Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 3


Pengujian Tahan Luntur Warna

Disusun oleh :

Nama : Silvy Ramadhani

NPM : 15020028

Dosen : Khairul U., S.ST., MT.

Asisten : Ryan R., S.ST

Mia E., S.ST.

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2017
Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian

I. Maksud Dan Tujuan


1.1 Maksud

Melakukan pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian dan mengevaluasinya.

1.2 Tujuan

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui sifat kain perihal ketahanan luntur dari warnanya
terhadap proses pencucian dengan cara mengamati dan menilai dari perubahan warna
contoh uji serta penodaannya terhadap kain putih pelapisnya.

II. Teori Dasar

2.1 Penilaian tahan luntur warna

Hasil pengujian tahan luntur warna biasanya dilaporkan secara pengamatan visual.
Pengukuran perubahan warna secara fisika yang dilakukan dengan bantuan kolorimetri atau
spektrofotometri hanya dilakukan untuk penelitian yang membutuhkan hasil penelitian yang
tepat.

Penilaian tahan luntur warna dilakukan dengan melihat adanya perubahan warna asli
sebagai tidak perubahan, ada sedikit perubahan, cukup berubah dan berubah sama sekali.
Penilaian secara visual dilakukan dengan membandingkan perubahan warna yang terjadi
dengan suatu standar perubahan warna. Standar yang dikenal adalah standard yang dibuat
oleh Society of Dyes and Colourist (SDC) di Amerika Serikat yaitu berupa grey scale (grey scale
for changing scale) untuk perubahan warna karena kelunturan warna dan staining scale (grey
scale for staining scale) untuk perubahan warna karena penodaan pada kain putih. Standard
gray scale dan staining scale digunakan untuk menilai perubahan warna yang terjadi pada
pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat, gosokan, setrika,dll.

Gray scale ( grey scale for change colour)

Gray scale terdiri dari Sembilan pasangan standard lempeng abu-abu, setiap pasangan
mewakili perbedaan warna atau kekontrasan warna sesuai dengan penilaian tahan luntur
dengan angka pada gray scale, penilaian tahan luntur warna dan perubahan warna yang
sesuai, dilakukan dengan membandingkan perbedaan pada contoh yang telah diuji dengan
contoh asli terhadap perbadaan standar perubahan warna yang digambarkan oleh gray scale
dan dinyatakan dengan rumus CIE lab:

Rumus nilai kekromatikan adam

Spesifikasi kolorimetri yang tepat dari warna abu-abu standard dan perubahan warna
pada gray scale. Nilai 5 berarti tidak ada perubahan dan seterusnya sampai nilai 5 yang berarti
perubahan warna sangat besar. Nilai tahan luntur 5 ditunjukkan pada skala oleh dua lempeng
yang identik yang diletakkan berdampingan berwarna abu-abu netral dengan reflektansi 12 + 1
persen. Perbedaan warna sama dengan nol. Bilai tahan luntur 4 5 sampai 1 ditunjukkan oleh
lempeng pembanding yang identik dan yang dipergunakan untuk tingkat 5, berpasangan
dengan lempeng abu-abu netral sama tetapi lebih muda. Perbedaan secara visual dari
pasangan-pasangan nilai 4, 3, 2, dan 1 adalah tingkat geotetrik dari perbedaan warna atau
kekontrasan.
Staining scale (grey scale for staining)

Pada staining scale penilaian penodaan warna pada kain putih di dalam pengujian tahan
luntur warna, dilakukan dengan membandingkan perbedaan warna dari kain putih yang dinodai
dan kain putih yang tidak ternodai, terhadap perbedaan yang digambarkan staining scale, dan
dinyatakan dengan nilai kekhromatikan adam seperti gray scale, hanya besar perbedaan
warnanya berbeda. Staining scale terdiri dari satu pasangan standar lempeng putih dan 8
pasang standar lempeng abu-abu dan putih, dan setiap pasang mewakili perbedaan warna atau
kekontrasan warna sesuai dengan penilaian penodaan dengan angka.

Nilai tahan luntur 5 ditunjukkan pada skala oleh dua lempeng yang identik yang
diletakkan berdampingan, mempunyai reflektansi tidak kurang dari 85%. Perbedaan warna
sama dengan nol. nilai tahan luntur 4-5 sampai 1 ditunjukkan oleh lempeng putih pembanding
yang identik dengan yang dipergunakan untuk nilai 5, berpasanagan dengan lempeng yang
sama tetapi berwarna abu-abu netral.
2.2 Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian

Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan tahan luntur warna terhadap pencucian.
Berkurangnya warna dan pengaruh gosokan yang dihasilkan oleh larutan dan gosokan lima kali
pencucian tangan atau pencucian dengan mesin, hampir sama dengan satu kali pencucian
dengan mesin selama 45 menit. Contoh uji dicuci dengan suatu alat launder-o-meter atau alat
yang sejenis dengan pengatur suhu secara termostatik dan kecepatan putaran 42 putaran per
menit. Alat ini dilengkapi dengan piala baja dan kelereng-kelereng baja tahan karat.

Proses pencucian dilakukan sedemikian rupa sehingga kondisinya sama dengan keadaan
pencucian yang diinginkan. Kondisi pencucian berbeda-beda bergantung pada suhu yang
dikehendaki.

Launderometer
Cara pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian rumah tangga dan pencucian
komersial adalah metoda pengujian tahan luntur warna bahan tekstil dalam larutan pencuci
dengan menggunakan salah satu kondisi pencucian komersial yang dipilih, untuk
mendapatkan nilai perubahan warna dan penodaan pada kain pelapis. Kondisi pencucian
dapat dipilih sesuai dengan keperluan dari 16 kondisi yang disediakan.
Cara pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan tahan luntur warna terhadap
pencucian yang berulang-ulang. Berkurangnya warna dan pengaruh gosokan yang dihasilkan
oleh larutan dan gosokan 5 kali pencucian tangan atau pencucian dengan mesin, hamper
samadengan 1 kali pengujian ganda (M), sedangkan satu kali pengujian tunggal (S) sama
dengan hasil 1 kali pencucian.
Kondisi pencucian berbeda-beda bergantung suhu yang dikehendaki. Jenis sabun yang
digunakan dalam pencucian adalah sabun standard detergen yang dikeluarkan oleh AATCC
atau ECE.
Detergen AATCC:
Garam natrium alkilsulfonat linier (LAS) : 14,00 0,02%
Alcohol etoksilat : 2,30 0,02%
Sabun (berat molekul tinggi) : 2,50 0,02%
Natrium tripoliposfat : 48,00 0,02%
Natirum silikat (SiO2 / Na2O = 2/1 ) : 9,70 0,02%
Natrium sulfat : 15,40 0,02%
Karboksil metal selulosa (CMC) : 0,25 0,02%
Air : 1,85 0,02%
Detergen ECE:

Garam natrium alkilsulfonat linier (LAS)


(panjang rata-rata rantai alkana C 11,5) : 8,00 0,02%
Alcohol lemak dietoksilasi (14 EO) : 2,90 0,02%
Sabun natrium panjang rantai
o C 12 C 16 : 13% -26%
o C 18 n C 22 : 74% - 87% : 3,50 0,02%
Natrium silikat (SiO2 / Na2O = 3,3/1 ) : 7,50 0,02%
Magnesium silikat : 1,90 0,02%
Karboksil metil selulosa (CMC) : 1,20 0,02%
Garam natrium dan asam etilena diamida
tetra asetat (EDTA) : 0,20 0,02%
Natrium sulfat : 21,20 0,02%
Air : 9,90 0,02%
Table Kondisi Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap pencucian

Metode Suhu Jumlah Khlor Natrium Waktu Jumlah Pengaturan


Uji (0C) Larutan Aktif Perborat (menit) Kelereng (pH)
(ml) (%) (g/l)
A1S 40 150 - - 30 10* -
A1M 40 150 - - 45 10 -
A2S 40 150 - 1 30 10* -
B1S 50 150 - - 30 25* -
B1M 50 150 - - 45 50 -
B2S 50 150 - 1 30 25* -
C1S 60 50 - - 30 25 10,5 0,1
C1M 60 50 - - 45 50 10,5 0,1
C2M 60 50 - 1 30 25 10,5 0,1
D1S 70 50 - - 30 25 10,5 0,1
D1M 70 50 - - 45 100 10,5 0,1
D2S 70 50 - 1 30 25 10,5 0,1
D3S 70 50 0,015 - 30 25 10,5 0,1
D3M 70 50 0,015 - 45 100 10,5 0,1
E1S 95 50 - - 30 25 10,5 0,1
E1M 95 50 - 1 30 25 10,5 0,1
*) untuk kain-kain ringan dan kain wool atau sutera atau campurannya, tidak perlu
menggunakan kelereng baja. Catat dalam laporan hasil uji bila menggunakan
kelereng baja

Prinsip pengerjaanya yaitu dengan mencuci sehelai kain yang diambil dari contoh uji
dengan ukuran tertentu, kemudian dijahit diantara dua helai kain putih dengan ukuran yang
sama. Sehelai dari kain putih tersebut adalah sejenis dengan kain yang diuji, sedangkan helai
lainnya sesuai dengan pasangannya seperti tertera pada tabel dibawah:

Tabel Pasangan Kain Pelapis Tunggal


Kain Pelapis Pertama Kain Pelapis Kedua (pasangannya)
Untuk Uji A dan B Untuk Uji C, D, dan E
Kapas Wool Rayon Viskosa
Wool Kapas -
Sutera Kapas -
Rayon Viskosa Wool Kapas
Linen Wool Rayon Viskosa
Asetat Triasetat Rayon Viskosa Rayon Viskosa
Poliamida Wool/kapas Kapas
Poliester Wool/kapas Kapas
Akrilat Wool/kapas Kapas
Catatan :

Jenis kain pelapis pertama adalah kain sejenis dengan jenis serat contoh uji.
Untuk kain contoh uji yang terbuat dari serat campuran, kain pelapis pertama
dipakai kain pelapis tunggal yang sejenis dengan jenis serat dominan, dan kain
pelapis kedua adalah kain dengan serat dominan kedua.
III. Percobaan
3.1 Alat Dan bahan

1. Launderometer (dengan kecepatan 42 putaran per menit)


2. Gray scale dan Staining scale,
3. Meja yang dilengkapi lampu
4. Larutan sabun netral 5 g/l, asam asetat 0,014 %( dalam praktikum pakai 1 sendok
sabun)
5. Kain berukuran 5 x 10 cm diletakan diantara dua kain putih (kapas dan wool) dengan
ukuran yang sama kemudian dijahit.( dalam praktikum kain berukuran 4 x 10 cm dan
kain pelapisnya kapas dan poliester)
6. Kelereng baja tahan karat 10 biji ( dalam praktikum dipakai sebanyak 7 biji)
7. Penilaian : Gray scale for assessing staining (including half-steps). ISO 105 AO3.

BS 1006 AO3 1978 SDC Standard Methods.

Gray scale for Assesing Chance in colour ISO 106 AO2

BS 1006 AO2 1978 SDC Standard Methods

3.2 Cara Kerja


Persiapan contoh uji
Kain putih kapas 1 buah dijahit menjadi satu dengan contoh uji berukuran (5 x
10) cm, juga dijahit bersama dengan kain putih dari bahan poliester dengan
ukuran yang sama.( dalam praktikum ukurannya 4 x 10 cm)
Dibuat sebanyak 2 pasang contoh uji.
Cara pengujian
Memotong contoh uji sesuai ukuran kemudian diberi lapisan kain putih pada
kedua permukaannya kemudian dijahit salah satu ujungnya pada mesin jahit.
Memasukan 150 ml larutan yang mengandung 0,5 % volume sabun yang sesuai
dan 10 kelereng baja bahan karat ke dalam bejana, kemudian menutup rapat
bejana dan memanaskan bejana sampai 400C.( dalam praktikum sabun yang
dipakai kurang lebih satu sendok dan kelereng yang dipakai sebanyak 7 biji).
Meletakan bejana tersebut pada tempatnya dimana pemanasan bejana diatur
sedemikian rupa sehingga setiap sisi terdiri dari sejumlah bejana yang sama.
Menjalankan mesin untuk pemanasan pendahuluan. (dalam praktikum tidak
dilakukan).
Memberhentikan mesin kemudian membuka tutup bejana. (dalam praktikum
tidak dilakukan)
Memasukan contoh uji ke dalam bejana lalu menutupnya kembali (dalam
praktikum tidak dilakukan karena kain dimasukkan diawal).
Menjalankan mesin launderometer selama 30 menit.
Menghentikan mesin dan mengeluarkan contoh uji kemudian membilas contoh
uji.
Memeras dan mengeringkan contoh uji
IV. Data Percobaan
Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian
SNI 08-0285-1998
Cara uji tahan luntur warna terhadap pencucian rumah tangga dan komersial, badan standarisasi
nasional, 1998
SNI 08-0285-1998
Ukuran contoh uji 4 x 10 cm
Memakai alat lauderometer, dengan kelereng baja tahan karat sebanyak 10 biji
Sabun yang dipakai adalah sabun tanpa pemutih optik yaitu sabun standar AATCC atau sabun ECE
Kain pelapis sesuai standar (kapas dengan wool)
Suhu 400C
Waktu 45 menit
Pada saat praktikum
Sabun yang dipakai sabun rumah tangga
Kelereng yang dipakai sebanyak 7 biji
Kain pelapis (kapas dengan poliester)

Hasil pengujian:

Nilai Gray
Scale for
Nilai grey scale for staining
change
Pengujian Ke - colour

Kain uji Poliester Kapas

1 4/5 4/5 4

2 4/5 4 4
V. Diskusi
Dalam pemakaian bahan tekstil sehari-hari ditinjau dari kepentingan konsumen tahan
luntur warna mempunyai arti penting. Maka dari itu dilakukan pengujian tahan luntur warna
terhadap pencucian. Pengujian dapat dilakukan dengan berbagai cara terdapat 16 kondisi
pencucian yang dapat dilakukan. Kondisi pencucian berbeda-beda sesuai kebutuhan. Jadi
misalkan mengatur suhu pencucian melihat dari end use nya. Contohnya untuk pengujian
terhadap pakaian rumah sakit suhu yang dipakai sebesar 700C. kondisi pengujian yang telah
dilakukan adalah suhu yang dipakai 400C dengan waktu 30 menit dan jumlah kelereng yang
dimasukkan sebanyak 7 biji. Kondisi pengujian ini setara dengan pencucian sebanyak 1 kali.
Dari pengujian ini dapat kita ketahui berkurangkah warna kain akibat gosokan dari
kelereng dengan larutan cuci dan adakah penodaan yang terjadi pada kain pelapis. Kain
pelapis yang dipakai sebaiknya sesuai standar untuk menentukan apakah terjadi migrasi zat
warna. Kain pelapis 1 sebaiknya sejenis dengan contoh uji dan kain pelapis 2 sebaiknya
memiliki afinitas zat warna yang sama pada contoh uji. Penilaian dilakukan dengan
menggunakan grey scale for change colour untuk menentukan apakah ada perubahan warna
pada kain contoh uji dan grey scale for staining untuk mengetahui apakah terjadi penodaan
pada kain pelapis.
Dari pengujian ini didapatkan nilai grey scale for change colour sebesar 4/5 ini berarti
bahwa kain contoh uji tidak mengalami perubahan warna yang berarti. Untuk dilakukan
pencucian rumah tangga dan komersial maka tahan luntur warna kain contoh uji ini baik. Dan
nilai grey scale for staining didapatkan sebesar 4/5-4 pada kain poliester dan 4 pada kain
kapas. Ini menunjukkan bahwa tidak terjadi penodaan yang berarti. Pada kain poliester tidak
terjadi penodaan disebabkan zat warna tidak memiliki afinitas terhadap poliester. Sebaiknya
kain yang dipakai memiliki afinitas zat warna yang sama pada contoh uji untuk lebih mengetahui
apakah terjadi penodaan. Sedangkan pada kain kapas sedikit mengalami penodaan karena zat
warna contoh uji memiliki afinitas terhadap kain kapas. Untuk dilakukan pencucian rumah
tangga dan komersial maka tahan luntur warna contoh uji cukup baik.
Dilihat dari jenis kain dan coraknya, praktikan memperkirakan bahwa sampel kain end
use nya bisa sebagai kain tenun untuk gaun atau blus atau untuk setelan. Maka setelah
pengujian dilakukan pencocokan dengan standar mutu dari SNI. Dan SNI yang dipakai adalah
SNI O8-0056-2006 tentang standar mutu kain tenun untuk setelan dan SNI 08-1515-2004
tentang standar mutu kain tenun untuk gaun atau blus. Dan dari SNI tersebut bahwa yang
memenuhi standar untuk tahan luntur warna terhadap pencucian adalah minimum 4 untuk
perubahan warna sedangkan penodaan minimum 4. Maka sampel kain yang diuji memenuhi
syarat.

VI. Kesimpulan

Kain contoh uji memiliki ketahanan luntur warna terhadap pencucian yang cukup baik
Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Gosokan

I. Maksud Dan Tujuan


1.1 Maksud

Melakukan pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan dan mengevaluasinya.

1.2 Tujuan

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan penodaan pada kain berwarna yang disebabkan
gosokan.

II. Teori Dasar


2.1 Penilaian Tahan Luntur Warna

Staining scale (grey scale for staining)

Pada staining scale penilaian penodaan warna pada kain putih di dalam pengujian tahan
luntur warna, dilakukan dengan membandingkan perbedaan warna dari kain putih yang dinodai
dan kain putih yang tidak ternodai, terhadap perbedaan yang digambarkan staining scale, dan
dinyatakan dengan nilai kekhromatikan adam seperti gray scale, hanya besar perbedaan
warnanya berbeda. Staining scale terdiri dari satu pasangan standar lempeng putih dan 8
pasang standar lempeng abu-abu dan putih, dan setiap pasang mewakili perbedaan warna atau
kekontrasan warna sesuai dengan penilaian penodaan dengan angka.

Nilai tahan luntur 5 ditunjukkan pada skala oleh dua lempeng yang identik yang
diletakkan berdampingan, mempunyai reflektansi tidak kurang dari 85%. Perbedaan warna
sama dengan nol. nilai tahan luntur 4-5 sampai 1 ditunjukkan oleh lempeng putih pembanding
yang identik dengan yang dipergunakan untuk nilai 5, berpasanagan dengan lempeng yang
sama tetapi berwarna abu-abu netral.
2.2 Tahan Luntur Warna Terhadap Gosokan

Pengujian ini meliputi cara uji penodaan dari bahan berwarna pada kain lain yang
disebabkan karena gosokan. Cara ini dapat dipakai untuk bahan tekstil berwarna dari segala
macam serat baik alam bentuk benang maupun kain. Pengujian dilakukan dua kali yaitu
gosokan dengan kain kering dan gosokan dengan kain basah.

Prinsip pengujian tersebut adalah sebagai berikut yaitu contoh uji dipasang pada
Crockmeter, kemudian padanya digosokan kain putih kering dengan kondisi tertentu.
Penggosokan ini diulangi dengan kain putih basah. Penodaan pada kain putih dinilai dengan
mempergunakan staining scale.

Penggosokkannya dilakukan pada kondisi tertentu. Kain putih yang digunakan adalah kain
kapas dengan kontruksi 100 x 96 helai per inci, beratnya 135,3 gram per m 2, telah di putihkan,
tidak dikanji dan tidak disempurnakan, dipotong dengan ukuran 5 x 5 cm.
Crockmeter
III. Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
Praktikum menguji ketahanan luntur kain terhadap gosokan ini memerlukan peralatan
dan bahan-bahan yang diantaranya adalah:

Crockmeter, berjari-jari 1,5 cm yang bergerak satu kali maju mundur sejauh 10 cm
setiap kali putaran dengan gaya tekanan pada kain seberat 500 g.
Kertas saring
Air suling
Kain contoh uji dengan ukuran 5 x 20 cm (4 buah) diukur dari arah diagonal kain
Staining Scale (Grey scale for staining)
Kain kapas ukuran 5 x 5 cm (basah dan kering)
Penilaian: staining scale for Assessing staining (including half-steps).
ISO 105 AO3

BS 1006 AO3 1978 SDC Standard Methods.

3.2 Langkah Kerja


Persiapan contoh uji
Contoh uji dipotong dengan ukuran 5 x 20 cm sebanyak masing-masing dua buah
untuk pengujian basah dan kering.
Kain kapas direndam dalam air suling sebanyak dua buah untuk pengujian
ketahanan luntur terhadap gosokan basah.
Cara pengujian
Cara Uji Gosokan Kering
1. Meletakan contoh uji diatas alat penguji dengan sisi panjang, searah dengan
arah gosokan.
2. Membungkus jari Crockmeter dengan kain putih kering dengan anyamannya
miring terhadap arah gosokan.
3. Kemudian memulai proses penggosokan sebanyak 10 kali maju mundur (20
kali gosokan) dengan memutar alat pemutar 10 kali dengan kecepatan satu
putaran per detik.
4. Mengambil kain putih dan mengevaluasi kain dengan staining scale.
Cara Uji Gosokan Basah
1. Membasahi kain putih dengan air suling, kemudian diperas diantara kertas
saring, sehingga kadar air dalam kain menjadi 65 5 % terhadap berat kain
pada kondisi standar kelembaban relatif 65 2 % dan suhu 21 2 0C.
2. Kemudian mengerjakan langkah kerja seperti pada cara gosok kering dari
nomor 1 4 secepat mungkin untuk menghindari terjadinya penguapan.
3. Mengeringkan kain putih di udara bebas sebelum melakukan evaluasi.
4. Mengambil kain putih yang telah kering dan mengevaluasi kain dengan
staining scale
Cara evaluasi hasil uji
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan penodaan warna pada kain putih terhadap
staining scale.
IV. Data Percobaan
Tahan luntur warna terhadap gosokan
SNI 08-0288-1989
Cara uji tahan luntur warna terhadap gosokan, badan standarisasi nasional, 1989
SNI 08-0288-1989
Kain contoh uji ukuran 5 x 20 cm sebanyak 4 buah ( masing-masing 2 untuk gosokan basah dan gosokan
kering)
Menggunakan crockmeter
Menggunakan air suling dan kapas bleched 5 x 5 cm
Pada saat praktikum
Menggunakan crockmeter manual dan digital
Air yang digunakan air kran
Menggunakan kain kapas
Hasil pengujian:

Jenis Pengujian Contoh Uji Nilai grey scale for staining

1 5
Kering
2 5

1 3
Basah
2 3/4
V. Diskusi

Pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan dimaksudkan untuk menentukan


penodaan tekstil berwarna yang disebakan karena gosokan. Pengujian ini dilakukan pada
tekstil yang terbuat semua serat baik dalam bentuk benang maupun kain, baik yang dicelup
maupun diprinting. Pengujian dilakukan dengan kain gosokan kering dan kain gosokan
basah. Dari hasil pengujian didapatkan untuk pengujian gosokan kering nilai grey scale for
staining sebesar 5. Ini menunjukkan bahwa kain memiliki tahan luntur warna terhadap
gosokan yang baik terutama dalam kondisi kering. kemungkinan zat warna mengalami
proses difusi dan fiksasi yang sempurna sehingga zat warna tidak menempel dipermukaan.
Apabila zat warna menempel dipermukaan maka tahan luntur warna terhadap gosokan nya
akan jelek. Dan nilai grey scale for staining untuk gosokan basah sebesar 3/4-3. Ini
menunjukkan ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah cukup baik. Kemungkinan
zat warna bersifat sedikit larut dalam air sehingga terjadi penodaan.

Dilihat dari jenis kain dan coraknya, praktikan memperkirakan bahwa sampel kain end
use nya bisa sebagai kain tenun untuk gaun atau blus atau untuk setelan. Maka setelah
pengujian dilakukan pencocokan dengan standar mutu dari SNI. Dan SNI yang dipakai
adalah SNI O8-0056-2006 tentang standar mutu kain tenun untuk setelan dan SNI 08-1515-
2004 tentang standar mutu kain tenun untuk gaun atau blus. Dan dari SNI tersebut bahwa
yang memenuhi standar untuk tahan luntur warna terhadap gosokan kering adalah
minimum 4 untuk gosokan basah minimum 3/4-3. Maka sampel kain yang diuji memenuhi
syarat.
VI. Kesimpulan

Kain memiliki tahan luntur warna terhadap gosokan yang cukup baik
Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat

I. Maksud Dan Tujuan


1.1 Maksud

Melakukan pengujian tahan luntur warna terhadap keringat dan mengevaluasinya.

1.2 Tujuan

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan tahan luntur warna dari segala macam dan
bentuk bahan tekstil berwarna terhadap keringat.

II. Teori Dasar

2.1 Penilaian tahan luntur warna

Hasil pengujian tahan luntur warna biasanya dilaporkan secara pengamatan visual.
Pengukuran perubahan warna secara fisika yang dilakukan dengan bantuan kolorimetri atau
spektrofotometri hanya dilakukan untuk penelitian yang membutuhkan hasil penelitian yang
tepat.

Penilaian tahan luntur warna dilakukan dengan melihat adanya perubahan warna asli
sebagai tidak perubahan, ada sedikit perubahan, cukup berubah dan berubah sama sekali.
Penilaian secara visual dilakukan dengan membandingkan perubahan warna yang terjadi
dengan suatu standar perubahan warna. Standar yang dikenal adalah standard yang dibuat
oleh Society of Dyes and Colourist (SDC) di Amerika Serikat yaitu berupa grey scale (grey scale
for changing scale) untuk perubahan warna karena kelunturan warna dan staining scale (grey
scale for staining scale) untuk perubahan warna karena penodaan pada kain putih. Standard
gray scale dan staining scale digunakan untuk menilai perubahan warna yang terjadi pada
pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat, gosokan, setrika,dll.

Gray scale for change colour

Gray scale terdiri dari Sembilan pasangan standard lempeng abu-abu, setiap pasangan
mewakili perbedaan warna atau kekontrasan warna sesuai dengan penilaian tahan luntur
dengan angka pada gray scale, penilaian tahan luntur warna dan perubahan warna yang
sesuai, dilakukan dengan membandingkan perbedaan pada contoh yang telah diuji dengan
contoh asli terhadap perbadaan standar perubahan warna yang digambarkan oleh gray scale
dan dinyatakan dengan rumus CIE lab:

Rumus nilai kekromatikan adam

Spesifikasi kolorimetri yang tepat dari warna abu-abu standard dan perubahan warna
pada gray scale. Nilai 5 berarti tidak ada perubahan dan seterusnya sampai nilai 5 yang berarti
perubahan warna sangat besar. Nilai tahan luntur 5 ditunjukkan pada skala oleh dua lempeng
yang identik yang diletakkan berdampingan berwarna abu-abu netral dengan reflektansi 12 + 1
persen. Perbedaan warna sama dengan nol. Bilai tahan luntur 4 5 sampai 1 ditunjukkan oleh
lempeng pembanding yang identik dan yang dipergunakan untuk tingkat 5, berpasangan
dengan lempeng abu-abu netral sama tetapi lebih muda. Perbedaan secara visual dari
pasangan-pasangan nilai 4, 3, 2, dan 1 adalah tingkat geotetrik dari perbedaan warna atau
kekontrasan.
Grey scale for staining

Pada staining scale penilaian penodaan warna pada kain putih di dalam pengujian tahan
luntur warna, dilakukan dengan membandingkan perbedaan warna dari kain putih yang dinodai
dan kain putih yang tidak ternodai, terhadap perbedaan yang digambarkan staining scale, dan
dinyatakan dengan nilai kekhromatikan adam seperti gray scale, hanya besar perbedaan
warnanya berbeda. Staining scale terdiri dari satu pasangan standar lempeng putih dan 8
pasang standar lempeng abu-abu dan putih, dan setiap pasang mewakili perbedaan warna atau
kekontrasan warna sesuai dengan penilaian penodaan dengan angka.

Nilai tahan luntur 5 ditunjukkan pada skala oleh dua lempeng yang identik yang
diletakkan berdampingan, mempunyai reflektansi tidak kurang dari 85%. Perbedaan warna
sama dengan nol. nilai tahan luntur 4-5 sampai 1 ditunjukkan oleh lempeng putih pembanding
yang identik dengan yang dipergunakan untuk nilai 5, berpasanagan dengan lempeng yang
sama tetapi berwarna abu-abu netral.
2.2 Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat

Pengujian ini meliputi pengujian ketahanan luntur warna dari segala macam dan
bentuk bahan tekstil berwarna terhadap keringat. Prinsip pengujian dari uji tahan luntur
warna terhadap keringat adalah contoh uji dipotong dengan ukuran 4 x 10 cm dan dijahit
diantara sepasang kain putih dengan ukuran yang sama. Contoh-contoh uji yang terpisah
dari bahan tekstil berwarna dalam larutan keringat buatan bersifat asam dan basa,
kemudian diberikan tekanan mekanik tertentu dan dikeringkan perlahan-lahan pada suhu
yang naik sedikit demi sedikit.

Pada saat pengujian, contoh uji dipasangkan dengan dua helai kain putih dimana
yang sehelai dari serta yang sejenis dengan bahan yqng diuji, sedangkan yang sehelai lagi
dari serat menurut pasangan seperti dibawah ini :

Kain pertama Kain kedua

Kapas wool
Wool kapas
Sutera kapas
Linen wool
Rayon viskosa wool
Poliamida wool/rayon viskosa
Poliester wool
Poliakrilat wool
Asetat rayon viskosa
Catatan: yang dimaksud dengan kain putih untuk kapas, wol, sutera, dan linen adalah kain grey yang
diputihkan.
Alat uji tahan keringat
III. Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
Rangka baja tahan karat dengan beban sekitar 5 kg
Landasan berukuran 60 mm 115 mm yang dapat dikunci
Dua buah lempeng kaca berukuran 60 mm 115 mm 1,5 mm
Oven tanpa kipas sirkulasi udara dengan suhu 37oC 2oC
Tekanan sebesar 12,5 kPa
Kain pelapis multifiber (ISO 105-F10)
Kain pelapis serat tunggal (ISO 105-F:1985)
Salah satu dari kain pelapis tersebut harus terbuat dari serat yang sejenis
dengan contoh uji atau jenis serat yang paling dominan untuk kain campuran.
Kain pelapis kedua terbuat dari serat seperti yang tercantum dalam tabel di
bawah ini:
Bila kain pelapis pertama: Maka kain pelapis kedua
Kapas Wol
Wol Kapas
Sutera Kapas
Viskosa Wol
Asetat Viskosa
Poliamida Wol atau vikosa
Poliester Wol atau kapas
Akrilat Wol atau kapas

(dalam praktikum memakai kain pelapis serat tunggal kapas dan poliester)
Gray scale ISO 105-A02
Staining scale ISO 105-A03
Contoh uji berukuran 4 cm 10 cm

Pereaksi

Larutan keringat alkali


L-histidin monohidroklorida monohidrat (C6H9O2N3.HCl.H2O) 0,5 g/L
NaCl 5 g/L
Dinatrium hidrogen ortofosfat dodekahidrat (Na2HPO4.12H2O) 5 g/L atau
Dinatrium hidrogen ortofosfat dihidrat (Na2HPO4.2H2O) 2,5 g/L. Larutan
dibuat menjadi pH 8 dengan larutan NaOH 0,1 mol/L.

Larutan keringat asam


L-histidin monohidroklorida monohidrat (C6H9O2N3.HCl.H2O) 0,5 g/L
NaCl 5 g/L
Dinatrium hidrogen ortofosfat dihidrat (Na2HPO4.2H2O) 2,2 g/L. Larutan
dibuat menjadi pH 5,5 dengan larutan NaOH 0,1 mol/L.
3.2 Cara Kerja
Merendam contoh uji dalam masing-masing larutan keringat (basa/ asam) dengan
perbandingan 50:1 selama 30 menit.
Memeras contoh uji dengan menggunakan dua batang pengaduk kaca untuk
menghilangkan larutan yang berlebih.
Meletakan contoh uji secara merata diantara dua lempeng kaca
Memasang lempeng tersebut pada alat uji yang telah dipanaskan sebelumnya pada
suhu pengujian, sehingga mendapat tekanan 12,5 kPa.
Menaruhnya pada oven selama 4 jam pada suhu 37 2oC.
IV. Data Percobaan

SNI 08-0287-1996

Cara uji tahan luntur warna terhadap keringat, badan standarisasi nasional 1996

SNI 08-0287-1996

Kain contoh uji direndam satu persatu dalam wadah berisi larutan keringat

Kain contoh uji direndam selama 30 menit sambal dibolak-balik

Penempatan papan akrilik/plat per satu kain contoh uji

Pada saat dioven kain hasil rendaman dipisah

Kain pelapis harus sesuai (kapas dengan wool)

Pada saat praktikum

Kain contoh uji direndam 3 buah sekaligus dalam satu wadah

Perendaman selama 15 menit

Penempatan plat per dua kain contoh uji

Pada saat dioven kain disatukan

Kain pelapis tidak sesuai (kapas dengan poliester)

4.1. Nilai perubahan warna pada grey scale for change colour
Keringat basa Keringat asam
4/5 5
4/5 4/5

4.2. Nilai penodaan pada grey scale for staining


Keringat basa Keringat asam
Kain pelapis Kain pelapis Kain pelapis Kain pelapis
poliester kapas poliester kapas
4/5 4 4/5 4/5
4/5 4/5 4/5 4
V. Diskusi

Pengujian tahan luntur warna terhadap keringat dilakukan sebab ada beberapa zat
warna yang sangat dipengaruhi oleh keringat, sehingga akan memberikan penodaan warna
pada bagian-bagian kain yang terkena keringat. Kain contoh uji direndam dalam larutan
keringat asam dan basa. Kemudian diperas dan diletakkan pada lempeng kaca yang diberi
beban sebesar 4,5 kg jumlah lempeng kaca yang dimasukkan sama agar tekanan yang
dihasilkan sama. Tekanan tersebut menganalogikan tekanan pada saat kain contoh uji
tersebut dipakai. Kemudian contoh uji di oven dengan suhu kurang lebih 370C. suhu oven
tersebut menganalogikan suhu tubuh pemakai. Dan waktu oven selama 6 jam yang
menganalogikan waktu pemakaian kain contoh uji. Dari hasil praktikum didapatkan nilai grey
scale for change colour untuk keringat basa dan keringat asam antara 5-4/5. Dan nilai grey
scale for staining antara 4/5-4. Ini menunjukkan bahwa kain contoh uji memiliki tahan luntur
warna terhadap keringat yang baik. Tidak terjadinya penodaan dan perubahan warna
disebabkan tidak terjadinya migrasi zat warna.

Dilihat dari jenis kain dan coraknya, praktikan memperkirakan bahwa sampel kain end
use nya bisa sebagai kain tenun untuk gaun atau blus atau untuk setelan. Maka setelah
pengujian dilakukan pencocokan dengan standar mutu dari SNI. Dan SNI yang dipakai
adalah SNI O8-0056-2006 tentang standar mutu kain tenun untuk setelan dan SNI 08-1515-
2004 tentang standar mutu kain tenun untuk gaun atau blus. Dan dari SNI tersebut bahwa
yang memenuhi standar untuk tahan luntur warna terhadap keringat asam dan basa
(perubahan warna) adalah minimum 4 untuk penodaan warna minimum 4. Maka sampel
kain yang diuji memenuhi syarat.
VI. Kesimpulan

Kain contoh uji memiliki tahan luntur warna terhadap keringat yang baik
Pengujian pH kain

I. Maksud Dan Tujuan


1.1 Maksud

Melakukan pengujian pH terhadap kain dan mengevaluasinya.

1.2 Tujuan

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan nilai pH bahan tekstil berwarna.

II. Teori Dasar

pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dari larutan. Pengukuran pH (potensial


Hidrogen) akan mengungkapkan jika larutan bersifat asam atau alkali (atau basa). Jika larutan
tersebut memiliki jumlah molekul asam dan basa yang sama, pH dianggap netral. Air yang
sangat lembut umumnya asam, sedangkan air yang sangat keras umumnya basa, meskipun
kondisi yang tidak biasa dapat mengakibatkan pengecualian.

Skala pH bersifat logaritmik dan ada dalam kisaran 0,0-14,0 sampai 7,0 dianggap netral.
Pembacaan kurang dari 7,0 mengindikasikan bahwa larutan bersifat asam, sementara angka
lebih besar menunjukkan larutan bersifat alkali atau basa. Beberapa zat yang ekstrim bisa
mencetak lebih rendah dari 0 atau lebih besar dari 14, tetapi kebanyakan jatuh dalam skala ini.

pH meter yang biasa terdiri dari pengukuran probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke
pengukuran pembacaan yang mengukur dan menampilkan pH yang terukur. Prinsip kerja dari
alat ini yaitu semakin banyak elektron pada sampel maka akan semakin bernilai asam begitu
pun sebaliknya, karena batang pada pH meter berisi larutan elektrolit lemah. Alat ini ada yang
digital dan juga analog. pH meter banyak digunakan dalam analisis kimia kuantitatif.

Probe pH mengukur pH seperti aktifitas ion-ion hidrogen yang mengelilingi bohlam kaca
berdinding tipis pada ujungnya. Probe ini menghasilkan tegangan rendah (sekitar 0.06 volt per
unit pH) yang diukur dan ditampilkan sebagai pembacaan nilai pH.

Untuk pengukuran yang sangat presisi dan tepat, pH meter harus dikalibrasi setiap
sebelum dan sesudah melakukan pengukuran. Untuk penggunaan normal kalibrasi harus
dilakukan setiap hari. Alasan melakukan hal ini adalah probe kaca elektroda tidak diproduksi
e.m.f. dalam jangka waktu lama.
pH meter
III. Percobaan

3.1 Alat dan Bahan

-kain contoh uji

- Erlenmeyer tutup asah 250 ml

- Mesin shaker

- Aquadest

- pH meter

3.2 Cara Kerja

1. timbang kain contoh uji sebanyak 2 gram

2. potong kecil kain contoh uji

3. masukkan potongan kain kedalam Erlenmeyer tutup asah, tambahkan air 100 ml

4. masukkan ke mesin shaker selama 30 menit

5. keluarkan dari mesin shaker, kemudian saring

6. larutan hasil saringan di ukur dengan pH meter

IV. Data Pengamatan

pH kain yang telah diukur sebesar 7,3


V.Diskusi

Pengujian pH kain ini dilakukan untuk menentukan kualitas dari kain contoh uji.
Pengujian dilakukan dengan memotong kecil-kecil kain kemudian direndam dalam air dan
diaduk selama 30 menit. Air rendaman tersebut di ukur berapa nilai pH kain tersebut. Dari hasil
praktikum didapat nilai pH kain sebesar 7,3. Ini menunjukkan kain bersifat netral dan apabila
digunakan akan aman.

VI.Kesimpulan

Kain contoh uji memiliki nilai pH sebesar 7,3


Tahan luntur warna terhadap pencucian
Tahan luntur warna terhadap gosokan
Tahan luntur warna terhadap keringat
pH kain
Daftar Pustaka

[1] Hitariat,susyami,dkk.2005.Bahan Ajar Praktek Evaluasi Tekstil III(evaluasi kain).

Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.Bandung

[2] Moerdoko,wibowo,dkk.1973. Evaluasi Tekstil Bagian Kimia.Institut Teknologi


Tekstil.Bandung

[3] http://www.anm.co.id/article/detail/55/cara-kerja-ph-meter-da-kalibrasi#.WQE0bh7n_IU

[4] http://www.academia.edu/8023327/LAPORAN_KIMIA_EVAL_3_PART_2_OKE_JON

[5] https://superakhwat08.wordpress.com/2013/06/21/rangkaian-evaluasi-secara-kimia-
terhadap-kain-tekstil-i-maksud/