Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

Saat ini, kasus-kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak di bawah umur
menempati urutan kedua setelah kekerasan psikologis. Menurut data yang dikumpulkan oleh
Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia dari tahun 2010
hingga tahun 2014 tercatat sebanyak 21.869.797 kasus pelanggaran hak anak, yang tersebar
di 34 provinsi, dan 179 kabupatan dan kota. Sebesar 42-58% dari pelanggaran hak anak itu,
katanya, merupakan kejahatan seksual terhadap anak. Selebihnya adalah kasus kekerasan
fisik, dan penelantaran anak. Data dan korban kejahatan seksual terhadap anak setiap tahun
terjadi peningkatan. Pada 2010, ada 2.046 kasus, diantaranya 42% kejahatan seksual. Pada
2011 terjadi 2.426 kasus (58% kejahatan seksual), dan 2012 ada 2.637 kasus (62% kejahatan
seksual). Pada 2013, terjadi peningkatan yang cukup besar yaitu 3.339 kasus, dengan
kejahatan seksual sebesar 62%. Sedangkan pada 2014 (Januari-April), terjadi sebanyak 600
kasus atau 876 korban, diantaranya 137 kasus adalah pelaku anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga menemukan banyak aduan kekerasan pada anak
pada tahun 2010. Dari 171 kasus pengaduan yang masuk, sebanyak 67,8% terkait dengan
kasus kekerasan. Dan dari kasus kekerasan tersebut yang paling banyak terjadi adalah kasus
kekerasan seksual yaitu sebesar 45,7 persen (53 kasus). Komisi Nasional Perlindungan Anak
(Komnas Anak) mencatat, jenis kejahatan anak tertinggi sejak tahun 2007 adalah tindak
sodomi terhadap anak. Dan para pelakunya biasanya adalah guru sekolah, guru privat
termasuk guru ngaji, dan sopir pribadi. Tahun 2007, jumlah kasus sodomi anak, tertinggi di
antara jumlah kasus kejahatan anak lainnya. Dari 1.992 kasus kejahatan anak yang masuk ke
Komnas Anak tahun itu, sebanyak 1.160 kasus atau 61,8 persen, adalah kasus sodomi anak.
Dari tahun 2007 sampai akhir Maret 2008, jumlah kasus sodomi anak sendiri sudah naik
sebesar 50 persen. Komisi Nasional Perlindungan Anak telah meluncurkan Gerakan
Melawan Kekejaman Terhadap Anak, karena meningkatnya kekerasan tiap tahun pada anak.
Pada tahun 2009 lalu ada 1998 kekerasan meningkat pada tahun 2010 menjadi 2335
kekerasan dan sampai pada bulan maret 2011 ini paling tidak dari pantauan Komisi Nasional
Perlindungan Anak ada 156 kekerasan seksual khususnya sodomi pada anak.

1
Menurut Mulyadi (2006), kekerasan seksual meliputi mencolek, meraba, menyentuh hingga
melontarkan kata- kata berorientasi seksual pada anak- anak. Ini diperparah dengan tindakan
pencabulan, pemerkosaan, sodomi, dan sejenisnya. Salah satu bentuk kekerasan seksual
pada anak adalah pedofilia, yaitu ketertarikan seksual dengan stimulus yang tidak biasa
yaitu pada anak-anak (Nevid, Rathus, & Rathus, 1995). Nevid, Rathus, dan Rathus (1993)
mengatakan pedofilia adalah penyakit yang termasuk dalam kategori Sadomasokisme, yaitu
suatu kecenderungan terhadap aktivitas seksual yang meliputi pengikatan atau
menimbulkan rasa sakit atau penghinaan.

Pedofilia dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe, antara lain pedofilia yang menetap,
pedofilia yang sifatnya regresi, pedofilia seks lawan jenis, pedofilia sesama jenis, dan
pedofilia wanita. Sebagian pedofil menderita karena adanya dorongan pemenuhan kebutuhan
berhubungan seksual dengan anak dibawah umur. Jika dorongan tidak dipenuhi maka akan
menyebabkan distress atau masalah interpersonal, dan jika dipenuhi akan membahayakan
orang lain dan dirinya sendiri karena melanggar hukum.

Kondisi menjadi pedofil disebut "pedofilia," dan itu mencakup berbagai kegiatan seksual
yang mungkin atau tidak melibatkan kekuatan. Tindakan seksual mungkin termasuk:
mengekspos diri mereka sendiri, masturbasi di depan anak; menggosok, cumbuan atau
membuka baju anak dengan atau tanpa kontak kelamin; menyentuh alat kelamin anak atau
meminta anak untuk menyentuh alat kelamin orang lain; mengekspos mereka untuk
pornografi, berbicara atau menggoda anak dengan cara seksual, oral seks dan penetrasi.

Melalui tulisan makalah ini, penulis akan membahas tentang kasus pedofilia yang beberapa
waktu lalu terjadi di Jakarta Internasional School. Penulis membuat analisa kasus dan
diagnosa gangguan yang dialami pelaku dengan berpedoman pada PPDGJ III sehingga dapat
menambah wawasan bagi penulis dan pembaca.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pedopfilia

Kata pedofilia berasal dari bahasa Yunani: paidophiliapais "anak-anak" dan philia, "cinta
yang bersahabat" atau "persahabatan, meskipun ini arti harfiah telah diubah terhadap daya
tarik seksual di zaman modern, berdasarkan gelar "cinta anak" atau "kekasih anak," oleh
pedofil yang menggunakan simbol dan kode untuk mengidentifikasi preferensi mereka.

Pedofilia adalah diagnosis klinis biasanya dibuat oleh psikiater atau psikolog. Sebagai
diagnosa medis, pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau
remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai
dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia
13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima
tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan
sebagai pedofilia.

Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) mendefinisikan pedofilia sebagai "gangguan


kepribadian dewasa dan perilaku" di mana ada pilihan seksual untuk anak-anak pada usia
pubertas atau pada masa prapubertas awal. Istilah ini memiliki berbagai definisi seperti yang
ditemukan dalam psikiatri, psikologi, bahasa setempat, dan penegakan hukum.

Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah parafilia
di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual
dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu
peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal.

Pedofilia adalah paraphilia yang melibatkan ketertarikan abnormal terhadap anak-anak.


Paraphilia sendiri berarti gangguan yang dicirikan oleh dorongan seksual yang intens
berulang, serta fantasi seksual yang umumnya melibatkan: objek bukan manusia; penderitaan
atau penghinaan terhadap diri sendiri atau pasangan; atau hewan dan anak-anak.

Pedofilia juga merupakan gangguan psikoseksual, yang mana fantasi atau tindakan seksual
dengan anak-anak prapubertas merupakan cara untuk mencapai gairah dan kepuasan seksual.
Perilaku ini mungkin diarahkan terhadap anak-anak berjenis kelamin sama atau berbeda

3
dengan pelaku. Beberapa pedofil tertarik pada anak laki-laki maupun perempuan.Sebagian
pedofil ada yang hanya tertarik pada anak-anak, tapi ada pula yang juga tertarik dengan orang
dewasa dan anak-anak.

Dalam penggunaan populer, pedofilia berarti kepentingan seksual pada anak-anak atau
tindakan pelecehan seksual terhadap anak, sering disebut "kelakuan pedofilia." Misalnya, The
American Heritage Stedman's Medical Dictionary menyatakan, "Pedofilia adalah tindakan
atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak
atau anak-anak.

Kebanyakan pakar kesehatan mental membatasi definisi pedofilia sebagai aktivitas seksual
dengan anak-anak praremaja, yang umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda. Beberapa
pedofil membatasi perilaku mereka dengan mengekspos diri atau bermasturbasi di depan
anak, atau mencumbu dan membuka baju anak, tapi tanpa kontak kelamin. Namun, ada pula
pedofil yang memaksa anak melakukan seks oral atau berhubungan intim. Sebagian ahli
menganggap pedofilia timbul karena faktor psikososial daripada karakteristik biologi.
Sebagian orang berpendapat pedofilia timbul akibat pelecehan seksual yang dialami
seseorang ketika kecil. Sementara itu, ada juga yang berpikir perilaku itu berasal dari
interaksi pelaku dengan orang tua selama tahun-tahun awal kehidupannya.

Beberapa peneliti mengungkapkan, seorang pedofil mengalami perkembangan emosional


yang tertahan. Mereka tidak pernah dewasa secara psikologis sehingga lebih tertarik terhadap
anak-anak. Pedofilia juga dipercaya timbul akibat keperluan untuk mendominasi pasangan.
Karena anak-anak bertubuh lebih kecil dan biasanya lebih lemah dibandingkan orang dewasa,
mereka dapat dianggap sebagai mitra potensial yang tidak mengancam.

2.2 Epidemiologi

Pedofil biasanya datang ke petugas medis atau hukum karena telah melakukan perbuatan
melawan anak disebabkan sebagian besar tidak menemukan kepuasan seksual mereka.
Pedofil biasanya mengakui bahwa mereka tertarik kepada anak mulai sekitar masa pubertas
atau remaja, tapi ini ketertarikan seksual kepada anak-anak juga dapat berkembang di
kemudian hari.

Beberapa studi telah menemukan bahwa sebanyak 50% sampai 60% dari pedofil juga
berkaitan dengan penyalahgunaan zat. Dalam sebuah studi yang meneliti hubungan antara

4
usia dan jenis kejahatan seksual, Dickey et Al menemukan bahwa sampai 44% pedofilia
dalam sampel mereka berada diusia dewasa tua (usia 40-70 tahun). Bila dibandingkan dengan
pemerkosa dan sadis seksual, pedofilia terdiri dari 60% dari semua pelanggar yang berumur
tua, hal ini menunjukkan bahwa pedofil pada tahun tersebut menjadi pelanggar seksual
terbesar dibandingkan dengan pelanggar seksual yang lainnya.

Dalam sebuah studi oleh Abel dan Harlow, 15 dari 2429 pedofil laki-laki dewasa, hanya 7%
mengidentifikasi diri mereka sebagai eksklusif tertarik secara seksual anak, yang
menegaskan pandangan umum bahwa sebagian besar pedofil adalah bagian dari kelompok
eksklusif. Pedofil biasanya tertarik pada rentang usia tertentu dan atau jenis kelamin anak.
Penelitian mengkategorikan pedofil laki-laki oleh apakah mereka tertarik hanya anak laki-laki
(homoseksual pedofilia), anak perempuan (pedofilia heteroseksual), atau anak-anak dari
kedua jenis kelamin (pedofilia biseksual). Persentase pedofil homoseksual berkisar antara
9% sampai 40%, yang kira-kira 4 sampai 20 kali lebih tinggi daripada tingkat pria dewasa
tertarik lainnya dewasa laki-laki (menggunakan tingkat prevalensi homoseksualitas dewasa
dari 2% -4%).

Individu tertarik pada perempuan biasanya lebih suka anak-anak antara usia 8 dan 10 tahun.
3, 5,31 Individu tertarik pada laki-laki biasanya lebih suka sedikit lebih tua anak laki-laki
antara usia 10 dan 13 tahun.

2.3 Etiologi

Individu yang Pedofilia memiliki factor predisposisi dimana terdapat minat seksual pada
anak-anak praremaja. Pedofilia merupakan faktor risiko untuk melakukan pelanggaran
seksual terhadap anak-anak. Meskipun relevansi gangguan untuk pencegahan kejahatan
seksual terhadap anak-anak, sedikit yang diketahui tentang mekanisme etiologi yang
mendasari pedofilia.

Terutama tiga penyebab yang masuk akal yang akan dibahas dalam literatur yaitu :
kecenderungan genetik, gangguan otak, dan factor resiko. Sebuah studi keluarga
menunjukkan sifat yang diturunkan sama orang pedofilia di antara saudara laki-laki dari pria
pedofilia sebuah temuan yang mungkin menunjukkan jalur genetik. Neuropsikologis serta
studi pencitraan otak tampaknya menyiratkan bahwa individu pedofilia menunjukkan tanda-
tanda gangguan perkembangan saraf. Dengan demikian, disfungsi otak yang mungkin

5
menjadi inti dari gangguan. Akhirnya, tingkat korban pelecehan seksual tampaknya
meningkat di kalangan pelaku kekerasan seksual terutama yang ditekankan pada relevansi
potensi pengalaman traumatis di masa kecil dan remaja.

Pada penelitian Dr Alexander Schmidt akan menyajikan temuan-temuan dari studi yang
meneliti apakah perampasan kontak rekan masa kanak-kanak atau sensitivitas tertentu untuk
jijik mungkin memiliki pengaruh pada minat seksual pada anak-anak di masa dewasa. Dr
Joachim Nitschke akan membahas temuan dari studi cross-sectional retrospektif pasien
forensik pedofilia. Menggunakan data arsip dari rumah sakit mereka merekam sebuah model
jalur diuji yang termasuk kerusakan otak, trauma seksual, dan pengalaman masa kecil
permusuhan sebagai prekursor potensi untuk ekspresi kemudian untuk menjadi pedofilia.
Dalam pembicaraan ketiga, Dr Pekka Santtila akan menyajikan temuan pertama dari sebuah
penelitian genetik perilaku pada preferensi usia pasangan seksual. Berdasarkan sampel
berdasarkan populasi kembar dan saudara mereka dari Finlandia, Dr Santtila akan menyoroti
relevansi faktor genetik terhadap lingkungan untuk usia yang disukai pasangan seksual. Dan
Dr Michael Seto mengatakan bahwa ekspresi pedofilia mencakup gen.otak, dan pola belajar
dari masa anak-anak sampai dewasa.

2.4 Klasifikasi

Pedofilia dapat diklasifikasikan ke dalam 5 tipe yaitu

(a) Pedofilia yang fiksasi. Orang dengan pedofilia tipe ini menganggap dirinya
terjebak pada lingkungan anak. Mereka jarang bergaul dengan sesama usianya dan memiliki
hubungan yang lebih baik dengan anak. Mereka digambarkan sebagai lelaki dewasa yang
tertarik pada anak laki-laki dan menjalin hubungan layaknya sesama anak laki-laki;

(b) Pedofilia yang sifatnya regresi. Individu dengan pedofilia regresi tidak tertarik
pada anak lelaki, dan biasanya bersifat heteroseks, serta lebih suka pada anak perempuan
berumur 8 atau 9 tahun. Beberapa di antara mereka mengeluhkan adanya kecemasan maupun
ketegangan dalam perkawinan mereka, dan hal ini yang menyebabkan timbulnya impuls
pedofilia. Mereka menganggap anak sebagai pengganti orang dewasa, menjalin hubungan
seperti sesama dewasa, dan awalnya terjadi secara tiba-tiba;

(c) Pedofilia seks lawan jenis. Merupakan pedofilia yang melibatkan anak perempuan
dan didiagnosa sebagai pedofilia regresi. Pedofilia lawan jenis ini umumnya menjadi teman

6
anak perempuan tersebut. Kemudian secara bertahap melibatkan anak tersebut dalam
hubungan seksual, dan sifatnya tidak memaksa. Seringkali mereka mencumbu anak atau
meminta anak mencumbunya;

(d) Pedofilia sesama jenis. Orang dengan pedofilia jenis ini lebih suka berhubungan
seks dengan anak laki-laki ataupun anak perempuan dibanding orang dewasa. Anak-anak
tersebut berumur antara 10-12 tahun;

(e) Pedofilia wanita. Menurut Mulyadi (dalam detik.com 2006), meskipun jarang
dilaporkan, ada juga pedofilia juga yang dilakukan oleh wanita, dan biasanya melibatkan
anak berumur 12 tahun atau lebih muda. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perasaan
keibuan pada wanita, dan anak laki- laki tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang
sifatnya negatif, karena itu insidennya kurang dilaporkan.

Sementara itu dalam DSM-IV-TR pedofilia dapat dispesifikasikan dalam beberapa kelompok
antara lain: (a) Sexually attracted to male, (b) Sexually attracted to female, (c) Sexually
attracted to both, (d) Limited to incest, (e) Exclusive type, (f) Nonexclusive type.

Infantofilia, atau nepiofilia, digunakan untuk merujuk pada preferensi seksual untuk
bayi dan balita (biasanya umur 0-3).

Pedofilia digunakan untuk individu dengan minat seksual utama pada anak-anak
prapuber yang berusia 13 atau lebih muda.

Hebephilia didefinisikan sebagai individu dengan minat seksual utama pada anak
prapubertas yang berusia 11 hingga 14 tahun. DSM IV tidak memasukkan hebephilia di
dalam daftar di antara diagnosis, sedangkan ICD-10 mencakup hebephilia dalam definisi
pedofilia.

Istilah erotika pedofilia diciptakan pada tahun 1886 oleh psikiater asal Wina, Richard von
Krafft-Ebing dalam tulisannya Psychopathia Sexualis. Istilah ini muncul pada bagian yang
berjudul "Pelanggaran Individu Pada Abad Empat belas," yang berfokus pada aspek psikiatri
forensik dari pelanggar seksual anak pada umumnya. Krafft-Ebing menjelaskan beberapa
tipologi pelaku, membagi mereka menjadi asal usul psikopatologis dan non-psikopatologis,
dan hipotesis beberapa faktor penyebab yang terlihat yang dapat mengarah pada pelecehan
seksual terhadap anak-anak.

7
Krafft-Ebing menyebutkan erotika pedofilia dalam tipologi "penyimpangan psiko-seksual."
Dia menulis bahwa ia hanya menemukan empat kali selama karirnya dan memberikan
deskripsi singkat untuk setiap kasus, daftar tiga ciri umumnya yaitu:

1. Individu tercemari [oleh keturunan] (belastate hereditr).

2. Daya tarik utama subyek adalah untuk anak-anak, daripada orang dewasa.

3. Tindakan yang dilakukan oleh subjek biasanya tidak berhubungan, melainkan melibatkan
tindakan yang tidak pantas seperti menyentuh atau memanipulasi anak dalam melakukan
tindakan pada subjek.

Dia menyebutkan beberapa kasus pedofilia di kalangan perempuan dewasa (yang disediakan
oleh dokter lain), dan juga dianggap sebagai pelecehan terhadap anak laki-laki oleh laki-laki
homoseksual menjadi sangat langka. Lebih lanjut mengklarifikasi hal ini, ia menunjukkan
bahwa kasus pria dewasa yang memiliki gangguan kesehatan atau neurologis dan pelecehan
terhadap seorang anak laki-laki yang bukan pedofilia yang sebenarnya, dan bahwa dalam
korban pengamatannya adalah orang-orang seperti itu cenderung lebih tua dan dibawah umur.
Dia juga mencantumkan "Pseudopaedofilia" sebagai kondisi istimewa dimana "individu yang
telah kehilangan libido untuk orang dewasa melalui masturbasi dan kemudian berbalik
kepada anak-anak untuk pemuasan nafsu seksual mereka" dan menyatakan ini jauh lebih
umum.

Pada tahun 1908, neuroanatomis dan psikiater asal Swiss, Auguste Forel menulis tentang
fenomena tersebut, mengusulkan bahwa hal itu disebut sebagai "Pederosis," pada "Nafsu
Seksual pada Anak." Mirip dengan karya Krafft-Ebing, Forel membuat perbedaan antara
pelecehan seksual insidentil oleh orang dengan demensia dan kondisi otak organik, dan
keinginan seksual yang benar-benar istimewa dan kadang-kadang eksklusif pada anak-anak.
Namun, ia tidak setuju dengan Krafft-Ebing dimana bahwa ia merasakan kondisi yang kedua
adalah terutama tertanam dan tak berubah.

Istilah "pedofilia" menjadi istilah yang berlaku umum pada kondisi dan dilihat penerapan
secara luas pada awal abad 20, muncul dimana banyak dalam kamus medis populer seperti
Stedman Edisi ke-5. Pada tahun 1952, itu termasuk dalam edisi pertama Diagnostik Manual
dan Statistik Gangguan Mental. Edisi ini dan selanjutnya DSM-II yang terdaftar gangguan
sebagai salah satu subtipe dari klasifikasi "Deviasi Seksual," tetapi tidak ada kriteria
diagnostik disediakan. DSM-III, diterbitkan pada tahun 1980, berisi deskripsi lengkap dari

8
gangguan dan memberikan seperangkat pedoman untuk diagnosis. Revisi pada tahun 1987,
DSM-III-R, tetap dengan deskripsi yang sebagian besar sama, tapi diperbaharui dan diperluas
kriteria diagnostiknya. Beberapa dokter mengusulkan pengkategorian lebih lanjut, agak atau
sama sekali dibedakan dari pedofilia, termasuk "pedohebefilia," "hebefilia," dan "efebofilia"
(walaupun efebofilia tidak dianggap patologis). Ahli lain seperti Karen Franklin
mempertimbangkan klasifikasi seperti hebefilia menjadi "pretekstual" diagnosa yang tidak
harus dianggap sebagai gangguan.

2.5 Diagnosis

Pedoman diagnostik F 65.4 Pedofilia menurut PPDGJ-III :

Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas,
baik laki-laki maupun perempuan.
Preferensi tersebut harus berulang dan menetap.
Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi
karena mengalami frustasi yang khronis untuk mencapai hubungan seksual yang
diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti.

Pedoman diagnostik F 65.4 Paedophilia menurut ICD-10 : ICD-10 mendefinisikan pedofilia


sebagai "preferensi seksual untuk anak-anak, anak laki-laki atau perempuan atau keduanya,
biasanya usia prapubertas atau awal pubertas." Berdasarkan kriteria sistem ini, orang yang
berusia 16 tahun atau lebih memenuhi definisi jika mereka memiliki preferensi seksual terus-
menerus atau pradominan untuk anak-anak praremaja setidaknya lima tahun lebih muda dari
mereka.

Pedoman diagnostik Pedophilia menurut DSM-IV-TR (2000): terjadi minimal 6 bulan,


rekuren atau intens adanya fantasi seksual yang membangkitkan gairah, perilaku atau
dorongan yang melibatkan beberapa jenis aktivitas seksual dengan anak praremaja (usia 13
atau lebih muda, meskipun permulaan pubertas dapat bervariasi) dan bahwa subjek telah
bertindak atas hal tersebut karena dorongan atau mengalami dari kesulitan sebagai hasil dari
memiliki perasaan ini. Kriteria ini juga menunjukkan bahwa subjek harus berusia 16 tahun
atau lebih tua dan bahwa seorang anak atau anak-anak mereka berfantasi tentang setidaknya
terhadap anak yang berusia lima tahun lebih muda dari mereka, meskipun hubungan seksual

9
berlangsung antara usia 12-13 tahun dan masa-masa akhir remaja disarankan untuk
dikecualikan. Diagnosis lebih lanjut ditentukan oleh jenis kelamin anak orang tersebut
tertarik, jika impuls atau tindakan terbatas pada incest, dan jika daya tarik adalah "eksklusif"
atau "noneksklusif."

Sebuah studi menunjukkan bahwa pornografi anak merupakan diagnostik pasti dan dapat
dijadikan indikator untuk pedofilia. Pelanggaran ponografi anak merupakan pelanggar yang
bermakna dan lebih mungkin untuk menunjukkan pola pedofilia selama pengujian
phallometric dibandingkan kelompok orang dewasa atau pasien seksologi umum. Pornografi
anak memiliki signifikansi diagnostik dan mungkin sangat membantu dalam situasi di mana
orang tersebut menyangkal minat seksual terhadap anak-anak praremaja, atau tidak memiliki
sejarah yang didokumentasikan perilaku seksual yang melibatkan anak-anak, atau di mana tes
phallometric hasil tidak tersedia. Seto dan Eke (2005) menemukan bahwa 24% dari sampel
mereka Pelaku pornografi anak memiliki riwayat pelanggaran kontak seksual sebelumnya.

Banyak istilah telah digunakan untuk membedakan "pedofil sejati" dari pelaku non pedofil
dan non eksklusif, atau untuk membedakan antara jenis pelaku dalam sebuah kontinum sesuai
dengan kekuatan dan eksklusivitas kepentingan pedofil, dan motivasi atas perbuatan itu (lihat
Jenis pelaku pelecehan seksual terhadap anak). Pedofil Eksklusif kadang-kadang disebut
sebagai "pedofil sejati." Mereka tertarik pada anak-anak, dan anak-anak saja. Mereka
menunjukkan sedikit minat erotis pada orang dewasa yang sesuai dengan usia mereka sendiri
dan, dalam beberapa kasus, hanya bisa menjadi terangsang ketika berfantasi atau berada di
hadapan anak-anak praremaja. Pedofil non eksklusif terkadang disebut sebagai pelaku non
pedofil, tetapi dua istilah ini tidak selalu identik. Pedofil non eksklusif tertarik pada anak-
anak dan orang dewasa, dan dapat terangsang oleh keduanya, meskipun preferensi seksual
bagi salah satu dari yang lain dalam kasus ini juga mungkin ada.

Baik kriteria diagnostik ICD maupun DSM membutuhkan aktivitas seksual yang sebenarnya
dengan seorang pemuda praremaja. Diagnosis sehingga dapat dibuat berdasarkan adanya
fantasi atau dorongan seksual bahkan jika mereka tidak pernah ditindaklanjuti. Di sisi lain,
seseorang yang bertindak atas dorongan ini belum ada pengalaman buruk tentang fantasi
mereka atau dorongan dapat juga memenuhi syarat untuk diagnosis. Bertindak berdasarkan
dorongan seksual tidak terbatas pada tindakan seks yang jelas untuk tujuan diagnosa ini, dan
kadang-kadang dapat mencakup paparan yang tidak senonoh, perilaku voyeuristik atau
frotteuristik, atau bermasturbasi dengan pornografi anak. Seringkali, perilaku ini perlu

10
dipertimbangkan dalam konteks dengan unsur penilaian klinis sebelum diagnosis dibuat.
Demikian juga, ketika pasien berada dalam masa remaja akhir, perbedaan usia tidak
ditentukan dalam angka yang keras dan bukannya memerlukan pertimbangan situasi yang
cermat.

Dystonik ego orientasi seksual (F66.1) termasuk orang yang tidak ragu bahwa mereka
memiliki preferensi seksual sebelum pubertas, namun berharap itu berbeda karena gangguan
psikologis dan perilaku yang terkait. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memungkinkan
bagi pasien untuk mencari pengobatan untuk mengubah orientasi seksual mereka.

Perdebatan mengenai kriteria DSM

Kriteria DSM IV telah dikritik secara bersamaan karena lebih inklusif, serta di bawah
inklusif. Meskipun kebanyakan peneliti membedakan antara penganiaya anak dan pedofil,
Studer dan Aylwin berpendapat bahwa kriteria DSM lebih inklusif karena semua tindakan
pelecehan seksual terhadap anak memerlukan diagnosis. Seorang penganiaya anak memenuhi
kriteria A karena perilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak-anak praremaja dan
B kriteria karena individu telah melakukan tindakan yang mendesak pada mereka.

Pada tahun 1993, peninjauan penelitian tentang pelecehan seksual anak, Sharon Araji dan
David Finkelhor menyatakan bahwa karena bidang penelitian ini belum berkembang pada
waktu itu, ada "masalah definisi" akibat dari kurangnya standardisasi di antara peneliti dalam
penggunaan istilah "pedofilia". Mereka menguraikan dua definisi, sebuah "restriktif" bentuk
yang mengacu kepada individu dengan minat seksual yang kuat dan eksklusif pada anak-
anak, dan definisi "inklusif", memperluas istilah tersebut dapat menyertakan pelaku yang
terlibat dalam kontak seksual dengan seorang anak, termasuk inses. Mereka menyatakan
bahwa mereka menggunakan definisi yang lebih luas dalam makalah kajian mereka karena
kriteria perilaku lebih mudah untuk mengidentifikasi dan tidak memerlukan analisis
kompleks dari motivasi individu.

Pedofilia dapat digambarkan sebagai gangguan preferensi seksual, fenomenologis mirip


dengan orientasi heteroseksual atau homoseksual karena itu muncul sebelum atau selama
pubertas, dan karena stabil sepanjang waktu. Pengamatan ini, bagaimanapun, tidak
mengecualikan pedofilia dari kelompok gangguan jiwa karena tindakan pedofil menyebabkan
kerugian, dan pedofilia kadang-kadang dapat dibantu oleh para profesional kesehatan mental
untuk menahan diri dari bertindak atas impuls mereka.

11
Sedangkan 2 sampai 4% dari laki-laki dengan preferensi untuk orang dewasa memiliki
preferensi homoseksual, 25 sampai 40% dari laki-laki dengan preferensi untuk anak-anak
memiliki preferensi seksual sejenis. Namun, tidak seperti laki-laki dengan preferensi
homoseksual dewasa, laki-laki dengan preferensi anak yang sama-seks biasanya tidak
menunjukkan perilaku masa kanak-kanak lintas gender. Rata-rata, orang dengan preferensi
seks sejenis lebih menyukai hubungan seksual dengan anak yang lebih tua daripada laki-laki
dengan preferensi terhadap anak yang heteroseksual.

Sedangkan 2 sampai 4% dari laki-laki dengan preferensi untuk orang dewasa memiliki
preferensi homoseksual, 25 sampai 40% dari laki-laki dengan preferensi untuk anak-anak
memiliki preferensi seksual sejenis. Namun, tidak seperti laki-laki dengan preferensi
homoseksual dewasa, laki-laki dengan preferensi anak yang sama-seks biasanya tidak
menunjukkan perilaku masa kanak-kanak lintas gender. Rata-rata, orang dengan preferensi
seks sejenis lebih menyukai hubungan seksual dengan anak yang lebih tua daripada laki-laki
dengan preferensi terhadap anak yang heteroseksual.

Pornografi anak biasanya diperoleh oleh pedofil yang menggunakan gambar untuk berbagai
keperluan, mulai dari menggunakannya untuk kepentingan seksual pribadi, perdagangan
dengan pedofil lain, menyiapkan anak-anak untuk pelecehan seksual sebagai bagian dari
proses yang dikenal sebagai "perawatan anak", atau bujukan yang mengarah ke jebakan untuk
eksploitasi seksual seperti produksi pornografi anak yang baru atau prostitusi anak.

2.6 Penatalaksanaan

Sebagai hasil dari keputusan Kansas Hendricks di Mahkamah Agung AS, berkomitmen
pengobatan penyimpangan seksual telah menjadi fokus dari kepentingan nasional yang cukup
penting. Pengobatan yang efektif dari penyimpangan seksual merupakan masalah rumit yang
melibatkan pendekatan pengobatan psikologis dan farmakologis. Seorang psikiater karena
telah melewati pendidikan dalam kedokteran dan keterampilan dalam psikoterapi harus tepat
dalam mengobati orang-orang khusunya yang mengalami penyimpangan seksual karena
sudah bersifat umum terdapat kesepakatan di antara para ahli bahwa pengobatan psikologis
dan farmakologis sebaiknya dikombinasikan.

12
Pendekatan yang paling efektif termasuk pendekatan farmakologi dari pelanggar seksual
didasarkan pada asumsi bahwa perilaku secara seksual dan termotivasi untuk penekanan
terhadap dorongan seksual akan mengurangi penyimpangan perilaku seksual. Tujuannya
adalah untuk menjaga kepentingan seksual dan perilaku normal sekaligus mengurangi
perilaku menyimpang atau paraphilic. Perawatan farmakologis telah terbukti dalam
mengembalikan fungsi fisiologi normal yang terganggu pada seorang pedofilia dan perbuatan
seksual menyimpang lainnya.

Perawatan biologis, perawatan khusus bedah dan bedah saraf stereotaxic yang telah
digunakan selama ini dalam pengobatan pelaku seksual adalah untuk mengurangi dorongan
seksual mereka dan untuk mencegah residivisme. Studi ini hasil pengebirian bedah
memberikan dasar teoritis bagi pemahaman pengobatan farmakologis paraphilias. Efek
biologis perawatan bedah dan penekanan androgen oleh antiandrogen dan agen hormonal
memiliki efek yang sama pada perilaku seksual.

Perlakuan farmakologi dari paraphilias (termasuk pelaku seks) dengan antiandrogen dan agen
hormonal berhasil dalam mengurangi tingkat residivisme melalui pengurangan fantasi
seksual, dorongan seksual, gairah seksual, dan perilaku seksual. Ada bukti empiris bahwa
BPA dan sertraline memiliki efek berbeda pada gairah seksual pola pedofil yang menekan
gairah pedofilia dan meningkatkan gairah terhadap aktivitas seksual konsensual dewasa.
BPA, MPA, analog LHRH suatu SSRI semuanya telah dibuktikan sebagai pengobatan yang
efektif dalam paraphilias. Pendekatan gabungan pengobatan menggunakan perilaku
perawatan farmakologis dan kognitif harus dilakukan di sebagian kasus. Baru-baru ini kami
telah menggunakan kombinasi anti androgen dan SSRI untuk pengobatan pedofilia.

Tidak ada pengobatan yang efektif untuk pedofilia kecuali pedofil sendiri bersedia terlibat
dalam pengobatan. Individu pedofilia dapat tersinggung selama dalam psikoterapi aktif, saat
menerima pengobatan farmakologis, bahkan setelah castration atau pengembirian. Pada
saat ini pengobatan pedofil lebih terfokus pada pencegahan pedofil untuk melakukan
pelecehan seksual dari pada mengubah orentasi seksual pedofil terhadap anak-anak.

Schober et al menemukan bahwa individu pedofil masih menunjukkan ketertarikan seksual


terhadap anak-anak. Yang diukur menggunakan metode Abel Assessment for Sexual
Interest / AASI, bahkan setelah setahun mendapatkan terapi kombinasi psikoterapi dan
farmakoterapi, sementara laporan dari seorang pedofil telah mengalami penurunan dalam

13
melakukan pelecehan seksual dan masturbasi. Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan
seksual dapat diatasi, namun ketertarikan saat melihat anak-anak tidak berubah. Pilihan
pengobatan yang sering dipakai adalah supresi testosterone secara farmakologis (misalnya:
terapi antiandrogenik atau chemical castration). pedofil berada di risiko lebih besar untuk
residivisme seksual dibandingkan dengan pelaku kejahatan seksual lainnya , dan kategori lain
dari penganiaya anak.

Meskipun pedofilia belum ada obatnya, berbagai perawatan yang tersedia yang bertujuan
untuk mengurangi atau mencegah ekspresi perilaku pedofilia, mengurangi prevalensi
pelecehan seksual terhadap anak. Pengobatan pedofilia sering membutuhkan kerjasama
antara penegak hukum dan profesional kesehatan. Sejumlah teknik pengobatan yang
diusulkan untuk pedofilia telah dikembangkan, meskipun tingkat keberhasilan terapi ini
sangat rendah.

Terapi perilaku kognitif ("pencegahan kambuh")

Terapi perilaku kognitif telah terbukti mengurangi residivisme pada orang yang memiliki
hubungan dengan pelaku kejahatan seks. Menurut seorang seksolog asal Kanada Michael
Seto, perawatan perilaku kognitif mempunyai sasaran, keyakinan, dan perilaku yang
dipercaya untuk meningkatkan kemungkinan pelanggaran seksual terhadap anak-anak, dan
"pencegahan untuk kambuh" adalah jenis yang paling umum dari pengobatan perilaku
kognitif. Teknik-teknik pencegahan untuk kambuh kembali didasarkan pada prinsip-prinsip
yang digunakan untuk mengobati kecanduan. Ilmuwan lain juga melakukan beberapa
penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat residivisme pedofil dalam terapi lebih rendah
dari pedofil yang menjauhi terapi.

Intervensi perilaku

Perilaku perawatan terhadap target gairah seksual kepada anak-anak, menggunakan teknik
kejenuhan dan keengganan untuk menekan gairah seksual kepada anak-anak dan sensitisasi
terselubung (atau rekondisi masturbatori) untuk meningkatkan gairah seksual bagi orang
dewasa. Perilaku perawatan tampaknya berpengaruh terhadap pola gairah seksual pada
pengujian phallometrik, tetapi tidak diketahui apakah perubahan uji mewakili perubahan
kepentingan seksual atau perubahan dalam kemampuan untuk mengendalikan stimulasi
genital selama pengujian.

14
2.7 Prognosis

Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi follow-up, maka
prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama penyimpangan seks, adanya gejala
penarikan diri secara sosial maupun seksual dan kekuatan serta kelemahan kepribadian
pasien. Tetapi perilaku ini biasanya tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi.

15
BAB 3

ANALISA KASUS

3.1 Kronologi Kasus

Kekerasan Seksual JIS

Kasus Jakarta International School (JIS) adalah kasus yang cukup menyita perhatian di
pertengahan tahun 2014. Kasus ini merupakan salah satu dari beberapa kasus kekerasan
seksual pada anak yang terjadi di Indonesia. Kasus kekerasan seksual yang tejadi di
lingkungan sekolah yang mana merupakan institusi yang seharusnya dipercaya para wali
murid sebagai tempat belajar anak anak mereka namun seakan menjadi neraka untuk anak.

Kasus JIS terjadi di sebuah institusi pendidikan yang berkelas internasional yang mana cukup
membuat banyak orang terheran heran mengapa kejadian semacam kekerasan seksual bisa
terjadi di sebuah sekolah tersebut. Dan yang sangat disesalkan adalah mengapa baru sekarang
terkuak kejadian kekerasan seksual tersebut. Padahal kekerasan seksual pada anak cukup
memiliki dampak psikologis yang berat dan nantinya akan berdampak pada perilaku
keseharian, kepribadian, bahkan preferensi seksual para korban yang mengalami kekerasan
seksual tersebut.

Kasus kekerasan seksual JIS pada awalnya terungkap melalui orang tua murid yang melapor
bahwa anaknya telah menjadi korban kekerasan seksual. Belakangan terungkap bahwa pelaku
kekerasan seksual JIS melibatkan guru JIS dan cleaning service yang mana berjumlah dua
belas orang sebagai berikut:

Guru JIS, yaitu ;

1. Neil Bantleman (learning leader)

2. Ferdi Tjiong (asisten guru kelas I)

3. William James Vahey, 64 tahun (bunuh diri)

Cleaning Service JIS, yaitu ;

4. Agun Iskandar, 25 tahun

5. Virgiawan Amin, 20 tahun

16
6. Afriska Setiani, 24 tahun

7. Zainal Abidin, 28 tahun

8. Syaiful, 20 tahun

9. Azwar, 28 tahun (meninggal karena bunuh diri)

Pelaku Kekerasan Seksual JIS

Pada review ini penulis akan lebih memfokuskan pada dinamika perilaku penyimpangan
prefernsi seksual pada Zainal Abidin (ZA). Diketahui dari berita yang ada menyatakan bahwa
Zainal Abidin selain melakukan kekerasan seksual pada anak, pelaku juga merupakan
seorang homoseksual yang memiliki hubungan kusus dengan salah satu pelaku lain yang juga
melakukan kekerasan seksual pada anak di JIS (megapolitan.kompas.com). Dari hasil
penyelidikan diketahui bahwa Zainal Abidin berpacaran dengan salah seorang pria yang juga
pelaku kekerasan seksual di JIS dan sering malakukan hubungan intim berupa melakukan
saling sodomi dengan orang tersebut. Selain itu diketahui pula bahwa pelaku juga merupakan
salah satu korban dari salah satu guru JIS yaitu William James Vahey (tribunnews.com).
dijelaskan dalam berita yang dimuat, ZA pada usia 14 tahun mengaku pernah mengalami
kekerasan seksual yang dilakukan oleh William James Vahey di lingkungan rumah tempat
tinggal ZA. Dari pengakuan ZA ini dapat diketahui bahwa pelaku William James Vahey ini
telah melakukan kekerasan seksual kepada korbannya sejak lama dan melakukan kekerasan
seksual di tempat yang menurut kebanyakan orang merupakan tempat yang aman bagi anak.
Selain itu nampak juga gambaran tentang bagaimana dampak dari kekerasan seksual yang
dialami oleh seorang anak. ZA yang mana diselidiki memiliki latar belakang keluarga yang
baik telah berani melakukan kejahatan kekerasan seksual pada anak salah satunya
dikarenakan ZA pada masa anak anak merupakan korban dari hal yang sama yaitu kekerasan
seksual yang dilakukan oleh William James Vahey yang mana belakangan diketahui bahwa
dia merupakan buronan FBI yang mana telah melakukan kejahatan seksual pada anak di
beberapa negara selama dua dekade.

Dilihat dari paparan latar belakang salah satu pelaku kekerasan seksual JIS maka akan terlihat
pola perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pelaku. Pelaku yang notabene pada masa
kanak kanak merupakan korban kekerasan seksual, pada masa dewasa memiliki
kecenderungan melakukan hal yang sama. Dapat dibayangkan jika hal tersebut terus terulang
dengan lebih banyak korban anak anak yang mengalami kekerasan seksual. Oleh karena itu

17
sangat dibutuhkan penanganan yang tepat untuk pelaku kekerasan seksual pada anak maupun
anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

3.2 Etiologi Perilaku Pelaku JIS

Sampai sekarang ini etiologi pedofilia masih menjadi perdebatan di antara para ahli klinis.
Adapun beberapa teori yang dibicarakan oleh para ahli,adalah:

1. Teori Psikodinamika

Dalam teori psikodinamika banyak menekankan mengenai pengalaman masa kanak yang
dapat mempengaruhi perilaku manusia pada masa dewasa melalui pola ketidaksadaran.
Pengalaman seksual yang tejadi pada masa anak yang tidak menyenangkan atau traumatik
akan direpres kedalam pola ketidaksadaran. Adanya kejadian yang tidak menyenangkan
seperti dilecehkan secara seksual oleh seorang dewasa pada masa kecil seorang pedofil
menyebabkan adanya persepsi buruk yang memandang hubungan seks dengan orang
seusianya atau dengan orang yang lebih dewasa menjadi menakutkan.

2. Teori Behavioral Cognitive

Pada teori behavioral memandang bahwa perilaku manusia adalah hasil dari kumpulan respon
dari stimulus yang selama ini dipelajari oleh manusia. Perilaku yang tidak menyenangkan
yang diulang akan membuat seseorang membentuk respon bertahan dan berusaha untuk
menikmati stimulus tersebut sebagai stimulus yang biasa walaupun sebenarnya stimulus
tersebut pada dasarnya merupakan stimulus yang tidak menyenangkan. Manusia akan belajar
menerima stimulus yang ada dan membentuk pola pemahaman kognitif baru mengenai
stimulus yang dia terima tersebut.

Dalam kasus JIS nampak pelaku AZ telah mendapat perlakuan kekerasan seksual yang
dilakukan oleh William James Vahey yang mana hal tersebut mestinya merupakan stimulus
yang tidak menyenangkan, namun dikarenakan pola respon manusia yang akan beradaptasi
dengan keadaan akan menyebabkan AZ mencoba menerima stimulus yang ada dan
mempersepsikannya menjadi stimulus yang netral. Hal ini yang pada akhirnya membentuk
pola pemahaman bahwa perilaku seksual yang benar menurut AZ adalah perilaku seksual
dengan sesama jenis dan lebih baik lagi dilakukan dengan anak anak.

18
Selain itu dapat dijelaskan pula dampak dari adanya kejadian yang tidak menyenangkan
seperti adanya pelecehan seksual di masa kecil seorang pedofil menyebabkan ia beranggapan
bahwa aktivitas seksual yang menyenangkan dilakukan dengan anak kecil. Selain
itu,rendahnya self-esteem membuat seorang pedofil mencari sosok yang lebih lemah, yakni
mereka, anak-anak prapubertas.

Namun secara umum teori yang sering dijadikan sebagai dasar adalah teori psikoanalis
dimana teori ini mengungkapkan bahwa adanya kejadian di masa lalu seorang pedofil saat dia
dalam masa kecil. Keberadaan yang dominan dari sosok yang lebih tua yang terlalu
mengontrol dimana dapat dilihat sebagai kompensasi mereka atas ketidakberdayaan mereka
di masa kecilnya. Selain itu, adanya kejadian traumatis atau pengalaman yang tidak
menyenangkan dengan orang dewasa, sehingga mengakibatkan adanya persepsi buruk
terhadap diri mereka. Faktor-faktor ini yang dapat memicu penyimpangan seksual pada kasus
pedofilia.

3.3 Intervensi Pelaku Kekerasan Seksual Pada Anak

Intervensi klinis adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah perilaku atau
keadaan sosial dengan sengaja sesuai dengan tujuan yang dikehendaki (Nietzel,1998). Dalam
pelaksanaannya, terdapat berbagai bentuk intervensi psikologis yang biasa dilakukan oleh
seorang psikolog seperti psikoterapi, rehabilitasi psikososial, intervensi preventif.

Dalam kasus Jakarta International School (JIS), pelaku kekerasan seksual pada anak
kemungkinan dapat dimasukkan kedalam gangguan pedofilia dan ada beberapa pelaku yang
disertai dengan homoseksual. Orang dengan gangguan pedofilia memiliki ketertarikan
seksual secara berlebih pada anak anak. Pada kriteria pedhofilia, seseorang dengan gangguan
pedhofilia memiliki ketertarikan pada anak anak secara umum. Pada kasus JIS diketahui
bahwa banyak korban yang mengalami kekerasan seksual merupakan anak laki laki. Hal ini
mungkin dikarenakan pelaku kekerasan seksual memiliki pemahaman yang menyimpang
mengenai perilaku seksual yang diperoleh pelaku seperti Zainal di masa lalu (Frank, 1999).
Seperti yang dijelas di atas, salah satu pelaku kekerasan seksual di JIS yaitu Zanial dahulunya
juga merupakan korban dari kasus kekerasan seksual. Oleh sebab itu dikhawatirkan jika anak
yang telah mengalami kekerasan seksual pada masa dewasa memiliki kemungkinan yang
cukup besar akan mengulangi hal yang sama yang pernah dialaminya ketika pada masa kanak
kanak (Berlin, 1994; Frank, 1999).

19
Hal ini yang kemudian menjadikan intervensi klinis hal yang penting dalam penanggulangan
permasalahan pada kasus kekerasan seksual semacam ini. Intervensi klinis sebenarnya tidak
cukup hanya dilakukan kepada korban kekerasan seksual, tetapi juga harus dilakukan kepada
pelaku kekerasan seksual sehingga mata rantai kasus kekerasan seksuala akan terputus. Dan
perlu diketahui bahwa intervensi tidak akan memiliki hasil yang maksimal jika tidak
didukung oleh keluarga ataupun masyarakat disekitar pelaku maupun korban dari kekerasan
seksual.

Intervensi untuk gangguan pedhofilia dirasa cukup penting dikarenakan banyak kasus yang
terjadi yang akhirnya membuat trauma para korban dari pedhofilia ini. Hal yang
dikhawatirkan adalah efek yang dialami oleh para korban yang kemungkinan akan
membentuk perilaku yang sama dikemudian hari. Intervensi untuk pedhofilia ini sangat
berguna untuk mengurangi jumlah pelaku kejahatan seksual pada anak serta melindungi
sebagai tindakan preventif untuk melindungi anak anak dari pelaku pedhofilia itu sendiri.

Dalam melakukan intervensi, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu etiologi dari
gangguan phedhofilia yang ada guna lebih tepat dalam pemilihan model intervensi. Ketika
kita mengetahu etiologi dari gangguan pedhofila maka kita akan dapat dengan mudah
menentukan intervensi yang tepat. Pada pembahasan ini akan dijelaskan beberapa intervensi
yang dapat diusulkan untuk digunakan dalam penganganan pelaku kekerasan seksual. Bentuk
intervensi berdasarkan pada Camillery (2008) yang dapat disarankan untuk pelaku pada kasus
JIS antara lain dengan:

1. Terapi kognitif behavioral dan relapse prevention.

Terapi kognitif behavioral adalah terapi yang mengajarkan tentang cara untuk mengenal
suatu keadaan sebagaimana keadaan yang sesungguhnya dengan mengubah cara berpikir
sehingga bisa melihat sesuatu secara lebih seimbang dan terhindar dari dampak negatif dari
pemikiran negatif (Tirtojiwo, 2012). CBT menganggap bahwa pola pemikiran terbentuk
melalui stimulus-kognisi-respon yang saling berkaitan membentuk semacam jaringan dalam
otak. Proses kognitif merupakan faktor penentu bagi pikiran, perasaan, dan perilaku. Semua
kejadian yang dialami berlaku sebagai stimulus yang dapat dipersepsikan secara positif
ataupun negatif (Sudiyanto, dalam Ambarwati, 2009).

Terapi kognitif didasarkan pada pemahaman yang salah dari pelaku mengenai perilaku
seksual yang biasa pelaku lakukan kepada anak anak (Camillery, 2008). Fokus dari CBT
adalah memperbaiki perilaku kini dan saat ini. CBT membantu seseorang untuk melihat

20
bagaimana seseorang menginterpretasikan dan mengevaluasi apa yang terjadi di sekitarnya
dan dampak dari persepsi pada pengalaman emosional seseorang (Rector, 2010). Dalam
terapi CBT ini seseorang diarahkan oleh terapis untuk merubah kepercayaan (belive) yang
kurang adaptif menjadi lebih adaptif. CBT biasanya dilakukan dengan menggabungkan
intervensi perilaku dan terapi kognitif. Porsi behavioral berfokus pada pengubahan preferensi
seksual sedangkan porsi kognitif berfokus pada distorsi kognitif, atitude, kesalahan berfikir
yang menebabkan perilaku yang mana kebanyakan dipengaruhi oleh social learning. Standart
dari CBT dalam mengubah perilaku diantaranya (Camillery, 2008):

1. Mengajarkan kepada pelaku tentang bagaimana kognisi mempengaruhi perilaku


agresi seksual pada individu,

2. Menginformasikan kepada pelaku tentang seberapa merusaknya perilaku pelaku pada


para korban.

3. Melatih para pelaku tentang bagaimana mengidentifikasi distorsi kognitf yang mereka
alami.

4. Menggunakan berbagai peralatan pedagogi guna membantu memberi pengertian pada


para pelaku sehingga mereka dapat bekerja.

2. Conditioning

Camillery (2008) menjelaskan bahwa pada dasarnya, treatment conditioning ini didasarkan
pada teori behavioral yang mana memandang perilaku pedhofial merupakan hasil dari respon
adaptif dari stimuls yang tidak menyenangkan yang kemudian membentuk perilaku
pedhofilia itu sendiri. Prinsip conditioning pada treatment ini didasarkan pada pencocokan
antara stimulus aversif dengan stimulus perilaku pedofilia pada pelaku. Variasi dalam metode
ini dapat berupa classical aversive conditioning, classical discriminative conditioning, covert
sensitization, satiation, dan signaled punishment.

Pada classical aversive conditioning, sebuah unconditioning stimulus seperti shock atau
sengatan listrik harus didahului oleh conditioning stimulus guna mengurangi keinginan dari
stimulus deviant. Pada treatment ini pelaku akan diberikan stimulus berupa gambar atau
video yang berisikan anak anak dan kemudian ketika pelaku mengalami ejakulasi maka akan
diberika sebuah shock sebagai stimulus aversive. kegiatan ini diulang ulang hingga pelaku
akan beranggapan bahwa ketika pelaku merasa terangsang secara seksual ketika melihat anak
anak maka pelaku akan mendapatkan stimulus yang tidak menyenangkan, hingga kemudian

21
pelaku akan menggeneralisasikan bahwa anak anak itu merupakan hal yang tidak
menyenangkan. Conditioning tipe ini cukup memberikan rasa takut pada pelaku pedhofilia,
namun hal yang negatif yang mungkin timbul adalah pelaku akan mengalami phobia.

Covert sensitization merupakan metode yang mana meminta para pedhofilia membayangkan
seorang anak namun disertai dengan membayangkan hal yang menjijikkan kemudian merasa
bebas ketika keluar dari situasi yang dibayangkan. Dalam treatment memiliki kekurangan
yaitu ketika pelaku pedhofilia tidak memiliki komitmen dalam melakukan treatmen maka
kemungkinan besar treatment ini tidak akan berhasil, dikarenakan selama treatment terapis
tidak dapat mengetahui secara pasti apakah pelaku telah melakukan apa yang diperintahkan
oleh terapis sehingga terkadang treatment ini kurang memiliki efek pada pelaku yang belum
memiliki keinginan untuk merubah dirinya menjadi seseorang yang terbebas dari pedhofilia.

Satiasi dapat dilakukan berupa verbal maupun mastubatori, individu diminta untuk
melakukan masturbasi hingga ejakulasi sambil membayangkan perilaku seksual yang tepat,
kemudian setelah ejakulakulasi individu diminta untuk ejakulasi lagi dengan membayangkan
perilaku seksual yang kurang tepat. Ejakulasi kedua yang dipaksakan akan menjadi stimulus
yang tidak menyenangkan bagi pelaku. Pada treatment conditioning tipe ini pada prinsipnya
pelaku akan secara tidak sadar melakukan perbandingan. Pada ejakulasi pertama yang
dilakukan, terapis akan meminta pelaku untuk membayangkan perilaku seksual yang normal.
Kemudian setelah itu, pelaku diminta ereksi dan diminta untuk membayangkan perilaku
seksual yang biasa dial lakukan yang menyimpang. Dari proses ini pelaku dibawa untuk
memahami bahwa perilaku seksual yang normal memiliki efek yang lebih menyenangkan
daripada perilaku seksual yang menyimpang.

Signaled punishment biasanya menggunakan lampu indikator dalam pproses treatment, ketika
individu dihadirkan stimulus deviant dan individu tersebut mengalami pembengkakan penile
maka lampu indikator merah akan menyala dan pemberian kejutan listrik dilakukan dan
sebaliknya. Pada jenis conditioning ini memakai prinsip yang hampir sama dengan prinsip
classical conditioning.

3. General psikoterapi.

Psikoterapi yang berlandaskan dasar dari teori humanistik maupun psikodinamik. Pada terai
jenis ini, pelaku diajak untuk mengekplorasi pengalaman seksual yang pernah terjadi pada
pelaku. Kemudian pelaku akan diberikan pemahaman pemahaman yang benar atas apa yang

22
telah terjadi pada pelaku. Terapi ini merupakan terapi yang harus didampingi dengan terapi
terapi lain guna memberikan perubahan yang lebih signifikan dalam merubah perilaku
pelaku.

4. Terapi kelompok

Terapi kelompok ini biasanya dilakukan pada tahap akhir terapi untuk pelaku pedhofilia.
Terapi ini dilakukan untuk mengeksplorasi permasalahan yang pelaku miliki kemudian
didiskusikan bersama kelompok supaya memperoleh penyelesaian terbaik menurut
kelompok. Pada terapi ini pelaku akan dikumpulkan secara berkelompok dan duduk secara
melingkar. Dalam satu kelompok akan dicampur antara orang dengan pedhofilia dan orang
normal, hal ini bertujuan untuk membawa pemahaman pelaku pedhofilia kepada pemahaman
yang benar dengan membandingkan pemahaman yang mereka miliki dengan pemahaman
yang orang normal pada umumnya miliki.

5. Multisistemik terapi.

Terapi ini dilakukan dengan community bassed treatment. Intervensi ini melibatkan keluarga,
teman sebaya, tetangga, dan orang disekitar pelaku. Pada treatment ini sangat dibutuhkan
bantuan serta dari keluarga dan orang di sekitar pelaku. Sebelum pelaku dikembalikan kepada
keluarga dan masyarakat, para terapis akan terlebih dulu mendatangi keluarga pelaku dan
tetangga maupun masyarakat di sekitar pelaku untuk memberikan pemahaman mengenai
pedhofilia dan memberikan mereka pelatihan guna meminimalisir kemungkinan pelaku akan
kembali menjadi pedhofilia. Setelah semua itu dilakukan, maka pelaku pedhofilia akan
dikembalikan ke keluarganya.

6. Terapi medik.

Pemberian terapi ini bertujuan untuk mengatur aktivitas otak dan regulasi hormonal untuk
menekan perilaku seksual pada pelaku pedofilia. Salah satu metodenya menggunakan
selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) untuk memblok reuptake of serotonin, sebuah
neurotransmiter yang memiliki fungsi mengatur fungsi seksual pada individu. Terapi ini
terkadang merupakan jalan terakhir yang bisa dilakukan guna menghilangkan perilaku
phedhofilia itu sendiri. Terapi ini sudah diterapkan di beberapa negara dan cukup efektif
untuk mengurangi jumlah angka kejahatan seksual pada anak. Namun di Indonesia, terapi ini
masih menuai pro dan kontra dikarenakan memiliki efek yang permanen pada pelaku. Pelaku
tidak akan memliki hasrat secara seksual.

23
3.4 Diagnosa dengan PPDGJ

Aksis I : F.65.4 Gangguan preferensi seksual pedofilia


F.66.x1 Gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan
perkembangan dan orientasi sesksual homoseksualitas
Aksis II : Z03.2 Tidak ada diagnosis
Aksis III : Tidak ada diagnosis (none)
Aksis IV : Korban kekerasan seksual masa kanak kanak, kehidupan rumah
tangga tidak harmonis
Aksis V : GAF Scale 50 41 gejala berat, disabilitas berat.

24
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah
mulai dewasa. Pelaku Pedofilia ini memiliki kecenderungan menyukai berhubungan dengan
anak-anak dibawah umur untuk memenuhi hasrat mereka. Pedofilia adalah parafilia di mana
seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi
tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau
yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal. Meskipun gangguan ini
(pedofilia) sebagian besar didokumentasikan pada pria, ada juga wanita yang menunjukkan
gangguan tersebut,dan peneliti berasumsi perkiraan yang ada lebih rendah dari jumlah
sebenarnya pada pedofil perempuan.Tidak ada obat untuk pedofilia yang telah
dikembangkan.

Setiap peristiwa yang terjadi dan melibatkan individu selalu ada motivasi, tujuan dan
penyebab. Pada kasus JIS ini setelah dianalisis secara psikologi, terdapat kecenderungan
terhadap penyimpangan perilaku. Hal ini bisa disebabkan berbagai faktor, baik dari segi
psikis pelaku maupun dari lingkungan luar. Pelecehan seksual pada anak TK Jakarta
International School ini adalah murni tindakan penyimpangan perilaku secara psikologis. Hal
ini dapat dikaji dari teori-teori yang telah dijabarkan pada pembahasan diatas.

4.2 Saran

Menurut penulis, untuk kasus pedofilia ini harus dicegah sedini mungkin. Walaupun memang
tidak bisa untuk dihilangkan dan belum ada obat untuk penyembuhan para pelaku pedofilia.
Tetapi kita sebagai generasi yang sadar akan hal tersebut dan tidak ingin nasib para penerus
bangsa ini semakin rusak, yang harus kita lakukan adalah dengan menekan tindakan yang
semakin membuat gelisah para orang tua bahkan untuk anak-anak kita nanti. Dengan cara
memberikan hukuman pidana kepada para pelaku dan memberikan sanksi sosial agar mereka

25
merasakan malu dan tidak akan mengulanginya. Selain memberikan hukuman kita juga harus
memberikan terapi untuk para pelaku dan para korban.

DAFTAR PUSTAKA

Berlin, Fred. S., Krout, Edgar. (1994). Pedophilia: Diagnostic Concepts Treatment, And
Ethical Considerations. diakses pada tanggal 3 Oktober 2016 darihttp://www.bishop-
accountability.org/reports/1994-11-RestoringTrust/rt94-03-berlin.pdf

DSM-IV-TR (2000). American Psychiatric Association

Davison, GC., Neale, JM., Kring, A (2006). Psikologi Abnormal (edisi ke 9). Jakarta: PT
Radja Grando Persada.

Halgin, Richard & Whitbourne, Susan Krauss. 2011. Psikologi Abnormal Perspektif
Klinis pada Gangguan Psikologis. Buku 2, Edisi Keenam. Penerjamah

Aliya Tusyani, dkk. Jakarta : Salemba Humanika.

Knight, Robert H.; York, Frank V. Homosexual Behavior & Pedophilia

Maslim,Rusdi. Buku saku Diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:
Bagian ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2001

Mulyadi, Seto. (2006). Saatnya untuk Menghentikan Tindak kekerasan pada Anak.
www.detik.com. Diakses 3 Oktober 2016.

Nevid,J.S., Rathus,L.F., Rathus,S.A.(1995). Human Sexuality in a Word of Diversity


(2nd ed). Boston: Ally and Bacon

Poerwandari,K. (2001). Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian perilaku Manusia. Jakarta,


LPSP3. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

V, Frank., Knight, Robert. H. (1999). Homosexual Behavior & Pedophilia. diakses pada
tanggal 3 Oktober 2016 dari http://us2000.org/cfmc/Pedophilia.pdf

26
27