Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN
ANGKUTAN AIR
Pengaruh Cahaya (Suhu) terhadap Kecepatan Transpirasi pada Tanaman
Pacar Air (Impatien balsamia)

Oleh :
DINI LUKLUUM MAKNUN
15030204046

PENDIDIKAN BIOLOGI A 2015

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BIOLOGI
2017

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 1


A. Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengetahui pengaruh kondisi lingkungan terhadap kecepatan
transpirasi dengan metode penimbangan?
B. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan terhadap kecepatan
transpirasi dengan metode penimbangan
C. Hipotesis
Lingkungan memengaruhi kecepatan transpirasi. Semakin tinggi
intensitas cahaya maka kemungkinan tanaman pacar air yang disimpan di
kondisi terang akan lebih cepat melakukan proses transpirasi apabila
dibandingkan dengan tanaman pacar air yang disimpan di kondisi yang gelap
ditandai dengan perubahan pada berat tumbuhan pacar air.

D.Kajian Pustaka
Pengangkutan air melalui pembuluh xylem dalam tubuh tumbuhan
memegang peranan yang penting. Bersamaan dengan air, terlarut juga hara
mineral yang terkandung didalamnya. Dalam pengangkutan air ini transpirasi
memegang peranan penting, selain juga faktor tekanan akar, dan faktor
lingkungan lainnya. Didalam aktivitas hidupnya, tumbuhan mengeluarkan
sejumlah besar air yang diserap (90%) ke atmosfir dalam bentuk uap.
Hilangnya air dari tubuh tanaman dalam bentuk uap ini dinamakan
transpirasi. (Rahayu dkk, 2017)
Pada dasarnya tumbuhan mengalami peristiwa transpirasi di
pengaruhi beberapa faktor baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar.
Faktor dalam yang dimaksud diantaranya adalah besar kecilnya daun, tebal
tipisnya daun, berlapis lilin atau tidak dan ada tidaknya stomata. Sedangkan
yang termasuk kedalam faktor luar adalah :
Cahaya, tumbuhan akan mengalami proses transpirasi lebih cepat
apabila terkena cahaya matahari dibandingikan dengan yang berada
ditempat yang gelap. Hal ini karena cahaya mendorong dan
merangsang tumbuhnya stomata. Cahaya juga meningkatkan
transpirasi dengan menghangatkan daun.

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 2


Suhu, tumbuhan akan mengalami transpirasi lebih cepat pada suhu
yang tinggi. Hal ini disebabkan air menguap lebih cepat pada suhu
tinggi dan juga meningkatkan kelembapan udara.
Kelembapan, laju transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembapan di
sekitar tumbuhan. Laju difusi setiap substansi menurun karena
perbedaan konsentrasi substansi dalam kedua daerah tersebut menurun.
Karena itu difusi air dari ruang udara pada daun yang berisikan uap ke
luar perlahan-lahan apabila udara disekitarnya lembab. Sedangkan
apabila udara disekitarnya kering maka proses difusi air akan
berlangsung lebih cepat.
Angin, apabila tidak ada angin, maka udara yang dekat dengan daun
yang sedang melakukan proses transpirasi makin lembab. Karena itu
menurunkan laju tranpirasi. Jika ada hembusan angina lembut, udara
lembab itu terbawa dan digantikan dengan udara segar yang lebih
kering.
Keadaan air tanah, tumbuhan tidak dapat terus menerus melakukan
transpirasi dengan cepat jika kelembapan yang hilang tidak digantikan
oleh air segar dari tanah. Bila penyerapan air oleh akar tidak dapat
mengimbangi laju transpirasi, maka terjadi kekurangan turgor, dan
stomata pun menutup. Hal ini dengan segera sangat mengurangi laju
transpirasi. (Gardner, 1992)
Peristiwa transpirasi berperan untuk pengangkutan air ke daun dan
difusi air antar sel, penyerapan dan pengangkutan air dan hara, proses
membuang kelebihan air, pengangkutan asimilat, pengaturan bukaan stomata
dan mempertahankan suhu daun. Adapun macam-macam transpirasi adalah
Stomater : 80-90% total transpirasi, Kutikuler: 20% total transpirasi,
Lentikuler : 0,1% total transpirasi.
Proses transpirasi tidak lepas dari stomata, pada umumnya stomata
terdapat pada bagian-bagian tumbuhan yang berwarna hijau, terutama pada
bagian daun tanaman. Pada daun-daun yang berwarna hijau stomata terdapat
pada satu permukaannya. (Ismail,2006)
Stomata terdiri dari dua sel yaitu sel penjaga dan sel tetanggga. Pada
sel penjaga terdapat kloroplas. Sehingga pada sel panjaga terjadi proses

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 3


fotosintesis. Fotosintesis terjadi dengan bantuan cahaya, karbondioksida, air
dan zat-zat lainnya. Hasil dari proses fotosintesis diantaranya berupa glukosa.
Glukosa yang dihasilkan akan larut dalam sel penjaga sehingga, potensial air
dalam sel penjaga turun. Hal inilah menyebabkan air yang berada di dalam
sel tetangga akan masuk ke dalam sel penjaga. Selanjutnya, stomata akan
membuka. Jika tumbuhan berada pada kondisi lingkungan dengan intensitas
cahaya rendah atau pada suhu yang rendah, maka tumbuhan tersebut tidak
mendapatkan cahaya matahari untuk melangsungkan fotosintesisnya. Dengan
demikian, tumbuhan melakukan penyesuaian dengan cara menutup stomata
(terjadi pada malam hari) untuk mengurangi proses transpirasi. Jika tumbuhan
tidak melangsungkan fotosintesis, maka tumbuhan juga tidak memroduksi
glukosa. Sehingga, potensial air pada sel penjaga lebih tinggi daripada
potensial air pada sel tetangga. Akibatnya, air dari sel penjaga keluar menuju
sel tetangga. Hal inilah yang menyebabkan menutupnya stomata.
Konsep dan istilah apoplas dan simplas yakni sebagai mekanisme
jalur masuknya air menuju akar pertama kali diperkenalkan oleh E. Munch
dari Jerman pada tahun 1930. Beliau mengemukakan bahwa dinding sel dari
keseluruhan bagian tanaman dan pembuluh xylem dapat dianggap sebagai
suatu sistem tunggal yang disebut sebagai apoplas. Pada dasarnya bagian
apoplas merupakan bagian mati dari tanaman kecuali bagian pita casparin
pada sel-sel endodermis. Bagian tanaman lainnya (selain dinding sel dan
pembuluh) merupakan bagian yang hidup dari tanaman. (Lakitan, 2007)
Terkadang proses transpirasi merugikan tanaman karena kehilangam
air yang terlalu banyak selama musim panas dan kering, namun beberapa
akibat transpirasi secara biologi bermanfaat bagi tanaman misalnya aliran
transpirasi membantu gerakan garam-garam mineral ke bagian atas tumbuhan
dengan jalan mengangkut apa saja yang kebetulan terlarut didalamnya selain
itu transpirasi juga berhubungan dengan keperluan agar sel mesofil tetap
lembab dan terbuka untuk pertukaran gas dalam proses fotosintesis dan
pernafasan.

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 4


E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : kondisi lingkungan (suhu, kelembapan, intensitas
cahaya)
2. Variabel kontrol : volume air, jenis tanaman, panjang batang, jumlah
daun
3. Variabel respon : Kecepatan transpirasi tanaman pacar air

F. Definisi Operasional Variabel


1. Variabel manipulasi merupakan variabel yang sengaja dimanipulasi dalam
suatu kondisi tertentu. Variabel manipulasi berpengaruh pada perubahan
variabel yang lain yakni variabel respon. Variabel manipulasi pada
praktikum ini adalah kondisi lingkungan yakni suhu, kelembapan dan
intensitas cahaya. Kondisi lingkungan merupakan keadaan sebenarnya
pada sebuah lingkungan tertentu. Pada praktikum ini, lingkungan yang
digunakan adalah lingkungan gelap dan lingkungan terang. Masing-
masing lingkungan tersebut diukur tingkat suhu, intensitas cahaya dan
kelembapan. Pengukuran suhu menggunakan termometer dengan skala
pengukuran derajat celcius, pengukuran cahaya dilakukan dengan
menggunakan alat pengukur intensitas cahaya satuan Cd/m2 sedangkan
kelembapan diukur dengan mengggunakan luxmeter satuan %.
2. Variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat
konstan sehingga pengaruh variabel terhadap variabel yang diamati tidak
dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol pada
praktikum ini adalah volume air, jenis tanaman, panjang batang dan
jumlah daun. Volume air merupakan jumah total air yang digunakan.
Dalam praktikum ini, volume air yang diperlukan untuk masing-masing
tabung erlenmeyer adalah 150 ml. Jenis tanaman yang digunakan dalam
praktikum ini adalah tanaman pacar air (Impatien balsemia). Jenis batang
yang dipilih harus memenuhi beberapa kriteria yaitu berasal dari satu
pohon tanaman yang sama, memiliki struktur morfologi yang kurang lebih
sama memiliki daun yang kurang lebih ukurannya sama, dan panjang
batang yang di ukur sepanjang 20 cm dan dipotong miring pada bagian

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 5


pangkalnya. Jumlah daun yang digunakan di kontrol adalah 6 daun pada
setiap tabung Erlenmeyer.
3. Variabel respon merupakan variabel yang berubah sebagai hasil akibat
dari perubahan variabel manipulasi. Variabel respon pada praktikum ini
adalah kecepatan transpirasi tanaman pacar air.
.
G. Alat dan Bahan
Alat-alat :
1. Tabung Erlenmeyer 2 buah
2. Sumbat Erlenmeyer (steroform) 2 buah
3. Timbangan analitik 1 buah
4. Termometer 1 buah
5. Higrometer 1 buah
6. Lux meter 1 buah
7. Bohlam lampu 100 watt 1 buah
8. Lampu duduk 1 buah
9. Pisau tajam 1 buah
10. Penggaris 1 buah
11. Stopwatch 2 buah
12. Alat tulis 1 buah
Bahan-bahan :
1. Air 300 mL
2. Vaselin secukupnya
3. Pucuk tanaman Pacar air (Impatien balsemia) 2 tangkai ukuran 20 cm
4. Kertas grafik/millimeter 2 lembar
5. Tisu secukupnya

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 6


H. Rancangan Percobaan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Menyediakan 2 buah erlenmeyer dan mengisi dengan air volume 150 ml.
3. Menyumbat masing-masing bagian ujung erlenmeyer dengan sumbat
erlenmeyer yang terbuat dari steroform
4. Memotong miring pangkal pucuk batang tanaman pacar air sejumlah dua
tangkai dengan ukuran panjang batang 20 cm
5. Membuang bunga, kuncup, atau daun yang rusak
6. Mengolesi bagian batang yang luka/dilukai dengan vaselin secukupnya
7. Memasukkan potongan tanaman pacar air ke dalam masing-masing tabung
erlenmeyer sampai bagian bawah batang terendam air melalui lubang pada
sumbat
8. Mengolesi celah-celah di pinggir sumbat erlenmeyer dengan vaselin dan
tisu karena masih terdapat celah.
9. Menimbang kedua elenmeyer lengkap dengan tanaman dan air yang ada di
didalamnya, kemudian mencatat hasilnya dalam tabel
10. Mengukur kondisi lingkungan kedua tempat tersebut meliputi suhu,
intensitas cahaya, dan kelembapan
11. Meletakkan erlenmeyer A di dalam almari dan erlenmeyer B pada tempat
terang dengan jarak 20 cm dari lampu pijar 100 watt
12. Menimbang erlenmeyer beserta perlengkapannya kembali setelah 30 menit
pertama dan berlaku untuk 30 menit kedua dan 30 menit ke tiga
13. Setelah penimbangan terakhir, mengambil daun-daun tanaman pacar air
tersebut, kemudian mengukur luas total daun dengan kertas
milimiter/grafik
Dengan cara
- Membuat pola masing-masing-masing daun pada kertas grafik
- Menghitung luas daun dengan ketentuan : jika kurang dari kotak
dianggap nol, dan jika lebih dari dianggap satu.

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 7


I. Langkah Kerja

Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan

ErlenmeyerA ErlenmeyerB
+ +
150 mL 150 mL

Mengukur panjang batang tanaman pucuk air sepanjang


20 cm, memotong pangkal batang dengan posisi miring

Memasukkan kedalam tabung Erlenmeyer melalui lubang


pada sumbat sampai bagian bawahnya terendam air

Mengolesi bagian celah dengan vaselin dan menyumbat


dengan tisu

Menimbang Erlenmeyer beserta dengan tanaman pucuk air

ErlenmeyerA ErlenmeyerB
diletakkan di diletakkan di
almari tempat dengan
jarak 20 cm
dari lampu 100
watt

Mengukur kondisi lingkungan kedua tempat tersebut

Menimbang Erlenmeyer beserta isinya setiap 30 menit

Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali

Mencatat hasil

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 8


J. Rancangan Tabel Pengamatan
Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh hasil bahwa kondisi lingkungan
memberikan pengaruh terhadap kecepatan transpirasi suatu tumbuhan.
Berikut disajikan dalam beberapa tabel.
Tabel 1. Data Kondisi Lingkungan
Tempat
No Kondisi Lingkungan
Gelap Terang
1. Suhu (celcius) 31 33
2. Kelembapan (%) 91 86
3. Intensitas Cahaya (Cd/m2) 0,04 1325

Tabel 2. Pengaruh Intensitas Cahaya terhadap Kecepatan Transpirasi pada


Tanaman Pacar air (Impatien balsemia)
Berat 30 30 30
Selisih
Botol Awal
W1 Selisih 1 W2 Selisih 2 W3 Selisih 3 Berat
(g)
0,3+0,1+0,1
Gelap
287,9 267,5 0,3 267,4 0,1 267,3 0,1 3
(A)
= 0,17
0,3+0,3+0,3
Terang
273,2 272 0,3 271,7 0,3 271,4 0,3 3
(B)
=0,3

Tabel 3. Luas Daun Pacar Air (Impatien balsemia)


Daun ke- Luas Daun (cm2)
Total Luas Daun
Botol 1 2 3 4 5 6
A 22 21 23 24 26 23 23
B 18 20 21 28 23 20 21,7

Sehingga dari ketiga proses perhitungan, dapat disajikan dalam Grafik 1.


tentang perbandingan kecepatan transpirasi pada tanaman pacar air yang
diperlakukan pada dua tempat yang berbeda.

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 9


0.0005

Kecepatan transpirasi (g/menit/cm2)


0.00045
0.0004
0.00035
0.0003
0.00025
0.0002
0.00015
0.0001
0.00005
0
A (kondisi gelap) B (kondisi terang)
Botol/erlenmeyer

Grafik 1. Perbandingan Kecepatan Transpirasi di kondisi Gelap dan Terang

K. Rencana Analisis Data


Tanaman pacar air (Impatien balsemia) yang diletakkan pada kondisi
lingkungan berintensitas cahaya tinggi, maka kecepatan transpirasinya juga
tinggi apabila dibandingkan dengan tanaman pacar air yang diletakkan pada
kondisi lingkungan yang berintensitas cahaya rendah. Hal ini didasarkan hasil
pecobaan yang telah dilakukan dengan metode penimbangan, didapatkan hasil
nilai kecepatan yang berbeda. Pada tanaman pacar air Erlenmeyer A (kondisi
gelap) dengan intensitas cahaya 0,04 lux, suhu udara 310C, dan kelembaban
udara 91%, didapatkan nilai kecepatan transpirasi sebesar 0,000247
g/menit/cm2, hasil ini berbeda dengan tanaman pacar air Erlenmeyer B
(kondisi terang) dengan intensitas cahaya 1325 lux, suhu udara 330C, dan
kelembaban udara 86%, yang mana didapatkan nilai kecepatan transpirasi
sebesar 0,000460 g/menit/cm2. Kecepatan transpirasi yang dialami tanaman
pacar air dapat diketahui berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut.
Rumus kecepatan transpirasi
v = g / menit/ cm2

v = kecepatan transpirasi
g = rata-rata selisih berat
menit = waktu
cm2 = total luas daun

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 10


Kecepatan transpirasi tanaman pacar air

Erlenmeyer A (Kondisi gelap ) Erlenmeyer B (Kondisi Terang)


= 0,17 / 30 / 23 = 0,3 / 30 / 21,7
= 0,000247 g/menit/cm2 = 0,000460 g/menit/cm2

L. Hasil Analisis Data


Pada percobaan ini data yang diperoleh adalah perbandingan berat
masing-masing erlenmeyer lengkap dengan dengan tanaman pacar air dan air
yang ada di dalamnya (selisih berat awal dengan berat kedua dan berat kedua
dengan berat ketiga), luas permukaan enam daun pada tanaman pacar air dan
kecepatan transpirasi tanaman pacar air yang diperoleh berdasarkan
perhitungan menggunakan rumus.
Berdasarkan percobaan yang menggunakan tanaman pacar air yang dicari
nilai laju kecepatan transpirasi pada 2 erlenmeyer A (kondisi gelap) dan B
(kondisi terang). Berdasarkan hasil percobaan diketahui nilai laju kecepatan
transpirasi pada erlenmeyer A (kondisi gelap) yaitu sebesar 0,000247
g/menit/cm2, sedangkan pada erelenmeyer B (kondisi terang) didapatkan nilai
laju transpirasi yaitu sebesar 0,000460 g/menit/cm2. Hal ini berarti laju
kecepatan transpirasi pada kondisi terang lebih besar dibandingkan dengan
laju transpirasi pada kondisi gelap.
Adanya perbedaan tersebut dikarenakan pada kondisi terang memiliki
suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan pada kondisi yang gelap, yaitu
33C dengan kelembaban sebesar 86%, sehingga menyebabkan lebih banyak
air yang dikeluarkan oleh tanaman pacar air dalam bentuk uap yang
dikeluarkan melalui daun. Sehingga kecepatan transpirasinya lebih tinggi
dibandingkan dengan tanaman pada kondisi gelap yang memiliki suhu 31 C
dan nilai kelembapan sebesar 91%. Pada kondisi lingkungan terang memiliki
intensitas cahaya 1325 lux yang dapat membuat stomata pada tanaman pacar
air akan lebih cepat membuka sehingga menyebabkan laju transpirasi berjalan
lebih cepat. Menurut Heddy (1990), Stomata akan membuka jika tekanan
turgor kedua sel penjaga meningkat. Peningkatan tekanan turgor oleh sel
penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga tersebut.
pergerakan air didalam sel akan selalu dari sel yang mempunyai potensial air

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 11


lebih tinggi ke sel tergantung pada jumlah bahan yang terlarut dari cairan
tersebut, semakin banyak bahan yang terlarut maka potensial air yang terjadi
pada sel semakin rendah.
Pada kondisi gelap yang memiliki suhu nilai intensitas cahaya sebesar
0,04 lux, laju kecepatan transpirasinya relatif rendah dan memiliki hasil
kecepatan transpirasi 0,000460 g/menit/cm2. Adanya perbedaan perolehan
data tersebut menunjukkan bahwa pada intensitas cahaya yang lebih tinggi,
tanaman pacar air akan meningkatkan kecepatan transpirasinya. Sedangkan
pada intensitas cahaya yang rendah, kecepatan transpirasi juga berjalan
lambat. Dalam praktikum ini diketahui bahwa terdapat perbedaan suhu,
kelembapan dan intensitas cahaya, hal tersebut yang memengaruhi kecepatan
transpirasi dari suatu tanaman. Kondisi lingkungan dalam jangka waktu yang
relatif lama dapat mempengaruhi jumlah stomata terkait dengan proses
transpirasi. Intensitas cahaya tinggi pada waktu siang hari akan meningkatkan
suhu daun tanaman. Peningkatan suhu yang berlebihan dapat mengganggu
proses metabolisme tanaman dan dalam waktu lama dapat menyebabkan daun
terbakar. Dalam adaptasinya tanaman akan meningkatkan jumlah stomata agar
proses transpirasi menjadi optimal. Transpirasi berfungsi untuk menjaga
stabilitas suhu daun, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi
optimal dan mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembuluh
xylem. (Lakitan,1993).
Pada dasarnya terjadinya proses transpirasi ditentukan oleh seberapa
besar celah antara dua sel penutup stomata, sehinggga proses-proses yang
menyebabkan membuka menutupnya stomata juga menentukan besarnya
transpirasi. (Rahayu,2017). Sehingga dapat diketahui bahwa faktor-faktor
yang memengaruhi kecepatan transpirasi diantaranya adalah intensitas cahaya,
kelembapan, dan suhu. Faktor utama yang memengaruhi pembukaan dan
penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan
kelembapan. Semakin tinggi intensitas cahaya dan tingkat suhu maka semakin
cepat pula proses transpirasinya. Karena di dalam sel penutup terdapat
klorofil, maka adanya cahaya akan membangkitkan tumbuhan untuk
berfotosintesis. Proses fotosintesis tersebut sangat erat kaitannya dengan
proses membuka menutupnya stomata dan membuka menutunya stomata akan

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 12


memberikan dampat terhadap proses transpirasi. Jika stomata membuka daam
interval waktu yang cukup lama maka hal tersebut juga mendorong tumbuhan
untuk mengeluarkan uap airnya. (Fitter & Hay 1991)

M. Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
intensitas cahaya (suhu), maka kecepatan transpirasi tanaman pacar air semakin
cepat dan semakin rendah intensitas cahaya, maka semakin rendah pula kecepatan
transpirasinya dibuktikan dengan berkurangnya berat awal tanaman pacar air yang
dihitung melalui metode penimbangan.

N. Daftar Pustaka

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/195801261987032

Fitter. A. H.dan Hay, R. K. M. ,1991, Fisiologi Lingkungan Tanaman.


Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Gardner, F. P., Pearce, R. B., & Mitchell, R. L. (1992). Fisiologi Tanaman


Budidaya. Jakarta: UI Press

http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0701/D070112.pdf

Ismail. (2006). Fisiologi Tanaman. Makassar: UNM Makasaar.

Lakitan, B. 2007.Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT Raja Grafindo


Persada.Jakarta

Rahayu, Yuni Sri,dkk. 2017. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya :


Universitas Negeri Surabaya

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 13


LAMPIRAN

Alat untuk mengukur kelembapan udara


hasil pada lingkungan gelap Alat pengukuran intensitas cahaya
hasil pada lingkungan terang

Alat pengukuran intensitas cahaya


hasil pada lingkungan gelap

Alat untuk mengukur kelembapan


udara hasil pada lingkungan terang

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 14


Penimbangan Erlenmeyer lengkap
beserta air dan tanamannya

Tanaman pacar air yang ditempatkan


pada kondisi terang

Penimbangan tanaman pacar air pada


kondisi terang 30 menit pertama

Tanaman pacar air yang ditempatkan


pada kondisi gelap

Penimbangan tanaman pacar air pada


Penimbangan tanaman pacar air pada kondisi terang 30 menit kedua
kondisi gelap 30 menit pertama

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 15


Penimbangan tanaman pacar air pada Penimbangan tanaman pacar air pada

kondisi gelap 30 menit kedua kondisi terang 30 menit ketiga

Laporan Praktikum 3 Fisiologi Tumbuhan 16

Anda mungkin juga menyukai