Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN FEBRIS

1. Definisi Febris
Febris adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di
hipotalamus (Elizabeth J. Corwin, 2000). Dikatakan demam jika suhu orang
menjadi lebih dari 37,5 C (E. Oswari, 2006). Demam terjadi karena pelepasan
pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen
eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil
reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi (Sjaifoellah Noer,
2004).
Febris berarti suhu tubuh diatas batas normal biasa, dapat disebabkan
oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi
pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau
dehidrasi(Guyton, 1990). Febris adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu
hingga 38C atau lebih. Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari
37,8C. Sedangkan bila suhu tubuh lebih dari 40C disebut demam tinggi
(hiperpireksia) (Julia, 2003). Febris adalah kenaikan suhu tubuh karena
adanya perubahan pusat termoregulasi hipotalamus (Berhman, 1999).
Seseorang mengalami demam bila suhu tubuhnya diatas 37,8C (suhu oral
atau aksila) atau suhu rektal (Donna L. Wong, 2003).
Febris adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kenaikan
suhu tubuh diatas 37C atau dimana fungsi pusat pengatur suhu badan
terganggu dalam otak (hypothalamus (IPD. Edisi 3).
Febris adalah suatu keadaan dimana seorang mengalami kenaikan suhu
menjadi >37C selama 3 7 hari (Manjour 2002).
Febris adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau
beresiko untuk mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari
37,8 oC peroral atau 38,8 oC perektal karena factor eksternal. (Carpenito,
2002).
2. Etiologi
Febris terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam
dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit
metabolik maupun penyakit lain (Julia, 2000). Menurut Guyton (2000),
demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri atau zat toksik
yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor
otak atau dehidrasi.
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan
toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan
pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya
untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain:
ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan
fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium
serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu
diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam, tinggi
demam serta keluhan dan gejala yang menyertai demam (Soeparman, 2002 ).
Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
2000 bahwa etiologi febris,diantaranya
1. Suhu lingkungan
2. Adanya infeksi
3. Pneumonia
4. Malaria
5. Otitis media
6. Imunisasi
Hal hal yang menyebabkan febris adalah :
1. Rangsangan secara mekanis antara lain tekanan rangsangan dari
pendarahan otak, tumor serebi dan fraktur basis spaini.
2. Rangsangan secara psikis antara lain pengaruh dari cerebrum yang bersifat
demam hysteria.
3. Rangsangan secara kimiawi antara lain rangsangan pyrula, zat zat
pirugen hasil pemecahan protein atau metabolisme dari bakteri.
3. Klasifikasi
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain:
a. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan
turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan
menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat
yang normal dinamakan juga demam hektik.
b. Demam remiten (Demam Turun Naik)
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan
normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat
dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
c. Demam intermiten (Demam Selang Seling)
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu
hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan
bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut
kuartana.
d. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat
demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
e. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa
periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit
tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien
dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu
sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria,
tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab
yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru
saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting
seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak
berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.
Jenis Demam Ciri-ciri
Demam septik Malam hari suhu naik sekali, pagi hari
turun hingga diatas normal, sering
disertai menggigil dan berkeringat
Demam remitten Suhu badan dapat turun setiap hari tapi
tidak pernah mencapai normal.
Perbedaan suhu mungkin mencapai 2
derajat namun perbedaannya tidak
sebesar demam septik.
Demam intermiten Suhu badan turun menjadi normal
selama beberapa jam dalam satu hari.
Bila demam terjadi dua hari sekali
disebut tertiana dan apabila terjadi 2
hari bebas demam diantara 2 serangan
demam disebut kuartana.
Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak
berbeda lebih dari satu derajat. Pada
tingkat demam yang terus menerus
tinggi sekali disebut hiperpireksia

Klasifikasi febris/demam menurut Jefferson (2010), adalah :

Fever Keabnormalan elevasi dari suhu tubuh, biasanya karena proses


patologis
Hyperthermia Keabnormalan suhu tubuh yang tinggi secara intensional pada
makhluk hidup sebagian atau secara keseluruhan tubuh, seringnya
karena induksi dari radiasi (gelombang panas, infrared), ultrasound
atau obat obatan
Malignant Peningkatan suhu tubuh yang cepat dan berlebihan yang menyertai
Hyperthermia kekakuan otot karena anestesi total
4. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8C - 40C)
b. Suhu meningkat
c. Kulit kemerahan
d. Hangat pada sentuhan
e. Peningkatan frekuensi pernapasan
f. Menggigil
g. Dehidrasi
h. Kehilangan nafsu makan
i. Lesu, dan gelisah
j. Berkeringat
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri
punggung, anoreksia dan somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih
tinggi dari 37,5C - 40C, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan
karakteristik minor yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan
kedalaman pernapasan, menggigil/merinding perasaan hangat dan dingin,
nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala verigo),
keletihan, kelemahan, dan berkeringat (Isselbacher. 1999, Carpenito. 2000).

5. Patofisiologi
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun)
anak terhadap infeksi atau zat asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada
infeksi atau zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan
tubuh dengan dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam,
ada yang berasal dari dalam tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen
eksogen) yang bisa berasal dari infeksi oleh mikroorganisme atau merupakan
reaksi imunologik terhadap benda asing (non infeksi). Zat pirogen ini dapat
berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama toksin polisakarida,
yang dilepas oleh bakteri toksik yang dihasilkan dari degenerasi jaringan
tubuh menyebabkan demam selama keadaan sakit
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap
pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis
oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula
besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri ke dalam
cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit
Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor)
yang terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di
hipotalamus. Dalam hipotalamus pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam
arakidonat serta mengakibatkan peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ).
Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan suhu tubuh dengan cara
menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi kelenjar
keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah ketidakseimbangan
pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang menimbulkan demam pada
anak. Suhu yang tinggi ini akan merangsang aktivitas tentara tubuh (sel
makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan
meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan
dalam pembentukan antibodi atau sistem kekebalan tubuh.
Pathway

Infeksius agents toxius Monocytes macropages Pyrogenic cytokines IL I,


mediator of inflamasi endothel cell other cell types TNF, IL-6, IFNs

Elevated thermo- PGE2 Anterior Hypothalamus


regulatory set point

Heat corservation heat Fever Hipertermi Metabolism basal meningkat


production

Defisiensi Pengetahuan

Ketidakefektifan O2 ke otak menurun Ketidakseimbangan nutrisi


termoregulasi kurang dari kebutuhan
tubuh

Kejang demam TIK meningkat

Risiko cidera Risiko keterlambatan Ketidakefektifan perfusi


perkembangan jaringan perifer
6. Komplikasi
a. Dehidrasi : demam penguapan cairan tubuh
b. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering
terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam
pertama demam dan umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam
ini juga tidak membahayakan otak
c. Menurut Corwin (2000),komplikasi febris diantaranya:
1. Takikardi
2. Insufisiensi jantung
3. Insufisiensi pulmonal
4. Kejang demam

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada penderita febris antara lain yaitu (Mansjoer, 2009)
a. Secara Fisik
Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-
6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau.
Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah
anak mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu
lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu
mencapai otak. Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya
sel-sel otak. Dalam keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi
berupa rusaknya fungsi intelektual tertentu.
1. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
2. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
3. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen
ke otak yang akan berakibat rusaknya sel-sel otak.
4. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak-banyaknya. Minuman
yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan),
air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang
menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.
5. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
6. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya
untuk menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu
tubuh dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh
digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Jangan
menggunakan air es karena justru akan membuat pembuluh darah
menyempit dan panas tidak dapat keluar. Menggunakan alkohol dapat
menyebabkan iritasi dan intoksikasi (keracunan).
7. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-
suam kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di
luar terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu
diluar cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol
pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh
lagi. Di samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat
pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga
akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah
pengeluaran panas dari tubuh.
b. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat
pengatur suhu di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah
pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim
cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus direndahkan kembali
menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas diatas normal
dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi. Petunjuk pemberian
antipiretik:
a) Bayi 6 12 bulan : -1 sendok the sirup parasetamol
b) Anak 1 6 tahun : - parasetamol 500 mg atau 1-1 sendokteh
sirup parasetamol
c) Anak 6 12 tahun : -1 tablet parasetamol 500 mg atau 2 sendok
teh sirup parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan
dengan air atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.
Gunakan sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan
demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak
dengan kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit
neurologis dan pada anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti
inflamasi, analgetik dan antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-
macam dan sering berbeda dalam susunan kimianya tetapi mempunyai
kesamaan dalam efek pengobatannya.
Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui pencegahan
pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim
cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para -aminofenol yang
bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam
susunan saraf pusat. Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4
jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada
umumnya dosis ini dapat d itoleransi dengan baik.Dosis besar jangka lama
dapat menyebabkan intoksikasi dan kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat
secara per oral maupun rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen
juga bekerja meneka n pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat
antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Efek samping yang timbul berupa
mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan
aspirin. Efek samping hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan
anemia aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama
bila dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10
mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja
menekan pembentukkan prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik,
analgetik da n antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa
agranulositosis, anemia aplast ik dan perdara han saluran cerna. Dosis
terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam dan tidak dianjurkan unt uk
anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara per oral, intramuskular atau
intravena. Asam mefenamat suatu obat gol ongan fenamat.Khasiat
analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai antipiretik.Efek sampingnya
berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosis pemberiannya 20
mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak
boleh diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.

8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien demam menurut (Mansjoer, 2009) Yaitu:
a. Pemeriksaan leukosit : Pada kebanyakan kasus demam jumlah leukosit
pada sediaan darah tepi berada dalam batas normal,kadang kadang
terdapat leukositosis walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi
sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit berguna untuk
pemeriksaan demam.
b. Pemeriksaan SGOT (Sserum glutamat Oksaloasetat Transaminase) dan
ISGPT( Serum Glutamat Piruvat Transaminase) SGOT SGPT sering
meningkat tetapi kembali normal setelah sembuhnya demam, kenaikan
SGOT SGPT tidak memerlukan pembatasan pengobatan.
c. Uji Widal : Uji widal aalah suatu reaksi antigen dan antibody / agglutinin.
Agglutinin yang spesifik terdapat salmonella terdapat serum demam
pasien. Antigen yang didigunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dantelah diolah dilaboratoriaum.
Maksud uji Widal ini adalah untuk menentukan adanya agglutinin dalam
serum pasien yang disangka menderita demam thypoid.

9. Asuhan Keperawatan Teoritis


a. Pengkajian
1. Identitas
a) Identitas: umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b) Riwayat kesehatan
c) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) :
panas.
d) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien
saat masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam,
gejala lain yang menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu
makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
e) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau
penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
f) Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau
penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain
baik bersifat genetik atau tidak).

2. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: kesadaran, vital sign, status nutrisi

3. Pemeriksaan Persistem
a. Sistem persepsi sensori
b. Sistem persyarafan: kesadaran
c. Sistem pernafasan
d. Sistem kardiovaskuler
e. Sistem gastrointestinal
f. Sistem integument
g. Sistem perkemihan

4. Pola Fungsi Kesehatan


a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolism
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola kognitif dan perseptual
g. Pola toleransi dan koping stress
h. Pola nilai dan keyakinan
i. Pola hubungan dan peran

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
b. Foto rontgent
c. USG

b. Masalah yang lazim muncul

1. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit

2. Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme

3. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan
diaporesis

No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

1 Hipertemia b/d proses NOC : NIC :


penyakit Thermoregulation
- Fever treatment
Kriteria Hasil : - Monitor suhu
sesering
Definisi : suhu tubuh naik - Suhu tubuh dalam
mungkin
diatas rentang normal rentang normal
- Monitor IWL
- Nadi dan RR dalam
- Monitor warna
rentang normal
dan suhu kulit
Batasan Karakteristik: - Tidak ada perubahan
- Monitor
warna kulit dan tidak
kenaikan suhu tubuh tekanan darah,
ada pusing
diatas rentang normal nadi dan RR
- Monitor
serangan atau konvulsi
penurunan
(kejang)
tingkat
kulit kemerahan kesadaran
- Monitor WBC,
pertambahan RR
Hb, dan Hct
takikardi - Monitor intake

saat disentuh tangan dan output


terasa hangat - Kolaborasikan
pemberian anti
piretik
Faktor faktor yang - Berikan
berhubungan : pengobatan
untuk mengatasi
- penyakit/ trauma
penyebab
- peningkatan demam
metabolisme - Selimuti pasien
- Lakukan tapid
- aktivitas yang berlebih
sponge
- pengaruh - Berikan cairan
medikasi/anastesi intravena
- Kompres pasien
-
pada lipat paha
ketidakmampuan/penuru
dan aksila
nan kemampuan untuk
- Tingkatkan
berkeringat
sirkulasi udara
- terpapar dilingkungan - Berikan
panas pengobatan

- dehidrasi untuk mencegah


terjadinya
- pakaian yang tidak tepat menggigil

- Temperature
regulation
- Monitor suhu
minimal tiap 2
jam
- Rencanakan
monitoring suhu
secara kontinyu
- Monitor TD,
nadi, dan RR
- Monitor warna
dan suhu kulit
- Monitor tanda-
tanda hipertermi
dan hipotermi
- Tingkatkan
intake cairan
dan nutrisi
- Selimuti pasien
untuk mencegah
hilangnya
kehangatan
tubuh
- Ajarkan pada
pasien cara
mencegah
keletihan akibat
panas
- Diskusikan
tentang
pentingnya
pengaturan suhu
dan
kemungkinan
efek negatif dari
kedinginan
- Beritahukan
tentang indikasi
terjadinya
keletihan dan
penanganan
emergency yang
diperlukan
- Ajarkan
indikasi dari
hipotermi dan
penanganan
yang diperlukan
- Berikan anti
piretik jika
perlu

- Vital sign
Monitoring
- Monitor TD,
nadi, suhu, dan
RR
- Catat adanya
fluktuasi
tekanan darah
- Monitor VS
saat pasien
berbaring,
duduk, atau
berdiri
- Auskultasi TD
pada kedua
lengan dan
bandingkan
- Monitor TD,
nadi, RR,
sebelum,
selama, dan
setelah aktivitas
- Monitor
kualitas dari
nadi
- Monitor
frekuensi dan
irama
pernapasan
- Monitor suara
paru
- Monitor pola
pernapasan
abnormal
- Monitor suhu,
warna, dan
kelembaban
kulit
- Monitor
sianosis perifer
- Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi
yang melebar,
bradikardi,
peningkatan
sistolik)
- Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital
sign

2 Resiko injury b/d infeksi NOC : Risk Kontrol NIC :


mikroorganisme Environment
Kriteria Hasil :
Management
- Klien terbebas dari (Manajemen
cedera lingkungan)
- Klien mampu
- Sediakan
menjelaskan
lingkungan
cara/metode
yang aman
untukmencegah
untuk pasien
injury/cedera
- Identifikasi
- Klien mampu
kebutuhan
menjelaskan factor
keamanan
resiko dari
pasien, sesuai
lingkungan/perilaku
dengan kondisi
personal
fisik dan fungsi
- Mampumemodifikasi
kognitif pasien
gaya hidup
dan riwayat
untukmencegah
penyakit
injury
terdahulu pasien
- Menggunakan
- Menghindarkan
fasilitas kesehatan
lingkungan
yang ada
yang berbahaya
- Mampu mengenali
(misalnya
perubahan status
memindahkan
kesehatan
perabotan)
- Memasang side
rail tempat tidur
- Menyediakan
tempat tidur
yang nyaman
dan bersih
- Menempatkan
saklar lampu
ditempat yang
mudah
dijangkau
pasien.
- Membatasi
pengunjung
- Memberikan
penerangan
yang cukup
- Menganjurkan
keluarga untuk
menemani
pasien.
- Mengontrol
lingkungan dari
kebisingan
- Memindahkan
barang-barang
yang dapat
membahayakan
- Berikan
penjelasan pada
pasien dan
keluarga atau
pengunjung
adanya
perubahan
status kesehatan
dan penyebab
penyakit.

3 Resiko defisit volume NOC: Fluid management


cairan b/d intake yang
v Fluid balance Timbang
kurang dan diaporesis
popok/pembalut
v Hydration
jika diperlukan
v Nutritional Status : Food
Definisi : Penurunan cairan Pertahankan
and Fluid Intake
intravaskuler, interstisial, catatan intake dan
dan/atau intrasellular. Ini Kriteria Hasil : output yang akurat
mengarah ke dehidrasi,
- Mempertahankan Monitor status
kehilangan cairan dengan
urine output sesuai hidrasi (
pengeluaran sodium
dengan usia dan BB, kelembaban
BJ urine normal, HT membran mukosa,
normal nadi adekuat,
Batasan Karakteristik :
- Tekanan darah, nadi, tekanan darah
- Kelemahan suhu tubuh dalam ortostatik ), jika
batas normalTidak diperlukan
- Haus
ada tanda tanda
Monitor vital
- Penurunan turgor dehidrasi, Elastisitas
sign
kulit/lidah turgor kulit baik,
membran mukosa Monitor masukan
- Membran mukosa/kulit
lembab, tidak ada makanan / cairan
kering
rasa haus yang dan hitung intake
- Peningkatan denyut berlebihan kalori harian
nadi, penurunan tekanan
Lakukan terapi
darah, penurunan
IV
volume/tekanan nadi
Monitor status
- Pengisian vena
menurun nutrisi

- Perubahan status Berikan cairan


mental
Berikan cairan
- Konsentrasi urine IV pada suhu
meningkat ruangan

- Temperatur tubuh Dorong


meningkat masukan oral

- Hematokrit meninggi Berikan


penggantian
- Kehilangan berat badan
nesogatrik sesuai
seketika (kecuali pada third
output
spacing)
Dorong
Faktor-faktor yang
keluarga untuk
berhubungan:
membantu pasien
- Kehilangan volume makan
cairan secara aktif
Tawarkan snack
- Kegagalan mekanisme ( jus buah, buah
pengaturan segar )

Kolaborasi
dokter jika tanda
cairan berlebih
muncul meburuk

Atur
kemungkinan
tranfusi

Persiapan untuk
tranfusi
4. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan Kaji dan
dengan hipertermi, efek tindakan keperawatan identifikasi serta
proses penyakit selama 2x24jam luruskan informasi
ansietas klien/keluarga yang dimiliki
hilang dengan kriteria klien/keluarga
hasil: mengenai
hipertermi
Klien/keluarga dapat
Berikan
mengidentifikasi hal-hal
informasi pada
yang dapat
klien/keluarga
meningkatkan dan
yang akurat
menurunkan suhu tubuh
tentang penyebab
Klien/keluarga mau
hipertermi
berpartisipasi dalam
Validasi
setiap tidakan yang
perasaan
dilakukan
klien/keluarga dan
Klien/keluarga
yakinkan
mengungkapkan
klien/keluarga
penurunan cemas yang
bahwa kecemasan
berhubungan dengan
merupakan respon
hipertermi, proses
yang normal
penyakit
Diskusikan
dengan
klien/keluarga
rencana tindakan
yang dilakukan
berhubungan
dengan hipertermi

c. Discharge Planning

1. Ajarkan pada orang tua mengenal tanda tanda kekambuhan dan laporkan
dokter /perawat

2. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai denga dosis dan waktu

3. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi

4. Instruksikan untuk kontrol ulang

5. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus


DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Doenges, M.E, Marry F. MandAlice, C.G. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan:
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C. (1990). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Ed. 3.
Jakarta, EGC.
Julia Klaartje Kadang, SpA (2000). Metode Tepat Mengatasi Demam. Dalam
http://rentalhikari.wordpress.com/2010/03/22/lp-febris-demam.html diakses
pada tanggal 08 Agustus 2017.

NANDA NIC-NOC. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA.


Yogyakarta: Media Hardy
Mansjoer, Arif, Kapita Selekta Kedokteran II. Media Aesculaplus : Jakarta. 2000

Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. FK Universitas Udayana.

Wong, Dona L, dkk,. 2003. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis:
Mosby Inc.