Anda di halaman 1dari 11

ILMU KEPERAWATAN ANAK DALAM KONTEKS KELUARGA

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Tumbuh Kembang Anak


1. Definisi
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta
jaringan intraselular atau bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh
sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Sedangkan
perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa
serta sosialisasi dan kemandirian sebagai hasil interaksi kematangan
susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya (Permenkes RI,
2014).
Menurut Faizah (2012), pertumbuhan adalah semua aspek fisik
karena perbanyakan sel (dalam cm atau kg), sedangkan perkembangan
adalah bertambahnya keterampilan dan fungsi yang kompleks akibat
maturasi.
Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisik (anatomis) yang
ditandai denganbertambahnya ukuran berbagai organ tubuh, karena
adanyapertambahan dan pembesaran sel-sel.Perkembangan adalah suatu
proses bertambahnya kemampuan (skill) dalam stukturdan fungsi tubuh
yang lebihkompleks dalam pola yang teraturdan dapat diramalkan, sebagai
hasil dari proses pematangan (Royhanaty, 2013).

2. Ciri-Ciri Tumbuh Kembang Anak


Menurut Permenkes RI (2014), berikut adalah ciri-ciri proses
tumbuh kembang anak :
a. Perkembangan menimbulkan perubahan
b. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan
perkembangan selanjutnya.
c. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang
berbeda.
d. Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan.
e. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
1) Perkembangan lebih dahulu terjadi di daerah kepala lalu
kaudal/anggota tubuh.
2) Perkembangan lebih dahulu terjadi di daerah proksimal
(gerak kasar) lalu berkembang ke distal seperti jari-jari
(gerak halus).

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


a. Faktor Internal : Ras, keluarga, kelainan genetik, umur, jenis
kelamin, kelainan kromosom.
b. Faktor Eksternal
1) Lingkungan prenatal : gizi ibu saat hamil,toksin atau zat
kimia, radiasi, psikologi ibu/stress, kelainan imunitas,
infeksi, anoksia embrio.
2) Lingkungan intranatal : komplikasi pada persalinan seperti
trauma kepala, asfiksia menyebabkan kerusakan jaringan
otak.
3) Lingkungan postnatal : pengetahuan ibu, gizi, pola hidup
sehat, sosial ekonomi, sanitasi lingkungan yang kurang
baik, penyakit kronis/kelainan kongenital, pola
pengasuhan/interaksi ibu dan anak, stimulasi, obat-obatan.

4. Aspek Tumbuh Kembang pada Anak


a. Gerak kasar atau motorik kasar, merupakan aspek yang
berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan
sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri,
dan sebagainya.
b. Gerak motorik halus, adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-
bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu,
menjimpit, menulis, dan sebagainya. Adapun gerak motorik halus
masih berhubungan dengan perkembangan sosialisasi dan
kemandirian. Perkembangan sosialisasi dan kemandirian adalah
aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan
sendiri, membereskan mainan setelah selesai bermain), berpisah
dengan ibu atau pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya, dan sebagainya.
c. Kemampuan bicara dan bahasa, adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara,
berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah, dan sebagainya.
Dengan mengetahui pola normal perkembangan bicara diharapkan
dapat dideteksi apabila ada keterlambatan bicara pada anak.
d. Perkembangan sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang
berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri,
membereskan mainan setelah selesai bermain), berpisah dengan
ibu atau pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya, dan sebagainya.

5. Gangguan Tumbuh Kembang pada Anak


a. Gangguan bicara dan bahasa
b. Cerebral Palsy : kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak
progresif oleh kerusakan sel motorik pada susunan saraf pusat.
c. Sindrom Down : Terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang
berlebih.
d. Stunting atau perawakan pendek
e. Gangguan autisme : Gangguan perkembangan pervasif dimana
gejalanya muncul sebelum anak berusia 3 tahun meliputi interaksi
sosial, komunikasi, dan perilaku.
f. Retardasi mental : Ditandai dengan IQ <70 sehingga individu tidak
mampu untuk belajar dan beradaptasi.
g. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas (GPPH) : Anak
kesulitan untuk memusatkan perhatian yang ditandai dengan
hiperaktifitas.

6. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak


Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasa anak umur
0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal (Permenkes
RI, 2014).
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam stimulasi tumbuh
kembang anak, yaitu :
a. Dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.
b. Menunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan
meniru tingkah laku orang terdekatnya.
c. Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
d. Stimulasi dengan mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi,
menyenangkan, tanpa paksaan, dan tidak ada hukuman.
e. Stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
f. Gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, dan aman.
g. Beri kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
h. Selalu beri pujian pada anak, bila perlu beri hadiah atas
keberhasilannya.
B. Imunisasi
1. Definisi
Imunisasi yaitu pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang
pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.Dalam
upaya pencegahan penyakit, dapat mengendalikan faktor penjamu. Melalui
program imunisasi dapat mempertinggi kekebalan penjamu terhadap
penyakit tertentu sehingga dapat melawan mikroorganisme penyebab
penyakit, tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu (Sarbini, 2014).
Di dalam Vaksin imunisasi terdapat mikroorganisme penyebab
penyakit yang telah dilemahkan. Cara kerja vaksin imunisasi yaitu dengan
menipu tubuh untuk merangsang sistem pertahanan tubuh. Pada saat
vaksinasi dilakukan setelah kuman-kuman tersebut ada didalam tubuh
maka sistem pertahan tubuh akan melakukan perlawanan terhadap ''invasi'
antigen ini sehingga sistem pertahanan tubuh bisa mengidentifikasi antigen
tersebut dan mempunyai kemampuan melawan dimasa yang akan datang
(Imunitas)

2. Tujuan
a. Imunisasi diberikan agar bayi siap dengan lingkungan baru (luar
kandungan) karena tidak ada lagi kekebalan tubuh alami yang di
dapatkan dari ibu seperti saat masih dalam kandungan.
b. Apabila tidak dilakukan vaksinasi dan kemudian terkena kuman
yang menular, kemungkinan tubuhnya belum kuat melawan
penyakit tersebut.

3. Manfaat
a. Untuk menjaga daya tahan tubuh anak.
b. Untuk mencegah penyakit-penyakit menular yang berbahaya
c. Untuk menjaga anak tetap sehat
d. Untuk mencegah kecacatan dan kematian.
e. Untuk menjaga dan Membantu perkembangan anak secara optimal.
4. Jenis Vaksin
a. Vaksin Hepatitis B
Virus hepatitis B adalah virus yang menyebabkan penyakit
hepatitis B atau lebih dikenal dengan nama penyakit kuning.
Penyakit ini sangatlah berbahaya karena bisa menyebabkan
kerusakan pada hati. Pemberian vaksin 3 kali pada bayi terbukti
mampu mencegah penyakit hepatitis B sampai 75 %.

b. DPT Vaksin.
Vaksin ini merupakan gabungan dari 3 vaksin yaitu Difteri,
Pertussis, dan Tetanus (DPT). Difteri merupakan penyakit dari
basil Difteri yang bisa menyebabkan kerusakan jantung dan
sataf. Pertussis yaitu penyakit batuk rajan yang sangat menular
penyakit inj sering juga disebut batuk 100 hari. Tetanus disebabkan
oleh jenis bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani ditandai
dengan kekakuan otot gejala penyakit tetanus hampir sama
dengan Epilepsi.

c. Vaksin Polio
Penyakit polio adalah penyakit yang bisa menyebabkan
kelumpuhan pada anak. Menurut penelitian vaksin polio terbukti
90 % efektif untuk mencegah infeksi polio pada anak.

d. Vaksin Campak
Campak adalah salah satu jenis Penyakit kulit yang menular
berakibat fatal terutama pada anak-anak. Menurut penelitian
Vaksin ini dapat mencegah infeksi campak hingga 90 persen.

e. Bacille Calmette Guerin (BCG)


Vaksin berguna untuk mencegah penyakit tuberculosis (TBC) yaitu
penyakit infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini
Merupakan kuman yang sangat berbahaya dan tidak mudah untuk
di mati kan.

f. Vaksin HiB
Vaksin ini diberikan untuk melakukan pencegahan penyakit
meningitis dan pneumonia. Yang di sebabkan oleh infeksi bakteri
Haemofillus Influenza B.

5. Jadwal Imunisasi
6. Pengkajian praimunisasi
1. Tulis biodata klien secara lengkap.
2. Pengkajian secara umum mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
3. Riwayat penyakit yang oernah diderita
4. Riwayat imunisasi yang pernah didapatkan o/ anak
5. Riwayat prenatal
6. Riwayat kejang
7. Riwayat penyakit keluarga ( Disfungsi imunologi,HIV/ AIDS, Kanker )
8. Riwayat obat- obatan
9. Riwayat alergi terhadap obat tertentu.

7. Kontraindikasi imunisasi

Jenis Vaksin Kontraindikasi

BCG Terjadi reaksi anafilaksis terhadap vaksin tersebut.


Penyakit sedang atau demam dengan atau tanpa demam.
DPT Enselopati dalam 7 hari pasca pemberian DPT sebelumnya.
Polio Infeksi dengan HIV.
Gangguan imunodefisiensi yang diketahui seperti tumor hematologis dan
padat, imunodefisiensi congenital dan terapi imunosupresi jangka panjang.

Campak Terjadi reaksi anafilaksis terhadap vaksin tersebut.


Penyakit sedang atau demam dengan atau tanpa demam.

Hepatitis B Reaksi anafilaksis terhadap ragi roti biasa.

TT Terjadi reaksi anafilaksis terhadap vaksin tersebut.


Penyakit sedang atau demam dengan atau tanpa demam.
8. Reaksi / efek samping imunisasi

Jenis Vaksin Efek Samping

BCG Timbul eritema, indurasi menjadi ulkus timbul jaringan parut.


Difteri Umumnya demam dalam 24-48 jam, sakit, kemerahan dan bengkak pada
daerah injeksi, rewel, mengantuk dan anoreksia.
Tetanus Sama dengan difteri ditambah urikaria dan malaise, adanya bencolan pada
daerah injeksi.
Pertusis Sama seperti tetanus, namun dapat terjadi kehilangan kesadaran, kejang,
demam, dan reaksi alergi sistemik.
Polio Paralisis karena vaksin jarang terjadi dalam 2 bulan imunisasi.
Campak Anoreksia, malaise, ruam, dan demam sampai 10 hari

9. Cara pemberian imunisasi (dosis, tempat pemberian, tempat


penyimpanan)
Tempat Penyimpanan
Jenis Vaksin Dosis Tempat Pemberian
0-8oC 35-37oC
BCG 0,05 cc Intracutan kristal 1 tahun Kristal 3-14 hr
cair 1 kali pakai Cair 1 kali pakai
DPT 0,5 cc Intramuscular 3-7 tahun 6 minggu
Polio 2 tetes Diteteskan mulut 6-12 bulan 1-3 hari

Campak 0,5 cc Subcutan Kristal 2 tahun Kristal 1 mggu


Cair 1 kali pakai Cair 1 kali pakai

Hepatitis B 0,5 cc Intramuscular

TT 0,5 cc Intramuscular
10. Intervensi keperawatan
1. Komunikasi teraupeutik dengan ortu/klg
2. Informasi tentang efek samping vaksin dan resiko apabila tdk imunisasi.
3. Periksa kembali persiapan u/ imunisasi untuk mengantisipasi hal- hal yg tdk
diinginkan.
4. Baca dgn teliti informasi tentang produk
5. Tinjau kembali apakah ada indikasi kontra thd vaksin yang akan diberikan.
6. Periksa jenis vaksin dan yakinkan kalau vaksin disimpan dgn baik
7. Periksa vaksin yang akan diberikan, apakah ada tanda- tanda perubahan pada
vaksin tersebut, periksa tanggal kadaluawarsa, dan catat hal- hal istimewa,
seperti ada perubahan warna.
8. Yakinkan bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal, dan tawarkan
tawarkan vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal.
9. Berikan vaksin dgn tehnik yang benar.
DAFTAR PUSTAKA

Budiyanti, Risma. (2015). Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap dengan


Perilaku Ibu dalam memberikan Stimulasi Perkembangan Sosial Anak
Usia 3-5 Tahun. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Faizah, Nur. (2012).Tumbuh Kembang Anak. Diakses pada 17 Juli 2017.


http://file.upi.edu.

Kemenkes RI. (2015). Manajemen Terpadu Balita Sakit. Diakses pada 17 Juli
2017.http://dosen.stikesdhb.ac.id.

Permenkes RI. (2014). Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan


Gangguan Tumbuh Kembang Anak. Diakses pada 17 Juli 2017.
http://kesga.kemkes.go.id.

Royhanaty, Isy. (2013). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Balita. Diakses
pada 18 Juli 2017. http://repository.unair.ac.id.

Sarbini, Ryan. (2014). Imunisasi. Diakses pada 18 Juli 2017.


http://www.eprints.undip.ac.id.

Suma. (2014). Diare Pada Anak. Diakses pada 19 Juli 2017.


http://www.eprints.ang.ac.id.