Anda di halaman 1dari 11

Istilah CARA atau Chronic Aspecific Respiratory Affections

mencangkup semua penyakit saluran napas yang bercirikan penyumbatan


(obstruksi) bronchi disertai pengembangan mukosa dan sekreesi dahak
berlebihan. Penyakit-penyakit tersebut meliputi berbagai bentuk penyakit
beserta peralihannya, yakni asma,bronchitis kronis dan enfisema paru atau
PPOK.
PPOK menempati urutan ketiga dari kematian penduduk di negri
Belanda (setelah Penyakit Jantung dan Pembuluh (PJP) dan kanker). Juga
secara global mortalitas akibat gangguan ini meningkat, sedangkan
kematian karena penyakit kardiovaskuler menurun. Menurunkan angka
kematian dari COPD/PPOK merupakan salah satu tujuan dari Global
initiative for chronic obstructive lung disease (GOLD) suau organisasi
dari WHO dan US National heart, Lung and Blood Institute. Menurut
hasil Riset kesehatan dasar pada tahun 2013 penyakit PPOK mencapai
angka 3,5% di provinsi Bali.
Pemerintah telah melakukan kegiatan penyuluhan KIE, kemitraan,
perlindungan khusus, penemuan dan tatalaksana kampus (termasuk deteksi
dini PPOK), surveilans epidemiologi ( kasus termasuk kematian dan faktor
resiko), upaya peningakatan peran serta masyarakat dalam penceahan
PPOK melalui kajian aspek sosial budaya dan perilaku masyarakat,
pemantuan dan penilaian (Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor : 1022/Menkes/SK/IX/2008)
Berkaitan dengan farmakoterapi bagi cara pemilihan terapi yang
baik salah satunya adalah tatalaksana terapi sesuai alogaritma terapi
dengan meminimalkan efek samping. Sehingga untuk mengetahui
pemilihan tatalaksana terapi yang sesuai diperlukan pemahaman lebih
lanjut mengenai penyakit PPOK ini baik itu meliputi etiologi,
patofisiologi, klasifikasi, gejala dan tanda serta alogaritma terapinya.

I. TUJUAN
A. Tujuan instruksional umum ( TIU )
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, selama 35 menit
diharapkan Tn. X dan keluarganya dapat mengetahui dan memahami
tentang apa itu PPOK
B. Tujuan instruksional khusus ( TIK )
Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang PPOK, selama 35
menit diharapkan Tn. X dan keluarganya mampu menjelaskan :
a. Definisi dari PPOK
b. Etiologi PPOK
c. Tanda dan gejala PPOK
d. Penatalaksanaan PPOK

II. MATERI PENYULUHAN


Materi pendidikan kesehatan yang dijelaskan yaitu :
a. Definisi dari PPOK
b. Etiologi PPOK
c. Tanda dan gejala PPOK
d. Penatalaksanaan PPOK

III. KEGIATAN

No. Tahap waktu Kegiatan penyuluh Kegiatan peserta


1 Pembukaan 5 menit a. Memberikan salam a. Menjawab salam
b. Perkenalan b. Mendengarkan
c. Menjelaskan tujuan dan
dari pertemuan memperhatikan
d. Kontrak waktu
e. Apersepsi
2 Penyampaian 15 a. Menjelaskan materi: a. Mendengarkan dan
materi menit - Definisi dari PPOK memperhatikan
- Etiologi PPOK penjelasan
- Tanda dan gejala
PPOK
- Penatalaksanaan
PPOK

3 Sesi tanya 10 a. Memberikan a. Mengemukakan


jawab menit kesempatan kepada pertanyaan
peserta untuk
bertanya
4 Penutup 5 menit a. Mengucapkan terima a. Menjawab salam
kasih kepada peserta penyuluh
b. Memberikan salam
penutup

IV. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi
V. MEDIA
1. Lefleat
2. Sound System
VI. ALAT DAN BAHAN
1. Tissue
2. Kantong Plastik
3. Air hangat kukuh

VII. SUMBER:

Hanania & Sharafkhaneh. 2011. COPD: A Guide ti Diagnsis and Clinical


Management. New York: Springer.
Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Cetakan III.. Jakarta:
Medis Aesculapius.

VIII. PESERTA
Tn. X dan keluarga serta peserta-peserta yang menderita penyakit PPOK

IX. WAKTU
Hari : Jumat
Tanggal : 24 Maret 2017
Jam : 08.00 WITA
X. TEMPAT :
Penyuluhan dilakukan di ruang Durian RSUD Klungkung.
Setting Tempat :

A
Penyuluh Peserta
A

XI. RENCANA EVALUASI


A. Struktur :
1. Persiapan media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya
lengkap dan siap digunakan. Media yang digunakan adalah leaflet.
Kurun waktu dalam persiapan media 1 hari.
2. Persiapan materi
Materi yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya
lengkap dan siap diberikan kepada peserta. Materi yang digunakan
diambil dari kutipan-kutipan buku. Kurun waktu dalam
mempersiapkan materi yaitu 2 hari.
B. Proses penyuluhan :
1. Kegiatan penyuluhan yang akan diberikan diharapkan berjalan
lancar dan sasaran memahami tentang penyuluhan yang diberikan.
Sasaran diharapkan mampu mengerti dan memahami penyuluhan
dan 50% bisa menjawab
2. Dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan sasaran yang akan diharapkan penyuluhan
3. Diharapkan dalam proses penyuluhan terdapat 5 orang atau lebih
peserta.
4. Peserta diharapkan memperhatikan materi yang diberikan

C. Hasil penyuluhan :
1. Tn. X dan keluarganya dapat menjawab pertanyaan
2. Tn. X dan keluarganya serta peserta lainnya mengerti tentang
penyakit PPOK
3. Menjelaskan definisi PPOK.
4. Menyebutkan Etiologi PPOK.
5. Menyebutkan Tanda dan gejala PPOK.
6. Menyebutkan Penatalaksanaan PPOK.
Lampiran I
LAMPIRAN MATERI

1. Pengertian PPOK
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab utama dan
semakin bertambahnya angka kesakitan dan kematian. PPOK
dikaakteristikkan dengan progesif dan tidak dapat kembali secara penuh dari
limitasi aliran udara, yang dapat diukur dengan forced expiratory volume
dalam satu detik (FEV1). Hambatan pada aliran udara berhubungan dengan
proses infamatori kronis pada jalan napas dan perenkim paru yang berespon
pada adanya gas atau partikel yang berbahaya, cotohnya asap rokok (Hanania
& Sharafkhaneh, 2011).

2. Etiologi PPOK
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit Paru Obstruksi Kronik menurut
Arief Mansjoer (2002) adalah :

1. Kebiasaan merokok
2. Polusi Udara
3. Paparan Debu, asap
4. Gas-gas kimiawi akibat kerja
5. Riwayat infeki saluran nafas
6. Bersifat genetik yakni definisi a-l anti tripsin
Sedangkan penyebab lain Penyakit Paru Obstruksi Kronik yaitu:
adanya kebiasaan merokok berat dan terkena polusi udara dari bahan
kimiawi akibat pekerjaan. Mungkin infeksi juga berkaitan dengan virus
hemophilus influenza dan strepto coccus pneumonia.

Faktor penyebab dan faktor resiko yang paling utama bagi


penderita PPOK atau kondisi yang secara bersama membangkitkan
penderita penyakit PPOK, yaitu :

1. Usia semakin bertambah faktor resiko semakin tinggi.


2. Jenis kelamin pria lebih beresiko dibanding wanita
3. Merokok
4. Berkurangnya fungsi paru-paru, bahkan pada saat gejala penyakit
tidak dirasakan.
5. Keterbukaan terhadap berbagai polusi, seperti asap rokok dan
debu
6. Polusi udara
7. Infeksi sistem pernafasan akut, seperti peunomia dan bronkitus
8. Asma episodik, orang dengan kondisi ini beresiko mendapat
penyakit paru obstuksi kronik.
Kurangnya alfa anti tripsin. Ini merupakan kekurangan suatu enzim yang
normalnya melindungi paru-paru dari kerusakan peradangan orang yang
kekurangan enzim ini dapat terkena empisema pada usia yang relatif muda,
walau pun tidak merokok.

3. Tanda dan Gejala PPOK


Tanda dan gejala akan mengarah pada dua tipe pokok:
a) Mempunyai gambaran klinik dominant kearah bronchitis kronis (blue
bloater).
b) Mempunyai gambaran klinik kearah emfisema (pink puffers).
Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut:
a) Kelemahan badan
b) Batuk
c) Sesak napas
d) Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
e) Mengi atau wheeze
f) Ekspirasi yang memanjang
g) Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut.
h) Penggunaan otot bantu pernapasan
i) Suara napas melemah
j) Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
k) Edema kaki, asites dan jari tabuh.
4. Penatalaksanaan PPOK
Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
a) Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan
merokok, menghindari polusi udara.
b) Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
c) Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi
antimikroba tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat
sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas
atau pengobatan empirik.
d) Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih
controversial.
e) Pengobatan simtomatik.
f) Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
g) Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan
dengan aliran lambat 1 2 liter/menit.
h) Tindakan rehabilitasi yang meliputi:
1) Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret
bronkus.
2) Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan
pernapasan yang paling efektif.
3) Latihan dengan beban oalh raga tertentu, dengan tujuan untuk
memulihkan kesegaran jasmani.
4) Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita
dapat kembali mengerjakan pekerjaan semula.
5) Pengelolaan psikosial, terutama ditujukan untuk penyesuaian diri
penderita dengan penyakit yang dideritanya.
Lampiran 2
EVALUASI

A. Pertanyaan
1. Apa pengertian PPOK?
2. Apa Etiologi PPOK?
3. Bagaimana tanda dan gejala PPOK ?
4. Bagaimana pelaksanaan PPOK?
B. Kunci Jawaban
1. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab utama dan
semakin bertambahnya angka kesakitan dan kematian. PPOK
dikaakteristikkan dengan progesif dan tidak dapat kembali secara penuh
dari limitasi aliran udara, yang dapat diukur dengan forced expiratory
volume dalam satu detik (FEV1). Hambatan pada aliran udara berhubungan
dengan proses infamatori kronis pada jalan napas dan perenkim paru yang
berespon pada adanya gas atau partikel yang berbahaya, cotohnya asap
rokok (Hanania & Sharafkhaneh, 2011).

2. Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit Paru Obstruksi Kronik menurut


Arief Mansjoer (2002) adalah :

a. Kebiasaan merokok
b. Polusi Udara
c. Paparan Debu, asap
d. Gas-gas kimiawi akibat kerja
e. Riwayat infeki saluran nafas
f. Bersifat genetik yakni definisi a-l anti tripsin
Sedangkan penyebab lain Penyakit Paru Obstruksi Kronik yaitu:
adanya kebiasaan merokok berat dan terkena polusi udara dari bahan
kimiawi akibat pekerjaan. Mungkin infeksi juga berkaitan dengan virus
hemophilus influenza dan strepto coccus pneumonia.
Faktor penyebab dan faktor resiko yang paling utama bagi
penderita PPOK atau kondisi yang secara bersama membangkitkan
penderita penyakit PPOK, yaitu :

a. Usia semakin bertambah faktor resiko semakin tinggi.


b. Jenis kelamin pria lebih beresiko dibanding wanita
c. Merokok
d. Berkurangnya fungsi paru-paru, bahkan pada saat gejala penyakit
tidak dirasakan.
e. Keterbukaan terhadap berbagai polusi, seperti asap rokok dan
debu
f. Polusi udara
g. Infeksi sistem pernafasan akut, seperti peunomia dan bronkitus
h. Asma episodik, orang dengan kondisi ini beresiko mendapat
penyakit paru obstuksi kronik.

3. Tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut:


a) Kelemahan badan
b) Batuk
c) Sesak napas
d) Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
e) Mengi atau wheeze
f) Ekspirasi yang memanjang
g) Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut.
h) Penggunaan otot bantu pernapasan
i) Suara napas melemah
j) Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
k) Edema kaki, asites dan jari tabuh.

4. Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:


a) Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan
merokok, menghindari polusi udara.
b) Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
c) Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi
antimikroba tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat
sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas
atau pengobatan empirik.
d) Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih
controversial.
e) Pengobatan simtomatik.
f) Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
g) Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan
dengan aliran lambat 1 2 liter/menit.
h) Tindakan rehabilitasi yang meliputi:
1) Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret
bronkus.
2) Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan
pernapasan yang paling efektif.
3) Latihan dengan beban oalh raga tertentu, dengan tujuan untuk
memulihkan kesegaran jasmani.
4) Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap
penderita dapat kembali mengerjakan pekerjaan semula.
5) Pengelolaan psikosial, terutama ditujukan untuk penyesuaian diri
penderita dengan penyakit yang dideritanya.