Anda di halaman 1dari 18

PORTOFOLIO KASUS RAWAT INAP ERITRODERMA

PORTOFOLIO KASUS RAWAT INAP ERITRODERMA Disusun oleh : dr. Agustina Anggraeni Purnomo dokter internsip RSUD Cileungsi

Disusun oleh :

dr. Agustina Anggraeni Purnomo dokter internsip RSUD Cileungsi

Pembimbing: dr. Anik Sp.KK Pendamping: dr. Nanik Setyaningsih

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILEUNGSI

KABUPATEN BOGOR – JAWA BARAT

2017

Nama Peserta : dr. Agustina Anggraeni Purnomo Nama Wahana : RSUD Cileungsi Topik : Kasus Rawat
Nama Peserta : dr. Agustina Anggraeni Purnomo
Nama Wahana : RSUD Cileungsi
Topik : Kasus Rawat Inap; Eritroderma
Tanggal (kasus) : 20 Agustus 2017
Nama Pasien : Ny. SS
Tanggal Presentasi :
Presenter : dr. Agustina Anggraeni Purnomo
No. RM : 08 26 53
Pendamping : dr. Nanik Setyaningsih
Tempat Presentasi : RSUD Cileungsi
Obyektif Presentasi :
o
Keilmuan 
o
Ketrampilan
o
Penyegaran
o
Tinjauan Pustaka
o
Diagnostik 
o
Manajemen 
o
Masalah 
o
Istimewa
o
Neonatus
o
Bayi
o
Anak
o
Remaja
o
Dewasa 
o
Lansia
o
Bumil
o
o
Deskripsi : dewasa, perempuan, 47 tahun, kemerahan di seluruh tubuh
Tujuan :
menegakkan diagnosis dan tatalaksana pasien dengan eritroderma
Bahan bahasan
o
Tinjauan Pustaka
o
Riset
o
Kasus
o
Audit
Cara membahas
o
Diskusi
o
Presentasi
dan diskusi 
o
E-mail
o
Pos
Data pasien :
Nama : Ny. SS
Nama RS : RSUD Cileungsi
No CM : 08 26 53
Telp : 021-89934667
Data utama untuk bahan diskusi :
1.
Diagnosis:
G1P0A0 hamil 34 minggu dengan eklampsia
Gambaran klinis:
Kejang
2.
Riwayat Pengobatan :
Disangkal
3.
Riwayat kesehatan/penyakit :
Pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan nyeri
ulu hati disertai keluhan mual dan sempat muntah 2x berisi makanan, lendir disangkal, darah
disangkal. Pasien juga mengeluhkan demam hilang timbul sejak 6 hari sebelum masuk rumah sakit.
Demam dirasakan saat sore dan malam hari namun turun pada pagi hari. Pasien juga merasakan
badannya terasa menggigil. Batuk disangkal pilek disangkal. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Pasien
sempat berobat ke klinik dekat rumah dan mendapat obat cefadroxil dan Brocon. Tidak berselang
lama, Pasien mengeluhkan timbulnya bintik kemerah-merahan di sekujur tubuh mulai dari wajah
hingga ke kaki. Kemerahan yang ditimbul dikulit pasien terasa gatal dan panas. Pasien mengaku juga
menggunakan krim wajah (merk beautiful) yang dibelinya dipasar sekitar 2 minggu yang lalu. Saat itu
pertama kalinya pasien menggunakan krim tersebut tidak ada keluhan apapun. Kemudian lama

kelamaan, kulit wajah memerah dan seperti mengelupas. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus dan tidak terkontrol.

  • 4. Riwayat Penyakit Dahulu

 

Pasien menyangkal alergi sebelumnya. Riwayat bersin-bersin dipagi hari disangkal. Pasien mengaku tidak menderita penyakit jantung, ginjal, maupun asma. Pasien memiliki riwayat kencing manis namun tidak terkontrol.

  • 5. Riwayat keluarga :

 

Pasien mengaku di dalam keluarga tidak ada yang menderita darah tinggi, penyakit jantung, ginjal, asma maupun kencing manis.

PEMERIKSAAN FISIK :

 

KU : Sakit sedang Kesadaran : Compos Mentis, GCS=15

Vital signs :

Tekanan darah

: 120/70mmHg, lengan sebelah kanan, manset dewasa

Nadi

: 90 x/menit, regular, isi dan tegangan cukup

Frekuensi napas : 26x/menit, teratur, thorakoabdominal, cuping hidung (-)

Suhu

: 37.5 °C per aksilla

Berat Badan : 60 kg

Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, palpebra tidak bengkak, reflex cahaya

+/+, pupil isokor Hidung : napas cuping hidung -/-

Telinga : tidak dilakukan pemeriksaan

Mulut : tidak ada sianosis di bibir

Leher : kelenjar getah bening tidak membesar, JVP tidak meningkat

Thoraks :

 

Inspeksi

: P/ bentuk simetris, retraksi (-)

Palpasi

C/ ictus cordis tidak tampak : P/ fremitus taktil tidak dilakukan, pergerakan dinding dada simetris

Perkusi

C/ ictus cordis teraba pada ICS 5 garis midklavikula : P/ sonor hampir di seluruh lapang paru

Auskultasi

C/ batas jantung dalam batas normal : P/ vesikuler +/+, ronchi -/-, wheezing -/- C/ S 1-2 murni di 4 katup, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: dinding perut tampak cembung

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani, nyeri tekan epigastrium (+)

Palpasi

: supel, hepar dan lien tidak teraba membesar

Ekstremitas

Edema

- - - -
-
-
-
-

,

akral dingin

- - - -
-
-
-
-

Capillary refill < 2 detik

 

SpO2 99%

Integumen:

Status Dermatologis

Lokasi

: Badan, ekstremitas atas kanan kiri, ektremitas bawah

kanan kiri,

wajah. Distribusi lesi : Universal (90% dari luas permukaan tubuh)

Ruam

: Tampak makula eritematous berbatas tegas, disertai skuama berwarna putih menutupi permukaan. Tampak juga terdapat erosi dan ekskoriasi dengan dasar eritema yang tertutup krusta berwarna kuning kehitaman.

PEMERIKSAAN PENUNJANG :

Jumlah sel darah:

Hemoglobin

: 12,7 g/dl

Leukosit

: 19.800/ul

(↑)

Hematokrit

: 36 %

(↓)

Eritrosit

: 4,7x10 6 /ul

Trombosit

: 456.000/ul

(N)

Index:

MCV

: 78 fl

(↓)

MCH

: 27 pg

(N)

MCHC

: 35 %

(N)

Differential:

Basofil

: 0 %

(N)

Eosinofil

: 1 %

(N)

Netrofil

: 78 %

(↑)

Limfosit

: 10 %

(↓)

Monosit

: 11 %

(↑)

Kimia Klinik:

GDS

: 403 mg/dl

(N)

Fungsi Ginjal:

Ureum

: 42 u/l

(N)

Kreatinin

: 1,1 u/l

(N)

Fungsi Liver:

SGOT

: 11 u/l

(N)

SGPT

: 19 u/l

(N)

Golongan Darah dan Rhesus: B+

Analisis Urin:

 

Urin makroskopik

 

Warna

 

: Kuning

Kejernihan

: Keruh

Kimia urin

Darah

 

: 2+

Berat jenis

: 1.005

pH

: 6,0

Nitrit

: -

Leukosit esterase

 

: +1

Protein

: +2

Glukosa

: +3

Keton

 

:

-

Urobilinogen

 

: 1,0 mg/dL

Bilirubin

 

:

-

Urin mikroskopik

 

Eritrosit

: 15-17/lpb

 

Leukosit

: 6-8/lpb

Epitel

: 14-15/lpk

Bakteri

:

-

Kristal

:

-

Silinder

: Granular cast

Lain-lain

:

-

Widal

Salmonella Typhi H 1/320

  • S. Paratyphi AH –

  • S. Paratyphi BH –

  • S. Paratyphi CH –

Salmonella Typhi O -

  • S. Paratyphi AO –

S.

Paratyphi BO 1/80

  • S. Paratyphi CO -

DIAGNOSA KLINIS

: Eritroderma, Hiperglikemia, obs Febris ec Tifoid Fever

DD:

TERAPI Awal di IGD IVFD RL 20 tpm PCT infus 1 gr Injeksi ranitidine Injeksi ondancentron Sucralfat syr 3x1cth

Konsul dokter Anik Sp.KK Stop obat dank rim tersangka IVFD RL 20 tpm Metilprednisolon injeksi 1x62.5mg Kompres NaCl 2x10menit untuk wajah Konsul IPD untuk DM Konsul dr. Nilam Sp.pD Sliding scale kelipatan 5 Azitromisin 1x1 tab

Follow Up Rawat Inap 21/8/2017

 

Jam

Subjective

Objective

Assessment

Plan

  • 11.00 Pusing +,

meriang+, mulut

Kesadaran: compos mentis

Eritroderma DM Tipe II

Advice dr Anik Sp.KK

 

terasa perih,

 

T: 110/80

Stomatitis

kulit kemerahan

R: 20 S: 37,4 N: 74 Mulut: Stomatitis + Integumen:

Betadine gurgle 3x Meloxicam 1x1 tab

  • 15.00 Pusing +,

meriang+

Kesadaran: compos mentis T: 110/80 R: 20

GDS 403

Eritroderma DM Tipe II Stomatitis

Konsul dr. Ratih Sp.PD Novorapid 3x15 unit Besok KGDH Pukul 06.00, 10.00,

S: 37,4

16.00

N: 74 Mulut: Stomatitis + Integumen:

Follow Up Rawat Inap 22/8/2017

 

Jam

Subjective

Objective

Assessment

 

Plan

 
  • 10.00 Mual +,

   

Eritroderma EC

Advis dr.Anik Sp.KK:

 

Pusing +

drug induced, dd DKA, Dermatitis seboroik

- Terapi lanjut -As. Sal/betametason/gentamis in m.f zalf

Follow Up Rawat Inap 23/8/2017

 

Jam

Subjective

 

Objective

Assessment

Plan

 
  • 13.00 Demam

 

Kesadaran: CM

Eritroderma EC

Advis dr.Anik Sp.KK:

 

terus

T: 138/78

drug induced, dd

Check Darah lengkap

menerus dan

R: 24

DKA,

Check elektrolit

menggigil,

S: 38.7

Dermatitis

Zinc 1x1

kaku di

N: 90

seboroik

wajah

berkurang,

gatal

berkurang

         

Advice dr Wawan Sp.PD Lantus 1x22unit

Novorapid 3x18 unit

 

Besok periksa GDP dan

G2PP

22.00

Demam

   

Advis dr.Anik Sp.KK:

 

Extra meloxicam Ceftriaxone 2x1gram Metilprednisolon 1x 3/4

amp

Follow Up Rawat Inap 24/8/2017

 

Jam

Subjective

Objective

Assessment

Plan

11.00

 

Kesadaran: CM

 

Advis dr.Anik Sp.KK:

 

T: 132/90

Terapi lanjut

R: 17

Check albumin

S: 36.8

N: 93

Follow Up Rawat Inap 25/8/2017

 

Jam

Subjective

Objective

Assessment

Plan

09.00

Demam

Kesadaran: CM

 

Advis dr.Anik Sp.KK:

 

naik-turun

T: 150/110

Terapi lanjut

R: 17

Kaki: kompres betadine 12

S: 36.5

2x10’

N: 70

Burnazin

+

11.00

 

Kesadaran: CM

 

Advice dr Ratih sp.PD

T: 179/110

Lantus 1x28unit

R: 17

Novorapid 3x24unit

S: 36.5

Metiprednisolon di tap off

N: 80

GDS 294

Follow Up Ruangan 26/8/2017

 

Jam

Subjective

Objective

Assessment

Plan

10.00

 

Kesadaran: CM

 

Advis dr.Anik Sp.KK:

 

T: 172/118

Terapi lanjut

R: 22

S: 36.5

N: 100

14.00

 

Kesadaran: CM

   

T: 172/118

R: 22

badan N: 77 Kesadaran: CM T: 140/90 R: 20 S: 36.7 Assessment - Plan Assessment -
badan
N: 77
Kesadaran: CM
T: 140/90
R: 20
S: 36.7
Assessment
-
Plan
Assessment
-
Plan
Advice dr Anik Sp.KK
Topicare+mometason
untuk wajah
Kenalog in ora base
untuk bibir
Ollium cocos untuk
S: 36.3
Advis dr.Anik Sp.KK:
Metilpredinosolon
1x1/2 amp
Plan
Terapi lanjut
N: 100
S: 36.5
Follow Up Ruangan 27/8/2017
Assessment
- Terapi lanjut
Advis dr.Anik Sp.KK:
Follow Up Ruangan 28/8/ 2017
Follow Up ruangan 29/8/2017
Daftar Pustaka :
S: 36.3
10.00
9.00
Jam
Jam
10.00
13.30
Subjective
-
Subjective
Subjective
R: 20
Objective
Kesadaran: CM
T: 130/87
Jam
N: 77
N: 92
N: 100
S: 36.5
R: 22
T: 150/100
CM
Kesadaran:
Objective
R: 20
Objective
Kesadaran: CM
T: 130/87
  • 1. World Health Organization (WHO). Maternal Mortality in 2005. Geneva : Departement of Reproductive Health and Research WHO; 2007.

  • 2. Cunningham FG, Leveno KJ, Gant NF, Alexander GM, Bloom SL, CasseyBM, et al. Williams manual of obstetrics. New York : McGRAW-HILL; 2003.

  • 3. Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGF. Hipertensi dalam kehamilan. In : Astuti NZ, Purba Dl, Handayani S, Damayanti R, editors. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG; 2003.

  • 4. Winkjosastro H, Ssaifuddin AB, Rachimhadhi T, editors. Preeklampsia dan eklampsia. In :

Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007.

  • 5. Benson RC, Pernoll ML.Hypertensive disorder during pregnancy. In : Handbook of obstetrics and gynecology 9th ed. New York : McGRAWHILL Inc; 1994.

Hasil pembelajaran :

  • 1. Definisi Eritroderma

  • 2. Etiologi Eritroderma

  • 3. Patofisiologi Eritroderma

  • 4. Gejala dan Tanda Eritroderma

  • 5. Penegakan Diagnosis Eritroderma

  • 6. Penatalaksanaan Eritroderma

SUBJEKTIF :

Pasien datang dengan keluhan kejang. Menurut keluarga, saat kejang, tangan dan kaki pasien kelojotan. Pasien dilarikan ke bidan terdekat. Sehabis kejang, pasien tertidur karena disuntik penenang oleh bidan. Kejang terjadi 2 kali. Kejang pertama pada pukul 06.00. Oleh bidan, pasien diperiksa dan dikatakan bahwa tekanan darah pasien tinggi yaitu 160/90. Pasien disarankan oleh bidan untuk segera ke rumah sakit. Pasien belum mendapat terapi apapun selain obat penenang yang disuntikkan sebelumnya. Pasien sedang hamil anak pertama. Pasien juga mengeluhkan dikedua kaki bengkak sejak 2 minggu SMRS. Gerakan janin dirasakan aktif.

OBJEKTIF:

Hasil pemeriksaan fisik mendukung diagnosis eklampsia. Pada kasus ini diagnosis

ditegakkan berdasarkan:

  • - Gejala Klinis: Pasien mengeluh kejang sebanyak 2 kali.

  • - Pemeriksaan fisik: TD 157/108 mmHg

  • - Urin lengkap: Protein +3

ASSESSMENT :

Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien pada kasus ini didiagnosis dengan G1P0A0 usia kehamilan 34 minggu, janin tunggal hidup

intrauterine, presentasi kepala dengan eklampsia antepartum.

Pada

anamnesis,

pasien

dengan

eklampsia

biasanya

dibawa ke rumah sakit karena

mengalami kejang atau koma secara tiba-tiba. Pada kasus ini, pasien juga dibawa ke rumah sakit karena kejang yang dirasakan beberapa jam sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya pasien telah dibawa ke bidan dan dilakukan pengukuran tekanan darah, dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan tekanan darah pasien tinggi yaitu 160/100. Pasien tidak memiliki riwayat kejang dan hipertensi sebelumnya. Sementara itu dilihat dari faktor resiko terjadinya eklampsia, pasien pada kasus ini sedang menjalani kehamilan pertamanya. Seperti telah diketahui, bahwa primigravida merupakan salah satu faktor resiko terjadinya eklampsia. Pemeriksaan fisik terkait dengan eklampsia yang perlu dilakukan adalah pengukuran tekanan darah, karena pada pasien dengan eklampsia selalu didahului oleh gejala preeklampsia, dimana biasanya tekanan darah didapatkan ≥ 140/90 mmHg. Selain itu dapat pula didapatakan edema, hanya saja edema bukan menjadi salah satu kriteria dalam penegakkan diagnosis preeklampsia dan eklampsia. Pada pasien di kasus ini tekanan darah saat datang ke rumah sakit adalah 157/108. Pada pasien ini juga didapatkan edema pada ekstremitas bawah. Pasien memiliki berat badan yang melebihi berat badan ideal, seperti yang telah diketahui bahwa obesitas juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya eklampsia 7 . Pemeriksaan penunjang yang cukup penting untuk menegakkan diagnosis eklampsia adalah pemeriksaan urine untuk mengatahui adanya proteinuria 7 . Pada pasien ini didapatkan protein urine sebanyak +++. Selain itu pada pasien ini juga dilakukan pemeriksaan darah rutin, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Dari hasil pemeriksaan darah rutin hanya didapatkan leukositosis yang dapat menunjukkan adanya infeksi, sedangka untuk hemoglobin dan trombosit berada dalam batas normal. Fungsi ginjal pasien juga berada dalam batas normal. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan SGOT yaitu 27 U/l dan SGPT 15 U/l, hasil tersebut dalam batas normal. Jika dilihat dari hasil pemeriksaan penunjang pasien, dapat disimpulkan bahwa pada pasien belum memenuhi semua kriteria sindroma HELLP. 7 . Dari hal-hal yang telah diuraikan diatas, baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang semuanya mendukung untuk menegakkan diagnosis eklampsia pada pasien dalam kasus ini.

Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya kemerahan atau eritema yang bersifat generalisata yang mencakup 90% permukaan tubuh yang berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Dermatitis eksfoliativa dianggap sinonim dengan eritroderma. (2,3) Bagaimanapun, itu tidak dapat mendefinisikan, karena pada gambaran klinik dapat menghasilkan penyakit yang berbeda. Pada banyak kasus, eritroderma umumnya kelainan

kulit yang ada sebelumnya (misalnya psoriasis atau dermatitis atopik), cutaneous T-cell lymphoma(CTCL) atau reaksi obat. Meskipun peningkatan 50% pasien mempunyai riwayat lesi pada kulit sebelumnya untuk onset eritroderma, identifikasi penyakit yang menyertai menggambarkan satu dari sekian banyak kelainan kulit. (4) Pada eritroderma yang kronik eritema tidak begitu jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi. Sedangkan skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama mulai dari halus sampai kasar. Pada eritroderma, skuama tidak selalu terdapat,

misalnya eritroderma karena alergi obat sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, skuama kemudian timbul pada stadium penyembuhan timbul. Bila eritemanya antara 50-90%

dinamakan pre-eritroderma .. ETIOLOGI

(5)

Eritroderma dapat disebabkan oleh akibat alergi obat secara sistemik, perluasan penyakit kulit, penyakit sistemik termasuk keganasan. (6) Penyakit kulit yang dapat menimbulkan eritroderma diantaranya adalah psoriasis 23%, dermatitis spongiotik 20%, alergi obat 15%, CTCL atau sindrom sezary 5%. (7)

  • a. Eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik

Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda. Obat yang dapat menyebabkan eritroderma adalah arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturat. Pada beberapa masyarakat, eritroderma mungkin lebih tinggi karena pengobatan sendiri dan pengobatan secara tradisional. (2) Waktu mulainya obat ke dalam tubuh hingga timbul penyakit bervariasi dapat segera sampai 2 minggu. Gambaran klinisnya adalah eritema universal. Bila ada obat yang masuk lebih dari satu yang masuk ke dalam tubuh diduga sebagai penyebabnya ialah obat yang paling sering menyebabkan alergi .(5)

*Dikutip dari pustaka 7

  • b. Eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit kulit

Eritroderma

et

causa

psoriasis,

merupakan

eritroderma

yang

paling

banyak

ditemukan dan dapat disebabkan oleh penyakit psoriasis maupun akibat pengobatan psoriasis yang terlalu kuat. (5) Dermatitis seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang juga dikenal penyakit Leiner. Etiologinya belum diketahui pasti. Usia penderita berkisar 4-20 minggu. (6) Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa minggu dapat pula menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat menyebabkan eritroderma adalah pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken planus. (7)

  • c. Eritroderma akibat penyakit sistemik

Berbagai

penyakit

atau

kelainan

alat dalam termasuk infeksi fokal dapat

memberi kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak termasuk akibat alergi obat dan akibat perluasan penyakit kulit harus dicari penyebabnya, yang berarti perlu pemeriksaan menyeluruh (termasuk pemeriksaan laboratorium dan sinar X toraks), untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat dalam dan infeksi fokal. Ada kalanya terdapat leukositosis namun tidak ditemukan penyebabnya, jadi terdapat infeksi bakterial yang tersembunyi (occult infection) yang perlu diobati. (5) Harus lebih diperhatikan komplikasi sistemik akibat eritroderma seperti ; Hipotermia, edema perifer, dan kehilangan cairan, dan albumin dengan takikardia and kelainan jantung harus mendapatkan perawatan yang serius. Pada eritroderma kronik dapat mengakibatkan kakeksia, alopesia, palmoplantar keratoderma, kelainan pada kuku and ektropion. (4)

EPIDEMIOLOGI

Insidens eritroderma sangat bervariasi, menurut penelitian dari 0,9-70 dari 100.000 populasi. Penyakit ini dapat mengenai pria ataupun wanita namun paling sering pada pria dengan rasio 2 : 1 sampai 4 : 1, dengan onset usia rata-rata > 40 tahun, meskipun eritroderma

dapat terjadi pada semua usia. (7) Insiden eritroderma makin bertambah. Penyebab utamanya adalah psoriasis. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya insidens psoriasis. (5)

PATOFISIOLOGI

Mekanisme terjadinya eritroderma belum diketahui dengan jelas. Patogenesis eritroderma berkaitan dengan patogenesis penyakit yang mendasarinya, dermatosis yang sudah ada sebelumnya berkembang menjadi eritroderma, atau perkembangan eritroderma idiopatik de novo tidaklah sepenuhnya dimengerti. Penelitian terbaru imunopatogenesis infeksi yang dimediasi toxin menunjukkan bahwa lokus patogenesitas stapilococcus mengkodekan superantigen. Lokus-lokus tersebut mengandung gen yang mengkodekan toxin dari toxic shock syndrome dan staphylococcal scalded-skin syndrome. Kolonisasi staphylococcus aureus atau antigen lain merupakan teori yang mungkin saja seperti toxic shock syndrome toxin-1, mungkin memainkan peranan pada patogenesis eritroderma. Pasien-pasien pada dengan eritroderma biasanya mempunyai kolonisasi S.aureus sekitar 83%, dan pada kulit sekitar 17%,

bagaimanapun juga hanya ada satu dari 6 pasien memiliki toxin S.aureus yang positif. (7) Dapat diketahui bahwa akibat suatu agen dalam tubuh baik itu obat-obatan, perluasan

penyakit kulit dan penyakit sistemik maka tubuh beraksi berupa pelebaran pembuluh darah kapiler (eritema) yang generalisata. Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke kulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya pasien merasa dingin dan menggigil. Pada eritroderma kronis dapat terjadi gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatan perfusi kulit. Penguapan cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat, kehilangan panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas menyebabkan hipermetabolisme kompensator dan peningkatan laju metabolisme basal. Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding laju metabolisme basal. (5) Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m 2 permukaan kulit atau lebih sehari sehingga menyebabkan kehilangan protein Hipoproteinemia dengan berkurangnya albumin dengan peningkatan relatif globulin terutama gammaglobulin merupakan kelainan yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh pergesaran cairan ke ruang ekstravaskuler.

(5)

Eritroderma akut dan kronis dapat menganggu mitosis rambut dan kuku berupa kerontokan rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku. Pada eritroderma yang telah berlangsung berbulan – bulan dapat terjadi perburukan keadaan umum yang progresif. (5)

GAMBARAN KLINIS

Mula-mula timbul bercak eritema yang dapat meluas ke seluruh tubuh dalam waktu 12- 48 jam. Deskuamasi yang difus dimulai dari daerah lipatan, kemudian menyeluruh. Dapat juga mengenai membran mukosa, terutama yag disebabkan oleh obat. Bila kulit kepala sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat lepas. Dapat terjadi limfadenopati dan hepatomegali. Skuama timbul setelah 2-6 hari, sering mulai di daerah lipatan. Skuamanya besar pada keadaan akut, dan kecil pada keadaan kronis. Warnanya bervariasi dari putih sampai kuning. Kulit merah terang, panas, kering dan kalau diraba tebal. Pasien mengeluh kedinginan. (8) Pengendalian regulasi suhu tubuh menjadi hilang, sehingga sebagai kompensasi terhadap kehilangan panas tubuh, sekujur tubuh pasien menggigil untuk dapat menimbulkan panas metabolik. (9) Dahulu eritroderma dibagi menjadi primer dan sekunder. Pendapat sekarang semua eritroderma ada penyebabnya, jadi eritroderma selalu sekunder. Eritroderma akibat alergi obat secara sistemik diperlukan anamnesis yang teliti untuk mencari obat penyebabnya. Umumnya alergi timbul akut dalam waktu 10 hari. Pada mulanya kulit hanya eritem saja, setelah penyembuhan barulah timbul skuama. (6)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan darah didapatkan albumin serum yang rendah dan peningkatan gammaglobulins, ketidakseimbangan elektrolit, protein fase akut meningkat, leukositosis, maupun anemia ringan. (7)

Histopatologi

Pada kebanyakan pasien dengan eritroderma histopatologi dapat membantu mengidentifikasi penyebab eritroderma pada sampai dengan 50% kasus, biopsi kulit dapat menunjukkan gambaran yang bervariasi, tergantung berat dan durasi proses inflamasi. Pada tahap akut, spongiosis dan parakeratosis menonjol, terjadi edema. Pada stadium kronis, akantosis dan perpanjangan rete ridge lebih dominan. (2) Eritroderma akibat limfoma, yang infiltrasi bisa menjadi semakin pleomorfik, dan mungkin akhirnya memperoleh fitur diagnostik spesifik, seperti bandlike limfoid infiltrat di

dermis-epidermis, dengan sel cerebriform mononuklear atipikal dan Pautrier's microabscesses. Pasien dengan sindrom Sezary sering menunjukkan beberapa fitur dari dermatitis kronis, dan eritroderma jinak mungkin kadang-kadang menunjukkan beberapa gambaran tidak jelas pada limfoma. (2)

Pemeriksaan immunofenotipe infiltrat limfoid juga mungkin sulit menyelesaikan permasalahan karena pemeriksaan ini umumnya memperlihatkan gambaran sel T matang pada eritroderma jinak maupun ganas. Pada psoriasis papilomatosis dan gambaran clubbing lapisan papiler dapat terlihat, dan pada pemfigus foliaseus, akantosis superficial juga ditemukan. Pada eritroderma ikhtisioform dan ptiriasis rubra pilaris, biopsi diulang dari tempat-tempat yang dipilih dengan cermat dapat memperlihatkan gambaran khasnya. (2)

DIAGNOSIS Diagnosis agak sulit ditegakkan, harus melihat dari tanda dan gejala yang sudah ada sebelumnya misalnya, warna hitam-kemerahan di psoriasis dan kuning-kemerahan di pilaris rubra pityriasis; perubahan kuku khas psoriasis; likenifikasi, erosi, dan ekskoriasi di dermatitis atopik dan eksema; menyebar, relatif hiperkeratosis tanpa skuama, dan pityriasis rubra; ditandai bercak kulit dalam eritroderma di pilaris rubra pityriasis; hiperkeratotik skala besar kulit kepala, biasanya tanpa rambut rontok di psoriasis dan dengan rambut rontok di CTCL dan pityriasis rubra, ektropion mungkin terjadi. Dengan beberapa biopsi biasanya dapat menegakkan diagnosis. (2,4)

+ mencari tanda dari etiologi dari riwayat dan pemeriksaan fisik terlihat multiple pada biopsy + punch;
+
mencari tanda dari etiologi dari
riwayat dan pemeriksaan fisik
terlihat multiple pada biopsy
+
punch; diulangi biopsy 3-6 bulan
untuk menentukan diagnosis pasti
diagnosis pasti dan
pengobatan yang
--
tepat
dilakukan pemeriksaan tambahan :
biopsy untuk immunofluorescence,
CBC, CD4: ratio CD8, CXR, biopsy
+

kelenjar limfa

dermis-epidermis, dengan sel cerebriform mononuklear atipikal dan Pautrier's microabscesses . Pasien dengan sindrom Sezary sering menunjukkan
 
pikirkan DD lain + Bagan 1 . langkah untuk pasien yang dicurigai ED, CBC = pemeriksaan

pikirkan DD lain

+ Bagan 1. langkah untuk pasien yang dicurigai ED, CBC = pemeriksaan sel darah, CXR = x-ray thoraks, PCP = pemeriksaan primer

+ Bagan 1 . langkah untuk pasien yang dicurigai ED, CBC = pemeriksaan sel darah, CXR

Diagnosis

 

G1P0A0 Gravida 34 minggu dengan eklampsia, Janin tunggal hidup intrauterine, presentasi

kepala

PLAN:

Prinsip penatalaksanaan Eritroderma:

 
  • 1. Karena banyak kehilangan cairan, kita harus memperhatikan keseimbangan cairannya.

 

Diberikan cairan fisiologis. (8)

  • 2. Anti histamin dapat menghilangkan rasa gatal. (8)

 
  • 3. Emolien. (18)

 
  • 4. Hentikan semua obat yang mempunyai potensi menyebabakan terjadinya penyakit ini. (9)

  • 5. Rawat pasien diruangan yang cukup sinar matahari. (9)

 
  • 6. Perhatikan kemungkinan terjadinya masalah medis sekunder (misalnya : dehidrasi, gagal

 

jantung, dan infeksi). (9)

  • 7. Biopsi kulit untuk menegakkan diagnosis pasti. (9)

 
  • 8. Berikan steroid sistemik jangka pendek ( bila pada permulaan sudah dapat didiagnosis

 

adanya psoriasis maka mulailah mengganti dengan obat-obat anti psoriasis. (9)

  • 9. Mulailah pengobatan yang diperlukan untuk penyakit yang melatar belakanginya. (9)

KOMPLIKASI

 
 
  • 1. Gagal jantung

  • 2. Gagal ginjal.

  • 3. Kematian mendadak akibat hipotermia sentral. (9)

 

PROGNOSIS

 

Prognosis eritroderma tergantung pada proses penyakit yang mendasarinya.

Kasus karena penyebab obat dapat membaik

setelah obat penggunaan obat dihentikan

dan diberikan terapi yang sesuai. Prognosis kasus akibat gangguan sistemik yang mendasarinya seperti limfoma akan

tergantung pada kondisi keberhasilan pengobatan . Eritroderma disebabkan oleh dermatosa akhirnya dapat diatasi dengan pengobatan,

tetapi mungkin timbul kekambuhan. Kasus idiopatik adalah kasus yang tidak terduga,dapat bertahan dalam waktu yang

lama, sering kali disertai dengan kondisi yang lemah. Eritroderma yang termasuk golongan I, yakni karena alergi obat secara sistemik,

prognosisnya baik. Penyembuhan golongan ini ialah yang tercepat dibandingkan dengan golongan lain. Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, pengobatan dngan kortikosteroid hanya mengurangi gejalanya, pasien akan mengalami ketergantungan kortikosteroid. (18)