Anda di halaman 1dari 5

Kelainan Sel Darah

Kelainan Sel Darah Merah


Berdasarkan Ukuran
1. Mikrosit
Sel eritrosit berukuran kurang dari 6 m, hal ini terjadi karena menurunnya sintesa
hemogobin yang disebabkan oleh defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan
mitokondria. Sel dengan ukuran ini diantaranya ditemukan pada penderita anemia
hemolitik, anemia megaloblastik, dan anemia defisiensi Fe.
2. Makrosit
Pada kelainan ini, eritrosit berukuran lebih besar dari normal, yaitu sekitar 9 m 12 m.
Eritrosit dengan kondisi ini dijumpai pada eritrosit yang mengalami gangguan pada
pematangan inti. Biasa ditemukan pada penderita anemia hemolitik, anemia megaloblastik,
penyakit hati, dan pasca perdarahan.
3. Anisositosis
Pada kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan yang spesifik, keadaan ini ditandai
dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apusan. Sel
ini didapatkan pada anemia mikrositik yang ada bersamaan anemia makrositik seperti pada
anemia gizi.

Berdasarkan Bentuk
1. Ovalosit
Eritrosit yang berbentuk lonjong. Ovalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien
menderita kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit misalnya
ovalositosis herediter.
2. Sferosit
Sel yang berbentuk bulat atau mendekati bulat dan tidak pucat di tengah. Sferosit
merupakan sel yang telah kehilangan sitosol yang setara. Karena kelainan dari
sitoskelekton dan membran eritrosit.
3. Skistosit
Merupakan fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tidak teratur, berwarna lebih
tua. Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada transplantasi
ginjal.
4. Dakrosit
Berbentuk seperti buah pir. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau diseritropoesis
berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik, anemia megaloblastik, thalasemia mayor,
myelofibrosi idiopati karena metastatis karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum
tulang lainnya.
5. Keratosit
Eritrosit yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah, bila
pecah sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. Terjadi pada anemia hemolitik
mikroangiopati.
6. Drepanosit
Eritrosit yang berbentuk sabit. Terjadi pada reaksi transfusi, sferositosis congenital, sickle
cell anemia, dan anemia hemolitik.
7. Akanatosit dan Ekinosit
Eritrosit mempunyai tonjolan satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku. Terdapat
duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan menyebabkan sensitif
terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. Terjadi pada sirosis hati yang disertai
anemia hemolitik, hemangioma hati, dan hepatitis pada neonatal.
8. Stomatosit
Eritrosit bentuk central pallor seperti mulut. Tarjadi pada alkoholisme akut, sirosis
alkoholik, defisiensi glutsthione, sferosis herediter, nukleosis infeksiosa, dan thallasemia.
9. Kodosit
Eritrosit yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko, disebut juga sebagai
Target Cell. Terjadi pada hemogfobinopati, anemia hemolitika, dan penyakit hati.

Berdasarkan Warna
1. Hipokromik
Penurunan warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal
sehingga tampak lebih pucat. Lingkaran tepi eritrositpun terlihat sangat tipis. Terjadi pada
anemia defisiensi besi, anemia sideroblastik, thallasemia, dan pada infeksi menahun.
2. Hiperkromik
Warna tampak lebih tua biasanya, dapat disebabkan oleh penebalan membrane sel dan
bukan karena naiknya Hb (oversaturation).
3. Polikromik
Keadaan dimana terdapat bebrapa warna di dalam sebuah sediaan apus. Dapat ditemukan
pada keadaan eritropoesis yang aktif misalnya anemia pasca perdarahan dan anemia
hemolitik. Juga dapat ditemukan pada gangguan eritropoesis seperti mielosklerosis dan
hemopoesis ekstrameduler.

Berdasarkan Benda Intraseluler


1. Basophilic Stippling
Pada eritrosit terdapat bintik-bintik granula yang halus atau kasar, berwarna biru, multiple
dan difus. Ditemukan pada keracunan timah, anemia megaloblastik, Myelodisplastik
syndrome, dan thalasemia minor.
2. Heinz Bodies
Hasil denaturasi hemoglobin yang berubah sifat. Tidak jelas terlihat dengan pewarnaan
Wrights, tetapi dengan pengecatan kristal violet seperti benda-benda kecil tidak teratur
berwarna dalam eritrosit. Ditemukan pada defisiensi G-6-PD, anemia hemolitik karena
obat, pasca splenektomi, talasemia, dan penyakit Hb Kohn Hamme.
3. Howell-Jolly Bodies
Merupakan sisa pecahan inti eritrosit, diameter pecahan rata-rata 1 mikron, berwarna ungu
kehitaman, biasanya tunggal. Ditemukan pada Pasca splenektomi, anemia hemolitik,
anemia megaloblastik, kelainan metabolisme hemoglobin, steatorrhoe,
osteomyelodisplasia, dn talasemia.
4. Pappenheimer Bodies
Eritrosit dengan granula kasar, dengan diameter 2 mikron yang mengandung Fe, feritin,
berwarna biru oleh karena memberikan reaksi Prusian blue positif. Eritrosit yang
mengandung benda inklusi disebut siderosit dan bila ditemukan > 10% dalam sediaan
hapus, petanda adanya gangguan sintesa hemoglobin. Ditemukan pada anemia
Sideroblastik, pasca splenektomi, dan beberapa anemia hemolitik.
5. Nucleated Red Blood Cell
Eritrosit muda bentuk metarubrisit. Adanya inti darah tepi disebut normoblastemia.
Ditemukan pada perdarahan mendadak dengan sumsum tulang meningkat, penyakit
hemolitik pada anak, kelemahan jantung kongestif, dan anemia megaloblastik.
6. Polikromatofilik
Eritrosit muda yang mengambil zat warna asam dan basa karena RNA, ribosom dan
hemoglobin.

Kelainan Sel Darah Putih


1. Toxic Granulation
Granul beracun ini ditemukan pada leukosit penderita inflamasi yang berat, disebabkan
oleh pematangan sitoplasma yang lemah.
2. Hypersegmentation
Hypersegmentation adalah keadaan dimana terdapatnya ketidaknormalan lobus-lobus inti
dari leukosit. Hal ini disebabkan oleh terganggunya pematangan sel karena defisiensi Fe.
3. Dohle Bodies
Kelainan ini ditandai dengan terdapatnya sisa-sisa dari Retikulum Endoplasma dari proses
pematangan.
4. Chediak-Higashi Syndrome
Sindrom Chediak-Higashi merupakan kelainan yang diturunkan secara resesif. Terdapat
leukosit yang sangat besar yang berasal dari penggabugan lisozim.

Kelainan Trombosit
1. Giant Platelets
Keadaan ini adalah dimana ukuran trombosit lebih besar dari ukuran eritrosit. Ditemukan
pada kelainan Myelodysplastic dan kelainan Myeloproliferative.
2. Wiskott-Aldrich Syndrome
Sindrom di mana ukuran trombosit jauh lebih kecil daripada normal. Terdapat pada
penderita Wiskott-Aldrich Syndrome.
3. Platelets Satellitism
Kelainan ini ditandai dengan terkumpulnya trombosit di sekitar neutrofil.
4. Platelets Clumping
Keadaan dimana trombosit terkumpul di suatu titik dengan tidak normal.
Referensi:

Stellenbosch University. Platelets Morphological Abnormalities. Retrieved from


http://www.sun.ac.za/english/faculty/healthsciences/haematological_pathology/Pages/Platel
et-morphology.aspx

Subowo. 2002. Histologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara.

University of Virginia Faculty of Medicine. Benign White Cells Disorders: Qualitative Disorders.
Retrieved from https://www.med-ed.virginia.edu/courses/path/innes/wcd/qualitative.cfm