Anda di halaman 1dari 2

TANGGAPAN TERHADAP GAGALNYA PEMBANGUNAN: MEMBACA

ULANG KERUNTUHAN ORDE BARU


Cava T.S. Bramono (NPM: 1306384353)

Masa orde baru 1966-1998 menjadi masa di mana penggunaan istilah pembangunan
menjadi sangat populer. Secara makro, ketika membahas pemerintahan orde baru, maka
kita dapat langsung mengasosiasikannya dengan pertumbuhan ekonomi, swasembada
pangan, dan berbagai peristiwa, kebijakan, maupun data-data yang kental dengan nuansa
pembangunan. Di luar berbagai kontroversi mengenai pemerintahannya yang otoriter,
Soeharto - sang pemimpin rezim orde baru - kerap kali disebut bapak pembangunan.
Namun fakta sejarah tidak bisa dielakkan bahwa pada akhirnya, rezim
pembangunan ini runtuh setelah 32 tahun kekuasaannya. Terpaan krisis moneter yang
muncul sejak 1997 memicu perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan
yang berujung pada turunnya Presiden Soeharto yang menandai berakhirnya orde baru.
Di balik berbagai kejayaan dan pertumbuhan - khususnya dalam bidang ekonomi -
ternyata negara dibawa menuju kehancuran dan pada akhirnya rakyatlah yang dirugikan.
Andrinof A. Chaniago, dalam buku Gagalnya Pembangunan: Membaca Ulang
Keruntuhan Orde Baru mencoba memaparkan dengan komprehensif apa yang
sebenarnya menjadi permasalahan dalam pembangunan orde baru yang akhirnya
berujung pada keruntuhannya. Buku terbitan LP3ES ini memuat pandangannya
mengenai faktor-faktor penyebab gagalnya pembangunan orde baru, antara lain struktur
ekonomi yang rapuh, sistem sosial yang juga rapuh, hancurnya beberapa modal sosial
akibat kebijakan pembangunan yang hiperpragmatis dan sikap pemimpin yang tidak mau
mengubah sistem politik pada saat sangat diperlukan.
Lebih jelas lagi, secara historis kemunculan faktor-faktor tersebut dipaparkan
dalam Bab 2: Sejarah Gagalnya Pembangunan Orde Baru. Sejarah 32 tahun
pembangunan orde baru yang berujung pada kehancuran diperiodisasikan dalam empat
episode utama. Episode pertama, ditandai dengan konsolidasi, rehabilitasi, dan
stabilisasi strukutur ekonomi dan politik. Kebijakan pada periode sekitar 1966 sampai
dengan 1970 ini memfokuskan pada potensi ekonomi yang paling mudah untuk
diproduksi, dan hubungan patron-klien yang mulai dibentuk oleh beberapa pengusaha
swasta tertentu dengan elit birokrasi pemerintahan. Episode kedua, adalah masa
melonjaknya pemasukan negara secara drastis akibat sektor minyak. Pada episode ini,
negara melakukan etatisme dengan mendominasi perekonomian. Ketika harga minyak
mulai anjlok pada awal 1980-an, keterpurukan perekonomian Indonesia mulai dirasakan.
Hal itu menandai dimulainya episode ketiga di mana pemerintah dituntut untuk
melakukan penyesuaian struktural melalui berbagai deregulasi yang nyatanya juga tidak
efektif.
Episode keempat gagalanya pembangunan orde baru, merupakan masa bergerak
menuju hiperpragmatisme pemerintah yang ditunjukkan dalam berbagai kebijakan-
kebijakannya yang merugikan. Berbagai kebijakan tersebut, seperti swastanisasi
kawasan industri menjadi bisnis lahan, memacu pertumbuhan ekonomi melalui
konsumtifisme, pembangunan perumahan rakyat yang justru tidak memihak rakyat, dan
pembangunan jalan tol dalam kota, lebih detil lagi dijelaskan dengan sangat baik dan
mendalam pada bab-bab berikutnya.
Kajian mengenai kesalahan-kesalahan dalam proses pembuatan kebijakan publik
masa lalu yang mengakibatkan kegagalan pembangunan seperti buku ini menjadi terus
penting untuk dicermati, khususnya oleh para pengambil kebijakan, demi efektivitas dan
kesuksesan pembangunan di masa mendatang. Salah satu aplikasi yang paling dekat,
misalnya dalam wacana pembangunan enam ruas tol dalam kota oleh pemerintah D.K.I.
Jakarta. Para pengambil kebijakan mungkin perlu lebih memandang serius kebijakan
serupa yang pernah diambil di masa orde baru yang tidak hanya keliru secara teknis, tapi
juga dengan fatal menggeser fungsi pembangunan infrastruktur dalam perekonomian
dari fungsi antara menjadi fungsi akhir. Masyarakat luas dan khususnya civil society
juga perlu memperhatikan wacana ini dan mengawasi kalau-kalu kebijakan yang akan
diambil ini persis seperti di masa orde baru, memuat kepentingan pihak tertentu untuk
menjadikan barang publik ini sebagai mesin pengeruk uang.

Referensi:
Chaniago, Andrinof A. (2012). Gagalnya Pembangunan: Mmbaca Ulang Keruntuhan
Orde Baru. Jakarta: LP3ES