Maka dari itu harus dicegah karena penyumbatan tinggi dan itu
memakan waktu. Untuk menghentikan pembentukan gas hidrat di gas mengangkut pipa
saluran, inhibitor kimia yang digunakan. Inhibitor dibagi menjadi termodinamika dan sintetis
inhibitor. inhibitor sintetis digunakan dengan kepadatan rendah dan mencegah membuat dan
tumbuh hidrat kristal. artikel ini akan fokus pada analisis inhibitor sintetis, dan fungsinya
adalah sebagai berikut: 1. investigasi sintetis dari pembentukan hidrat dengan dan tanpa
kehadiran inhibitor. 2 . Dengan menggunakan model Kashchiev- Firozabad dan data
eksperimental gas mengangkut jalur pipa untuk menggambar grafik sintetik gas pembentukan
hidrat dengan inhibitor sintetis (Sammimi, 2012).

Sistem pemantauan korosi telah menunjukkan tingkat korosi internal yang diabaikan,
pemeriksaan oleh pigging setelah enam tahun pelayanan, dua flowline ini ditunjukkan atas
internal yang parah garis korosi (TLC). Korosi terjadi di tiga lokasi dalam satu baris dan di
dua lokasi di yang lain. Panjang dari bagian pipa berkarat bervariasi antara 10 dan 100 meter.
Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa korosi berlangsung di lokasi di mana pipa
berada dalam kontak langsung dengan air sungai. Ini adalah bagian pipa doglegs (bagian pipa
dimana pergolakan tekuk terjadi) menjadi subjek pendinginan berat dan kondensasi air.
Sebagian pipa telah dihapus, visual inspeksi dan pemeriksaan laboratorium mengkonfirmasi
penjelasan yang diajukan. Makalah ini menjelaskan secara rinci kondisi operasi lapangan,
menyajikan hasil penelitian inspeksi dan laboratorium dan menggambarkan tindakan
perbaikan yang dilakukan untuk memecahkan masalah (Gunaltun dkk, 1999).

8
Korosi eksternal dan retak adalah ancaman utama untuk jaringan pipa dimakamkan di jarang
menetap, daerah geologis jinak. korosi eksternal adalah mekanisme kerusakan utama yang
dapat mengurangi integritas struktural dari jaringan pipa transmisi gas dimakamkan pada
sistem pipa Nova Transmisi Gas. Perlindungan terhadap korosi yang disebabkan eksternal dan
retak, sistem pipa ini menggunakan sejumlah bahan pelapis yang berbeda dan epoxies fusion-
bonded. pipa selanjutnya dilindungi oleh proteksi katodik (CP) sistem saat ini terkesan dengan
potensi pengurangan 950 mV (Cu/CuSO). Sayangnya, masalah korosi masih dapat terjadi
pada sistem dalam kondisi tertentu. perusahaan telah terlibat dalam penelitian integritas pipa
difokuskan pada kinetika dan mekanisme korosi dan retak fenomena yang mengancam sistem
transmisi gas (Jack dkk, 1996).

Perbandingan karakteristik dari dua bentuk korosi retak tegang di pipa, yaitu bentuk biasa
yang melibatkan retak intergranular karena kehadiran solusi karbonat-bikarbonat relatif
terkonsentrasi, terhadap transgranular retak yang dilahirkan oleh pH larutan. Pertimbangan
diberikan untuk bagaimana solusi pH yang lebih tinggi berasal dari versi pH rendah dan
pengaruh lingkungan yang berbeda pada mekanisme inisiasi retak dan pertumbuhan. Untuk
bentuk intergranular retak perilaku tegangan-regangan siklik telah terbukti berkorelasi dengan
kepekaan retak berbagai baja. Sejak beban siklik telah terbukti meningkatkan kecenderungan
untuk retak dengan solusi pH rendah, dapat dibayangkan bahwa karakteristik tegangan-
regangan siklik baja juga dapat tercermin dalam bentuk retak. Pendekatan untuk
mengendalikan atau mencegah stres retak korosi pipa diuraikan (Parkins, 2000).

2.4 Analisis

Pengujian pipeline dengan menggunakan metode long range ultrasonic testing (LRUT). Akan
memberikan hasil pembacaan data berupa pengurangan ketebalan dinding pipa (wall loss)
dalam satuan milimeter (mm). Namun, teletest unit juga akan menyajikan data-data yang
menunjang sebagai hasil data untuk melenglakapi analisa hasil pengujian.

Berikut ini data pipa secara umum yang merupakan kesatuan rangkaian dalam analisa data
untuk dilakukan perhitungan laju korosi. Pelaporan data ini dihasilkan dari inspeksi teletest.

9
Gambar 4.1 Posisi Datum (Irsindo Pratama, 2010)

Tabel 4.1 Informasi Perincian Pipa (Irsindo Pratama, 2010)

LRUT A-Scan Graph merupakan tampilan grafik yang dihasilkan dari proses pembacaan
gelombang ultra sonic teletest system. Dari tampilan grafik tersebut dapat dilkaukan
pemeriksaan dan pembacaan sehingga kerusakan pipa atau laju korosi dapat diketahui.

10
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pengukuran korosi dengan menggunakan metode LRUT akan lebih luas area pengujianya jika
dibandingkan dengan metode konvensional, dan metode LRUT dapat mendeteksi korosi
badian luar dan dalam pipa.

11
Besarnya laju korosi padsa pipeline tidaklah sama, hal ini searah dengan besarnya wall loss
yang terjadi pada rangkaian pipeline yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal pada pipa
gas tersebut.

Saran

ada pipa yang mengalami korosi sebaiknya dilakukan pergantian bila sudah parah, dan
penggunaan zat pelambat karat (corrosion inhibitor) pada pipa pengganti yang baru.

Upayakan agar pipeline di cek laju korosinya lima tahun sekali.

DAFTAR PUSTAKA

12
Arifin, Y. (2014). STUDI KASUS LAJU KOROSI PADA PIPA API 5L DI ENERGY MEGA
PERSADA. Jurnal Teknik Mesin, 1(2).

De Waard, C., Lotz, U., & Milliams, D. E. (1991). Predictive model for CO2 corrosion
engineering in wet natural gas pipelines. Corrosion, 47(12), 976-985. Nei, S. (2007). Key
issues related to modelling of internal corrosion of oil and gas pipelinesA review. Corrosion
Science, 49(12), 4308-4338.X

Erna, M., Emriadi, E., Alif, A., & Arief, S. (2011). Karboksimetil Kitosan sebagai Inhibitor
Korosi pada Baja Lunak dalam Media Air Gambut. Jurnal Matematika & Sains, 16(2), 106-
110.

Fahrurrozie, A., Sunarya, Y., & Mudzakir, A. (2009). Efisiensi Inhibisi Cairan Ionik Turunan
Imidazolin Sebagai Inhibitor Korosi Baja Karbon Dalam Larutan Elektrolit Jenuh Karbon
Dioksida. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia, 1(2).

Febrianto, G. R. S., & Butarbutar, S. L. (2010, November). Analisis laju korosi dengan
penambahan inhibitor korosi pada pipa sekunder reaktor RSG-GAS. InSeminar Nasional VI
SDM Teknologi Nuklir Yogyakarta (Vol. 18).X

Gunaltun, Y. M., & Achmad, S. J. (1999). Top of line corrosion in multiphase gas lines: A
case history (No. CONF-990401--). NACE International, Houston, TX (United States).

Hadi, S., & Jumarlis, J. (2013). PENGARUH LINGKUNGAN MINYAK MENTAH


TERHADAP LAJU KOROSI PADA PIPA BAJA KARBON DAN PIPA GALVANIS. Jurnal
Teknik Mesin ISSN 2089-4880, 3(2).

Rahman, A. (2007). PENGARUH LINGKUNGAN KOROSIF TERHADAP LAJU KOROSI


PADA PIPA MINYAK DAN GAS (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah
Malang).

Suriadi, I. G. A., & Suarsana, I. K. (2007). Prediksi laju korosi dengan perubahan besar
derajat deformasi plastis dan media pengkorosi pada material baja Karbon. Jurnal Energi Dan
Manufaktur, 2(2).

Suryo, S. H. (2010). Laju Korosi dan Kekerasan Pipa Baja API 5L X65 Setelah Normalizing.
ROTASI, 12(2), 25-30.

13