Anda di halaman 1dari 11

Pengertian sistem saraf

Sistem saraf manusia merupakan jalinan jaringan saraf yang saling berhubungan,
sangat khusus dan kompleks untuk mengkoordinasikan, mengatur dan mengendalikan
interaksi antara seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem saraf terdiri dari
sel-sel saraf (neoron) dan sel-sel penyokong (neuroglia dan sel schawnn) yang saling
berkaitan dan terintegrasi satu sama lain (Price dam Wilson, 2006).

2.2 Pengertian pemeriksaan neurologis


Pemeriksaan neurologis adalah suatu proses yang membutuhkan ketelitian dan
pengalaman yang terdiri dari sejumlah pemeriksaan pada fungsi yang sangat spesifik.
Meskipun pemeriksaan neurologis sering terbatas pada pemeriksaan yang sederhana,
namun pemeriksaan ini sangat penting dilakukan oleh pemeriksa, sehingga mampu
melakukan pemeriksaan neurologis dengan teliti dengan melihat riwayat penyakit dan
keadaan fisik lainnya. Banyak fungsi neurologik paisen yang dapat dikaji selama
pengkajian riwayat dan pengkajian riwayat fisik rutin. Salah satuya adalah mempelajari
tentang pola bicara, status mental, gaya berjalan, cara berdiri, kekuatan motorik,dan
koordinasinya. Aktivitas sederhana yang dapat memberikan informasi banyak bagi
orang yang melakukan pengkajian adalah saat berjabat tangan dengan pasien
(Smeltzer dan Bare, 2002).

BAB 3. KAJIAN TEORI

Pemeriksaan fisik neuro terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan berdasarkan dari
pemeriksaan imobilitas sampai pemeriksaan mobilitas,, antara lain.
1. Pemeriksaan GCS
Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap
rangsangan dari lingkungan. Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari
berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan,
kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan
di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya
hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat
kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan
mortalitas (kematian). Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak.
Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen
(hipoksia), kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok), penyakit metabolic
seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis), dehidrasi, asidosis, alkalosis, pengaruh
obat-obatan, alkohol, keracunan, hipertermia, hipotermia, peningkatan tekanan
intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak), infeksi (encephalitis), epilepsi.
Jenis-jenis tingkat kesadaran antara lain:
1. Compos Mentis (conscious) yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat
menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
2. Apatis yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.
3. Delirium yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-
teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang
lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah
dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon
terhadap nyeri.
6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga
tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil subjektif mungkin
adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan
derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan
hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang
mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.
1. Membuka mata (E)
Spontan :4
Dengan diajak bicara :3
Rangsang nyeri :2
Tidak ada respon :1
1. Respon verbal (V)
Terdapat kesadaran dan orientasi : 5
Disorientasi waktu :4
Berkata tanpa arti :3
Hanya menegrang :2
Tidak ada suara :1
1. Respon motoik (M)
Sesuai perintah :6
Lokalisir nyeri :5
Menghindari nyeri :4
Fleksi abnormal :3
Ekstensi abnormal :2
Tidak ada gerak :1
Jika nilai GCS:
14-15 : cedera kepala ringan
9-13 : cedera kepala sedang
3-8 : cedera kepala berat

1. Inspeksi
Pemeriksaan secara inspeksi dilakukan dengan menggunakan system penglihatan
pengamat yang memprioritaskan posisi tubuh bayi dan anak. Posisi telungkup menjadi
posisi yang digunakan saat menentukan normal dan abnormal tubuh bayi. Posisi normal
pada bayi yaitu saat posisi telungkup, kepala dapat menyentuh meja, serta tangan bayi
menggenggam dengan posisi tungkai pada keadaan fleksi.
Beberapa pemeriksaan fisik secara inspeksi dapat diketahui posisi abnormal pada bayi,
yaitu :
1. Frog Posture
Keadaan posisi tubuh bayi saat tangan bayi tampak lemas disamping tubuhnya dengan
posisi terbuka (tidak menggenggam).
1. Hemiplegi
Suatu keadaan dimana salah satu sisi tubuh bayi fleksi dan yang lainnya tampak
ekstensi lemah.
1. Hipototoni
Suatu keadaan dimana posisi bayi tertelungkup dengan posisi tangan dan tungkai
terletak lurus diatas meja. Kadangkala hal tersebut menunjukkan bahwa bayi
kemungkinan mengalami gangguan SSP (system saraf pusat).

1. Pemeriksaan bahasa dan bicara


Salah satu pemeriksaan yang perlu diperhatikan pada saat pasien berbicara dan
menangkap inti pembicaraan sebab hal ini menjadi fungsi hemisfer dominan. Hemisfer
kiri adalah bagian yang dominan untuk berbicara yang pada umumnya terjadi pada
pengguna tangan kanan dominan, sebagian juga pada orang kidal.
Beberapa gangguan bicara dapat menandakan adanya gangguan pada system
neuronya. Ada 3 jenis gangguan yang dapat dikategorikan gangguan bicara, yaitu:
1. Disartria adalah suatu gangguan yang menyerang system otot bicara sehingga
terjadi penurunan kemampuan artikulasi, enumerasi, dan irama bicara. Misalnya
saat pasien diminta untuk menirukan kata endokarditis maka dapat diperkirakan
pasien tidak dapat menirukan kata tersebut. Penurunan fungsi otot bicara tersebut
dapat disebabkan oleh sklerosis amiotropik lateral, paralisis pseudobulbar, atau
miastenia gravis.
2. Disfonia adalah suatu gangguan pada suara, atatu vokalisasi. Berbeda dengan
disartia yang terdeteksi disebabkan oleh gangguan neuro, pada disfonia juga dapat
disebabkan non-neurologis tetapi penyebab neurologisnya yaitu cedera saraf
rekuren laringeus dan tumor otak. Karakteristik penderita disfonia adalah pasien
diminta untuk mengucapkan kata E maka suara pasien terdengar parau dan kasar.
3. Afasia merupakan suatu istilah yang menyebutkan adanya hilangnya kemampuan
untuk memahami, mengeluarkan dan menyatakan konsep bicara. Afasia dibagi
menjadi 2 yaitu afasia motorik yang merupakan istilah hilangnya suatu konsep
pemikiran seseorang yag tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata atau tulisan
serta afasia sensorik merupakan hilangnya kemampuan untuk memahami suatu
percakapan. Karakteristik penyebab afasia adalah adanya gangguan
serebrovaskular yang mengenai arteria serebri media.

1. Pemeriksaan status dan fungsi mental


Pada pemeriksaan ini lebih menunjukkan fungsi neuro bagian korteks yang lebih tinggi
termasuk memberikan suatu alas an pada setiap kasus yang dialami, menggunakan
abstraksi, membuat perencanaan, dan memberi penilaian.
Pemeriksaan status dan fungsi mental memiliki hubungan dengan pemeriksaan bahasa
sebab pemeriksaan bahasa merupakan modal fungsi korteks. Perubahan perilaku
seseorang berkaitan dengan disfungsi otak organic, maka dari itu perawat perlu
memeriksa riwayat keluarga pasien untuk menentukan penyebab perilaku yang
berhubungan dengan status mental pasien.
Pemeriksaan mental pasien dapat dievaluasi dengan cara memeinta pasien
menyebutkan 6 digit nomor yang sebelumnya telah ditentukan oleh pemeriksa serta
pasien dapat diminta menyebutkan 6 macam Negara yang berbeda. Hal tersebut dapat
menentukan status dan fungsi mental pasien.

1. Pemeriksaan motorik
Evaluasi sistem motor pada anak usia sekolah dapat dilakukan secara formal dan
biasnya cukup pada otot proksimal dan distal anggota gerak atas dan bawah. Uji
kekuatan otot hanya dapat dilakukan pada anak yang sudah dapat mengerjakan
instruksi pemeriksa dan kooperatif. Pada bayi dan anak yang tidak dapat kooperatif
hanya dapat dinilai kesan keseluruhannya saja.
1. Respon traksi
Pada seorang bayi atau anak yang normal, sebelum duduk maka dia terlebih dulu harus
mempunyai kontrol terhadap fungsi otot-otot lehernya. Sejak lahir sampai usia 2 bulan,
kepala anak akan tertinggal apabila kita mengangkat anak tersebut pada kedua
tangannya dari posisi tidur ke posisi duduk. Keadaan ini disebut dengan head leg. Salah
satu tes untuk mengetahui kontrol terhadap otot-otot leher dan kepala adalah respon
traksi.
Caranya:
Bayi ditidurkan pada posisi supinasi, kemudian pemeriksa memegang kedua tangan
bayi pada pergelangan tangan, secara perlahan-lahan anak ditarik sampai pada posisi
duduk. Kemudian dievaluasi kemampuan bayi dalam mengontrol posisi leher dan
kepalanya. Apabila kepala masih tertinggal di belakang pada saat bayi posisi duduk
maka head leg-nya positif (masih ada), tapi apabila bayi mampu mengangkat kepalanya
pada saat posisi duduk maka head leg-nya negatif (menghilang). Head leg harus sudah
menghilang setelah bayi berusia 3 bualn. Apabiala setelah 3 bulan masih didapat head
leg yang positif, maka harus dicurigai adanya kemungkinan hipotoni, kelainan SSP atau
prematurasi.
1. Suspensi ventral
Tes suspensi ventral dapat mengetahui kontrol kepala, curvatura thoraks, kontrol tangan
dan kaki terhadap gravitasi.
Caranya:
Bayi ditidurkan pada posisi pronasi, kemudian telapak tangan pemeriksa menyanggah
badan bayi pada daerah dada. Pada bayi aterm dan normal, posisi kepala akan jatuh ke
bawah membentuk sudut 45 atau kurang dari posisi horizontal, punggung lurus atau
sedikit fleksi, tangan fleksi pada siku dan sedikit ekstensi pada sendi bahu dan sedikit
fleksi pada sendi lutut. Dengan bertambahnya usia, posisi kepala terhadap badan bayi
akan semakin lurus (horizontal). Pada bayi hipotoni, leher dan kepala bayi sangat lemas
sehingga pada tes suspensi ventral akan berbentuk seperti huruf U terbalik.
Sedangkan pada bayi palsi serebral, tes suspensi ventral akan menunjukkan posisi
hiperekstensi.
Tonus otot yaitu retensi yang terdeteksi oleh pemeriksa saat menggerakkan sendi
secara pasif, tonus otot sering kali terganggu jika terdapad gangguan sistem saraf. Otot
dapat diamati untuk melihat adanya tanda-tanda kelemahan, fasikulasi, atau kontraktur.
Kekuatan otot dapat diperiksa dengan membandingkan otot satu sisi dengan otot sisi
lainnya.
Perubahan fungsi motorik:
Gangguan
otot Tanda klinis Gangguan neurologis
Gangguan
Posisi bagian-bagian tubuh bertahan ekstrapiramidal, penyakit
dengan keadaan abnormal dengan wilson,neuropati
sedikit tahanan sewaktu delakukan venotiazin, infeksi virus
Distonia gerakan pasif pada otak
Tahanan terhadap gerakan pasif pada
Paratonia seluruh gerakan Penyakit lobus frontalis
Kekakuan Ektensi dan pronasi lengan dan Cedera otak berat di atas
deserebrasi pronasi dari tungkai spons
Hipotonia Peningkatan macam gerak sendi Gangguan sereberal
Gerakan unilateral, mengenal bagian
yang berlawanan dengan lesi, gerakan Penyempitan pembuluh
sendi proksimal yang kasar dan darah otak mengenai
Hemibalismusmengayun nukleus subtalamikus
Tremor Rimik involunter Lesi pada jaras sereberal

1. Pemeriksaan Tanda Meningeal


1. Kaku duduk

Posisikan tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang


berbaring, kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai
dada. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita
dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Normalnya dagu pasien akan
menempel di dada dan tidak ada tahanan.
1. Brudzinsky I
Letakkan satu tangan perawat di bawah kepala pasien dan tangan lain di dada pasien
untuk mencegah badan tidak terangkat kemudian kepala pasien di fleksikan ke dada
secara pasif. Brudzinsky akan positif bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi
panggul dan sendi lutut
1. Brudzinsky II
Tanda Brudzinsky II positif bila fleksi klien pada sendi panggul secra pasif akan diikuti
oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut.
1. Tanda Kerniq

Pasien diposisikan telentang, kemudian fleksikan tungkai atas agak lurus lalu luruskan
tungkai bawah pada sendi lutut. Normalnya dapat membentuk sudut 135 terhadap
tungkai bawah.
1. Pemeriksaan Refleks
1. Reflek superfisial, dengan cara menggores kulit abdomen dengan empat goresan
yang membentuk segi empat dibawah xifoid.
2. Refleks tendon dalam dengan mengetuk menggunakan hammer pada tendon
biseps, trisep, patela dan achiles dengan penilaian pada bisep (terjadi fleksi sendi
siku), trisep (terjadi ekstensi sendi siku), patela (terjadi ekstensi sendi lutut )dan
pada achiles (terjadi fleksi plantar kaki) apabila hiperfleks apabila hiporefleks apabila
terjadi kelainan pada lower motor neuron.
3. Refleks patologis dapat menilai adanya refleks babinski dengan cara menggores
permukaan plantar kaki dengan alat yang sedikit runcing, hasilnya positif apabila
terjadi reaksi ekstensi ibu jari.

Refleks Metode pengkajian Temuan yang lazim


Refleks tendon dalam
Biseps Fleksikan lengan bawah anak. Lengan bawah sedikit fleksi
Letakkan ibu jari perawat di atas ruang
antekubiti dan ketuk dengan palu
refleks.
Tekuk lengan anak pada siku sambil
menopang lengan bawah. Ketuk Lengan bawah sedikit
Triseps tendon triseps di atas siku. ekstensi
Letakkan lengan dan tangan anak pada
posisi relaks dengan telapak tangan di ;engan bawah flesi dan
bawah. Ketuk radius 2,5 cm diatas telapak tangan mengangkat
brakioradialis pergelangan tangan. keatas.
Dudukan anak di atas meja atau
pangkuan orang tua dengan tungkai
fleksi dan tergantung. Ketuk tendon
Patella patela tepat di bawah tempurung lutut. Tungkai bawah ekstensi
Dudukan anak di atas meja atau
pangkuan orang tua dengan tungkai
fleksi dan topang kaki dengan pelan Plantar fleksi
Achiles ketuk tendon achiles kaki (menunjuk ke bawah)
Refleks superfisial
Gores kulit ke arah umbilikus. Kaji
refleks di empat kuadran. Refleks
abdominal mungkin tidak dijumpai Umbilikus bergerak ke arah
Abdomen pada 6 bulan pertama. stimulus
Testis tertarik ke dalam
kremasterik Gores paha bagian dalam atas kanalis inguinalis
Terjadi kontraksi sfingter
Anus Rangsang kulit di area perianal anus yang kuat.

Refleks bayi (automatisme)


Refleks Deskripsi Metode pengkajian Makna temuan
Jika refleks ini tidak
dijumpai maka
Di jumpai pada tahun Sorotkan cahaya ke menunjukan adanya
Berkedip pertama kehidupan mata kebutaan
Jari kaki mengembang Gores telapak kaki
dan ibu jari kaki sepanjang tepi Pengembangan jari
dorsofleksi. Dijumpai terluar, dimulai dari kaki dan ibu jari kaki
Tanda babinski sampai umur 2 tahun tumit dorsofleksi.
Bayi membuat
gerakan merangkak Letkakkan bayi
dengan lengan dan tengkurap di atas Ketidaksimetrisan
kaki bila di letakkan permukaan yang gerakan menunjukan
Merangkak pada abdomen rata gangguan neurologi
Kaki bayi bergerak ke
atas dan kebawah bila
kaki sedikit Pegang bayi
disentuhkan ke sehingga kakinya Refleks yang menetap
permukaan yang sedikit menyentuh melebihi 4-8 minggu
Menari atau keras. Dijumpaiselama permukaan yang merupakan keadaan
melangkah 4-8 minggu pertama keras abnormal
Lidah ekstensi ke arah
luar bila di sentuh. Di Ekstensi lidah yang
jumpai dampai umur 4 Sentuh lidah dengan persisten menunjukkan
Ekstruksi bulan ujung spatel lidah down syndrom.
Gores punggung
bayi sepanjang sisi
Punggung bergerak ke tulang belakang dari Tidak adanya reflek
arah samping bila di bahu sampai ke menunjukan adanya
Galants stimulasi bokong gangguan
Refleks menetap lebih
dari 4 bulan
menunjukan kerusakan
otak. Menetap lebih
dari 6 bulan sangat
menunjukan kerusakan
otak. Respon yang
Lengan ekstensi, jari- tidak simetris
jari mengembang, menunjukan
kepala terlempar ke hemiparesis, fraktur
belakang, tungkai klavikula. Tidak adanya
sedikit ekstensi. respon pada
Lengan kembali ekstremitas bawah
menggenggam. menunjukan dislokasi
Tulang dan Ubah posisi bayi pinggul kongenital atau
ekstremitas bawah secara tiba-tiba atau cedera medula spinalis
Moros ekstensi. pukul meja bagian bawah
Bila bayi terlentang,
bahu dan badan Tidak ada reflek/ reflek
kemudian pelvis Letakkan bayi dalam yang menetap lebih
berotasi ke arah posisi telentang dari 10 bulan
dimana bayi berputar. coba menarik menunjukan gangguan
Di jumpai selama 10 perhatian bayi dari pada sistem syaraf
Neck righting bulan pertama satu sisi pusat
Jari-jari bayi
melengkung di sekitar Fleksi yang tidak
jari yang diletakkan di simetris menunjukan
telapak tangan bayi paralisis. Reflek
dari sisi ulnar. Refleks Letakkan jari di menggenggam yang
ini menghilang pada telapak tangan bayi menetap menunjukan
Menggenggam umur 3-4 bulan dari sisi ulnar gangguan srebral
Bayi memutar pada
pipi yang di gores.
Refleks ini menghilang
pada umur 3-4 bulan,
tetapi bisa menetap
hingga umur 12 bulan, Gores sudut mulut Tidak adanya refleks
khususnya selama bayi atau garis menunjukan gangguan
Rooting tidur tengah bibir neurologi yang berat
Bayi mengekstensikan Bertepuk tangan Tidak adanya refleks
Kaget (startle) dan memfleksikan dengan keras menunjukan kerusakan
lengan dalam pendengaran
berespon terhadap
suara yang keras.
Tangan tetap rapat.
Refleks ini akan
menghilang setelah
umur 4 bulan
Refleks yang lemah
atau tidak ada
menunjukan
Bayi mengisap dengan keterlambatan
kuat dalam berespon Berikan botol atau perkembangan atau
Mengisap terhadap stimulasi dot abnormalitas neurologi
Bayi melakukan
perubahan posisi bila
kepala di putar ke satu
sisi. Lengan dan
tungkai akstensi ke
arah sisi putaran
kepala dan fleksi pada
sisi yang berlawanan.
Normalnya refleks ini
tidak terjadi setiap kali Dinggap tidak normal
kepala di putar. jika respon terjadi
Tampak pada usia setiap kali kepala di
kurang lebih 2 bulan putar. Jika menetap
dan menghilang pada Putar kepala dengan menunjukan kerusakan
Tonic neck umur 6 bulan cepat ke satu sisi serebral mayor

Tambahan Kajian Kelompok :


1. Anamnese
Wawancara berfungsi untuk mengumpulkan data terkait kesehatan pasien.
Pengumpulan data ini bisa diperoleh dari pasien maupun dari pihak keluarga pasien.
Aspek-aspek yang dikaji antara lain:
Keluhan Utama
Hal-hal yang dapat di kaji yaitu nyeri, vertigo,masalah pengelihatan, penciuman,
menelan, sulit berbicara,gagguan eliminasi pernapasan, sirkulasi, suhu tubuh,
seksualitas, dan emosi. Pengumpulan data-data tersebut dapat menggunakan pola
PQRST.
1. Riwayat penyakit dahulu
Dalam mengumpulkan data tentang riwayat penyakit dahulu, perawat dapat
menanyakan apakah pasien pernah mengalami cedera kepala, stroke, pembedahan,
dan lain sebagainya.
1. Obat-obatan
Perawat dapat menanyakan mengenai penggunaan obat-obatan yang dapat
mengganggu sistem syaraf
1. Riwayat kesehatan keluarga
Perawat dapat menanyakan mengenai adanya anggota yang menderita penyakit terkait
sistem persyarafan, hipertensi, atau stroke.
1. Pola pemeliharaan kesehatan
Perawat dapat mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari
pasien, pola rekreasi, gizi, pola pemecahan masalah.
1. Konsep diri
Perawat dapat mengkaji mengenai kemampuan pasien dalam merawat diri,
mewujudkan peranan yang diharapkan, memenuhi kebutuhan seksualnya.
1. Pertimbangan perkembangan
Aspek ini ditujukan terutama pada usia Lansia dan anak-anak. Pada pasien anak atau
bayi dapat ditanyakan kepada orang tua pasien mengenai adakah faktor risiko yang
dialami selama kehamilan, adakah keluarga yang memiliki gangguan persyarafan,
bagaimana perkembangan motorik dan kognitif anak, dan lain sebagainya.
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem saraf merupakan jaringan yang sangat penting dan berpengaruh terhadap organ
lainnya. Pemeriksaan neurologik merupakan suatu proses yang dibutuhkan bagi tenaga
kesehatan untuk mendiagnosa kondisi kesehatan neurologis pasien. Tujuan
Pemeriksaan fisik yaitu Mengetahui sistem persarafan, Mengetahui status kesehatan
neurologis pasien, Sebagai alat untuk menegakkan diagnosa. Anamnese, Inspeksi,
Pemeriksaan bahasa dan bicara, Pemeriksaan status dan fungsi mental, Pemeriksaan
GCS, Pemeriksaan Tonus Otot, Pemeriksaan Motorik, Pemeriksaan Tanda Meningeal,
Pemeriksaan Refleks.

3.2 Saran
Sistem saraf sangat berpengaruh terhadap segala sistem yang ada dalam tubuh
manusia. Hapir semua penyakit berhubungan dengan sistem saraf, oleh karena itu
disarankan bagi para pembaca untuk mendeteksi secara dini kondisi kesehatanya dan
dilakukan pemeriksaan fisik khususnya neurologik.