Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

SISTEM HORMON II
Tugas kelompok sebagai salah satu syarat menyelesaikan perkuliahan Anatomi
Fisiologi Manusia Semester Ganjil 2016/2017

DI SUSUN OLEH:

Retno Puri Wulandari :140384205056

Wan Didit Saputra :140384205006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

TANJUNGPINANG

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah sesuai dengan waktu yang telah
diberikan, dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan namun demikian
penyusun telah berusaha semaksimal mungkin agar hasil dari tulisan ini tidak menyimpang
dari ketentuan-ketentuan yang ada.
Atas dukungan dari berbagai pihak akhirnya penulis bisa menyelesaikan makalah ini.
Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen
pembimbing yang memberikan pengajaran dan arahan dalam penyusunan makalah ini, dan
tidak lupa kepada teman-teman semua yang telah ikut berpartisipasi membantu penulis
dalam upaya penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena tak
ada gading yang tak retak, begitu pula dengan Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan Makalah ini, dan mudah-mudahan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tanjungpinang, 27 November 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................ii


DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ...................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 2
2.1 Kelenjar Adrenal ..................................................................................................... 2
2.2 Kelenjar Pienalis ..................................................................................................... 4
2.3 Jaringan Endokrin Sistem Lain ............................................................................... 5
2.4 Susunan Interaksi Hormon.................................................................................... 13
2.5 Integrasi dengan Sistem Lain ................................................................................ 21
2.6 Gangguan Kesehatan Pada Sistem Hormon ......................................................... 22
BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 26
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................... 26
3.2 Saran ..................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 27

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.1 Latar Belakang


Sehabis berolahraga, tenggorokan kita akan terasa kering dan kehausan. Ini terjadi
karena tubuh banyak mengeluarkan keringat, sehingga air dalam tubuh juga banyak yang
keluar. Keadaan demikian membuattubuh segera mengeluarkan zat yang menghentikan
pengeluaran cairan tersebut. Zat yang dimaksud dinamakan hormon. Apabila kita minum
air, segera hormon yang dikeluarkan tubuh tersebut akan berhenti.
Hormon merupakan senyawa kimia, berupa protein yang mempunyai fungsi untuk
memacu atau menggiatkan proses metabolisme tubuh. Dengan adanya hormon dalam
tubuh maka organ akan berfungsi menjadi lebih baik.Untuk dapat melakukan kegiatan dan
dapat memberikan reaksi terhadap perubahan-perubahan eksternal maupun internal
diperlukan adanya koordinasi yang tepat di antara kegiatan organ- organ tubuh. Dalam hal
ini sistem endokrin merupakan suatu sistem yang dapat menjaga berlangsungnnya
integrasi kegiatan organ tubuh. Hormon yang diahasilakan oleh sistem endokrin ini
memegang peranan yang sangat penting.
Pembahasan lebih lanjut mengenai sistem hormon akan dijelaskan secara eksplisit
didalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja hormon yang terdapat pada manusia?


2. Apa saja susunan interaksi hormon?
3. Bagaimana integrasi hormon dengan sistem lain dan gangguan kesehatan pada
hormon?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui hormon yang terdapat pada manusia


2. Mengetahui susunan interaksi hormon
3. Mengetahui hormon dengan sistem lain dan gangguan kesehatan pada hormon.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kelenjar Adrenal


Kelenjar suprarenalis atau adrenal berbentuk ceper pada bagian atas dari ginjal.
Beratnya kira-kira 5-9 gram berjumlah dua buah sesuai dengan jumlah ginjal. Kelenjar ini
terdiri dari dua bagian yaitu bagian luar (korteks) yang berasal dari sel mesodermal, dan
bagian dalam disebut medula yang berasal dari ektodermal. Bagian korteks menghasilkan
hormon-hormon yang dikategorikan sebagai hormon steroid, sedangkan bagian medula
menghasilkan katekolamin.

Kelenjar adrenal terbagi atas :

1. Korteks adrenal. Bagian luar berwarna kekuning-kuningan menghasilkan kortisol,


yang disebut korteks yang terdiri atas sel epitel yang besar berisi lipoid atau foam
cells, terdiri dari zona glomerulosa (lapisan luar), zona fasikulata (lapisan tengah
yang paling besar), zona retikularis (lapisan dalam yang langsung mengelilingi
medula). Pemeliharaan struktur tubuh dan aktifitas sekresi dari korteks suprarenal
dipengaruhi oleh hormon adrenokortikotropin (ACTH) dari lobus anterior
hipofisis. Korteks adrenal menghasilkan hormon :
a. Aldosteron (Kortikosteroid (kortkoid), seperti glukokortikoid)
b. Kortisol (glikokortikoid)
c. Mineralokortikoid
d. Hormon seks (berupa androgen)

2. Medula adrenal. Terdiri dari sel-sel yang menghasilkan hormon epinefrin


(adrenalin / katekolamin) dan hormon norepinefrin (noradrenalin/ simpatomimetik
(menyerupai syaraf simpatis)) yang mengandung sel-sel ganglion simpatis dan
kelenjar medula adrenal. Kelenjar medula adrenal dapat membentuk dan
melepaskan adrenalin disamping noradrenalin. Hormon-hormon ini sekresinya
dirangsang oleh impuls simpatis dari hipotalamus dan fungsinya meniru dan
memperlama efek simpatis sistem saraf otonom. Dalam medula adrenal
norepinefrin diubah oleh enzim yang dirangsang oleh kortisol.

2
Tabel Fungsi Hormon di Kelenjar Adrenal

Kelenjar Hormon Sel Fungsi Utama Pengaturan Fisiologis


Endokrin Sasaran Hormon Sekresi
Korteks Aldosteron Tubulus Meningkatkan 3. Kadar Ketika ion Na+
Adrenal (mineralokort Ginjal Reabsorpsi ion natrium direabsorpsi, ion H+
Zona ikoid) natrium oleh dalam darah diekskresikan sebagai
ginjal ke dalam rendah dan
glumerolusa penukarnya. Ini merupakan
darah adar kalium
suatu mekanisme untuk
Meningkatkan dalam darah
ekskresi ion tinggi mencegah akumulasi ion
kalium (K+) oleh 4. Volume H+ berlebih yang akan
ginjal di dalam darah atau menyebabkan asidosis
urine. tekanan pada cairan tubuh. Selain
darah rendah itu, selama ion Na+
5. pH darah
direabsorpsi, ion negatif
menurun
(asidosis) seperti klorida dan
bikarbonat, mengikuti ion
natrium kembali kedalam
darah bersama air melalui
osmosis. Efek tidak
langsung dari aldosteron
adalah reabsorpsi air oleh
ginjal sangat penting utk
menjaga tekanan dan
volume darah normal.

Zona Kortisol Sebagian Meningkatkan ACTH Selama inflamasi, histamin


fasikulata (glikokortiko besar sel. penggunaan (anterior dari jaringan yang rusak
dan zona id) lemak dan hipofisis) membuat kapiler lebih
retikularis kelebihan asam selama stres permeabel, dan lisosom
amino sebagai fisiologis.
pada sel yang rusak
sumber energi
Menurunkan melepas enzimnya, yang
penggunaan membantu menghancurkan
glukosa untuk jaringan yang rusak, tapi
energi (kecuali juga dapat mengakibatkan
otak) kerusakan pada jaringan
Meningkatkan sehat disekitarnya. Kortisol
pengubahan
menghambat efek histamin
glukosa menjadi
glikogen didalam dan menstabilkan
hati membran lisosom yang
Efek mencegah kerusakan
antiimflamatorik: jaringan yang berlebihan.
menstabilkan
lisosom dan
menghambat efek
histamin

Androgen Wanita: Berperan dalam ACTH -


tulang lonjakan bereaksi
dan otak pertumbuhan
masa pubertas
dan dorongan
seks wanita

3
Estrogen Tubuh Berperan penting ACTH -
secara bagi wanita bereaksi
keseluru Cadangan
han estrogen bagi pria
disepanjang
hidupnya
Fungsinya masih
belum terlihat
jelas.

Medula Epinefrin dan Reseptor Menyebabkan Impuls- Perangsangan saraf


Adrenal norepinefrin simpatis vasokontriksi impuls simpatis dapat melepaskan
diseluruh (pengurangan simpatis dari noradrenalin dari ujung
tubuh diameter hipotalamus saraf simpatis dan
pembuluh darah pada situasi
melepaskan noradrenalin
yang disebabkan stres
oleh kontraksi dan adrenalis dari kelenjar
otot polos dalam adrenal. Pada keadaan
dinding tertentu dapat merangsang
pembuluh darah) pelepasan adrenalin dari
pada kulit, visera medula adrenal pada
dan otot skelet.
keadaan darurat dengan
Meningkatkan
gejala marah, dingin,
frekuensi jantung
dan kekuatan takut, hipoglikemia,
kontraksi jantung hipotensi, dan anoksia
Menurunkan (kekurangan oksigen di
peristaltis otak).
Meningkatkan
laju respirasi sel
Meningkatkan
pengubahan
glikogen menjadi
glukosa didalam
hati.
Meningkatkan
pemakaian lemak
dihati

2.2 Kelenjar Pienalis


Kelenjar pienalis terdapat di ventrikel otak, berbentuk kecil dengan warna merah
seperti sebuah cemara. Kelenjarnya menonjol dari mesensefalon ke atas dan ke belakang
lobus optik. Fungsinya belum diketahui dengan jelas. Kelenjar ini menghasilkan sekresi
interna dalam membantu pankreas dan kelenjar kelamin berperan penting dalam mengatur
aktivitas seksual dan reproduksi manusia. Hormon yang terdapat pada kelenjar pienalis
adalah melantonin, dengan organ sasaran yaitu hipofisis anterior (organ reproduksi), yang
diyakini berfungsi untuk menghambat gonadotropin melalui masa pubertas, mungkin
disebabkan oleh penurunan sekresi melantonin.

4
Glandula pienalis diatur oleh isyarat syaraf yang di timbulkan oleh cahaya yang
terlihat oleh mata, menyekresi melantonin, dan zat lain yang serupa melewati aliran darah
atau cairan ventrikel III (jalur bagi cairan serebrospinal) ke glandula hipofisis anterior,
menghambat sekresi gonadotropin, dan gonad menjadi terhambat lalu berinvolusi
(pengecilan dan kembali ke ukuran normalnya). Sekresi melantonin ini paling banyak
dalam keadaan gelap dan menurun apabila ada cahaya yang masuk ke dalam mata, lalu
retina akan memberikan sinyal ke hipotalamus.

2.3 Jaringan Endokrin Sistem Lain


1. Kelenjar Timus, terletak dirongga mediastinum (rongga antara paru-paru kanan dan
kiri) dibelakang os sternum (tulang dada), didalam rongga toraks, kira-kira
setinggi bifurfikasi (percabangan dua) trakhea. Warnanya kemerah-merahan dan
terdiri dari dua lobus.
2. Kelenjar Pankreas, terletak dikuadran kiri atas rongga abdomen dan menghubungan
lengkung duodenum dan limpa. Walaupun pankreas merupakan kelenjar eksokrin
(pencernaan), tetapi juga terdapat kelenjar endokrin. Sel pankreas yang
memproduksi hormon disebut sel pulau langerhans yang terdiri atas sel alfa yang
memproduksi glukagon dan sel beta yang memproduksi insulin. Selain itu terdapat
sel D yang membuat somatostatin dan sel F yang mengandung pankreatik
polipeptida.
3. Kelenjar Gonad, terdiri atas ovarium (pada wanita) dan testis (pada pria). Ovarium
terletak dirongga pelvis, masing-masing satu buah disisi kanan dan kiri uterus.
Hormon yang dihasilkan adalah estrogen, progesteron dan inhibin. Testis terletak di
dalam skrotum. Hormon yang dihasilkan adalah testosteron dan inibin. Penelitian
baru-baru ini menunjukkan bahwa estrogen tidak lagi dianggap sebagai hormon
wanita. Estrogen mempunyai efek pada banyak organ. Di otak, testosteron yang
dihasilkan korteks adrenal atau testis dapat diubah menjadi estrogen, yang penting
untuk memori, khususnya bagi lansia.
4. Selain itu, terdapat sejumlah hormon di jantung, ginjal, lambung, duodenum dan
hati. Pembahasan mengenai jaringan endokrin sistem lain akan dijelaskan melalui
tabel berikut.

5
Tabel Jaringan Endokrin Sistem Lain

Kelenjar Hormon Sel Fungsi Utama Pengaturan Fisiologis atau


Endokrin Sasaran Hormon Sekresi Keterangan Tambahan

Timus Timosin Limfosit Meningkatkan Sel-sel T Fungsi utamanya adalah


T proliferasi mulai tampak untuk memproduksi dan
(pertumbuhan dalam tubuh memproses limfosit atau
dan Sel-T (di mana T
perkembangan),
singkatan berasal dari
maturasi dan
fungsi limfosit timus). Limfosit adalah sel
T. darah putih (leukosit),
Mengaktifkan yang juga dikenal sebagai
pertumbuhan leukosit.
badan, sehingga Setelah sel-sel darah putih
berkembang matang, mereka
pesat dari masa
meninggalkan kelenjar dan
bayi hingga
remaja, dan menetap di limpa dan
setelah dewasa kelenjar getah bening, di
akan berkurang mana Sel-T segar akan
Mengurangi dihasilkan. Sel-sel darah
aktifitas kelamin putih ini adalah sistem
kekebalan tubuh dan
melindungi tubuh dengan
memproduksi antibodi
yang menghentikan invasi
agen-agen asing, bakteri
dan virus. Sel-sel ini juga
menjamin berfungsinya
sistem tubuh.
Kemudian, Limfosit T
melakukan perjalanan dari
sumsum tulang ke timus
dimana mereka tetap
sampai mereka bisa
diaktifkan. Setelah matang,
limfosit memasuki aliran
darah dari mana mereka
melakukan perjalanan ke
organ limfatik lainnya dan
memberikan mekanisme
pertahanan terhadap
penyakit.

Pankreas Insulin (sel Sebagian Meningkatkan Hiperglikemi Sekresi dirangsang


beta) besar sel. transpor glukosa a. hiperglikemia. Keadaan ini
ke dalam sel dan terjadi setelah makan,
penggunaannya khususnya makanan yang
untuk produksi
tinggi karbohidrat, ketika
energi.
Meningkatkan glukosa diabsorpsi dari
pengubahan usus halus ke dalam darah,

6
glukosa yang insulin disekresi untuk
berlebihan memingkinkan sel
menjadi glikogen menggunakan glukosa
dihati dan otot
untuk energi yang
Meningkatkan
dibutuhkan segera. Semua
transpor asam
amino dan asam kelebihan glukosa akan
lemak ke dalam disimpan dihati dan otot
sel dan sbg glikogen.
penggunaannya
dalam reaksi
sintesis

Glukagon Sebagian Meningkatkan Hipoglikemi Sekresi glukagon


(sel alfa) besar sel pengubahan a dirangsang oleh
glikogen menjadi hipoglikemia. Hal ini dapat
glukosa dalam terjadi pada keadaan lapar
hati
atau selama stres
meningkatkan
fisiollogis seperti olahraga.
penggunaan asam
amino yang
berlebihan dan
lemak menajdi
sumber energi
Somatostatin Sistem Menghambat - -
sel D pencerna pencernaan dan
an sel penyerapan
pulau nutrien serta
menghamabt
pankreas
sekresi semua
hormon pankreas
Gonad Estrogen Organ Membantu FSH dari Selama kehamilan
wanita di seks pematangan kelenjar estrogen di produksi
ovarium wanita ovum difolikel hipofisis diplasenta. Estrogen
Tubuh ovarium dan anterior berada terikat pada protein
merangsang
secara plasma. Urine wanita
pertumbuhan
keseluru pembuluh darah hamil banyak
han dan endometrium mengandung estrogen
tulang uterus dalam yang dihasilkan oleh
mempersiapkan plasenta. Pada wanita
kemungkinan yang tidak hamil, estrogen
pembuahan ovum
merupakan produk
Berperan dalam
degradasi steroid.
perkembangan
ciri seks skunder
Merangsang
pertumbuhan
payudara
Merangsang
sekresi hormon
LH
Penutupan
epifisis tulang
panjang

Progesteron Uterus Mempersiapkan LH dari Telah diketahui bahwa


rahim untuk kelenjar hipotalamus merupakan

7
kehamilan hipofisis kelenjar sumber hormon
Membantu anterior. reproduksi. Dimana
penyimpanan hipotalamus dalam
glikogen dan kerjanya menghasilkan
pertumbuhan
hormon Gn-RH yang
pembuluh darah
pada kemudian Gn-RH akan
endometrium(lapi menstimulasi hipofisa
san terdalam anterior dalam mengatur
rahim tempat pelepasan hormon FSH
menempelnya dan hormon LH. Hormon
ovum yang telah
FSH akan menstimulasi
dibuahi), yang
nantinya akan pertumbuhan folikel
menjadi plasenta. dalam ovarium dan
Menghambat menghasilkan hormon
sekresi hormon estrogen, sedangkan
FSH dan LH hormon LH akan
(berhubungan menstimulasi corpus
erat dengan
luteum dalam ovarium
menstruasi)
untuk menghasilkan
hormon progesteron.
Apabila terlampau banyak
FSH yang dilepaskan oleh
HA (hipofisa anterior)
maka kadar estrogen yang
dihasilkan oleh folikel
akan semakin meningkat,
disinilah peranan enzim
inhibin dalam
menghambat folikel dalam
menghasilkan hormon
estrogen melalui feedback
negatif terhadap HA
(hipofisa anterior).

Pria (testis) Testosteron Organ Merangsang Sel FSH akan menstimulasi


seks pria, produksi sperma interstitial testis dalam menghasilkan
tubuh Bertanggung atau sel dan mengatur
secara jawab dalam leydig testis perkembangan sperma
perkembangan
keseluru serta proses
sekunder
han, dan Meningkatkan spermatogenesis tepatnya
tulang. dorongan seks di dalam tubulus
Meningkatkan seminiferus. Sedangkan
lonjakan masa LH akan menstimulasi
pubertas testis dalam mensintesis
Penutupan hormon testosteron yang
epifisis tulang tepatnya berlangsung di
panjang
dalam sel leydig atau sel
interstitial.

Testis dan Inhibisi Hipofisis Menghambat Peningkatan Apabila terlampau banyak


Ovarium Anterior sekresi FSH testosteron FSH yang dilepaskan oleh
dan estrogen HA (hipofisa anterior)

8
maka kadar spermatozoa
yang dihasilkan oleh
tubulus seminiferus dan
estrogen oleh folikel akan
semakin meningkat,
disinilah peranan enzim
inhibin dalam
menghambat tubulus
seminiferus dalam
menghasilkan
spermatozoa melalui
feedback negatif terhadap
HA (hipofisa anterior).

Ginjal Renin Zona Merangsang Penurunan Penurunan tekanan darah


(angiotensin) glomerul sekresi volume atau menstimulasi ginjal untuk
osa aldosteron tekanan mensekresi renin, renin
korteks darah mengubah protein plasma
adrenal angiotensinogen (yang
(dipengar disintesis hepar) menjadi
uhi oleh angiotensin I. Angiotensin
angiotens I diubah menjadi
in) yang angiotensin II oleh enzim
di yang ditemukan terutama
aktifkan dalam jaringan paru.
renin Angiotensin II
menyebabkan
vasokontriksi dan
perangsangan sekresi
aldosteron.

Eritroprotein Sum-sum Merangsang Penurunan Di dalam perangsangan


tulang produksi eritrosit jumlah produksi eritrosit sangat
oksigen bergantung dengan
dalam tubuh eritroprotein, yaitu suatu
akibat
glikoprotein yang di
hipoksia
ginjal. produksi sebagian besar
90 % di dalam sel epitel
tubulus ginjal dan 10 %-
nya di dalam hati.
Eritropoietin meningkat
ketika proses
pengoksigenasi ( jumlah
oksigen) didalam tubuh
menurun. Hal ini terjadi
karena proses kompensasi
atas kekurangan oksigen
dalam jaringan organ
tubuh. Pengeluaran
eritroprotein dari ginjal
dipicu karena darah yang
kaya oksigen dari kapiler
peritubular tidak dapat

9
mengirim oksigen ke sel
epitel tubulus ginjal
dimana epitel tubulus
ginjal memakai banyak
sekali oksigen. Selain
dipicu oleh hipoksia di
ginjal, pengeluaran juga
dipicu oleh epinefrin dan
norepinefrin serta
beberapa prostaglandin

Lambung Gastrin Kelenjar Merangsang Dirangsang Gastrin diproduksi oleh sel


eksokrin sekresi asam oleh sel G yang disebut dengan sel G,
lambung (HCL)
dan otot lambung di dinding lambung.Ketika
polos yang makanan memasuki
distensi lambung, sel G memicu
(perbesaran)s pelepasan gastrin dalam
etelah makan darah. Dengan
dan adanya meningkatnya gastrin
protein di
dalam darah, maka
dalam
makanan lambung mengeluarkan
asam lambung yang
membantu memecah dan
mencerna makanan. Ketika
asam lambung yang
diproduksi telah cukup
untuk memecah makanan,
kadar gastrin dalam darah
akan kembali menurun.
Jadi, pengaruh hormon ini
dalam adalah mengatur
pencernaan sebagai
perangsang sekresi terus-
menerus getah lambung.

Gastrin juga dapat


mempunyai pengaruh dan
peran pada pancreas, hati,
dan usus. Gastrin
membantu pancreas
memproduksi enzim untuk
pencernaan dan membantu
hati menghasilkan empedu.
Gastrin juga membantu
merangsang usus untuk
membantu memindahkan
makanan melalui saluran
pencernaan.

Duodenum Sekretin, Saluran Memudahkan Sekretin : Sekretin menyebabkan


koleistokinin, pencerna pencernaan dan suasana asam pankreas untuk

10
gastrik an, hati penyerapan. diusus mengirimkan cairan
inhibitori dan produksi asam Koleistokinin pencernaan yang kaya
peptida kandung amino atau asam : sel epitel akan bikarbonat.
empedu lemak, dan mukosa Bikarbonat ini membantu
merangsang Gastrik
menetralisir asam isi perut
kantong empedu inhibitori
untuk peptida : saat mereka memasuki
mengeluarkan suasana asam usus halus. Netralasisasi
empedu ke dalam di lambung asam penting karena
usus ketika enzim yang diperlukan
(koleisitokinin makanan untuk pencernaan di
dan gastrik hendak dalam usus halus tidak
inhibitori masuk ke
peptida) dapat bekerja dalam
usus
Untuk lingkungan yang asam.
menghambat Sekretin juga
gastrin (gastrik memperlambat pergerakan
inhibitori makanan dari lambung ke
peptida) usus halus,
memungkinkan waktu
yang cukup untuk
mencerna makanan yang
sudah berada di usus
halus.

Hati Trombopoieti Sum-sum Mengendalikan Dirangsang Ketika terjadinya luka,


n tulang pembentukan oleh adanya maka trombosit pecah,
keping darah vitamin K lalu menghasilkan
(protrombin) trombin. Trombin
memerlukan protrombin.
Protrombin dibuat dihati
dan untuk proses
pembuatannya dibutuhkan
vitamin K. Dalam
pembentukan ternyata
dibantu oleh hormon
sehingga berjalan dengan
lancar dan terkendali.

Jantung peptida Tubulus Menghambat Kadar Saat tekanan darah


nutriuretik ginjal reasorpsi natrum meningkat, denyut jantung
atrium atau natrium, dalam darah meningkat dan
atrial antagonis tinggi atau berkontraksi, untuk itu
terhadap sesuai.
nutriuretik sekresi hormon peptida
aldosteron Volume dan
hormon tekanan nutriuretik atrium
(ANH) darah tinggi mengurangi resorpsi
natrium oleh ginjal
sehingga air dan natrium
akan diekskresikan oleh
ginjal.

11
Gambar Anatomi Hormon Pada Manusia

12
2.4 Susunan Interaksi Hormon

1. Hormon dan Pertumbuhan


Beberapa hormon pertumbuhan dan perkembangan pada manusia :
a) Hormon tiroksin, dihasilkan oleh kelenjar gondok/tiroid. Hormon ini
memengaruhi pertumbuhan, perkembangan mental, dan metabolisme karbohidrat dalam
tubuh..
b) Hormon pertumbuhan (Growth hormon - GH), hormon ini dihasilkan oleh
hipofisis bagian depan. Hormon ini disebut juga hormon somatotropin (STH).
Peranannya adalah memengaruhi kecepatan pertumbuhan seseorang. Seorang anak
tidak akan tumbuh dengan normal jika kekurangan hormon pertumbuhan. GH
meningkatkan transpor amino ke dalam sel dan meningkatkan sintesis protein. Hormon
ini merangsang jaringan untuk pembelahan mitosis. Sekresi GH dipengaruhi oleh 2
releasing hormone yaitu GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone, yang
meningkatkan sekresi GH, diproduksi selama keadaan hipoglikemia dan ketika
olahraga, dan ketika asam amino tinggi, yang akan diubah menjadi protein. Selain itu
bahwa Growth Hormone Inhibiting Hormone (GHIH), hormon ini menurunkan sekresi
GH.
c) Hormon testosteron, mengatur perkembangan organ reproduksi dan munculnya
tanda-tanda kelamin sekunder pada pria.
d) Hormon estrogen/progresteron, mengatur perkembangan organ reproduksi dan
munculnya tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita.

2. Hormon dan Stres.


Stress adalah respon non spesifik dari badan terhadap setiap tuntutan yang dibuat
atasnya. Reaksi pertama terhadap setiap jenis stress adalah kecemasan. Selanjutnya,
kecemasan itu akan diikuti oleh tahap perlawanan dan pengerahan kimiawi dari sitem
pertahanan tubuh.Sumber stress atau penyebab stress dikenali sebagai stressor. Stressor
dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
i. Stressor fisik biologis adalah sressor yang bersumber dari fisik seseorang.
Misalnya dingin, panas, infeksi dan rasa nyeri.
ii. Stressor psikologis adalah stressor yang bersumber dari psikis, misalnya takut,
khawatir, cemas, marah, kesepian dan lain-lain.

13
iii. Stressor sosial budaya adalah stressor yang bersumber dari kultur yang
melatarbelakangi kehidupan seseorang, misalnya perceraian, perselisihan,
pengangguran dan lain-lain.
Penyebab stress juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu penyebab eksternal dan
internal. Penyebab eksternal misalnya kondisi fisik yang kurang baik dan lingkungan yang
tidak menyenangkan. Sedangkan penyebab internal dapat berhubungan dengan kondisi
fisik maupun psikis. Kondisi fisik yang dapat menjadi penyebab stress antara lain infeksi,
radang. Sedangkan kondisi psikis yang dapat menyebabkan stress misalnya kecemasan
yang berlebihan terhadap suatu keadaan, baik yang sudah terjadi maupun yang akan
mungkin terjadi. Bila stress terjadi secara berkepanjangan dan tidak mendapatkan
penanganan dengan baik, maka akan mengakibatkan terjadinya kerugian pada beberapa
aspek, antara lain :
i. Akibat fisik, dapat terjadi beberapa penyakit fisik yang terkait dengan kondisi
stress, misalnya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) akibat
peningkatan tekanan darah serta peningkatan kadar gula darah yang dapat
merusak jantung dan pembuluh darah. Selain itustres juga dapat mengakibatkan
ganggguan pada saluran pernapasan, saluran pencernaan, pertumbuhan jaringan
dan tulang, nyeri kepala, ketegangan otot dan penurunan system ekkebalan tubuh
yang dapat mengakibatkan tubuh menjadi rentan terhadap infeksi.
ii. Akibat emosional, dapat terjadi kecemasan akibat terus menerus mempersepsikan
akan adanya ancaman atau bahkan depresi, dimana orang yang bersangkutan
cenderung mengisolasi doro dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.
iii. Akibat pada perilaku, dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan
mengalihkan perhatian pada aktivitas-aktivitas yang merugikan, misalnya
merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, mengkonsumsi alcohol, makan
berlebihan tanpa control yang kesemuanya dapat berakibat buruk bagi tubuh.
Reaksi fisiologis terhadap stres adalah ketika tubuh bereaksi terhadap stressor yang
memulai seurutan kompleks respons bawaan terhadap ancaman yang dihadapi. Jika
ancaman dapat dipecahkan dengan segera respon darurat tersebut menghilang, dan kondisi
fisiologis kembali normal. Jika situasi stress terus terjadi, timbul respon inteernal sebagai
upaya untuk beradaptasi dengan stressor. Jenis stressor apapun, secara otomatis
megakibatkan tubuh mempersiapkan diri untuk menangani keadaan darurat tersebut.
Kondisi ini dinamakan respon melawan atau melarikan diri. Pada saat ini dibutuhkan

14
energi yang cepat sehingga hati melepaskan lbih banyak glukosa untuk dijadikan sebagai
sumber energi.
Metabolisme meningkat sebagai persiapan untuk pemakaian energi, terjadi
peningkatan kecepatan denyut jatung, peningkatan tekanan darah dan peningkatan
pernafasan. Demikian pula endofrin disekresikan, sel darah merah lebih banyak dilepaskan
untuk membantu membawa oksigen, dan sel darah putih dihasilkan lebih banyak untuk
melawan infeksi.
Sebagian besar perubahan psikologis tersbut terjadi akibat ativitas dari dua sistem
neuro endokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus, yaitu sistem simpatetik dan sistem
korteks adrenal. Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang menjadi pusat stress
karena fungsi gandanya dalam keadaan darurat, yaitu: pertama adalah mengaktivasi
cabang simpatis dari sistem saraf otonom. Cabang simpatis dari sistem saraf otonom
bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk menghaslkan beberapa
perubahan dalam tubuh. Sistem simpatis juga menstimulasi medula adrenal untuk
melepaskan hormon epinefrin dan norepirefrin. Kedua, hipotalamus melakukan aktivasi
sistem korteks adrenal dengan mengirim sinyal ke kelenjar hipofisis agar mensekresikan
adrenocorticotropin (ACTH). ACTH menstimulasi lapisan luar kelenjar adrenal (korteks
adrenal) yang menyebabkan pelepasan sekelompok hormon (kortisol) yang meregulasi
kadar glukosa dan mineral tertentu di dalam darah. Jumlah kortisol di dalam sampel darah
atau urin seringkali digunakan sebagai parameter stres. ACTH juga memberi sinyal
kelenjar endokrin lain untuk melepaskan sekitar 30 hormon, masing-masingnya memiliki
peranan dlam menyesuaikan tubuh terhadap situasi darurat.
Respon hormonal tubuh pada awal mula stress adalah respon fight and flight,
yaitu bertahan atau melawan. Dapat diartikan bila berhadapan dengan suatu ancaman,
tubuh akan mudah terangsang melalui system saraf simpatetik dan system endokrin.
Respon yang muncul adalah meningkatnya detak jantung, tekanan darah, gula darah, dan
pernafasan; berkurangnya peredaran darah ke kulit; dan meningkatnya peredaran darah ke
otak. Saat stres, beberapa kadar hormon meningkat dalam tubuh. Ada 3 hormon stres yang
menyebabkan kondisi tersebut terjadi serta contohnya, yaitu:
Adrenalin
Dinamakan juga sebagai epinephrine yang diproduksi oleh kelenjar adrenal,
bersama hormon kedua (noradrenalin/ norepinephrine), bertanggung jawab
terhadap efek instan ketika ada rangsangan stres. Seperti ketika akan pindah jalur di
jalan tol, tiba-tiba Anda menyadari ada mobil dengan kecepatan tinggi melaju pada
15
jalur tersebut. Respon Anda adalah kembali ke jalur semula, tapi sesuatu terjadi
pada tubuh Anda: jantung Berdegup kencang, otot menjadi tegang, nafas memburu,
dan keluar keringat di tubuh Anda. Kondisi tersebut membuat Anda mampu
bereaksi lebih cepat dari fikiran Anda untuk menghindari kecelakaan. Itu adalah
efek adrenalin. Setelah kondisi stres mereda, kadar adrenalin dalam tubuh pun
segera berkurang.
Noradrenalin
Selain diproduksi oleh kelenjar adrenal, noradrenalin juga diproduksi oleh otak
kita. Kerja hormon ini adalah back up dari kerja adrenalin yang membuat kita
menjadi lebih bangun dan sadar kemudian menjadi lebih fokus dan lebih
responsif. Yang dilakukannya adalah mengatur aliran darah untuk daerah-daerah
yang lebih krusial untuk bertindak seperti otot, dan mengurangi aliran ke daerah
yang kurang penting seperti organ reproduksi. Tidak seperti adrenalin, dibutuhkan
waktu beberapa jam sampai dua hari untuk menurunkan kadar noradrenalin bila
terjadi suatu rangsang stres yang panjang.
Cortisol
Merupakan hormon golongan steroid yang juga diproduksi oleh kelenjar adrenal.
Bila ada rangsangan stres yang bersifat lama, dengan sistem kompleks di otak kita,
tubuh akhirnya melepaskan hormon ini ke dalam peredaran darah. Hormon inilah
yang membuat seseorang tidak bisa tidur bila stres. Dia akan melepaskan asam
amino dari otot sehingga tubuh mendapatkan ekstra energi. Selain menyebabkan
berbagai penyakit, efek dari cortisol bila hadir terlalu lama akan menurunkan
kemampuan belajar dan daya ingat, mencetus insomnia, menurunkan libido,
merangsang jerawat, menyebabkan gangguan jiwa dan depresi; yang pada
ujungnya menurunkan angka harapan hidup kita.

3. Hormon dan Sifat

Pola laku makhluk hidup tidak terlepas dari sifat biokimia tubuh. Pada hewan,
perilaku dipengaruhi kelenjar hormon, sedangkan perilaku manusia banyak dipengaruhi
oleh pendidikan, pengalaman, latar belakang dan lingkungan keagamaan.

EMOSI.
Yang mempengaruhi emosi adalah hormon adrenalin dan noradrenalin yang dihasilkan

16
oleh kelenjar adrenalin yang menempel pada bagian atas ginjal. Kelebihan produksi
hormon ini akan menimbulkan gejala-gejala psikologis negatif seperti panik, takut,
murung, sedih berkepanjangan, cemas, kehilangan pegangan dan terharu tanpa sebab.
Emosi tersebut dapat berlanjut pada sikap marah, berang, berani tidak terkendali bila
diiringi perilaku agresif.
AGRESIF.
Yang memegang peranan penting dalam perilaku agresif adalah hormon vasopresin.
Hormon ini diproduksi oleh kelenjar hipofosis yang berada di bawah otak. Tidak
terkendalinya hormon ini akan meningkatkan agresifitas yang negatif misalnya
perilaku perkosaan. Hormon vasopresin memiliki efek yang kurang baik, yaitu
memaksa pembuluh darah kecil berkontraksi (mengerut). Pengerutan ini bertahan lama,
terutama terhadap pembuluh darah jantung koroner. Oleh karena itu, orang yang bertipe
agresif cenderung terkena serangan jantung dan stoke.
PERILAKU SOSIAL.
Hormon bulbus olfaktorius, yang letaknya di bagian otak, adalah hormon pengatur
perilaku sosial. Homon ini diproduksi sepanjang hidup manusia, terbanyak yaitu ketika
menginjak usia reproduksi yang diawali dengan masa pubertas. Oleh karena itu, pada
masa remaja ini ada kecenderungan berperilaku reproduksi, yaitu kecenderungan
mencari teman dari lawan jenis.
PERILAKU KEIBUAN.
Insting keibuan dipengaruhi oleh hormon oksitosin yang dikeluarkan oleh kelenjar
hipofisis. Hormon oksitosin akan memacu produksi hormon prolaktin. Peningkatan
hormon oksitosin dipengaruhi hormon steroid yang dikeluarkan oleh organ-organ
reproduksi atau indung telur.
PERILAKU REPRODUKSI dan SEKSUAL.
Hormon yang berkaitan dengan perilaku reproduksi dan seksualitas dihasilkan oleh
organ indung telur dan testis serta kelenjar hipofisis. Hormon-hormon tersebut berperan
sebagai pembeda jenis kelamin pada awal kehidupan janin dan sebagai pelestari
manusia ketika memasuki tahap reproduksi. Keseimbangan mekanisme hormon akan
berdampak bagi perilaku positif, yaitu perilaku benar dan terkendali.
a) Perubahan Perilaku hormon pada Wanita
o Siklus Menstruasi bulanan: Selama siklus menstruasi pada wanita, kadar
hormon seperti follicle stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH),

17
estrogen dan progesteron terlihat berfluktuasi. Fluktuasi ini menyebabkan
berbagai perubahan perilaku, yang menunjukkan bahwa wanita akan melalui
siklus ovulasi. Studi menunjukkan bahwa sebagai perempuan dekat siklus
ovulasi mereka, mereka akan makan lebih sedikit dan memiliki hasrat seksual
yang lebih besar. Mereka lebih memperhatikan laki-laki, menjadi lebih genit dan
berpakaian seksi untuk menarik lawan jenis. Semua ini terjadi sebagai akibat
dari fluktuasi hormonal yang terjadi selama menstruasi.
o Kehamilan: Perubahan hormon selama kehamilan juga terlihat untuk
mempengaruhi perilaku dengan cara yang besar. Hal ini menyebabkan
keengganan makanan, kelelahan ekstrim, sembelit, mual, muntah, dll Tubuh
melepaskan berbagai tingkat hormon untuk menampung dan merawat bayi, yang
mengapa perubahan ini terlihat terjadi dalam tubuh. Perubahan suasana hati juga
dilihat sebagai akibat dari perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh. Wanita
hamil menjadi sangat mudah marah dan marah pada bahkan pemicu sedikit.
Mereka bahkan menangis tiba-tiba, setelah bahagia semenit yang lalu. Semua
gejolak emosional ini dikaitkan dengan peningkatan produksi hormon.
o Hormon estradiol, yang merupakan bentuk utama dari estrogen diproduksi
dalam jumlah besar selama kehamilan. Hormon lainnya yang dihasilkan selama
kehamilan progesteron, human chorionic gonadotropin (HCG), relaxin, dll
Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa wanita hamil memiliki
kemampuan yang lebih besar untuk membaca emosi di wajah orang-orang. Pada
hari-hari ketika tingkat hormon progesteron yang lebih tinggi, wanita hamil
lebih baik dapat mengidentifikasi emosi dari rasa takut dan jijik.
o Setelah Melahirkan: Tingkat hormon yang terlihat melonjak selama kehamilan
terlihat jatuh dengan cepat, setelah anak lahir. Penurunan ini tiba-tiba tingkat
hormon juga diketahui menyebabkan depresi postnatal pada beberapa
perempuan. Sementara semua wanita yang sedikit emosional rentan setelah
melahirkan, beberapa serangan yang parah pengalaman perubahan hormonal
yang ujung tombak depresi. Sementara apa sebenarnya yang menyebabkan hal
ini tidak diketahui, faktor-faktor tertentu yang menyebabkan kondisi ini adalah
kurangnya dukungan keluarga, masalah hubungan, masalah keuangan, masalah
menyusui, kelelahan ekstrim dan kelelahan, dll Mereka yang pernah melahirkan
bayi prematur atau bayi dengan kesehatan masalah atau kelainan bentuk sering

18
terlihat untuk terjebak dalam depresi. Dalam kasus ekstrim, seseorang dikatakan
dalam psikosis pasca-persalinan.
o Menopause: Dibandingkan dengan pria, wanita lebih mungkin untuk masuk ke
depresi besar pada tahun-tahun sebelum menopause. Tepat sebelum serangan
menopause, kadar hormon terus memantul atas dan ke bawah dan secara
bertahap ovarium menghentikan produksi hormon seperti progesteron, estrogen
dan testosteron. Sebagai hasil dari perubahan hormonal, perempuan akan
melalui pengalaman fase ini gejala menopause seperti hot flushes, keringat
malam, gangguan tidur, ketidakteraturan menstruasi dan perubahan kelamin.
Perempuan juga diamati lebih rentan terhadap tergelincir ke dalam depresi
karena fluktuasi hormon.
o Atlet Wanita: Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika atlet perempuan
dalam panas persaingan, tubuh mereka mengeluarkan lebih banyak testosteron
dibandingkan pada wanita non-atletik.

b) Perubahan Perilaku hormon pada Pria


Seperti pada wanita, pria juga pergi melalui siklus perubahan hormonal.
Hormon laki-laki testosteron siklus setiap 15 sampai 20 menit, serta dalam
puncak bulanan dan musiman dan berperan dalam fungsi ereksi, hasrat seksual
gairah dan fluktuasi suasana hati, yang dapat berbeda dari satu hari ke hari
lainnya. Meskipun pria juga memiliki waktu tertentu selama bulan bahwa
mereka merasa terangsang secara seksual, mereka biasanya bekerja di sekitar
respon seksual pasangan perempuan mereka dan fluktuasi hormon. Hormon ini,
testosteron juga bertanggung jawab untuk bos kesal, mitra bola tangan yang
sangat kompetitif dan suami menyendiri. Terlalu banyak testosteron dapat
menyebabkan pria menjadi sangat agresif dan mudah marah.
Lalu ada menopause laki-laki atau andropause, dimana, kadar hormon
testosteron pria menurun tiap tahun, dari usia 40. Penurunan hasil dalam gejala
seperti dorongan seks rendah, perubahan suasana hati, kelelahan, dll Pria akan
melalui andropause juga mengembangkan tertarik pada urusan hal yang terjadi
di sekitar mereka.

19
4. Penuaan dan Produksi
Sebagian besar kelenjar endokrin akan mengalami penurunan sekresinya sejalan
dengan pertambahan usia, tetapi penuaan yang normal biasanya tidak menyebabkan
defisiensi hormon pada korteks adrenal, tetapi kadar hormon biasanya cukup untuk
mempertahankan homeositas air, elektrolit, dan nutrien. Penurunan sekresi hormon
pertumbuhan menyebabkan penurunan massa otot dan peningkatan simpanan lemak. laju
metabolik basal yang rendah umumnya terjadi pada lansia karena tiroid memperlambat
sekresi tiroksinnya. Namun, sistem endokrin biasanya akan terus berfungsi dengan kuat
sampai usia lanjut kecuali ada perubahan patologis tertentu.

Menurut Nugroho (1995), perubahan yang terjadi pada lansia yaitu :


a. Produksi hampir semua hormon menurun
b. Penurunan kemampuan mendeteksi stres
c. Konsentrasi glukosa darah meningkat dan tetap naik lebih lama dibandingkan
dengan orang yang lebih muda
d. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
e. Penurunan kadar esterogen dan peningkatan kadar follice stimulating hormone
selama menopause, yang menyebabkan thrombosis dan osteoporosis
f. Penurunan kadar progesteron
g. Penurunan kadar aldesteron serum sebanyak 50%
h. Penurunan laju sekresi kortisol sebanyak 25%

Dalam Nugroho (1995), penyakit metabolik pada lanjut usia terutama disebabkan
oleh karena menurunnya produksi hormon dari kelenjar-kelenjar hormon. Pria dan wanita
pada akhir masa dewasa memasuki apa yang dinamakan kimakterium; perubahan-
perubahan dalam keseimbangan hormonal yang menyebabkan berkurangnya kekurangan
hormon seks. Menurunnya produksi hormon ini antara lain terlihat pada wanita mendekati
usia 50 tahun, yang ditandai mulainya menstruasi yang tidak teratur sampai berhenti sama
sekali (menopouse), prosesnya merupakan proses ilmiah.Pada pria proses tersebut
biasanya terjadi secara lambat laun dan tidak disertai gejala-gejala psikologis yang luar
biasakecuali sedikit kemurungan dan rasa lesu serta berkurangnya kemampuan
seksualitasnya.
Terdapat pula penurunan kadar hormon testosteronnya. Dalam Baziad (2003), pada
laki-laki tua, testis masih berfungsi memproduksi sperma dan hormon testosteron

20
meskipun jumlahnya tidak sebanyak usia muda. Pada wanita produksi estrogen berhenti
mendadak, sedangkan pada laki-laki dengan meningkatnya usia produksi testosteron turun
perlahan-lahan, sehingga membuat definisi andropouse pada laki-laki sedikit sulit. Kadar
hormon testosteron sampai dengan usia 55-60 tahun relatif stabil dan baru setelah usia 60
tahun terjadi penurunan yang berarti.
2.5 Integrasi dengan Sistem Lain

Sistem Keterangan
Seluruh Sistem Tubuh Bersama-sama dengan sistem saraf, hormon dari sistem endokrin
mengatur aktivitas dan pertumbuhan sel target seluruh tubuh.
Beberapa hormon mengatur metabolisme, penyerapan glukosa
dan molekul yang digunakan untuk produksi ATP oleh sel-sel
tubuh.
Sistem Integumen Androgen merangsang pertumbuhan rambut aksila dan pubis dan
aktivitas kelenjar sebasea. Hormon penstimulasi melanosit (MSH)
bisa menyebabkan penggelapan kulit.
Sistem Rangka Hormon pertumbuhan manusia (HGH) dan faktor pertumbuhan
mirip insulin (IGFs) merangsang pertumbuhan tulang. Estrogen
menyebabkan penutupan lempeng epifisis pada akhir pubertas dan
membantu memelihara massa tulang pada orang dewasa. Hormon
paratiroid (PTH) meningkatkan pelepasan kalsium dan mineral
lainnya dari matriks tulang ke dalam darah. Hormon tiroid
dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan normal dari
tulang. Selain itu, estrogen juga membantu dalam menekan
reasorpsi tulang dan progesteron merangsang remodelling tulang.
Sistem Otot/Mascular Epinefrin dan norepinefrin membantu meningkatkan aliran darah
ke otot yang berolahraga. PTH mempertahankan kadar yang tepat
dari Ca2+ dalam darah dan cairan interstisial, yang diperlukan
untuk kontraksi otot. Glukagon, insulin dan hormon lainnya
mengatur metabolisme dalam serat otot. IGFs, hormon tiroid, dan
insulin merangsang sintesis protein dan dengan demikian
membantu memelihara massa otot.
Sistem Saraf Beberapa hormon, khusunya hormon tiroid, insulin dan IGFs
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf.

Sistem Eritropoietin meningkatkan produksi sel darah merah. Aldosteron


Kardiovaskuler dan hormon antidiuretik (ADH) meningkatkan volume darah.
Epinefrin dan norepinefrin meningkatkan denyut jantung dan
kekuatan kontraksinya. Beberapa hormon meningkatkan tekanan
darah selama latihan dan stres lainnya. ANP menurunkan tekanan
darah, bekerja antagonis terhadap andosteron.

21
Limfatik Dan Sistem Glukokortikoid seperti kortisol menekan peradangan dan respons
Imun imun. Hormon dari timus meningkatkan pematangan sel T, suatu
jenis sel darah putuh yang ikut serta dalam respons imun.
Sistem Respirasi Epinefrin dan norepinefrin melebarkan jalan nafas selama latihan
dan stres lainnya. Eritrosit mengatur jumlah oksigen yang dibawa
dalam darah dengan menyesuaikan jumlah sel darah merah.
Sistem Pencernaan Epinefrin dan norepinefrin menekan aktivitas sistem pencernaan.
Gastrin, kolesistokinin, sekretin dan GIP membantu mengatur
pencernaa. Kalsitriol meningkatkan penyerapan kalsium makanan.
Leptin menekan nafsu makan. Lalu, hormon gastrin juga berperan
dalam merangsang HCL, dan hormon intestine yang sudah
disebutkan sebelumnya juga membantu proses pencernaan.
Sistem Perkemihan ADH, aldosteron dan atrial natriuretik peptida (ANP) mengatur
tingkat kehilangan air dan ion dalam urine, dengan demikian
mengatur volume darah dan kadar ion dalam darah.

Sistem Reproduksi Hormon pelepas dan penghambat hipotalamus, FSH, dan LH


mengatur perkembangan,pertumbuhan dan sekresi dari gonad
(ovarium dan testis). Estrogen dan testoteron berkontribusi pada
perkembangan oosit dan sperma serta menstimulasi
perkembangan dari karakteristik seksual. Prolaktin meningkatkan
produksi susu di dalam kelejar payudara. Oksitoksin
menyebabkan kontraksi rahim dan pengeluaran ASI dari kelenjar
susu.
2.6 Gangguan Kesehatan Pada Sistem Hormon

1.Penyakit Addison
Terjadi karena sekresi yang berkurang dari glukokortikoid. Hal ini dapat terjadi
misalnya karena kelenjar adrenal terkena infeksi atau oleh sebab autoimun.
Gejala gejalanya berupa :
a.Berkurangnya volume dan tekanan darah karena turunnya kadar Na+ dan volume air
dari cairan tubuh.
b.Hipoglikemia dan turunnya daya tahan tubuh terhadap stress, sehingga penderita
mudah menjadi shock dan terjadi kematian hanya karena stress kecil saja misalnya flu
atau kelaparan.
c.Lesu mental dan fisik.

2.Sindrom Cushing

22
Kumpulan gejala gejala penyakit yang disebabkan oleh sekresi berlebihan dari
glukokortikoid seperti tumor adrenal dan hipofisis. Juga dapat disebabkan oleh pemerian
obat obatan kortikosteroid yang berlebihan.
Gejalanya berupa:
a.Otot otot mengecil dan menjadi lemah karena katabolisme protein.
b.Osteoporosis
c.Luka yang sulit sembuh
d.Gangguan mental.

3.Sindrom Adrenogenital
Kelainan dimana terjadi kekurangan produksi glukokortikoid yang biasanya akibat
kekurangan enzim pembentuk glukokotikoid pada kelenjar adrenal. Akibatnya kadar
ACTH meningkat dan zona retikularis dirangsang untuk mensekresi androgen yang
menyebabkan timbulnya tanda tanda kelainan sekunder pria pada seorang wanita yang
disebut virilisme yang timbulnya janggut dan distribusi rambut seperti pria, otot otot
tubuh seperti pria, perubahan suara, payudara mengecil, klitoris membesar seperti penis
dan kadang kadang kebotakan. Pada pria di bawah umur timbul pubertas perkoks, yaitu
timbulnya tanda tanda kelamin sekunder di bawah umur. Pada pria dewasa gejala
gejala diatas tertutup oleh tanda tanda kelamin sekunder normal yang disebabkan oleh
testosterone. Tetapi bila timbul sekresi berlebihan dari estrogen dan progesterone timbul
tanda tanda kelamin sekunder wanita antara lain yaitu ginaekomastia (payudara
membesar seperti pada wanita).

4.Peokromositoma
Tumor adrenal medulla yang menyebabkan hipersekresi adrenalin dan noradrenalin
dengan akibat sebagai berikut:
a.Basa metabolisme meningkat
b.Glukosa darah meningkat
c.Jantung berdebar
d.Tekanan darah meninggi
e.Berkurangnya fungsi saluran pencernaan
f.Keringat pada telapak tangan

6.Diabetes Mellitus (DM)


23
Penyakit yang disebabkan oleh kelainan hormon yang mengakibatkan sel sel
dalam tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari darah. Penyakit ini timbul ketika dalam
darah tidak terdapat cukup insulin dalam darah. Pada kedua hal tersebut, sel sel tubuh
tidak mendapat cukup glukosa daridarah sehingga kekurangan energi dan akhirnya terjadi
pembakaran cadangan lemak dan protein tubuh. Sementara itu, system pencernaan tetap
dapat meyerap glukosa dari makanan sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi sangat
tinggi dan akhirnya diekskresi bersama urin. Penderita DM dapat meninggal karena
penyakit yang dideritanya atau karena komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini,
misalnya penyakit ginjal, gangguan jantung dan gangguan saraf.
DM terdapat dua macam tipe yaitu DM Tipe I (insuline dependent) yaitu diabetes
yang timbul akibat dari kerusakan sel sel beta pancreas karena infeksi virus atau
kerusakan gen. Gen adalah materi genetic yang membawa sifat sifat yang diturunkan.
Diabetes tipe I biasanya timbul sebelum penderita berusia 15 tahun. Penderita
membutuhkan suplemen insulin yang diberikan dengan cara penyuntikan.
DM tipe II timbul karena sel sel tubuh tidak mampu bereaksi terhadap indulin
walaupun sel sel beta pancreas memproduksi cukup insulin. Penyakit ini bersifat
mneurun dan merupakan akibat kerusakan gen yang mengkode reseptor insulin pada sel.
Biasanya DM tipe II berasosiasi dengan kegemukan dan baru timbul setelah penderita
berusia 40 tauhn. Penyakit ini dapat dikontrol dengan pengaturan konsumsi gula dan
mengurangi berat badan. Selain itu dianjurkan untuk mengurangi konsumsi lemak dan
garam.
Cara mendeteksi diabetes, gejala awal diabetes ialah penderita merasa lemas, tidak
bertenaga, ingin makan yang manis, sering buang air kecil, dan mudah sekali merasa haus.
Kombinasi dari gejala gejala di atas serta memiliki kerabat yang juga menderita diabetes
mengharuskan seseorang melakukan tes toleransi glukosa. Pada tes toleransi glukosa
diharuskan minum larutan gula kemudian kadar glukosanya diukur pada tiap interval
waktu.

7.Hipotiroidea
Keadaan dimana terjadi kekurangan hormone tiroid. Bila terjadi pada masa bayi
dan anak, hipotiroidea menimbulkan kretinisme yaitu tubuh menjadi pendek karena
pertumbuhan tulang dan otot tersumbat, disertai kemunduran mental karena sel sel otak
kurang berkembang. Anak yang keratin memiliki muka bulat, perut buncit, leher pendek,
dan lidah yang besar. Kretinisme dapat diobati dengna pemberian hormone tiroid asalkan

24
tidak terlambat. Bila terjadi pada orang dewasa, hipotiroidea menimbulkan miksedema.
Gejala gejala berupa kulit tebal, muka bengkak, rambut kasar, mudah gemuk, lemah,
denyut jantung lambat, suhu tubuh rendah, lamban secara fisik atau mental. Hipotiroid
dapat terjadi bila terdapat defisiensi yodium pada makanan. Hal ini dapat dihindarkan
dengan mengkonsumsi garam beryodium.

8.Hipertiroidea
Keadaan dimana hormone tiroid disekresikan melebihi kadar normal. Gejala
gejalanya berupa berat badan menurun, gemetaran, berkeringat, nafsu makan besar,
jantung berdebar.Hipertiroidea paling sering terdapat pada penyakit Graves, suatu penyakit
auto imun dimana terbentuk antibody (thyroid stimulating antibody, TSA6) terhadap
reseptor TSH pada sel sel tiroid, mengaktifkan reseptor reseptor. Ini, maka kadar T4
dan T3 darah meninkat. Penyakit Graves juga disertai dengan goiter (struma,
pembengkakan kelenjar tiroid, dan penonjolan bola mata (eksoptalmus) yang disebabkan
oleh reaksi radang terhadap imun kompleks pada otot bola mata eksternal dan jaringan
sekitar bola mata.

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hormon adalah zat kimia dalam bentuk senyawa organic yang dihasilkan oleh kelenjar
endokrin. Hormon mengatur aktivitas seperti : metabolisme, reproduksi, pertumbuhan, dan
perkembangan.
Hormon mengatur aktivitas seperti metabolisme, reproduksi, pertumbuhan dan
perkembangan. Pengaruh hormon dapat terjadi dalam beberapa detik, hari, minggu, bulan,
dan bahkan beberapa tahun. Kelenjar endokrin disebut juga kelenjar buntu karena hormon
yang dihasilkan tidak dialirkankan melalui suatu saluran tetapi langsung masuk kedalam
pembuluh darah. Hormon dari kelenjar endokrin mengikuti peredaran darah ke seluruh
tubuh hingga mencapai organ organ tertentu. Meskipun semua hormone mengadakan
kontak dengan semua jaringan dalam tubuh, namun hanya sel / jaringan yang mengandung
reseptor yang spesifik terhadap hormon tertentu yang terpengaruh hormon tersebut.
Kelenjar dalam tubuh manusia dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :
Kelenjar eksokrin yaitu kelenjar yang mempunyai saluran khusus dalam
penyaluran hasil sekretnya/getahnya.
Contoh : kelenjar-kelenjar pencernaan.
Kelenjar endokrin yaitu kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus
dalam penyaluran hasil sekretnya/getahnya.
Contoh : kelenjar hipofisis, thyroid, thymus dll.
Di dalam tubuh manusia ada beberapa jenis kelenjar endokrin, yakni kelenjar
hipofisis, tiroid, paratiroid, timus, pankreas, adrenal, ovarium, testis, dan kelenjar
pencernaan.

3.2 Saran
Kepada mahasiswa, hendaknya makalah ini dapat berguna dan bermanfaat dalam
menambah pengetahuan maupun dalam mempratekkan ilmu yang telah tertuang
didalamnya.

26
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2013. http://nikenkusumawardanikenny.blogspot.co.id/2013/03/makalah-biologi-
sistem-hormon.html. Diakses pada 27 November 2016.
Sanders, Tina. Dkk. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. 2006. Jakarta: EGC
Syaifuddin.2011. Anatomi Fisiologi. Jakarta :EGC

27