Anda di halaman 1dari 2

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Besar indeks kekeringan yang terjadi di Sub DAS Widas Kabupaten Nganjuk
memiliki nilai yang berbeda-beda pada masing-masing SPI periode defisit 1
bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Pada SPI periode defisit 1 bulan, nilai
indeks kekeringan yang terparah adalah -2,732 (amat sangat kering) yang
terjadi pada bulan Januari 2007. Pada SPI periode defisit 3 bulan, nilai indeks
kekeringan yang terparah adalah -1,89 (sangat kering) yang terjadi pada bulan
Juni 2004. Pada SPI periode defisit 6 bulan, nilai indeks kekeringan yang
terparah adalah -1,59 (sangat kering) yang terjadi pada bulan Januari 2007.
Pada SPI periode defisit 12 bulan, nilai indeks kekeringan yang terparah
adalah -1,41 (cukup kering) yang terjadi pada bulan Desember 1997.
2. Dari peta hasil sebaran kekeringan selama 18 tahun pengamatan dapat dilihat
bahwa pada SPI periode defisit 1 bulan kekeringan terparah terjadi pada
kecamatan Grogol dan Tarokan. Pada SPI periode defisit 3 bulan, kekeringan
terparah terjadi di kecamatan Grogol dan Tarokan, dan juga pada sebagian
kecamatan Rejoso, Ngluyu, dan Gondang. Pada SPI periode defisit 6 bulan
kekeringan terparah terjadi pada kecamatan Lengkong dan Jatikalen, serta
sebagian kecamatan Ngluyu dan Gondang. Dan untuk SPI periode defisit 12
bulan, kekeringan yang paling parah melanda kecamatan Pace, Saradan,
Rejoso, Jatikalen, dan sebagian kecamatan Wilangan, Bagor, Ngluyu, dan
Gondang. Walaupun demikian semua kekeringan yang terjadi masih
termasuk dalam kategori normal.
3. Dalam penelitian ini kekeringan yang dianalisa merupakan kekeringan
meteorologis. Hasil sebaran kekeringan meteorologis jika dikaitkan dengan
kekeringan pertanian mengindikasikan adanya keterkaitan, menurut peta hasil
sebaran kekeringan selama 18 tahun pada Sub DAS Widas kekeringan
terparah terjadi pada kecamatan Grogol, Tarokan, Lengkong, Jatikalen, Pace,
Saradan, Rejoso, dan sebagian kecamatan Ngluyu, Gondang, Wilangan, dan
Bagor. Sesuai dengan data yang diberikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten

139
140

Nganjuk, kecamatan yang pernah mengalami gagal panen adalah kecamatan


Rejoso, Ngetos, dan Pace. Sedangkan menurut BPBD, kecamatan yang
kekurangan air adalah kecamatan Lengkong, Ngluyu, Ngetos, Jatikalen,
Wilangan, Loceret, Pace, dan Berbek.
Sedangkan jika dikaitkan dengan kekeringan hidrologi, keterkaitan yang
terlihat adalah adanya kesamaan trend fluktuasi yang terjadi antara debit hasil
pencatatan di pos Lengkong dengan nilai indeks kekeringan yang terjadi pada
DAS Widas dengan SPI periode defisit 12 bulan untuk tahun 2008, 2009, dan
2010.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, adapun
beberapa saran yang dapat digunakan sebagai rekomendasi terhadap beberapa pihak,
diantaranya:
1. Untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan data hujan historis yang
lebih panjang untuk keakuratan hasil penelitian.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mencegah/mengatasi kekeringan di
Sub DAS Widas Kabupaten Nganjuk.
3. Perlu dilakukan penelitian lain dengan metode yang berbeda sebagai
pembanding hasil kekeringan.
4. Pengarsipan data yang dilakukan pada dinas-dinas terkait sangat perlu
dilakukan dengan lengkap, yang nantinya berguna untuk data verifikasi.