Anda di halaman 1dari 16

ZONASI NANOPLANKTON OLEH MARTINI (1971)

Disusun Oleh Kelompok 1 :


Andrean Dwiki 111.130.206
Megasari Widyastuti 111.130.006
Matheus Vito 111.130.207
Holy Chrisnanda 111.130.059
Linda Mahadita 111.130.079
Andy Fadilah 111.130.042
M. S. Irfandie

BIOSTRATIGRAFI A

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONALVETERAN
YOGYAKARTA
2016
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI iv
1. TEORI DASAR BIOSTRATIGRAFI 3
2. NANNOFOSSIL/NANNOPLANKTON 4
3. BIOZONASI MARTINI 1971 5

2
1. TEORI DASAR BIOSTRATIGRAFI
Biostratigrafi merupakan cabang ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan studi
paleontologi pad batuan sedimen.berbagai macam fosil dapat ditemukan dalam batuan
sedimen yang diendapkan pada lingkungan yang berbeda. Tujuan dari analisis biostratigrafi
adalah penentuan umur relatif pada batuan sedimen, peentuan lingkungan pengendapan,
paleoekologi, paleotemperatur, paleomorfologi, analisis cekungan dan sebagai penunjuk
dalam penentuan horizon marker untuk korelasi stratigrafi.
Biostratigrafi dapat berperan dalam menginterpretasi stratigrafi sekuen karena dalam
menginterpretasi sebuah sekuen diperlukan pemahaman akan hubungan stratigrafi, umur dan
fasies. Dimana fasies itu sendiri merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki karakteristik
litologi yang sama secara fisik, biologi dan kimia.
Satuan dasar dalam biostratigrafi yadalah zona, yang merupakan suatu lapisan tubuh
batuan yang dicirikan oleh kandungan fosilnya yang terdiri dari satu tasin atau lebih dapat
dibagi lagi menjadi satuan yang lebih kecil disebut dengan sub-zona. Batas batas dari suatu
zona tidak dapat ditentukan oleh luas atau tebalnya penyebaran tubuh batuan, namun
bedasarkan kandungan fossilnya. Mikro makro fosil yang umum digunaan untuk analisis
biostratigrafi antara lain foraminifera, nannofossil, spora, polen, ostracoda, diatom radiolaria,
moluska, dinoflagelata, coral, algae, dan poifera. Zona itu sendiri dapat dikelompokan
menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Zona kumpulan (assemblage Zone)
Lapisan batuan dicirkan oleh kumpulan fosil yang khas yang dapat dibedakan dalam
sifat biosratigrafinya dengan lapisan yang berbatasan
2. Zona Kisaran (Range Zone)
Lapisan batuan yang dicirikan oleh kisaran total setiap unsur yang terpilih dari
keseluruhan fosil dalam urutan stratigrafinya.
3. Zona Puncak (Abundant Zone)
Lapisan Batuan yang dicirikan oleh adanya perkembangan maksimum suatu takson
tertentu.
4. Zona Selang (Interval Zone)
Selang startigrafi antar dua horizon biostratigrafi yang merupakan kemunculan awal
atau kemunculan akhir dari suatu takson-takson penciri.

3
2. NANNOFOSSIL/NANNOPLANKTON
Kalkareus nannoplankton atau ada juga peneliti yang menyebut sebagai nannofosil
merupakan salah satu mikrofosil yang penting dalam studi biostratigrafi, ini merupakan sisa-
sisa dari coccolithophore. Coccolithophore adalah organisme bersel satu dan eukariotik
fitoplankton (alga) yang hidup di laut. Mereka adalah tumbuhan yang sangat membutuhkan
sinar matahari untuk berfotosintesis sehingga merupakan organisme yang hiduip terapung di
dekat permukaan (planktonik). Organisme ini merupakan salah satu produsen/sumber
makanan dalam rantai makanan di laut.
Alga ini membuat plat kalsit yang melingkupi tubuh sel alga (coccolith) yang akan
dilepaskan dan akan jatuh ke dasar laut. Komponen utama dari coccoliths berupa kalsium
karbonat, karena sifatnya yang transparan,sehingga kegiatan fotosintesis nannoplankton ini
tidak akan terganggu oleh proses enkapsulasi dan membentuk exoskeleton. Fungsi dari
exoskeleton dapat membantu proses fotosintesis, sebagai pelindung dari faktor lingkungan
dan kemungkinan menambah berat sehingga alga dapat turun ke bawah yang mempunyai
lebih banyak nutrisi.
Kalkareus nannofossil merupakan indikator umur sedimen yang paling tepat untuk
batuan sedimen laut mulai dari umur Jura (205 juta tahun) sampai dengan resen karena
evolusi yang cepat dan distribusi geografis yang luas. Kemunculan awal/FAD dan
kemunculan akhir/LAD untuk spesies nannofosil biasanya terjadi pada horison yang sama
secara global dan akurasi dari umur sedimennya kurang lebih bisa sampai satu juta
tahun. Dalam oceanografi dapat juga digunakan sebagai penentu suhu lingkungan dan arus
laut purba.
Seperti namanya kalkareus nannofossils berukuran kecil, umumnya kurang
dari 30 mikron dan biasanya antara 5 dan 10 mikron (individu coccoliths). Nannofossil
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari nannofossil meliputi:
Pengawetan yang baik, karena berukuran kecil sehingga tidak terlalu terpengaruh pada
proses mekanik sedimentasi.
Penyebaran geografis yang luas, hidup pada zona fotik di hampir semua lingkungan laut.
Jumlah yang sangat banyak nannofossil dapat ditemukan dalam batuan sedimen yang
sedikit.

Kekurangan dari nannofossiL adalah :


Sangat terpengaruh oleh faktor CCD (Carbonat Compensation Depth) sehingga tidak
terawetkan dalam baik di laut lebih dalam.

4
Karena berukuran sangat kecil sangat mudah untuk terjadi kontaminasi dalam preparasi
nannofossil.

3. BIOZONASI MARTINI 1971


Nannofossils planktonik Kenozoikum (nannoplantkton) zona biostratigrafi telah dipelajari
oleh Hays, et al (1967), Bramlette & Wilcoxon (1967), Martini (1971), Bukry (1973) dan
Okada & Bukry (1980). Standar Biozonasi nanofossil oleh martini merupakan biozonasi
yang paling popler di indonesia. 25 zona nannoplankton pada paleogen diberikan nomor NP.1
to NP25 dan 21 zona nannoplankton pada Neogene Quarter diberi nomo NN1 to NN21
yang menjadi standar zonasi Calcareous pada Tersier Quarter. Martini dan Okada&Bukry
membuat zonasi nannoplankton bedasarkan kejadian Stratigrafi yang sama.
Martini, dalam standard Palaeogene calcareous nanno-plankton zonation 1971
membagi zona zona nannoplankton bedasarkan kemunculan awal dan kemunculan akhir,
zona kumpulan dan penamaan umur nya (NN, NP) mengacu pada Geologic Time Scale.
Standar zonasi oleh Martini (1971) dan zonasi oleh Okada & Bukry (1980) sekarang
sudah digunakan selama beberapa dekade dan terbukti sangat berguna di berbagai daera
dnan untuk korelasi antara daerah. Zonasi oleh Martini biasanya digunakan sebagai dasar
acuan karena telah dipergunakan secara menyeluruh namun beberapa marker species tidak
ditemukan pada kumpulan laut terbuka, maka dari itu zonasi okada &bukry memberikan hasil
yang lebih baik.

Cretaceous/Tertiary Boundary
Terjadi perubahan besar pada kumpulan nannofossil gampingan pada Cretaceous/
Tertiary boundary yang di catat dan diilurstrasikan pertama kali oleh Martini. Kumpulan
Keragaman pada zaman kapur menghilang secara tiba tiba dan setelah ribuan taun setelah
terjadi kepunahan pada batas, telah tergantikan oleh beberapa spesies yang merupakan
perkembangan dari spesies yang masih bertahan dari batas kapur.

PALEOCENE
Paleocen adalah waktu yang cepat terjadinya evolusi setelah kepunahan yang terjadi
pada batas kapur. Bedasarkan asumsi, semua kandungan nanofosil yang terdapat pada
paleocen berasal dari kapur akhir. Semua batas zona bedasarkan kemunculan awal, terkadang
beberapa genus, ataupun kemunculan spesies tertua dari genus yang masih teridentifikasi.

5
6
Table.1 Pembagian Biozonasi Peleocene Kuarter Oleh Okada & Bukry 1980 dengan
Martini 1971

7
NP2 Cruciplacolithus tenius Zone
Umur : paleocene awal (awal Danian)
Korelasi : Cruciplacolithus tenius Subzone, CP1b (Okada & Bukry)
Remarks : merupakan batas bawah dari NP3 dan batas atas dari NP1. Dan pada zona
ini, fosil yang dijadikan sebagai marker adaah Cruciplacolithus edwardsii
NP3 Chiasmolithus danicus Zone
Umur : Paleocene Awal (akhir Danian)
Korelasi : Chiasmolithus danicus zone CP2 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP4, batas atasnya adalah kemunculan awal
E. Macellus yang mana mudah untuk diidentifikasi. Chiasmolithus danicus
merupakan mark species dari zona ini
NP 4 Ellipsolithus Marcellus Zone
Umur : Paleocene Awal (akhir Danian)
Korelasi : Ellipsolithus Marcellus Zone CP3 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP5, batas atasnya adalah kemunculan awal
E. Macellus, kemunculan awal seperti E.distichus muncul setelahnya yang
mana keduanya ditemukan bersamaan dan dijadikan sebagai marker species
oleh beberapa peneliti.
NP 5 Fasciculithus tympaniformis Zone
Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Fasciculithus tympaniformis Zoone CP4 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP6. Beberapa spesies baru dari genus
Fasciculithus dan berhubungan dengan perkembangannya seperti
Heloplithus dan Bomolithus hadir sebelum kemunculan awal dari H.
Kleinpellii
NP6 Heliolithus kleinpellii Zone
Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Heliolithus kleinpellii Zone CP5 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP7. Setelah evoluisi dari H.kleinpellii
beberapa kali, menjadi awal mula kemunculan awal dari Discoaster
bramlettei pada bagian atas zona dan kemunculan awal dari Dicoaster
mohleri pada zona berikutnya.
NP 7 Discoaster mohleri Zone
Umur : Paleocene akhir

8
Korelasi : Discoaster mohleri Zone CP6 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP8. Kemunculan awal dari H.riedelii secara
keseluruhan tidak dijadikan sebagai marker event karena pada beberapa
section tidak dijumpai H.riedelii yang seharusnya terdapat kehadirannya.
Kemunculan awal Discoaster nobilis yang terjadi pada waktu yang
bersamaan, di rujuk sebagai marker antara kemunculan awal D.mohleri dan
kemunculan awal D.multiradiatus. atara kedua spesies ini tersebar secara
luas dan mudah untuk dikelani.
NP 8 Heliolithus riedelli / Discoaster nobilis Zone
Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Discoaster nobilis Zone CP7 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP9. NP8 sering kali menyatu ddengan NP 7
di beberapa section dimana H.riedelii tidak ditemukan. Beberapa species
baru dari genus Discoaster berkembang pada rentan waktu ini. Sebelum
kemunculan awal D.multiradiatus
NP 9 Discoaster multiradiatus Zone
Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Discoaster multiradiatus Zone CP8 dengan subzona CP8a Chiasmolithus
bidens dan CP8b Campylosphaera eodela dari Okada & Bukry
Remarks : difinisi dari batas atas NP 9 berbeda dengan batas ata dari CP8 walaupun
difinisi secara keseluruhan sama. Pada CP8 terdapat subzone. Pada NP 9
beberapa spesies dari genus Rhomboaster berkembang dan dapat dijadikan
marker pada selang subzone tersebut.

PALEOCENE/ EOCENE BOUNDARY


Batas dari Paleocene Eocene dalam nanofosil gampingan biasanya berhubungan
dengan batas atas NP9/CP8 yang mana berkaitan dengan kemunculan Pseudihatigerina
diantara Foraminifera Plankton. Beberapa Genus hilang di dekat batas paleocene seperti
Fasciculithus, Hornibrookina, Placozygus, Rhomboaster, Frasciculithus hilang sekitar 0,8 m.y
sebelum batas NP.9/NP10 berakhir.

EOCENE
Keragaman kembali meningkat selama awal Eocene namun pada tengah Ecoene banyak
spesies menghilang dan hanya beberepa saja yangmuncul sebagai sisa dari Eocene. Demikan

9
pula dengan kemunculan awal dan kemunculan akhir juga tehlah didefinisikan sebagai batas
zona dan subzona. Pada awal Eocene, Tribrachiatus muncul sebagai marker yang baik diikuti
oleh Discoaster, nannotetrina, Chiasmolithus, Isthmolius dan Sphenolitus.
NP10 Tribrachiatus contortus Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Tribrachiatus contortus subZone CP9a dari Okada & Bukry
Remarks : difinisi dari batas atas NP 11.pada zona ini di berbeberapa cection dimana
T.contortus sangat jarang dan kemunculan akhir sulit ditemukan,
kemunculan awal dari Tribrachiatus orthostylus dapat digunakan sebagai
rujukan mengenai batas NP10/NP11.
NP 11 Discoaster binodosus Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Discoaster binodosus subZone CP9b dari Okada & Bukry
Remarks : Discoaster binodosus mungkin hadir atau tidak hadir pada zona ini yang
mana ditunjukan oleh marker spesies yang ada di atas ataupun bawah zona.
NP 12 Tribrachiatus orthostylus Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Tribrachiatus orthostylus Zone CP10 dari Okada & Bukry
Remarks : bercampurnya D.lodensis dan T.orthostyhes mudah untuk dikenali pada
kumpulan yang dipengaruhi disolsi tetapi sangat sulit untuk dikenali bila
kumpulan dipengaruhi oleh pertumbuhan yang sangat cepat. Dimana
D.lodensis dan T.orthostyhes sulit untuk di identifikasi.
NP 13 Discoaster lodoensis Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Discoaster lodoensis CP11 dari Okada & Bukry
Remarks : batas bawah dari zona ini merupakan zona NP12. Jumlah tangan
Discoaster lodensis menurun dari 8 hingga 5-7 beriringan dengan
kemunculan awal D.sublodensis.
NP 14 Discoaster sublodoensis Zone
Umur : Eocene tengah
Korelasi : Discoaster sublodoensis CP12 dari Okada & Bukry
Remarks : Discoaster lodensis D.sublodensis saling bercampur pada bagian bawah
zona dan kemunculan awal R.inflata digunakan untuk bats penentuan

10
CP12a dan CP12b. Pada bagian atas zona terkadang dibatasi dengan
kemunculan awal N.fulgen.
NP 15 Nannotetrina fulgens Zona
Umur : Eocene tengah
Korelasi : markers dari NP15 dan CP13 adalah sama atau berhubungan kemudian
ekuivalen
Remarks : di banyak section, N.fulgens tidak representativ bagi Nannotetrina untuk
muncul. Dan juga lebih jarang dari spesies lainnya seperti N.cristata, yang
telah berkembang. Dalam pertumbuhannya kesamaan genus Nannotetrina
masih dapat dikenali dan dijadikan sebagai marker walaupun sering
spesiesnya tidak dapat dibedakan.
NP 16 Discoaster tanii nodifer Zona
Umur : Eocene tengah
Korelasi : Discoaster bifaz Subzone, CP14a dari Okada & Bukry, sesuai dengan
penyebaran NP16 namun memiliki perbedaan batas pspesies.
Remarks : merupakan batas atas dari NP 15, NP16 merupakan salah satu zona dari
Eocene tengah yang dapat didefinisikan namun sulit untuk digunakan.
Marker pada zona ini sering tidak dijumpai dan sedikit yang dapat
digunakan untuk penentuan zonasi.
NP 17 Discoaster saipanensis Zona
Umur : Eocene tengah
Korelasi : Discoaster saipanensis subZone CP14b dari Okada & Bukry sesuai dengan
penyebaran NP16 namun memiliki perbedaan batas spesies
Remarks : Discoaster saipanensis Zona sulit untuk diidentifikasi di daerah lintang
yang rendah (daerah tropis) dimana genus Chiasmolithus sangat jarang atau
sering tidak hadir pada zona kumpulannya.
NP 18 Chiasmolithus oasmaruensis Zone
Umur : Eocene akhir
Korelasi : Chiasmolithus oasmaruensis subZone CP15a dari Okada & Bukry. Yang
memiliki perbedaan definisi subzone dimana kemunculaan akhir dari
C.grandis atau kemunculan awal C.oamaruensis kemunculan awal
I.recurus

11
Remarks :C.oamaruenis Zone salah satu zona yang sulit di kenali pada daerah tropis
karena Chaismolithus dan Isthmolithus sangat jarang diteukan atau lebih
sering tidak hadir.
NP 19 Isthmolithus recurvus Zone
Umur : Eocene akhir
Korelasi : bagian bawah dari Isthmolithus subzone CP15b dari Okada & Bukry
(1980).
Remarks : sebagai salah satu zona eocen akhir, I.recurvus Zone salah satu zona yang
sulit di kenali pada daerah tropis. Kemunculan awal S.pseudiradians tidak
bisa digunakan sebagai marker dan martini (1976) mengajukan combinasi
NP19/NP20 pada garis equatorial Pacific
N20 Sphenolithus pseudoradians Zone
Umur : Eocene akhir
Korelasi : bagian atas dari Isthmolithus recurvus Subzone CP15 Okada & Bukry
(1980)
Remarks : seperti zona pada eocene akkhir lainnya, S.pseudoradians tidak dapat
diandalkan sebagai marker NP19 dan NP20 seharsnya tidak dibedakan.

EOCEN/OLIGOCENE BOUNDARY
Batas dari Eocene/Oligocene pada nannofosil gampingan tergambarkan pada bagian atas
NP20/CP15 yang dijelaskan oleh keterdapatan kemunculan akhir D.barbadiensis dan
D.saipanensis. kejadian ini sedikit lebih awal dari hilangnya foraminifera plankton genus
Hantkenina.

OLIGOCENE
Tingkat keragaman spesies relatif rendah pada kebanyakan sampel Oligocen. Beberapa
spesies Eocene hilang pada bagian bawah Oligocene, dan juga spesies Sphenoliths baru
muncul di bagian atas. Tidak ada bentuk cd Discoaster yang ditemukan, dan juga Discoaster
daflandrei, D.tanii nodifer dan D.tanni sajalah genus Discoaster yang hadir.

NP21 Discoaster saipanensis zone


Umur : Oligocene
Korelasi : Ericsonia Formosa Zone (CP16a dan 16b) dari Okada & Bukry (1980)

12
Remarks : Kemunculan awal Ericsonia formosa dan pada batas bawahnya merupakan
kemunculan dari Cribrocentrum reticulatum dan Discoaster saipanensis.
Isthmolithus recurvus jarang dijumpai dan tidak menerus.
NP22 R. umbilica
Umur : Oligocene
Korelasi : CP16c dan 17 dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : Bagian atas dari zona ini didefinisikan dengan kemunculan dari I. Recurvus
dan R. umbilica. Dan pada bagian bawah merupakan awal kemunculan dari
Ericsonia formosa.
NP23
Umur : Early Oligocene
Korelasi : CP18 dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : first occurence dari C. abisectus dan top occurence dari Sphenolithus
speudoradians. Batas bawahnya merupakan top occurence dari Isthmolithus
recurvus and Reticulofenestra umbilica.
NP25 / NN1 Triquetrorhabdulus carinatus
Umur : Early Miocene
Korelasi : CN 1a dan 1b dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : first occurence dari Discoaster deflandrei dan Discoaster Drugii.
NN6 Discoaster Exilis
Umur : Miocene
Korelasi : Coccolithus miopelagicus (CN5a dan 5b) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : Coccolithus miopelagicus pada bawah zona dan Discoaster luglari pada
atas zona.
NN 10 Discoaster calcaris Zone
Umur : Miocene akhir
Korelasi : Discoaster neohamatus Zone (CN8) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : C.calyculus menghilang di bagian atas zona NN10, biasanya terjadi setelah
kemunculan akhir dari C.coalitus. Okada&Bukry membagi zona ini
menjadi 2 subzone yaitu CN8a &CN8b. kemunculan awal dari
D.mendomobensis didfeinisikan manjadi marker yang dapat dikorelasikan
dengan bagian atas CN8b.
NN 11 Discoaster quinqueramus Zone
Umur : Miocene akhir

13
Korelasi : Discoaster quinqueramus Zone (CN9) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : kemunculaan awal Amaurolithus primus.merupakan kemunculan pertama
kali bentuk tapal kuda pada nanofosil gampingan pada Neogene.
NN12 Amaurolithud tricorniculatus Zone
Umur : Miocene akhir/ Pliocene Awal
Korelasi : bawah dan tengah subZone dari Amaurolithus tricorniculatus zone
(CN10) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : kemunculan awal dari Ceratolithus acutus dan kemunculan akhir genus
Triquetrorhabdulus menjelakan batas antara T.rugosus Subzone (CN10a)
dan tampalan C.acutus subZone (CN10b). Bagian atas dari zona ini ditandai
dengan kehadiran birefringent ceratolith.

MIOCENE/PLIOCENE BOUNDARY
Batas Miocene-Pliocen pada nanofosil gampingan berada pada A.triconiculatus zone
pada Okada&Bukry (1980) dan bertampalan dengan C.rugosus Zone (NN13) oleh martini
(1971). Kemunculan awal dari C.acutus telah diidentifiikasi hanya ada pada bagian atas batas
Miocene-Pliocene.
NN17 Discoaster pentaradiatus Zone
Umur : Pliocene akhir
Korelasi : Discoaster pentaraditus Zone (CN12c) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : NN 17 biasanya zona yang sangat tipis, setelah genus discoaster
menghilang setelah mendekati batas pliocene/pleistosen. Kemunculan akhir
dari D. Penaradiatus hanya sedikit lebih awal dari D.surculus. D.
Asymetricus menghilang dengan D.pentaradiatus pada waktu yang sama.
NN18 Discoaster Brouweri Zone
Umur : Pliocene akhir
Korelasi : Calcidiscus macintyrei subZone (CN12d) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : NN 18 biasanya lebih tipis. Pada section dengan debris glacial seperti di
utara atlantik, keterdapatan zona kumpulan Discoaster sangat jarang

PLIOCENE/PLEISTOCENE BOUNDARY
Batas dari Pliocene- Pleisocene dalam nanofosil gampingan biasanya berada di atas
kemunculan akhir dari D.brouweri.

14
PLEISTOCENE
Pleistocene secara primer dibagi oleh kehadiran kecil dari family Prinsiaceae dan skunder
diwakili oleh C.macintyrei, Helicosphaerea sellii dan Pontosphaera indooceanica.
NN19 Pseudoemiliania lacunosa Zona
Umur : Pleistosen awal
Korelasi : Crenalithus doronicoide Zone (CN13 dan bagian bawah dari
Gephyrocapsa oceanica Zone (CN14)) Okada & Bukry (1980)
Remarks : NN19 didefinisika oleh Martini (1971) dapat dibagi menjadi beberapa
kejadian yang berbeda yang terjadi secara berurutan. Seperti kemunculan
awal dari G.caribbeanica dan kemunculan akhir dari C.macintyrei dan
kemunculan akhir dari Helicosphaera sellii.
NN20 Gephyrocapsa Oceanica Zone
Umur : Pleistosen akhir.
Korelasi : bagian atas dari Gephyrocapsa oceanica Zone (CN14), Ceratolothus
cristatus subzone (CN14B) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : hal ini sangat sulit untuk dikenali E.huxleyi dengan LM kecuali zona
kumpulannya tersebar secara luas. Kemunculan awa dari Gephyrocapsa
ericonii dan G.muellerai berada disekitar batas NN20-N21
NN21 Emiliania huxleyi Zone
Umur : Pleistosen akhir
Korelasi : Emiliania huxleyi Zone (CN15) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : tiga kejadian diduga menjadi dasar terjadinya pembagian interval lebih
jauh, kemunculan awal E.huxleyi, kemunculan akhir Pontosphaera
indooceanica dan kehadiran secara luas G.caribbeanica diduga sebagai
waktu transgresi terjadi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Blaj, Teodora. 2009. Late Eocene through Oligocene calcareous nannofossils from the paleo-
equatorial Pacific Ocean. Sweden : Department of Geology and Geochemistry
Stockholm University.
Cascela, Antonio. 2009. Integrated calcareous nannofossil biostratigraphy and
magnetostratigraphy from the uppermost marine Eocene deposits of the southeastern
Pyrenean foreland basin: evidences for marine Priabonian deposition. Geologica Acta,
Vol.7, Nos 1-2, 281-296.
Kaenel, Eric de. 1996. Oligocene-Miocene Calcareous Nannofossil Biostratigraphy And
Paleoecology From The Iberia Abyssal Plain. Proceedings of the Ocean Drilling
Program, Scientific Results, Vol. 149.
Martini, E., 1970. Standard Paleogene Calcareous Nanoplankton Zonation. Nature, 226,
560-1

16