Anda di halaman 1dari 6

ANATOMI DAN FISIOLOGI FUNGSI KOORDINASI

Fungsi koordinasi melibatkan beberapa sistem organ, yaitu:

1. Serebellum

Serebelum adalah organ sentral untuk kontrol motorik halus. Struktur ini memproses
informasi dari berbagai jaras sensorik (terutama vestibular dan proprioseptif), bersama impuls
motorik, dan memodulasi aktivitas area nuklear motorik di otak dan medulla spinalis. Secara
anatomis, serebelum tersusun dari dua hemisfer dan vermis yang terletak diantaranya.
Serebelum terhubung dengan batang otak melalui tiga pedunkulus serebeli.1

Serebelum terletak di fossa posterior. Permukaan superiornya diselubungi oleh tentorium


serebeli, yaitu suatu lipatan ganda dura mater yang menyerupai tenda yang memisahkan
serebelum dari serebrum.Permukaan serebelum, tidak seperti serebrum, menunjukkan banyak
lekukan kecil yang berjalan horizontal (folia), yang satu sama lain dipisahkan oleh fisura.
Bagiansentral serebelum yang sempit yang menghubungkan kedua hemisfer masing-masing
sisi disebut vemis.1

Gambaran serebelum dari bawah menunjukkan bagian teratas ventrikel keempat yang
terletak dianatara pedunkuli serebelares. Ventrikel keempat berhubungan dengan rongga
subarakhnoid melalui sebuah apertura mediana (foramen Magendie) dan dua apertura
lateralis (foramen Luschka). Disebelah kaudal pedunkulus serebri inferior dan medius,
terdapat suatu struktur pada masing-masing sisi yang disebut flokulus; kedua flokulus
dihubungkan menyebrangi garis tengah melalui bagian vermis yang disebut nodulus.
Bersama-sama, struktur ini membentuk lobus flokulonodularis.1

Korteks serebeli tersusun atas tiga lapisan yaitu:


Lapisan molekuler (stratum molekulare). Lapisan ini terutama terdiri dari prosesus
selular, yang mayoritas merupakan akson sel granuler- serabut pararel, dan dendrit sel
purkinje.1
Lapisan sel Purkinje (statum ganglionare). Lapisan tipis ini hanya mengandung badan
sel Purkinje yang besar, tersusun berdampingan dalam barisan-barisan.1
Lapisan sel granular (stratum granulosum). Lapisan ini hampir seluruhnya terdiri dari
badan sel granular kecil yang tersusun padat, yang berjumlah lebih dari 95% dari
seluruh neuron serebelum.1
Serebelum merupakan suatu pusat koordinasi yang mempertahankan keseimbangan
dan mengontrol tonus otot melalui sirkuit regulasi umpan-balik yang kompleks, dan
memastikan eksekusi semua proses motorik terarah yang tepat dan terkoordinasi dengan baik
secara sementara. Koordinasi gerakan serebelar terjadi secara tidak disadari.Tiga komponen
utama serebelum berdasarkan filogenik dan fungsional,yaitu:1

o Vestibuloserebelum

Arkhiserebelum (secara filogenik merupakan bagian serebelum tertua) berhubungan erat


dengan aparatus vestibularis. Struktur ini menerima sebagian besar imput aferennya dari
nuklei vestibulares dibatang otak dengan demikian disebut juga vestibuloserebelum.1
Fungsi. Vestibuloserebelum menerima impuls dari aparatus vestibularis yang membawa
informasi mengenai posisi dan gerakan kepala. Output aferennya memengaruhi fungsi
motorik mata dan tubuh sedemikian rupa sehingga ekuilibrium dapat dipertahankan pada
semua posisi dan pada semua gerakan.1
Hubungan sinaptik. Lengkung refleks berikut ini berpartisipasi dalam mempertahankan
ekuilibrium (keseimbangan). Dari organ vestibular, impuls berjalan baik secara langsung
maupun tidak langsung (melalui nuklei vestibulares) ke korteks vestibuloserebelaris, dan
menuju nuklei fastigii. Korteks vestibulosselebelaris menghantarkan impuls kembali ke
nuklei vestibulares serta ke formasio retikularis; dari tempat ini, traktus vestibulospinalis dan
traktus retikulospinalis serta fasikulus longitudinalis medialis memasuki batang otak dan
medula spinalis untuk mengontrol fungsi motorik spinal dan okulomotor. Lengkung refleks
ini memastikan stabilisasi postur, gaya berjalan, dan posisi mata dan memungkinkan fiksasi
tatapan.1
Lesi Vestibuloserebelum. Gangguan fungsional lobus flokulonodularis atau nukleus fastigii
menyebabkan pasien kurang dapat menempatkan dirinya pada lapangan gravitasi bumi, atau
tidak dapat memfiksasi tatapannya pada objek yang diam saat kepalanya bergerak.1
Disekuilibrium. Pasien mengalami kesulitan berdiri tegak (astasia) dan berjalan
(abasia), dan gaya berjalan pasien lebar-lebar dan tidak stabil, menyerupai gaya
berjalan orang yang sedang mabuk (ataksia trunkal). Heel-to-toe walking tidak dapat
dilakukan. Ketidakseimbangan bukan disebabkan oleh defisiensi impuls proprioseptif
mencapai kesadaran, tetapi akibat koordinasi respons otot-otot terhadap gravitasi
yang salah.1

o Spinoserebelum
Paleoserebelum menerima sebagian besar input aferennya dari medulla spinalis dan,
dengan demikian disebut juga spinoserebelum. Spinoserebelum sebagian besar terdiri dari
vermis dan zona paravermian.1
Fungsi. Spinoserebelum mengontrol tonus otot dan mengoordinasi kerja kelompok-
kelompok otot antagonistik yang berpartisipasi pada postur dan gaya berjalan. Output
aferennya memengaruhi aktivitas otot-otot anti gravitasi dan mengontrol kekuatan gaya yang
diinduksi oleh gerakan (misalnya, inersia dan gaya sentrifugal).1
Hubungan. Korteks spinoserebelum menerima input aferennya dari medulla spinalis melalui
traktus spinoserebelaris posterior, traktus spinoserebelaris anterior, dan traktus
kuneoserebelaris (dari nukleus kuneatus asesorius). Korteks zona paravermis terutama
berproyeksi ke nukleus globosus dan nukleus emboliformis,sedangkan korteks vermian
terutama berproyeksi ke nukleus fastigii. Output eferen nuklei ini kemudian melanjutkan
melalui pedunkulus serebelaris superior ke nukleus ruber dan formasio retikularis,tempat
impuls yang telah dimodulasi dihantarkan melalui traktus rubrospinalis,traktus
rubroretikularis,dan traktus retikulospinalis ke neuron motorik spinal masing-masing
setengah bagian tubuh dipersyarafi oleh korteks serebeli ipsilateral,tetapi tidak ada susunan
somatotropik yang tepat.Beberapa output eferen nukleus emboliformis berjalan melalui
talamus ke korteks motorik-terutama bagian yang mengontrol otot-otot proksimal ekstremitas
(yang menyelubungi panggul dan bahu) serta tubuh. Dengan cara ini, spinoserebelum juga
memengaruhi gerakan volunter yang terarah pada kelompok otot-otot ini.1
Lesi spinoserebelum.Manifestasi utama lesi zona vermis serebeli dan paravermis serebeli
adalah sebagai berikut.
Lesi lobus anterior dan bagian superior vermis di dan didekat garis tengah
menimbulkan ataksia cara berdiri (stance) dan gaya berjalan (gait). Ataksia gait
(abasia) yang ditimbulkan oleh lesi tersebut lebih berat dibandingkan ataksia stance
(astasia). Pasien yang menderita gangguan ini menunjukkan cara berjalan yang lebar
dan tidak stabil yang berdeviasi ke sisi lesi, dan terdapat kecendrungan untuk jatuh
kesisi tersebut. Ataksi stance terlhat dengan tes romberg: ketika pasien berdiri dengan
mata tertutup, dorongan ringan pada sternum menyebabkan pasien berayun
kebelakang dan kedepan dengan frekuensi 2-3 Hz. Jika lesi hanya terbatas pada
bagian superior vermis, uji telunjuk-hidung dan tes tumit lutut tulang kering masih
dapat dilakukan secara akurat.1
Lesi bagian inferior vermis menyebebkan ataksia stance (astasia) yang lebih berat
dibandingkan ataksia gait. Pasien mengalami kesulitan untuk duduk atau berdiri
dengan stabil, dan, pada tes romberg, bergoyang secara perlahan ke belakang dan
kedepan, tanpa kecendrungan ke arah tertentu.1

o Serebroserebelum

Neoserebelum merupakan bagian terbesar serebelum. Perkembangan filogenetiknya


terjadi bersamaan ekspansi serebrum dan saat transmisi menuju cara berdiri yang tegak dan
gaya berjalan yang benar.1

Hubungan. Serebroserebelum menerima sebagian besar input neuralnya secara tidak


langsung dari bagian korteks serebri yang luas, terutama dari area broadmann 4 dan 6 (area
motorik dan premotorik) melalui traktus kortikopontis tetapi juga,sebagian kecil, dari oliva
melalui traktus olivoserebelaris. serebelum menerima peringatan lebih lanjut dari semua
gerakan volunter yang direncanakan yang dimulai di korteks serebri, sehingga serebelum
dapat segera mengirimkan impuls modulasi dan korektif kembali ke korteks motorik melalui
jarasdentatotalamokortikalis. Nukleus dentatus juga berproyeksi kebagian parvoselularis
nukleus ruber. Tidak seperti nukleus ruber lainnya, bagian ini tidak mengirimkan serabutnya
ke medula spinalis melalui traktus rubrospinalis. Namun, serabut ini berproyeksi melalui
traktus tegmentalis sentralis ke oliva inferior, yang kemudian berproyeksi kembali ke
serebroserebelum. Lengkung umpan balik neural dentato-rubro-oliva-serebelaris ini memiliki
peran yang penting dalam pengolahan impuls neosereberal.1
Fungsi. Hubungan serebroserebelum yang kompleks memungkinkan struktur ini untuk
meregulasi semua gerakan terarah secara halus dan tepat. Melalui jaras spinoserebelaris
aferen yang menghantarkan dengan sangat cepat, serebroserebelum secara terus-menerus
menerima informasi terbaru mengenai aktivitas motorik di perifer. Dengan demikian ia dapat
memperbaiki setiap kesalahan dalam perjalanan gerakan volunter untuk memastikan bahwa
gerakan tersebut dilakukan secara halus dan tepat. Pola pengeksekusi berbagai jenis gerakan
yang sangat banyak kemungkinan disimpan di serebelum, seperti pada komputer, sepanjang
hidup individu, sehingga dapat dipanggil kembali setiap saat. Dengan demikian, begitu kita
mencapai tahap perkembangan tertentu, kita dapat melakukan gerakan sulit yang telah
dipelajari secara cepat, relatif tidak memerlukan usaha, dan sesuai kehendak dengan cara
memanggil fungsi regulasi presisi di serebelum.Fungsi serebelum berkisar dari koordinasi
gerakan hingga pengolahan stimulus sensorik dan informasi yang relevan terhadap memori.1
Lesi serebroserebelum. Lesi serebroserebelum tidak menimbulkan paralisis, tetapi
menimbulkan kerusakan berat pada eksekusi gerakan volunter. Manifestasi klinis selalu
ipsilateral terhadap lesi penyebabnya.1
Dekomposisi gerakan volunter. Gerakan ekstremitas ataksik dan tidak terkoordinasi,
dengan dismetria, disinergia, disdiadokokinesis, dan tremor saat melakukan gerakan
volunter (intention tremor). Abnormalitas ini lebih jelas pada ekstremitas atas
dibandingkan ekstremitas bawah, dan gerakan kompleks terkena lebih berat
dibandingkan gerakan sederhana.Disdiadokokinesia adalah gangguan gerakan
bergantian secara cepat akibat kerusakan koordinasi ketepatan waktu beberapa
kelompok otot antagonistik: gerakan seperti pronasi dan supinasi tangan secara cepat
menjadi lambat, terputus-putus, dan tidak berirama.1

2. Sistem Vestibularis

Sistem vestibular terdiri dari labirin, bagian nervus kranialis kedelapan (yaitu, nervus
vestibularis, bagian nervus vestibulokokhlearis), dan nuklei vestibularis di batang otak,
dengan koneksi sentralnya.1

o Labirin
Labirin terletak di dalam bagian petrosus os temporalis dan terdiri dari utrikulus, sakulus,
dan tiga kanalis semisirkularis. Labirin membranosa terpisah dari labirin tulang oleh rongga
kecil yang terisi perilimf; organ membranosa itu sendiri berisi endolimf. Utrikulus, sakulus,
dan bagian kanalis semisirkularis yang melebar (ampula) mengandung organ reseptor yang
berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan.1
Tiga kanalis semisirkularis terletak dibidang yang berbeda. Kanalis semisirkularis
lateral terletak dibidang horizontal, dan dua kanalis semisirkularis lainnya tegak lurus
dengannya dan satu sama lain. Masing-masing dari ketiga kanalis semisirkularis melebar
pada salah satu ujungnya untuk membentuk ampula, yang berisi organ reseptor sistem
vestibuler, krista ampularis. Rambut-rambut sensorik krista tertanam pada salah satu ujung
massa gelatinosa yang memanjang yang disebut kupula, yang tidak mengandung otolit.
Pergerakan endolimf di kanalis semisirkularis menstimulasi rambut-rambut sensorik krista
yang merupakan reseptor kinetik.1
Utrikulus dan sakulus mengandung organ reseptor lainnya, makula utrikularis dan
makula sakularis. Makula sakularis terletak secara vertikal di dinding medial sakulus. Sel-
sel rambut makula tertanam di membran gelatinosa yang mengandung kristal kalsium
karbonat, disebut statolit. Reseptor ini menghantarkan impuls statik, yang menunjukkan
posisi kepala terhadap ruang , ke batang otak. Struktur ini juga memberikan pengaruh pada
tonus otot. Impuls yang berasal dari reseptor labirin membentuk bagian aferen lengkung
refleks yang berfungsi untuk mengoordinasikan otot ekstraokuler, leher, dan tubuh sehingga
keseimbangan tetap terjaga pada setiap posisi dan setiap jenis pergerakan kepala.1

o Nervus Vestibulokokhlearis
nervus vestibulokokhlearis merupakan stasiun berikutnya untuk transmisi impuls di
sistem vestibuler. Ganglion vestibulare terletak dikanalis auditorius internus; mengandung
sel-sel bipolar yang prosesus perifernya menerima input dari sel reseptor di organ vestibular,
dan yang prosesus sentralnya membentuk nervus vestibularis. Nervus ini bergabung dengan
nervus kokhlearis, yang kemudian melintasi kanalis auditorius internur, menembus ruang
subarakhnoid di cerebellopontine angle, dan masuk ke batang otak di taut pontomedularis.
Serabut-serabutnya kemudian melanjutkan ke nukleus vestibularis, yang terletak didasar
ventrikel keempat.1
Kompleks nuklear vestibularis terbentuk oleh:
Nukleus vestibularis superior (Bekhterev)1
Nukleus vestibularis lateralis (Deiteirs)1
Nukleus vestibularis medialis (Schwalbe)1
Nukleus vestibularis inferior (Roller)1
.