Anda di halaman 1dari 3

BENGAWAN SOLO

A. Kondisi Sungai Bengawan Solo


Sungai Bengawan Solo terletak di Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan luas
wilayah krang lebih 12% dari seluruh wilayah Pulau Jawa yang merupakan sungai terbesar di
Pulau Jawa. Sungai ini sebagai sumber air yang sangat potensial bagi usaha-usaha
pengelolaan dan pengembangan sumber daya air (SDA), sungai Bengawan Solo digunakan
untuk kebutuhan domestik, air baku air minum dan industri, irigasi dan lain-lain.
Luas keseluruhan sungai Bengawan Solo kurang lebih 19.778 km2 yang terdiri dari
empat Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Bengawan Solo dengan luas 16.100 km2 ,
DAS Kali Grindulu dan Kali Lorog di Pacitan seluas 1.517 km2, DAS kecil dikawasan pantai
utara seluas 1.441 km2 dan DAS Kali Lamong seluas km2 .
DAS Bengawan Solo merupakan Das terluas di sungai Begawan Solo yang meliputi
Sub DAS Bengawan Solo Hulu, sub DAS Kali Madiun dan Sub DAS Begawan Solo Hilir.
Sub DAS Bengawan Solo Hulu dan sub DAS Kali Madiun dengan luas masing-masing 6.072
km2 dan 3.755 km2 . Bengawan Solo Hulu dan Kali Madiun mengalirkan air dari lereng
gunung berbentuk kerucut yaitu Gunung Merapi (2.914 m), Gunung Merbabu (3.142 m) dan
Gunung Lawu (3.265 m), sedangkan luas Sub DAS Bengawan Solo Hilir adalah 6.273 km2 .
Secara administratif sungai Bengawan Solo mencangkup 17 kabupaten dan tiga kota.
Tujuh belas kabupaten meliputi, Boyolali, Sukaharjo, Wonogiri, Blora, Rembang, Ponorogo,
Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Pacitan. Sedangkan
tiga kota yaitu kota Surakarta, Madiun dan Surabaya.
Untuk pengelolaan sumber daya air, maka dibuat suatu kebijakan yang ditetapkan
dalam pengelolaan sungai Bengawan Solo, yaitu:
1. Memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan, pengelolaan kuantitas
dan kualitas air untuk menjamin ketersediaan air baik untuk saat ini maupun masa datang.
2. Pengendalian daya rusak air terutama dalam hal penanggulangan banjir dilakukan dengan
pendekatan konstruksi dan non-konstruksi.
3. Pengembangan dan pengelolaan sumber daya air memerlukan penataan kelembagaan
melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pemangku
kepentingan.

B. Pemanfaatan Sungai Bengawan Solo


Berdasarkan peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11A/PRT/M/2006 Juni 2006,
wilayah sungai Bengawan Solo dikategorikan sebagai wilayah sungai lintas propinsi pada
penilaian:
1. Wilayah sungai Bengawan Solo adalah wilayah sungai lintas propinsi, yaitu berada di
wilayah propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
2. Ukuran dan besarnya potensi sumber daya air yang tersedia, ketersediaan air sebesar
18,61 milyar km2 .
3. Banyaknya sektor yang terkait dengan sumber daya air wilayah sungai Bengawan Solo
jumlah penduduk mencapai 16,03 juta jiwa pada tahun 2005.
4. Besarnya dampak sosial, lingkungan dan ekonomi terhadap pembangunan nasional.
5. Basarnya dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi nasional
dan regional.
Wilayah sungai Bengawan Solo yang dipandang sebagai wilayah sungai lintas
propinsi, maka pengelolaan sumber daya air berada di dalam kewenangan Pemerintah Pusat.
Meskipun demikian, pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai Bengawan Solo tetap
memperhatikan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya di sekitarnya, yang telah
dikompilasi dalam RTRW provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagai berikut:
Pengelolaan kawasan lindung bertujuan untuk mencegah kerusakan fungsi
lingkunagan. Sedangkan pengelolaan kawasan budidaya bertujuan untuk meningkatkan daya
guna dan hasil guna pemanfaatan ruang, menjaga kelestarian lingkungan serta menghadiri
konflik pemanfaatan ruang.
a) Kawasan Perlindungan Bawahan
Kawasan perlindungan bawahan diperuntukan untuk menjamin terselenggaranya
fungsi lindung hidrologis bagi kegiatan pemanfaatan lahan. Kawasan ini meliputi kawasan
hutan lindung dan kawasan resapan air.
b) Kawasan Suaka Alam
Beberapa sub kawasan termasuk di dalam kawasan suaka alam, pelestarian alam dan
cagar budaya, suaka alam laut dan perairan, kawasan pantai berhutan bakau, taman wisata
serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
c) Kawasan Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang berpotensi tinggi mengalami bencana
alam, diantaranya kawasan rawan banjir, rawan bencana longsor, rawan bencana gunung
berapi dan rawan bencana gempa.
Kawasan rawan bajir adalah tempat-tempat yang setiap musim hujan mengalami
genangan lebih dari enam jam pada saat hujan turun dalam keadaan normal. Kawasan banjir
terdapat di kabupaten Sragen dan kaupaten Blora.
Kawasan rawan bencana longsor merupakan wilayah yang kondisi permukaan
tanahnya mudah longsor karena terdapat zona yang bergerak akibat adanya patahan atau
pergeseran batuan induk pembentuk tanah. Wilayah kawasan yang rawan bencana longsor
diaantaranya pada lereng timur gunung merbabu dan lereng timur gunung merapi di
kabupaten Boyolali.
Kawasan rawan bencana gunug berapi merupakan wilayah sekitar puncak gunung
berapi yang rawan terhadap luncuran gas beracun, lahar panas dan dingin, luncuran awan
panas dan semburan api, dan tempat lalunya tumpahan benda-benda lain akibat letusan
gunung berapi. Lokasi kawasan ini di sekitar gunung lawu, gunung liman dan gunung wilis.
Kawasan rawan becana gempa yaitu kawasan yang berpotensi dan rentan terkena
gempa, lokasi kawasan ini di kabupaten Boyolali, Ngawi, Maagetan, Madiun dan Ponorogo.
Selain pemanfaatan diatas, sungai Bengawan Solo juga dapat digunakan sebagai:
Jalur Transportasi dan Tempat Rekreasi. Aliran air tenang, tepi sungai masih ada
tumbuhan-tumbuhan dan pohon-pohon besar.
Untuk mengairi ribuan hektar sawah disepanjang aliran sungai.
Sebagai penyuplai air baku untuk kebutuhan setiap hari, air industri dan sebagai sarana
PLTA (PLTA Gajah Mungkur Wonogiri).
Sungai Bengawan Solo mempunyai manfaat yang besar bagi masyarakat disekitarnya,
selain sebagai sumber kehidupan, sungai ini berfungsi sebagai Tempat Tujuan Wisata. Hal ini
dikarenakan oleh keindahan pemandangan alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para
pelancong untuk menyusuri sungai. Selain sebagai tempat wisata, sungai Bengawan Solo
juga dimanfaatkan masyarakat untuk mengairi ribuan hektar sawah disepanjang aliran sungai.
Sungai ini juga menyuplai air baku untuk kebutuhan setiap hari, air industri dan sebagai
sarana PLTA (PLTA Gajah Mungkur Wonogiri ). Pemanfaatan Sungai Bengawan Solo,
tampaknya sudah mencapai tingkat pengembangan, hal ini dapat di lihat dengan adanya
bangunan perairan seperti bendungan, bendung, tanggul, jaringan irigasi. Pengembangan
tersebut memperoleh manfaat yang besar yakni:
Pengendalian banjir untuk periode ulang 10 tahunan dan 5 tahunan.
Penyediaan air irigasi
Pembangkit energi listrik
Penyediaan air minum
Penyediaan air baku untuk industri
Perikanan waduk dengan sistem tebar bebas
Potensi pariwisata dan olahraga.