Anda di halaman 1dari 13

Jenis Koreksi Fiskal Negatif

Pengertian Koreksi Fiskal Negatif Yaitu :


koreksi yang menyebabkan pengurangan penghasilan kena pajak dan PPh terutang.

Jenis Koreksi Fiskal Negatif antara lain :

Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final antara lain :


1. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat
utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota
koperasi orang pribadi.
2. Penghasilan berupa hadiah undian.
3. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang
diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan
modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura.
4. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha
jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan.
5. Penghasilan dari Wajib Pajak Tertentu yang termasuk dalam kriteria PP Nomor 46
Tahun 2013.
Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak antara lain :
1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima
oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib
bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh
penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan.
2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan,
koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara
pihak-pihak yang bersangkutan.
3. Warisan.
4. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyertaan modal.
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah,
kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak
secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus
(deemed profit).
6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi bea siswa.
7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.
8. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud
pada huruf h, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan.
9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif.
10. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
11. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah
terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk
sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan,
dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih
tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
12. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
13. Persediaan yang jumlahnya kurang dari jumlah berdasarkan metode penghitungan
yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
Tentang Pajak Penghasilan (PPh).
14. Penyusutan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode penghitungan yang
sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008 tentang PPh.
15. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian
laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan
di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut : Merupakan perusahaan
mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan dan sahamnya
tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
16. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha
milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
kedudukan di Indonesia dengan syarat :
Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan.
Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang
menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling
rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor.
http://www.wibowopajak.com/2012/01/jenis-koreksi-fiskal-negatif.html
13 nov 16
A. Koreksi Positif dilakukan apabila pendapatan menurut fiskal bertambah, dan dilakukan karena
adanya :

1. Beban-beban atau pengeluaran yang tidak diakui oleh pajak


2. Penyusutan komersial yang berbeda dengan penyusutan fiskal
3. Amortisasi komersil yang berbeda dengan penyusutan fiskal
4. Biaya yang ditangguhkan pengakuannya
5. Penyesuaian fiskal positif lainnya

B. Koreksi Negatif yaitu koreksi-koreksi untuk mengurangi Laba Akuntansi :

1. 1. Penghasilan yang dikenakan PPh final


2. 2. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak
3. 3. Penyesuaian fiskal negatif lainnya

http://www.ortax.org/ortax/?mod=studi&page=show&id=62

2.2.1.1.4. Penghasilan yang Tidak Termasuk Objek Pajak

Jumat, 16 Oktober 2015 - 16:35

Penghasilan yang Tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan adalah:

1. Bantuan atau sumbangan dan harta hibahan.


1. bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga
amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima
zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak; dan
2. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat,
badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang
pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, sepanjang tidak ada hubungan dengan
usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan.
2. Warisan.
3. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai
pengganti penyertaan modal.
4. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam
bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh
bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang
menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit).
5. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan,
asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa.
6. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam
negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal
pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
1. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
2. bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang
menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah
25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor.
7. iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan,
baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.
8. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g,
dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan Menteri Keuangan.
9. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit
penyertaan kontrak investasi kolektif.
10. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan
pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat
badan pasangan usaha tersebut:
1. merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam
sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
2. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia
11. beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
12. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang
pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang
membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak
diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
13. bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib
Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.

Laba Rugi Komersial dan Fiskal


Dalam Pelaporan Keuangan Perusahaan, khususnya Laporan Laba Rugi, kita mengenal
adanya LAPORAN LABA RUGI KOMERSIAL dan LAPORAN LABA RUGI FISKAL. Mengapa ada
Laporan Laba Rugi Komersial dan Laporan Laba Rugi Fiskal? Apa saja perbedaannya? Bagaimana
caranya membuat Laporan Laba Rugi Fiskal? Bagaimana jika tidak dibedakan? Mungkinkah kedua
laporan laba rugi ini dijadikan satu? Bagaimana caranya? Akan kita bahas di artikel ini sebentar lagi.

Artikel ini saya dedikasikan bagi mereka yang belum sepenuhnya memahami dan belum bisa
membuat laporan laba rugi fiskal. Mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan pemahaman yang
lebih baik dan detail. Seperti biasa saya akan memberikan langkah-langkah
pembuatannya. Termasuk TRICK Bagaimana menyatukan Laporan Laba Rugi Komersial dan Fiskal
ke dalam satu lembar laporan saja.

Untuk rekan-rekan yang SPT Tahunannya sudah lolos saya ucapkan Congratulation!. Sedangkan
yang masih berjuang memasukkannya saya ucapkan Good luck!. Dan bagi yang masih bingung
membuat SPT PPh Badan, mungkin ada baiknya membaca artikel ini :-). Meskipun yang dibahas
bukan cara mengisi SPT PPh Badan, tetapi... adalah tidak mungkin bagi anda untuk membuat SPT
PPh Badan jika anda belum memahami apa itu Laporan Laba Rugi Fiskal, karena data source SPT
PPh Badan adalah Laporan Laba Rugi Fiskal.

Kiranya saya tidak perlu lagi memberikan penjelasan mengenai apa itu Laporan Laba Rugi. Jika
kebetulan ada yang belum tahu, saya encourage anda untuk membaca kembali buku Pengantar
Akuntansi Keuangan atau Dasar-dasar Akuntansi Keuangan.

Mengapa Ada Laporan Rugi Laba Komersial dan Fiskal?


Karena adanya perbedaan pengakuan atas pendapatan maupun biaya menurut perusahaan (selaku
wajib pajak) dengan pihak Ditjen Pajak (selaku fiskus yang mewakili negara). Sederhananya: ada
pendapatan maupun biaya yang diakui sebagai pendapatan maupun biaya oleh perusahaan tetapi
tidak diakui oleh Ditjend Pajak.

Mengapa berbeda dan apa saja perbedaaanya?

Bagi perusahaan: semua pemasukan adalah pendapatan yang akan menambah laba kena pajak ,
dan semua pengeluaran adalah beban yang akan mengurangi laba kena pajak. Bagi Ditjend Pajak:
tidak semua pemasukan adalah faktor penambah laba kena pajak, ada beberapa jenis pendapatan
yang bukan merupakan faktor penambah laba kena pajak karena pendapatan tersebut sudah
dikenakan pajak bersifat final, dan tidak semua pengeluaran adalah faktor pengurang laba kena pajak
karena ada beberapa jenis pengeluaran yang sesungguhnya bukan merupakan bagian dari kegiatan
perusahaan. Di dalam Akuntansi Perpajakan perbedaan ini disebut dengan BEDA TETAP.

Perbedaan lainnya adalah perebedaan yang diakibatkan karena bedanya SAAT PENGAKUAN
(waktu pengakuan) baik itu terhadap pendapatan maupun beban (pendapatan/beban tangguhan),
juga akibat perbedaan beban penyusutan dimana pihak Ditjend Pajak menggunakan metode
penyusutan GARIS LURUS (Straight Line Method) sementara perusahaan mungkin menggunakan
metode penyusutan yang lain, yang oleh karenanya mengakibatkan adanya perbedaan alokasi beban
penyusutan. Prakiraan Umur ekonomis atas aktiva tetap juga turut memberi kontribusi atas
perbedaan tersebut. Dalam Akuntansi Perpajakan ini disebut dengan BEDA WAKTU.

Perbedaan-perbedaan tersebut memerlukan penyesuaian-penyesuaian agar JUMLAH PAJAK


PENGHASILAN BADAN TERHUTANG antara yang dihitung oleh perusahaan dengan menurut
Ditjend Pajak bisa sama. Penyesuaian tersebutlah yang dikenal dengan istilah KOREKSI FISKAL.

Ada 2 (dua) macam penyesuaian fiskal, yaitu:

Penyesuaian Fiskal Positif: adalah penyesuaian yang akan mengakibatkan meningkatnya laba
kena pajak yang pada akhirnya akan membuat PPh Badan terhutangnya juga akan meningkat.

Penyesuaian Fiskal Negatif: adalah penyesuaian yang akan mengakibatkan menurunnya laba kena
pajak.

Berikut ini adalah tabel rincian jenis-jenis penyesuaian tersebut:


Bagaimana Cara Membuat Laporan Laba Rugi Fiskal?

Saya akan coba construct satu kasus:

Buku Besar PT. Royal Bali Cemerlang nampak seperti dibawah:

Jika kita susun menjadi Laporan Laba Rugi, kita akan menghasilkan laporan seperti dibawah ini:
Apakah Laporan Laba Rugi diatas benar?

Laporan Komersial iya benar, hanya saja Pajak Penghasilan nya belum benar.Bukankah
seharusnya ada penyesuaian-penyesuaian?.

Okay, kita bandingkan dengan table rincian penyesuaian fiskal positif dan negative di atas. Menurut
table, ada beberapa yang harus disesuaikan, yaitu:

Bunga Jasa Giro telah dikenakan pajak oleh pihak bank, maka ini dimasukkan sebagai
Pendapatan dikenakan Pajak Final, sehingga ini tidak seharunya dikenakan pajak lagi. Kita jadikan
faktor pengurang Laba Kena Pajak.

Pengambilan Oleh Direktur ini adalah bukan beban perusahaan. Direktur hanya boleh menerima
Gaji dan Dividen saja. Maka kita masukkan ke dalam koreksi fiskal positif (faktor penambah laba kena
pajak).

Makan Untuk Pegawai ini adalah bentuk kenikmatan (natura) yang diberikan oleh perusahaan
kepada pegawai, ini tidak diakui sebagai beban perusahaan. Catatan : saya pribadi kurang setuju
dengan anggapan ini, karena pemberian incentive berupa makan, minum atau bentuk kenikmatan
lainnya kepada pegawai adalah salah satu usaha perusahaan untuk merangsang semangat kerja
pegawai, sangat bisa dihubungkan dengan potensi peningkatan revenue perusahaan. Seharunya
tidak alasan untuk menggap ini tidak ada hubungannya dengan aktivitas perusahaan, jelas-jelas ini
beban (biaya) yang bisa di set off dengan revenue. Saya pernah argue dengan pihak kantor pajak
tentang hal ini. Lebih detailnya saya akan bahas di artikel lain.

Sumbangan ini bukan beban perusahaan, tidak bisa dihubungkan dengan revenue. Sehingga kita
masukkan ini ke dalam kelompok koreksi fiskal positif.

Saya tidak menemukan koreksi fiskal negative dalam contoh kasus ini.sehingga nanti koreksi fiskal
negatifnya akan 0 (nol).
Setelah unsur koreksi fiskal kita masukkan, maka Laporan Laba Rugi akan menjadi seperti dibawah
ini:

Apakah kali ini sudah benar?

Laporan Fiskal Iya benar. Bagaimana dengan laporan komersialnya?, apakah laba setelah pajak di
atas bisa kita masukkan ke dalam neraca (Laba Tahun Berjalan)?.

Coba pikirkan baik-baik


.. yakin?.

NO. big no!

Bukankah di neraca nanti laba ini akan di off set dengan mutasi rekening-rekening di kelompok asset
(aktiva)?. Sudah ada clue?.....belum?

Okay, diakui atau tidak diakui semua koreksi fiskal tersebut (bunga jasa giro, pengambilan direktur,
makan untuk pegawai, sumbangan) adalah berpengaruh langsung terhadap posisi (saldo) kas. Jika
semua itu tidak diakui, sementara di sisi lainnya, laba kita paksakan masuk ke neraca, maka sudah
pasti NERACA TIDAK AKAN BALANCE!.

Lalu, bagaimana?

Kita harus kembalikan semua koreksi tersebut.

Dikembalikan?, berarti labanya menjadi salah lagi?.

Maksud saya, semua unsure tadi tetap kita koreksi, setelah kita peroleh laba fiskal setelah pajak,
baru kita kembalikan semua koreksi fiskal tersbut.

Caranya?
Perhatikan Laporan Laba Rugi dibawah ini:

Pajak final

Apakah yang sesungguhnya dimaksudkan dengan penghasilan yang dikenakan pajak


final?
Penghasilan yang dikenakan pajak final adalah penghasilan yang menurut UU dikenakan
pajak bersifat final. Ketentuan tentan hal ini diatur dalam UU PPh pada pasal 4 ayat (2), pasal
15, pasal 19 ayat (1), pasal 21 ayat (1), dan pasal 22.
Berikut ini adalah perlakuan perpajakannya:
1. penghasilan yang dikenakan pajak final tidak digabungkan dengan penghasilan yang
dikenakan pajak dengan tarif progresif pada akhir tahun.
2. pajak penghasilan yang terutang/telah dipotong/dipungut oleh pihak lain atau yang
dibayar sendiri atas penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final, tidak dapat
diperhitungkan/ dikreditkan dengan pajak penghasilan yang terutang atas penghasilan
kena pajak yang dikenakan pajak dengan tarif progresif pada akhir tahun.
3. biaya/pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
pengenaan pajaknya bersifat final tidak dapat dikurangkan dalam rangka
penghitungan penghasilan kena pajak.
4. tarif pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat
final adalah tarif sepadan, kecuali terhadap uang pesangon, uang tebusan pensiun
yang dibayarkan oleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan atau tunjangan hari tua atau jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus
oleh Badan Penyelenggara Pensiun/ Jaminan Sosial Tenaga Kerja;
5. Pemenuhan kewajiban pajaknya dapat dilakukan melalui pemotongan atau
pemungutan oleh pihak lain yang ditunjuk maupun dibayar sendiri.

Apa sajakah jenis penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final? Berapa tarif
pajaknya?
Berikut ini adalah jenis penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final berikut dasar
pengenaan tarif pajak yang berlaku (per Januari 2010):
1. Bunga deposito/ tabungan dan diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI):
o 20% dari jumlah bruto bagi wajib pajak dalam negeri;
o 20% dari jumlah bruto bagi wajib pajak luar negeri atau tarif berdasarkan
perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) yang berlaku.
2. Hadiah undian
o 25% dari jumlah bruto nilai hadiah yang dibayarkan atau nilai pasar hadiah
berupa natura atau kenikmatan.
3. Bunga simpanan anggota koperasi
o 0% untuk bunga simpanan s.d. Rp240.000 per bulan
o 10% untuk bunga simpanan lebih dari Rp240.000 per bulan
4. Bunga obligasi
o 15% dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan obligasi bunga
bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap;
o 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak
berganda (P3B) bagi wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.
5. Diskonto obligasi
o 15% dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan
obligasi, tidak termasuk bunga berjalan, bagi wajib pajak dalam negeri dan
bentuk usaha tetap;
o 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak
berganda (P3B) bagi wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.
6. Bunga atau diskonto obligasi yang diterima dan atau diperoleh wajib pajak reksadana
yang terdaftar pada pasar modal
o 0% untuk tahun 2009 sd tahun 2010
o 5% untuk tahun 2011 sd tahun 2013
o 15% untuk tahun 2014 dan seterusnya
7. Penjualan saham pendiri dan bukan pendiri di bursa efek
o 0,1% dari jumlah bruti nilai transaksi penjualan saham
o 0,5% tambahan PPh bagi pemilik saham pendiri, dari nilai saham pada saat
penawaran umum perdana.
8. Penyaur/dealer/agen produk pertamina dan premix
o 0,3% dari penjualan premium/ solar/ premix dari SPBU swasta
o 0,25% penjualan premiun/ solar/ premix dari SPBU pertamina
o 0,3% dari penjualan minyak tanah
o 0,3% dari penjualan gas LPG/ pelumas
9. Pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan (baik wajib pajak orang pribadi maupun
badan)
o 5% dari jumlah bruto nilai penjualan/ pengalihan tanah dan atau bangunan
lainnya.
o 1% atas rumah susun dan rumah susun sederhana
10. Persewaan tanah dan atau bangunan
o 10% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan atau bangunan baik yang
diterima/ diperoleh wajib pajak orang pribadi maupun badan.
11. Usaha jasa konstruksi
o 2% atas pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang
memiliki kualifikasi usaha kecil.
o 4% atas pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak
memiliki kualifikasi usaha.
o 3% atas pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa selain
kedua penyedia jasa di atas.
o 4% atas perencanaan atau pengawasan konstruksi yang memiliki kualifikasi
usaha.
o 6% atas perencanaan atau pengawasan konstruksi yang tidak memiliki
kualifikasi usaha.
12. Uang pesangon uang dibayarkan sekaligus.
o 0% untuk nilai s.d. Rp50 juta
o 5% untuk nilai bruto di atas Rp50 juta s.d. Rp100 juta.
o 15% untuk nilai bruto di atas 100 juta s.d. Rp500 juta.
o 25% untuk nilai bruto di atas Rp500 juta.
13. Uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua yang dibayarkan
sekaligus
o 0% untuk nilai s.d. Rp50 juta.
o 5% untuk nilai bruto di atas Rp50 juta.
14. Penghasilan wajib pajak yang bergerak di bidang usaha pelayaran dalam negeri
o 1,2% dari peredaran bruto (norma khusus)
15. Penghasilan wajib pajak yang bergerak di bidang usaha pelayaran atau penerbangan
luar negeri
o 2,64% dari peredaran bruto (norma khusus)
16. Penghasilan wajib pajak luar negeri yang mempunyai kantor perwakilan dagang di
Indonesia
o 0,44% dari nilai ekspor bruto (normal khusus)
17. Honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun atas beban APBN/APBD yang
diterima pejabat negara, PNS, anggota TNI, Polri, dan pensiunan
o 0% untuk PNS gol. I dan II, TNI/ Polri Tamtama dan Bintara, dan
pensiunannya.
o 5% untuk PNS gol. III, TNI/ Polri Perwira Pertama, dan pensiunannya.
o 15% untuk PNS gol. IV, TNI/ Polri Perwira Menengah dan Tinggi dan
pensiunannya.
18. Nilai bangunan yang diterima dalam rangka Bangun Guna Serah sehubungan dengan
berakhirnya masa perjanjian
o 5% dari nilai penyerahan bangunan
19. Penjualan saham milik perusahaan modal ventura
o 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal
20. Selisih penilaian kembali aktiva
o 10% dari selisih penilaian kembali setelah dikurangi dengan kompensasi
kerugian fiskal.
21. Diskonto surat utang negara (SPBN dan ORI)
o 20% dari jumlah diskonto SPN
22. Penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di
bursa
o 2,5% dari margin awal
23. Dividen yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi
o 10% dari jumlah bruto dividen
24. Penghasilan istri semata-mata dari satu pemberi kerja
o Tarif pasal 17 dari penghasilan kena pajak