Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH PSIKOLOGI POSITIF

MEANINGFULLNES

Oleh :

Kelompok 10

DILLA NOVIANA (15011005)

RIZKA RAHMANI FITRI (15011147)

Dosen pembimbing:

Tesi Hermalina S.Psi, M.Si, Psikolog

PRODI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
MEANINGFULLNES (KEBERMAKNAAN)

A. Definisi kebermaknaan

Istilah makna hidup dikemukakan oleh Victor Frankl, seseorang dokter ahli penyakit
saraf dan jiwa yang landasan teorinya disebut logoterapi. Kata logoterapi berasal dari kata
logos yang artinya makna (meaning) atau rohani (spiritually), sedangkan terapi adalah
penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum mengakui adanya dimensi
kerohanian pada manusia selaian dimensi jiwa dan raga, serta berangapan bahwa makana
hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning)
merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakana (the
meaningfull life) yang didambakan.

Makna hidup adalah hal-hal yang dipandang penting, dirasakan berharga dan diyakini
sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidup (bastman, 1996). Makna hidup
bila berhasil ditemukan dan dipenuhui akan menyebabkan kehidupan ini berarti dan biasanya
individu yang menemukan dan mengembangkan akan terhindar dari keputusan (bastaman,
1996).

Frankl menyatakan kebermaknaan hidup adalah terwujud dalam nilai-nilai daya cipta
(kerja), nilai-nilai pengalaman, dan nila-nilai sikap yang menimbulkan perasaan bahagia dan
berarti dalam kehidupan.

Jadi Kebermaknaan hidup adalah merupakan sebuah motivasi yang kuat dan mendorong
orang untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berguna. Hidup yang berguna adalah hidup
yang terus memberi makna pada diri sendiri dan orang lain.
B. Aspek aspek kebermaknaan hidup

Frankl menyebutka tiga aspek dari kebermakanaan hidup yang saling terkait satu sama
lain, yaitu :

1. Kebebasan berkehendak
Kebebasan yang dimaksud tidak bersifat mutlak dan tidak terbatas. Kebebasan
yang dimaksud adalah kebebasan untuk menentukan sikap terhadap kondisi biologis,
psikologis, sosiokultural dan kesejarahanya, namun harus dimbangi dengan tangung
jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan. Kualitas diatas menunjukan
bahwa manusia adalah individu yang dapat mengambil jarak dari kondisi dari luar
dirinya (sosiokultural dan kesejahteraanya) dan kondisi yang datang dari dalam
dirinya (biologis dan psikologis).

2. Kehendak hidup bermakna


Khendak untuk hidup bermakna merupakan keinginan manusia untuk menjadi
orang yang berguna dan berharga bagi dirinya, keluarga, dan lingkungan sekitarnya
yang mampu memtivasi manusia untuk berkerja, berkarya dan melakukan kegiatan-
kegiatan penting lainnya agar hidup berharga dan dihayati secara bermakna , hingga
akhirnya akan menimbulkan kebahagian dan kepuasan dalam menjalani kehidupan

3. Makna hidup
Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan
serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makana hidup tidak dapat diberikan
oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri. dalam makna hidup
terkandung pula tujuan hidup, yaitu hal-hal yang ingin dicapai dan dipenuhui dalam
hidup.
C. Faktor yang mempengaruhui kebermaknaan hidup

Frankl menyatakan bahwa eksistensi manusia terdiri dari 3 faktor

1. Spritualitas

Spiritualitas merupakan suatu konsep yang memang sulit untuk dirumuskan, tidak dapat
direduksikan, tidak dapat diterangkan dengan istilah-istilah material. Spiritual dapat
dipengaruhui oleh dunia material, namun ia tidak disebabkan atau dihasilkan oleh dunia
material tersebut. istilah spiritual ini dapat disinonimkan sebagai jiwa.

2. Kebebasan

Kebebasan berarti tidak dibatasi oleh factor-faktor non spiritual, insting biologi, atau
kondisi lingkungan. Manusia memiliki dan harus menggunakan kebebasan untuk memilih
bagaimana manusian akan bertingkah laku jika menjadi sehat secara psikologis. Orang yang
tidak mengalami kebebasan akan memiliki prasangka karena kepercayaan akan determinisme
atau mereka yang mengalami hambatan psikologis atau neurotis. Orang neurotis
menghambat pemenuhan potensi-potensi mereka sendiri yang mengganggu perkembangan
sebagai individu yang penuh.

3. Tanggung jawab

Suatu pilihan yang telah kita pilih secara bebas harus disertai dengan tanggung jawab.
Individu yang sehat akan memikul tanggung jawab dan menggunakan waktu dengan
bijaksana agar hidup menjadi berkembang.

Kodrat eksistensi manusia yang sehat apabila factor spiritual, kebebasan, dan tangung
jawab tersalurkan secara tepat dan benar dalam setiap tindakan untuk menemukan makna dalam
kehidupan.

Penjabaran diatas menyipulkan bahwa ketiga factor tersebut sangat penting dalam
pencapaian kebermanaan hidup. Spritualitas merupakan jiwa dari manusia dan tidak berasal dari
dunia material. Kebebasan dimiliki oleh manusia yang sehat secara psikologis dan tanggung
jawab akan membatasi kebebasan dari tindakan sewenang-wenang. Manusia harus memiliki
ketiganya untuk mencapai kebermaknaan hidup.

4. Faktor yang mempengaruhi makna hidup

Bastaman (2005) memodifikasi metode untuk menemukan makna hidup yang


dikembangkan oleh Crumbaugh menjadi Panca Cara Temukan Makna yang digunakan dalam
menyusun program pelatihan melatih diri mengembangkan pribadi, yaitu:

1. Pemahaman pribadi, dengan mengenali kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan


diri secara objektif, baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi. Dengan
demikian akan memperjelas gambaran mengenai diri sendiri yang diistilahkan dengan
konsep diri. Sebagaimana yang dikemukakan Calhoun & Acocella (1990) bahwa konsep
diri merupakan gambaran mengenai diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang
diri, pengharapan bagi diri dan penilaian terhadap diri sendiri.
2. Bertindak positif, dengan cara membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang baik
dan bermanfaat sehingga akan member dampak positif pula terhadap perkembangan
pribadi dan kehidupan social.
3. Pengakraban hubungan, dengan membina hubungan yang akrab dengan orang lain
sehingga dihayati sebagai hubungan yang dekat, mendalam, saling percaya dan saling
memahami.
4. Pendalaman tri nilai, dengan berusaha memahami dan memenuhi tiga macam nilai hidup,
yaitu:

o Nilai-nilai Kreatif (creative Value)

Bekerja dan berkarya serta melaksanakan tugas dengan keterlibatan dan tanggung
jawab penuh pada pekerjaan. Sebenarnya pekerjaan hanya merupakan sarana yang dapat
memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup. Makna
hidup bukan terletak pada pekerjaan, melainkan sikap dan cara kerja yang mencerminkan
keterlibatan pribadi pada pekerjaan. Frankl (2004) mengatakan bahwa yang terpenting
dalam aktivitas kerja bukan lingkup atau luasnya pekerjaan, melainkan bagaimana
seseorang bekerja sehingga orang tersebut mampu mengisi penuh lingkaran aktivitasnya.
Berbuat kebajikan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan termasuk
usaha merealisasi nilai-nilai kreatif.

o Nilai-nilai penghayatan (Experiental Value)

Nilai-nilai penghayatan mencoba memahami, meyakini dan menghayati berbagai


nilai yang ada dalam kehidupan, seperti kebenaran, keindahan, kasih saying, kebajikan
dan keimanan. Frankl (2004) juga mengemukakan kegiatan yang berkaitan dengan nilai
penghayatan, yakni meyakini kebenaran dalam kitab suci, merasakan keakraban dalam
keluarga, menjalankan ritual keagamaan. Nilai-nilai penghayatan ini akan menimbulkan
rasa bahagia, kepuasan, ketentraman dan perasaan diri bermakna.

o Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Value)

Setiap perjalanan hidup individu, pasti mendapat keadaan yang menyedihkan,


kondisi-kondisi tragis atau peristiwa mengenaskan. Esensi nilai bersikap terletak pada
cara seseorang yang dengan ikhlas dan tawakkal menyerahkan diri pada keadaan yang
tidak dapat dihindari. Dalam keadaan ini hanya sikap yang dapat diubah dan bukan
peristiwa itu sendir. Dengan mengambil sikap yang tepat, maka beban pengalaman-
pengalaman tragis yang dialami berkurang, bahkan mungkin peristiwa tersebut
memberikan pelajaran berharga dan menimbulkan makna yang berarti bagi individu yang
bersangkutan.

5. Ibadah, dengan melaksanakan perintah Tuhan dan mencegah diri dari melakukan hal-hal
yang dilarang-Nya menurut ketentuan agama. Ibadah yang dilaksanakan dengan khusyu
dapat menimbulkan perasaan tentram, mantap dan tabah. Manusia secara hakiki mampu
menemukan makna hidupnya dengan mendekatkan diri pada agama serta mendapakan
ketenangan menghadapi persoalan-persoalan hidup dengan lebih bijaksana.
DAFTAR PUSTAKA

Bastaman, H.D. 1996. Meraih hidup bermakna: kisah pribadi dengan pengalaman tragis.
Jakarta: Paramadina
Snyder C.R. Shane Lopez. 2002. Handbook of positive psychology. Oxford University
press