Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Segala aktivitas susunan saraf pusat yang dapat dilihat, didengar, dan
direkam, dan diperiksa berwujud gerak otot. Gerak jalan, gerak otot wajah, gerak
otot yang menentukan sikap tubuh dan gerak otot skletal apapun merupakan
manifestasi eksternal susunan saraf pusat.

Otot otot skletal dan neuron-neuron menyusun susunan neuromuskular


voluntar, yaitu sistem yang mengurus dan sekaligus melaksanakan gerakan yang
dikendalikan oleh kemauan. Secara anatomik sistem tersebut terdiri atas; (1)
upper motor neuron (UMN), (2) Lower motoneuron (LMN), (3) alat penghubung
antara unsur saraf dan unsur otot, dan (4) otot skeletal.

Gaya saraf yang disalurkan melalui lintasan lintasan neuronal adalah


potensial aksi, yang sejak dulu dijuluki impuls dan tidak lain berarti pesan. Dan
impuls yang disampaikan kepada otot sehingga menghasilkan gerak otot yang
dinamakan impuls motorik.

Pemeriksaan sistem motorik haruslah dikuasai. Sebagian besar manifestasi


objektif kelainan saraf bermanifestasi dalam gangguan gerak otot. Justru
manifestasi objektif inilah yang merupakan bukti riil adanya suatu kelainan atau
penyakit.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Sistem yang berfungsi sebagai pelaksana gerakan itu sendiri. Susunan


somatomotorik (atau sistem motorik) ialah susunan yang mengurus hal yang
berhubungan dengan gerakan otot-otot skeletal. Susunan itu terdiri dari 2 unsur
yaitu unsur saraf dan otot. Unsur saraf terdiri dari upper motoneurone(UMN) dan
lower motoneurone (LMN).(1)

2.2 ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM MOTORIK


Dalam memulai suatu gerakan, bagian UMN mengirim pesan kepada bagian
LMN untuk melakukan gerakan tertentu. Bagian LMN ini terdiri dari motor end
plate dan otot. Berdasarkan perbedaan anatomi dan fisiologi, UMN dibagi lagi
menjadi susunan piramidal dan ekstrapiramidal. (1)
Susunan
piramidal

Upper motoneurone

Susunan
ekstrapir
amidal

Unsur saraf

Lower motoneurone

Susunan somatomotorik

Motor end plate

Unsur otot

Sel otot

Gambar 1. Pembagian susunan somatomotorik (sistem motorik)

2
Segala aktivitas susunan saraf pusat yang dapat dilihat, didengar, direkam,
dan diperiksa berwujud gerak otot. Otot otot skeletal dan neuron neuron
menyusun susunan neuromuskular voluntar, yaitu sistem yang mengurus dan
sekaligus melaksanakan gerakan yang dikendalikan oleh kemauan. (2)

Kerja volunter dari otot, berkaitan dengan serat otot panjang yang berasal
dari neuron kortikal dan berjalan ke bawah ke sel kornu anterior medulla spinalis.
Serat serat ini membentuk traktus kortikospinalis atau piramidalis. Serat serat
ini adalah akson dari neuron yang terletak dalam regio motorik yaitu girus
presentralis, lebih spesifik lagi adalah pada area sitoarsitektonik Brodmann 4.
Area ini adalah lapangan yang agak sempit yang memanjang sepanjang fissura
sentralis, dari lateral atau fissura sylvii ke arah dorsomedial ke tepi dorsal
hemisfer dan dari sini ke bagian anterior lobulus parasentralis pada sisi medial
hemisfer. Berjalan tepat di depan korteks sensorik girus postsentralis.(3)

A. UMN
Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik dari korteks motorik
otak dan akson-aksonya yang berjalan dalam tractus kortikospinalis/ traktus
piramidalis sampai bersinaps dengan sel-sel kornu anterior medula spinalis.(4)

Impuls motorik untuk gerakan volunter terutama dicetuskan di girus


presentralis lobus frontalis (Korteks motorik primer, area 4 Broadmann) dan area
kortikal di sekitarnya (neuron motorik pertama). Impuls tersebut berjalan di dalam
jaras serabut yang panjang (terutama traktus kortikonuklearis dan traktus
kortikospinalis/jaras piramidal), melewati batang otak dan turun ke medula
spinallis ke kornu anterius, tempat mereka membentuk kontak sinaptik dengan
neuron motorik kedua-biasanya melewati satu atau beberapa interneuron
perantara.3
Serabut saraf yang muncul dari area 4 dan area kortikal yang berdekatan
bersama-sama membentuk traktus piramidalis, yang merupakan hubungan yang
paling langsung dan tercepat antara area motorik primer dan neuron motorik di
kornu anterius. Selain itu, area kortikal lain (terutaa korteks premotorik, area 6)

3
dan nuklei subkortikalis (terutama ganglia basalia) berpartisipasi dalam kontrol
neuron gerakan. Area-area tersebut membentuk lengkung umpan-balik yang
kompleks satu dengan lainnya dan dengan korteks motorik primer dan serebelum ;
Struktur ini mempengaruhi sel-sel di kornu anterius medula spinalis melalui
beberapa jaras yang berbeda di medula spinalis. Fungsinya terutama untuk
memodulasi gerakan dan untuk mengatur tonus otot.(8)
Impuls yang terbentuk di neuron motorik kedua pada nuklei nervi kranialis
dan kornu anterius medula spinalis berjalan meewati radiks anterior , pleksus saraf
(di regio servikal dan lumbosakral) serta saraf perifer dalam perjalannnya ke otot-
otot rangka. Impuls dihantarkan ke sel-sel otot melalui motor end plate taut
neuromuskular.(8)
Lesi pada neuron motorik pertama di otak atau medula spinalis biasanya
menimbulkan paresis spastik, sedangkan lesi neuron motorik orde kedua di kornu
anterius, radiks anterior , saraf perifer atau motor end plate biasanya menyebabkan
paresis flasid. Defisit motorik akibat lesi pada sistem saraf jarang terlhat sendiri-
sendiri; biasanya disertai oleh berbagai defisit neuropsikologis dalam berbagai
bentuk, tergantung pada lokasi dan sifat lesi penyebabnya.(8)

Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok UMN dibagi


dalam susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal.(7)

1. Susunan Piramidal
Impuls motorik untuk gerakan volunter diawali di gyrus
presentralis lobus frontalis otak (korteks motorik primer, area 4
Broadmann).(3) Gerak otot seluruh belahan tubuh dapat dipetakan pada
seluruh kawasan korteks motorik sisi kontralateral. Peta itu dikenal
sebagai homunkulus motorik Melalui aksonnya neuron korteks motorik
menghubungkan motoneuron yang membentuk inti motorik saraf kranial
dan motoneuron di kornu anterior medulla spinalis. Akson akson
tersebut menyusun jaras kortikobulbar kortikospinal . Sebagai berkas

4
saraf yang kompak, mereka turun dari korteks motorik ke capsula interna
yang berada di antara talamus dan ganglia basalis. (2)

Gambar 2. Homunkulus motorik

Di tingkat medulla oblongata serabut serabut piramidal berkumpul


kembali di piramis medulla oblongata dan kemudian menyilang garis tengah
batang otak ( di decusatio pyramidalis) dan berakhir di interneuron yang berada di
sekitar inti motorik saraf kontralateral. Sebagian dari serabut itu berakhir di inti
motorik saraf otak ipsilateral.

Serabut piramidal yang tidak berakhir di tingkat medulla oblongata


melanjutkan perjalanannya ke medulla spinalis dan mereka adalah serabut
kortikospinal. Pada peralihan antara medulla oblongata dan medulla spinalis,

5
kira kira 85% dari serabut kortikospinal membelok ke arah dorsolateral dan
menyilang garis tengah untuk kemudian menduduki tempat di funikulus
posterolateralis sisi kontralateral. Kelompok serabut ini disebut traktus
kortikospinalis lateralis atau traktus piramkidalis lateralis. Serabut kortikospinal
yang tidak menyilang, meneruskan perjalanannya di bagian medial funikulus
ventralis dan dinamakan traktus kortikospinalis (piramidalis) ventralis (anterior).
(1)

Gambar 3. Perjalanan traktus piramidalis

6
1. Susunan Ekstrapiramidal
Komponen ekstrapiramidal terdiri atas : korpus striatum, globus
pallidus, inti inti talamik, nukleus subtalamikus, substansia nigra,
formasio retikularis batang otak, serebellum, dan korteks motorik
tambahan yaitu area 4, area 6, area 8. Komponen tersebut dihubungkan
satu dengan lain oleh akson masing masing komponen itu, sehingga
membentuk hubungan yang kompleks (1).

Gambar 4. Sistem Ekstrapiramidal. Kontrol dimulai di daerah korteks dan


menyampaikan informasi ke ganglia basalis melalui COEPS (cortically
originating extrapyramidal system). Informasi kemudian melewati caudatus,
putamen, globus pallidus II dan I, melewati nukleus subtalamik, substansia nigra
pada red neuron dan akhirnya turun ke medulla spinalis melalui traktus
rubrospinalis (berlokasi tepat di bawah traktus kortikospinalis). Input tambahan
diperoleh dari hubungan dengan nukleus thalamus dan hipothalamus.

7
Secara sederhana, lintasan sirkuit itu dapat dibedakan dalam sirkuit striatal utama
(prinsipal) dan 3 sirkuit striatal penunjang (aksesorial)
1. Sirkuit striatal prinsipal
Sirkuit striatal prinsipal tersusun atas tiga mata rantai, yaitu:
a. Hubungan segenap neokorteks dengan korpus striatum serta globus
palidus
b. Hubungan korpus striatum/globus palidus dengan talamus
c. Hubungan talamus dengan korteks area 4-6
Data yang tiba di seluruh neokorteks seolah-ola diserahkan kepada korpus
striatum/globus palidus/talamus untuk diproses dan hasil pengolahan itu
merupakan bahan feed back bagi korteks motorik dan korteks motorik tambahan.
Oleh karena komponen-komponen susunan ekstrapiramidal lainnya menyusun
sirkuit yang pada hakekatnya mengumpani sirkuit striatal utama itu, maka sirkuit-
sirkuit tersebut dinamakan sirkuit striatal aksesorik.(9)
2. Sirkuit striatal aksesorik
a. Sirkuit striatal aksesorik ke-1 merupakan sirkuit yang menghubungkan
striatum-globus palidus-talamus-striatum
b. Sirkuit striatal aksesorik ke-2 adalah lintasan yang melingkari globus
palidus-korpus subtalamikus-globus palidus
c. Sirkuit striatal aksesorik ke-3 dibentuk oleh hubungan yang melingkari
striatum-substansia nigra-striatum
Susunan ekstrapidamidal yang dibentuk oleh sirkuit striatal utama dan
penunjang terintegrasi dalam susunan sensorik dan motorik, sehingga memiliki
sistem input dan output.(9)
Data dari dunia luar yang masuk dalam sirkuit striatal adalah terutama
impuls asendens non spesifik yang disalurkan melalui diffuse ascending reticular
system atau lintasan spinotalamik multisinaptik dan impul proprioseptif yang
diterima oleh serebelum. Tujuan lintasan pertama adalah nukleus intralaminar
talamus. Data yang diterima oleh serebelum disampaikan ke talamus juga melalui
brakium konjungtivum. Inti talamus yang menerima adalah nukleus ventralis

8
lateralis talamus dan nukleus ventralis anterior talamus. Kedua lintasan yang
memasukkan data eksteroseptif itu dikenal sebagai sistem input sirkuit striatal.(9)
Sistem output sirkuit striatal adalah lintasan yang menyalurkan impuls
hasil pengolahan sirkuit striatal ke motoneuron. Impuls yang telah diproses di
dalam sirkuit striatal dikirim ke area 4-6 melalui globus palidus dan inti-inti
talamik dan pesan-pesan striatal itu disampaikan kepada nukleus ruber, formasio
retikularis untuk akhirnya ditujukan ke motoneuron. Akson-akson dari neuron di
lapisan V korteks area 4 turun ke batang otak di dalam kawasan frontopontin dan
menjuju ke nukleus ruber dan sel-sel saraf di formasio retikularis. Serabut-serabut
rubrospinal menghubungi baik alfa maupun gama motoneuron yang berada di
intumesensia servikalis saja. Sedangkan serabut-serabut retikulospinal yang
sebagian besar multisinaptik sehingga lebih pantas dijuluki sebagai serabut
retikul-spino-spinal menuju ke alfa dan gamma motoneuron bagian medula
spinalis di bawah tingkat servikal. Tercakup juga dalam sistem output adalah
lintasan nigrokolikular dan nigroretikular. Pesan striatal disampaikan ke kolikulus
superior dan formasio retikularis untuk kemudian ditujukan ke motoneuron yang
mengatur gerakan kepala sesai dengan gerakan/posisi kedua bola mata.(9)
Di tingkat kornu anterior, terdapat sirkuit gamma loop yaitu hubungan
neuronal yang melingkari alfa motoneuron-muscle spindle-gamma/alfa
motoneuron. Melalui sistem gamma loop itu tonus otot disesuaikan dengan pola
gerakan tangkas yang diinginkan.(9)

- Komponen Sentral Sistem Motorik dan Sindrom klinis akibat Lesi


yang Mengenainya
Bagian sentral sistem motorik untuk gerakan volunter terdiri dari korteks
motorik primer (area 4) dan area korteks di sekitarnya (terutama korteks premotor,
area 6), Serta traktus kortikobulbar dan traktur kortikospinalis yang berasal dari
area kortikal tersebut.(9)

9
- Area Korteks Motorik
Korteks motorik primer (Girus presentralis) merupakan sekumpulan
jaringan kortikal yang terletak di sisi yang berlawanan dengan sulkus sentralis
dari korteks somatosendorik primer (di girus post-sentralis) dan meluas ke atas
dan melewati tepi superomedial hemisfer serebri menuju permukaan medialnya.
Area yang merepresentasikan tenggorokan dan laring terletak pada ujung inferior
korteks motorik primer; di bagian atasnya , secara berkesinambungan adalah area
yang merepresentasikan wajah; eksterimatas atas , badan dan ekstremitas bawah.
Struktur ini merupakan Homonkulus motorik terbalik, yang bersesuaian dengan
homonkulus somatosensorik girus post-sentralis.(8)
Neuron motorik tidak hanya ditemukan di area 4, tetapi juga di area
korteks di sekitarnya. Namun, serabut yan menghantarkan gerakan volunter halus
terutama berasal dari girus pre-sentralis. Girus ini merupakan lokasi neuron
piramidalis (sel betz) besar yang khas, yang terletak dilapisan selular kelima
korteks dan mengirimkan aksonnya yang bermiyelin tebal dan berdaya konduksi
cepat ketraktur piramidalis. Dahulu, traktus piramidalis seluruhnya dianggap
terdiri dari akson-akson sel betz, tetapi sekarang diketahui bahwa akson sel
tersebut hanya berjumlah 3,4-4% jumlah serabut. Komponen serabut terbesar
sebenarnya berasal dari sel-sel piramidalis dan sel-sel fusiformis area 4 dan 6
brodmann yang lebih kecil. Akson yang berasal dari area 4 membentuk sekitar
40% dari seluruh serabut traktus piramidalis; sisanya berasal dari area frontalis
lain, dari area 3, 2, dan 1 korteks somatosensorik parietal (area sensorimotor) dan
dari area lain dilobus parietal. Neuron motorik area 4 memediasi gerakan volunter
halus pada sisi tubuh kontralateral; oleh sebab itu, traktur piramidalis menyilang.
Stimulus elektrik langsung pada area 4, seperti saat tindakan pemindahan syaraf,
biasanya mencetuskan kontraksi masing-masing otot, sedangkan stimulus pada
area 6 mencetuskan gerakan yang lebih luas dan kompleks, misalnya pada seluruh
ekstremitas atas atau bawah.(8)

10
- Traktus Kortikospinalis (Traktus Piramidalis)
Traktus ini berasal dari korteks motorik dan berjalan melalui substantia
alba serebri (Corona radiata), Krus posterius kapsula interna (Serabut terletak
sangat berdekatan disini), Bagian sentral pedunkulus serebri ( krus serebri), Pons ,
dan basal medula ( Bagian anteriot) , tempat traktus terlihat sebagai penonjolan
kecil yang disebut piramid. Piramid medula (terdapat satu pada masing-masing
sisi) memberikan nama pada traktus tersebut. Pada bagian ujung bawah medula,
80-85% serabut piramidal menyilang di sisi lain di deccucasio piramidum.
Serabut yng tidak menyilang disini berjalan menuruni medula spinal di fenikulus
anterior ipsilaterlal sebagai traktus kortikospinalis anterior ; serabut ini menyilang
lebih ke bawah ( biasanya setingkat segmen yang dipersarafinya), melalui
komisura anterior medula spinalis. Pada tingkat servikal dan torakal ,
kemungkinan juga terdapat beberapa serabut yang tetap tidak menyilang dan
mempersarafi neuron motorik ipsilateral di kornu anterius, sehingga otot-otot
leher dan badan mendapatkan persarafan korikal bilateral. Mayoritas serabut
traktus piramidalis menyilang di dekusasio piramidum, kemudian menuruni
medula spinalis di funikulus lateralis kontralateral sebagai traktus kortispinalis
lateralis. Traktus ini mengecil pada area potong-lintangnya ketika berjalan turun
kebawah medula spinalis, karna beberapa serabutnya berakhiir di masing-masing
segmen disepanjang perjalanannya. Sekitar 90% dari semua serabut traktus
piramidalis berakhir membentuk sinaps dengan interneuron, yang kemudain
menghantarkan impuls motorik ke neuron motor yang besar di kornu anterius,
serta ke neuron motorik yang lebih kecil.(8)

- Traktus Kortikonuklearis (Traktus Kortikobulbaris)


Beberapa serabut traktus piramidalis membentuk cabang dan massa utama
ketika melewati otak tengah dan kemudian berjalan lebih ke dorsal menuju nuklei
nervi kranialis motorik . Serabut yang mepersarafi nuklei batang otak ini sebagian
menyilang dan tidak menyilang. Nuklei yang menerima input traktus piramidalis
adalah nuklei yang memediasi gerakan volunter otot-otot kranial melalui nervus
kranialis V ( nervus trigeminus), Nervus kranialis VII (Nervus fasialis), Nervus

11
krnaialis IX, X , XI ( Nervus glossofaringeus , Nervus vagus dan nervus
aksesorius), Serta Nervus kranialis XII ( Nervus Hypoglossus).(8)

- Traktus Kortikosensefalikus
Ada pula sekumpulan serabut yang berjalan bersama-sama dengan traktus
kortionuklearis yang tidak berasal dari area 4 atau area 6 , tetapi berasal dari area
8 , lapang mata frontal. Impuls dari serabut-serabut ini memediasi gerakan mata
konjugat , yang merupakan proses motorik yang kompleks. Karena asal dan
fungsinya yang khas , jaras yang berasal dari lapang mata frontal memiliki nama
yang berbeda ( traktus kortikomesensefalikus ) meskipun sebagian besar penulis ,
menganggap jaras ini sebagai bagian dari traktus kortionuklearis.(10)
Traktus Kortikomesensefalikus berjalan bersama dengan traktus piramidalis (
tepat di bagian rostralnya, di krus posterius kapsula interna) dan kemudian
mengarah ke bagian dorsal menuju nuklei nervi kranialis yang memediasi
pergerakan mata , yaitu nervus kranialis III , IV , dan VI ( Nervus okulumotorius,
Nervus troklearis dan nervus abdusens). Area 8 mempersarafi otot-otot mata
secara ekslusif dengan cara yang sinergis, bukan secara individual. Stimulasi pada
area 8 mencetuskan deviasi tatapan konjugat ke sisi kontralateral. Serabut-serabut
traktus kortikomesensefalik tidak langsung berakhir pada neuron motor nuklei
nervi kranialis III , IV dan VI; Situasi anatomis di daerah ini rumit dan masih
belum dipahami.(8)

- Komponen Sistem motorik sentral lainnya


Sejumlah jaras-jaras sentral selain traktus piramidalis, memiliki peran
penting pada pengendalian fungsi motorik. Suatu kelompok serabut yang penting
(traktus kortikopontosereblaris) menghantarkan informasi dari korteks serebri ke
serebelum, kemudian input yang ditimbulkannya memodulasi gerakan terencana .
Serabut lain berjalan dari korteks ke ganglia basalia (terutama korpus striatum=
nukleu kaudatus dan putamen), Subtantia nigra , dan formatio retikularis batang
otak, serta nuklei lainnya ( misalnya , ditektum mesensefali). Pada masing-masing
struktur tersebut , Impul dihantarkan melalui interneuron ke traktus eferen yang

12
berproyeksi ke motor neuron di kornu anterius. Medula spinalis-traktus
tektospinalis, traktus ruprospinalis , traktus retikulospinalis , traktus
vestibulospinalis dan traktus lainnya). Traktus-traktus tersebut memungkinkan
serebelum , ganglia basalia, dan nuklei motorik di batang otak untuk
mempengaruhi fungsi motorik di medula spinalis.(8)

- Traktus Motorik Lateral dan Medial di Medula Spinalis


Traktus motorik di medula spinalis secara anatomi dan fungsional terpisah
menjadi dua kelompok; kelompok lateral , yang terdiri dari traktus kortikospinalis
dan traktus ruprospinalis , serta kelompok medial , yang terdiri dari traktus
retikulospinalis , traktus vestibulospinalis dan traktus tektospinalis (
kuypers,1985). Traktus lateral terutama berproyeksi ke otot-otot distal (terutama
di ekstremitas atas) dan juga membuat hubungan propriospinal yang pendek.
Serabut-serabut ini terutama berperan pada gerakan volunter lengan bawah dan
tangan , untuk kontrol motorik halus yang tepat dan terampil. Sebaliknya , traktus
medial mempersarafi neuron motor yang terletak lebih medial di kornu anterius
dan membuat hubungan propriospinal yang relatif panjang. Serabut ini terutama
berperan pada gerakan tubuh dan ekstremitas bawah (postur dan gait).(8)

B. LMN

LMN adalah jaras akhir bersama (final common pathway) sistem motorik,
yaitu akson-akson yang keluar dari sel-sel kornu anterior medula spinalis menuju
(4)
otot volunter. LMN menyusun inti saraf otak motorik dan inti radiks ventralis
saraf spinal. Terdapat dua jenis LMN yaitu alfa motoneuron dan gamma
motoneuron. Dengan perantaraan kedua macam motoneuron itu, impuls motorik
dapat mengemudikan keseimbangan tonus otot yang diperlukan untuk
mewujudkan setiap gerakan tangkas.(2)

Titik dimana persyarafan sudah keluar dari kornu anterior medulla


spinalis dan meneruskan perjalanan sampai ke otot. Neurotransmitter yang ikut
menyampaikan impuls syaraf dari UMN adalah glutamine yang ditangkap oleh

13
glutamin reseptor. LMN disebut juga sistem syaraf perifer karena mempersyarafi
semua otot-otot tubuh, lengan dan tungkai.(8)

Gambar 5. Saraf lower neuron motor


Klasifikasi menurut target dari motor neuron, dibagi menjadi 3 antara lain :
Somatic motor neurons, berasal dari susunan saraf pusat, menuju
medulla spinalis keluar dari cornu anterior dan mempersyarafi saraf
skeletal
Special visceral motor neurons, disebut juga brankial motor neuron
dimana dipersyarari langsung oleh otot brankial (otot-otot dari syaraf
kranialis)
General visceral motor neurons (visceral motor neurons), Mempersarafi
otot jantung dan otot polos dari organ dalam (termasuk otot polos arteri,
dan kelenjar), nervus ini bersinaps pada ganglia dari sistem nervus otonom
(parasimpatis dan simpatis)
Akibatnya :
Saraf motorik untuk otot skeletal dan otot brankial adalah monosinaptik
(melibatkan hanya 1 motor neuron)

14
Saraf motorik untuk organ visceral adalah disinaptik (melibatkan 2 neuron;
1 berlokasi dari SSP yang bersinaps di ganglion, 1 lagi berlokasi di
susunan syaraf perifer yang bersinaps ke otot)
Sering diperdebatkan diantara saraf yang mempersarafi otot polos, saraf
ganglion, parasimpatis dan simpatis adalah motor neuron sedangkan visceral
motor neuron dianggap sebagai neuron preganglionik. Terminologi yang
sering digunakan sekarang bahwa motor neuron adalah jaras lintasan yang
berasal dari susunan saraf pusat, untuk motorik skeletal.
Pada manusia dan hewan bertulang belakang, motor neuron tergolong
kolinergik yang melepaskan neurotransmitter asetilkolin termasuk neuron
ganglion parasimpatis. Dimana kebanyakan dari saraf simpatis adalah
noradrenergic yang melepastkan neurotransmitter noradrenalin.(8)

- Anatomi somatic motor neuron


Somatic motor neuron terdiri dari alfa eferen neuron, beta eferen neuron
dan gamma eferen neuron. Dikatakan eferen karena menbawa aliran informasi
atau stimulus dari susunan saraf pusat ke saraf perifer.
Alpha motor neurons, Mempersyarafi serabut otot ekstrafusal (tipe serat kerja
lambat) yang berlokasi didalam otot. Sel-sel nya menyerupai sel cornu anterior
/ cornu ventralis dari medulla spinalis sehingga sering disebut sebgai sel cornu
anterior. Alfa motor neuron ini berkontribusi dalam tonus otot. Ketika otot
teregang, saraf sensorik yang ada dalam otot spindle akan mengirimkan signal
ke SSP, dan SSP akan langsung mengirimkan jawaban ke sel alfa motor neuron
ini, sehingga proses ini dinamakan refleks regang.
Beta motor neurons, mempersarafi serat otot intrafusal yang tehubung dengan
serat ekstrafusal.
Gamma motor neurons, mempersarafi serat otot intrafusal didalam otot spindle
yang mengatur kontraksi serat otot kapan diperlukan regangan yang besar dan
kapan hanya mengeluarkan respon kecil.(8)

15
- Motor units
Motor neuron dan semua serat otot terhubung dalam sebuah motor unit,
dimana motor unit ini dibagi menjadi 3 kategori :
Slow (S) motor units stimulate small muscle fibres, which contract very
slowly lambat dan menyediakan jumlah kecil energy tetapi sangat tahan
terdapat lelah, sehingga mereka digunakan untuk menunjang kontraksi
otot, seperti menjaga tubuh pada posisi berdiri tegak.
Fast fatiguing(FF) motor unit yang merangsang kumpulan otot yang
lebih besar, yang dapat menyediakan tenaga dalam jumlah lebih besar
tetapi cepat lelah. Mereka dipakai dalam tugas yang memerlukan energy
besar seperti berlari, melompat.
Fast fatigue-resistant motor units, merangsang otot berukurang sedang
yang tidak bereaksi secapat FF motor unit tetapi dapat bertahan lebih lama
dan menyediakan tenaga dibandingkan S motor unit, seperti berjalan
santai.(8)

2.3 LESI PADA UMN DAN LMN

A. Lesi-lesi pada Jaras Motorik Sentral (UMN)


Patogenesis paresis spastik sentral. Pada fase akut suatu lesi di traktus
kortikospinalis, refelks tendon profunda akan bersifat hipoaktif dan terdapat
kelemahan flasid pada otot. Refleks muncul kembali beberap hari atau beberapa
minggu kemudian dan menjadi hiperaktif, karna spinde otot berespon lebih
sensitif terhadap regangan dibandingkan dengan keadaan normal, terutama fleksor
ekstremitas atas dan ekstensor ekstremitas bawah. Hipersensitifitas ini terjadi
karna hilangnya kontrol inhibisi sentral desendens pada sel-sel fusi motor ( neuron
motor ) yang mempersarafi otot. Dengan demikian, serabut-serabut otot
intrafusal teraktivasi secara permanen.(prestreched) dan lebih mudah berespon
terhadap peregangan otot lebih lanjut dibandingkan normal. Gangguan sirkuit
regulasi panjang otot mungkin terjadi yaitu berupa pemendekan panjang target
secara abnormal pada fleksor ektremitas atas dan ekstensor ektremitas bawah.

16
Hasilnya adalah peningkatan tonus spastik dan hiperrefleksia, serta tanda-tanda
traktus piramidalis dan klonus. Diantara tanda-tanda traktus piramidalis tersebut
terdapat tanda-tanda yang sudah dikenal baik pada jari-jari tangan dan kaki,
seperti tanda babinski ( ekstensi tonik ibu jari kaki sebagai respons terhadap
gesekan di telapak kaki ).(8)
Paresis spastik selalu terjadi akibat lesi susunan saraf pusat ( otak dan/atau
medula spinalis ) dan akan terlihat lebih jelas bila terjadi kerusakan pada traktus
desendens lateral dan medial sekaligus ( misalnya pada lesi medula spinalis ).
Patofisiologi spastisitas masih belum dipahami, tetapi jaras motorik tambahan
jelas memiliki peran penting, karena lesi kortikal murni dan terisolasi tidak
menyebabkan spastisitas.(8)

Sindrom paresis spastik sentral. Sindrom ini terdiri dari:


- Penurunan kekuatan otot dan gangguan kontrol motorik halus
- Peningkatan tonus spastik
- Refleks regang yang berlebihan secara abnormal, dapat disertai oleh
klonus
- Hipoaktivitas atau tidak adanya refleks ekstreoseptif ( refleks abdominal,
refleks plantar, dan refleks kremaster )
- Refleks patologis ( refleks babinski, oppenheim, gordon, dan mendel-
bekh-terev, serta disinhibisi respons hindar [flight], dan
- ( awalnya massa otot tetap baik )

Lokalisasi lesi pada sistem motorik sentral


Suatu lesi yang melibatkan korteks serebri, seperti pada tumor, infark, atau
cedera traumatik, menyebabkan kelemahan sebagian tubuh sisi kontralateral.
Hemiparesis yang terlihat pada wajah dan tangan ( kelemahan brakhiofasial )
lebih sering terjadi dibandingkan di daerah lain karena bagian tubuh tersebut
memiliki area representasi kortikal yang luas, temuan klinis khas yang berkaitan
dengan lesi yang lokasi tersebut (a) adalah paresis ekstremitas atas bagian distal
yang dominan, konsekuensi fungsional yang terberat adalah gangguan kontrol

17
motorik halus, kelemahan tersebut tidak total ( paresis, bukan plegia ), dan lebih
berupa gangguan flasid, bukan bentuk spastik, karena jaras motorik tambahan
(nonpiramidal) sebagian besar tidak terganggu. Lesi iritatif pada lokasi tersebut
(a) dapat menimbulkan kejang fokal.(8)
Jika kapsula interna terlibat akan terjadi hemiplegia spastik kontralateral-
lesi pada level ini mengenai serabut piramidal dan serabut non piramidal, karena
serabut kedua jaras tersebut terletak berdekatan. Traktus kortikonuklearis juga
terkena, sehingga terjadi paresis nervus fasialis kontralateral, dan mungkin
disertai oleh paresis nervus hipoglosus tipe sentral. Namun, tidak terlihat defisit
nervus kranialis lainnya karena nervus kranialis motorik lainnya mendapat
persarafan bilateral. Paresis pada sisi kontralateral awalnya berbentuk flasid (pada
fase syok) tetapi menjadi spastik dalam beberapa jam atau hari akibat kerusakan
pada serabut-serabut nonpiramidal yang terjadi bersamaan.(8)
Lesi setingkat pedunkulus serebri, seperti proses vaskular pendarahan,
atau tumor, menimbulkan hemiparesis spastik kontralateral yang dapat disertai
oleh kelumpuhan nervus okulomotorius ipsilateral.(8)
Lesi pons yang melibatkan traktus piramidalis (contohnya pada tumor,
iskemia batang otak, pendarahan) menyebabkan hemiparesis kontralateral atau
mungkin bilateral. Biasanya, tidak semua serabut traktus piramidalis terkena,
karena serabut-serabut tersebut menyebar di daerah potong-lintang yang lebih luas
di daerah pons dibandingkan di daerah lainnya (misalnya, setingkat kapsula
interna). Serabut-serabut yang mempersarafi nukleus fasialis dan nukleus
hipoglosalis telah berjalan ke daerah yang lebih dorsal sebelum mencapai tingkat
ini; dengan demikian, kelumpuhan nervus hipoglosus dan nervus trigeminus atau
nervus abdusens ipsilateral.
Lesi pada piramid medula dapat merusak serabut-serabut nonpiramidal terletak
lebih ke dorsal pada tingkat ini. Akibatnya, dapat terjadi hemiparesis flasid
kontralateral. Kelemahan tidak bersifat total (paresis, bukan plegia). Karena jaras
desendens lain tidak terganggu.(8)
Lesi traktus piramidalis di medula spinalis. Suatu lesi yang mengenai
traktus piramidalis pada level servikal menyebabkan hemiplegia, spastik

18
ipsilateral; ipsilateral karena traktus tersebut telah menyilang pada level yang
lebih tinggi, dan spastik karena traktus tersebut mengandung serabut-serabut
piramidalis dan non piramidalis pada level ini, lesi bilateral di medula spinalis
servikalis bagian atas menyebabkan kuadriparesis atau kuadriplegia.(8)
Sebuah lesi yang mengenai traktus piramidalis di medula spinalis torasika
menimbulkan monoplegia ipsilateral pada ekstremitas bawah. Lesi bilateral
menyebabkan paraplegia.

B. Lesi-Lesi pada LMN (perifer)


Lokalisasi lesi pada sistem motorik perifer
Cornu anterior medulla spinalis : poliomyelitis (infeksi), sindrom
corda anterior (trauma).
Sel mielitis axon motorik : mielitis (infeksi), guillain barre syndrome
(autoimun).
Motor end plate : miastenia gravis (autoimun), botulinum toksin,
tetanus (toxin), Duchenne Muscular dystrophy (genetic),
neuromiotonia (elektrolit imbalance).
Saraf perifer : neuropati perifer (metabolic / idiopatik)
Muskulus : miopati (idiopatik), miositis (infeksi).

19
Gambar 6 : Pembagian kelumpuhan LMN.

Sindrom paralisid flasid. Sindrom ini terdiri dari:


Penurunan Kekuatan dasar
Hipotonia atau atonia otot
Hiporefleksia atau arefleksia
Atrofi otot

Perbedaan antara UMN & LMN

UMN LMN
Kekuatan Perese Paralisis Perese Paralisis

Tonus Meningkat/Spastik Menurun -

Clonus (+) Flaccid


Refleks Patologis (+) (-)
Refleks Fisiologis Meningkat Menurun -Hilang
Atropi Disuse Atropi (+)

2.4 Pemeriksaan Sistem Motorik dan Interpretasinya

Pemeriksaan sistem motorik meliputi: inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerakan


pasif dan aktif.

A. Inspeksi
Yang harus diperhatikan adalah :
1. Sikap
Perhatikan sikap secara keseluruhan dan sikap tiap bagian tubuh.
Bagaimana sikap pasien waktu berdiri, duduk, berbaring, bergerak, dan
berjalan.
Pasien dengan gangguan serebelum berdiri dengan muka membelok ke
arah kontralateral terhadap lesi, bahunya pada sisi lesi agak lebih
rendah, dan badannya miring ke sisi lesi. (6)

20
Penderita penyakit Parkinson berdiri dengan kepala dan leher
dibungkukkan ke depan, lengan, tungkai berada dalam keadaan
fleksi. Bila ia jalan, tampak seolah-olah hendak jatuh ke depan;
gerakan asosisatifnya terganggu, lengan kurang dilenggangkan,
dan terlihat tremor kasar, terutama ditangan. (7)

21
Gambar 8. Karakteristik gait pada penyakit Parkinson

Pada penderita hemiparese oleh gangguan sistem piramidal, lengan


berada dalam sikap fleksi, sedangkan tungkai dalam ekstensi. Bila
ia berjalan, tungkai membuat gerak sirkumdiksi. (6)

Gambar 9. Karakteristik gait pada hemiparese/lesi piramidal


Pada pasien dengan paraparese jenis sentral, cara berjalan seperti
gunting, yaitu tungkai seolah-olah menyilang.(5)

22
Gambar 10. Scissors Gait

2. Bentuk
Perhatikan adanya deformitas.

3. Ukuran
Panjang bagian tubuh sebelah kiri sama dengan yang di
kanan?.Orang dewasa yang mengalami lumpuh sejak masa kanak-
kanak, ukuran ekstremitas yang lumpuh lebih pendek daripada
yang sehat.
Isi (kontur) otot apakah atrofi atau hipertrofi. Pada atrofi, besar otot
berkurang dan bentuknya berubah. Pada kelumpuhan jenis perifer
disertai dengan hipotrofi atau atrofi.
Besar otot, bandingkan dengan otot sisi lainnya. Bila dicurigai
adanya atrofi, ukurlah kelilingnya. Biasanya pada pengukuran

23
digunakan tonjolan tulang sebagai patokan. Misalnya 3 cm di atas
olekranon atau patela.
Bentuk otot. Hal ini dilakukan dalam keadaan otot beristirahat dan
otot berkontraksi.
4. Gerakan Abnormal yang tidak terkendali
Dapat berupa : tremor, khorea, atetose, distonia, balismus, spasme,
tik, fasikulasi, dan miokloni.
Gerakan abnormal dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan
keadaan. Gerakan abnormal ini dapat mengenai tiap bagian tubuh.
Gerakan ini timbul karena terlibatnya berbagai bagian sistem
motorik, misalnya: korteks, serabut yang turun dari korteks,
ganglia basal, batang otak dan pusat-pusatnya, serebelum dan
hubungan-hubungannya, medula spinalis, serabut saraf perifer atau
ototnya sendiri.
Sifat gerakan dipengaruhi oleh letak lesi dan kelainan
patologiknya. Lesi pada tempat yang berlainan kadang dapat
menyebabkan gerakan yang identik, dan proses patologis yang
berlainan kadang dapat menyebabkan gerakan yang identik, dan
proses patologis yang berlainan pada tempat yang sama kadang
dapat mengakibatkan bermacam bentuk gerakan abnormal.(6)

Informasi yang harus dicatat untuk semua jenis pergerakan abnormal,


yaitu :
- Segmen dan struktur yang terlibat
- Keadaan otot saat terjadi gerakan abnormal tersebut : saat istirahat,
mempertahankan posisi, atau pada saat goal-directed movements
- Deskripsi dari pergerakan, termasuk pola gerakan, durasi serta
frekuensinya
- Faktor yang meningkatkan atau mengurangi terjadinya gerakan
abnormal tersebut : istirahat, beraktivitas, kecemasan, alkohol. (8)

24
B. Palpasi
Pasien disuruh mengistirahatkan ototnya. Kemudian otot ini dipalpasi
untuk menentukan konsistensi serta nyeri tekan. Dengan palpasi kita dapat
menilai tonus otot, terutama bila ada hipotoni. Penentuan tonus dilakukan pada
berbagai posisi anggota gerak dan badan.

C. Pemeriksaan Gerak Pasif


Penderita disuruh mengistirahatkan ekstremitasnya. Bagian dari ektremitas
ini kita gerakkan pada persendiannya. Gerakan dibuat bervariasi mula- mula
cepat kemudian lambat, cepat, lebih lambat, dan seterusnya. Sambil
menggerakkan kita nilai tahanannya. Dalam keadaan normal kita tidak
menemuakan tahanan yang berarti, jika penderita dapat mengistirahatkan
ekstremitasnya dengan baik. Kadang kadang tahanan didapatkan pada satu
jurusan saja, misalnya tungkai sukar difleksikan tetapi mudah diekstensikan.
Keadaan ini misalnya didapatkan pada lesi di traktus piramidalis. Pada
gangguan sistem ekstrapiramidal, dapat dijumpai tahanan yang sama kuatnya
(rigiditas). Kadang-kadang djumpai keadaan tahanan yang hilang timbul
(fenomena cogwheel).

D. Pemeriksaan Gerak Aktif


Pada pemeriksaan ini kita nilai kekuatan (kontraksi otot). Untuk memeriksa
adanya kelumpuhan, kita dapat menggunakan 2 cara berikut:
1. Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitasnya atau badannya dan
pemeriksa menahan gerakan ini.
2. Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia
disuruh menahan.

Umumnya digunakan cara pertama yaitu pemeriksa yang menahan, karena


ditakutkan jika menggunakan cara kedua kekuatan yang diberikan kepada
pasien terlalu besar. Bila pasien lumpuh total tidak sulit untuk memastikan

25
sedangkan pada pasien yang lumpuh sebagian atau parsial, tidak mudah
memastikan atau menilainya.

Dalam praktek sehari- hari, kekuatan otot dinyatakan dengan menggunakan


angka 0-5.

- 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot; lumpuh total.


- 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada
persendian yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
- 2 : Didapatkan gerakan, tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya
berat (gravitasi).
- 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
- 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit
tahanan yang diberikan.
- 5 : Tidak ada kelumpuhan (normal).

Kepala

Periksa apakah terdapat tahanan jika kepala digerakkan secara pasif. Pada
radang selaput otak didapatkan kaku kuduk. Pada tortikolis juga didapatkan
tahanan, demikian juga pada spondilitis servikal. Gerakan aktif diperiksa
dengan menyuruh pasien menekukkan kepala ke depan, ke belakang, ke
samping kiri, dan kanan serta melakukan gerakan rotasi. Pemeriksa menilai
tenaganya, dan membandingkan tenaga gerakan ke kiri dan ke kanan.

Anggota gerak atas

Perhatikan apakah ada atrofi otot tenar, hipotenar, dan otot intrinsik
tangan. Periksa gerakan jari-jari; bagaimana tenaga fleksi, ekstensi, abduksi,
dan aduksi. Periksa tenaga menggenggam. Hal ini dilakukan dengan
menyuruh pasien menggenggam jari pemeriksa dan kemudian pemeriksa
menarik lepas jari tersebut. Gerakan di pergelangan juga diperiksa, dan
ditentukan tenaganya pada gerakan pronasi dan supinasi. Fleksi dan ekstensi
pada persendian siku, juga diperiksa. Gerakan pada persendian bahu diperiksa

26
dengan menyuruh pasien menggerakkan lengan yang diekstensi, pada bidang
frontal dan sagital, dan juga melakukan rotasi pada persendian bahu. Selain
itu, juga gerakan bahu ke atas, bawah, depan, dan ke belakang diperiksa.
Setelah itu, periksalah otot pektoralis mayor, latisimus dorsi, seratus magnus,
deltoid, biseps, dan triseps. Pemeriksaan pemeriksaan yang dapat dilakukan
:

1. Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti (C7,C8, T1 saraf ulnaris). Jari jari
diekstensikan, kemudian kelingking digerakkan menuju dasar ibu jari.
2. Pemeriksaan otot aduktor policis (C8, T1 saraf ulnaris). Sepotong kertas
dijepit antara ibu jari dan telapak tangan.
3. Pemeriksaan otot interosei palmaris (C8, T1, saraf ulnaris). Telapak tangan
ditaruh di atas meja. Telunjuk, jari manis dan kelingking yang berada
dalam posisi abduksi diaduksikan ke garis tengah (sambil diberi tahanan).
4. Pemeriksaan otot interosei dorsalis (C8, T1, saraf ulnaris). Telapak tangan
ditaruh di atas meja. Telunjuk, jari manis dan kelingking yang berada
dalam posisi abduksi diaduksikan (sambil diberi tahanan).
5. Pemeriksaan abduksi ibu jari. (1) arah palmar, (2) arah radial (n. radialis).
6. Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7,C8, saraf radialis). Jari
diekstensikan pada persendian metakarpo-falang (sambil diberi tahanan).
7. Pemeriksaan otot pektoralis mayor. Inspeksi dada bagian atas dan lipatan
aksilaris anterior. Kemudian pasien disuruh meluruskan lengannya ke
depan, sambil menempatkan kedua telapak tangan dan kemudian
menekannya, sewaktu pasien menekankan kedua telapak tangannya, kita
palpasi otot pektoralis mayor. Untuk menentukan tenaganya, daya
tekannya dinilai.
a. Pemeriksaan pektoralis mayor bagian atas (C5-C8, saraf pektoralis
lateralis dan medialis). Lengan atas yang berada pada posisi
horisontal dan depan diaduksi.
b. Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah (C5-C8,T1, saraf
pektoralis lateralis dan medialis). Lengan yang berada pada posisi

27
depan dan di bawah horison diaduksi (sambil pemeriksa memberi
tahanan).

8. Pemeriksaan otot deltoid (C5,C6, saraf aksilaris). Pasien disuruh


mengangkat lengannya yang diluruskan ke samping sampai di bidang
horizontal. Nilailah tenaganya waktu melakukan gerakan ini.
9. Pemeriksaan otot biseps (C5,C6, saraf muskulokutaneus).Lengan yang
sudah disupinasi disuruh fleksi pada persendian siku. Nilailah tenaga fleksi
lengan bawah ini.
10. Pemeriksaan otot triseps (C6-C8, saraf radialis).Lengan bawah yang sudah
difleksi disuruh ekstensikan. Nilailah tenaga ekstensi ini. (6)

28
Gambar 11. Pemeriksaan Kekuatan Otot Anggota Gerak Atas

29
Gambar 11. Pemeriksaan Kekuatan Otot Anggota Gerak Atas

Erektor spina
Bila pasien sedang berdiri, suruh ia mengambil suatu barang dari lantai.
Jika pasien menderita kelemahan m. erector spina, ia sukar berdiri kembali;
dan ini dilakukannya dengan bantuan tangannya, yaitu dengan menempatkan
tangannya pada lutut, paha, dan kemudian mendorongnya sampai ia dapat
berdiri lagi. Kadang terlihat juga adanya lordosis.
Otot dinding perut. Pasien yang sedang berbaring disuruh mengangkat
kepalanya dan perhatikan peranjakan dari pusar. Biasanya pusar beranjak ke
arah otot yang sehat. Suruh pasien batuk, otot yang lemah akan membonjol.
Perhatikan apakah pasien dapat duduk dari sikap berbaring tanpa mendapat

30
bantuan dari tangannya. Otot yang ikut bekerja dalam hal ini ialah otot
dinding perut dan otot iliopsoas.

Anggota gerak bawah

Untuk ini diperiksa gerakan pada : persendian jari-jari, pergelangan kaki,


lutut, paha. Selain itu juga diperiksa otot kuadriseps femoris, iliopsoas,
aduktor, abductor, dan fleksor tungkai bawah. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan :

1. Pemeriksaan otot kuadriseps femoris (L2-L4, saraf femoralis). Lutut


(tungkai bawah) diekstensikan sambil kita tahan.
2. Pemeriksaan otot iliopsoas (L1-L3, saraf femoralis). Pasien berbaring dan
lutut difleksikan. Kemudian paha difleksikan lebih lanjut sambil ditahan.
3. Pemeriksaan otot aduktor (L2-L4: saraf obturatorius). Pasien berbaring
pada sisinya dan tungkai berada dalam ekstensi. Kemudian tungkai ini
diaduksikan sambil ditahan.
4. Pemeriksaan otot abduktor. Tungkai diabduksikan melawan tahanan.
5. Pemeriksaan otot fleksor tungkai bawah. Tungkai bawah difleksikan
sambil ditahan.
a. Pemeriksaan otot kelompok harmstring (L4,L5,S1, S2, saraf
siatika). Pasien tengkurap, kemudian lutut disuruh fleksikan (sambil
ditahan oleh pemeriksa)
b. Pemeriksaan otot gastroknemius 9L5,S1,S2, saraf tibialis). Pasien
tengkurap, kemudian disuruh memfleksi plantar kakinya.
c. Pemeriksaan otto fleksor digitorum longus (S1, S2, saraf tibialis). Jari-
jari kaki diplantar fleksikan (sambil diberi tahanan oleh pemeriksa).

Dengan demikian dapat pula dinilaiotot-otot yang memplantarfleksikan dan


mendorsofleksikan kaki dan jari-jari. Bila ditemukan kelumpuhan, perlu
dilakukan pemeriksaan yang lebih rinci. (6)

31
32
Gambar 12. Pemeriksaan Kekuatan Otot Anggota Gerak Bawah

33
BAB III

KESIMPULAN

Susunan somatomotorik (atau sistem motorik) ialah susunan yang


mengurus hal yang berhubungan dengan gerakan otot-otot skeletal. Susunan
itu terdiri dari 2 unsur yaitu unsur saraf dan otot. Unsur saraf terdiri dari
upper motoneurone(UMN) dan lower motoneurone (LMN). Dalam memulai
suatu gerakan, bagian UMN mengirim pesan kepada bagian LMN untuk
melakukan gerakan tertentu. Bagian LMN ini terdiri dari motor end plate dan
otot. Berdasarkan perbedaan anatomi dan fisiologi, UMN dibagi lagi menjadi
susunan piramidal dan ekstrapiramidal.

Pada traktus piramidalis, semua neuron yang menyalurkan impuls motorik


dari korteks motorik otak dan akson-aksonya yang berjalan dalam tractus
kortikospinalis/ traktus piramidalis sampai bersinaps dengan sel-sel kornu
anterior medula spinalis. Komponen extrapiramidal terdiri atas : korpus
striatum, globus pallidus, inti inti talamik, nukleus subtalamikus, substansia
nigra, formasio retikularis batang otak, serebellum, dan korteks motorik
tambahan yaitu area 4, area 6, area 8.

Komponen tersebut dihubungkan satu dengan lain oleh akson masing


masing komponen itu, sehingga membentuk hubungan yang kompleks. LMN
adalah jaras akhir bersama (final common pathway) sistem motorik, yaitu
akson-akson yang keluar dari sel-sel kornu anterior medula spinalis menuju
otot volunteer. LMN menyusun inti saraf otak motorik dan inti radiks
ventralis saraf spinal. Terdapat dua jenis LMN yaitu alfa motoneuron dan
gamma motoneuron. Dengan perantaraan kedua macam motoneuron itu,
impuls motorik dapat mengemudikan keseimbangan tonus otot yang
diperlukan untuk mewujudkan setiap gerakan tangkas. Oleh karena itu jika
ada lesi pada traktus dalam sistem motorik, maka dapat mempengaruhi
gerakan volunter dari seseorang dan dapat menimbulkan berbagai gerakan
abnormal. Sehingga harus dilakukan pemeriksaan mulai dari inspeksi,

34
palpasi, serta pemeriksaan gerakan pasif dan aktif untuk menilai kenormalan
dari sistem motorik seseorang.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Sidharta, P. 1985. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Susunan


somatomotorik. (Dian Rakyat, Jakarta). pp 351-371.
2. Mardjono,M. And Sidharta,P. 1994. Neurologi Klinis Dasar. Susunan
neuromuskular. (Dian Rakyat, Jakarta). pp 1-12.
3. Duus, Peter. 1996. Diagnosis Topik Neurologi. Sistem Motorik. EGC.
Jakarta. pp 31-73, 56.
4. Ginsberg, Lionel. 2008. Lecture Notes Neurologi. Jakarta : Airlangga.
Pp. 41
5. Jones, Royden H. 2012. Netters Neurology. Philadephia: Elsevier
Saunders. Pp. 17-18.
6. Lumbantobing SM. Neurologi klinik : pemeriksaan fisik dan mental.
Jakarta: penerbit FKUI; 2008.h.87-111.
7. Baehr M , Frotscher M. Diagnosis topik neurologi DUUS. Jakarta .
Penerbit buku kedokteran EGC. 2014 ; hal 48-94
8. Walker, Kennet H. Involuntary Movements. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK394/pdf/ch70.pdf
9. Anonim. Scissors Gait. Available at
www.neurologycoffecup.wordpress.com

36