Anda di halaman 1dari 30

TUGAS Penyakit Tropik

Askep Demam Typoid pada Dewasa dan Anak


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK IV

Ayu P Palimbunga 13011104154


Tirsa Y Kaloa 13011104112
Inartry Mangiwa 13011104151
Septi Turu Alo 13011104097
Iloh Devi Yanni 13011104152
Siti Baroka 13011104133
Gabriela C Donna 13011104120
Noni Hilda Bawuna 13011104122
Lilyanti Sangian 13011104064
Jihad Randika Basra 13011104076
Jafson Maatimu 13011104096

UNIVERSITAS SAMRATULANGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
MANADO 2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah Asuhan Keperawatan pada klien Demam thypoid ini bisa
selesai dengan baik.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari bahwa kami tidak luput dari
kekurangan, baik dari teknis penulisan makalah maupun dalam penyajian materi. Untuk itu,
kami sangat mengharapkan kritik, masukan, bahkan saran untuk makalah ini, sehingga bisa
lebih tersusun dengan baik.
Kiranya penulisan makalah ini dapat bermanfaat untuk menjadi sumbangan pemikiran
bagi para pembaca, terutama dalam mengembangkan wawasan dan pengetahuan kita sekalian
sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat.
.

Manado, Maret 2015


Penulis,
Kelompok 3
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Bab II Tinjauan Teori Demam Thypoid
A. Definisi
B. Etiologi
C. Tanda dan Gejala
D. Patofisiologi
E. Komplikasi
F. Penatalaksanaan

Bab III Askep


Pengkajian
Diagnosa Keperawatan .
Rencana Keperawatan ..
Bab IV Tinjuan Teori Demam Thypoid pada Anak
A. Definisi ...
B. Etiologi ..
C. Patofisiologi ..
D. Tanda dan Gejala ..
E. Penatalaksanaan ..
F. Pencegahan ..
Bab V Askep Demam Thypoid pada Anak
Pengkajian Keperawatan ..
Diagnosa Keperawatan ..
Rencana Keperawatan ..
Bab VI Penutup

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lingkungan yang bersih adalah lingkungan yanhg sehat. Apabila lingkungan
sehat maka bakteri dan virus akan lebih sedikit berkembang biak disana. Begitupun
dengan bakterisalmonella typhi penyebab demam tifod akan lebih banyak terdapat
pada lingkungan yang kotor dan tingkat perilaku hidup bersih sehat sangat kurang
sehingga kuman tersebut akan banyak terdapat disana. Kurangnya menjaga
kebersihan lingkungan dan rendahnya kesadaran mastarakat dalam berperilaku hidup
bersih sehat akan menjadi bimerang bagi masyarakat itu sendiri, khususnya
lingkungan mereka akan lebih rentan terkena penyakit.
Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella Thypi.Kuman Salmonella Typi masuk tubuh manusia melalui
mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Penularan salmonella thypi dapat
ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu
food (makanan), fingers (jari tangan/kuku), fomitus (muntah), fly (lalat), dan melalui
feses. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti
mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh
orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk kedalam lambung, sebagian
kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus
bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini
kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel
retikuloendotelial.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaiman konsep dasar penyakit typhoid?
2. Bagaimana pendekatan proses keperawatan penyakit typhoid?
C. Tujuan
Tujuan Umum :
Makalah ini bertujuan untuk pemenuhan tugas system Pencernaan yang berjudul
Asuhan Keperawatan Penyakit Typhoid
Tujuan Khusus :
1. Mengetahui konsep dasar penyakit typhoid
2. Mengetahui pengkajian keperawatan penyakit typhoid
3. Mengetahui diagnosa keperawatan penyakit typhoid
4. Mengetahui perencanaan keperawatan penyakit typhoid
BAB II
Tinjauan Teori

KONSEP MEDIS

A. Definisi
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
salmonella thypi. OrganismE ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah
terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
(Bruner and Sudart, 1994)
Typhoid adalah penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C.Thyphoid disebut juga paratyphoid
fever, enteric fever, typhus dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer and
Soeparman, 1996)
Typhoid abdominalis (demam typoid, enteric fever) adalah penyakit infeksi
akut yang biasanya terjadi pada saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari
satu minggu, gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.
Typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang
disebabkan oleh salmonella typhosa.
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus halus yang menimbulkan gejala-
gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A,B,C.
Penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut, typhoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disbkan oleh salmonella type A,B, dan
C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang
terkontaminasi.
B. Etiologi
Etiology typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A.B dan C..
ada dua sumber penularan salmonella typhi dan pasien dengan carier. Carier adalah
orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi
dalam tinja dan air kemih selama dari 1 tahun.
C. Patofisiologi
penularan salmonella typhi dapat ditulsrkan melalui berbagai cara, yang
dikenal dengan 5F yaitu : Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui feses.
Feses dan muntah ppada penderita typhoid dapat menularkan kuman
salmonella typhi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui
perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh
orang yang sehat.
Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti
mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella typhi masuk ke tubuh
orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk dalam lambung, sebagian
kuman akan dimusnakan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus
bagian distal dan mencapai bagian limpoid.
Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak,lalu masuk ke aliran
darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikulendotelial ini kemudian
melepaskan kuman kea lam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman
selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental bahwa endotoksemia
bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid.
Endotaksemia berperan pada saat pathogenesis typhoid, karena membantu
proses inflamasi local pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella typhi
dan endotoksinya merangsang sintesi dan pelepasan zat pirogen oleh leokosit pada
jaringan yang meradang.
D. Tanda dan Gejala
Umum pada dewasa
Masa tunas typhoid 10-14 hari
a. Minggu I
Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari.
Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyerikepala, anorexia dan mual,
batuk, epitaksis, obstipasi/diare, perasaan tidak enak diperut.
b. Minggu II
Pada minggu ke II gejala sudah dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas
(putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, masteorismus, penurunan
kesadaran.

E. Komplikasi
Komplikasi intestinal :
Perdarahan usus
Perporasi usus
Ilius paralitik

Komplikasi extra intestinal :


Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (ranjatan sepsis), miokarditis,
thrombosis, tromboplebiyis.
Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobisitopenia, dan syndrome uremia
hemolitik.
Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesitis.
Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polyneuritis
perifer, sindroma guillain bare dan sindroma katonia.
F. Penatalaksanaan
a. Perawatan
Klien diidstirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk
mencegah komplikasi perdarahan usus.
Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya transfusi bial
ada komplikasi perdarahan.
b. Diet
Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.
Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7
hari.
c. Obat-obatan
Klorampenikol, tiampenikol, kotrimoxaol, amoxilin dan ampicilin.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Riwayat Kesehatan :
Keluhan utama
Biasanya klien datang dengan keluhan utama demam dalam beberapa hari
terakhir.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien dirawat di rumah sakit dengan keluhan sakit kepala, demam,
nyeri dan pusing, serta berat badan berkurang, mual muntah, anoreksia, sakit
di perut, diare dan nyeri otot
Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji adanya riwayat penyakit lain atau pernah mengalami penyakit seperti ini
sebelumnya
Riwayat penyakit keluarga
Kaji adanya keluarga yang menderita penyakit yang sama (penularan)

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum
Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, pucat, mual,
perut tidak enak, anorexia.
Kepala dan Leher
Biasanya pada pasien typhoid kepala tidak ada bernjolan, rambut normal,
kelopak mata normal, konjungtiva anemia, pucat/bibir kering, lidah kotor,
ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengaran normal leher simetris, tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid.
Dada dan Abdomen
Biasanya pada pasien typhoid dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur,
didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.
System Respirasi
Biasanya pada pasien typhoid pernafasan normal, tidak ada suara tambahan,
dan tidak terdapat cuping hidung .
System Kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang
meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami
peningkatan suhu tubuh.
System Integumen
Biasanya pada pasien typhoid kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat,
berkeringat banyak, akral hangat.
System eliminasi
Biasanya pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk
kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N -1 cc/kg
BB/jam.
System Muskuloskeletal
Biasanya pada pasien typhoid yang dikaji apakah ada gangguan pada
extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
System Endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar tyroid dan
tonsil.
System persarafan
Apakah kesadaran itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita
penyakit thypoid

Pemeriksaan Penunjang :

-Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah tepi : terdapat gambaran leucopenia, limpositosis, relative


dan eosinifelia pada awal penyakit, anemia, trombositopenia ringan dan
pemeriksaan SGOT serta SPGT : pada keadaan demam typhoid biasanya
meningkat dan akan kembali normal setelah sembuh.
Pemeriksaan sum-sum tulang : gambaran sum-sum tulang berupa hiperaktif
RES dengan adanya sel makrofag dan system eritropeosis, granulopeosis, dan
trombipeosis berkurang.
Biakan/kultur empedu :basil salmonella typhosa ditemukan pada darah
(minggu I), feses dan urin. Hasil (+) untuk menegakan diagnose, Hasil (-)
menentukan penderita sembuh dan tidak menjadi karier.
Pemeriksaan widal
-Dasar pemeriksaan ialah reaksi aglutinasi antara serum pasien (Antibody)
dengan suspense antigen salmonella typhosa. Hasil positif bila terjadi reaksi
aglutinasi.
-Cara dengan mengencerkan serum, maka kadar zat anti dapat ditentukan,
dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat menimbulkan reaksi
aglutinasi.
-Untuk mendiagnosa diperlukan titer zat anti terhadap antigen O yang bernilai
1/200/lebih atau menunjukan kenaikan yang proresif, sedangkan titer zat anti
terhadap H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna karena titer H akan
tetap tinggi setelah dilakukan imunisasi, mencapai puncaknya bersamaan
dengan penyembuhan pasien.
-Pemeriksaan widal tidak selalu positif sembuh karena keadaan sebagai
berikut : titer O dan H tinggi karena dapat agglutinin normal karena infeksi
basil coli pathogen pada usus. neonatus : zat anti diperoleh dari ibu lewat tali
pusar Terdapat infeksi silang dan rikettsia (well felix). Imunisasi alamiah
karena masuknya basil per oral pada keadaaan infeksi sub klinis.

Pengkajian pola Fungsional Gordon :

Pola Persepsi dan Penanganan Kesehatan


Biasanya pada pasien typhoid mengalami perubahan penatalaksanaan
kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya.
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Biasanya pada pasien typhoid adanya mual dan muntah, penurunan nafsu
makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat
mempengaruhi status nutrisi berubah.
Pola Aktifitas dan Latihan
Biasanya pada pasien typhoid akan terganggu aktifitasnya akibat adanya
kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat
penyakitnya.
Pola Tidur dan Aktifitas
Biasanya pada pasien typhoid kebiasaan tidur akan terganggu dikarenakan
suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
Pola Eliminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas
yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Pola Reproduksi dan Sexual
Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah
akan terjadi perubahan.
Pola Persepsi dan Pengetahuan / Kognitif
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi
pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
Pola Persepsi dan Konsep Diri
Terjadi perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah
penyakitnya.
Pola Penanggulangan Stress
Biasanya pada pasien typhoid stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif
dalam mengatasi masalah penyakitnya.
Pola Peran dan Hubungan
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal
dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama
sakit.
Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi
cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.
B. Diagnosa
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intoleransi makanan
2. Nyeri berhubungan dengan agen-agen penyebab cidera
3. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
4. Resiko ketidakseimbangan volume cairan : diare dan muntah
5. Resiko infeksi : pertahanan primer tidak adekuat
BAB IV

Tinjauan Teori

Demam Thypoid pada Anak

A. Definisi
Demam Thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan
dan gangguan kesadaran ( Nursalam dkk, 2005 : 152 ). Dan pada anak biasanya lebih ringan
dari pada orang dewasa, masa inkubasi 10 20 hari, yang tersingkat 4 hari jika inpeksi terjadi
melalui makanan ( Ngastiyah , 1995 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ). Demam
tifoid dan paratifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus.Nama lain dari demam tifoid
dan paratifoid adalah typhoid danparatyphoid fever, enteric fever, tifus, dan paratifus
abdominalis.

B. Etiologi

Etiologi dari penyakit ini antara lain:

1. Salmonella typhii
2. Paratyphii A, S. Paratyphii B, S. Paratyphii C.
3. S typhii atau paratyphii hanya ditemukan pada manusia
4. Demam bersumber dari makanan-makanan atau air yang terkontaminasi
5. Di USA, kebanyakan kasus demam bersumber baik dari wisatawan mancanegara atau
makanan yang kebanyakan diimpor dari luar.

Salmonella typii, Salmonella paratyphii A, Salmonella Paratyphii B, Salmonella Paratyphii


merupakan bakteri penyebab demam tifoid yang mampu menembus dinding usus dan
selanjutnya masuk ke dalam saluran peredaran darah dan menyusup ke dalam sel makrofag
manusia. Bakteri ini masuk melalui air dan makanan yang terkontaminasi dari urin dan feses
yang terinfeksi dengan masa inkubasi 3-25 hari. Pemulihan mulai terjadi pada minggu ke-4
dalam perjalanan penyakit. Orang yang pernah menderita demam tifoid akan memperoleh
kekebalan darinya, sekaligus sebagai karier bakteri. Jadi, orang yang pernah menderita
demam tifoid atau tifus akan menjadi orang yang menularkan tifus pada yang belum pernah
menderita tifus.

C. Patofisiologi

Bakteri Salmonella typhi bersama makanan atau minuman masuk ke dalam tubuh melalui
mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH < 2) banyak bakteri yang mati.
Keadaan-keadaan seperti aklorhidiria, gastrektomi, pengobatan dengan antagonis reseptor
histamin H2, inhibitor pompa proton atau antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi
dosis infeksi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus. Di usus halus, bakteri
melekat pada sel-sel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding usus,
tepatnya di ileum dan jejunum. Sel-sel M, sel epitel khusus yang melapisi Peyers patch,
merupakan tempat internalisasi Salmonella typhi. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus,
mengikuti aliran ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik
sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella typhi mengalami multiplikasi di
dalam sel fagosit mononuklear di dalam folikel limfe, kelenjar limfe mesenterika, hati dan
limfe (Soedarmo, dkk, 2012).

Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi) yang lamanya ditentukan oleh
jumlah dan virulensi kuman serta respons imun pejamu maka Salmonella typhiakan keluar
dari habitatnya dan melalui duktus torasikus masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Dengan cara
ini organisme dapat mencapai organ manapun, akan tetapi tempat yang disukai
oeh Salmonella typhi adalah hati, limpa, sumsum tulang belakang, kandung empedu dan
Peyers patch dari ileum terminal. Invasi kandung empedu dapat terjadi baik secara langsung
dari darah atau penyebaran retrograd dari empedu. Ekskresi organisme di empedu dapat
menginvasi ulang dinding usus atau dikeluarkan melalui tinja. Peran endotoksin dalam
patogenesis demam tifoid tidak jelas, hal tersebut terbukti dengan tidak terdeteksinya
endotoksindalam sirkulasi penderita melalui pemeriksaan limulus. Diduga endotoksin
dari Salmonella typhi menstimulasi makrofag di dalam hati, limpa, folikel limfoma usus
halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk dari
makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskular yang tidak stabil,
demam, depresi sumsum tulang belakang, kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem
imunologik (Soedarmo, dkk, 2012).
Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks Peyer. Ini terjadi pada kelenjar
limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi
plaks Peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan
sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu
hepar, kelenjar-kelenjar mesenterial dan limpa membesar (Suriadi & Rita, 2006).

D. Tanda dan Gejala

Masa inkubasi biasanya 7-14 hari, tetapi dapat berkisar antara 3-30 hari tergantung pada
besar inokulum yang tertelan. Tanda dan gejala yang dapat muncul pada demam tifoid antara
lain:

1. Anak Usia Sekolah dan Remaja

Gejala awal demam, malaise, anokreksia, mialgia, nyeri kepala dan nyeri perut
berkembang selama 2-3 hari. Mual dan muntah dapat menjadi tanda komplikasi, terutama
jika terjadi pada minggu kedua atau ketiga. Pada beberapa anak terjadi kelesuan berat, batuk,
dan epistaksis. Demam yang terjadi bisa mencapai 40 derajat celsius dalam satu minggu.
Pada minggu kedua, demam masih tinggi, anak merasa kelelahan, anoreksia, batuk, dan
gejala perut bertambah parah. Anak tampak sangat sakit, bingung, dan lesu disertai mengigau
dan pingsan (stupor). Tanda-tanda fisik berupa bradikardia relatif yang tidak seimbang
dengan tingginya demam.

Anak mengalami hepatomegali, splenomegali dan perut kembung dengan nyeri difus.
Pada sekitar 50% penderita demam tifoid dengan demam enterik, terjadi ruam makulaatau
makulo popular (bintik merah) yang tampak pada hari ke tujuh sampai ke sepuluh. Biasanya
lesi mempunyai ciri tersendiri, eritmatosa dengan diameter 1-5 mm. Lesi biasanya berkhir
dalam waktu 2 atau 3 hari. Biakan lesi 60% menghasilkan organisme Salmonella.

2. Bayi dan balita

Pada balita dengan demam tifoid sering dijumpai diare, yang dapat menimbulkan diagnosis
gastroenteritis akut.

3. Neonatus
Demam tifoid dapat meyerang pada neonatus dalam usia tiga hari persalinan. Gejalanya
berupa muntah, diare, dan kembung. Suhu tubuh bervariasi dapat mencapai 40,5 derajat
celsius. Dapat terjadi kejang, hepatomegali, ikterus, anoreksia, dan kehilangan berat badan.

E. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut:

1. Perawatan

Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan
pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau
kurang lebih 14 hari. Mobilisasi pasien harus dilakukan secara bertahap, sesuai dengan
pulihnya kekuatan pasien. Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus
diubah-ubah pada waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan
dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu di perhatikan karena kadang-kadang terjadi
obstipasi dan retensi air kemih.

2. Diet

Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak serat.

3. Obat
4. Obat-obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah:

Kloramfenikol

Menurut Damin Sumardjo (2009), kloramfenikol atau kloramisetin adalah antibiotik yang
mempunyai spektrum luas, berasal dai jamur Streptomyces venezuelae. Dapat digunakan
untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri gram posistif dan bakteri
gram negatif. Kloramfenikol dapat diberikan secara oral. Rektal atau dalam bentuk salep.
Efek samping penggunaan antibiotik kloramfenikol yang terlalu lama dan dengan dosis yang
berlebihan adalah anemia aplastik. Dosis pada anak : 25 50 mg/kg BB/hari per oral atau 75
mg/kg BB/hari secara intravena dalam empat dosis yang sama.

Thiamfenikol
Menurut Tan Hoan Tjay dan Kirana Raharja (2007, hal: 86), Thiamfenikol (Urfamycin)
adalah derivat p-metilsulfonil (SO2CH3) dengan spektrum kerja dan sifat yang mirip
kloramfenikol, tetapi kegiatannya agak lebih ringan. Dosis pada anak: 20-30 mg/kg BB/hari.

Ko-trimoksazol

Adalah suatu kombinasi dari trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg


SMX/kg/24 jam). Trimetoprim memiliki daya kerja antibakteriil yang merupakan
sulfonamida dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase. Efek samping yang
ditimbulkan adalah kerusakan parah pada sel sel darah antara lain agranulositosis dan
anemia hemolitis, terutama pada penderita defisiensi glukosa-6-fosfodehidrogenase. efek
samping lainnya adalah reaksi alergi antara lain urticaria, fotosensitasi dan sindrom Stevens
Johnson, sejenis eritema multiform dengan risiko kematian tinggi terutama pada anak-anak.
Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Dosis pada anak yaitu
trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam, secara oral dalam dua
dosis). Pengobatan dengan dosis tepat harus dilanjutkan minimal 5-7 hari untuk
menghindarkan gagalnya terapi dan cepatnya timbul resistensi, (Tan Hoan Tjay & Kirana
Rahardja, 2007, hal:140).

Ampisilin dan Amoksilin

Ampisilin: Penbritin, Ultrapen, Binotal. Ampisilin efektif terhadap E.coli, H.Inflienzae,


Salmonella, dan beberapa suku Proteus. Efek samping, dibandingkan dengan perivat penisilin
lain, ampisilin lebih sering menimbulkan gangguan lambung usus yang mungkin ada
kaitannya dengan penyerapannya yang kurang baik. Begitu pula reaksi alergi kulit
(rash,ruam) dapat terjadi. Dosis ampisilin pada anak (200mg/kg/24 jam, secara intravena
dalam empat sampai enam dosis). Dosis amoksilin pada anak (100 mg/kg/24 jam, secara oral
dalam tiga dosis), (Behrman Klirgman Arvin, 2000, hal:942).

1. Obat obat simptomatik:

Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin)


Kortikosteroid (dengan pengurangan dosis selama 5 hari)
Vitamin B komplek dan C sangat di perlukan untuk menjaga kesegaran dan kekutan
badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh darah kapiler.
Secara fisik penatalaksanaannya antara lain:

1. Mengawasi kondisi klien dengan : pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 jam.
Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau. Perhatikan pula
apakah mata anak cenderung melirik keatas, atau apakah anak mengalami kejang-

Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak,
karena oksigen tidak mampu mencapai otak. Terputusnya sulai oksigen ke otak akan
berakibat rusaknya sel otak. Dalam kedaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa
rusaknya intelektual tertentu.

1. Buka pakaian dan selimut yang berlebihan


2. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
3. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak yang
akan berakibat rusaknya sel-sel otak.
4. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak- Minuman yang diberikan dapat
berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh. Tujuannya
agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.
5. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
6. Kompres dengan air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan Tujuannya untuk
menurunkan suhu tubuh di permukaan tubuh anak.

F. Pencegahan

Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari
toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu
mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan
hindari makanan pedas
BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN
Demam Thypoid pada Anak

A. Pengkajian
Anamnesis:
1. Idensitas Klien

2. Keluhan Utama: Mengalami muntah-muntah, BAB hingga 3 kali lebih, anak sering
rewel, badan lemas, sakit kepala,dan demam

3. Riwayat Penyakit

Riwayat Penyakit Sekarang


Mengalami muntah-muntah, BAB hingga 3 kali lebih, anak sering rewel, dan
badan lemas. Biasanya klien mengeluh kepala terasa sakit, demam,nyeri dan
pusing, berat badan berkurang, klien mengalami mual, muntah

Riwayat Penyakit Dahulu


Kaji adanya riwayat penyakit lain/pernah menderita penyakit seperti ini
sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji adanya keluarga yang menderita penyakit yang sama (penularan).

4. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum
Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, pucat, mual,
perut tidak enak, anorexia.
Kepala dan Leher
Biasanya pada pasien typhoid kepala tidak ada bernjolan, rambut normal,
kelopak mata normal, konjungtiva anemia, pucat/bibir kering, lidah kotor,
ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengaran normal leher simetris, tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid.
Dada dan Abdomen
Biasanya pada pasien typhoid dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur,
didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.
System Respirasi
Biasanya pada pasien typhoid pernafasan normal, tidak ada suara tambahan,
dan tidak terdapat cuping hidung .
System Kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang
meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami
peningkatan suhu tubuh.
System Integumen
Biasanya pada pasien typhoid kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat,
berkeringat banyak, akral hangat.
System eliminasi
Biasanya pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk
kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N -1 cc/kg
BB/jam.
System Muskuloskeletal
Biasanya pada pasien typhoid yang dikaji apakah ada gangguan pada
extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
System Endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar tyroid dan
tonsil.
System persarafan
Apakah kesadaran itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita
penyakit thypoid

5. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan


a. Riwayat prenatal : ibu terinfeksi TORCH selama hamil, preeklamsi, BB ibu tidak naik,
pemantauan kehamilan secara berkala. Kehamilan dengan resiko yang tidak dipantau
secara berkala dapat mengganggu tumbang anak

b. Riwayat kelahiran : cara melahirkan anak, keadaan anak saat lahir, partus lamadan anak
yang lahir dengan bantuan alat/ forcep dapat mengganggu tumbang anak

c. Pertumbuhan fisik : BB (1,8-2,7kg), TB (BB/TB, BB/U, TB/U), lingkar kepala (49-50cm),


LILA, lingkar dada, lingkar dada > dari lingkar kepala,

d. Pemeriksaan fisik : bentuk tubuh, keadaan jaringan otot (cubitan tebal untuk pada lengan
atas, pantat dan paha mengetahui lemak subkutan), keadaan lemak (cubitan tipis pada kulit
dibawah tricep dan subskapular), tebal/ tipis dan mudah / tidak akarnya dicabut, gigi (14-
16 biji), ada tidaknya udem, anemia dan gangguan lainnya.

e. Perkembangan : melakukan aktivitas secara mandiri (berpakaian) , kemampuan anak


berlari dengan seimbang, menangkap benda tanpa jatuh, memanjat, melompat, menaiki
tangga, menendang bola dengan seimbang, egosentris dan menggunakan kata Saya,
menggambar lingkaran, mengerti dengan kata kata, bertanya, mengungkapkan kebutuhan
dan keinginan, menyusun jembatan dengan kotak kotak.

f. Riwayat imunisasi

g. Riwayat sosial: bagaimana klien berhubungan dengan orang lain.

Pengkajian Pola Fungsional Gordon

a. Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan

Yang perlu dikaji adalah bagaimana pola sehat sejahtera yang dirasakan, pengetahuan
tentang gaya hidup dan berhubungan dengan sehat, pengetahuan tentang praktik kesehatan
preventif, ketaatan pada ketentuan media dan keperawatan. Biasanya anak-anak belum
mengerti tentang manajemen kesehatan, sehingga perlu perhatian dari orang tuanya.

b. Pola nutrisi metabolik

Yang perlu dikaji adalah pola makan biasa dan masukan cairan klien, tipe makanan dan
cairan, peningkatan / penurunan berat badan, nafsu makan, pilihan makan.
c. Pola eliminasi

Yang perlu dikaji adalah pola defekasi klien, berkemih, penggunaan alat bantu,
penggunaan obat-obatan.

d. Pola aktivas latihan

Yang perlu dikaji adalah pola aktivitas klien, latihan dan rekreasi, kemampuan untuk
mengusahakan aktivitas sehari-hari (merawat diri, bekerja), dan respon kardiovaskuler
serta pernapasan saat melakukan aktivitas.

e. Pola istirahat tidur

Yang perlu dikaji adalah bagaimana pola tidur klien selama 24 jam, bagaimana kualitas
dan kuantitas tidur klien, apa ada gangguan tidur dan penggunaan obat-obatan untuk
mengatasi gangguan tidur.

f. Pola kognitif persepsi

Yang perlu dikaji adalah fungsi indra klien dan kemampuan persepsi klien.

g. Pola persepsi diri dan konsep diri

Yang perlu dikaji adalah bagaimana sikap klien mengenai dirinya, persepsi klien tentang
kemampuannya, pola emosional, citra diri, identitas diri, ideal diri, harga diri dan peran
diri. Biasanya anak akan mengalami gangguan emosional seperti takut, cemas karena
dirawat di RS.

h. Pola peran hubungan

Kaji kemampuan klien dalam berhubungan dengan orang lain. Bagaimana kemampuan
dalam menjalankan perannya.

i. Pola reproduksi dan seksualitas

Kaji adakah efek penyakit terhadap seksualitas anak.

j. Pola koping dan toleransi stress


Yang perlu dikaji adalah bagaimana kemampuan klien dalam manghadapai stress dan
adanya sumber pendukung. Anak belum mampu untuk mengatasi stress, sehingga sangat
dibutuhkan peran dari keluarga terutama orang tua untuk selalu mendukung anak.

k. Pola nilai dan kepercayaan

Kaji bagaimana kepercayaan klien. Biasanya anak-anak belum terlalu mengerti tentang
kepercayaan yang dianut. Anak-anak hanyan mengikuti dari orang tua.

B. Diagnosa Keperawatan
1) Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi
2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan
aktif
3) Nyeri berhubungan dengan patologis penyakit
4) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan
dengan mual dan muntah.

C. Rencana Keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi.
Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional
{ NOC } { NIC }
Setelah dilakukan tindakan Pengobatan Suhu :
keperawatan selama ... x 24
- Observasi tanda-tanda vital Tanda-tanda vital
jam, pasien akan : tiap 3 jam. merupakan acuan untuk
- Menunjukkan suhu tubuh mengetahui keadaan umum
dalam rentang normal. pasien.
- TTV normal. - Beri kompres hangat pada - Kompres hangat dapat
bagian lipatan tubuh ( Paha mengembalikan suhu
dan aksila ). normal memperlancar
- Monitor intake dan output sirkulasi.
- Untuk mengetahui adanya
ketidakseimbangan cairan
- Berikan obat anti piretik. tubuh.
- Dapat menurunkan demam

Pengaturan Suhu
- Beri banyak minum ( 1- - Peningkatan suhu tubuh
1,5 liter/hari) sedikit tapi akan menyebabkan
sering penguapan tubuh meningkat
sehingga perlu diimbangi
dengan asupan cairan yang
banyak.
- Ganti pakaian klien dengan
bahan tipis menyerap- Pakaian yang tipis menyerap
keringat. keringat dan membantu
mengurangi penguapan
tubuh akibat dari
peningkatan suhu dan dapat
terjadi konduksi.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.


Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional
{ NOC } { NIC }
Setelah dilakukan tindakan Manajemen Cairan
keperawatan selama ... x 24
- Kaji keadaan umum klien- Mengetahui dengan cepat
jam, pasien akan : dan tanda-tanda vital. penyimpangan dari keadaan
- Menunjukkan normalnya.
keseimbangan elektrolit dan
- Kaji input dan output - Mengetahui balance cairan
asam basa cairan. dan elektrolit dalam
- Menunjukkan tubuh/homeostatis.
keseimbangan cairan - Observasi adanya tanda-- Agar dapat segera
- Turgor kulit baik tanda syok dilakukan tindakan jika
- Tanda-tanda vital dalam terjadi syok.
batas normal - Anjurkan klien untuk - Asupan cairan sangat
banyak minum. diperlukan untuk
menambah volume cairan
tubuh

- Kolaborasi dengan dokter- Pemberian cairan I.V


dalam pemberian cairan I.V. sangat penting bagi klien
yang mengalami deficit
volume cairan untuk
memenuhi kebutuhan cairan
klien.

c. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis penyakit.


Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional
{ NOC } { NIC }
Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri
keperawatan selama ... x 24
- Lakukan pengkajian nyeri - Mengetahui nyeri yang
jam, pasien akan : secara kompherensif. dialami pasien sehingga
- Dapat mengontrol nyeri perawat dapat menentukan
- Mengetahui tingkat nyeri cara mengatasinya.
- Ekspresi wajah rileks. - Kaji faktor-faktor yang - Dengan mengetahui
mempengaruhi reaksi faktor-faktor tersebut maka
pasien terhadap nyeri. perawat dapat melakukan
intervensi yang sesuai
dengan masalah klien.
- Berikan posisi yang - Posisi yang nyaman dan
nyaman dan ciptakan situasi yang tenang dapat
suasana ruangan yang membuat perasaan yang
tenang. nyaman pada pasien.
- Berikan suasana gembira - Dengan suasana
bagi pasien gembira pasien dapat
sedikit mengalihkan
perhatiannya terhadap nyeri.

Administrasi analgetik

- Berikan analgesik sesuai


- Obat analgesik dapat
tipe dan beratnya nyeri . menekankan rasa nyeri.

d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah.
Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional
{ NOC } { NIC }
Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nutrisi
keperawatan selama ... x 24
- Kaji keadaan umum klien- Memudahkan untuk
jam, pasien akan : - Beri makanan sesuai intervensi selanjutnya
- Menunjukkan kebutuhan kebutuhan tubuh klien. -
nutrisi terpenuhi. - Anjurkan orang tua klien Merangsang nafsu makan
- Memperlihatkan adanya untuk memberi makanan klien sehingga klien mau
selera makan sedikit tapi sering. makan.

- Anjurkan orang tua klien


- Makanan dalam porsi
memberi makanan TKTP kecil tapi sering
dalam bentuk lunak memudahkan organ
pencernaan dalam
metabolisme.
Pemantauan Nutrisi

- Timbang berat badan klien


- Makanan dengan
tiap hari. komposisi TKTP berfungsi
membantu mempercepat
proses penyembuhan.

- Monitor mual dan muntah


- Berat badan merupakan
pasien salah satu indicator
pemenuhan nutrisi berhasil.
- Untuk mengetahui status
nutrisi pasien.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Typoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah
terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. (
Bruner and Sudart, 1994 ).
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang
dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Penyakit demam Tifoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui
makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus.
Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan limpa.
Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri
saat diraba.
Tanda dan gejalah : Minggu I Pada umumnya demam berangsur naik,
terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot,
nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak
enak di perut. Dan pada Minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi,
lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus,
penurunan kesadaran.
B. SARAN
Dalam penyusun makalah ini sangat jauh dari penyempurnaan maka
saran,kritikal,idea dari mahasiswa atau mahasiswi yang bersifat menambah dan membangun
maka penulis sangat mengharapkan demi penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Padila S.Kep . 2013. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta. Kulia Medika

Dermawan Deden. 2010. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta :


Goysen Publishing

Nugroho Taufan. 2011 : Asuhan Keperawatan Komunitas anak, bedah, dan penyakit dalam .
Yogyakarta : Nuha Medika

Herdman T. Heather. 2012 : Diagnosis Keperawatan Defenisi dan Klasifikasi 2012-2014 .


Jakarta EGC

Wilkinson, J. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi IX. Jakarta: EGC