Anda di halaman 1dari 10

Ciri ciri Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan,
maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadi atau tidak
terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang
ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang di pelajari oleh siswa berupa keadaan
alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan manusia atau hal-hal yang dapat
dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai
perilaku belajar yang tampak dari luar (Mudjino,2010:7-8)

Tabel : Ciri-ciri umum Pendidikan, Belajar dan Pekembangan


Unsur unsur Pendidikan Belajar Perkembangan
1) Pelaku Guru sebagai pelaku Siswa yang be- Siswa yang meng-
mendidik dan siswa rtindak belajar alami perubahan
yang terdidik atau pebelajar
2.Tujuan Membantu siswa untuk Memperoleh hasil Mengalami
menjadi pribadi mandiri belajar dan penga perubahan mental
yang utuh laman hidup
3.Proses Proses interaksi sebagai Internal pada diri Internal pada diri
faktor eksternal belajar pebelajar pebelajar
4.Tempat Lembaga pendidikan Sembarang tem- Sembarng tem-
sekolah dan di luar se- pat pat
kolah
5.Lama waktu Sepnjang hayat dan Sepanjang hayat Sepanjang hayat
sesuai jenjang lembaga
6.Syarat terjadi Guru memiliki kewi- Motivasi belajar Kemauan mengu-
bawan pendidikan kuat bah diri
7.Ukruan keber- Terbentuk pribadi ter- Dapat memecah- Terjadinya peruba-
hasilan pelajar kan masalah han positif
8.Faedah Bagi masyarakat men- Bagi pebelajar Bagi pebelajar
cerdaskan bangsa mempertinggi memperbaiki
martabat pribadi kemajuan
mental
9.Hasil Pribadi sebagai pem- Hasil belajar se- Kemajuan ranah
bangun yang profe- bagai dampak pe- kognitif, afektif
sional ngajaran dan pe- dan psikomoto-
ngiring rik

Jika hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa
perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri-ciri belajar menurut Djamarah
(2002:15-16) sebagai berikut :
a) Perubahan yang terjadi secara sadar

Individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan atau sekurang-


kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam
dirinya.

b) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu


berlangsung terus-menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi
akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan
atau proses belajar berikutnya.

c) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Dalam perbuatan belajar, perubahan selalu bertambah dan tertuju


memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Makin banyak usaha
belajar dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.

d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

Perubahan bersifat sementara yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja
seperti berkeringat, keluar air mata, menangis dan sebagainya. Perubahan
terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.
e) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar


meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku jika seseorang belajar sesuatu
sebagai hasil ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh
dalam sikap kebiasaan, keterampilan dan pengetahuan.

HAKIKAT TEORI

Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para psikolog dan


dicobakan tidak langsung kepada manusia disekolah, melainkan menggunakan
percobaan kepada binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya
akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia.

Pada tingkat perkembangan selanjutnya, para ahli mencurahkan perhatianya


pada proses belajar dan mengajar untuk manusia disekolah. Penilitian-
penelitianya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya,
ada yang mereka sebut dengan : Programmed text, Teaching machiness,
Association theory dan lain-lain. Teori-teori ini kemudian berkembang pada
suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning. Yakni pembentukan
hubungan antara stimulus dan respons(.

Sehubungan dengan uraian di atas, maka kegiatan belajar itu cenderung


diketahui sebagai suatu proses psikologis, terjadi di dalam diri seseorang. Oleh
karena itu, sulit diketahui dengan pasti bagaimana terjadinya. Karena prosesnya
begitu kompleks, maka timbul beberapa teori tentang belajar. Dalam hal ini
secara global ada tiga teori yakni, teori Ilmu Jiwa Daya, Ilmu Jiwa Gesalt dan
Ilmu Jiwa Asosiasi(Sardiman,2012:30-38).
1. Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Daya

Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri bermacam-macam daya.


Masing-masing daya dapat di latih dalam rangka untuk memenuhi
fungsinya. Untuk melatih suatu daya itu dapat digunakan berbagai
cara atau bahan. Sebagi contoh untuk, melatih daya ingat dalam
belajar misalnya dengan menghafal kata-kata atau angka, istilah-
istilah asing. Begitu pua untuk daya-daya yang lain. Yang penting
dalam hal ini bukan penguasaan bahan atau materinya, melainkan
hasil dari pementukan dari daya-daya itu. Kalau sudah demikian,
maka seseoran akan belajar itu akan berhasil.

2. Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Gesalt

Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan tubuh lebih penting dari


bagian-bagian/unsur. Sebab keberadaannya keseluruhan itu juga lebih
dulu. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan.
Pengamatan itu penting dilakukan secara menyeluruh. Tokoh penting
yang merumuskan penerapan dari kegiatan pengamatan ke kegiatan
belajar itu adalah Koffka. Dalam mempersoalkan belajar, Koffka
berpendapat bahwa hukum-hukum organisai dalam pengamatan itu
berlaki/ bisa diteraojan dlam kegiatan belajar. Hal ini berdasarkan
kenyataan elajar itu pada pokoknya yang terpenting adalah penyesuaian
pertama,yakni mendapatkan respons yang tepat. Karena penemuan
respons yang terdapat tergantung pada kesediaan diri si subjek belajar
dengan segala panca indranya. Dalam kegiatan pengamatan keterlibatan
semua panca indra itu sangat diperlukan. Menurut teori ini memang
mudah atau sukarnya suatu pemecahan masalah itu tergantung pada
pengamatan.

Menurut aliaran teori belajar itu, seseorang belajar jika mendapatkan


insight. Insight diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu
antara berbagai unsur dalam situasi tertentu. Adapun timbulnya insight
itu tergantung hal-hal berikut:
a. Kesanggupan : maksudnya kesanggupan atau
kemampuan intelegesia individu
b. Pengalaman : karena belajar, berarti akan
mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu
mempermudah munculnya insight
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi : semakin
kompleks semakin sulit
d. Latihan : dengan banyak latihan aka dapat
mempertinggi kesanggupan memperoleh insight,
dalam situasi-situasi yang bersamaan yang dilatih.
e. Trial and eror : sering seseorang tidak dapat
memecahkan suatu masalah. Baru setelah
mengadakan percoban-percobaan, seseorang dapat
menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem
itu, sehingga akhirnya menemukan insight.
Dari aliran ilmu jiwa gesalt/ keseluruhan ini memberikan beberapa
prinsip belajar yang penting, antara lain:
a. Manusia bereaksi dengan lingkungannya decara keseluruhan,
tidak hanya secara intetelektual, tetapi juga secara fisik,
emosional, sosial dan sebagainya;
b. Beajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan;
c. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil
sampai dewasa, lengkap dengan aspek-aspeknya;
d. Beajar adalah perkembangan ke arah diferensiasi yang lebih
luas;
e. Belajar hanya berhasil, apabiala tercapai kematngan untuk
memperoleh insight;
f. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan belajar,
motivasi memberi dorongan yang menggerakkan seluruh
organisme;
g. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan;
h. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif,
bukan ibarat suatu bejana yang diisi.
Belajar menurut Ilmu Jiwa Gesalt, juga sangat
menguntungkan untuk kegiatan belajar memecahkan masalah.
Hal ini juga tampaknya relevan dengan konsep teori belajar
yang diawali dengan suatu pengamatan secara cermat dan
lengkap. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan
masalah. Menurut J.Dewey ada lima langkah dalam upaya
pemecahan, yakni:
a. Realisasinya adanya maslah. Jadi harus memahami
apa masalahnya dan juuga harus dapat merumuskan.
b. Mengajukan hepotesis, sebagai suatu jalan yang
mungkin memberi arah pemecahan masalah.
c. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan
atau sumber-sumber lain.
d. Menilai dan mencobakan usaha pembuktian hipotesis
dengan keterangan-keterangan yang diperoleh.
e. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau
berbuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu.

3. Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Asosiasi

Ilmu jiwa Asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarmya terdir


dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Dari aliran ini ada
dua teori yang sangat terkena, yakni: Teori Konektionisme dari
Thorndike dan Teori Conditoning dari Parlov.

1) Teori Konektionisme
Menurut Thorndike, dasar dari belajar itu adalah asosiasi
antara kesan panca indra (impuls to action). Asosiasi yang demikian
ini dinamakan connecting. Dengan kata lain, belajra adalah
pembentukan hubungan antara stimulus dan respons ini akan terjadi
suatu hubungan yang erat kalu sering dilatih. Berkat latihan yang
terus-menerus, hubungan antara stimulus dengan respon itu akan
terbiasa, otomatis.
Mengenai hubungan stimulus dan respons tersbut, Thorndike
mengemukakan beberapa prinsip atau hukum diantaranya sebagai
berikut :
1) Law of effect
Hubungan stimulus dan respons akan bertambah erat, kalau
disertai dengan perasaan senang atau puas, dan sebalinya
kurang erat atau bahkan bisa lenyap kalau disertai perasaan
tidak senang. Karena itu adanya usaha membesarkan hati,
memuji dan kegiatan reinforcement sangat diperlukan dalam
kegiatan belajar. Hal ini akan lebih baik, sedang hal-hal
yang bersifat menghukum akan kurang mendukung.

2) Law of multiple response


Dalam situasi problematis, kemungkinan besar respons yang
tepat itu tidak segera tampak, sehingga individu yang belajar
harus berulang kali mengadakan percobaan sampai respons
itu muncul dengan tepat. Prosedur inilah yang dalam belajar
lazim disebutnya denga istilah trial and eror. Tetapi kalau
dikaji secar teliti, didalam manusia menghadapi problema,
alternatif-alternatif pemecahan yang mengarah bisa dipilih,
dikira-kira mana yang lebih tepat dan sesuia untuk
menghasilkan pemecahan yang mengarah pada pencapai
tujuan. Jadi tidak sekedar mencoba-coba seperti pada
binatang (pada awal percobaan Thorndke dengan kucing).
Oleh karena itu, istilah trial and eror, lebuh baik disebut
dengan discovering the right path to the objective.
3) Law of exercise atau Law of use and disuse
Hubungan stimulus dan respons aka bertambah erat kalau
sering dipakau dan akan berkurang bahkan lenyap jika jarang
atau tidak pernah disunakan. Oleh karena itu perlu banyak
latihan, ulangan dan pembiasan
4) Law of assimilation atau law of analogy
Seseorang dapat menyesuaikan diri atau memberi respons
yang sesuai dengan situasi sebelumnya.
Hukum-hukum yang dikemukakan Thorndike banyak dilakukan
dalamm kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Namun perlu diingat, bahwa teori konektionisme dengan huum-hukumnya
diterapkan dalam kegiatan belajar sebenarnyaada beberapa keberatan.
Keberatan-keberatan dari teori ini antara lain:

1) Belajar menurut teori ini bersifat mekanistis.apabila ada stimulus,


dengan sendirinya atau secara mekanis timbul respons. Latihan-latihan
ujian, bahkan ulangan dan ujian para subjek didik banyak yang berdasarkan
hal-hal semacam ini.
2) Pelajaran bersifat teacher centered. Dalam hal ini guru aktif melatih
dana menentukan apa yang harus diketahui subjek didik/siswa (guru
memberi stimulus).
3) Subjek didik/siswa menjadi pasif, kurang mendorong untuk berpikir
dan juga tidak ikut menentukan bahan peljarn sesuai dengan kebutuhannya.
Siswa belajar menunggu datangnya stimulus dari guru.
4) Teori ini lebih mengemukakan materi, yakni hanya memupuk
pengetahuan yang diterima dari guru dan cenderung intelektualitas

2) Teori Conditioning
Kalau seseorang mencium bau sate, air liur pun mulai keluar
(kemecer). Demikian juga kalau seseorang naik kendaraan di jalan
raya, begitu lampu merah, berhenti. Bentuk kelakuan semacam ini
pernah dipelajari oleh Parlov dengan mengadakan percobaan dengan
anjing. Tiap kalianjing itu diberi makan, lampu dinyalakan. Karena
melihat makanan, air liurnya keluar. Begitu seterusnya hal itu
dilakukan berkali-kali dan sering diulangi, sehingga menjadi
kebiasaan. Karena sudah menjadi kebiasan, maka pada suatu ketika
lampu dinyalak tetapi tidak diberi makan, air liur anjing pun keluar
Dalam praktik kehidupan sehari-hari pola seperti itu bnayak
terjadi. Seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaa karena adanya
suatu tanda. Misalnya anak seolah mendengar lonceg kemudian
berkumpul.
Teori ini kalai diterapkan kegiatan belajar juga banyak
kelemahanya. Kelemahan-kelemahan itu antara lain:
1) Percobaan dalam laboratorium, berbeda dengan keadaan sebenarnya.
2) Pribadi seseorabg (cita-cita, kesangguupan, minat, emosi dan
sebagainya) dapat mempengsruhi hasil eksperimen.
3) Respons mungkin dipengaruhi oleh stimulus yang tidak dikenal.
Dengan kata lain, tidak dapat diramalkan terlebih dahulu, stimulus
manakah yang menarik perhatian seseorang
4) Teori ini sangat sederhana dan tidak memuaskan untuk menjelaskan
segala seluk beluk belajar yang ternyata sangat kompleks

Melihat ketiga teori belajar yang dirumuskan menurut Ilmu Jiwa


Daya, Gesalt maupun Asosiasi, ternyata teori yang berkait
dengan kegiatan belajar, ketiganya ada beberapa persamaannya.
Persamaan itu antara lain mengakui adanya prinsip-prinsip
berikut ini:

1) Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan faktor yang sangat


penting.
2) Dalam kegiatan belajar selalu ada halangan/kesulitan
3) Dalam belajaar memerlukan aktivitas.
4) Dalam menghadai kesulitan, sering terdapat kemungkinan
bermacam-macam respons.
Daftar pustaka

A, M Sadirman.2014.Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta.:RAJA WALI


PERS

Dimyati & Mudjiono.2010.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:PT RINEKA CIPTA

Djamarah.2002.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: PT RINEKA CIPTA

Sanjaya, Wina.2012.Media Komunikasi Pembelajaran.Jakarta:KENCANA